Selasa, 13 Desember 2011

Tak perlu Ada Akhir (Cerpen)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 02.19
***



13 Desember 2011

"Selamat malam  para ID-Lovers! Masih bersama saya, Raissa Arif Jasmine di 108.9 Idola Fm-Bandung."

Samar-samar suara itu terdengar di balik radio kamarnya yang setiap malam selalu rutin ibunya nyalakan hanya untuk gadis itu dengarkan suara di baliknya

"Baiklah.. Sebenarnya Acha punya banyak skrip cerita yang begitu menarik. Tapi, malam ini Acha ingin menemani para ID-Lovers dengan cerita yang lebih menarik.. Cerita yang dibuat oleh sahabat Acha, Sivia Azizah. Hm.. Semoga kalian menikmatinya.. Keep Listening.."

Mata gadis itu tertutup. Menyimak cerita yang akan dibawakan penyiar radio itu.

***

Tinta-tinta itu mengering tanpa alasan yang jelas. Menghentikan alur yang bahkan tak sempat  menemui pembatas akhir.

Semuanya terasa senyap dan sunyi. Hanya detik demi detik yang diciptakan jarum merah yang merayap di dinding ruangan yang tampak samar.

Gadis itu menatap nanar sebuah buku dengan sampul biru langit di halaman depan dan sampul hitam di belakangnya. Tampak kusam dan berdebu. Perlahan jari jemarinya yang lancip meraba buku itu. Membekaskan noda-noda di balik kulit putihnya yang sudah tak terurus. Dengan sangat hati-hati ia membukanya.

Halaman pertama masih berwarna biru. Menjadi background untuk foto yang menempel di baliknya. Foto seorang pemain bola terkenal. Christiano Ronaldo tengah tersenyum manis kepadanya. Namun tak juga mampu membuat gadis itu membalasnya.
Ia berpijak pada saat itu. Masa lalu di saat kau masih dapat menemukan senyuman indahnya..



05 Mei 2011

"Siviiaaa...!"

Teriakan itu cukup mengusiknya yang begitu menikmati udara bergerak bersama tokoh-tokoh cerpennya di taman belakang sekolah sore itu. Tempat yang menyimpan lebih dari beribu-ribu ketenangan dan kenyamanan untuknya.

Ia alihkan titik fokus matanya pada seorang anak laki-laki berwajah oriental yang sudah berdiri di hadapannya. Cukup menengadah karena ia sedang dalam posisi duduk "Kau selalu mengagetkanku, Alvin!" komentarku.

Anak laki-laki yang dipanggil Alvin itu hanya tersenyum. Lalu duduk di hadapannya, mengganggu sedikit rumput-rumput taman yang sedang asyik bergoyang-goyang mengikuti irama sang angin karena berhasil Alvin duduki.

"Via! Aku punya sesuatu untukmu." kata Alvin membuka tas hitam putihnya "Taraa!!" ia menunjukan sebuah buku bersampul biru muda dengan semangat.

Sivia tersenyum senang. Bukan karena buku itu, karena ia sudah punya banyak buku yang seperti itu. Tapi karena yang memberikannyalah yang memicu tumbuhnya rasa bahagia dalam kamar hatinya.

"Untukku Al?" tanyanya sambil meraih buku itu.

Alvin mengangguk "keep writing selalu! Ok.. Penulis hebatku?" ujarnya sambil mengacak-ngacak foni Sivia manja.

Lagi-lagi Sivia hanya tersenyum sambil menyisir foninya dengan jari jemarinya. Ia sudah terbiasa dengan aksi temannya yang mengaku menggilai olahraga sepak bola itu "Aahh Alvin! Aku sudah sisiran.." protes Sivia sambil menggelitiki pinggang Alvin.

Alvin tertawa geli "Hei.. Hentikan Via! Via sudahlah! Geli nih!!" seru Alvin di sela tawanya karena Sivia semakin hebat melakukan aksinya.

"Ayo rasakan ini!" Sivia ikut tertawa.

"Via.. Haha..tolong hentikan! Ampun Via! Ampun!!"

Sivia menarik tangannya dari pinggang Alvin begitu ingat sesuatu. Alvin megap-megap, mengatur nafas. Seolah sudah maraton jarak jauh, dadanya naik turun dengan cepat.

"Aku juga punya sesuatu." kata Sivia membuka lembaran-lembaran buku cerpennya.

"Heii! Gimana ceritanya kau bisa mendapatkannya?" tanya Alvin begitu melihat sebuah foto idolanya, Christian Ronaldo kini ada di genggaman Sivia.

Sivia tersenyum "haha.. Ada deh! Ini tanda tangannya asli lho.." Sivia menyerahkan foto itu kepada Alvin."Aku punya dua lho! Satu lagi untukku" sambungnya menunjukan yang satunya lagi.

"Bukankah kamu tidak menyukai sepak bola?"

"Aku memang tidak menyukai sepak bola, tapi aku menyukai orang yang menyukainya." ujar Sivia mengamati pemain bola berseragam merah cerah itu. Tampak keren dan menawan. "Hmm.. Aku akan menempelkannya disini." Sivia mencari lem dalam tasnya

"Ide bagus. Sini aku tempel!" Alvin mengambil alih foto itu dan menempelkannya di halaman pertama buku yang ia berikan dengan perekat yang baru saja Sivia keluarkan.

Senyuman merekah di bibir keduanya begitu melihat foto di buku itu. Dengan cepat Sivia menutup buku itu dan meraihnya. Mendekapnya di dadanya. Alvin menatap Sivia senang. Ia merasa tubuhnya begitu hangat melihat Sivia dengan erat memeluk buku itu. Seolah tubuhnyalah yang Sivia peluk erat.

***

Rasa sayanglah yang menuntun pena itu meninggalkan jejak-jejak huruf demi huruf yang pada akhirnya menjelma sebaris kalimat indah dan memikat.
Kedua jarum itu sama-sama berhenti di angka sepuluh. Menandakan malam terasa diam dalam dekapan waktu.
Di lembaran itulah kata itu tertoreh. Lembaran berwarna cream-muda dengan hiasan warna merah yang membentuk kata. Mata gadis itu bergerak-gerak pelan membaca untaian kata itu.

"100 lembar semoga cukup untuk kau abadikan cerita sepanjang hidup yang seharusnya terjadi atau bahkan tak seharusnya terjadi.


Di awal kusampul keabadian ini dengan biru. Sebiru kebahagiaanku akan hadirmu..
Di akhir kusampul cerita ini dengan hitam, sehitam tebalnya keyakinan bahwa semua ini tak perlu berakhir."

12 Mei 2011

Suara sepatu yang beradu dengan lantai lapangan futsal indoor SMA-4 Bandung kini menjadi nada yang tak beraturan yang menembus gendang telinganya. Tidak begitu mengasyikan. Dan sudah dua jam ini ia berada di tengah-tengah ketidaknyamanan ini. Menjadi penonton setia anak-anak futsal yang tetap sibuk memperebutkan satu bola.

Ia mengeluarkan buku pemberian Alvin dari dalam tasnya. Hanya sedikit mengurangi rasa jenuhnya. Buku itu tetap bersih, bukan tak tersentuh, melainkan tak ada kata yang bisa melukiskan betapa bahagianya ia dengan kehadiran  buku itu. Karena baginya buku adalah teman. Dan temannya kali ini sungguh tidak bisa ia isi dengan sembarang kata.

"Haahh.. Aku mati kata untuk mengisimu!" desahnya menatap serius barisan-barisan kosong itu.

"Apa..hh penulis..hh..bisa.. Kehabisan kata juga..?" Alvin berdiri di hadapan Sivia sambil mengatur nafas. Tangan kanannya memegang dada kirinya kuat, terlihat begitu lelah.

Sivia menutup bukunya. Meraih botol minum di sampingnya dan segera memberikan air itu kepada Alvin "Kenapa?" tanyanya cemas melihat nafas Alvin tersenggal-senggal hebat.

Alvin tertawa kecil "Hh.. Sesek!" jawabnya sambil duduk di samping Sivia dan meneguk setengah air dalam botol itu.

"Terlalu lama sih latihannya.. Jadi sesek deh Al.." kata  Sivia mengamati Alvin dengan seksama atau lebih cenderung khawatir.

Alvin tidak merespon ucapan Sivia. Mencoba menurunkan kembali irama detakan jantungnya ke nada normal. Cukup sesak karena latihannya memang terlalu lama. Belum lagi sedikit rasa sakit di bagian dadanya karena tak henti berlari.

Setelah beberapa detik mereka diam dengan desahan nafas Alvin yang memang cukup keras sebagai musik pengiring, akhirnya keheningan mulai membuyar setelah keadaan kembali berjalan di garis normal.

"Kok masih kosong? Tak minat mengisinya ya?"


Sivia menarik nafas sebelum bicara "hmm.. Bagaimana kalau kamu dulu yang mengisinya?" tawarnya memberikan buku itu kepada Alvin.

Meski bingung, Alvin tetap menerima buku itu. Lalu tersenyum dan mengambil pena di dalam tasnya. Ia tampak membuka halaman perhalaman yang kosong tanpa satupun kata yang menghuninya. Rupanya Alvin sedang menghitung berapa lembar buku itu.

Mata Sivia berbinar. Mengamati gaya Alvin yang sedang menulis. Tulisan merah yang telah ia coretkan seolah memberitahu betapa sempurnanya sosok itu. Rapi meski tak seindah tulisan Sivia.

"Setelah ini..." Alvin menutup buku itu dan memberikannya kembali kepada Sivia "Kau isi buku ini dengan cerita tentang kamu, aku dan cinta.." bisiknya tepat di telinga Sivia.

Sivia sedikit kikuk dengan penuturan Alvin. Tapi setelah itu ia tersenyum. Memandang Alvin lekat-lekat. Laki-laki itu selalu membuatnya begitu nyaman.

Alvin berdiri dari duduknya "Ayo kita pulang!" ajaknya sambil menggenggam tangan Sivia.

Sedikit terhenyak menyadari begitu dinginnya tangan Alvin. Tak ambil pusing Sivia mulai menikmati genggaman tangan itu. Berjalan menyusuri lorong-lorong sekolang yang sudah ditinggalkan suara-suara.

***

Cerita itu berpijak semakin nyata membentuk goresan-goresan indah yang lebih dari indah setiap harinya. Menjamah setiap kaca lembaran itu.

Detik-detik terasa seperti alur detakan nadi yang sebentar lagi akan berhenti. Malam seperti benar-benar mewujudkan diri sebagai dewa kematian. Sunyi. Mencekam.
Disanalah sedikit senyum terpetak di wajahnya. Senyum perih yang begitu menyedihkan. Namun ada kebahagiaan yang tersamar di dalam raut wajahnya, ketika lembaran itu berhenti di 3 halaman berikutnya.


"Tahukah kamu bagaimana rasanya bahagia? Yang pasti rasa bahagia ini tidak bisa dilukiskan oleh pelukis hebat semacam Affandi sekalipun. Semuanya terasa lebih indah dari kebahagiaan yang pernah aku miliki. Dan itu karena dia.
Dia, aku dan cinta telah terpatri kuat oleh takdir tuhan yang sengaja diguratkan dalam narasi hidupku. Tentang aku yang mencintainya dan dia yang mencintaiku."

22 Mei 2011

Angin lembut itu tidak mau diam dan terus menyibakkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, menggoyangkan rumput dan daun-daun yang sedang menikmati suasana sore taman kota. Itu mendamaikan!

Dua ayunan kayu itu terikat kuat di bawah Parsea Americana yang tampak gagah. Mengalun lembut dari depan ke belakang.

Tangan-tangan itu terkepal kuat sesekali ayunan itu mereka ayunkan dengan cepat. Memberikan gurat-gurat merah di telapak tangan karena si tambang tak terlalu bersahabat untuk disentuh dengan kuat.

"Yah... Pasti perih!" Alvin mengamati telapak tangan Sivia dengan seksama. Garis-garis merah itu membuat guratan kekhawatiran dalam hatinya.

"Haha.. Tidak..tidak..ayo main lagi!" dengan cepat Sivia menarik tangannya yang tengah digenggam Alvin.

Alvin tersenyum "Aku capek. Udahan ahh!" ujar Alvin beranjak dari ayunannya

Sivia menyipitkan matanya. Kemudian berjalan mengikuti Alvin. Ia bingung dan heran "main ayunan segitu bilang capek. Kenapa main bola tidak?" protes Sivia sambil mengamati wajah Alvin yang menurutnya menyimpan satu obat mujarab untuk menenangkan hatinya.

Alvin tak merespon protesan Sivia. Ia lebih asyik menghirup udara di sekitarnya dalam dan dalam. Berharap menambah kesiapan mental untuk apa yang ingin diungkap.

"Via!" panggil Alvin akhirnya.

"Ya?" respon Sivia.

"Besok pertandingan besar yang akan aku hadapi. Aku harap kamu menonton pertandingan yang mungkin akan jadi pertandingan terakhirku.."

Sivia mengerutkan kening, bingung dengan ucapan terakhir Alvin. Seperti ada bilangan ganjil yang bergabung dengan rentetan bilangan genap yang baru saja Alvin paparkan.

"Maksud pertandingan terakhir itu apa Al? Kenapa jadi yang terakhir? Apa kamu akan berhenti mengejar mimpimu sebagai Christiano Ronaldo junior?" tanya Sivia memastikan.

Alvin tertawa lembut mendengar penuturan Sivia "Haha.. Entahlah! Yang pasti kau harus menghadiri pertandingan itu dan duduk paling depan. Ok! Sivia Azizah?"

"Ngarep banget aku nonton"

"Tentu"

"Kenapa?"

"Karena kamu orang yang paling aku cintai!"

Keadaan membisu seketika. Seolah baru saja memperlambat gerakan tiap inci dari waktu yang egois, yang tidak mau memikirkan orang yang kadang memintanya untuk diam sejenak.
Dan untuk kali ini, waktu terasa mengalah. Membiarkan ia merasakan detik detik kebahagiaan yang berpadu dengan udara-udara positif di taman kota sore itu. Semuanya nyata! Membahagiakan!


***

Bercak-bercak merah darah menjadi tinta yang benar-benar merenggut semua kisah yang telah menyatu dalam barisan rasa cinta.
Dan dewa kematian itu benar-benar bukan hanya sekedar metafora malam. Ia berdiri tegak! Menyeringai tajam! Menunggu denting-denting waktu untuk melaksanakan tugas Tuhan.

Gadis itu menangis histeris. Mengerang, mengamuk, membanting segala yang ada di sekitarnya. Ia seperti seorang autis yang sedang kumat. Ia lempar buku itu sekuat tenaga, tak berani membuka halaman selanjutnya. Pandangannya tertuju pada pecahan cermin yang baru saja hancur karena ia lempar.

Ia meraihnya. Menatapnya lekat-lekat. Keyakinan keras untuk mengakhiri segalanya telah tertancap kuat dalam otaknya. Dan tanpa fikir panjang ia mendorong tangannya yang sebenarnya tak rela melukai tubuhnya sendiri untuk membiarkan kaca itu menembus perutnya.
Gadis itu terjatuh. Darah mengalir deras dari balik baju putihnya. Sakit, itu yang ia rasakan. Dewa kematian itu terasa seperti mengacak-ngacak organ tubuhnya yang mulai kehilangan fungsi. Sepintas kelebatan cahaya menjelma menjadi sosok terkasih berdiri di hadapan buku itu.

Dengan sisa tenaga dan rasa sakit yang melilit tubuhnya, gadis itu berusaha meraih buku yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempatnya tergeletak. Belum sempat tangan itu meraih buku itu, dirasakannya kegelapan yang nyata seiring rasa sakit yang sempat memudar.

Pintu terbuka!

Seketika itu juga angin berhembus membuka buku itu dan berhenti di lembaran terakhir yang sudah terisi. Sosok itu menghilang seiring hembusan angin itu.


"Kau tahu bagaimana rasanya kehilangan? Menyakitkan! Sungguh-sungguh menyakitkan! Bagai ribuan pedang yang terhunus paksa dalam tubuh..
Kenapa cerita tentang kamu, aku dan cinta harus berakhir sesingkat ini? Bahkan buku ini belum terisi penuh. Tapi kenapa Tuhan menghentikan gerakan pena ini merangkai cerita indah kita dengan cinta..
Aku ingin mati bersamamu, Alvin! Izinkan aku menyerahkan kembali apa yang bisa membuatmu melihatku... Biarkan semuanya gelap untukku asal aku ada di dekatmu.."

23 Mei 2011

"Acha!! Alvin nembak aku Cha! Alvin nembak aku!" semangat 45 Sivia benar-benar memekakan telinga Acha,temannya yang terpaksa membuka mata begitu mendengar ponselnya berbunyi.

"Jiah.. Kau ini Vi! Telefon malam-malam hanya untuk itu? Kuker banget Via!" protes Acha dengan nada kesal dibuat-buat karena bagaimanapun juga ia bahagia mendengar aura kebahagiaan dari suara Sivia. Acha begitu menyayangi sahabat karibnya itu.

"Besok kita nonton pertandingan futsal Alvin ya Cha?" ajak Sivia girang.

"Ok! Sekarang kamu tidur gih! Aku ngantuk nih.."respon Acha menyetujui.

"Haha.. Iya..iya.. Maaf ya Acha sayang?!"

"Hmm.."

Tut..tut..tut..

Panggilan terputus.

Sivia tersenyum. Ia membuka buku itu dan menatap foto idola kekasihnya. Rasanya matanya tidak begitu mendukungnya untuk segera tertidur. Ia memikirkan banyak hal. "Ini seperti mimpi!" desahnya pelan sambil memejamkan matanya mencoba untuk tidur. Karena tepat pukul 08.00 pagi nanti ia harus duduk manis di bangku penonton paling depan.


***

Pukul 08.30! Itulah waktu yang ia lihat di jam digital kamarnya saat ia membuka mata. Sudah jelas ia melewatkan 30 menit pertandingan babak pertama Alvin. Dengan cepat ia turun dari tempat tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi.

Tidak sampai 15 menit ia mempersiapkan diri. Ia segera keluar dari kamar dan pamitan kepada ayah dan ibunya yang terlihat aneh memperhatikan tingkah anaknya itu.
Dengan kenekatan yang tak terbilang tingginya, ia membawa mobil sedan-hitam milik ayahnya. Padahal sudah jelas ia tidak terlalu pandai mengendarai kendaraan roda empat itu. Menurutnya membutuhkan waktu lama jika harus menunggu bis seperti biasanya.

Ayah ibunya hanya menatapnya khawatir saat mobil itu keluar dan menghilang di balik gerbang rumahnya. Perasaan mereka benar-benar tak enak melepas kepergian anak semata wayangnya dengan mengendarai kendaraan itu.

Sivia mencoba memfokuskan pandangannya ke depan. Rasa tidak sabar untuk segera sampai di sekolah membuat ia bernafsu untuk menyelip kendaraan lain yang masih berjalan dengan kecepatan normal.

Ia menggas mobilnya dengan cepat. Berniat menyiap mini bus di hadapannya yang menurutnya berjalan lambat. Namun keberuntungan tidak berpihak padanya. Sebuah truk dari arah berlawanan tengah berlari cepat ke arahnya dan....

BRUUUAAAKKK!!!

Benturan keras itu terdengar nyaring di seluruh penjuru jalan raya itu. Mobil Sivia yang baru saja terbanting truk itu terguling-guling di aspal.

Dengan sisa kesadaran. Sivia mencoba membuka pintu mobil. Pecahan kaca sudah tertancap di seluruh tubuhnya. Darah-darah itu sudah seperti sungai yang tak berhenti mengalir dari luka-luka tubuhnya. Sakit! Sangat sakit! Ia merasa kesadarannya timbul tenggelam. Perlahan rasa sakit itu padam, gelap dan hilang.

***

Alvin terus berlari dan berlari. Menggiring bola. Tujuannya satu, mencetak gol di sisa detik terakhir pertandingan babak keduanya.

Ia kecewa? Dan itu pasti. Namun fikiran negatif secuilpun tak berkeliaran dalam otaknya. Justru ia khawatir akan ketidakhadiran orang diharapkannya.

"Jangan sekarang Tuhan! Aku mohon! Tidak sekarang!!" batin Alvin sambil terus menggiring bola. Kakinya terasa lemah dan tak sanggup berjalan apalagi berlari. Ia terpaku di tengah lapang. Memfokuskan pandangannya pada gawang lawan. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mencoba menendang bola sebelum benda berbentuk bundar itu terambil alih oleh lawannya dan...

PRIIIITTTT!! 

"GOOLL...!!"

Seketika koor para penonton menggema di lapangan futsal itu. Bersorak ramai penuh kemenangan bagi pendukungnya. Hanya Acha yang kini duduk di depan yang sama sekali tidak tertarik meneriaki kemenangan itu. Ia hanya menatap Alvin serius.Ada sesuatu yang tidak beres dari pacar sahabatnya itu. "Kamu kemana Via?" batinnya cemas.

Sedikit senyum tergores di bibir tipis Alvin. Nafasnya terengah-engah. Dadanya terasa sangat sakit, membuat tangannya secara repleks memegang dadanya kuat-kuat. Ia menjatuhkan lututnya saat merasa kakinya tak mampu lagi menompang tubuhnya. Acha yang menyadari itu segera berlari ke tengah lapang dan memburu tubuh Alvin. Semua mata terarah kepadanya dan kini semua orang mengerumuni tempat itu.

Sekilas Alvin melihat Acha dan juga pelatih beserta teman-teman futsalnya, mencoba mengangkat tubuhnya menjauhi lapang futsal itu. Ia tahu sesuatu yang fatal akan menimpanya. Kata-kata dokter agar ia tidak memaksakan diri untuk bertanding futsal hari ini, karena penyakit leukimia yang di deritanya yang sudah mencapai stadium akhir dan membutuhkan perawatan serius di rumah sakit itu, benar-benar ia acuhkan. Ia hanya berfikir pertandingan itu harus menjadi pertandingan terakhir sebelum ia tak bisa lagi bermain bola. Karena ia tahu, tubuhnya tak memungkinkan lagi untuk itu.

Detik demi detik terasa lebih cepat sesuai detakan jantungnya yang berlomba dengan hembusan nafas tak beraturan. Sakit! Ia merasa paru-parunya benar-benar akan pecah menjadi serpihan kesakitan yang teramat dahsyat. Tak lama setelah itu lorong-lorong putih memenuhi pandangannya. Suara-suara kecemasan sesaat senyap, sepi dan gelap! Sakit itu pergi.

***

Gelap! Benar-benar gelap! Bukan gelap yang akan terang kembali saat misbah sengaja dinyalakan untuknya. Melainkan kegelapan yang nyata di sudut-sudut matanya. Kegelapan yang membuatnya yakin semuanya harus berakhir. Karena tak mampu lagi ia menatap dunia. Tak mampu lagi ia menggapai mimpinya tanpa indera itu. Ia buta! Dan sungguh-sungguh tak lagi bisa melihat.

"Via gak mau buta ma..! VIA GAK MAU BUTA!! Via.. Aaarrggh.. GELAP MA..GELAP!!" raung Sivia sambil melempar segala sesuatu yang diraihnya.

Wanita separuh baya yang merupakan ibunda Sivia hanya bisa menangis sembari terus mencoba menenangkan anaknya itu.

Dan Alvin hanya menatap orang yang dicintainya itu prihatin di balik pintu kaca ruangan Sivia. Padahal jelas sudah keadaanya jauh memprihatinkan. Lebih malah! Ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jangankan menenangkan Sivia. Berjalanpun ia sudah tak mampu.

"Cha!" panggil Alvin.

Acha yang berdiri di belakang Alvin dan bertugas mendorong kursi roda Alvin segera mengalihkan pandangannya dari Sivia kepada Alvin "ya Al?"

"Bawa aku ke ruanganku! Tubuhku lelah sekali." pintanya lemah.

Acha mengangguk dan segera mendorong kursi roda Alvin. Ia menangis. Batinnya sakit mengetahui kondisi kedua sahabatnya itu.

Acha memberhentikan kursi roda Alvin saat ia sampai di ruang rawat Alvin. Segera berdiri di hadapan Alvin. Ia menatap wajah temannya yang tampak pucat. Jelas sudah gurat-gurat merah terukir di wajahnya pertanda ia sudah menangis. Sama sepertinya.

Alvin merasa dadanya penuh dengan sesak. Hatinya perih. Ia merasakan sakit yang luar biasa sakit. Lebih sakit dari leukimia yang menghancurkan tubuhnya selama bertahun-tahun.

"Alvin!" pekik Acha saat Alvin terkulai lemah. Darah mengalir dari kedua lubang hidungnya tanpa henti. Membuat Acha panik dan miris.

Acha menahan tubuh Alvin dan bersusah payah memencet tombol merah untuk memanggil dokter. Tangisnya semakin menjadi saat pasukan berseragam putih itu memasuki ruangan Alvin dan memaksanya keluar. Ia tidak siap melihat penderitaan Alvin dan Sivia.


***

Semuanya sudah kembali normal. Ia sudah menemukan sisi dan sudut terang dalam tiap pandangannya. Namun rupanya ia tidak pernah menginginkan itu. Ia tetap membuat semuanya gelap. Sungguh gelap! Matanya terbuka. Tapi hatinya tertutup rapat. Rasa kehilangan dan kesedihan telah menjadi perekat terampuh yang sulit dibuka dengan cara apapun.

"Via.. Aku mohon Vi.. Kamu jangan kaya gini! Kasihan mama sama papamu. Kasihan Alvin juga.." lirih Acha memeluk Sivia yang masih diam mematung di balik cermin kamarnya. Menatap pantulan dirinya sendiri yang begitu menyedihkan. Dengan mata yang biasa melihat dan dilihatnya.

"Matanya indah!" ujar Sivia pelan tanpa ekspresi.

Acha tersenyum  pahit. Menatap pantulan mata Sivia dari kaca. Ia mengelus lembut rambut Sivia. Setetes air mata jatuh di pipi putihnya, Melihat keadaan sahabatnya yang sudah hampir satu bulan ini kehilangan senyum manisnya karena orang yang begitu dicintainya pergi meninggalkannya.

Leukimia itu sudah membunuh Alvin. Menghancurkan seluruh organ tubuhya. Memaksa malaikat kematiaan merampas nyawanya. Memisahkan jiwa dan raganya.

Alvin pergi! Dan tak mungin kembali. Hanya sepasang mata indahnya yang sengaja ia simpan di dalam rongga-rongga mata Sivia. Ia sangat terpukul. Tak ada Alvin saat ia membuka matanya.  Tak ada Alvin!


"Aarrggh.. Aku mau Alvin! ALVIIN...!!" teriak Sivia keras sambil melempar barang-barang yang ada di kamarnya.

Acha hanya bergeming melihat itu. Air matanya semakin menderas.

***

13 desember 2011

Isakan itu cukup terdengar oleh para pendengar setia Idola FM-Bandung, menandakan si penyiar menangis membacakan skrip ceritanya kali ini.

"Hm.. Maaf para ID-Lovers. Acha cengeng ya?! Hehe.. Tapi jujur! Cerita ini begitu menyesakkan. Acha hanya ingin bilang.. Acha sayang kamu Via! Aku sengaja menjadikan malam ini khusus untuk mengulang kembali kisah kita. Kamu, aku dan cinta. Cintamu, Alvin."

Acha jeda sejenak, menarik nafas panjang. Via masih terpaku di tempatnya. Tapi diam-diam ia menyimak tiap baris kata yang terucap dari penyiar radio itu.

"Aku ingin.. Malam ini.. Kau menyelesaikan cerita ini. Biarkanlah pena itu kembali berjalan menemui pembatas akhir. Biarkan semua tahu bahwa cerita ini berakhir bahagia.

Via... Aku sedih kehilangan Alvin. Tapi aku lebih sedih kehilang senyummu. Aku mohon Vi.. Buka matamu! Izinkan Alvin melihat dunia bersama-sama denganmu. Mata itu Alvin berikan adalah agar kamu mampu menatap dunia kembali. Bukan untuk kamu biarkan mengeluarkan air mata untuk menangis, menangisi Alvin yang sudah tenang disana. Via.. Aku, Alvin, semuanya menunggu senyummu. "

Titik-titik bening itu berjatuhan di pipi Sivia. Hatinya pedih mendengar isakan sahabatnya yang sudah beberapa bulan ini ia lupakan "maaf.." lirihnya pelan.

"Haah.. Via.. Semoga kau mendengarkan ini.." desah Acha lagi.. "hm.. Baiklah ID-Lovers, sekarang saatnya kalian berbagi cerita.. Silahkan hubungi Acha di 02292970432!"

Tangan Sivia bergerak-gerak mencari laci mejanya. Ia harus mendapatkan ponselnya. Ia harus membalas ungkapan sayang sahabatnya. Dapat! Dengan segera ia menghubungi nomor yang tadi disebutkan Acha.

"Kartu prabayar anda sudah memasuki masa tenggang. Silahkan isi ulang kartu anda!"
Dengan cepat ia melempar Hp-nya begitu mendengar suara itu. Air matanya semakin deras. "Aaarrrggghh!" teriaknya sekeras mungkin.

"Kenapa Via?" mama Sivia membuka pintu.

"Acha...." ratap Sivia.

Seolah mengerti apa maksud Sivia. Mamanya segera meraih ponselnya dan menghubungi Acha. Setelah itu ia meletakan benda kecil itu di telinga Via.

Samar-samar terdengar jelas di telinganya..

"Baiklah ini penelfon pertama kita. Bersama siapa dimana nih?" tanya Acha.

hening..

"Hallo.."

"Aku.. Aku yang akan menyelesaikan cerita yang kau bacakan..tapi hanya cerita itu tdk dengan kisahnya.."

"apa kau..."

"Pada akhirnya, gadis itu hidup bahagia bersama separuh dari orang yang dicintainya.."

"Sivia..?"

"Pena ini memang sengaja aku hentikan. Karena kalian tahu? Seperti yang pernah ditulis olehnya. Bahwa kisah ini tak perlu berakhir.
Ya! Benar.. Kisah antara kamu aku dan cinta tidak usah dan tidak akan berakhir. Meskipun 100 lembar telah habis di penghujung batas hitam. Namun, masih ada lembaran-lembaran kosong dalam hatiku untuk tetap merangkai kisah ini. Sampai Tuhan memberikan akhir yang bahagia untukku dan untuknya, Alvin.."

"Benarkah kau Sivia?"

"Terimakasih Acha, kau sudah membuatku membuka mata hatiku.. Aku sayang kamu juga.."


Acha tersenyum.. "Sivia... Syukurlah.. Aku akan menemuimu Via! Aku akan mengajakmu jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersamamu.." seru Acha rame sendiri. Ia lupa posisinya sedang berada dimana..

Sivia yang mendengar kegirangan Acha hanya tersenyum simpul. Senyum yang beberapa bulan yang lalu terpenjara dalam nestapa yang teramat tinggi..
dan ia kembali.. Karena sesungguhnya kisah itu tidak perlu ada akhir yang menghampiri..

Tamat.

1 komentar:

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea