Rabu, 18 Januari 2012

Problem Of Organization part 4 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 04.07
 ***

Sivia menatap layar ponselnya lekat-lekat. Ia tampak berfikir keras. Sudah satu tahun ini ia selalu mendapatkan sms dan surat-surat yang berisi rangkain puisi, dan itu entah dari siapa.

"Kenapa Vi?" seseorang duduk di samping Sivia.

Sivia memandang orang itu yang tak lain adalah Alvin.

"Eh? Alvin?"

"Hadeuuhh.. Dapet puisi nih dari secreat admirenya?" goda Alvin curi-curi pandang ke arah handphone Sivia "Boleh gue lihat?"

"Nih! Lihat aja. Balas noh sekalian. Pusing gue!" Sivia menyerahkan ponselnya kepada Alvin yang bingung dengan tingkah Sivia.

From : 082115xxx

Aku suka melihatmu.
Melihat senyummu.

Aku suka memandangmu.
Menikmati sikapmu.

Sikap ceriamu.
Aku suka.
Suka semua yang ada papa dirimu.

Alvin tertawa.

"idih tertawa lagi lo. Itu puisi romantis bukan lawakan!" protes Sivia mengambil ponselnya di tangan Alvin. "niat balas puisi ini gak?"

"Ogah! Gue-gak-bi-sa!" Alvin memberi penekanan pada kalimatnya. "Tuh minta aja sama Shilla, sastrawan kita semua!"

"Pasalnya, gue malu Vin minta Shilla balesin nih puisi mulu. Udah satu tahun Vin, tiap gue dapet puisi, Shilla mulu yang bales."

"Makanya belajar neng! Punya temen bisa tuh bukan dijadikan temen doang. Jadikan juga guru terbaik!"

Sivia manyun.

"Ih jelek lo vi!" ejek Alvin nyubit lengan Via, gemas.

"Ih dasar lo sipit! Nyubit-nyubit gue. Sakit tahu!"

"Eits! Nyantai sis! Sipit-sipit gini juga gue pinter. Ketua osis lagi!" kata Alvin narsis.

Sivia mendelik. "Woi sdar Vin! Lo udah bukan ketos lagi. Bangga amat lo jadi ketos!" teriak Sivia.

Alvin menutup telingnya, mendengar suara Sivia yang kencengnya asli bukan main. Ia sendiri bingung kenapa Sivia hobi banget teriak teriak.

"Vin!"

Baik Sivia maupun Alvin, menoleh kearah belakang saat mendengar suara memanggil Alvin.

"Eh Fy.. Hmm.. Sory ya gue duluan Vin!" Sivia berlari meninggalkan DpR.

"Ada apa Fy?"

"Gue mau bicara."


***

Hembusan angin malam, begitu terasa menusuk setiap sendi tubuhnya. Ia tendang kerikil-kerikil kecil di sekitar komplek rumahnya. Berjalan menyusuri jalan-jalan kecil dan sampailah ia pada satu tempat yang membuat ia tertawa kecil. Mengingat satu masa dimana ia memulai segala perubahan.

[Flashback]

Tampaknya seorang gadis dan anak laki-laki berdiri di lapangan basket kecil yang berada di samping perumahan Asri-Jakarta sore itu. Mereka dengan sangat lincah, saling berkejaran dan merebut bola. Tidak mempedulikan setiap bulir-bulir keringat yang membasahi kaus seragam mereka dan rasa lelah yang melilit tiap sendi dalam tubuh mereka.

Anak laki-laki itu memandang gadis tomboi di hadapannya sambil berusha merebut bola di tangan gadis itu. "Lo fikir lo hebat?" kata anak laki-laki yang rupanya Cakka, pada gadis itu yang tak lain adalah Agni.

Agni balas menatap Cakka. Tapi tak lama setelah itu ia menunduk dan mulai fokus pada bolanya. "Dan lo fikir lo yang paling hebat dan jago dalam basket?"

"tidak. Ada yang lebih hebat."

Agni menaikan satu alisnya. "Oya? Siapa?" tanya Agni lagi. "Boleh gue melawannya?"

Cakka tertawa kecil dan dengan cepat merebut bola di tangan Agni begitu sadar Agni dalam posisi lengah. "Kaede Rukawa. Dan gue reinkarnasi dari dia." tunjuknya pada bola yang baru saja ia lepar. "Masuk!" lanjutnya saat bola meluncur dari ring dan memantul tanpa arah.

Agni memandang Cakka yang mulai berjalan ke arahnya. "Jadi gimana? Score 43-20. Kemenangan di tangan gue. Dan lo harus mau jadi cewek gue."

Agni diam membisu. Salahnya sendiri menantang Cakka yang memang saat itu ngejar-ngejar dia yang memang berada di posisi sebagai murid baru di SMAN-3. Ya, Agni menantang Cakka untuk mengalahkannya. Jika Cakka berhasil maka mau tak mau ia harus menjadi cewek cakka.

"Hei ! Cewek tomboi.. Mulai sekarang lo..."

"Tunggu sampai lo bisa ngalahin tokoh slam dunk dalam komik yang lo baca itu! Dan sampai kapanpun gue gak akan pernah mau jadi cewek lo." Agni balik kanan dan segera melangkah meninggalkan Cakka. Sebenarnya apa yang ada dalam hatinya tak seperti yang baru saja ia lafalkan. Hanya saja kabar anak-anak tentang title playboy Cakka, membuat ia berfikir beribu-ribu kali lipat untuk itu.

BRUKK!

Dengan segera Agni membalikan badannya begitu mendengar suara keras di belakangnya. Ia amati baik-baik apa yang sedang dilakukan Cakka. Dan dengan cepat ia menghampiri Cakka yang sudah ambruk di tempatnya tadi.

"Cakka! Woi! Lo kenapa?" Agni nepuk-nepuk pipi Cakka pelan. Ia benar-benar panik. Tak habis fikir Cakka akan pingsan tiba-tiba. Padahal tadi ia terlihat baik-baik saja.

Agni segera mengobrak-ngabrik tasnya dan mengambil minyak angin yang sengaja ia simpan dalam tasnya. Sedikit mengoleskannya di bawah hidung Cakka. "Kka! Sadar dong! Lo kenapa sih?"

Tak ada respon. Cakka tetap diam dan itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Agni mulai bingung. Tak ada satu orangpun yang melintas untuk diminta pertolongan.

"Aarggh? Gue kenapa?"

Agni terperanjat. Menatap Cakka yang sudah membuka matanya. "Cakka! Syukurlah.. Lo kenapa sih?" tanya Agni sambil membantu menegakkan tubuh Cakka.. "Apa lo...."

Cakka berdiri dari duduknya. "Lupakan itu!" katanya berjalan meninggalkan Agni.

Agni mengejar Cakka dan mulai menyamakan langkah kakinya

"Cakka! Bagaimana bisa gue lupakan hal itu? Lo pingsan tiba-tiba dan gue panik. Terus gue gak tahu lo kenapa. Disaat gue ingin tahu lo bilang gue harus melupakannya? Cakka! Apa yang lo sem..." ucapan Agni terpotong

"Gue kanker otak Ag! Dan lo gak perlu urusin gue! Gak perlu khawatirin gue! Karena lo bukan orang yang mau nemenin gue di sisa-sisa hidup gue."

Agni diam mematung di tempatnya. Kanker otak? Bahkan ia fikir Cakka baik-baik saja. Ia sama sekali tidak menyangka orang seperti Cakka menderita penyakit mematikan seperti itu.

"Sepicik itukah lo menilai gue Kka?!" teriak Agni.

Cakka menghentikan langkahnya.

"Gue mau jadi cewek lo Kka! Gue mau nemenin lo sampai lo sembuh. Gue juga suka sama lo Kka! Gue cinta lo dan itu tulus. Bukan karena lo kanker otak."

Cakka membalikan badannya dan memandang Agni serius. "Sungguh Ag?"

Meski sedikit heran, perlahan kepala Agni mengangguk mengiyakan.

[Flasbackend]

Setelah cukup lama Agni ditarik paksa menuju masa dua tahun yang lalu. Ia mulai tersadar dari lamunannya, saat medengar suara gelak tawa dan suara pantulan bola dari lapang basket.

Ia mendekati lapangan itu dan mulai memastikan apa yang sedang terjadi di tempat kenangan itu. Namun apa yang terjadi? Langkahnya tiba-tiba terhenti begitu melihat Cakka dan Acha berdiri di tengah lapang sambil bermain basket. Mereka tampak dekat dan akrab.

Tanpa fikir panjang. Agni segera berbalik dan berlari meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba saja ia merasakan sesak yang luar biasa menyelubungi paru-parunya. Cakka yang menyadari kehadiran Agni disana, dengan segera berlari meninggalkan Acha dan mengejar Agni.

***

Ify tampak tersenyum-senyum sendiri di bangku taman kota kali ini. Ia gerakan kakinya ke depan dan belakang dengan pelan. Menikmati suasana malam yang katakan saja indah dan cerah.

"Terimakasih Vin!" ujarnya menatap Alvin yang kini duduk di sampingnya. Ia juga menikmati suasana malam ini. Berkali-kali ia menghirup udara segar malam.

"Untuk?"

"Nemenin gue nonton lah..."

Alvin tersenyum simpul. "Kok lo kesannya resmi banget sih Fy? Biasa aja kali. Lagian itung-itung refreshing. Suntuk gue di rumah mulu. Harry Potter! Imajinasi hebat. Gue suka.

Ify tertawa pelan mendengar penuturan Alvin. Tak habis fikir ia akan semudah itu mengajak Alvin. Padahal sudah jelas dua hari lagi akan dilaksanakan LDK-Osis.

"Gue baru kali ini nonton Harpot. Gue fikir biasa aja. Tapi wah ya? Pantesan lo suka."

"Ye, kemana aja lo? Udah harpot 7 juga.." cibir Ify.

"Hei! Semua orang kan beda.. Lo juga belum tentu pernah nonton film keren lainnya. The lord of the ring misalnya, The faculty, twilight.. Dan.."

"Gue tipe setia ya! Cinta gue sama Daniel Radcliffe doang. Elijah wood sama Robert pattinson, lewat!" potong Ify.

"Yah. Gak ada kesempatan dong buat gue!" kata Alvin pelan. Nyaris tidak terdengar.

"Hah? Apa Vin? Sekali lagi..!" perintah Ify pura-pura tidak mendengar. Hatinya bergetar mendengar ungkapan Alvin.

"Ah.. Tidak Fy!" Alvin mengambil ponsel di dalam saku jaketnya. Salting. "Hm, fy.. Kesiswaan sama pembina osis tadi siang bikin gue pusing." Alvin mengalihkan pembicaraan.

"Oya?" respon Ify pendek.

"Shilla sih ngusulin sama gue acara LDK ini gak usah buat proposal. Abisan pembina sama kesiswaan ngotot namanya mesti tercantum di lembar pengesahan. Gue cantumkan dua-duanya. Eh, pembina nyuruh nama kesiswaan dihapus. Lah terus? Kesiswaan marah besar sama gue dan Shilla." curhat Alvin.

Ify tersenyum pasrah. Ia merasa malam ini mulai tidak nyaman. Sesungguhnya ia tidak suka melihat Alvin terus-terusan ditekan dengan beban-beban osis yang suka gak jelas karena perbedaan pendapat antara pembina osis dan kesiswaan.

Keadaan hening.

Sebelum akhirnya terlihat seseorang berlari ke arah mereka. Membuat Ify yang tahu siapa orang itu langsung berdiri dan menyambutnya. "Agni! Ya Tuhan lo kenapa?" tanya Ify begitu melihat Agni terisak hebat dengan air mata yang terus bercucuran dari mata beningnya.

Agni memandang Ify. Dan tak lama setelah itu ia memeluk Ify kuat berharap mendapat ketenangan dalam dekapan sahabatnya itu.

Meski bingung akhirnya Ify balas memeluk Agni. Tentunya setelah melirik Alvin sekilas dan melihat Alvin mengangguk menyetujui.

***

DPR kali ini cukup sunyi. Angin lembut yang memilih jalur timur membuat daun-daun mangifera indica berjatuhan tepat di dasar sungai. Yang kemudian berlayar menjauhi pohonnya.

Dan Shilla yang merupakan salah satu yang paling setia dengan tempat itu terlihat asyik dengan pena dan bukunya. Tak berniat meninggalkan si pohon rindang seperti daun-daun itu. Ehm.. Tapi ada seseorang di sampingnya kali ini. Bukan Rio, melainkan Cakka.

"Udah coba jelasin sama Agni Kka?" Shilla memulai pembicaraan karena sudah lama mereka larut dalam diam.

"Sudah Shil! Tapi agni ngehindar mulu dari gue. Padahal lo tahu sendirilah gue sama Acha itu gak lebih dari seorang adik dan kakak kelas."

"Oya? Beneran lo gak ada apa-apa sama Acha?"

"Kok lo gak percaya gitu sih sama gue?"

"Ya, gue sih bukan gak percaya. Cuman kejadian malam itu.. Kok lo bisa berduan gitu sih sama Acha?" singgung Shilla curiga, masih fokus pada bukunya.

Cakka menarik nafas sebelum menjelaskan. "Waktu itu gue lagi main basket sendirian Shil. Ya, itung-itung nostalgia awal hubungan gue sama Agni. Tapi, tiba-tiba aja Acha lewat. Hm.. Gue sedikit ajakin dia sih. Setelah itu, ya gitu.. Gue ajarin Acha basket."

"Kalau menurut gue sih. Lo jauhin Acha Kka! Inget lho perjuangan lo buat dapetin Agni susahnya gimana. Sampai-sampai lo pura-pura kanker lagi. Paksa-paksa kita bohonin Agni. Tapi pada Akhirnya Agni nerima kebohongan lo karena rupanya ia benar-benar cinta sama lo. Ia rela-relain berubah jadi feminim demi lo. Lah, sekarang lo malah sia-siain perjuangannya dengan dekat cewek lain."

Cakka memandang Shilla yang tetap asyik dengan bukunya. Ia membenarkan ucapan Shilla. Mengingat perjuangan Dia mendapatkan Agni dan perjuangan Agni berubah untuknya.

"Lo ngapain sih Shil?" tanya Cakka sambil mencuri-curi pandang ke arah buku Shilla.

"Buat cerpen Kka!"

"Pasti tokoh utamanya mati. Iyakan?" tebak Cakka mengingat sering sekali Shilla membuat cerpen untuk karya tulis di mading dengan akhir sad ending.

Shilla memandang Cakka sekilas. Kemudian tersenyum.

"Kenapa sih lo hobi banget nyiksa tokoh-tokoh cerpen lo?" tanya Cakka lagi.

"Gak tahu."

"Haha.. Psikopat lo!"

Shilla tertawa pelan. Ia sendiri tidak tahu kenapa menyukai akhir sad dalam cerpennya.

"Hebat ya lo! Udah nyakitin Agni sekarang deketin Shilla lagi."

Repleks tubuh Shilla dan Cakka berbalik begitu mendengar suara ganjil dari belakang. Iyel dengan tatapan marah dan kesalnya sudah berdiri di hadapan mereka.

"Eh lo Yel! Gue sama Shilla cuma duduk berdua kok." Jelas Cakka.

"Duduk berdua dengan jarak yang begitu dekat?"

"Lah, lo kayak gak tahu gue sama Shilla aja Yel? Emang udah biasakan tiap hari gue duduk berdua dengan Shilla?"

Iyel maju beberapa langkah. Sehingga jarak mereka begitu dekat. Shilla tampak bingung. Kenapa iyel seperti ini melihat ia dan Cakka. Padahal biasanya Iyel bersikap biasa melihat kedekatannya dengan Cakka.

"Lo kenapa sih Yel?" tanya Shilla.

Iyel tak merespon ucapan Shilla. Ia mendorong tubuh cakka. "Gue gak suka lo deket-deket Shilla!" Katanya mencekal kerah baju Cakka dengan kasar.

"Woii.. Lo apa-apaan sih Yel? Gue gak suka cara lo ya!" Cakka meronta melepaskan tangan Iyel dan sejurus kemudian memukul wajah Iyel.

Iyel tersungkur dan tak lama setelah itu bangkit dan memukul Cakka balik. Dan terjadilah aksi pukul-memukul antara Cakka dan Iyel dengan alasan yang tidak jelas.

"Hentikan! Kalian apa-apaan sih?" teriak Shilla. Namun, perkelahian itu tak kunjung berhenti. Shilla berlari meninggalkan dua orang di hadapannya.

"Shilla!" panggil Iyel menghentikan aksinya. Ia berlari mengejar Shilla. "Gue gak mau lihat lo deket lagi dengan Shilla." Ancam Iyel pada Cakka yang masih meringis menahan sakit.

Iyel berhasil meraih tangan Shilla. Dan membuat Shilla menghentikan langkahnya. "Shil gue.."

"Gue gak suka cara lo Yel! Lo bukan siapa-siapa gue! Lo gak berhak larang-larang gue dekat dengan siapapun!" tegas Shilla berusaha melepaskan cengkraman tangan Iyel yang menempel di pergelangan tangannya.

Iyel diam. Tak ada niat lagi untuk mengejar Shilla. Tindakan bodohnya benar-benar membuat orang yang dicintainya semakin jauh. Yang ia tahu hatinya sedang dimonopoli kekesalan dari satu pihak.

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea