Sabtu, 21 Mei 2011

Cintaku Di Ujung Pena (Cerpen Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 02.53
***

Aku bukan sastrawan. Begitupun dengan dia. Kami bukan penulis yang tak bisa hidup dengan penanya. Lalu penulis yang mana yang mengguratkan ujung-ujung penanya tuk membuat garis-garis dan menautkannya antara hatiku dan hatinya? Entahlah.

***

Ujian Nasional di depan mata. Itulah alasan pertama Ayah dan Ibu gadis cantik bernama Via itu menjebloskan Via ke tempat itu. Tempat yang menurut Via tak lebih buruk dari kelasnya anak-anak Laskar Pelangi. Padahal jelaslah ruangan itu lebih baik dari kelas-kelas di sekolahnya. Ia hanya merasa jenuh dengan aktifitasnya selama beberapa bulan terakhir ini. Bagaimana tidak? Setelah seharian dibebani ribuan latihan-latihan soal di sekolah, ditambah jadwal pemantapan yang rutin dilakukan sepulang sekolah, ia harus kembali terpojok di tempat les ini. Tentunya bersama pelajaran matematika yang tidak pernah disukainya dari zaman dia SD dulu.

Tapi sepertinya untuk beberapa minggu ini ia cukup serius mempelajari pelajaran matematika itu. Selain tuntutan UN, ada seseorang yang membuat rasa bencinya pada pelajaran itu sedikit mengendur. Seseorang yang menjadi teman sebangkunya di tempat les itu. Seorang pemuda tampan berwajah oriental dengan kacamata persegi yang melindungi mata sipitnya. Seorang pemuda yang baik dan pintar, yang selama ini dengan sabar mengajarinya karena ia tidak begitu peka terhadap penerangan Bu Winda, guru les mereka. Seorang pemuda benama Alvin yang saat ini begitu sibuk mengerjakan soal-soal matrik dan logaritma di sampingnya. 

"Argh! Apa aku bilang? Matematika itu menyebalkan! Aku udah ngitung panjang-panjang, tapi tetep aja gak nemu jawabannya." Rutuk Via membanting pensilnya ke atas meja. Cukup keras sehingga membuat Alvin terlonjak kaget dan segera menatap Via sembari mengusap dada.

"Kenapa Via? Kau membuatku kaget." Ujar Alvin menarik nafas dalam-dalam. Dadanya sedikit sakit. Belakangan ini jantungnya cukup lemah untuk mendapat hentakan-hentakan keras. Sepertinya penyakit jantung yang dideritanya sejak lahir itu sudah naik ke level atas. Dan ia menyadari hal itu.

Via nyengir sambil menatap Alvin cemas. Lisannya sudah siap melontarkan ribuan kata maaf jika sesuatu yang fatal terjadi pada teman barunya itu. Ia lupa tiga hari yang lalu, Alvin memberitahunya kalau pemuda itu menderita penyakit jantung bawaan.      

"Maaf, Alvin!" Sesal Via masih tak melepaskan tatapannya dari wajah Alvin yang sudah tampak memucat. "Kau tidak Apa-apa?" Tanya penuh rasa bersalah.     

Alvin tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Via! Untung kau hanya membanting pensil. Kalau kursi yang kau banting, mungkin lusa nanti aku gak ikut UN." Katanya terkekeh pelan. Mengamati buku Via yang jauh dari kata rapi karena terlalu banyak bekas penghapus.    

Via menarik nafas lega. Kalau saja terjadi sesuatu sama Alvin. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Mungkin ia juga akan membenci pelajaran matematika seumur hidupnya. Karena pelajaran itulah yang jadi penyebab awal semuanya. 

"Pahamilah sedikit-sedikit! Maka akan terasa mudah. Dan kau dengan cepat akan tahu cara menyelesaikannya." Dengan rinci Alvin mengamati buku Via yang sudah ada di genggamannya. Kemudian terlihat menuliskan sesuatu. Via mengamati tulisan itu. Tulisan yang bahkan lebih rapi dari tulisannya. Dan ia tersenyum melihat gaya Alvin saat sedang menulis. 'terlihat lebih keren' batinnya.

"Hidup itu seperti pelajaran. Sesulit apapun pelajaran itu, jika kita mencoba memahaminya, maka semuanya akan terasa mudah. Begitupun hidup. Jika kita memahami hidup Kita, maka kesulitan yang kita dapatkan akan terasa mudah."

Via tertegun. Pemuda di sampingnya ini selalu terlihat bijak dan dewasa. Dan ia suka dengan sikap Alvin itu. Baginya apa yang ada dalam diri Alvin adalah medan magnet yang menariknya untuk mengetahui tiap jengkal dari keistimewaan yang melekat dalam sosok itu.      

Postur tubuhnya memang terlalu kurus untuk ukuran anak kelas 3 SMA, karena memang fisiknya yang lemah akibat penyakit jantung yang menyiksanya selama ini. Namun siapa sangka semangat dan keceriaannya bahkan melampaui orang-orang sehat. Ia selalu tampak seperti orang normal. Tak peduli pada segala penderitaannya. Baginya masalah yang ada di hidupnya adalah sesuatu yang kecil, yang bisa diselesaikannya dengan mudah. Semudah satu tambah satu. Kepintarannya membuat siapapun bertepuk tangan bangga. Ketampanannya tak kalah dengan para public figure di dunia pertelevisian. Ia sempurna bukan karena Tuhan menciptakan kesempurnaan untuknya. Tapi karena dialah yang menciptakan kesempurnaan utuk dirinya sendiri.

"Kesempurnaan seperti apapun yang mereka dambakan tidak akan mereka dapatkan. Karena sesungguhnya manusia tidak pernah merasa cukup dengan apa yang mereka miliki. Percayalah! Kita akan merasakan kesempurnaan yang nyata saat kita mampu mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan."      

Kalimat itulah yang pertama kali Alvin lontarkan kepada Via. Dan kalimat pula yang menarik paksa Via untuk mengetahui lebih detil sosok Alvin.

*** 

Aku bukan sastrawan. Begitupun dengan dia. Kami bukan penulis yang mampu menulìkan kisah-kisah menarik dengan ujung-ujung penanya. Lalu penulis yang mana yang mengguratkan penanya untuk membuat alur kisahku dan dia? Entahlah
*** 

Senja di ufuk barat. Menyemburkan jingga hingga ujung timur. Sirus menampakan diri dengan warna kuning cerahnya yang terciprati orange-orange tipis. Tanaman-tanaman dalam pot itu bergerak-gerak kecil di terpa angin lembut. Indah. Dan keindahan itu menjadi latar untuk mereka, Via dan Alvin yang masih duduk menunggu Ayah-ayah mereka menjemput di halaman tempat les mereka yang sudah sepi. Mereka larut dalam diam. Menikmati tiap jengkal keindahan dan ketentraman itu.   

Via menghela nafas. Perasaannya tidak enak sejak keluar dari kelas tadi. Seperti akan ada sesuatu yang buruk terjadi. Dan ia tidak tahu apa.     

Sesaat Alvin mengamati gerak-gerik Via yang tampak aneh. "Kenapa Vi? Gelisah amat." Ia bertanya sambil terus menatap Via yang sudah menatapnya dengan tatapan biasa-biasa saja. Mencoba menyembunyikan kegelisahannya dari Alvin. 

"Ahh, tidak! Aku hanya berfikir, matematika itu membuat hidup ini penuh dengan perhitungan. Terlebih perhitungan yang jauh dari kata adil." Ujar Via.      

Alvin tersenyum. Dan senyumannya sukses membuat tanda minus di hati Via. Mengurangi angka-angka kegelisahan itu. "Tanpa perhitungan, hidup ini akan terasa sia-sia. Yang perlu kamu tahu, perhitungan Tuhan itu tidak akan salah. Meski ia tidak menggunakan matrik dan logaritma dalam perhitungannya."       

Seperti biasa. Via akan tertegun lama mendengar kata-kata bijak Alvin. Ia berfikir.   

"Oya, lusa UN. Ini pertemuan terakhir kita. Boleh aku pinjam ponselmu?" Alvin menghadapkan tangannya tepat di hadapan muka Via yang masih menengadah ke arah langit yang hampir kehilangan jingganya.  

"Untuk apa?" Via mengalihkan tatapannya dan mengambil ponselnya di dalam saku kemejanya.

"Menyimpan nomor ponselku. Kau harus menghubungiku terlebih dahulu. Karena aku yakin kau yang akan merindukanku." Pede Alvin merebut ponsel Via tanpa izin. Ia terkikik pelan melihat ekspresi Via yang sama sekali tak menggambarkan kalimat.       

"Yang ada kamu yang akan merindukanku!" Komentar Via tidak terima.       

"Kita lihat saja nanti!" Alvin menyerahkan ponsel Via dan bangkit dari duduknya.

"Aku tinggal ya Vi. Maaf aku gak bisa nemenin kamu sampai dijemput ayahmu. Kasihan sopirku sudah menunggu dari tadi." Papar Alvin sambil berlari-lari kecil menuju mobil sedan silver yang sejak tadi terparkir di samping tempat itu. "Oya, pastikan nilai matematikamu lebih besar dariku! Kalau tidak, aku tidak mau jadi pacarmu!" Teriak Alvin sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil dan mengilang dari pandangan Via bersama mobilnya.

Via hanya menatap ujung jalan di hadapannya dengan raut wajah bingung. 'Jadì sejak tadi Alvin sudah dijemput?' fikirnya tak mengerti. Ia mendesah keras-keras memikirkan perkataan Alvin. 'Mana mungkin nilaiku mengunggulinya? Dasar sipit! Lagian siapa yang mau jadi pacaranya.' Rutuknya tertawa pelan. Menatapi layar handphonenya yang masih stuck di phone book, tepat di nama Alvin. Dan ia memasukan kembali ponsel itu ke tempat semula.

"Ayah lama sekali!" Desisnya pelan. Mengamati keadaan yang sudah menunjukan seringai malamnya. Ia gelisah kembali. Apa lagi setelah dilihatnya tiga lelaki di pojok tempat les sedang mengamatinya. Secara tiba-tiba nada-nada mayor beraksi dalam dadanya. Ia takut.      

Perlahan-lahan Via bangkit dari duduknya begitu ketiga lelaki itu berjalan mendekatinya. Via berlari sekuat tenaga. Mereka mengejarnya. Via berlari dan terus berlari. Tak mempedulikan rasa sakit di bagian kakinya yang sudah melemas. Dadanya bergemuruh. Nafasnya sudah tak teratur. Dan air matanya mengalir. Ia benar-benar takut!     

BRAK!       

Ada sesuatu yang jatuh. Entah apa. Dan ia tak ingin tahu apa yang jatuh itu. Ia tak minat menengok kebelakang. Ia terus berlari sampai akhirnya tubuhnya menubruk seseorang. Sedikit sakit. Sambil mencoba menetralisirkan pernafasannya, ia menengadahkan wajahnya dan menatap orang yang baru saja ia tabrak. Dan ia langsung memeluk tubuh itu. Tangisnya semakin menjadi.     

"Ayah..." Lirihnya gemetar.
*** 

Aku bukan sastrawan begitupun dengan dia. Kami bukan penulis yang sesuka hatinya menentukan akhir kisah cerita yang dibuatnya dengan ujung-ujung penanya. Lalu penulis yang mana mencoretkan ujung penanya untuk mengakhiri kisahku dan dia? Entahlah..
*** 

Hanya ada diam. Tak ada suara yang terucap dari lisan keduanya. Mereka sibuk dengan fikiran masing-masing. Tak ada yang ingin memecahkan kerak-kerak kesunyian diantara mereka. Setelah hampir tiga minggu tak bertemu, rasa canggung kembali membatasi gerak mereka.    

Via menarik nafas pendek. Menatap kertas kelulusan yang baru tadi ia dapatkan. Sebenarnya ia tidak tahu apa yang membawanya duduk di tempat itu. Taman kota. Bersama Alvin. Yang pasti pertemuan itu tidak disengaja. Tak ada kalimat janjian yang mereka paparkan. Namun niat Via untuk membeli ponsel baru karena ponselnya jatuh ketika ia dikejar tiga laki-laki asing tempo hari, yang rupanya mempertemukan mereka disana. 

"Alvin!" Panggil Via akhirnya menjadi pemecah keheningan itu. "Kenapa kau ada disini? Terus kau kelihatan pucat. Kusut lagi. Apa ada sesuatu yang terjadi?"  

Alvin menghela nafas pendek. Ia memfokuskan pandangannya ke depan. "Aku fikir kau akan merindukanku. Ternyata tidak!" Kata Alvin penuh dengan nada kecewa. Tanpa mengubah posisinya sedikitpun.

Via diam sejenak. Ia merasa bersalah. Tapi, Alvin sama sekali tidak tahu tentang kejadian pasca ia meninggalkannya. Alvin tidak tahu ponsel Via hilang karena jatuh. Dan Alvin tidak tahu kalau Via merindukannya. Sangat merindukannya!. Alvin tidak tahu apa-apa. "Ponselku hilang di hari terakhir kìta bertemu. Kalau tak percaya, lihatlah! Aku baru membeli HP baru." Via menunjukan ponsel yang baru dibelinya. Lengkap dengan kardus dan bonnya.    

"Kau tidak tahu kalau aku merindukanmu." Kata Alvin mengamati ponsel baru Via.   

"Aku juga merindukanmu, tahu!" Desah Via meyakinkan Alvin.

Hening sejenak.       

"Bagaimana nilai UN-mu? Haahh pasti sangat memuaskan." Via merebut surat kelulusan Alvin. Dan matanya melotot melihat angka tujuh sejajar dengan pelajaran matematika di kertas itu. Jelaslah nilai delapannya mengalahkan angka itu.

"Aku sakit saat UN berlangsung. Dan rumah sakit jadi satu-satunya ruang ujianku saat itu." Kata Alvin datar tanpa ekspresi. "Dan kau tahu? Sampai saat ini sakit itu masih terasa. Aku kabur dari rumah sakit hanya untuk mengambil surat kelulusan ini." Sambungnya kembali mengambil kertas kelulusannya.    

"Alvin.." lirih Via iba. Ia tak mengerti dengan jalan fikiran Alvin. Kabur dari rumah sakit adalah hal terbodoh yang pertama dilakukan orang pintar semacam Alvin. Apa ia tidak tahu akibat fatal apa yang akan terjadi dengan tindakannya itu? "Tak seharusnya kau melakukan itu! Kau cari masalah saja. "

Alvin tersenyum. Senyuman getir. "Hidup ini seperti matematika. Tidak selamanya kita belajar pertambahan yang mudah. Ada kalanya kita belajar logaritma yang susah. Atau belajar matrik yang membingungkan. Tapi dengan kesabaran dan berjuang untuk memahaminya, pada akhirnya kita dapat menyelesaikannya bukan? Meski tetap saja, kita tidak kuasa membenarkan hasil jawaban kita."    

Seperti biasa. Via tertegun. Lama sekali.
*** 

Aku bukan sastrawan. Begitupun dia. Kami bukan penulis yang puanya kuasa untuk menggoreskan ending seperti apa bagi tokoh-tokohnya dengan ujung penanya. Lalu penulis mana yang menggunakan ujung penanya tuk menguasai seluruh kisahku?      

Dan kini aku tahu dan mungkin kaupun tahu. Tuhan-lah si pemilik ujung-ujung pena itu.

Dia yang punya kuasa akan kisahku dan dia. Karena hidupku dan hidupnya. Cintaku dan cintanya berada di ujung-ujung penanya. Dia penulis yang hebat tiada tandingnya.
***

Via menutup buku catatannya sembari menutup memory ingatannya tentang kejadian tiga hari yang lalu ketika ia mendapat kabar Alvin telah tiada. Satu hari setelah pertemuan di taman kota, Alvin dikabarkan kritis dan tak tertolong. Padahal malamnya Via masih smsan sama Alvin. Mereka bercanda bersama sembari membahas perasaan masing-masing. Dan Via masih ingat jelas isi pesan itu.

Tentang Alvin yang bilang cinta dan sayang dia. Tentang Alvin yang bilang kalau dia ingin kembali duduk di tempat les dan menjadi guru les untuknya. Tentang Alvin yang ingin Via menjadi orang mengerti, bukan menjadi orang pintar. Tentang Alvin yang bilang kalau dia ingin hidup lebih lama. Dan hal-hal lainnya yang sampai saat ini masih melekat dalam benak Via. Tak bisa terlepas meski Via mencoba melupakannya. Sehingga membuat Via terlihat lebih rapuh dari seorang penderita penyakit jantung sekalipun.    

Air mata Via menetes satu persatu hingga membentuk aliran-aliran kecil di pipinya. Ia menangis. Menangisi seseorang yang baru dalam hidupnya. Seseorang yang mengajarkan banyak hal padanya. Tak hanya pelajaran matematika tapi juga belajar tentang memahami hidup. Dan mengajarkan bagaimana menciptakan kesempurnaan untuk hidupnya. 

"Aku akan menjadi orang yang faham Al. Aku akan belajar memahami alur cerita Tuhan tentang kisahku setelah ini. Setelah kamu tak lagi disini."

***

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea