Selasa, 13 Desember 2011

Problem Of Organization part 3 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 02.14

***

Setelah disibukkan dengan persiapan MOS minggu kemarin, mereka mulai tenggelam kembali dalam dunia Osis mereka. Karena itu sudah menjadi kewajiban mereka untuk ini.

Tak peduli berapa banyak waktu istirahat mereka yang terampas oleh berbagai kegiatan Osis selama dua minggu ini. Yang mereka inginkan tugas ini cepat selesai dan tak perlu ada beban lain di minggu-minggu berikutnya selain persiapan UN.

"Kka!" Shilla berusaha membangunkan Cakka yang memang duduk dengannya saat jam pelajaran terakhir selesai "udah dong tidurnya! Mau gue tinggalin nih?"

Entahlah kenapa Cakka bisa sepulas ini tidur di kelas. Melewatkan pelajaran sosiologi dan matematika.

"Kenapa Shil? Gak bangun juga?" Iyel berdiri di samping Cakka.

Shilla mengangguk.

"Bangunin Cakka gini Shill..!" sahut Via sambil mendekatkan mulutnya di telinga Cakka "Woii Kka bangun! Cepetan..
Ada gempa 7.3 skala richter plus tsunami dan gunung meletus! Kebakaran.. Kebakaran.. Kebakaran..! Kka lo mau bangun gak?" serunya sekeras-kerasnya.

Melihat tingkah aneh Sivia, Iyel-Shilla hanya tertawa. Pasalnya Cakka tidak bangun juga.

"Ahh.. Si Cicak nyebelin deh!" protes Sivia kesal "Gue ke R.O duluan deh" ia berlalu meninggalkan kelas.

"Gimana dong Yel?" Shilla memasang wajah bingung.

Iyel tersenyum jahil. Kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Cakka. Melihat tingkah Iyel, Shilla hanya tersenyum ngeri.

"Cakka sayang, bangun dong! Kalau ngga.. Gue cium nih"

Cakka membuka matanya dan repleks berteriak sekenceng-kencengnya saat melihat wajah Iyel hanya tinggal beberapa centi dari wajahnya.

"Iish hombreng lo Yel? Ngapain sih lo?" teriak Cakka dengan volume full. Membuat sebagian siswa yang masih berlalu lalang di luar menoleh dari balik kaca jendela kelas.

"Abisan lo tidurnya kelewatan sih! Dibangunin gak bangun-bangun juga" protes Iyel yang sudah berdiri jauh dari Cakka.

"Tapi gak usah pake cara kaya gitu juga kali! Ngeri tahu gue?!" protes Cakka melirik Shilla kemudian tersenyum.

Shilla balas tersenyum. "Udah ah Kka, Yel! ke R.O yuk!" ajak Shilla sambil berjalan meninggalkan kelas.

"Ngapain ke R.O?" tanya Cakka pada Iyel.

"Ngoperasi pasien, Cakka! Ya ngurusin Osis lah.. Lo pikir R.O itu Ruang Operasi apa? Udah ahh.. Lo mau denger ocehan ketos gara-gara kita telat?" Iyel menarik tangan Cakka dan berjalan di belakang Shilla.

***

Sivia tampak begitu menikmati udara sore taman
kota kali ini. Sambil asyik dengan novel barunya, ia menselanjarkan kedua kakinya dan menyandarkan punggungnya di kursi taman kota. Permainan basket yang diciptakan oleh empat orang dihadapannyapun terkalahkan oleh novel yang sudah beberapa minggu ia simpan karena terlalu sibuk mengurusi kegiatan Osis.

Alvin sengaja mengajak teman-temannya ke taman kota seusai rapat tadi siang. Saat rapat tadi, Alvin terlihat begitu kacau. Tapi sekarang ia dengan sangat lincahnya mendrible bola, saling berebut bola, dan saling berkejaran dengan Cakka, Iyel dan Rio di tengah lapang basket taman kota kali ini. Seperti tak punya beban pengurus Osis. Begitupun dengan yang lainnya.

Ify yang melihat keceriaan di wajah
Alvin tersenyum sendiri. Ia lebih suka dengan tampang Alvin saat ini di banding dengan beberapa jam lalu di ruang Osis.

"Via! Dia keren ya?" kata Ify yang saat itu duduk di samping Sivia. Masih tak melepaskan pandangannya pada
Alvin.

Sivia memandang Ify kemudian mengikuti arah pandangan Ify. "Siapa? Al..."

Belum sempat Sivia menyebut nama orang yang ia maksud, tahu-tahu tangan Ify sudah membekap mulutnya kenceng.

"Hmmpptt...mmbbpptt.. Hmmpptt" Sivia berusaha melepaskan tangan Ify dari mulutnya.

"Volumenya kecilin gak?" ancam Ify.

Sivia mengangguk dan Ify mulai melepaskan tangannya.

"Ah lo Fy! Tega sama gue!" komentar Via sambil mengibas-ngibaskan novel ke arah mukanya.

"Abisan lo frontal banget tahu! Kalau dia denger gimana?" Ify pura-pura kesal sambil melemparkan pandangannya dari Sivia ke tengah lapang.

Sivia tertawa kecil, "tahu gak Fy? Menurut novel yang gue baca, biaralah orang yang kita cintai, mengetahui kita mencintainya. Karena dengan itu ia akan belajar mencintai kita."

Ify menoleh kembali. Memandang Sivia yang sudah larut ke dalam novelnya lagi "ternyata bahasa cinta lebih sulit dari english language dan french ya Vi?"

"Karena cinta sulit didefinisikan oleh orang-orang yang tak paham betul soal cinta."

Ify tertegun.

"eh? Shilla sama Agni mana ya?" Ify celingukan sendiri mengingat sejak tadi tidak melihat Agni dan Shilla di dekat mereka.

"Di bawah pohon tuh!" jawab Sivia masih fokus pada novelnya.

Ify mengalihkan indera penglihatannya pada Shilla dan Agni yang tengah bersandar di sebuah pohon averhoa carambola yang kokoh dengan diameter batangnya yang cukup besar. Shilla terlihat sibuk dengan laptopnya. Sementara Agni memilih mendengarkan music lewat iPodnya.

"Ag! Lo suka ngeblog gak?" tanya Shilla.

Agni diam tak menjawab.

"Ahh.. Lo Ag!" protes Shilla sambil melepaskan headseat yang menempel di telinga Agni.

"Hehe.. Apa Shil? Maaf ya! Gue keasyikan jebe-jebean sih" jelas Agni.

"Gak bosen Ag dengerin Justin Bieber nyanyi mulu?" tanya Shilla yang sudah tahu Agni ngefans gila sama penyanyi pendatang baru itu.

Agni menggeleng.

"woii semuanya!? Kita lihat matahari senja ya?!" teriak Alvin sambil berusaha merebut bola di tangan Iyel.

Seperti dikomando semua mata anak-anak perempuan memandang Alvin bersamaan kemudian mengangguk mengiyakan.

Setelah itu mereka melanjutkan kegiatan mereka kembali sampai matahari senja dengan warna jingga orangenya tampak merubah awan-awan putih di sekitarnya.

Keadaan sekolah masih cukup sepi. Membuat derap kaki 2 orang gadis yang tengah berjalan di koridor sekolah terdengar cukup keras, menjadi irama tersendiri pagi itu.

***

"Gue ada rencana nonton Shil sore ini." kata Ify memberitahu Shilla yang saat ini berjalan di sampingnya."Harpot 7 udah tayang di bioskop Shil. Lo nonton gak?"

"Gue udah tahu ceritanya dari novel yang gue baca." Kata Shilla sambil membuka agenda osis yang ada di genggamannya.

"Ya.. Tapi novel sama film kan beda Shill. Nonton ya? Gue gak ada temen nih.. "

"Sepertinya lo perlu waktu berdua dengan si dia dalam suasana santai. Bukan berdua dengan berbagai pelajaran dan tugas-tugas lainnya."

Ify memandang Shilla yang tetap menatap agenda osisnya "Dia? Siapa?" tanya Ify lagi.

"Dia yang kini ada di hati lo."Shilla menutup agendanya, memfokuskan pandangannya ke depan.

Ify menarik nafas panjang. Ada keraguan yang terendap dalam hatinya. Pasalnya, saat-saat ini Alvin begitu sibuk dengan osisnya. Mana mungkin ia mau menemaninya nonton di sela waktunya yang begitu sibuk.

"Shilla!" panggilan seseorang menghentikan langkah Shilla dan Ify.

Mereka membalikan badan dan sudah menemukan Iyel tengah berjalan ke arah mereka.

"Dan gue fikir lo perlu waktu untuk memberi kesempatan kepada si dia yang berusaha menyinggahi sedikit ruang hati lo" Ify tersenyum ke arah Shilla."Gue duluan ya?!" ia berlalu dan pergi.

"Hm.. Lagi buru-buru gak Shil?" tanya Iyel begitu sampai di hadapan Shilla.

"Ngga! Ada apa gitu Yel?"

"Gue mau ngasih ini Shil!" Iyel menghadapkan sebuah figura berukuran 40x35 cm ke arah Shilla yang langsung menerimanya.

Shilla mengamati pigura itu. Sebuah grafity yang sama sekali tak Shilla mengerti apa yang terlukis disana. "Ini untuk gue Yel?" tanya Shilla terkagum-kagum melihat karya Iyel. Menurutnya karya-karya seni yang Iyel buat selalu membuatnya berdecak kagum.

Iyel tersenyum dan mengangguk.

"Terimakasih.."

Keadaan hening. Iyel memandang Shilla yang masih asyik mengamati benda yang ia berikan. "Shil!" panggil Iyel.

"Ya?"

"Lo tahukan udah dua tahun pas gue dan lo ketemu di
SMAN-3, gue udah suka sama lo?" kata Iyel tertunduk.

Shilla mengamati Iyel. "Benarkah? Apa selama itu?" ia memastikan. Ada sedikit rasa tidak percaya yang tiba-tiba menyergap dirinya. Pasalnya Iyel baru-baru ini nembak dia.

"Iya. Dan lo gak pernah tahu soal itu. Lo juga gak menjawab bagaimana perasaan lo sama gue."

Shilla tertunduk. Mengingat Iyel pernah nembak ia di hari terakhir ujian kenaikan kelas kemarin.

[Flashback]

Lega dan gembira. Itulah yang tergambar di wajah-wajah siswa
SMAN-3 pasca mengerjakan soal ujian terakhir. Hari yang selalu dinanti di masa-masa ujian adalah pelajaran matematika dan muatan lokal yang diletakan di hari akhir.

Semua siswa sudah keluar ruangan begitupun para pengawas. Hanya tinggal Shilla, Iyel dan Cakka yang kini berada di ruangan itu.

Cakka menepuk pundak Iyel. "Gue duluan ya sob!" katanya kemudian memandang Shilla, "take care Shil!" ia melangkah keluar kelas.

Keadaan hening.

"Shill! Gue mau ngomong." Iyel berdiri samping Shilla.

"Ngomong aja!" respon Shilla tanpa memandang Iyel dan masih fokus pada barang-barangnya.

"hm.. Gue suka sama lo Shil. Lo maukan jadi cewek gue?"

Repleks tangan Shilla yang sedang memasukan buku-bukunya ke dalam tas, berhenti begitu mendengar apa yang baru beberapa detik Iyel ucapkan.

"Maaf Yel! Gue gak bisa jawab sekarang." Shilla menyesal. Sambil cepat-cepat memasukan bukunya. "Gue pulang ya? Sorry." ia meninggalkan tempatnya.

Iyel tertunduk lemas mendengar jawaban Shilla yang tidak memuaskan.

[Flashbackend]

"Ehm Shil." Iyel menyadarkan Shilla yang terdiam lama di hadapannya.

"Gue akan menjawabnya suatu saat nanti." ujar Shilla yang baru sadar dari lamunannya.

"Tapi kapan?"

Shilla mendesah pelan. "Gue mohon Yel! Ini bukan pelajaran sastra. Lo gak perlu mendramatisir semua ini. Lo tahu Yel? Mustahil orang bisa menjaga hatinya untuk seseorang yang jelas acuh padanya selama dua tahun, yang jelas dua tahun itu bukan waktu yang pendek" kata Shilla yang sebenarnya bingung harus memberi jawaban apa pada Iyel. Ia hanya tidak ingin apa yang menjadi keputusannya membuat luka dalam hati Iyel.

"Shill.. Ini masalah perasaan yang tak kubuat skenarionya. Dan perlu lo tahu, hati gue gak seperti pelajaran sosiologi yang selalu mengalami perubahan. Hati gue selalu konsisten dan kontinue seperti rumus matematika."

Shilla dibuat tertegun dan diam oleh perkataan Iyel. Sempat tak mempercayai Iyel bisa mendeskripsikan apa yang ada dalam hatinya dengan kata-kata yang menurut Shilla indah.

"Shil!"

"Gue mohon Yel. Jangan buat gue seperti antagonis dalam cerita lo ini!"

"Maaf aku mau nempel ini!"

Sontak Iyel dan Shilla mengalihkan pandangannya pada Rio yang sudah berdiri di belakang mereka.

Iyel tersenyum. "Silahkan!" katanya sambil berlalu. Tentunya dengan kekecewaan karena jawaban Shilla yang tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.

"Maaf ya Kak!"

Shilla mengangguk dan tersenyum memandang Rio yang tampak asyik memasang karya-karya di mading. Ia tidak menyadari kalau dari tadi ia berdiri di samping mading sekolah. Entah kenapa Ia merasa heran dengan orang yang saat ini berada di hadapannya. Kenapa Rio memilih menjadi seksi mading saat pemilihan osis minggu kemarin.?

"Kakak bisa buat grafity juga?" tanya Rio membuat Shilla dengan cepat mengalihkan pandangannya pada figura yang sedang ia pegang."Tulisannya apa?"

"Gak tahu.."

"lho..?"

"Ini Iyel yang buat. Bukan buatan gue Yo!" jelas Shilla meraba-raba kaca figura itu. Ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya, saat melihat apa yang sedang ia pegang.

Rio memandang Shilla dengan bingung."Kenapa kak?"

"Gue kecewa Yo, kecewa karna ketos
SMAN-3 bukan lo! Hehe.. Gak.. Becanda doang." canda Shilla.

Rio tertawa kecil melihat tingkah Shilla yang katakan saja lebih sering tertawa saat bersamanya dibanding saat dengan teman-temannya yang lain.

"Oh ya, gue punya karya tulis Yo. Tapi gak dibawa, entar lo tempel ya?"

Rio mengangguk pelan.



0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea