Selasa, 13 Desember 2011

Maaf (Cerpen)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 01.59

Gemawan yang indah, terlukis rapi di atas horizon-horizon biru yang terbentang luas dari ujung masyrik hingga maghrib (timur hingga barat). Menjadi dekorasi nyata yang membuktikan betapa indahnya alam ini, menjadi hiasan yang menitis, kuasa-kuasa Tuhan akan takdir yang telah digariskan.

Sama halnya dengan hamparan ilalang setinggi lutut yang tak henti membelanya manja. Menandakan atmosfer di tempat itu cocok menjadi seting untuk menenangkan segenap keresahan dan penyesalan yang memporak porandakan hati.

Sebuah buku mini, lebih tepatnya sebuah komik berwarna hitam polos dengan lambang L di baliknya, menjadi sesuatu yang terabaikan. Tak ada yang minat membukanya atau sekedar menyentuhnya. Si pemilik lebih asyik mengamati keadaan di sekitarnya.

"Al..." panggil gadis berparas cantik yang saat ini duduk di samping laki-laki bernama Alvin.

Alvin tak merespon. Ia tetap asyik pada pengamatannya. Indefferent. Tak acuh dengan panggilan gadis itu. Entah apa yang difikirkan Alvin.

Sivia. Gadis berparas cantik itu menghela nafas. Ia merasa dadanya dipenuhi dengan sesak. Membuat suasana indah di sekitarnya seperti diselubungi berbagai gas-gas efek rumah kaca yang membuatnya sulit bernafas. Paru-parunya bagai dihantam benda keras dan berhenti berkerja hanya untuk menahan tangis.

"Maafkan aku! Maafkan aku, Alvin!" lirihnya kali ini dengan air mata yang sudah bercucuran di sekitar wajahnya.

Alvin menoleh ke arah Sivia. Tanpa ekspresi. Benar-benar datar. Tak peduli seberapa banyak air yang terproduksi dari mata bening itu. Tak peduli. Sungguh-sungguh tak peduli.

Sivia dekap tubuh itu erat. Mencari ketenangan di baliknya. Seperti ketenangan yang selalu ia dapatkan dulu. Ketenangan yang lebih tenang saat hipnotis terhebat menguasai tubuh. Ketenangan yang tak akan orang lain dapatkan.

[Flashback]

Suara cipratan air yang dihasilkan oleh gerakan kaki Sivia, menjadi irama khusus sore itu. Sebuah sungai dengan aliran air jernih yang cukup deras, dan batu-batu hitam besar yang menjadi ornamen-ornamen di sekitarnya tidak terlalu mengasyikan untuknya.

Sesekali Sivia menatap Rio dan Ify, sahabatnya yang seperti biasa, memamerkan kemesraan di hadapannya. Membuat ia selalu sukses berada dalam ruang sempit yang penuh dengan rasa iri dan cemburu. Cemburu karena ia tidak mendapatkan hal serupa seperti yang dilakukan Rio pada Ify. Perhatian, pengertian, memanja-manja, dan hal-hal lainnya yang mendorong keromantisan tiap hubungan mereka.

"Huft!" desahnya mengalihkan titik fokus matanya pada seseorang yang duduk di sampingnya. Orang itu tak membalas tatapan Sivia. Tampaknya komik yang sedang ia baca membuat ia tidak peka pada ekspresi pacarnya yang terlihat begitu jenuh dengan pengacuhan itu.

"Vin! Sivianya jangan diselingkuhi sama komik kamu mulu dong!" seru Ify yang masih asyik bermain-main air dan tertawa bersama dengan Rio.

Alvin memandang Sivia sepintas. "aku tidak misplacing seperti mereka!" ujarnya kembali menekuni bacaannya.

Sivia hanya bisa tersenyum pasrah. Tak tahu apa yang harus ia katakan untuk merespon ucapan Alvin, seseorang yang sudah menjabat sebagai kekasihnya selama satu tahun ini.

Sebenarnya ia sudah biasa dengan sifat Alvin yang memang dingin dan acuh padanya. Tapi karena kebiasaan itulah ia merasa cintanya sia-sia. Percuma karena Alvin seperti tak menganggap kehadiranya. Tapi, ia mencintai Alvin.

"Al? Aku ingin tahu dong isi komikmu apa." Sivia menatapi komik yang sedang ada digenggaman Alvin. Sebenarnya, ia hanya ingin memecahakan keheningan antara mereka.

Alvin menutup komiknya. Memandang Sivia sambil menyerahkan komik itu. Kemudian memilih menikmati keadaan di sekitarnya.

Sivia mendengus kesal sambil pura-pura membaca komik itu. Hingga keadan benar-benar hening diantara mereka. Tak ada kata, tak ada suara. Hanya samar-samar suara gelak tawa Ify dan Rio yang menjadi soundtrack untuk kebisuan Alvin dan Sivia. Sampai akhirnya mereka larut dalam aktivitas masing-masing. Sivia sudah tenggelam dalam bacaannya bersama tokoh komik yang ia baca. Alvin sendiri lebih memilih mengamati suasana di sekitarnya.

***

Sudah dua jam Sivia terjebak hujan di toko buku sore itu. Gemuruh petir yang saling sambar membuat ia memilih duduk di depan dan tak berani melangkah menembus rintikan hujan itu. Hatinya sudah dimonopoli oleh rasa kesal yang semakin meluas. Membuat ia terus merutuki keadaan itu.

Sepulang sekolah ia memilih pulang sendiri dan menolak permintaan Alvin yang ingin mengantarnya pulang. Hanya untuk mengunjungi toko buku dan membeli komik edisi terakhir yang biasa Alvin baca sebagai hadiah untuk kekasihnya itu. Dan pada akhirnya, hujan membuat ia tak bisa pulang.

Berkali-kali Sivia menengok jam tangan hitam polos yang menempel di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukan seringai malamnya, dan hujan tak juga reda. Sudah dua jam yang lalu Sivia mengirimi Alvin pesan untuk menjemputnya. Sudah beberapa kali juga Sivia menghubungi Alvin, namun tak juga mendapat jawaban.

Ia beranjak dari duduknya. Berniat menembus hujan karena merasa terlalu lama di tempat itu. Meski ia berlari dengan sangat cepat, tetap saja ia tidak bisa menghindari serangan bertubi-tubi dari air-air itu.

Ketika kakinya sudah lelah dan tubuhnya mulai di selimuti kedinginan, ia berhenti melangkah. Merasakan tiap inci dari kekakuan yang menyergap tulang dan sendinya. Bibirnya sudah membiru pertanda ia benar-benar kedinginan.

"Sivia!"

Sontak suara seseorang dan sebuah vios silver yang berhenti di sampingnya membuat ia menoleh dengan cepat dan tersenyum lebar. "Rio?"

"Naik! Kenapa hujan-hujan seperti itu? Gak bisa nunggu hujannya reda atau minta jemput?" cerocos Rio saat Sivia naik ke dalam mobilnya.

Sivia hanya menanggapi cerocosan Rio dengan diam. Rasa dingin terasa mencekiknya dan membuatnya sulit bicara. Rio memandang Sivia sejenak. Tampak cemas melihat sahabatnya itu. Sahabat yang sudah membuat ia bisa bertemu Ify, orang yang dicintainya. Membantu setiap masalah yang terkadang menghadang hubunganya dengan Ify. Tapi, ia sendiri tidak tahu cara membuat hubungannya dengan Alvin bahagia karena sifat Alvin yang memang terlalu cuek.

Rio memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Sivia dan mengantar Sivia sampai di depan pintu. "ganti baju! Makan! Dan pastikan kau mendapatkan kehangatan!" papar Rio menatap Sivia iba.

Sivia diam saja.

"Aku pulang dulu!"

Belum sempat Rio membalikan badan, tahu-tahu Sivia sudah memeluknya erat. Membuat Rio kaget dengan aksi itu. "Alvin sudah tidak peduli padaku Yo!" lirih Sivia.

Rio yang mengerti akan posisi Sivia, dengan segera membalas pelukan Sivia. Hanya sekedar untuk memberikan ketenangan dan kehangatan di sela rasa dingin karena pelukan Sivia membuat bajunya basah.

***

Sudah berjam-jam ia terbaring di tempat tidurnya. Masih terasa hawa-hawa panas di sekitar tubuhnya. Entah kenapa panasnya tak kunjung turun. Padahal ia sudah minum obat penurun demam.

Ia merasakan dingin yang luar biasa. Seolah indonesia baru saja berpindah posisi menjauh dari garis khatulistiwa dan mendapatkan hujan salju sampai minus seratus derajat. Ia benar-benar tercekik rasa dingin itu padahal ia sudah menggunakan double selimut dan menutup semua ventilasi yang ada di kamarnya. Tubuhnya panas tapi ia merasa sedingin itu.

"Via!" seseorang membuka pintu dan berjalan menghampiri tempat tidur Sivia.

Samar-samar Sivia mendengar suara-suara. Tapi rupanya matanya tak bisa diajak kompromi. Ia merasa berat membuka mata. Sampai akhirnya ia merasakan tangan seseorang menyentuh keningnya.

"mama?" tebak Sivia masih menutup mata.

Tak ada jawaban.

"Alvin?"

Masih tak ada jawaban. Dan itu membuat Via terpaksa membuka matanya dan sudah menemukan Ify dan Rio memenuhi bola matanya. Sedikit tersenyum dan mencoba mengangkat tubuhnya.

"Alvin mana?" tanyanya sambil mengamati kamarnya.

Baik Ify maupun Rio sama-sama menghela nafas. Tidak tahu harus menjawab pertanyaan Via dengan apa. Pasalnya mereka juga tidak bertemu Alvin seharian ini.

"Badanmu masih panas. Istirahatlah!" perintah Ify sekedar mengalihkan perhatian Via.

Sivia menatap Ify lekat-lekat. Membuat Ify heran dengan tatapan itu. Jelaslah sebuah tatapan yang berbeda.

"Ify!" panggil Via lemas.

Ify menaikan satu alisnya. "Ya Vi?"

"Maafkan aku!" Sivia memeluk tubuh sahabatnya itu dengan tiba-tiba.

"Tapi kenapa?"

"Kemarin tanpa izin kamu, aku meluk Rio! Maafkan aku Ify."

Ify memandang Rio sejenak, lalu tersenyum. "tidak apa-apa Via! Kau boleh meluk Rio kapan saja selama kau membutuhkannya. Aku bukan orang egois!" Ify melepaskan pelukan Sivia.

Rio mengangguk pelan. Menyetujui pemaparan Ify. "Siapa dulu dong pacarnya? Mario Stevano Aditya Haling!" bangga Rio sambil mencubit pipi Ify gemas.

Ify tertawa pelan, "ih Rio! Sakit tahu.." manyun Ify kali ini sambil memukul lengan Rio pelan.

Sivia hanya tersenyum melihat adegan itu. Adegan yang selalu membuat orang-orang iri menyaksikannya. Rio dan Ify memang pasangan tercocok dilihat dari sisi manapun. Sivia hanya bisa meratapi, betapa jauh berbedanya hubungan dirinya dan Alvin dengan Rio dan Ify.

Kadang kala, ia merasa ingin menyerah dan menghentikan alur kisah cintanya. Mengakhiri semua yang tak ingin diakhiri. Alvin hanya terlalu acuh bahkan saat Sivia sakitpun ia tak peduli. Dan itu membuat Sivia merasa menjadi orang paling tidak penting untuk Alvin.

***

Sudah puluhan kali kata benci terlontar dari lisan Sivia yang masih belum puas menatapi Alvin dengan sorot mata marahnya yang berkilat-kilat. Mengundang ribuan hasrat untuk membunuh orang di hadapannya. Ia hanya muak dengan semua ini, dengan pengacuhan Alvin dan segalanya.

Kelas seni yang saat ini menjadi latar aksi mereka, tampak menjadi lebih dingin dan mencekam. Suasana sepi sesaat menjadi lebih sepi seperti baru saja suara-suara meninggalkan ruangan itu.

“Aku benci kamu Alvin!!!!!” pekik Sivia keras “kenapa kamu tega lakuin ini? Apa aku memang tidak penting sampai kamu tega biarin aku nunggu dan hujan-hujanan? Bahkan saat aku sakitpun kamu masih tidak peduli. Sebenarnya kamu itu cinta gak sih sama aku? Kamu syang gak sih?” cerocos Sivia dengan air mata yang sudah membendung di pelupuk matanya.

“Via. Aku… ” ucapan Alvin terpotong.

“AKU BENCI KAMU….!!!”

“Via…!”

“Kalau kamu gak sayang aku, kenapa kita harus melanjutkan ini?” air mata Sivia kini sudah mendarat di pipinya.

Merasa tidak berhasil menjelaskan maksudnya, karena Sivia terus-terusan memotong ucapannya. Ia segera membungkan Sivia dengan cara menarik tubuh itu ke dalam dekapannya. Membiarkan seragam putihnya menyerap air mata itu.

Sivia diam. Entah kenapa sesaat saja rasa marah itu, luntur seketika saat ia merasakan kehangatan dalam dekapan Alvin. Ketenangan itu, benar-benar terasa meresap melalui pori-pori tubuhnya dan berhenti tepat di dasar jiwanya.

"Kenapa kamu gak bisa seperti Rio pada Ify, Al? Padahal cintaku padamu jauh lebih besar dari cinta Ify pada Rio!" lirih Sivia.

Alvin semakin menguatkan peluknnya. "Kemarin aku jemput kamu Vi. Hanya saja aku terjebak macet. Saat aku sampai di toko buku, kamu udah gak ada. Aku susul kamu ke rumah dan aku malah mendapat kejutan yang sangat-sangat menyesakkan. Aku lihat kamu pelukan dengan Rio, Vi!" jelas Alvin.

Sivia terisak semakin hebat.

"Aku gak nengokin kamu, karena aku juga sakit Vi! Aku pakai motor waktu jemput kamu. Aku sama-sama kehujanan."

Sivia diam membisu.

"Aku cinta kamu Vi, aku sayang kamu. Hanya saja aku tidak tahu bagaimana cara menunjukan itu semua, karena aku bukan Rio."

Dan Sivia benar-benar tidak berkutik mendengar penjelasan Alvin. Ia tidak tahu harus berkata apa. Rasa bersalah secara tiba-tiba mengguncang jiwanya.

"Sivia aku tulus mencintainmu! Dan ketulusan itu tidak diukur seberapa banyak kita melakukan adegan romantis. Karena sesungguhnya ketulusan itu ada dalam hati, dan hanya dengan hati pula kita bisa merasakannya. Percayalah Via!"

Benar! Sivia membenarkan ucapan Alvin. Karena selama ini ia merasakan ketenangan yang maha, saat ada di dekat Alvin. Ia hanya terlalu berambisi mendapatkan pembuktian Alvin yang sebenarnya sudah terbukti dengan kenyamanan saat berada di dekatnya. Ia hanya egois dan tak mengerti Alvin.

"Alvin! Maafkan aku.." Sivia melepaskan pelukan Alvin, menatap Alvin dalam, dalam, dan dalam. "Aku terlalu bodoh untuk mengerti cintamu. Kau lebih pantas mendapatkan yang bisa mengerti kamu. Sebaiknya kita putus saja." tanpa menunggu detik-detik selanjutnya berpijak, Sivia meraih tangan Alvin dan meletakan komik yang ia beli tempo hari di telapak tangan Alvin. Sejurus kemudian ia balik kanan, berlari meninggalkan Alvin.

Sempat tak percaya. Namun dengan segera berlari mengejar Sivia dan meraih pergelangan tangan itu. "Sivia! Apa maksudmu dengan semua ini? Aku mencintaimu Vi!" Alvin kembali mendekap Via.

"Lepaskan aku, Alvin! Aku tidak pantas untukmu."

"Bukankah kamu bilang cintamu lebih besar dari cinta Ify ke Rio? Tapi kenapa kamu malah memilih mengakhiri ini semua? Katakan padaku kalau kata putus itu tidak tulus dari hatimu!" pinta Alvin.

Entah kekuatan negatif darimana dan syetan seperti apa yang saat ini merasuk kedalam segenap jiwa dan raga Sivia, sehingga hatinya tak bisa luluh dengan dekapan Alvin. Ia memberontak melepaskan pelukan Alvin.

"Lepasin aku Alvin!" teriaknya mendorong tubuh Alvin menjauh dari tubunya dengan kekuatan ekstra.

Alvin yang saat itu berada dalam posisi yang tidak benar dan kurang siap. Secara repleks terjatuh ke belakang. Satu hal yang terlupakan. Posisi mereka saat itu berada tepat di samping tangga sekolah.

"Ya Tuhan ! Alvin!" pekik Sivia kaget.

Alvin sempat mencari pegangan. Namun tangannya yang saat itu sedang memegang komik, membuat ia sedikit kesulitan dan memaksanya menjatuhkan tubuhnya dan berguling-guling di atas tangga dengan pualam-pualam bening yang secara tiba-tiba diciprati bercak-bercak merah yang baru saja terproduksi dari kepala Alvin.

Seperti baru saja tertimpa ribuan patung liberty, Sivia terpaku di tempat. Tak mampu bergerak, kaki dan tubuhnya benar-benar lemas terasa. Sampai ia sadar dan segera menuruni tangga dengan cepat, menyerbu tubuh Alvin dan mendekapnya kuat.

Air matanya meleleh satu persatu, menyatu dalam biasan rasa bersalah yang bahkan sudah menggunung dalam sanubarinya.

***

[Flashbackend]

Angin yang bersilir-silir sesaat saja membuka perlahan-lahan komik yang sedari tadi teracuhkan. Membuat Alvin berhasil noleh ke arahnya dan melepaskan pelukan Sivia. Ia terlihat mengamati buku itu, Sivia memperhatikan Alvin dengan seksama.

Sivia menghapus air matanya dan meraih komik itu. "Pada akhirnya, L memecahkan kasus itu, menyelamatkan banyak orang dan memberikan hadiah untuk makki dan anak orang Thailand yang ia beri nama Near, satu hari sebelum ia meninggal.." Sivia sedikit menceritakan isi cerita dari komik berjudul death note yang biasa Alvin baca.

Alvin menatap Sivia datar. Sedikit mengamati gadis cantik itu. Tak lama kemudian ia memalingkan mukanya pada ilalang-ilalang. Tersenyum sambil merasakan kelembutan ujung-ujung ilalang itu dengan telapak tangannya.

"Alvin!" panggil Sivia kembali memeluk Alvin.

"Sedari tadi kau memeluku, tapi aku tak mengenalmu, kamu siapa?"

Dan Sivia hanya bisa menangis mendengar pertanyaan Alvin yang selalu sama selama beberapa dminggu ini. Dia sendiri yang membuat Alvin tidak mengingatnya, dialah yang membuat semuanya berjalan dalam kesulitan yang ekstra rumit. Dia yang membuat Alvin seperti ini, membuat Alvin divonis tidak bisa bertahan lama dan berdiri diambang kematian.

"Aku.. Sivia Azizah.."

Alvin berfikir sejenak. Ia melafalkan nama Sivia Azizah berulang kali. Sebelum akhirnya ia merasakan sakit yang teramat sakit di bagian kepalanya. Ia merasa sebuah puting beliung tengah mengaduk-ngaduk semua isi kepalanya.

Di sela rasa sakit itu, sekelebatan cahaya tampak di pelupuk matanya. Menembuskan sesuatu berbentuk tangan kekar pada dadanya, menarik sesuatu dalam tubuhnya dan itu sangat, sangat, dan sangat menyakitkan. Mungkinkah itu yang disebut Dewa Kematian? Merampas nyawanya dengan cara yang sangat menyakitkan.

"Sivia Azizah.." desah Alvin pelan, nyaris tidak terdengar.

Sivia yang merasa ada sesuatu yang aneh pada Alvin dengan segera menguatkan pelukannya. Seolah tahu bahwa ini waktunya sang penguasa kematian bertugas. Ia melirih parau.

"Jangan tinggalkan aku Alvin! Aku mohon jangan berakhir disini!"

Namun kematian adalah sebuah takdir yang statis. Tak dapat diubah dengan cara apapun. Sang pencabut nyawa tak kenal kompromi. Ia merampas nyawa-nyawa yang sudah diguratkan oleh pena sang penguasa.

Air mata itu mengalir tiada henti. Menyadari tubuh itu sudah mendingin. Perlahan ia menidurkan kepala Alvin dalam pangkuannya. Meraba dan merasakan ketulusan yang masih atau mungkin tetap ada lewat kulit wajahnya yang penuh dengan rona-rona ketenangan.

***

"Jika catatan kematian itu benar adanya, aku akan melakukan hal yangsama seperti L. Menuliskan namanya sendiri dalam buku itu. Ya! Nama pertama yang akan aku tulis adalah namaku, Sivia Azizah."

Baik Rio maupun Ify, memandang Sivia iba. Baginya apa yang Sivia alami lebih menyakitkan dari sebuah melodrama. Alvin terlalu cepat pergi dari sisi Sivia dan mereka.

"Peluklah! Dia membutuhkanmu!" bisik Ify pelan.

Rio menatap ify penuh dengan aura meyakinkan. If y mengangguk pasti.

Tanpa aba-aba apa-apa lagi Rio langsung melingkarkan tangannya di tubuh Sivia. Berharap benar-benar bisa menenangkan gadis itu.

"Berhentilah menangis Via! Sudah cukup banyak air mata yang kau keluarkan" pinta Ify mengelus- ngelus kepala Sivia.

"Bunuh aku Yo! Bunuh aku sekarang juga!" lirih Sivia. Air matanya sudah seperti aliran sungai yang tak bisa berhenti.

Rio semakin menguatkan pelukannya.

Sivia hanya terisak dalam benaman dada Rio. Otaknya dikuasai rasa bersalah dan menyesal.
Terkadang kita berfikir takdir Tuhan menjadi sesuatu yang menyakitkan. Namun semuanya akan lebih indah saat kita belajar menerima dan mensyukurinya. Dan untuk kali ini Sivia harus belajar untuk itu.

1 komentar:

  1. Izin copast kata2 terakhir nya ya kak buat dijadiin status

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea