Selasa, 24 Januari 2012

Problem Of Organization Last Part #gantung (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.45

"Alvin paling suka lihat matahari senja. Warna kuning cerahnya menyebar memberi warna pada awan-awan sirus yang indah. Ia pernah bilang, ia ingin hidup dan memberi warna baru kepada orang di dekatanya." Kata Ify menyandarkan kepalanya di pundak Cakka saat mereka duduk berdua di taman kota.

Cakka tersenyum. Membayangkan Alvin. Membayangkan terakhir kalinya ia melihat matahari senja setelah seharian bermain basket bersama Alvin dan yang lainnya.

"Dulu Alvin yang duduk bareng gue disini. Menikmati angin sore sampai malam setelah gue dan dia nonton Harpot bareng-bareng"

Cakka masih diam. Mendengarkan kelanjutan cerita Ify. Jujur hatinya merindukan sosok Alvin. Sosok yang ia kenal tidak pernah menyerah. Sosok yang peduli terhadap tugas dan tanggungjawabnya. Dia yang berjiwa besar
dan selalu mengalah. Dia, Alvin, sahabatnya yang hampir tiga minggu ini menghilang bak ditelan segitiga bermuda.

"Cakka!"

Ify menjauhkan kepalanya dari pundak Cakka. Kemudian memastikan siapa yang berdiri di belakangnya. "Agni? So, sorry gue..." ujarnya terbata.

Agni tersenyum kecut. Air matanya sudah membanjiri pipi putihnya. "GUE BENCI LO KKA!" Katanya berlari meninggalkan Cakka dan Ify.

"Kenapa lo diam aja? Kejar Agni Kka! Cepat kejar!" Support Ify begitu melihat Cakka diam saja.

Cakka tersenyum tipis. Menatap Ify dalam-dalam. Sejurus kemudian ia memeluk Ify kuat-kuat. Membuat Ify kaget dengan tindakan Cakka.

Mereka larut dalam dekapan itu selama beberapa saat. Ify benar-benar tidak berkutik. Ia merasa ada sesuatu yang menurutnya aneh. Entah apalah itu.

"Kka! Lo demam ya? Kok tubuh lo anget sih?" Kata Ify polos begitu tangannya menyentuh lengan Cakka.

Cakka melepaskan pelukannya. Lalu menggeleng pelan. "Pulang Yuk! Udah sore." Ajak Cakka.

"Ya udah, gue juga pengen online nih. Rasanya udah lama gue gak berpetualang di dunia maya. Kayaknya, facebook sama twitter gue udah lumutan deh. Haha.." Ify tertawa pelan.

Cakka yang melihat tawa Ify sedikit lega. Ia tersenyum menatap Ify. Tawa yang selama Alvin pergi, tertutup rapat, kini terlepas kembali. Meski tidak begitu lepas.

Sory Kka, gue udah nambah beban buat lo. Gue janji akan lebih tegar untuk ini. Demi Alvin dan demi lo. Batin Ify.

***

Semuanya masih sibuk dengan kegiatan masing-masing. Di tempat yang berbeda dan dalam keadaan yang berbeda pula.
Ify yang saat ini sedang menekuni cairan-cairan kimia di lab bersama teman-temannya yang lain. Tampaknya ia lebih fresh dari dua minggu sebelumnya. Ia merasa ingin segera mengakhiri pelajaran ini. Ada sesuatu yang ingin ia tunjukan pada teman-temannya.

Sementara Agni dengan sangat malas, mendengarkan ocehan gurunya mengenai atom, hukum-hukum newton, grafitasi, magnet, hukum ohm, dan teori-teori fisika lain yang sudah berpuluh-puluh kali dipelajarinya dari SD dulu.

Sama halnya dengan Cakka, Iyel, Shilla dan Sivia yang masih bergulat dengan latihan soal sosiologi yang hampir seabrek. Membuat mereka nyaris pingsan saja.

Memang, tak ada yang betah duduk berlama-lama di dalam kelas. Rasanya mereka ingin segera pulang, meskipun setelah ini mereka akan terpojok di ruang osis karena tadi pagi Iyel meminta mereka untuk berkumpul.

Tapi, seberapa malas, membosankan dan membingungkan, mereka tetap seorang pelajar yang berkewajiban mengemban tugas untuk bekal menggapai mimpi mereka di esok hari.

***

"Lho, anak-anak osis yang lain mana Yel?" tanya Ify yang waktu itu baru sampai di ruang osis dan hanya melihat Cakka, Agni, Shilla, Sivia dan Iyel sendiri.

"Duduk dulu deh Fy!" perintah Iyel mengamati Ify yang tampak beda dengan laptop di tangannya.

Ify menuruti perintah Iyel dan duduk di samping Agni.

"Jadi gini. Sory sebelumnya gue ganggu waktu kalian. Gue disini bukan untuk rapat soal kegiatan akhir tahun. Bukan mau ngomongin osis. Tapi, gue mau bahas semua kesalahan gue disini. Gue mau minta maaf sama lo semua. Terutama lo lo Kka, lo juga Fy. Dan tak lupa, Alvin." Iyel memandang teman-temannya bergantian.

Cakka yang sejak tadi fokus pada komiknya dan memasang wajah malas, sontak menatap Iyel tidak percaya; Iyel minta maaf?

"Sorry banget ya?"

Sivia tersenyum. "Gue sih udah maafin lo Yel. Meskipun maaf lo gak khusus buat gue. Iya gak Shil? Ag?" Ujar Sivia memandang Agni dan Shilla bergantian. Yang ditanya hanya mengangguk kompak.

Iyel tersenyum lebar. "Thanks."

Cakka dan Ify memandang Iyel. Lalu tersenyum tulus. "Gue juga minta maaf Yel!" Cakka berdiri dari duduknya dan merangkul Iyel kuat.

Semuanya tersenyum melihat adegan itu. Mereka sadar, ada kalanya lentera persahabatan yang dinyalakan dengan kasih dan sayang, meski kuat sekalipun, akan mengalami keredupan dan akhirnya padam. Namun, akan kembali terang dengan saling memaafkan.

"Ya Tuhan, gue lupa." Teriak Ify sambil membuka laptopnya. Yang lain hanya menatapnya bingung. "Sorry ya, gue emang males ngenet. Cek fb, twitter, e-mail, sampai-sampai gue gak tahu ada e-mail penting yang gue terima semingu yang lalu." Kata Ify mengingat ia tidak seaktif Shilla di dunia maya. Dan baru kemarin ia membuka semua akun yang ia punya setelah bilang pada Cakka kalau dia ingin online.

"E-mail dari siapa Vi? Alvin ya?" tanya Iyel.

Ify menggeleng. "Lihat deh! Dan bca sendiri!" Ify mengarahkan laptopnya ke arah lima temannya yang duduk saling merapat. Dan mereka mulai membca tulisan apa di layar laptop itu.

From : Lintar@yahoo.com.
To : you
subject: For Al's friends.

Goedermogen, goedemiddag, goedendag, goedenacht. (selamat pagi, siang, sore, malam)
Introduceen ik lintar. Broer Alvin. (aku lintar, saudara Alvin).

Mungkin terlalu berlebihan kalau gue pakai Dutch disini. Baiklah, pertama, sorry gue ganggu yang punya alamat e-mail ini (alyssa_ify@yahoo.co.id), karena pesan gue yang akan panjang dan bikin lo ngantuk pas membcanya.
Tapi, gue harap lo bisa baca pesan ini dengan tuntas, dan bareng temen-temen Alvin lainnya.

Ok! Terlalu lama. Gue mulai aja.

Ini tentang Alvin. Adik gue yang pernah gak gue inginkan kehadirannya. Mungkin ini terlalu jahat, terlalu gak adil, atau terlalu kejam untuk Alvin. Tapi gue sendiri tidak tahu kenapa gue begitu benci padanya. Sampai gue suruh dia buat ngakuin kalau gue bukan kakanya. It's ok, itu hanya curhatan gak jelas gue tentang Alvin dan gue.

Seminggu yang lalu parents gue pulang ke Indonesia, karena Alvin meminta mereka menengoknya yang katanya membutuhkan mereka. Gue tahu ini jahat. Gue memang gak ingin tinggal bareng Alvin, sehingga gue memilih tinggal di Den Haag. Dan entah karena Alvin terlalu dewasa, atau terlalu baik, dia mengalah dan memilih hidup mandiri tanpa orang tua karena keegoisan gue, meminta parents gue tinggal disini bareng gue.

Gue marah! Gue kesel! Sumpah serapah, makian dan kata-kata tidak suka gue lontarkan pada Alvin waktu gue tahu Alvin ikut ke Belanda bareng ortu. Gue cuekin dia, gue gak anggap dia ada selama beberapa hari, karena kata benci sudah tersegel rapat dalam otak gue. Tapi Alvin tetap Alvin yang selalu gue kenal. Alvin yang tidak pernah ngeluh, Alvin yang tidak pernah marah saat orang nyakiti dia, Alvin yang berjiwa besar dan pemaaf. Ya, dia Alvin. Adik gue, jagoan gue! Haah, mungkin gue telat mengatakan itu.

Gue gak tahu apa alasan parets bawa Alvin kesini. Mereka gak bilang sama gue. Dan belakangan gue tahu kalau alasan mereka membawa Alvin adalah karena Alvin sakit. Entah sakit apa, gue juga gak tahu.Tapi, pas dia datang kesini dia tuh sering banget keluar-masuk ICU. Gue gak ngerti ada apa dan kenapa. Yang jelas itu membuat gue iba dan berhenti benci sama dia.

Gue tahu lo semua sayang Alvin. Lo semua begitu membanggakannya. Dan gue yakin lo benci sama gue. Setidaknya ada yang lebih baik dari gue yang jahat dan bodoh ini buat Alvin.

Gue kirim e-mail ini karena Alvin bilang dia gak sempat pamit sama kalian. Gue bingung mau ngirim e-mail ini sama siapa, karena gak mungkin gue ngirim ke semua kontak di e-mail Alvin. Jadi gue putusin buat ngirim pesan ini ke alamat ini. Karena selama satu minggu ini Alvin sering banget nyebut nama Ify.

Dia juga bilang kalo dia kangen lo semua. Dia gak betah di Den Haag.. Dia pengen pulang dan menyelesaikan masalahnya dengan segera.

Mungkin minggu depan Alvin balik. Lo tunggu dia di taman kota senja hari ya? Gue bawa dia kesana entar. Ingat

Trims-Lintar
.

Semuanya saling pandang begitu selesai membaca pesan dari lintar. Semuanya benar-benar larut dalam ketidakpercayaan. Bahwa apa yang mereka baca adalah tentang Alvin yang tidak pernah mereka ketahui. Sebegitu tidak perhatiankah mereka pada Alvin, atau sepintar itukah Alvin menutupi kehidupan pribadinya? Sehingga tidak ada satupun dari mereka yang tahu kehidupan Alvin yang ini.

"Ih, lo nangis Ag?" suara Sivia repleks membuat Agni dengan cepat menghapus air matanya.

"Idih lo juga. Shilla juga tuh!" tunjuk Agni pada kedua temannya yang sudah merah-merah dengan pipi basah. Hanya Ify yang tidak menangis karena mungkin ia sudah lebih dulu.

Kompak anak-anak cewek mengalihkan pandangannya pada Iyel dan Cakka.

"Ngga, gue gak nangis." Kata Iyel.

"Gue juga." Timpal Cakka.

Agni yang duduk dekat dengan Cakka mengamati wajah Cakka lekat-lekat. "Ngaga nangis di mata, tapi disini." Ia meletakan tangannya di dada Cakka. Membuat Cakka tiba-tiba diam. Detak jantungnya sedikit menaik. Membuat tangan Agni yang masih menempel di dadanya merasakan itu.

"Ke, kenapa?" gugup Agni heran melihat perubahan di wajah Cakka.

"Sakit Ag. Yang lo sentuh itu sakit banget!" Ujar Cakka membuat Agni dan yang lainnya tak mengerti apa yang Cakka katakan. "Sakit saat lo diemin gue dang gak maafin gue."

Agni menatap Cakka. Kemudian mengalihkan pandangannya pada tangannya yang tetap pada posisinya."Gue,"

"Jangan buat gue kanker otak beneran karena mikirin lo Ag!" Cakka menarik Agni ke dalam dekapannya.

Semuanya sunyi selama beberapa waktu. Sebelum akhirnya.

"Waah, seru banget deh sinetron yang gue tonton!" goda Sivia sambil tertawa. Begitupun dengan yang lainnya.

Agni dan Cakka melepaskan pelukannya. Pipi mereka sama-sama memerah. Mereka juga ikut tertawa. Hanya saja lebih pelan.

***

"Wah Pin, gue kangen lo!" teriak Cakka memeluk Alvin begitu Alvin berdiri di hadapan keenam temannya sore itu.

Satu minggu setelah membaca pesan Lintar, mereka benar-benar menunggu Alvin. Mereka datang lebih awal sebelum senja tiba. Karena betapa tidak mereka merindukan sosok itu.

"Gue minta maaf Vin!" Cakka melepaskan pelukannya. Memberi kesempatan kepada Iyel yang sudah berdiri di hadapan Alvin.

"Gue yang paling banyak salah sama lo. Gue benar-benar minta maaf. Gue sadar, gue gak bisa ngerjain tugas osis tanpa lo."

Alvin tersenyum. Kemudian memeluk Iyel cukup lama. Lama sekali.

"Vin, udah dong peluk Iyelnya! Ada yang minta lo peluk juga nih." Seru Sivia dengan suara keras se
perti biasanya. Ify yang jadi objek pandangan teman-temannya tetap bergeming. Ia lebih asyik menatap Alvin yang sudah melepaskan pelukannya dari Iyel berdiri tegak di hadapannya.

Alvin tersenyum.

Dengan cepat Ify menubruk tubuh itu. Lumayan keras. Membuat Alvin mundur beberapa langkah dan hampir terjatuh. Namun cukup tertahan dengan bangku taman di belakangnya.

"Dasar jahat! Kenapa lo pergi gak bilang-bilang? Gue benci lo! Gue benci lo kaya gini." Ify benamkan wajahnya di dada Alvin. "Ngapain lo ke Belanda tanpa kasih tahu gue? Lo gak tahu susahnya pas gue duduk sendiri. Ngapalin rumus-rumus kimia tanpa lo. Lo jahat, Alvin!"

"Ify!" Alvin mengelus rambut Ify. "Maaf!"

"Tega lo sama gue! Pake ada acara nyuruh Cakka jagain gue lagi. Dasar bodoh! Cakka kan punya Agni."

Agni memandang Cakka yang berdiri tegak di samping Alvin. Dan ia baru tahu kenapa dua minggu ke belakang Cakka habiskan waktunya dengan Ify.

"Sorry! Udah dong Fy! Iya, gue minta maaf. Tapi jangan nangis kaya gini dong! Gue kan sengaja ke Den Haag. Katanya lo mau gue kenalin sama lintar." Alvin menarik Ify dari pelukannya dan menghapus air mata itu. Sejurus kemudian ia memandang lintar yang berdiri di samping kirinya. "Dia Lintar! Kakak, hmm eng, sepupu gue maksudnya.

Semua mata terarah pada lintar yang tengah tersenyum hangat kepada mereka. Tapi, bukan membalas senyuman itu, mereka justru menatap Lintar tidak suka. Lintar yang menyadari tatapan itu, segera melepaskan senyumannya. Ia tetap berdiri dengan tenang, seolah sudah siap menerima hukuman yang setimpal terhadap perbuatannya pada Alvin selama ini.

Alvin sendiri cukup terkejut melihat respon teman-temannya terhadap kehadiran Lintar. Pasalnya ia tidak tahu perihal e-mail itu.

"Sebenarnya lo kakak atau sepupu Alvin sih?" tanya Agni ketus.

"Gue, hm.. Kakaknya Alvin lah." Jawab Lintar berhasil membuat Alvin noleh ke arahnya. Tak percaya.

"Sipit lo pin! Dasar adik durhaka! Gak ngakuin Kakak sendiri. Kualat lo!" Cerca Cakka yang langsung disusul oleh tawa dari semuanya.

Masih dalam kebingungan, Alvin tersenyum lega. Bahagia pula. Ia ikut tertawa bersama yang lainnya. Memberi warna cerah yang lebih indah di balik matahari senja yang cukup hangat.

Dan kehangatan itu lebih nyata terasa dengan kebersamaan yang disertai suka setelah perjuangan melawan duka yang menghadang.

Semua kisah akan berakhir pada dua pilihan. Tinggal mana yang akan kamu pilih dari keduanya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea