Minggu, 27 November 2011

Problem Of Organization Part 1(cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 01.43
Tampaknya mereka begitu sibuk dengan buku-buku, pena-pena dan kegiatan lain seperti pada umumnya anak sekolahan. Kesunyian yang menyergap setiap lingkungan SMAN-3 itu, rupanya telah dikalahkan oleh anak-anak Osis yang terpaksa hadir ke sekolah hanya untuk mempersiapkan kegiatan MOS yang beberapa hari lagi akan dilaksanakan.


"Ehm.. Siang semuanya! Masih bersama saya, Alyssa Saufika Umari. Bendahara Osis yang super duper baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung di kantin sekolah. Hehehe.."

Alyssa atau lebih akrab dipanggil Ify itu kini tengah bergaya seperti host di sebuah drama reality saat sebuah camera menyorotnya.

"Tentunya, masih ditemani supir pribadi saya kiriman entah dari korea atau china, Alvin Jonathan. Saya akan mengajak anda untuk melihat ada apa saja di ruang osis kali ini.."

"Cut!" Teriak Alvin begitu sadar ada kata-kata ganjil dari ucapan Ify. "Yah lo Fy! Enak wae ngatain gue supir pribadi." Protesnya sambil nyerahin handycame kepada Ify "Gue deh yang lo shoot!"

Ify tertawa melihat tingkah sahabatnya dan mulai mengambil alih posisi Alvin tadi. "Ok! One.. Two.. Three.. Action!"

Ify mulai menyorot Alvin yang sudah berdiri sempurna di tempatnya tadi. Ify tersenyum sendiri melihat Alvin di balik kamera. Sosok itulah yang selama dua tahun ini selalu sukses membuat ia menyusuri kapas-kapas putih kebahagiaan. Bersama rasa yang tidak pernah absen menggelitiki jiwanya yang terlalu enggan untuk mengakui satu rasa yang bersarang disana.

"Yaile! Ni bendahara sama ketua Osis sibuk berdua dari tadi. Taruh dulu dong kameranya! Bantuin gue nih beresin barang-barang logistik!"

Belum sempat Alvin mengucapkan sepatah katapun, tahu-tahu Iyel sudah berdiri di depannya menghadap kamera. Membuat Ify kaget karena gambar Alvin tiba-tiba berubah jadi sosok Iyel.

Ify mematikan kamera yang ia pegang. Kemudian memandang Iyel dengan langsung "Ahh Lo yel. Ganggu gue aja.."

Iyel tersenyum sekilas, kemudian berbalik memandang Alvin yang masih berdiri tegak di belakangnya "Gue taruh dimana nih Vin alat-alat logistik ini?" tunjuk Iyel pada barang-barang untuk persiapan MOS yang hampir seabrek.

"Vin lo belum tandatangan proposal ya?"

Belum sempat Alvin menjawab pertanyaan Iyel, Shilla, si sekretaris osis sudah nongol di balik rak piala sambil nenteng-nenteng proposal.

"Tanda tangan nih! Bentar lagi mau humas kasih ke pembina osis sama kepsek" perintah Shilla.

Alvin mengangguk dan berjalan ke arah Shilla.

"Vin! Bak stempel lo taruh dimana?" teriak Sivia yang tak Alvin ketahui dimana pemilik suara itu.

Mendengar teriakan Sivia, Alvin melengos. Mencari dulu dia ia menaruh bak stempel yang terakhir kali ia gunakan. Shilla yang merasa dicuekin, kembali duduk di samping Agni dan Rio yang masih asyik dengan laptopnya. Sementara Ify dan Iyel memilih membereskan barang-barang logistik yang tadi Iyel bawa.

"Vin gue taruh barang-barang ini disini ya?" teriak Ify sambil bersusah payah mengangkat barang-barang itu di pojok ruang osis.

"Vin mana? Bak stempelnya ada gak?"

"Vin gue butuh tanda tangan lo nih.."

"Vin cepetan ih lo lama banget!"

"Vin kok lo gak respon ucapan gue sih? Bete deh!"

Berbagai protesan dari pengurus osis lain yang merupakan bawahan
Alvin, kini benar-benar menjadi melodi khusus yang menyergap telinga Alvin yang masih sibuk sendiri nyari bak stempel di lemari tempat arsip-arsip osis.

"Aaaarrrggghh!!" teriak
Alvin langsung mengundang perhatian orang-orang sekitar untuk melihat apa yang terjadi.

"Lo ngapain tidur disini Kka?" tanya
Alvin begitu lihat Cakka yang sedang duduk di samping kanan lemari. Wajahnya ditutupi komik yang biasa dibacanya.

Cakka mengambil komiknya yang masih menempel di wajahnya. Kemudian membuka matanya dan tahu-tahu berbagai wajah sudah memenuhi bola matanya.

"Yailah ni orang satu! Yang lain pada sibuk ngurusin Osis. Ini malah enak-enakan tidur!" komentar Agni repleks membuat orang-orang memandangnya heran.

Jelas! Karena selama beberapa minggu ini, Agni tidak mau peduli pada Cakka yang memang sudah menjabat sebagai pacarnya selama satu tahun ini.

Cakka tersenyum. Lalu nyengir sendiri "Hehe.. Sory bro, sis! Abisan gue ngantuk gak ketulungan" jelas Cakka menatap Agni yang memang paling sejajar dengan posisi wajahnya.

"Vin ada gak sih?" Sivia yang berdiri di belakang
Alvin menepuk pundak Alvin saat ia kembali ingat bak stempel yang belum ia dapatkan.

Alvin memutar tubuhnya 360 derajat. Memandang Sivia dan tersenyum aneh "Nggak ketemu Vi, yang ada malah gue nemuin bawahan gue lagi enak-enakan tidur disini.."

Mendengar ucapan
Alvin semua orang hanya tertawa. Membuat suasana ruang osis yang tadi di penuhi dengan kejenuhan karena teriakan-teriakan gak jelas menjadi lebih asyik dan seru dengan tawa yang baru saja tercipta.

***

Setelah satu minggu mereka, para pengurus osis sibuk dengan persiapan-persiapan yang memang sungguh menyita waktu libur meraka. Akhirnya kegiatan puncakpun mulai berlangsung. Mereka mulai menjalankan acara yang memang sudah dikonsep sedemikian rupa dengan sebaik-baiknya.

Dan di sela kesibukan para panitia MOS. Terlihat Shilla yang sudah kesekian kalinya memandang
Rio yang tengah berdiri di hadapan para peserta MOS di balik jendela osis yang untuk saat ini dijadikan ruang panitia.
Ia begitu asyik mengamati sosok makhluk yang baru-baru ini ia kenal. Perbedaan tingkatan kelas membuat ia bingung dengan apa yang ia rasakan. Di satu sisi ia memunafikan perasaannya pada seorang Mario yang kini duduk sebagai adik kelasnya. Tapi, di sisi lain ia tidak memungkiri bahwa ia mencintanya.

"Ehm.. Neng Shilla ngelamun mulu! Mandangin siapa sih?"

Shilla mengalihkan perhatiannya pada orang yang kini duduk di sampingnya "Eh Vin! Gak ke lapangan?" tanya Shilla balik.

"Ada Rio tuh Shill! dia cocok banget dijadiin seksi korlap" kata
Alvin mengamati Rio yang masih berbaur dengan anak-anak casis bersama Cakka dan Iyel tentunya. "Gue fikir, entar dia deh yang gantiin posisi gue sebagai ketos!" cerocos Alvin yang hanya dapat bonus senyuman dari Shilla.

"Bener tuh Vin!" Sivia duduk di samping
Alvin sambil meletakan kamera digital yang ia pegang di atas meja "Selain pintar, cakep, gesit, jiwa kepemimpinannya juga ada, bertanggung jawab lagi" puji Sivia panjang lebar. Membuat Shilla menoleh dengan heran ke arah Sivia.

"Lo gak ambil gambar anak-anak Vi?" tanya
Alvin yang baru sadar dengan tugas Sivia sebagai seksi dokumentasi saat melihat kamera terpampang manis di hadapan Sivia.

Sivia mendesah pelan. Posisinya sebagai seksi mading membuat
Alvin menempatkan ia sebagai seksi dokumentasi "Udah Vin!" jawabnya sambil meraih kameranya "Sekarang gue foto lo deh sama Shilla"

Tanpa persetujuan
Alvin maupun Shilla, tahu-tahu sebuah cahaya sudah terciprat ke arah mereka berdua.

Shilla tertunduk "Ah lo ambil gambar orang tanpa izin" protes Shilla pura-pura kesal.

"Maaf deh.. Sekali lagi ya? Sekarang dengan izin" lagi-lagi Sivia mendapat gambar Shilla yang masih tertunduk.

Alvin yang melihat tingkah Sivia hanya geleng-geleng kepala aneh.

***

Ify memandang para calon siswa baru yang sedang melaksanakan PBB dengan malas malam ini. Sebenarnya ia tidak minat untuk ikut acara malam MOS kali ini. Tapi, paksaan
Alvin yang selalu sukses membuat ia luluh dan tak bisa menolak.

Ify berlalu meninggalkan lapangan dan anak-anak lain yang masih asyik dengan teriakan-teriakan dan hukuman-hukuman yang mereka berikan kepada adik-adik juniornya. Ia memilih bergabung dengan panitia lain yang bertugas di dapur umum.

"Lo disini juga Ag?" tanya Ify begitu melihat Agni sibuk memasak.

"Iya nih Fy! Sebel gue di lapangan. Tuh si Cicak playboy cap onta malah sok SKSD sama adik juniornya. Siapa sih namanya? Acha..hmm icha.. Chacha.. Gitu deh.." cerocos Agni membuat Ify terkikik pelan.

"cap onta?? Cap orang tercinta maksud lo? Haha.. Ya ngerti lah Ag!"

"Cowok gitu ya Fy? Sulit dipercaya! Tidak mau konsisten dengan apa yang dijanjikannya! Sepertinya, tak lama lagi gue bakal nemuin titik jenuh deh Fy!"

Ify mendesah pelan. Mendengar ucapan Agni ia jadi ingin tertawa sendiri. Mengingat hubungan Agni dan Cakka yang bentar baik bentar ribut  hanya karena penyakit playboy cakka suka kumat tiba-tiba.

***

"Woii Alvin mana?" tanya Iyel sibuk sendiri mencari sosok
Alvin yang memang sejak tadi tidak kelihatan "Sekarangkan mau dilaksanakan upacara penutupan" katanya masih misuh-misuh sendiri.

"Kenapa sih Yel?
Alvin disana tuh!" tunjuk Shilla pada Alvin yang tertidur di atas atap lantai dua.

"Ngapain tuh orang tidur disana?" tanya Ify heran.

"Gimana caranya juga tuh ketua osis sipit bisa nyampe disana?" celetuk Cakka plus ejekannya sontak membuat Ify melayangkan jitakannya ke kepala Cakka.

"Ih lo Fy.. Galak amat!"

"Udah deh Yel! Lo tutup aja acaranya..! Kasian Alvin. Dia pasti sengaja tidur disana biar tidak bisa diganggu.." saran Shilla yang sejak kemarin
Alvin tidak tidur hanya karena bolak balik bikin konsep acara camping.

Iyel memandang Shilla. Pastinya dengan tatapan yang menurut Shilla aneh. Lalu ia mengangguk karena ia tidak bisa menolak permintaan Shilla.

Dan mereka mulai berjalan menuju lapangan upacara. Berbaur dengan anak-anak lain dan casis yang tadi malam sudah diresmikan menjadi siswa SMAN-3.

Hampir 30 menit upacara penutupan berlangsung dengan berbagai sambutan, mulai dari kepala yayasan, kepsek, pembina osis dan Iyel yang mewakili
Alvin meskipun ia kelabakan sendiri nyari kata-kata yang benar.

"Halahh.. Sumpah bete gue! Si Alvin nih gara-garanya" protes Iyel duduk di bawah pohon mangifera indica yang sejak mereka masuk SMA ini menjadi saksi terjalinnya persahabatan indah antara 7 orang ini.

Tempat yang mereka sebut DPR, yang menjadi persinggahan setelah beberapa jam otak mereka dipress dengan berbagai pelajaran.

"Yaelah lo Yel.. Dari tadi misuh-misuh sendiri.. Gak
cape apa? Tapi sumpah tadi sambutan lo kacau banget! Percis kaya orang gagu tahu gak?" Cakka duduk diantara Ify dan Agni.

Plettakk!

Iyel sukses melayangkan jitakannya ke kepala Cakka.

"Iisshh.. Sadis lo Yel!" protes Cakka sambil ngelus-ngelus kepalanya pelan "Lama-lama gue amnesia juga dijitak mulu!"

"Bagus tuh Yel! Biar penyakit playboynya ngilang.." sindir Agni nepuk-nepuk pundak Cakka "sabar ya sayang! Kamu pantes dapetin itu!"

"Ye.. Lo Ag! Gitu-gitu juga dia calon lo" goda Ify sambil ikut nepuk-nepuk pundak Cakka.

"Jhaha.. Lo bakalan jadi Ny. Nuraga dong Ag?" giliran Sivia yang mencibir sambil membuka-buka hasil potretannya.

Sepertinya di sela kepenatan yang mulai mereda karena satu tugas osis telah terselesaikan, topik Cakka-Agni cukup asyik untuk dikupas dan dibahas.

"Kalau dia bisa setia sama gue!" kata Agni barengan saat sosok putih-sipit berjalan ke arah mereka.

"Huuu.. Enak lo pin tidur! Gue kelabakan nyari kata-kata buat sambutan yang mestinya disampein sama lo"

Belum juga Alvin sampai di tempat tujuan, Iyel sudah ngerecokin dia dengan kata-kata keselnya.

Alvin menguap. Sepertinya ia masih ngantuk. Meskipun Iya ataupun tidak, matanya tetap aja terlihat seperti orang tidur. "Sabar boi! Gue ngantuk.. Lo pada enak bisa tidur. Lah gue? Bolak balik ngurusin konsep pressing yang agak bertolak belakang sama kesiswaan!" jelas Alvin duduk bersandar di batang pohon yang masih terlihat tegak dan gagah.

"Sudahlah! Yang penting kegiatan ini udah selesai dan berjalan dengan baik. Tak perlu ada lagi itungan soal siapa yang nyampein sambutan. Lo pikir ini matematika apa?" ujar Shilla bijak, risih sendiri melihat Iyel yang dari tadi hitungan soal penyampaian sambutan.

Semuanya mengalihkan pandangannya pada Shilla yang tetap asyik dengan buku dan pulpennya.. Dan setelah itu mereka tersenyum.

***

Sudah kesekian kalinya Alvin membolak balik tubuhnya di tempat tidurnya. Bergulat dengan bantal, guling dan bedcover putihnya, hanya untuk mencari posisi yang menurutnya tepat untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa pegal dan ngilu, akibat dari terlalu banyak bergerak dan tidur di atas atap.

"Aaarrggh! Sialan juga nih sakit! Udah pukul sebelas gini juga. Masih aja gangguin waktu tidur gue. Err.." Alvin nyerocos sendiri sambil terus guling-guling di atas kasurnya.

'Helo teman semua..
ayo kita sambut..
hari baru tlah tiba..
apa yang kurasakan kuingin engkau tahu..
ku kan berbagi bersama..'

Alvin menghentikan tindakannya dan dengan sangat terpaksa ia bangkit dan mengambil ponselnya yang tergeletak sembarang di atas meja belajarnya.

"Iya Fy?" respon Alvin cepat begitu ia berhasil mengangkat telephonenya.

"Gue gak bisa tidur Vin!" lapor Ify yang merupakan lawan bicara Alvin "Lo insomnia jugakan Vin?" tanya  Ify kemudian.

"Iya nih Fy! Ahh sumpah badan gue sakit semua nih!" keluh Alvin berjalan ke arah tempat tidurnya. Dan kembali melanjutkan aksinya yang sempat tertunda.

"Ye.. Salah sendiri lo tidur di atas atap."

"Iya nih Fy... Sssrrkk..lagi ssssrrrkk..gue .. Diatas atap.. Kapok! Sssrkk gue..."

"Hallo Vin! Kok gak jelas gitu sih? Lo ngapain?"

Alvin mulai menghentikan aksi guling-gulingnya dan tetap pada posisi meluk guling sambil menggigit bibir bawahnya, menahan sakit "sory Fy! Abisan sakit banget nih!" ujar Alvin

"Ah.. Apa sebegitu sakitnya? Minum obat gih!"

"Haha nggak kok Fy! Tenang aja!"

"Syukurlah.."

"Lo kenapa gak bisa tidur Fy?"

"Hmm mikirin besok. Kira-kira kita sekelas lagi gak ya? Abisan nilai gue turun sih.. Entar malah gue masuk kelas IPA 2 bareng agni lagi.."

"Ya.. Gak akanlah Fy! Kita bakalan sekelas lagi dan duduk di bangku yang sama." Alvin meyakinkan Ify. Ia juga tidak ingin berpisah dengan Ify yang memang diantara 7 temannya hanya Ify yang berhasil masuk IPA 1.

Hening.

"Fy! Lo tidur?" tanya Alvin begitu sadar tak ada suara dari lawan bicaranya.

..........

"Fy! Woii lo masih disanakan?"

............

"Fy! Kenapa lo jadi diam?"

...............

"Fy!"

Tuut..tut..tut...

Alvin menatap layar ponselnya. Heran sendiri. Ia segera melempar sembarang Hp-nya. Kemudian mencoba memejamkan matanya di sela-sela rasa sakit yang terus meremas-remas tulang dan sendi-sendi tubuhnya tanpa ampun.







TBC

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea