Senin, 22 Agustus 2011

Karena Aku Ada Untukmu (Cerpen)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 01.36
***

 Ia sandarkan tubuhnya di dinding kelas. Sungguh ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di detik-detik ini kepada seorang cowok yang sudah menjadi bagian dalam hidupnya selama dua tahun ini.

 “Bagaimana Nov?”

 Nova menengadah. Memandang orang yang kini berdiri di hadapannya. Ia segera bangkit dari duduknya dan memeluk orang itu. “Gue takut Ren.. gue.. gak bisa nyegah dia.. gue…” Nova terisak.

 Aren yang merupakan sahabat Nova semenjak masuk SMA itu hanya mendesah melihat kondisi temannya yang satu itu. Ia memeluk Nova erat. Tidak tahu harus melontarkan kalimat apa untuk menenangkan Nova. Ia sudah lelah menghadapi kekerasan hati nova dalam hal ini.

 Bukankah sudah ribuan kali ia katakana pada Nova untuk mengakhiri hubungan dengan seorang Alvin? Orang yang jelas sudah berubah selama beberapa bulan ini. Orang yang dulu menjadi sosok indah yang selalu berhasil membuat Nova tersenyum. Orang yang orang kenal sebagai makhluk sempurna yang mempunyai daya tarik yang begitu kuat untuk orang menyanjungnya. Kini benar-benar menghilang tanpa bekas. Ia benar-benar tak meninggalkan satupun sifat dan perangainya dulu.

 “Kak Alvin…!” panggil Nova melepaskan pelukan Aren dan segera berlari mengahmpiri cowok yang tengah berjalan dengan penampilan berantakan ke arahnya.

 Aren mengikutinya dari belakang. Dan berhenti di samping Nova yang sudah berhasil memeluk Alvin yang memang sungguh acak-acakan.

 Nova memandang Alvin. Terlihat darah mengalir deari sudut-sudut bibirnya. Wajahnya penuh dengan lika lebam. Seragam sekolah sudah tidak beraturan, kotor dan tidak rapi.

 “Ikut aku!” Nova menarik tangan Alvin menuju UKS.

 Alvin yang ditarik-tarik paksa seperti itu hanya meringis.

 “Aku mohon Kak! Hentikan perbuatan kakak ini..” ujar nova sambir membersihkan luka di wajah Alvin saat ia sampai di UKS. “kenapa harus seperti ini sih kak? Apa dengan masuk geng-geng seperti ini masalah kakak akan selesai?” protes nova yang langsung mendapat tampikan keras dari Alvin.

 “Apa peduli lo nov? selama ini lo gak bisa ngeredain masalah gue! Yang ada lo malah memperumit semuanya…!” bentak Alvin sambil berdiri dan meninggalkan Nova.

 Nova terdiam sejenak. Merasakan cairan hangat yang tiba-tiba menderas di pipimya. “karena kakak gak pernah mau cerita kepadaku tentang masalah kakak itu.” Desahnya pelan sambil membereskan obat-obat P3K.

 “Apa yang terjadi Nov? barusan.. itu..hmm.. kak Alvin..kenapa?” Aren berdiri diambang pintu. Menyaksikan Nova yang sedang sibuk menyeka air matanya.

 Nova diam saja.

 Rasa sakit itu kini benar-benar berkembangbiak dalam hatinya, bertumbuh membentuk kepedihan tiada ujung, yang ia tahu rasa itu terlalu kuat untuk dikalahkan oleh kesakitan itu.

 ***

 Alvin amati orang-orang yang kini ada di sekitarnya. Teman-teman gengnya yang selama beberapa bulan ini menemani kekacauan hidupnya. Mulai dari anak kuliah, SMA, SMP dan anak-anak berandalan lainnya kini menjadi obat terampuh untuk mengobati rasa sakit yang bersarang dalam hatinya. Karena dengan ini ia bisa melampiaskan rasa sakit yang bersarang dalam hatinya, karena dengan ini, dengan ia masuk geng ini, ia bisa melampiaskan semuanya kepada anak-anak geng lain yang ia anggap musuh.

 “Vin! Lo cobain ini,,!” sebuah tangan menyodorkan satu bungkus yang Alvin tahu sebuah narkoba.

 Alvin mengambilnya. Memandang orang yang ada di hadapannya. Ia tidak langsung menggunakannya, ia memilih membuangnya ke tempat sampah yang lumayan jauh darinya tanpa disadari oleh temannya yang sedang mabuk.

 “Woii Vin! Kenapa lo buang ini?” Tanya Riko yang sadar Alvin membuang obat-obatan terlarang itu.

 “hah? Emang itu apaan?” Tanya Alvin pura-pura tidak tahu.

 “Ini barangmahal Vin..” tegasnya sambil mengacung-ngacungkan barang itu.

 Alvin sadar. Posisinya saat ini sedang berada dimana. Tapi bukan berarti ia ingin terjerumus dalam dunia narkoba dan barang-barang haram lainnya.

 “dengerin lo semua ya?” ucap Riko yang merupakan ketua geng “besok kita serang lagi geng gak berguna itu! Kita bikin mereka hancur!”

 Ini yang Alvin suka. Berantem, saling memuku, saling menyerang satu sama lain. Dibandingkan harus menggunakan barang haram itu. Karena dengan ini itu ia bisa menjadikan lawannya pelampiasan.

 Alvin merogoh saku celananya saat ia rasakan handphonenya bergetar. Ia tatap laya ponsel itu baik-baik. 1 new message from Nova. Dengan cepat ia hapus pesan itu tanpa membacanya sedikitpun sebenarnya ia sudah lelah harus menyakiti Nova. Ia sudah tidak sanggup lagi membuat orang yang mencintai dan dicintainya harus ia jadikan korban. Namun, sampai saat ini ia tidak ingin mengakhiri hubunganya. Karena tak dapat dipungkiriNova adalah satu-satunya orang yang menguatkannya selama ini.

***

Nova sandarkan tubuhnya di pagar balkon kamarnya. Merasakan setiap denting-denting kesunyian yang memeluknya erat. Mangifera Indica di samping kamarnya mengusiknya dengan gesekan daun-daunnya yang saling beradu. Ia nikmati malam ini dengan seribu kecemasan, kegalauan dan ketakutan.

Ia alihkan pandangannya pada sebuah kotak persegi di sampingnya begitu sadar tak juga ia temukan balasan atas pesan yang dikirimnya satu jam yang lalu. Ia buka kotak yang penuh dengan benda-benda lucu yang menyimpan berbagai kenangan dengan Alvin. Tapi rupanya ia lebih tertarik pada secarik kertas putik bergaris yang sudah lusuh.

Perlahan ia membukanya, lalu tersenyum sendiri membaca rangkaian kata yang tertulis dalam lembaran itu.

Aku suka melihatmu.
Aku suka senyummu.
Aku suka menatap wajahmu.
Kau terlalu lembut untuk mendapat peran itu.
Kau terlalu indah untuk menjadi antagonis disini.
Kau terlalu sempurna untukku.
Aku menyukaimu.

Nova pejamkan matanya. Mengingat masa indah itu. Masa yang tidak pernah dan tidak akan pernah orang miliki.

[Flashback]

"Ini untuk kakak!" Nova mengulurkan sebuah kertas kehadapan Alvin yang tampak bingung.

Alvin tersenyuw. Memandang adik kelasnya yang masih tertunduk di hadapannya. Ia tidak menyangka ada juga adik kelas yang membuatkannya puisi.

Nova memandangnya sekilas. Kemudian berlari meninggalkan Alvin. Jujur Novalah satu-satunya orang yang berani membuatkan puisi untuk Alvin.

Sebenarnya banyak orang yang menginginkan itu. Namun berhubung peran Alvin di MOS itu adalah seorang antagonis yang galak dan terkesan cuek, membuat mereka mengurungkan niat dan mengalihkan sasaran mereka pada Cakka yang merupakan ketua umum di MOS waktu itu.

Ya, kejadian itu. Kejadian di akhir masa orientasi saat anak-anak junior diminta membuat puisi untuk kakak senior yang paling dikagumi.
Nova telah menjatuhkan pilihannya pada seorang Alvin, kakak kelas yang telah merampas hatinya saat pertama kali bertemu di awal MOS.
"Aku suka puisimu.." suara seseorang tiba-tiba mengalihkan perhatian Nova yang waktu itu sedang asyik dengan bukunya di bawah pohon annona muricata, taman belakang sekolah seusai kegiatan terakhir.

"Eh..Kak Alvin.. Hmm..maaf ya?! Aku...aku...apa? Hmm..berani..itu.." Nova kelabakan sendiri nyari kata yang tepat untuk menjelaskan maksudnya sambil berdiri dan merapikan pakaian SMP-nya.

Alvin hanya tertawa pelan melihat tingkah Nova "Kau belum pulang?" tanya Alvin duduk di tempat Nova tadi. "Duduk!" perintahnya.

Nova mengikuti perintah Alvin dan duduk di sampingnya, tak menjawab pertanyaan Alvin. Ia lebih asyik menikmati pemandangan indah di sampingnya kali ini. Lekukan wajah itu, suara itu, pesona itu, gaya itu, penampilan dan apa yang ada pada diri Alvin benar-benara menariknya menuju alam bawah sadar yang teramat dalam.

"Sebesar itukah keyakinanmu tentangku?" tanya Alvin memandang Nova yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Nova tersenyum "Iya. Kakak tidak cocok dengan peran itu.."

"Oya? Kenapa?"

"Karena senyuman kakak telah menjawab semuanya, kalau kakak tidak bisa untuk itu." Nova membolak balik buku yang sedang dipegangnya hanya untuk menghilangkan sedikit rasa gugup. Ia tertawa pelan mengingat sering sekali ia mengintip Alvin yang sedang kumpul bersama panitia-panitia MOS lainnya. Dan tak jarang ia melihat senyuman Alvin yang tak pernah terlontar untuk adik-adik juniornya.

"Hmm.. Puisi itu, tulus dari hatimukan?" tanya Alvin lagi.

Nova tertunduk. Menyembunyikan wajahnya yang sudah menimbulkan semburat rona merah "menurut kakak?" tanyanya balik.

Alvin memegang tangan Nova. Menghentikan gerakan tangan Nova yang terus membolak-balik bukunya gak jelas "Katakan kamu suka padaku!"

Nova membisu. Ia rasakan aliran darahnya bergerak cepat, detakan jantungnya tak beraturan. Sehingga ia berfikir dalam jarak sedekat itu Alvin bisa memdengar detakan jantungnya.

"A..aku hmm...apa...bagaimana..?eng?" Nova gelagapan.

"Aku suka kamu Nova! Adik junior yang suka nguntitin aku, yang diam-diam suka curi-curi pandang padaku. Aku menyukaimu dan katakan kau juga menyukaiku. Seperti yang tertulis disini!" Alvin menunjukan puisi yang tadi Nova berikan.

Nova tersenyum. Lalu merebut kertas itu.

"Hei..! Itu punyaku.." protes Alvin.

"Kalau begitu rebut dari tanganku!"

Setelah itu, terjadilah aksi kejar-kejaran antara Nova dan Alvin.

Alvin berhasil meraih tangan Nova setelah beberapa saat tak juga ia dapatkan. Ia tarik Nova sehingga mereka saling berhadapan dalam jarak yang begitu dekat.

No tersenyum simpul. Menatap mata Alvin dalam dan dalam, sehingga ia temukan satu titik ketulusan dari pantulan bola mata itu. "Aku menyukaimu Kak Alvin.."

Keadaanpun membisu.

Sejak saat itulah cerita antara Nova dan Alvin terjalin. Berlangsung dalam kehangatan dan kemesraan yang selalu sukses membuat iri orang-orang disekitarnya dengan hubungan mereka.

Hingga pada saat ini, di t ahun kedua hubungan mereka ada sesutu yang merenggut kehangatan itu.
Perbedaan yang begitu cepat merubah sesosok Alvin benar-benar membuat semuanya terasa mustahil untuk berjalan lebih indah kembali.
***

[Flashbackend]

Dengan gelisah Nova duduk di kantin sekolah. Berkali-kali ia mencoba menghubungi seseorang tapi tidak juga mendapatkan jawaban "Lo dimana sih Kak?" Nova mengetuk-ngetuk handphonenya ke meja kanting dengan pelan.

Alvin bolos sekolah lagi. Itu yang membuat Nova benar-benar khawatir. Ia tahu jika Alvin tidak masuk. Itu artinya Alvin sedang melakukan aksinya bersama gengnya.

"Nov!" Cakka teman Alvin sekaligus pacar Aren duduk di samping Nova.

Nova memandang Cakka "Sebenarnya ada apa sih dengan Kak Alvin, Kak?" tanya Nova.

Cakka menggeleng "gue juga gak tahu Nov! Tapi lo mesti yakin Alvin akan baik-baik aja.." ia mencoba memberikan hawa positif ke dalam fikiran Nova yang memang terlihat kacau.

Berdo'a. Itulah yang ia lakukan saat ini. Berharap keselamatan akan orang yang disayanginya benar-benar Tuhan takdirkan untuknya.

***

Kacau! Itulah keadaan yang terjadi di komplek sebuah perumahan kosong saat ini. Aksi pukul, lempar-melempar batu, senjata tajam yang berseliweran, kini menjadi tontonan gratis Tuhan yang tertawa geli melihat itu semua.

Alvin sudah berhasil melumpuhkan beberapa musuhnya meski dengan tangan kosong tanpa senjata. Ia hanya ingin tangannyalah yang mengalahkan musuh-musuhnya. Tak peduli lawannya menyerangnya dengan senjata apapun.

BUGH!!

Pukulan itu tiba-tiba terasa di pipinya. Membuat dari sudut bibirnya keluar. Sudah terbukti ia lengah. Dan...
Ohh Shitt..! Sebuah pisau mengenai lengan kanannya. Entah kenapa tiba-tiba saja nama Nova menyeruak masuk ke dalam fikirannya. Membuat ia kehilangan konsentrasinya.

Ia alihkan pandangannya pada musuh-musuhnya kali ini. Ia pukul mereka tanpa sadar meski ia juga kerap kali mendapat pukulan balik. Ia hanya ingin dengan cepat mengakhiri pertarungan ini.

Alvin berjalan gontai menuju rumahnya saat ia berhasil memenangkan perkelahian bersama anak-anak gengnya.
Tangan kirinya memegang erat tangankannya. Menghentikan aliran darah yang terus mengalir dari luka yang cukup dalam itu. Meski akhirnya tetap sia-sia.

Alvin mengambil handphone di saku celananya dengan susah payah. Ia terdiam sejenak begitu melihat layar ponselnya. 23 Missed Call from Nova, 13 Missed Call from Aren, 20 Missed Call from Cakka. Alvin tertegun. Sebelum akhirnya ia menemukan sebuah pesan.

From : Aren

Kak Alvin! Nova kecelakaan.
R.S Indonesia Kamar 503

***

"Kak Alvin!"

Seseorang memanggil namanya yang masih tertidur di ranjang rumah sakit dalam posisi yang tidak benar.

Alvin membuka matanya dan sudah menemukan Nova tengah tersenyum padanya. Alvin membalas senyuman itu. Sejak kemarin Nova tidak sadarkan diri. Menurut cerita Aren, Nova tertabrak sepeda motor saat hendak menemui Alvin di rumahnya.

Nova menatap Alvin...

"Kenapa? Pusing ya?" tanya Alvin lembut.

Sebenarnya jika ia mengatakan apa yang ia rasakan saat ini. Ia sedang dihujam sejuta penyesalan dan rasa bersalah. Ia sangat takut saat melihat Nova terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan berbagai perban yang melilit tubuhnya saat ia nyampe di rumah sakit.

Cakka sempat memarahi Alvin habis-habisnan saat itu. Bahkan ia tidak mengizinkan Alvin untuk menemui Nova. Namun, melihat kondisi Nova yang memang membutuhkan Alvin. Cakkapun mengalah dan membiarkan Alvin menemui Nova. Sementara Aren memilih acuh pada Alvin setelah ia menjelaskan penyebab kecelakaan Nova.

"Kak!" panggil Nova lemah.

Alvin menatap Nova dalam-dalam "Maafkan aku Nov!"

"Muka kakak? Tangan kakak?" Nova memegang tangan Alvin dan mengamati luka di tangannya. "Kenapa kakak membiarkannya? Ini bisa infeksi kak!" katanya sambil mencoba bangun dari tidurnya dan turun dari ranjangnya.

"Nova! Kamu masih sakit. Mau kemana?" Alvin menghentikan tindakan Nova.

"Aku mau mencari suster Kak!"

"Biar aku saja.." kata Alvin, membenarkan posisi Nova seperti semula dan mulai berjalan keluar ruang rawat mencari seorang suster.

Nova tersenyum memandang punggung Alvin yang terlihat tegak. Benarkah Alvinnya telah kembali padanya?

"Ada apa mbak Nova?" tanya suster saat nyampe dr ruang rawat Nova.

"Tolong ambilkan air alkohol sama kompresan, terus perbannya juga." kata Nova.

Suster itu mengangguk meskipun tidak mengerti untuk apa.

***

Nova membersihkan luka Alvin yang rupanya cukup parah. Sesekali Alvin meringis menahan sakit karena Nova harus membersihkan darah yang sudah mengering di tangannya.

"Kakak bentar lagi mau UN kak! Belajar yang benar! Lupakan.. Maaf..! Urusan geng kakak itu! Sebenarnya aku takut kakak seperti ini." ujar Nova yang masih kesusahan mengobati luka Alvin karena tangannya masih terhubung dengan selang infus.

"Aku bisa jadi pendengar setia semua masalah kakak. Kakak tak perlu cari teman yang gak bener untuk mengerti masalah kakak. Karena ada aku disini, ada aku yang selalu sayang kakak." sambung Nova sambil menunduk. Air matanya menetes membasahi perban yang baru saja terpasang sempurna di lengan Alvin.

Alvin menarik  Nova ke dalam pelukannya. "Aku minta maaf. Aku hanya tidak ingin kamu jadi pelampiasan akan masalahku Nov. Aku berjanji akan meninggalkan anak-anak gengku. Karena aku tidak ingin kehilangan yang aku cintai tuk yang kedua kalinya. Aku tidak ingin kehilangan kamu Nov."

Nova melepaskan pelukan Alvin "Ceritakan masalah kakak padaku! Aku akan mendengarkannya."

Alvin tersenyum getir "orang tuaku bercerai Nov! Mamaku meninggalkanku ke luar negeri. Membiarkanku hidup bersama papa yang tiap malam bermain perempuan. Berulang kali aku mengingatkannya. Tapi ia tidak menerima. Tak jarang ia memukulku. Rasanya aku ingin memukulnya kembali. Namun tidak bisa Nov. Sebabnya aku ikut anak-anak geng sehingga aku bisa melampiaskan pukulanku kepada musuhku" jelas Alvin panjang lebar.

Nova diam. Kenapa ia tidak tahu masalah Alvin yang satu ini? Kenapa Alvin baru menceritakan ini padanya sekarang? Benarkah orang yang selama ini selalu hadir dengan senyuman itu, orang yang selalu membuatnya bahagia, mempunyai kisah hidup yang teramat menyedihkan?

"Aku terlalu lemah untuk ini Nov. Aku tidak bisa menerima perceraian orang tuaku!"

Nova memeluk Alvin erat "maafkan aku kak! Aku sayang Kakak!" ujar Nova.

"Gue juga minta maaf Vin!"
 Alvin dan Nova melepaskan pelukannya. Memandang Cakka dan Aren yang tengah berjalan ke arah mereka.

"Gue gak bisa jadi sahabat yang baik buat lo. Bego banget ya gue? Sampai-sampai gue gak tahu sahabat gue punya beban hidup yang begitu rumit. Dan bodohnya lagi kemarin gue malah marah-marah sama lo. Padahal gue tahu lo juga sedang terluka saat itu" ujar Cakka tulus.

Alvin tersenyum "Gue aja yang bodoh Kka! Kenapa gue pilih jalan yang salah untuk lampiaskan masalah gue? Padahal sudah jelas begitu banyak orang yang sayang sama gue selama ini."


Keadaan hening.Mereka mulai melontarkan senyuman ke arah satu sama lain. Cakka peluk erat tubuh sahabatnya yang selama ini menjauh darinya. Hatinya berharap Alvin tetap berada di sampingnya dan tidak lagi berubah.

***

Usap air matamu...
Dekap erat tubuhku...
Tatap aku sepuas hatimu...
Nikmati detik demi detik yang mungkin tak bisa kita rasakan lagi..
Hirup aroma tubuhku..
yang mungkin tak bisa lagi tenangkan gundahmu..

Nova menatap Alvin yang kini duduk di hadapannya. Ia merasa ada yang aneh di café kali ini. Lagu yang ia dengar membuat rasa merinding tiba-tiba menyergapnya.

"Kenapa Nov? Ada yang aneh denganku?" tanya Alvin begitu sadar tatapan Nova lain padanya.

Nova tersenyum. "Nggak kak!" jawab Nova singkat.

Nyanyikan lagu indah..
sebelum kupergi dan mungkin tak kembali..
nyanyikan lagu indah..
tuk melepasku pergi dan tak kembali.

Nova terhenyak mendengar lirik lagu yang di dengarnya. Ia alihkan pandangannya pada Alvin lagi setelah beberapa saat menekuni makanannya. Tidak ada yang aneh dengan Alvin. Hanya saja Nova merasa Alvin semakin menjauh darinya.

"Kak!" panggil Nova

Alvin memandang Nova serius."ya?"

"pulang yuk?!" ajak Nova.

"kenapa?"

"Aku takut!"

Alvin diam sejenak. Bingung. Tapi kemudian ia mengangguk dan segera berjalan ke arah pintu keluar bersama Nova, tentunya setelah mampir ke kasir untuk membayar..

Nova diam di ambang pintu. Memandangi keadaan di sekitarnya. Ia merasa, lagi-lagi ada yang aneh dengan keadaan di sekitarnya.

"Nov! Ada apa?" tanya Alvin heran.

Nova bergeming.

Inilah saat terakhirku melihat kamu..
jatuh air mataku menangis pilu..
hanya mampu ucapkan..
slamat jalan kasih..

Nova alihkan pandangannya pada seorang gadis yang berjalan di hadapannya sambil memutar music player di Hp-nya.
Gadis itu biasa dan sama sekali tidak menarik perhatian Nova. Tapi, lagu yang sedang diputarnya membuat Nova kembali terjun dalam ketakutan.

"Nov! Ayo!" kata Alvin menarik Nova menuju cagiva merahnya.

Nova mulai menaiki cagiva Alvin dan melingkarkan tangannya di pinggang Alvin begitu Cagi melaju. Ia sandarkan kepalanya di punggung Alvin. Disanalah ia temukan kehangatan dan ketenangan.

"Kak! Ke taman kota dulu yuk!" ajak Nova.

Alvin yang cukup jelas mendengar ajakan Nova hanya mengangguk.

***

"Ada yang mau aku tunjukin ke kakak" ujar Nova saat mereka nyampe di taman kota.

Alvin menatap Nova penasaran "apa?"

"Nih!" Nova menghadapkan tangannya, memberikan sebuah kertas."itu punya Kak Alvin. Dulu Kakak tidak berhasil mengambilnya dari tanganku."

Alvin tersenyum "dulu tulisan kamu jelek ya?" ejek Alvin tertawa.

Nova manyun.

"Ih jelek!"

"Hehe.. Aku sayang Kakak! Jangan tinggalkan aku ya?" Nova memeluk Alvin.

Alvin mengelus lembut rambut Nova"pulang yuk Nov!"

Nova melepaskan pelukannya dan mulai berjalan menuju tempat dimana motor Alvin terparkir. Tapi, belum sempat Alvin dan Nova sampai di tempat tujuan. Alvin merasakan sesuatu menepuk pundaknya.

Alvin berbalik. Nova mengikuti.

"Alvin.." orang yang kini ada di hadapan Alvin menyebut nama Alvin.

Alvin memandang orang itu. Ia mengenalnya, sangat kenal malah. Tapi, belum sempat ia menyadari, tahu-tahu sesuatu menembus perutnya. Alvin diam sejenak. Nova belum menyadari itu, dengan cepat Alvin memunggungi Nova.

"Ini pembalasan gue Alvin!" bisik orang itu, tepat di telinga Alvin.

"Hah..hh.. Pengecut lo!" ujar Alvin terengah. Nafasnya mulai memberat.

"Ketua geng lo akan terkejut mendengar salah satu anak buahnya mati di tangan gue. Hahaha.. Mampus lo Alvin!!" seru orang itu sambil menghunus paksa pisau dari perut Alvin.

"ARGH..!" erang Alvin cukup keras begitu pisau itu keluar dari perutnya. Repleks tangannya memegang perutnya yang terasa nyeri dan menyayat.

Nova yang mulai menyadari ada sesuatu yang ganjil segera menghampiri Alvin. "Kak! Siapa dia?" Tanya Nova dan...

BRUUAAKK!

Tubuh Alvin ambruk di hadapan Nova. Nova diam beberapa saat, kemudian menyerbu tubuh itu"Kak! Kak Alvin!" dengan kepanikan extra large ia mengguncang-guncangkan tubuh Alvin yang tetap diam.

Nova Alihkan perhatiannya pada perut dan tangan Alvin. Kertas yang tadi ia berikan masih terkepal kuat, tapi warnanya tampak berubah menjadi merah padam..

"Kak Alvin! Kakak kenapa? Bangun Kak!" Nova melepaskan Cardigan abu-abunya dan segera meletakannya di perut Alvin, untuk menghentikan laju darah itu.

"Kak bertahan ya?! A..aku..!" Nova mencari sesutu dalam tasnya dan... Ketemu

"Kak Cakka! Ke taman kota sekarang!! Kak Alvin.. Hmm.. Kak Alvin" Nova berkata dengan cepat. Air matanya seperti aliran sungai yang tak mau berhenti.

Cakka yang menyadari ada yang tidak beres, segera menutup pembicaraanya dan berlari menuju Honda Jazz-nya yang masih diam di depan rumahnya.

***

"PUAS LO?! PUAS LO BUAT TEMEN GUE KAYA GINI? KALO LO GAK PERLAKUKAN DIA DENGAN KASAR DIA GAK AKAN IKUT ANAK-ANAK GENG DAN BERNASIB NAAS SEPERTI INI!!!"

Suara Cakka kini menggema di depan ruang operasi. Papa Alvin yang menjadi objek kemarahan Cakka hanya menunduk. Terenyuh mendengar perkataan Cakka

"Kak!" panggil Aren menenangkan Cakka "sudahlah! Bagaimanapun juga dia orang tua Kak Alvin yang harus Kakak hormati pula!"

Aren menarik tangan Cakka untuk duduk di sampingnya. Berada di posisinya saat ini sangatlah sulit. Ia harus menenangkan dua orang sekaligus. Sementara iapun takut Alvin kenapa-napa. Ia juga butuh orang yang menenangkannya.

Nova memeluk Aren kuat "Gue takut ren!" lirih Nova terisak.

Aren membalas pelukan Nova lebih erat. Ia sering sekali mendengar Nova mengucapkan kata itu. Nova memang selalu takut terjadi sesuatu dengan Alvin.

"Kak Alvin kuat Nov? Gue yakin dia akan baik-baik saja!"

Mendengar isakan Nova, Cakka kembali berdiri dari duduknya "SEKARANG APA YANG AKAN LO PERBUAT HAH??! APA LO BISA BUAT ALVIN SELAMAT?" Lagi-lagi kata-kata itu Cakka lontarkan kepada papa Alvin yang masih diam. Terlihat air mata berjatuhan di pipinya membuat semuanya yakin ia sedang larut dalam penyesalan dan rasa bersalah.

"Kak! Aku mohon sudahlah!" lirih Aren lebih lembut.

Cakka kembali duduk. Ia benar-benar kacau saat ini. Tak ada yang bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini..

Klekk!

Pintu ruang operasi terbuka.

"Gimana anak saya dok?" tanya papa Alvin sambil berdiri dan menyerbu dokter yang baru saja keluar dengan pasukannya.

Dokter itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian menggeleng pelan "Maaf! Kami sudah berusaha tapi pasien banyak kehilangan darah dan rupanya tusukan itu sangat dalam dan melukai hati pasien. Pasien tidak bisa kami selamatkan!" dokter itu berlalu.

Keadaan sunyi..

Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyelubungi alat pernafasan tiap orang yang mendengar penjelasan dokter tadi.

Nova semakin histeris. Ia berlari memasuki ruang operasi. Memeluk jasad yang sudah membatu. Berharap jasad itu mendapat kehangatan meski tubuhnya dingin.

"Kak Alvin!" lirih Nova pelan menatap wajah Alvin yang sudah memucat itu dengan nanar. Ia letakan jari jemarinya di wajah itu. Menyentuh dan merasakan serta menikmati keindahan dari sosok Alvin untuk yang terakhir kalinya.

***

Ia sandarkan tubuhnya di kursi taman kota. Baru saat ini setelah satu minggu kepergian Alvin, ia mau menghirup udara luar. Rasanya, rasa pedih dan sakit itu masih tersisa dalam sanubarinya.

Alvin pergi, tanpa pamit, tanpa pesan terakhir yang ia berikan untuknya. Hanya tempat ini satu-satunya saksi terakhir kejadian harus berakhirnya kisahnya.

Nova pejamkan matanya. Membiarkan angin lembut menerpa wajahnya. Ia sadar, kejadian malam itu, malam yang menurutnya penuh dengan keanehan, ketakutan dan keganjilan adalah memberi tanda akan terjadi peristiwa yang tidak baik kepada Alvin.

Gotta change my answering machine.
Now that i'm alone..
coz right now i says that we..
can't come the phone..

Ia hayati lagu yang mengalun lembut di musik player ponselnya. Sedikit menemani kesunyian hatinya yang teramat rapuh.

And i know it makes no sense..
Coz you walked out the door..
But it's she only way i hear your voice anymore..
it's ridiculous..

Sama sekali tak ia mengerti. Namun melodi dan judul lagu itu cukup membuatnya tertarik untuk memutar lagunya.

And i'm so sick of love songs..
So tired of tears..
So done with wishing you were still here..
said i'o so sick of love song so sad and slow..

Nova membuka matanya begitu sadar ada sesuatu yang menyentuh tangannya. Ia mengamati benda itu baik-baik. Sebuah kertas berwarna merah-cokelat. Nova tersenyum, lalu mendekap kertas itu di dadanya. Merasakan pemilik kertas itu, mencoba menyatukan pemilik warna itu dalam sel-sel darah merahnya. Sehingga ia akan merasa dekat dan dekat..

***

aku tak mampu..
sungguh tak mampu..
percayalah!
Bahkan ini sangat menyakitkan..
Ini sangat menyesakan..
kenapa tuhan gariskan takdir itu?
tak bisakah aku bernegosiasi padanya?
hanya sekedar meminta agar ia tetap di sampingku?
kepergian itu..
tak bisakah tuhan tunda?
aku hanya ingin lebih lama merasakan kehangatannya..
ini sungguh sulit..
ini sungguh berat..
dan aku tak mampu meminta agar Tuhan memberi  tambahan waktu tuk sekedar kudekap tubuhnya..
sehari..
sedetik..
atau sekejap,
untuk selamanya dalam kehangatan raganya

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea