Selasa, 13 Desember 2011

Yang Pernah Hadir (Cerpen)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 02.18
***

"Coba deh kamu fikirkan! Berapa banyak bayi yang lahir ke dunia ini di luar nikah? Baik itu akibat pemerkosaan, kumpul kebo, pernikahan yang tidak sah, perzinahan..."

Gadis berseragam putih abu itu, tampak menikmati berbagai hidangan di restauran Jepang sore itu. Sesekali ia memfokuskan pandangannya pada laptop hitam polos yang berdiam diri di sampingnya, membaca puluhan artikel yang baru saja selesai didownloadnya.

"Sudahlah Dea! Aku itu bosan tahu dari tadi diskusiin hukuman ini. Lagian kita bisa copas artikel punya orang bukan?"

Seorang laki-laki yang kini duduk di hadapan gadis yang rupanya bernama Dea itu, berprotes-ria sambil menutup laptop gadis itu.

Dea mendesah berat. Menatap laki-laki itu serius "Ayolah Mario! Siapa coba yang nyiptain hukuman ini? Kamukan?"

"Ya, tapi kenapa gak si Japanesse aja yang nyelesain hukuman ini? Toh dia yang memulainya." laki-laki yang dipanggil dengan sebutan Mario itu tetap bersikeras menentang pendapat Dea untuk menyelesaikan artikel yang ditugaskan oleh guru sosial mereka akibat dari pelanggaran yang mereka ciptakan di lingkungan sekolah 3 hari yang lalu.

[flashback]

Tatapan menikam yang terciprat di balik bola mata bening itu, benar-benar menciutkan adrenalin seorang gadis yang kini berdiri sejajar dengan laki-laki itu. Tubuh mereka sangat dekat! Sehingga terlihat seperti adegan tidak wajar yang mereka lakukan di loker sekolah.

"Dengar ya! Kamu tidak berhak memvonisku seperti itu!" ujar laki-laki itu semakin mendekatkan wajahnya pada gadis itu. Kemarahan dan kebencian benar-benar tercoret dalam gurat-gurat wajahnya.

Gadis itu mundur beberapa langkah hingga tubuhnya tersandar di balik loker. Tatapannya tak kalah tajam. Namun tak dapat dipungkiri rasa takut melesat-lesat dalam hatinya.

"Alviiinn!"

Teriakan seseorang disusul dengan pukulan yang menghantam pipi kiri laki-laki yang dipanggil Alvin itu, sesaat membuat keadaan menegang menjadi lebih surut.

“Rio!” gadis itu berhambur ke dalam pelukan Rio. Menenangkan dirinya yang baru saja dihantam ketakutan akibat ulah Alvin.

“BR##@Z?K KAMU AL!!” seru Rio berusaha menenangkan gadis itu yang notabennya adalah pacar Rio “Apa yang kamu lakukan sama Agni Hah?”

Alvin berdiri. Menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya. Sedikit senyuman tergores di balik rasa perih yang menjadi teman di sekitar wajahnya. “Menurutmu? Apa yang aku lakukan sehingga membuat pacarmu menangis seperti itu kalau bukan memaksa bibirnya menempel pada bibirku..?!” cibir Alvin masih memamerkan senyumannya. Ia memandang Agni dan Rio puas.

Tanpa fikir panjang, Rio melepaskan pelukan Agni dan segera menyerbu tubuh Alvin, membanjiri tubuh itu dengan pukulan-pukulan. Alvin tidak membalas. Ia merelakan tubuhnya menjadi sasaran kemarahan Rio.

Agni berlari meninggalkan tempatnya saat sosok Dea berlari menghentikan aksi Rio yang semakin bernafsu memukuli Alvin yang sudah tidak berkutik.

“Rio! Cukup Yo!!!” Dea menarik tubuh Rio menjauh dari Alvin. Tapi setelah itu Rio kembali menyerbu tubuh Alvin.

Dengan sisa tenaga yang ada Alvin mendorong tubuh Rio untuk menjauh darinya. Dea menahan tubuh Rio. Menatap Alvin yang berusah membangkitkan tubuhnya yang sudah dipenuhi dengan luka memar.

“Alvin! Rio! Dea!”

Sontak pandangan mereka beralih ke arah suara itu berasal. Ibu Winda-guru social mereka tengah menatap mereka dengan tatapan membunuh.

“Ikut Ibu ke ruang BP!”

Mau tidak mau akhirnya kaki mereka melangkah mengikuti langkah guru mereka. Menunggu sidang yang hebat bukan main karena jelas perkelahian itu terjadi di jam tambahan Bu Winda.

“ini belum berakhir!” pekik Rio pelan.

“sudahlah Yo!” Dea memandang Alvin yang masih meringis menahan sakit.

Alvin menyinggungkan bibirnya. “kau tak berhak menghakimiku.!”

Rio sempat meronta untuk memukuli Alvin lagi, namun dengan cepat Dea menengahinya. “CUKUP!! OK?!!”

Dan mereka mulai menyusuri koridor sekolah dengan diam, meski dalam hati masing-masing saling melontarkan kutukan-kutukan.

[Flasbackend]

“Kau mau mengandalkan Alvin? Sudah jelas ia tidak mau menyelesaikan tugas ini. Ayolah yo!! Harusnya kamu bersyukur aku masih mau nyempetin waktu untuk ini. Lagian aku gak ikut campur ya dengan pertengkaran kamu dan Alvin. Kenapa aku harus peduliin ini juga?” cerocos Dea yang sudah kesal dengan sikap Rio yang jadi acuh seperti ini.

Drrrttt…drrrttt…drrttt

Baik Rio maupun Dea sama-sama menoleh ke arah ponsel Rio yang diletakan sembarang di atas meja. Rio meraih ponselnya san segera menekan tombol hijau.

“Ya Ag?”

“Aku ingin bertemu denganmu.” Suara manja di balik telpon yang tak lain Agni membuat Rio secara Repleks berdiri dari duduknya.

“aku akan segera menemuimu.” Ujarnya sambil memutuskan pembicaraan “duluan ya De!”

Dea memandang punggung Rio yang semakin menjauh darinya dan menghilang di balik pintu restaurant. Ada rasa tidak rela yang mengganjal dalam hatinya. Semacam helium kecemburuan yang memenuhi organ pernafasannya dan siap meledak kapan saja.

***

Bukan hal asing jika suasan ricuh terjadi setiap kali tidak ada guru yang masuk. Seperti saat ini. Teriakan, tawa, lagu yang sengaja diputar di music player dan obrolan para siswa, benar-benar menggema, mengganggu kelas-kelas lain yang sedang berkonsentrasi dengan pelajaran masing-masing.

Hanya Alvin yang rupanya tidak berminat mengikuti aksi gila teman-temannya. Bukan karena ia siswa teladan yang tidak suka keributan di dalam kelas. Bukan pula karena ia orang pendiam yang tidak ahli membuat suasana kelas menjadi berisik. Justru biasanya dialah trouble maker kelas XI IPS 2. Ia yang paling vokal dalam soal itu.

Tapi untuk saat ini, entah angin apa yang membuat ia berdiam diri di mejanya. Meja paling pojok yang memberi kenyamanan tersendiri untuknya.

"Hai!" Dea duduk di hadapan Alvin "tidak ingin membuat ketua kelas pusing?" sindirnya sambil menunggu Alvin menatapnya.


Alvin mengangkat kepalanya yang ia tenggelamkan di balik buku yang entah dibacanya atau tidak. Dea terhenyak melihat warna-warna biru di sekitar wajah Alvin.

"Siapapun kamu, yang pasti aku tidak punya urusan denganmu!" papar Alvin menatap Dea yang sebenarnya tidak terlalu dikenalnya.

Dea tersenyum. Heran dengan sikap orang dihadapannya. Sudah lama ia tahu Alvin, ia tahu sifat nyebelin Alvin yang sudah naik ke pangkat tertinggi. Ia tahu Alvin siswa tereksis di sekolahan karena kenakalan-kenakalan yang sering ia lakukan. Iapun tahu, Alvin seorang genius matematika. Dan apa yang ia tahu, tentu orang lain juga mengetahuinya.

"Kau bilang, kau tidak punya urusan denganku? Lalu apa ini?" Dea menunjukan buku catatannya kehadapan Alvin.

Alvin memandang buku itu tanpa ekspresi, terkesan acuh dan masa bodoh.

"Sebenarnya aku bisa saja menulis artikel ini sendiri, hanya saja aku ingin kau bersikap tanggungjawab untuk ini!"


"Aku akan bertanggungjawab kalau kamu mengganti tema artikel itu. Kalau tidak lebih baik kau selesaikan tugas itu dengan teman bodohmu itu!" Alvin menutup buku itu dan kembali menyodorkannya ke hadapan Dea.

Dea mendengus kesal. Rasa tidak suka saat mendengar kalimat terakhir Alvin, tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya. "Aku gak suka ya, kamu ngatain Rio bodoh! Meski matematikamu lebih unggul dari yang lain. Tapi, tetap saja yang namanya Mario Stevano Aditya Haling lebih unggul daripada kamu!" tegas Dea sambil berdiri dari duduknya. Melangkah meninggalkan Alvin.

"Kau fikir kepintaran itu diukur karena gelar siswa teladan?"

Dea menghentikan langkahnya begitu mendengar kata-kata Alvin. Ia membenarkan ucapan itu. Tapi baginya tetaplah Rio seseorang yang sempurna tanpa satupun yang kurang.

"Lalu..." Dea membalikan badannya. "Apa kau sudah merasa lebih pintar dari Rio?"

Alvin tersenyum meremehkan. "Tidak! Tapi setidaknya aku tidak sebodoh Rio yang tidak bisa menebak rasa yang ada dalam hati sahabatnya."

"Apa maksudmu?" tanya Dea sewot. Rasa kesalnya pada Alvin semakin berkembang, bermetamorfosis menjadi kebencian. Bukan apa-apa. Hanya saja ucapan Alvin menyindirnya. Benar-benar menyindirnya.

"Hei! Minggu depan hari ulang tahun Gue! Semua anak-anak sosial gue undang. Datang dengan pasangan masing-masing! Ok!"

Suara Deva yang diplay dengan volume full sontak membuat keadaan membisu seketika. Tapi kemudian kembali pada situasi semula.

"Dengar ya! Kamu adalah orang nyebelin yang sok tahu!" seru Dea penuh penekanan. Dan kali ini benar-benar melangkah menjauhi Alvin.

"Semoga Rio lebih mementingkan kamu daripada pacarnya itu di pesta Deva entar." Alvin melirik ke arah Rio yang tampak menikmati moment berdua dengan Agni di lapangan basket yang memang terlihat di balik jendela kelas.

Dea mengikuti arah pandangan Alvin. Ia muak mendengar ocehan Alvin. Tapi adegan Rio dan Agni di luar sana benar-benar menjadi konfigurasi yang lebih memuakkan dari ocehan itu

***

"Dea! Tunggu De!" Rio berusaha mengejar langkah Dea yang berlari dengan sangat cepat.

Dea tak mendengarkan teriakan Rio. Ia terus berlari dan berlari. Berharap kakinya membawanya jauh, sangat jauh dari Rio. Hatinya sakit. Dan untuk saat ini ia tidak ingin melihat ataupun berbicara pada sahabatnya itu.

[flashback]

Dengan rasa kesal yang berlipat ganda, ia terus berjalan mengikuti 2 orang di hadapannya. Dalam hatinya menggerutu, karena jelas, sudah dua jam ini dia menjadi bodyguard yang terus mengikuti majikannya.

"Rio!" panggil Dea untuk yang kesekian kalinya. Rio tak mengindahkan panggilan itu. Ia semakin asyik dengan obrolan gak jelasnya bersama Agni.

Dea mendesah. Rasa kesalnya membuat akses yang cepat melintasi syaraf pusat tubuhnya untuk berkeinginan mencekik orang yang sudah membuat Rio berubah lebih dari 360 derajat

"Rio! Jadi kapan dan dimana kita akan menyelesaikan tugas ini?" tanya Dea dengan nada tinggi. Rasa marah itu kini benar-benar menguasai dirinya.

Rio membalikan badan "kenapa sih De? Bisa gak sih kamu berhenti ngoceh?! Kalau memang tugas itu penting, ya udah kerjain aja sendiri!"

Dea menatap Rio sejenak. Diam. Ada rasa sakit yang baru ia sadari. "Tak berperasaan!!" lirih Dea sambil berlari meninggalkan Rio dan Agni.

Rio memandang Agni sekilas. Kemudian berlari mengejar Dea.

[Flasbackend]

Dapat!

Setelah bersusah payah mengejar Dea, akhirnya Rio berhasil juga meraih pergelangan tangan Dea.

"De! Aku minta maaf!" ujar Rio mengarahkan tatapan Dea padanya.

Dea memilih diam dan tak merespon ucapan Rio. Baginya rasa sakit itu cukup membuat indera pengecapnya terasa bisu.

"ok! Besok kita kerjakan tugas itu di restauran biasa. Aku traktir kamu."

Dea masih diam. Tapi kali ini tatapannya penuh dengan senyawa meyakinkan "benarkah? Kau akan traktir aku sepuasnya?"

Rio tersenyum dan mengangguk pasti.

Entah berada di garis sadar atau tidak, Dea tiba-tiba merapatkan tubuhnya dengan tubuh Rio. Rio hanya terdiam, kaget dengan aksi sahabatnya yang tiba-tiba itu.

***

Alvin amati gadis yang tengah duduk jauh dari tempatnya. Sudah 2 jam gadis itu duduk sambil ngetuk-ngetuk gelas berisi air putih di tanganya. Terlihat gelisah. Sesekali ia melirik jam tangannya, kemudian mendesah berat.

Merasa penasaran dengan aksi gadis itu, akhirnya kakinya melangkah mendekati meja itu.

"Ehm.."

Gadis itu menengadah. Memastikan siapa yang berdiri di hadapannya. Terlalu awal untuknya bahagia karena orang itu bukan orang yang sedari tadi ditunggunya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Alvin sambil duduk di hadapan gadis itu.

Gadis yang rupanya Dea itu memandang Alvin lekat-lekat. Seperti biasa, luka-luka lebam di wajah Alvin menjadi objek pengamatannya kali ini "Apa kau berantem lagi? Keonaran apa lagi yang kau lakukan? Dengan siapa? Apa.. Rio?" dea membanjiri Alvin dengan berbagai pertanyaan.

Alvin hanya menjawab pertanyaan Dea dengan senyuman kecutnya. "Apa ada seseorang yang kau tunggu?" Alvin mengalihkan pembicaraan.

"Aku menunggu Rio. Dia janji mau mentraktirku." jawab Dea sambil tertunduk. Kepalanya terlalu penuh dengan kekecewaan yang begitu banyak.

"Hmm.. Bagaimana kalau aku yang nraktir kamu? Sepuasnya! Atau perlu kupesankan semua menu di restauran ini."

Dea mengangkat alis. Heran dengan tawaran Alvin. Kenapa Alvin bisa sebaik ini?

"Kau tidak cocok memasang wajah telmi seperti itu tahu gak?" ejek Alvin.

Dea tersenyum mendengar kata-kata Alvin. Untuk saat ini, sejenak ia melupakan janji Rio dan keingkarannya. Dan itu karena Alvin, orang yang pernah dibencinya.

***

"Hei... Kau belum membayar semua ini!" seru Dea begitu Alvin menarik tangannya keluar dari restauran itu.

"Mereka tidak akan menerima uangku." Kata Alvin masih menarik tangan Dea. "Ayo kita jalan-jalan!"

"Tapi.. Hmm.. Itu.."

Alvin menghentikan langkahnya. Memandang Dea serius "Restauran itu milik ayahku. Jadi aku tak perlu repot-repot membayarnya." Jelas Alvin sambil menggenggam tangan Dea. "Kita nikmati udara taman kota sore ini!"

Dea mengikuti langkah Alvin. Meski bingung dengan sikap Alvin, tapi perasaannya tak bisa menolak. Ia merasa sangat nyaman. Benar-benar nyaman.

"Maaf kalau waktu itu aku membuatmu kena hukuman dari Bu Winda." kata Alvin sambil duduk di bangku taman saat mereka sampai di tempat tujuan.

"Tidak apa-apa. Tapi, apa tentang..hm..kau dan Agni.." Dea tampak ragu mengatakan maksudnya.

"Sebenarnya aku tidak benar-benar menciumnya. Agni saudara tiriku, dan waktu itu ada kata-kata dia yang membuat aku marah padanya!" jelas Alvin.

Dea ngangguk-ngangguk sok ngerti.

Keadaan hening untuk beberapa saat.

"Oya.. 3 hari lagi tugas itu akan aku serahkan pada Bu Winda. Aku tidak akan mencantumkan namamu di tugas itu. Jadi kau harus siap menerima konsekuensi. Jangan karena kau sudah berbuat baik padaku hari ini, bisa membuatku baik padamu dalam urusan hukuman ini." Dea memandang wajah Alvin. Biru-biru di wajah itu tidak menutup ketampanan di wajahnya.

Alvin tersenyum mendengar ocehan Dea.

"Alvin! Apa luka-luka itu sudah kau obati?" tanya Dea.

"Tahu gak De?" Alvin mulai mengalihkan pembicaraan lagi. "Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke pesta Deva nanti."

Dea diam. Cukup terkejut dengan ajakan Alvin.

"Itupun kalau Rio belum mengajakmu."

"Kau kan tahu sendiri Agni lebih penting dariku untuk Rio."

"Kau membuatku merasa dipedulikan."

Dea menarik nafas panjang. Kemudian mengelus-ngelus punggung Alvin pelan. Meski ia tidak mengerti maksud Alvin.

“Auw!” pekik Alvin keras membuat Dea terkejut dan memandang Alvin serius.

“Ke…kenapa?” Tanya Dea panic. Alvin meringis.

Tanpa menunggu jawaban dari Alvin, dengan segera Dea membuka baju Alvin karena ia tahu disana objek yang membuat Alvin kesakitan.

Ia amati garis-garis merah yang menjadi hiasan di punggung Alvin. Luka yang sepertinya diakibatkan oleh benda tumpul itu ternyata tidak hanya ada di wajah Alvin tapi di seluruh tubuhnya.

“A.. Alvin ini kenapa?”

Alvin bangkit dari duduknya. Merapikan pakaiannya “sudahlah! Anggap saja kau tidak pernah melihatnnya…!”

“Gak! Ini gak bisa dibiarin! Kita harus mengobatinya!” bantah Dea sambil menarik tangan Alvin.

“Heiii… apa pedulimu?”

“Apa seorang ahli matematika tidak punya perhitungan seberapa parah resiko dari luka-luka ini?” protes Dea sambil menekan titik luka di sudut bibir Alvin.

Alvin meringis. Menatap Dea dengan tatapan bingung. “asal kau tahu Dea! Aku bukan seorang ahli matematika. Semua nilai bagus yang aku dapatkan hanya kebetulan semata” kata Alvin merendah sambil mengikuti langkah Dea yang cukup cepat.

“Aku percaya! Sepertinya keahlianmu itu menurun dari ayahmu.. bukankah Jepang itu tempatnya para intelek?”

“Kau fikir ayahku seorang Japanesse?”

“Sure! kau tahu? Sebenarnya aku begitu mengagumi orang-orang Jepang yang pintar!” Dea semakin menggenggam erat tangan Alvin. Seolah orang yang kini ada di sampingnya tak boleh beranjak dari sisinya.

“Bukankah kau hanya mengagumi Rio?”

“Aihh baru saja sejenak aku melupakannya!” komentar Dea cemberut. Alvin hanya tersenyum.

Keadaan diam. Mereka mulai menyusuri jalan tanpa kalimat yang terucap. Hanya genggaman tangan yang yang memberi tanda mereka menikmati kebersamaan itu.

***

“Hei!!”

Dea menghela nafas sambil mengusap dada begitu keluar dari ruangan Bu Winda karena aksi Rio benar-benar mengejutkannya. “kau ini!” protes Dea pura-pura kesal.

Rio mengikuti langkah Dea, mulai menjauhi ruangn Bu Winda. “Hmm besok aku akan pergi bersama Agni. Siapa pasanganmu?”

“Alvin mungkin.” Jawab Dea ,masih meluruskan pandangannya. Ke depan.

Rio menyipitkan matanya, memandang Dea penuh rona-rona ketidakpercayaan.

“Alvin? Musuh kita?” pekik Rio menghentikan langkahnya.

“setidaknya itu lebih baik dibanding dengan dua jam menunggu sendirian di restaurant Jepang. Sindir Dea tanpa menoleh ke arah Rio. “Dan harusnya kau berterimakasih kepadaku karena aku masih mau berbaik hati mencantumkan namamu di tugas kita.”

Rio diam. Sungguh ia telah mengecewakan sahabatnya karena kemarin ia sibuk menemani Agni memilih-milih pakaian untuk menghadiri pesta. Dan ia baru sadar akan janjinya itu.

***

Dea benamkan wajahnya di telapak tangannya. Air matanya hampir saja berurai. Perasaannya benar-benar kacau! Entahlah iapun tidak tahu harus menyalahkan siapa.

Ia tidak mungkin menyalahkan Alvin yang membiarkannya menunggu dan melewatkan pesta ultah Deva sementara Alvin sendiri sedang membencinya.

Hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya benar-benar merusak janjiannya bersama Alvin. Ibu Winda memanggil ayah Alvin sebagai ganti tugas yang tidak Alvin kerjakan. Dan itu membuat Alvin tak meliriknya sedikitpun saat mereka berpapasan di koridor sekolah.

“Maafkan aku Alvin!” lirihnya sambil berdiri dari duduknya. Merapikan dress putih selututnya yang sedikit acak-acakan. Ia mulai memasuki rumah Deva. Mencari sosok yang kali ini ia butuhkan.

“Rio!” Dea meraih tangan Rio.

Agni yang merasa tidak nyaman dengan aksi dea segera menarik tangan Rio lebih erat. “Hei.. apa yang kamu lakukan? Enak saja kau rebut-rebut pasangan orang…!” teriak Agni di sela alunan lagu yang cukup keras.

“Rio! Tolong anterin aku ke rumah Agni…!”

“Untuk apa?”

“Plisss Yo! Ini penting.”

Agni mendorong tubuh Dea menjauh dari Rio. Rio hanya diam terpaku. Terkejut dengan perlakuan Agni.

“Kamu apa-apaan sih De? Dasar wanita murahan!!! Sudah tahu Rio tidak suka denganmu. Masih saja paksa-paksa Dia!”

Deg!

Hati Dea mencelos. Ia tatap wajah Rio di balik bulir-bulir air mata yang sudah membendung di pelupuk matanya. Ini terlalu menyakitkan.

“Agni! Apa yang kamu katakan?” teriak Rio keras sambil begitu Dea meninggalkan tempatnya. “KITA PUTUS!!!!”
“De…Dea!! Aku minta maaf!”
 Rio meraih tangan Dea. Segera merangkulnya kuat dan membiarkan Dea merasakan ketenangan dalam dekapan itu.

“Aku mengkhawatirkan Alvin Yo! Tolong anter aku ke rumah Agni! Aku yakin kamu tahu.”

“Alvin? Kenapa rumah Agni?”

“Aku akan menceritakannya nanti.”

***

“Siapapun kamu. Kamu tidak berhak memperlakukanku seperti ini! Kau bukan ayahku dan kau berani melukaiku!” teriak Alvin begitu tangan kasar itu mendorong tubuhnya. Membuat punggungnya mau tidak mau membentur ujung-ujung almari.

Alvin menegakkan tubuhnya entah terlalu biasa, ia mampu menahan sakit yang menjalar di tubuhnya yang kerap kali menjadi objek pukulan-pukulan keras.

Laki-laki berpostur tubuh besar tinggi itu melepas ikat pinggang yang dikenakannya. Maju beberapa langkah mendekati Alvin yang sudah tegak membelakanginya. Belum sempat Alvin membalikan tubuh badannya, tahu-tahu dirasakannya pukulan di bagian punggungnya.

“Apa inginmu Hah? Membunuhku? Bunuh aku sekarang!” seru Alvin meraih pecahan kaca lemari dan memberikannya kepada laki-laki itu.

Alih-alih menerima pecahan kaca itu, laki-laki itu justru menggunakan tangannya untuk memukul Alvin.

Alvin tersungkur. Darah mengalir di sudut-sudut bibirnya. Kepalanya pening. Ia tak mampu lagi berdiri. Masih dirasakannya pukulan dan tendangan yang mengenai tubuhnya. Namun sesaat laki-laki itu berhenti begitu seseorang membuka pintu.

“Henitikan! ” teriak Dea memburu tubuh Alvin “apa yang om lakukan? Apa karena om dipanggil ke sekolah om menghukum Alvin sampai segininya?” Dea merengkuh tubuh Alvin dan mendekapnya erat.

“Siapa kalian? Tak usah campuri urusanku!”

Laki-laki iti menarik tubuh Alvin dari dekapan Dea. Dea semakin menguatkan pelukannya.

“jangan om! Hentikan! Aku mohon!” air mata keluar dari mata bening Dea.

“HENTIKAN!!!!”

Rio mendorong tubuh kekar laki-laki itu. Ia marah melihat perlakuan orang itu. Mekipun orang yang disiksa itu adalah musuhnya.

“Hentikan atau aku akan memanggil polisi?!” Ancam Rio sambil menegakan tubuh Alvin dan memapahnya menuju mobilnya.

Sekilas pandangan mereka tertuju pada Agni  yang berdiri di ambang pintu. Tapi, seolah tak peduli mereka mulai masuk ke dalam mobil Rio yang terparkir di depan rumah.

“Maafkan aku Alvin! Ini semua salahku seandainya aku mencantumkan namamu, ini semua tidak akan terjadi.” Sesal Dea menatap wajah Alvin yang sudah penuh luka memar.

Alvin membalas tatapan Dea, dengan mata sayu. Sedikit menahan sakit “Karena aku tahu tidak ada yang adil di dunia ini. Hh…dan tak ada hukum yang asil seperti hukum Tuhan” rintih Alvin dengan suara semakin melemah.

Satu persatu tetes air mata Dea menetes di wajah Alvin. Ia menyesal. Harusnya ia mencantumkan nama Alvin karena nama Rio pun ia cantumkan.

“Tidak semua yang dihitung dapat diperhitungkan. Dan tidak semua yang diperhitungkan dapat dihitung. Yang jelas perhitungan Tuhan tidak akan salah.” Kata Alvin sebelum akhirnya perlahan-lahan mata itu tertutup.

***

Awan kumulonimbus masih enggan meninggalkan tempatnya. Dan tetesan air yang diproduksinya cukup membuat sudut-sudut kota basah, menjadi analogi untuk hati yang berda di ambang keputus asaan.

Sejak terakhir mata itu tertutup. Gadis itu tak bisa melihat bola mata itu lagi. Meski ia masih melihat raganya meski diam. Mendengar kerja jantungnya meski lemah. Dan merasakan hembusan nafasnya meski pelan. Tapi, betapa tidak ia kehilangan sosok orang yang baru-baru ini dikenalnya.

Tubuh Alvin hancur. Tulang-tulangnya patah. Kulit-kulitnya terkelupas. Dan ia bertahan selama bertahun-tahun dengan semua itu. Ia bersikap biasa seolah ia hidup normal. Padahal  ia hidup dalam penyiksaan yang tidak wajar. Tanpa bisa menuntut. Tanpa bisa menghakimi. Dan tanpa kepedulian. Ini alasan kenapa ia menjadi trouble maker. Karena ia ingin diperhatikan ia ingin ada kepedulian.

Namun nyatanya tak asa satupun yang mengerti. Tak ada yang menanyakan kenapa padanya. Hanya ia yang menyimpan banyak pertanyaan itu. Pertanyaan kenapa hukumi ini tidak adil. Apa yang ia dapat adalah hukuman dari Tuhan karena kesalahan orang tuanya.? Namun satu yang menjadi keyakinannya Tuhan adil dan yang diberikan-Nya adalah keadilan.

Alvin seorang anak yang terlahir dari hasil perzinahan. Ibu Alvin selingkuh dengan seorang laki-laki Jepang karena teramat sakit hati begitu tahu suaminya yang menikahi wanita lain yang tak lain adalah ibu agni. Dan ironisnya kedua orang tua Alvin meninggal karena korban pembunuhan. Dan itupun satu alasan kenapa Alvin tidak ingin menyelesaikan tugas itu dengan tema yang Dea tentukan.

“Kamu tahu kenapa aku begitu mencemaskan Alvin waktu itu? Karena aku sudah curiga Alvin disiksa oleh orang tuanya.” Lirih Dea.

Rio merangkul Dea. Mengamati wajah Alvin sejenak. ‘Bangun Al! jangan buat shabatku menagis seperti ini!’ batinnya.
“Alvin! Bangun Al! aku mohon. Look me please!” pinta Dea membenamkan wajahnya di atas lengan Alvin “sekali saja!”

Rio memandang Dea iba. Gadis itu terlalu lembut sehingga ia mampu menagis berhari-hari hanya untuk menangisi orang yang jelas baru dikenalnya.

“Al?” panggil Rio.

Dea menengadah. Memandang wajah Alvin. Matanya terbuka, terlihat mengamati keadaan di sekelilingnya.

“Alvin!” panggil Dea dengan senyuman bahagianya.

Alvin mentap Dea. Sedikit tersenyum tak lama setelah itu ia menutup matanya kembali. Tertutup bersamaan dengan bunyi melengking di balik suara computer dengan dekorasi garis lurus.

Sejenak dea terdiam. Ini seperti mimpi. Alvin membuka matanya sesuai yang diinginkannya. Sekali untuk terakhir.

Terlau sinetron jika ia haru menangis, berteriak histeris, memanggil nama Alvin dan memintanya bangun lagi. Ia hanya bisa berhambur ke dalam pelukan Rio. Berharap laki-laki itu menenagkannya, seperti ketenangan yang baru saja meragap jiwa yang telah hilang.

***

Alunan tuts tuts piano itu terdengar syahdu. Memenuhi tiap jengkal ruangan bernuansa putih itu. Menjadi melodi yang mengusik jiwa-jiwa yang terdampar dalam nestapa kehilangan.

Pelan-pelan jari jemarinya berpijak di nada-nada tertentu. Matanya tertutup menghayati suara-suara yang berwujud menjadi irama lagu yang bergerak-gerak merdu tanpa syair dan lirik.

Dalam kebisuan terdengar suara menyapa tiap alur nada itu. Menjelma menjadi sebuah nyanyian yang indah.


So we fight through the hurt
And we cry and cry and cry and cry
And we live and we learn
And we try and try and try and try

Dea membuka matanya. Memastiakan siapa pemilik suara yang baru saja masuk kedalam alunan music yang ia mainkan. Sedikit tersenyum lalu kembali memfokuskan pandangannya pada tuts-tuts piano itu. Kali ini ia yang meneruskan nyanyian yang baru saja tercipta.


So it's up to you and it's up to me
That we meet in the middle on our way back down to Earth
Down to Earth, Down to Earth
On our way back down to Earth


And mommy you were always somewhere
Daddy I live out of town
So tell me how could I ever be normal somehow
You tell me this is for the best
So tell me why am I in tears?
So far away, and now I just need you here

Rio merangkul pundak Dea manja. Menunggu bagiannya. Tangan gadis itu begitu ahli memainkan balok-balok hitam putih itu. Dan ia  baru mnenyadari ada keterpanaan yang timbul dalam hatinya.


We fell so far away from the way we used to be
Now we're standing and where do we go
When there's no road to get to your heart
Let's start over again

Dea menatap Rio sekali lagi begitu ia dan Rio menyelesaikan lagunya secara bersamaan. Sejurus kemudian ia melingkarkan tangannya di pinggang Rio.

“Dea!”

“Hmm..”

“Apa kau sempat mencintai Alvin?”

“Aku hanya merasa nyaman didekatnya. Dan baru kali ini aku meraskan kehilangan yang nyata.” Jawab dea semakin menguatkan pelukannya.

“Alvin benar! Aku hanya mengagumimu Rio! Kamu dan selalu kamu.” Batin Dea “Dan Alvin juga benar! Kalau kamu terlalu bodoh untuk menyadari itu.”



END

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea