Kamis, 19 Januari 2012

Problem Of Organization part 5 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 07.05

***

"Lagian lo apa-apaan sih Yel? Larang-larang Shilla deket Cakka? Lo tahu sendirilah, Shilla sama Cakka nyobatnya kaya apa. Bukannya bantuin Alvin tuh yang dari kemaren-kemaren dibikin pusing sama pembina osis dbn kesiswaan. Lah, elo? Malah sibuk ngurusin urusan orang. Lagian lo temprament banget sih! Sabar dikit napa?! Gak usah main tonjok-tonjokan kaya gini." Cerecos Sivia sambil membersihkan luka-luka memar di wajah Iyel. Ia tidak habis fikir akan menemukan Iyel dalam keadaan babak belur di dalam kelas sambil nendang-nendang meja tidak jelas.

"Gue udah berusaha sabar Vi! Dari dulu gue coba pasang tampang biasa kalau lihat Cakka deket-deket Shilla. Tapi, kemarin puncak sabar gue udah membludak Vi! Belum lagi Alvim yang terus-terusan ngebebani gue dengan tugas-tugas osis. Gue pusing Vi! Ya, dapat kesempatan lampiasin amarah gue sama Cakka. Kenapa tidak? Orang dia yang duluan pukul gue!" jelas Iyel sambil sesekali meringis menahan sakit karena sentuhan-sentuhan Sivia yang tidak ada kata lemah lembut.

Mendengar penjelasan Iyel, dengan cepat Sivia mendorong kepala Iyel pelan. "Dasar bodoh!" teriak Sivia biasanya. "Jadiin temen pelampiasan lagi lo. Childish banget lo Ye!"

"Auw! " teriak Iyel. "Kenapa sih lo sewot banget? Nia ngobatin apa nyiksa gue??"

Sivia memandang Iyel kesal. Bagaimanapun juga Sivia paling tidak bisa lihat orang terluka kaya gini. Apalagi sahabatnya yang berada di posisi itu. "Sory! Sini!" katanya mengarahkan wajah Iyel untuk menghadapnya. "Awas ya lo! Besok gue gak mau tahu. Lo mesti minta maaf sama Cakka. Gue gak mau acara LDK berantakan gara-gara konflik lo, Cakka dan Shilla membuat kepungurusan tidak kompak.

"Gak!!!" tegas Iyel.

"Egois banget sih lo Yel?"

"Peduli!"

Sivia menekan kapas di titik luka Iyel dengan kasar karena kasar.

"Auw! Sakit woi!"

"Pe-du-li." teriak Sivia lagi dengan penuh penekanan.

Iyel mendengus kesal.

***

Shilla memandang Alvin prihatin. Keadaannya sungguh acak-acakan. Sudah jelas! LDK kali ini gagal total! Ia mendapat teguran hebat dari pembina osis dan kesiswaan. Kegiataan di-cap ilegal, gara-gara kepala sekolah tidak menerima surat izin dari Osis karena memang Shilla sebagai sekretaris tidak membuat itu. Dan di saat terjadi kecelakaan hebat yang menimpa anak kelas satu calon pengurus osis yang diakibatkan oleh ketidakkompakan para senior. Pihak yayasan sama sekali acuh karena tidak tahu osis buat kegiatan LDK.

"Aarrgghh! Pusing gue..." teriak Alvin mengacak-ngacak rambutnya, kesal.

Suasana ruang osis yang memang begitu sepi, membuat suara Alvin menggema keras. Hanya Shilla dan Alvin yang saat ini benar-benar terpojok di ruangan osis sambil memikirkan perkataan pembina osis soal pertanggungjawaban kasus kecelakaan itu.

"Gue minta maaf Vin!" lirih Shilla yang waktu itu duduk di hadapan Alvin masih tertunduk di meja ketosnya.

"Gue yang salah Shil.."

"Gue yang ngusulin gak buat proposal dan surat izin, Vin!"

"Gue yang menyetujuinya.."

Keadaan hening. Benar-benar hening.

"Vin, gue minta maaf.."

Alvin mengangkat kepalanya. Memandang Shilla tajam. "Sudahlah Shil! Maaf lo gak bisa ngerubah segalanya. Semuanya gagal! Dan gue gak suka denger lo minta maaf mulu.." kata Alvin sambil memukul meja keras. Membuat Shilla kaget dibuatnya.

Shilla terpaku sejenak. Air matanya sudah berkumpul di pelupuk matanya. Ia tidak pernah dibentak oleh siapapun. Ia tidak pernah berada di posisi seperti saat ini. Shilla memalingkan wajahnya dan setelah itu ia keluar ruangan dan berlari meninggalkan Alvin dengan air mata yang sudah berjatuhan di pipinya.

Ia berlari dan terus berlari, hingga pada akhirnya ia merasakan tangan seseorang menempel di tangannya.

"Lo kenapa Shil?" tanya pemilik suara yang tak lain adalah Cakka.

Shilla memandang Cakka di balik bulir-bulir air matanya. Dan tanpa fikir panjang ia langsung memeluk tubuh orang yang kini berdiri di hadapannya. Yang ia fikirkan saat ini ketenangan. Tidak peduli siapa  orang yang mampu menenangkannya.

"Alvin bentak gue Kka!" jelas Shilla terisak. "Gue.. Gue benci dia!"

Cakka tak mengerti dengan apa yang terjadi. Tapi ia tahu masalah osis dan Alvin lah yang membuat Shilla menangis seperti ini. Perlahan tangan Cakka mengelus punggung Shilla pelan.

Dan itu berlangsung selam beberapa menit. Mereka tenggelam dalam pelukan itu dengan lapangan basket outdoor sekolah sebagai latar. Sebelum akhirnya..

"B*****K LO KKA! APA YANG LO LAKUKAN SAMA SHILLA!"

Cakka terpaksa melepaskan pelukan Shilla begitu seseorang mendorongnya kasar. Ia pandang dengan tajam orang itu, yang tak lain adalah Iyel. Tak lama setelah itu ia pandang orang-orang di sekelilingnya. Sudah berdiri, Agni dengan tampang marah dan mata berkaca-kaca. Sivia yang menggantikan posisinya untuk menenangkan Shilla. Dan Rio yang berdiri tegak di samping Agni.

"F*CK LO KKA! LO NGAPAIN SHILLA SAMPAI DIA NANGIS KAYA GITU?" Teriak Iyel kali ini sambil mukul wajah Cakka.

Agni yang melihat adegan itu hanya terisak dan berlaru meninggalkan lapangan. Ada rasa sakit yang teramat dalam di sanubarinya. Ia berfikir Cakka pantas mendapatkan itu dari Iyel. Tapi, ia tidak menerima itu.

Rio memandang Agni sekilas saat Agni melangkah menjauhinya. Kemudian melangkah maju. Mencoba memisahkan Iyel dan Cakka yang sudah bertindak anarkis. Ia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi antara kakak kelasnya itu. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan kali ini.

"Kka! Sudahlah!" Rio menarik tangan Iyel yang rupanya lebih bernafsu memukul Cakka. Rio berhasil membuat Iyel diam meskipun ia berkali-kali memberontak dan membabibuta.

Cakka terengah-engah mengatur nafas. "KALAU BEGITU LO TANYAIN SAMA DIA!!" tunjuk Cakka pada Alvin yang tengah berjalan ke arah mereka bersama Ify di sampingnya. "Apa yang dia lakukan sama Shilla??!!"

Iyel mengalihkan pandangan menusuknya pada Alvin. Dan kembali memberontak mencoba melepaskan genggaman tangan Rio. Rio yang postur tubuhnya lebih kecil dari Iyel, segera melepaskannya sebelum Iyel balik menyerangnya. Sementara Cakka memilih meninggalkan lapangan dan mencari Agni karena baginya itu yang lebih penting.

Sivia yang tahu kondisi Iyel yang temprament-nya sudah naik ke stadium kacau, segera melepaskan pelukan Shilla dan memberikan kode pada Rio untuk menjaga Shilla yang suka ambruk tiba-tiba dalam keadaan shock seperti saat ini. Ia berlari ke arah Iyel yang sudah berhadapan dengan Alvin.

"Yel! Lo kenapa sih?" Sivia berdiri diantara Alvin dan Iyel.

Iyel memberi isyarat pada Sivia untuk menghindar. Tapi Sivia tetap tidak beranjak dari tempatnya. Menghindar sama dengan meniupkan terompet peperangan untuk Iyel dan Alvin.

"Gue tahu lo sayang Shilla Yel. Gue tahu lo over Love sama Shilla! Tapi, please, gak usah gini juga kali!" nasihat Sivia yang kebingungannya sudah menggunung menyikapi sikap aneh Iyel 2 hari ini.

"LO GAK TAHU APA-APA VI! DAN BIAR GUE KASIH PELAJARAN ORANG YANG GAK PERNAH HARGAIN ORANG LAIN DI HADAPAN GUE SAAT INI!!" dengan keras Iyel mendorong tubuh Sivia untuk menjauh.

Sivia yang berada dalam posisi kurang siap, terhuyung dan hampir jatuh. Beruntung Ify yang sejak tadi berdiri di samping Alvin, menahannya.

"Gue gak suka cara lo!" kata Alvin santai tapi menantang. "gue gak suka lo main kasar sama Sivia! Ok. Sama gue ataupun Cakka gue masih bisa terima. Tapi, kalau lo lakuin sama cewek jangan harap gue bisa diam aja!" Alvin yang sejak tadi diam menunggu reaksi Iyel, akhirnya marah juga melihat Iyel mendorong tubuh Sivia. "Gue tahu, bukan cuma Shilla yang jadi pemicu lo kaya gini. Lo marah sama gue kan Yel? Gue minta maaf soal itu. Dan gue..."

Belum sempat Alvin melanjutkan kalimatnya, tahu-tahu Iyel sudah memukul wajahnya yang langsung menghasilkan darah dari sudut-sudut bibirnya "Gue juga gak suka cara lo Vin! Gue benar-benar gak menyangka lo bisa berfikir seperti itu sama gue!" seru Iyel masih terus memukul wajah Alvin.

"Lo gak ngerasain posisi gue Ye! Lo gak tahu gue bagaimana susahnya!"

Iyel menghentikan aksinya. Ia memandang Alvin dengan tajam. "Dan apa yang sudah lo perbuat sama Shilla sampai dia nangis kaya gitu hah?"

"Ok! Yang itu gue salah. Tapi lo tahu...."

Lagi-lagi Alvin tidak berhasil menjelaskan maksudnya karena sebuah pukulan sudah melayang mengenai perutnya dengan kasar. Kondisi Alvin yang memang saat itu begitu labil atau memang ada sesuatu, membuatnya menjatuhkan lututnya dan memuntahkan darah yang cukup banyak karena pukulan itu jatuh tepat di ulu hatinya. Dan itu menimbulkan kepanikan dari orang-orang di sekitarnya. Tak terkecuali Iyel.

"Kak Shilla!" suara Rio terdengar nyaring. Ia berusaha menahan tubuhnya Shilla yang memang sudah tidak sadarkan diri.

"Bawa Shilla pulang Yo!" Ify melemparkan kunci mobilnya ke arah Rio dan segera menyambar tubuh Alvin yang masih berlutut di hadapan Iyel.

Iyel sendiri yang panik melihat Alvin seperti itu, diam membatu menatap Alvin. Sivia dengan cepat menarik tangan Iyel untuk menjauh dari Ify dan Alvin.

"Vin!" Ify mengangkat kepala Alvin yang tertunduk. Berbagai luka lebam sudah menghiasi wajah itu. Darah belepotan di sekitar bibirnya yang tampak membiru.

"Gu..gue.. Hh..baik Fy!" desah Alvin menahan sakit sambil mencoba berdiri. Namun jauh dari tegak sempurna, Alvin sudah hampir terjatuh lagi. Membuat Ify bersusah payah menahan tubuh itu.

"Biar gue yang bawa mobil lo!" katanya sambil memapah Alvin sampai parkiran sekolah.

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea