Selasa, 13 September 2011

Ketika Esok Tak Lagi Kembali (Cerpen)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 03.57
Yang terbersit hanya dia. Tidak ada yang lain. Selalu raut wajah itu, selalu suara itu, selalu bayangan itu. Hebatnya dia! Membuatku gila.. Sungguh-sungguh gila! Setiap malam aku nyaris tidak tidur hanya untuk memikirkannya, memikirkan kenangan-kenangan tentangnya. Ini sungguh tidak wajar! Bahkan aku sudah menempati satu ruang kosong dalam hati orang lain.

%%%

Pagi ini, tak ubahnya seperti pagi-pagi biasanya, cerah dan menggambarkan suasana elok untuk memulai aktifitas dengan penuh semangat. Tapi aku? Selalu seperti ini, menjalani sebagian hari dengan tidak penuh gairah.

Seperti pagi ini. Pasti seperti biasanya, mengulangi rutinitasku setiap pagi, menatapi bangku kedua barisan ketiga dari kiri. Tempat dia duduk sambil menatapiku yang sedang olahraga setiap hari selasa dari balik kaca jendela.

"Woii! Ngelamun aja lo!"

Zevana, temanku duduk di sampingku sambil memandangku dan kemudian menggeleng-gelengkan kepala pertanda heran dengan tingkahku.

"Apaan sih Ze? Ganggu orang nostalgia aja! Gak asyik banget lo"

Bukan! Ini bukan sekedar nostalgia. Bukan hal yang wajar jika aku harus mengingat semua itu tiap detik. Bahkan setiap kali kakiku melangkah, kenangan-kenangan itu melekat dalam benakku. Seolah tiap tempat yang aku pijaki menyimpan seribu kenangan tentangnya.

"Ayolah Ren! Bangku itu udah jadi milik kelas kita! Gak ada lagi dia. Gak ada lagi orang yang harus lo sesali kepergiannya."

Selalu itu! Gak pernah bosan Zeva ngerecokin aku dengan komentar-komentarnya yang tiap pagi hampir sama.

Andai bisa aku ingin berhenti memikirkannya dan beralih pada orang yang lebih layak untuk aku fikirkan. Namun apa boleh buat. Semakin aku menjauhinya, ia semakin mendekapku erat dengan semua kenangan itu. Membuatku semakin terpuruk dalam penyesalan.

"Hello! Aren!" Zeva mengibas-ngibaskan tangannya di hadapanku.

"Apa sih Ze?"

"Lo udah punya Rio, Aren!" tegas Zeva.

Aku mendesah..
dan mulai meninggalkan Zeva yang langsung mengikutiku.

Ini terlalu sulit, apa lagi jika harus mendengar satu nama itu. Membuatku semakin larut dalam rasa bersalah.
Apa yang akan terjadi saat Rio tahu aku masih mencintai orang yang pernah ada di hatiku mesti hanya satu tahun? Orang yang kemudian aku tinggalkan tanpa alasan yang jelas. Benar-benar tanpa alasan.

Dan sampai sekarang aku benar-benar menyesal karena tidak kutemui lagi orang sepertinya.
Meski ada Rio yang ada dalam hatiku, aku tetap mengharapkannya kembali.. Aku tahu, aku juga menyayangi sesosok Rio. Tapi sungguh ini sulit digambarkan dan tak bisa dilukiskan dengan tinta apapun.

"Ren! Aren!" Zeva terus mengikutiku dan berusaha menyamakan langkah kakinya dengan langkahku.

"Apa lagi sih Neng Zeva?" aku menghentikan langkahku.

Zeva ikut berhenti. "Lo kenapa sih? Sensi amat" komentarnya. "Cerita dong!"

"Gak ada! Cerita tentang gue udah The End tanpa akhir yang jelas! Dan gak perlu gue ceritain lagi.."

Zeva menatapku heran seolah bertanya kenapa denganku?

Tanpa menghiraukan Zeva yang memilih diam di tempat dan tak mengikutiku lagi, aku berlalu dengan berbagai macam pertanyaan dalam benakku. Kenapa seperti ini? Bahkan aku sudah mulai lelah dengan cerita-cerita tentangnya. Tapi kenapa ia selalu ada? Kenapa ia tak berhenti menghampiriku? Dan aku sendiri tidak tahu apa jawaban yang tepat. Karena ini lebih rumit dari pelajaran matematika.

%%%

Pandanganku terfokus pada satu layar lebar malam ini. Mencoba memahami alur cerita dari film yang sedang diputar. Namun nihil! Gak kupahami! Bahkan bayangannya lebih seru beraksi dalam otakku.

Kutatap kursi kosong disampingku. Harusnya Rio yang kali ini ada di sampingku. Namun ternyata ajakanku untuk nonton bersamanya telah dikalahkan oleh tugas-tugas kampusnya.

Dan itu membuatku semakin larut dalam dekapan kenangannya. Saat pertama kali ia mengajakku masuk ke dalam bioskop untuk menonton film laskar pelangi karena aku tak henti mengoceh agar ia mau membaca novel itu walaupun ia tidak suka baca membaca, dan pada akhirnya ia mengajakku menonton filmnya.

Cukup! Aku gak ingin mengingatnya kembali. Aku mulai memfokuskan pandanganku lagi pada film kedua setelah laskar pelangi ini. Sang Pemimpi kali ini benar-benar buyar. Sama sekali tidak bisa dicerna dengan baik dalam otakku.

Ok! Ini terlalu berlebihan. Tapi ini kenyataan, kalau aku mulai gila karenanya. Terserah apa yang akan kau tanggapi soal keadaanku kali ini.

Aku berdiri dari dudukku dan segera meninggalkan bioskop tanpa menyelesaikan tontonanku.

Aku memutuskan untuk berjalan-jalan di taman kota. Sendiri dan hanya sendiri! Karena harapan agar Rio di sampingku dan menemaniku hanya angan.

Kugerakan kakiku ke depan belakang di kursi taman kali ini. Menikmati semilir angin berhembus. Berharap menemaniku yang benar-benar payah kali ini.

"Aren?!"

Panggilan itu mengalihkan perhatianku.

"Lo kok disini? Nontonnya udah?"

Aku tersenyum. Memandang Rio yang kini berdiri di hadapanku. Dari penampilannya ia memang terlihat habis pulang kuliah "Udah.. Tapi gak selesai. Bosan sih"

"Pasti gara-gara gue gak bisa nemenin ya? Maaf ya Ren!"

"Gak apa-apa. Hehe baru pulang ya? Cepet pulang gih! Pasti capek.."

Rio tersenyum "Gue anterin lo pulang dulu deh." katanya sambil menarik tanganku dan membawaku menuju motor bebek hitamnya yang terparkir di sembarang tempat.

"entar kalo gue gak bisa nemenin lo, lo minta orang lain aja..! Jangan pergi sendirian! Takutnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan lagi."

Aku mengangguk pelan dan perlahan tanganku melingkar di pinggang Rio begitu motor melaju. Biarkan sejenak kuhilangkan bayangannya dalam dekapan ini. Sejenak saja!!

%%%

Lagi lagi dia. Tak pernah bosan. Selalu menyesakkan, selalu meresahkan.

Sore ini aku memilih diam di balkon kamarku. Menikmati sedetik waktu yang terus berlalu.Setelah pulang sekolah aku enggan melakukan aktivitas lainnya, termasuk mempelajari soal-soal latihan UN. Satu hal yang aku lupakan hanya karena sibuk memikirkannya.Tidak! Aku harus melupakannya. Tidak hanya untuk saat ini, tapi untuk selamanya. Aku mohon. Tutup cerita tentangnya dalam benakku, Tuhan! Apapun dan bagaimanapun caranya. Bila perlu buat aku amnesia dari semua kenangan tentangannya.
Aku membuka novel Edensorku. Melanjutkan bagian yang belum aku selesaikan. Mencoba ikut berpetualang dengan tokoh dalam novel itu. Dalam sejenak aku larut dalam buaian kata-kata Andrea Hirata. Namun tak berlangsung lama. Tiba-tiba saja aku teringat satu moment bersamanya.

[Flashback]

"Dengerin aku dong!" perintahku saat aku dan dia duduk bersama di belakang rumahnya.

"Males Aren sayang! Entar aku langsung nonton aja ya?"

Aku cemberut "waktu laskar pelangi kamu nonton. Sekarang yang sang pemimpi baca dong!"

Dia menghela nafas "Iya..iya.. Tapi entar ya?"

"Gak mau! Sekarang! Kalo nggak aku lempar novelnya.." ancamku.

"Lempar aja!"

Tanpa banyak bicara dan berfikir panjang, aku langsung melempar novelku ke dalam kolam renang. Kemudian pergi meninggalkannya.

"Iih.. Aren ngambek!" katanyanya mengejarku"maaf!" ia memegang pergelangan tanganku.Aku memandangnya kesal tanpa kata."Iya. Aku baca sekarang!"

"Baca apa? Novelnya udah nyemplung tuh di kolam"

"Besok aku ganti. Sekaligus sama novel ketiganya" bujuknya

"Keempatnya juga"

"senyum dulu dong!"Dan aku langsung menarik sudut-sudut bibirku ke samping, tersenyum untuknya yang langsung mendapat bonus pelukan darinya.

[Flasbackend]

Aku tertawa sendiri sambil membolak balik novel yang sedang kupegang. Novel-novel yang menyimpan sejuta moment bersamanya, yang setiap kali aku membacanya, moment itu muncul menggangguku, menghambat penetrasi dalam benakku.

%%%

Aku mulai menyibukan diri dengan berbagai kegiatan. Hanya sekedar untuk mengalihkan perhatianku darinya meskipun akhirnya tetap nihil. Ia tetap ada di dekatku. Sedetik aku lengah, dia menyerangku dengan penuh kekuatan ekstra. Membuatku larut dalam waktu yang cukup lama.

"Ren! Lo baca buku atau ngelamun sih?" tanya Zeva saat kami berada di perpus seusai kelas pemantapan.

Aku yang memang mengajak Zeva ke perpus hanya tersenyum "Bahkan perpus sekolahpun menjadi saksi bisukenangan gue sama dia Ze!" keluhku.

Zeva duduk di hadapanku "Bukan hanya perpus. Tapi, semua tempat di sekolah ini adalah saksi bisu lo sama dia" Zeva membenarkan lalu mengelus tanganku lembut untuk menengangkankuMataku mulai berkaca-kaca

"Gue kangen di Ze.. Gue ingin bertemu dia.."

"Lo akan bertemu dia lagi Ren! Tapi tidak sekarang.. Apalagi lihat keadaan lo sekarang yang memang labil banget. Setidaknya lo punya kekuatan minimum untuk melihatnya yang memang bukan milik lo lagi."

Aku diam.

Di lain sisi aku membenarkan perkataan Zevana. Tapi apa yang ada dalam fikiranku dan bersemayam dalam hatiku tidak bisa dipungkiri, kalau aku ingin dia ada, ingin melihatnya. Meski akan menciptakan pertemuan yang menyakitkan.Kutekuk mukaku dan mulai meneteskan air mata itu. Kenapa aku selalu menjadi sosok yang lemah saat mengingatnya..?

Zevana merangkulku kuat "Sabar ya Ren! kalo bisa, gue ingin buat dia hilang dari otak lo. Berapapun obat yang bisa bikin lo lupa dia" katanya.

aku diam. Membiarkan air mata itu tumpah ruah..

%%%

Aku rebahkan tubuhku di atas rumput hijau kota hujan kali ini. Udara sejuk kebun raya bogor yang aku kunjungi bersama Rio saat ini menjadi teman yang mengelilingiku. Membuatku sejenak merasa tenang dan nyaman dalam buaiannya.

"Ren!" panggil Rio duduk di sampingku "Gimana tempatnya?" tanyanya

Aku menoleh "Hmm.. Nyaman. Bisa ngilangin sedikit rasa sumpek dalam otakku" jawabku yang memang sejak pagi memaksa Rio untuk mengajakku pergi ke tempat yang bisa membuatku tenang meski tidak untuk waktu yang lama.

"Seminggu lagi UN ya Ren?"

Aku mengangguk. "Sebentar lagi aku bakal jadi seorang mahasiswa lho.."

"Sukses selalu deh buat UN-nya"

Aku tersenyum. Memandang Rio dengan seksama. Apa iya dia menempati hatiku? Atau hanya sekedar pelampiasanku saja? Ahh.. Jahat sekali aku..!

"Yo! Aku minta maaf ya?" kataku tiba-tiba.

Rio menatapku heran "untuk?"

"hmm.. Tidak! Oya.. Kalo seandainya aku mutusin kamu, kamu masih mau jadi temen baikku kan?"

Rio diam.

"Aku ingin kita jalan masing-masing dulu. Sampai aku benar-benar merasa lebih baik" kataku menatap Rio serius "dan sebelum aku benar-benar menyakitimu." batinku

"Ya.. Kalau memang seperti itu, it's ok aja. Gue gak mungkin dong bersikap egois. Tapi, aku ingin alasan yang lebih jelas.."

"aku.. Hmm.. Apa itu penting? Hahh.. Aku tidak tahu apa alasan yang jelas.."

Melihat aku bingung seperti itu, Rio tersenyum tipis"Gue bisa jadi teman baik buat lo.."

Dan aku benar-benar tidak berkutik melihat ketulusan dan kedewasaan Rio. Gak! Ini gak akan menjadi penyesalan kedua untukku. Aku sudah memikirkan ini baik-baik

%%%

"Apa? Lo putus sama Rio? Kenapa Ren? Dia buat salah sama lo? Dia nyakitin lo ya?" tanya Zeva bertubi-tubi.

Aku memandang keadaan sekitar yang memang cukup rame sebelum menjelaskan yang sebenarnya kepada Zeva. Lagian ia frontal banget nanyain soal itu di hadapan banyak orang di cafe kali ini.

"Gue gak disakiti Ze. Tapi gue yang terlalu takut nyakitin dia. Jadi, gue memutuskan untuk jalan masing-masing dulu. Lagian satu minggu lagi UN Ze.. Gue mau fokus dulu deh!"

"Bener lo mau fokus sama UN?"

Aku mengangguk ragu. Masalahnya bukan aku gak bisa belajar dengan benar. Tapi, perlu bentemg yang sangat kuat untuk mencegah masuknya bayangannya ke dalam fikiranku.

Seandainya aku punya ilmu sihir untuk mencegahnya masuk meski dengan mantra legymencynya harry potter. Ya? Bahkan ini sudah tidak normal. Hayalan tingkat tinggiku sudah berkecamuk hanya sekedar untuk menghilangkannya.

"Tinggalkan yang meragukan Ren!"

"Andai bisa.."

"Lo bisa Ren! Gue yakin. Berusaha ya? Hanya untuk kali ini saja!"

Aku mengangguk.

"Tapi, gue harap sih selamanya."

Selamanya. Benar-benar selamanya sampai esok tak ada lagi.. Bukan barang sedetik, semenit, atau sehari
%%%

Pagi ini semua siswa berkumpul di depan mading. Berdesak-desakan memastikan nama mereka sejajar dengan kata lulus. Aku dan Zevana yang berada di barisan belakang, bersusah payah menerobos masuk melewati anak-anak yang lain. Namun beberapa kali mencoba, selalu gagal.

Zeva memandangku dan aku membalasnya. Tersenyum licik seolah akan melakukan sesuatu yang membahayakan.

"Satu.. Dua.. Tigaaa!"

Dalam hitungan ketiga yang diserukan Zeva, kami berdua menerobos masuk. Mendorog-dorong dan menyikut-nyikut siswa lain. Anarkis memang. Tapi, hanya itu cara agar kita bisa melihat dan memastikan kita lulus.

Mata kami terfokus pada kertas putih dengan nama-nama siswa yang berjajar sesuai dengan abjad, saat kami berhasil melakukan tindakan anarkis kami.

"Gue lulu Ze!"

"Gue juga..."

Sontak tubuh kami berdua merapat, saling berpelukan. Mentransfer rasa haru dan bahagia satu sama lain.

Air mataku mengalir "Gue lulus Ze! Gue lulus!" kataku dengan isak pelan.

Bukan! Bukan aku lebay. Tapi aku memang terharu karena aku mampu melewati UN meski bayangan si dia terus ikut andil bersama pelajaran-pelajaran dalam otakku.

Selain itu, tiga tahunku dalam putih abu bersama kenangan-kenangan indah di dalamnya membuatku tak mampu menghentikan laju ai mataku. Aku berhasil menemukan resolusi dalam klimaks perjalananku selama duduk di bangku SMA, meski aku tidak lulus dengan nilai tinggi seperti siswa-siswa pintar lainnya.

%%%

Malam ini. Tentu malam yang sangat ditunggu. Prom night, acara yang membuat aku bersolek mati-matian hanya untuk tampil cantik dan beda.

meskipun aku tidak akan datang dengan seorang cowok, tapi aku ingin menjadi yang tercantik minimal untuk aku sendiri sebelun esok aku tak lagi bisa berdiri di bangunan bertitle SMA itu.aku ingin meninggalkan kenangan-kenangan indahku dengan penampilan terbaikku.

Aku dan Zevana saling pandang. Kemudian tersenyum kepada satu sama lain. Zevana tampak cantik dan anggun dengan dress selututnya. Make-up naturalnya sangat serasi dengan warna baju creamnya.

"Are you ready my friend?"

aku mengangguk pasti "sure.. Let's go!"

dan aku mulai memasuki gerbang sekolah menuju aula yang dijadikeun gedung resepsi.

Orang-orang berlalu lalang dengan pasangan masing-masing.. Sekolah diwarnai dengan gaya maskulin dan feminim siswa-siswanya.

Mataku jauh memandang ke arah orang-orang yang sedang asyik berdansa. Sementara aku memilih diam di kursi para tamu undangan. Kesal dan bete sendiri karena ditinggal Zevana.

Disaat kesendirian itu menghampiri setiap detik yang terlewati, tiba-tiba fikiranku terjun menuju masa dimana saat-saat indah itu tercipta. Dan hasrat untuk melihatnyapun tiba-tiba menelusup masuk ke dalam benakku. Khayalan bisa duduk bersamanya, diajak dansa olehnya, melihat senyumnya, atau sekedar merasakan sentuhan tangannya.

Aku mengetuk-ngetuk gelas yang sedang kupegang diatas meja dan misuh-misuh sendiri. "Ahh tahu Zeva diajak dansa sama orang lain, aku gak bakalan dateng aja! Kesel tahu di kacangin!" gerutuku

Gak! Tujuanku kesini bukan untuk itu. Kenapa aku harus menggerutu gak jelas? Sudahlah! Aku kembali menikmati suasana kali ini. Merasakan alunan musik lembut yang memenuhi ruangan. Menghilangkan segala macam fikiran-fikiran tak enak dan menggantinya dengan bersenandung kecil.

"Ehm.. Sendiri aja nih?"

Aku mencari dimana arah suara itu berasal.

"Disini.."

Aku membalikan badanku. Dan...

"A..Alvin?"

Seperti dihampiri ribuan zeus ke dalam hatiku, aku memandang seorang cowok putih-sipit dihadapanku tanpa kedip. Tak mempercayai apa yang sedang kulihat..

"Ka..kamu ko a..ada disini sih?" tanyaku.

Entah kenapa tiba-tiba saja lidahku kelu dan gagu saat aku berbicara dengannya.

"Lupa ya? Aku alumni sekolah ini.."

Jelas aku tidak akan pernah lupa. Karena selama ia menjabat sebagai alumni sekolah ini, ia selalu ada dalam deretan-deretan kenangan di sekolah ini.

Aku diam. Terus menatapnya. Tidak! Aku tidak boleh menangis. Aku harus kua. Bukankah ini yang kuinginkan? Bertemu dengannya. Kenapa harus menangis? Dengan sekuat tenaga aku menahan air mataku agar tidak tumpah saat Alvin memegang tanganku dan menuliskan sebaris nomor Hp.

"Lain kali smsan ya?!" katanya sambil berlalu "Take care Aren!"

Aku diam sejenak membiarkan air mataku turun. Masih kurasakan sentuhan yang tidak pernah berubah itu di tanganku yang terkulai lemah.

Aku menangis! Karena ini sangat menyakitkan. Pertemuan yang membuatku larut dalam penyesalan itu lagi.

Dan tangisan itu. Tangisan karena aku mulai menyadari kalau senyum itu, sentuhan itu dan orang itu bukan miliku lagi. Dia adalah orang yang telah aku sia-siakan, Alvin.

Aku membalikan badanku, memandangnya sepintas yang tampak asyik dengan teman-teman seangkatannya yang merupakan tamu undangan. Dan aku harus menegaskan sekali lagi bahwa Alvin bukan milikku lagi. Terlalu jauh jika aku mengharapkannya kembali sementara ia adalah hati yang tersakiti.

Aku berlari menerobos orang-orang yang sedang berdansa. Aku tahu Alvin melihat aksiku itu, namun aku tak peduli seberapa bodoh aku di matanya, yanag aku inginkan adalah pergi. Benar-benar pergi. Pergi dari segala tentangnya.

"Ren!"

Sebuah tangan memegang pergelangan tanganku saat aku berlari di koridor sekolah.

Aku tertunduk. Tak berani memandang orang yang kini ada di hadapanku.

"Lo.. Ke.."

Sebelum orang itu melanjutkan ucapannya, aku langsumg mendekapnya erat. Meski dia bukan siapa-siapa lagi untukku. Namun yang aku inginkan dia memberikan dadanya untukku.

"Ada apa?" tanyanya lagi.

"Biarkan seperti ini! Jangan biarkan pelukanku lepas, biarkan aku peluk kamu, Rio..!" lirihku.

Dan perlahan tangan Rio menfkapku. Membiarka aku tenang dalam kehangatan ini.

Bahkan aku sendiri tidak mengerti dengan ini. Tolonglah setelah ini tak perlu ada lagi dia. Biarkan aku bernafas lega!

Jangan hukum aku lagi dengan semua kenangan itu! Dan harapan ini.. Harapan esok ia tak lagi kembali. Ini yang terakhir dan benar-benar berakhir. Meski bukan ini yang kuharapkan akhirnya..

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea