Minggu, 20 November 2011

Takdirpun Tidak Merestui (Cerpen)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 06.02
***

Pernah kau merasa..
mencintai dengan menggila.
pernahkah kau terpuruk
ketika mencintai seseorang tanpa ujung.
tanpa akhir dan tanpa bisa mendapatkannya.

Dalam diam hanya sendiri..
dan selalu sendiri..
Karena harapan tuk di sisimu..
Hanya angan. Hanya impian.

***

"Dunia lihat aku! Beri kesempatan untukku melupakannya!" teriakku dengan volume suara yang menggelegar. Meruntuhkan pertahanan-pertahanan horizon dalam hati yang penuh biasan pelangi cinta yang pernah kutorehkan berabad-abad lamanya.

Hembusan angin pantai, deburan ombak dan gesekan daun-daun saling bersahutan di bawah hamparan langit pekat nan gelap. Bergemuruh, meradang, menangis, menjadi metafora hatiku yang hancur. Luluh lantah!

Aku menengadah. Mencari peraduan dalam ketenangan hati. Perlahan tetes air hujan membasahi wajahku. Menyergap kain-kain tipis yang menempel di tubuhku dan aku terhempas di atas butir-butir pasir hitam yang lembut. Merenung.

Aku tahu kisah ini terlalu biasa, terlalu banyak cerita seperti ini yang beredar di sinetron-sinetron, novel dan media lainnya.

Kisah yang menceritakan cinta bertepuk sebelah tangan. Cinta seorang gadis kepada lelaki yang justru mencintai sahabat si gadis. Cinta tak terungkap yang pada akhirnya menorehkan luka yang teramat dalam. Biasa bukan? Tapi percayalah! Ini sangat menyakitkan. Dan aku merasakan itu.

Perlahan kutekukan lututku membiarkan wajahku terbenam di atasnya, menumpahkan air mata yang membludah bak air bah. Bersimbah tercampur tetesan air yang terus turun dari langit.

Enam tahun aku mencintainya. Mencintai lelaki bernama Alvin yang aku temukan sedang duduk di belakang mejaku saat pertama kali aku masuk kelas 7, lelaki yang menurutku lebih dari seorang lelaki standar yang biasa saja.

Alvin digilai banyak gadis tak terkecuali aku. Dan aku yang memang hanya seorang gadis biasa atau malah berada di bawah standar, hanya bisa menahan diri untuk tidak memperlihatkan rasa sukaku, meski aku selalu berangan-angan menjadi miliknya. Menikmati setiap detik dan waktu hanya bersamanya layaknya orang pacaran. Ya! Itu hanya sebuah angan yang tak mungkin terwujud. Namun itu tidak membuatku menyerah untuk mencintainya, karena aku sungguh mencintainya.

Mungkin, hanya Zahra, satu-satunya sahabatku yang mengetahui seberapa besar dimensi cintaku untuk Alvin. Hanya ia yang tahu.

Meskipun ketika SMA aku tidak bisa lagi sekelas dengannya karena memang sekolah kita berbeda. Itu tidak membuatku menemukan titik jenuh lantaran tidak setiap hari melihatnya. Karena dengan melihatnya satu minggu sekali ketika ia berbaris sebagai anggota paskibra setiap sabtu, sudah cukup membuatku bahagia.

Dan untuk saat ini aku merasa ingin melupakannya. Benar-benar melupakannya! Tak akan aku tanyakan kenapa harus Zahra yang Alvin cintai? Kenapa Zahra yang jelas baru dilihatnya beberapa minggu yang lalu karena pertemuan antar sekolah untuk melakukan study banding? Kenapa bukan aku?

Ya! Rentetan pertanyaan itu tidak akan aku pertanyakan pada siapapun. Karena aku sadar. Aku tahu diri. Aku hanya gadis biasa yang tidak akan mungkin mendapatkan lelaki tampan seperti Alvin. Aku tahu dan aku belajar Bahwa orang tampan hanya bernafsu pada wanita cantik.

***

Semua mata terfokus kepadaku begitu aku memasuki gerbang sekolah. Jelas karena untuk saat ini aku tampak seperti orang cinta yang terdampar disini, di SMA 1312 yang begitu menyebalkan karena telah mempertemukan Zahra dan Alvin dg melakukan study banding.

Sudah 2 minggu sejak Alvin dan Zahra jadian, setiap malam aku menangis. Mataku terus memproduksi cairan-cairan bening yang terhempas membasahi hati yang perih.

"Fy!"

Seseorang menepuk pundakku. Aku berbalik dan memastikan siapa yang menempelkan tangannya di bahuku"kau rupanya Ra?" kataku begitu melihat Zahra di hadapanku.

"Hei! Kau menangis lagi? Apa karena..." ucapan Zahra terpotong.

"Hmm.. Aku sudah memikirkannya baik-baik" potongku .

"Apa?" Zahra memasang wajah bingung dan tak mafhum dengan ucapanku.

"Ini fakta Ra! Bukan rebuah sinetron atau novel. Dan aku akan bertindak sesuai kenyataan. Aku tidak akan berperan sebagai protagonis yang sok merelakan orang yang dicintainya untuk sahabatnya padahal ia sendiri hancur. Aku tidak akan mengatakan 'Bahagiakan Alvin Ra! Cintai dia seperti aku mencintainya.. Karena kebahagiaannya kebahagiaanku juga' tidak! Karena itu hanya kebohongan besar. Aku juga tidak akan berperan sebagai antagonis yang melakukan berbagai cara untuk merebut Alvin dari kamu" jelasku sambil berjalan menuju kelasku.

Zahra yang masih berjalan di sampingku hanya bisa menghela nafas menunggu kelanjutan kalimatku.

"Sekarang kita jalani sesuai alurnya. Kamu hanya tinggal pura-pura kalau kau tidak tahu aku mencintai Alvin" sambungku tersenyum penuh dengan kelegaan.

Semalaman aku memikirkan ini. Dan setelah pulang dari pantai, aku sedikit mendapatkan jawaban apa yang harus aku lakukan.

"Fy! Aku.." Zahra menatapku penuh rasa bersalah. Mungkin sedikit tercampur dengan rasa kasihan dan aku tidak suka dikasihani.

"Sudahlah! Hmm sebenarnya satu hal selalu membuatku ingin menangis. Bukan hubungan kamu dan Alvin. Tapi karena aku tak bisa melupakannya" ujarku sambil berlari meninggalkan Zahra "Ke kelas duluan ya?"

Zahra terpaku.

Sebenarnya, untuk kali ini aku ingin menjauh darinya. Bukan apa apa hanya saja dekat dengannya membuatku bermetamorfosis menjadi seorang munafik..

***

Tempat kesukaanku tampaknya tidak begitu mendukungku untuk mengunjunginya. Rupanya di hari sabtu ini terlalu banyak orang yang ingin menyaksikan sunset. Dan untuk kali ini, aku ogah-ogahan melihat pemandangan indah itu dengan ditemani banyak orang.

Aku memilih balik kanan dan meninggaalkan pantai dan duduk menikmati serat-serat kuning emas itu di bukit kecil belakang SMA 1312 sambil ngedate dengan novel Harry Potter and Chamber Of Secrets yang paling aku gemari diantara keenam novel Harry Potter lainnya.

Sebuah lagu mengalun dibalik Headphone yang aku kenakan. Hembusan angin sore bersiut-siut berkolaborasi dengan Melly Goeslaw, musisi faforitku yang begitu menghayati lagu cintanya. Sejenak kumelupakan perkara cintaku kepada Alvin karena buaian atmosfer disekitarku yang begitu menyejukan.

Cinta. Pernahkah kau tahu makna cinta? Begitu banyak ahli filsafat yang mendefinisikan arti-arti cinta yang terkadang menjadi teori-teori yang tidak sesuai.. dan itu tidak ingin menafsirkan sebuah bahasa cinta.
Karena yang aku tahu Bahasa cinta itu seperti bahasa parseltongue- Harry Potter yang hanya dimengerti oleh penyihir tertentu. Dan aku tidak termasuk di dalamnya.

“Fy..!”

aku terhenyak begitu merasakan sebuah tangan melingkar di tubuhku. Membuatku sesaat saja aku merasakan hawa-hawa hangat menjalar di tubuhku. Aku menutup novelku dan melepaskan pelukan orang itu.

“Zahra kau kenapa?” tanyaku tak mengerti.

“A..alvin… Dia berpacaran dengan orang lain. Dia menduakanku Fy!” adu Zahra memelukku kembali. Air matanya menetes satu persatu diI bajuku.

Aku diam tidak tahu apa yang harus aku ungkapkan untuk menenangkan sahabatku itu . perlahan tanganku mengusap-ngusap punggung Zahra. Apa yang harus aku lakukan saat ini? Aku mencintai Alvin dan aku menyayangi Zahra.
Perih dan sakit ketika bola yang berpijar kecemburuan itu membakar habis hati ini. Saat aku tahu Alvin dan Zahra berhubungan special. Dan untuk kali ini apa yang harus aku katakana? Tentang ini. Tentang rasa bimbang antara rasa senang dan duka yang tercampur minykapi kasus ini.

Entahlah!a kenap ketika Alvin dekat dengan gadis lain aku merasa biasa. Tapi ketika Zahra yang memilikinya. Rasa tak rela ini seakan menguasai jiwa ini.

“kau beruntung Fy! Beruntung tidak merasakan ini.”

‘kau yang beruntung karena sempat memilikinya.’ Batinku.

***

Perlahan-lahan aku menghirup udara segar setelah menghabiskan waktuku di ruangan sumpek dengan pelajaran kewarganegaraan yang susah bukan buatan.

Tidak ingin berlama-lama di sekolah, aku segera melangkah pergi meninggalkan bangunan itu. Menyusuri jalan-jalan kecil. Aku bahagia. Karena hari ini, hari sabtu. Yang artinya aku bisa melihat Alvin ketika aku melewati sekolahnya.

Lagu terbaru, Citra, Everybody Knew mengalun pelan di balik earphone yang aku kenakan sejak pelajaran berlangsung. Aku terlalu benci pelajaran itu dan bagiku mendengarkan ocehan guru yang pada akhirnya tidak ngerti juga adalah hal yang membosankan.

Aku berhenti di depan sekolah Alvin. Tengok kanan kiri. Dan sepertinya kosong. Apa anggota paskibra tidak melakukan latihan?
Aku menarik nafas, kecewa. Dan mulai melangkah lagi.

Tiba-tiba saja mataku menemukan seseorang yang sedang duduk di beranda kelas, dia, Alvin.

Tanpa fikir panjang aku langsung berjalan menghampirinya. Tentunya dengan cara mengendap-ngendap. Percis agen mata-mata. Semakin dekat, semakin keras juga detakan jantungku. Sesaat aku terdiam di hadapannya dan ia tetap bergeming. Sepertinya ia tertidur dan tidak menyadari kehadiranku.

Perlahan aku hempaskan tubuhku di sampingnya. Ikut memejamkan mata bersamanya..
Angin sepoi tiba-tiba saja berhembus membelai lembut wajahku, menuntun tanganku untuk menyentugg tangan Alvin. Sedikit demi sedikit tanganku mendekati jari jemari Alvin dan..

'Ya Tuhan! Setelah enam tahun aku mencintai Alvin. Baru kali ini aku bisa menyentuh kulit halus itu. Aku bahagia Tuhan. Bahagia sekali!'

Aku tersenyum mengamati wajahnya. Ia lebih tampan dalam jarak sedekat ini. Bibirnya, matanya, hidungnya, semuanya benar-benar membuat rasa cinta ini bergejolak semakin besar. Terhempas ke dalam lautan hati yang paling dalam.

Tanganku yang masih memegang jemari Alvin, perlahan terlepas dan beralih pada iPod yang sedang didengarkannya. Dengan sangat hati-hati aku melepaskan kabel headphone Alvin dan menggantinya dengan earphoneku hanya sekedar ingin tahu lagu apa yang sedang didengarkannya.

Penggalan lagu yang pernah kudengarkan sebelumnya. That Should Be Me, membuatku tersenyum pahit. Sudah jelas lagu itu membuktikan bahwa Alvin masih mencintai Zahra.

Tak ambil pusing, aku segera melepas kabel earphoneku kembali. Dan mulai menikmati kebahagiaan ini bersama Alvin. Berdua dan hanya berdua. Tak peduli ia sedang menyukai siapa, yang pasti aku mencintainya. Dan ini yang aku inginkan selama ini. Duduk dalam jarak sedekat ini dengannya.

Pelan-pelan aku menuntun kepalanya bersandar di pundakku. Lengkaplah kebahagiaanku kali ini. Thanks for today, God!

***

"Ra! Zahra! Dengerin aku pliis..!"

Aku terdiam begitu seseorang menghalangi jalanku dan Zahra begitu kami keluar dari bioskop sehabis nonton Harry Potter and deathly hallows yang sudah aku tunggu selama ini.

Zahra tak merespon ucapn itu dan segera menarik tanganku menjauh dari orang itu."Ayo Fy!" ajaknya.p

"Ra! Sebentar saja!" orang itu memelas.

"Apa lagi sih Vin? AKU BENCI KAMU! SO DON'T DISTURB ME AGAIN OK!" tegas Zahra marah.

Aku hanya bisa menatap wajah orang itu yang tak lain Alvin, dengan iba. Pasalnya aku tidak suka Alvin seperti ini. Aku tak suka Alvin sedih. Aku akui, jika Alvin bahagia aku ikut bahagia adalah sebuah kebohongan besar. Tapi jika Alvin sedih dan aku sedih itu benar-benar nyata!

"Ra! Beri kesempatan dia sekali saja!" saranku ikut memelas.

Zahra menatapku "TIDAK! AKU GAK MAU MELIHAT KAMU LAGI ALVIN! YOU GO FROM ME FOREVER!" teriakknya penuh penekanan. Kemudian berlari meninggalkan aku. Alvin mengejarnya.

Aku hanya diam di tempat. Menyaksikan adegan sebelum akhirnya tiba-tiba saja tanganku berusaha menutup mataku ketika sebuah cahaya menyilaukan terciprat dari arah kiri dan...

BRUUUAAAKK!

Alvin terpental jauh, tubuhnya terlempar di pinggir jalan. Darah keluar dari kepalanya, mulutnya, telinganya, membuat sesaat saja aku merasa keadaan di sekitarku dipenuhi dengan karbondioksida. Oksigen pergi menyingkir, membuatku benar-benar sulit bernafas.

"Tidak...! Tidak!" aku mundur beberapa langkah. Bayangan kerumunan orang perlahan memudar karena bendungan air mataku.

Aku berlari meninggalkan tempat itu. Aku bisa saja berlari menyelamatkan Alvin, memeluk tubuh itu atau apa saja. Tapi aku tidak bisa! Aku tidak sanggup kehilangan Alvin dan tidak akan pernah sanggup.

Aku berhenti di pantai, tempat favoritku. Aku menangis histeris bertemankan ombak-ombak pantai yang jinak. Hati ini sungguh hancur. Belum juga aku memilikinya, ia sudah pergi meninggalkanku. Baru saja kemarin aku merasakan kebahagiaan bisa duduk berdua dengannya meski ia tidak tahu, dan sekarang ia secepat itu meninggalkanku. Tanpa memberikan kesempatan kedua untukku merasakannya lagi.

Tuhan! Siapa yang harus aku salahkan? Siapa Tuhan? Tidak bolehkah aku memilikinya? Salahkah bila aku terus mencintainya? Hingga Engkau tega mengambilnya? Tuhan! Aku hanya ingin dia! Dan sebelum aku mewujudkan keinginan iu, aku sudah kehilangannya. Aku sadar.. Takdirpun tak setuju aku bahagia bersamanya.
***
Satu tahun berlalu..

Sudah satu jam aku berdiri di samping pusara Alvin. Enggan beranjak. Aku duduk kembali, mengusap lembut nisan yang hampir lusuh karena terlalu sering aku usap. Tangisku pecah setiap dua minggu sekali aku mengunjunginya. Di hari sabtu.

"Alvin ! Ini aku Ify, Allysa Saufika Umari. Masih ingatkan? Temen SMP mu yang waktu itu duduk di depanmu" lirihku dengan air mata berlinang.

"Haha.. Kau pasti tidak tahu karena aku memang tidak cocok untuk kamu lirik. Tapi aku tidak peduli dengan itu. Yang aku pedulikan adalah cintaku untukmu..

"Andai kamu tahu, ada seorang gadis yang mencintaimu. Mungkin hanya dia satu-satunya gadis di dunia ini yang mencintaimu sampai ia lupa mencintai dirinya sendiri. Cintanyanya itu begitu pasir pantai yang setia menunggu untuk disapa dan disentuh oleh ombak-ombak. Ia gadis yang begitu mencintaimu. Dan itu aku."

Kuhempaskan kepalaku diatas tanah merah itu. Tersedu sedan. Air mataku sudah seperti aliran sungai yang tak henti mengalir. Aku benar-benar lemah tanpa Alvin. Aku terlalu mencintainya. Dan takdir tidak merestui aku memiliki Alvin. Tidak juga orang lain.


END

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea