Minggu, 27 November 2011

Problem Of Organization Part 2(cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 01.45
***

Sejuk. Mendamaikan. Itulah yang ia fikirkan tentang satu ciptaan Tuhan yang bergerak-gerak lembut di hamparan biru itu.

"Yang lain pada kemana ya Kak?" tanya seseorang mengalihkan perhatiannya.

Ia membalikan badan dan sudah menemukan
Rio tengah berjalan ke arahnya.

"Biasanya DPR rame. Kok cuma ada Kak Shilla doang?"

Shilla tersenyum "Lo masuk kelas apa Yo?" bukan menjawab pertanyaan
Rio, Shilla malah memberi pertanyaan baru untuk Rio.

Rio duduk di samping Shilla "IPA Kak."

"Cocok!"

"Lho.. Kenapa memang?"

"Karena lo pintar dan cocok nempatin posisi itu. Selain itu, gue rasa lo deh yang bakalan dapat gelar ketua osis.."

Rio tertawa pelan "masa sih Kak? Tapi, gue gak pernah ingin ada di posisi gue saat ini. Gue gak pernah mau jadi anak IPA dan gue juga gak pernah ingin jadi ketua Osis." jelas Rio membuat Shilla berhasil noleh ke arahnya dengan tatapan bingung.

"Hmm.. Kenapa sih Yo? Bukankah orang-orang begitu bernafsu buat duduk di kelas IPA?"

"Karena sebenarnya, gue gak pernah ingin orang lain tahu gue pintar. Gue gak pernah mau orang kenal sama gue karena gue seorang teladan ataupun ketua osis"
Rio jeda sejenak. Menarik nafas dalam saat mengakui posisinya saat ini tidak pernah ia harapkan.

"Gue ingin orang kenal ya.. Gue sebagai
Rio. Bukan ketua osis atau yang lainnya. Lagian jadi orang pintar itu ribet Kak! Punya beban mempertahankan kebanggaan orang lain."

Shilla tersenyum. Menaikan satu alisnya pertanda tak mengerti. Benarkah ada orang yang berfikir seperti itu?

"Coba deh lo fikirkan Kak! Kalo orang kenal kita sebagai orang pintar, saat nilai kita down kita akan menjadi topik yang fenomenal ketidakpercayaan orang lain. Kadang kita jadi takut mengecewakan orang-orang yang begitu bangga pada kita. Padahal semua juga tahu ada kalanya kita berada di bawah."

Lagi-lagi Shilla hanya tersenyum. Mengingat dulu ia sangat kecewa saat ia di tempatkan di kelas IPS. Padahal sudah jelas ia merasa seorang pintar yang mampu menjadi seorang bintang pelajar.

"Dulu, gue pengen banget duduk di bangku kelas IPA Yo.. Dan gue yakin akan duduk disana bersama
Alvin dan Ify, atau paling tidak dengan Agni di kelas IPA 2. Mengingat sejak SMP gue adalah seorang yang pintar. Gue selalu rangking dan jadi kebanggaan guru-guru. Tapi nyatanya? Gue sama sekali gak masuk kelas IPa dan terlempar jauh ke kelas IPS bersama Sivia, Iyel dan Cakka..

Gue kecewa berat Yo! Mungkin karena gue terlalu yakin dan nyatanya tidak. Membuat gue benar-benar terpukul. Tapi setelah itu, gue berusaha meyakini hati gue kalau gue bakalan lebih baik di kelas IPS ini. Gue mulai belajar bersyukur dan mengambil pelajaran bahwa seharusnya kita mempersiapkan segala sesuatu yang negatif yang akan menghampiri kita."

Entah dorongan darimana shilla tiba-tiba bercerita panjang lebar pada Rio. Padahal ia bukan tipe orang yang suka berbagi pengalaman hidupnya. bahkan teman-teman yang lainpun belum tahu tentang ini.

“Sebenarnya IPA-IPS sama aja Kak!”

Untuk kesekian kalinya Shilla dibuat diam oleh seorang adik kelas. Dulu ia berfikir kenapa IPA disebut sebagai tempatnya orang-orang pintar? padahal jelas sudah satu sama lain punya kemampuan masing-masing. IPA belum tahu dan memahami pelajaran IPS. Begitupun sebaliknya.

“Kak!” Panggil rio.

Shilla memandang Rio. Hingga tatapan mereka beradu. Membuat detakan jantung Shilla berdetak dengan irama tersendiri.

“Kakak penulis ya?” Tanya Rio lagi mengingat sering sekali ia melihat Shilla bergaul dengan buku dan pena. Serta karya-karyanya yang eksis memenuhi mading sekolah.

“Haha.. penulis amatir yo. Yang esoknya akan menjadi penulis hebat setelah idola gue. JK. Rowling dan Andrea Hirata.” Jawab Shilla tertawa kecil mendengar cita-citanya terucap dari bibir mungil Rio. “Mimpi Deh gue..!!”

“Mimpikan boleh Kak. Gue yakin kakak juga lebih tahu kata-kata Andrea Hirata ini. Bermimpilah kamu maka tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.”

Shilla mengangguk pelan. Selama kenal dengan Rio baru kali ini ia  bisa berbincang akrab seperti ini. Dengan obrolan singkat kali ini Shilla berfikir Rio teman yang asyik untuknya.

***

“pertama gue konsep pemilihan ketos baru. Kedua LPJ dan penyerahan jabatan. Ketiga pelantikan, keempat laporan dan pembubaran panitia. Lah.. empat acara sekaligus dalam satu bulan? Gimana caranya? Kira-kira bisa gak ya? Hmm.. baik-baik..”

Alvin tampak bergumam sendiri di mejanya. Mengonsep kegiatan Osis yang harus ia selesaikan sesegera mungkin karena beberapa bulan kedepan ia dan anggota Osis lainnya akan dihadapkan pada Ujian Nasional dan kegiatan-kegiatan persiapan UN lainnya. Ia terus nyorat-nyoret agenda Osis yang tadi pagi Shilla berikan padanya. Tanpa mempedulikan ocehan guru kimia yang masih asyik dengan spidol dan papan tulisnya.

“gue rasa cukup! LPJ satu minggu. Hah.. tapi gue yakin Shilla bakal mutilasi gue kalau gue suruh dia buat proposal dan LPJ sekaligus dalam waktu sempit. Bisa-bisa dia kena tumor otak mikirin kata-kata LPJ dan proposal. Argh! Lagian nih Pembina Osis ngasih tempo gak kira-kira.”

“Vin lo kenapa sih? Dari tadi nyerocos mulu gak nyatet?”
Ify yang duduk disamping Alvin memandang Alvin heran. Ia melihat buku yang sedang Alvin tekuni, jelas sudah di dalamnya bukan rumus-rumus kimia seperti yang ada pada bukunya.. tapi lebih  penuh dengan lingkaran-lingkaran dan tulisan gak jelas.

“gue lihat lo deh entar..” jawab Alvin masih belum melepaskan pandangannya dari buku itu. “ok! Sekarang focus dulu deh sama pemilihan ketos baru. Yang lain kita kesampingkan dulu. Hehe.. Alvin Jonathan lo kan pintar. Kenapa jadi lola plus telod begini?”

ify yang melihat tingkah Alvin hanya geleng-geleng kepala. Apa mungkin syaraf otak sahabatnya ini ada yang terputus? Tahu gini ia gak mau sekelas dan sebangku dengan Alvin di kelas XII ini.

“Alyssa Saufika Umari!”

Ify mengalihkan pandangannya ke depan,begitu mendengar namanya disebut. Memandang Bu Ira yang sudah menyorotkan pandangan geram ke arahnya. Alvin ikut memandang Bu Ira.

“ngapain kamu bengong-bengong sambil lihatin Alvin?” Tanya Bu Ira yang langsung dapat sorakan ramai dari anak-anak sekelas.

Ify tersenyum aneh. Sementara Alvin hanya menatap keadan sekelasnya dengan bingung.

“Ini Bu.. aku fikir eng.. Alvin sudah gila!” jawab Ify yang langsung dapat toyoran gratis dari Alvin.

"apaan sih fy?” Alvin yang masih rundung  kebingungan memandang Ify sekilas kemudian memandang Ibu Ira yang masih menatap mereka berdua sambil gelang-geleng kepala.

“kalian itu..!! jadi sejak tadi tidak mendengarkan Ibu?”

Keadaan kelas mulai membisu.

Repleks Alvin dan Ify menggeleng. Tapi, tak lama setelah itu mereka mengangguk. Membuat guru Kimia mereka semakin geram.

***

Hanya ada diam. Tak ada kalimat yang terucap dari lisan keduanya. Mereka tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing. Agni tetap asyik memandang setiap sudut kantin yang memang terlihat sepi karena memang ini jam pulang sekolah. Sementara Cakka yang kini duduk di hadapan agni dengan sangat santainya membaca komik Naruto yang selama beberpa minggu ini tidak lepas dari tangannya.

“kapan sih lo mau berubah?” merasa bosan mengamati kantin sekolah akhirnya Agni memulai pembicaraan.

“Gue gak ada hubungan apapun sama Acha Ag!” jelas Cakka belum melepaskan pandangannya dari komiknya.

Agni menghela nafas kesal. “tapi mau ada apa-apa. Kan?” Tanya Agni dengan nada yang cukup keras.

“Nggak Ag!”

“nggak salah!”

mendengar kata-kata ketus Agni, mau tidak mau Cakka menutup komiknya dan meletakkannya diatas meja kantin. Kemudian memandang Agni dengan serius. Mencoba menjelaskan maksudnya lewat tatapan matanya yang sengaja ia sejajarkan dengan arah bola mata Agni.

“Jangan pandang gue kaya gitu! Gue gak suka.” Protes Agni menundukan kepala, risih dengan tatapan Cakka. Bagaimanapun ada sesuatu yang selalu membuatnya lemah dalam bola mata itu.

Keadaan diam. Sebelum akhirnya..

“Ahh.. gara-gara lo nih Vin!”

Ify menghempaskan tubuhnya di samping Agni. Sementa Alvin memilih duduk di samping Cakka. Agni memandang temanya itu bergantian. Mimik wajah mereka menggambarkan kekesalan.

“idihh.. lo nya aja yang bego! Masa lo bilang nitrogen monoksida NO2? Udah tahu NO2 itu Nitrogen dioksida”

Ify menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “lagian lo ngapain sih tadi corat-coret buku gaje kaya gitu?’

“gue lagi konsep kegiatan Osis, Ify… terus lo ngapain pandangin gue sampai tuh bu Ira cemburu buta sama lo?”

“Aiissshhh….siapa yang lihatin lo? Pede begete sih lo?”

Agni dan cakka yang sama sekali tidak mengerti dengan pembicaraan dua orang dihadapannya kali ini hanya saling pandang dan kemudian mengangkat bahu pertanda tidak tahu apa-apa.

“shilla!’ teriak Alvin begitu melihat Shilla, Iyel dan sivia melintas jauh di hadapannya.

Merasa ada yang memanggil. Shilla menoleh ke arah suara itu berasal. Dan tanpa komando mereka langsung menghampiri meja dimana Alvin berda begitupun dengan iyel dan sivia.

“kebetulan nih.. kita semua pengurus osiskan? Gue mau ngobrolin soal kegiatan Osis nih.." Alvin memberi kode kepada tiga orang yang berdiri di hadapannya untuk duduk.

Mau tidak mau akhirnya semua orang yang ada disana merelakan jam pulang mereka dengan mendengarkan ocehan Alvin soal kegiatan Osis yang baru tadi ia konsep.


TBC

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea