Jumat, 20 Januari 2012

Problem Of Organization Part 6 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.36
***

Terkadang rasa sayang yang ada dalam hati, mengalahkan segala sakit yang pernah ditorehkan oleh orang yang kita sayangi. Semuanya akan terlupa begitu ia kembali mendekap kita hangat. Dengan ketenangan dan sentuhan untuk jiwa sebagai obat mujarab. Ya! Itu karena kita sayang dia.

Hanya diam yang kini menyelimuti suasana lapangan basket itu. Tak satupun dari mereka yang mau memulai pembicaraan. Berkali-kali Cakka mengalihkan tatapannya pada Agni yang duduk di sampingnya. Ia sudah tidak menangis, tapi begitu tampak dalam raut wajahnya kesedihan dan kekecewaan yang mendalam.

Cakka yang sudah beberapa jam yang lalu mencari Agni yang entah kemana. Pada akhirnya menemukan sosok itu di tempat yang pernah menuai kenangan indah antara mereka.

"Gue minta maaf Ag!" Akhirnya Cakka mulai mengeluarkan suara. Sedikit mengusik keheningan di malam itu.

Agni diam. Tak merespon ucapan Cakka.

Cakka tak menyerah. Ia memegang pundak Agni dan mengarahkannya untuk saling berhadapan dengannya. Namun bukan balas menatap Cakka, Agni malah menunduk. Tak berani mensejajarkan matanya dengan mata Cakka. Seolah bola mata itu bagai sharinggan clan Uchiha yang mampu membunuhnya.

"Ag! Gue mohon, maafin gue!" lirih Cakka.

Entah karena luka itu terlalu dalam tergores. Membuat Agni menjadi bisu dan tak mempedulikan ucapan Cakka.

"Setidaknya lo lihat gue sekilas Ag!"

Agni tetap bergeming.

Cakka mendesah dan melepaskan cengkraman tangannya dari pundah Agni. Kemudian mengalihkan pandangannya ke depan. "Gue gak peduli lo dengerin omongan gue atau ngga! Tapi yang pasti gue sama Acha gak ada apa-apa. Waktu itu hanya kebetulan Acha lewat. Walaupun sebenarnya gue ajakin dia main basket bareng. Tapi, gue beneran gak ada apa-apa kita hanya sebatas adik dan kakak kelas. Sementara Shilla..." Cakka menggantungkan kalimatnya. Mencari kata yang tepat untuk menjelaskan dengan sebaik-baiknya.

Agni menoleh sedikit ke arah Cakka. Alasan itulah yang ingin Agni dapatkan dari Cakka. Meski hanya beberapa detik melihat Cakka yang tak menyadari itu, ia merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya. Luka-luka memar akibat pukulan Iyel di wajah Cakka, membuat ia tak ingin menambahkan hukuman untuk Cakka dengan mendiamkannya.

"Shilla tadi tiba-tiba peluk gue Ag! Gue yang memang sahabat paling deket sama dia, gak bisa lihat dia kaya gitu. Lo ngerti ya Ag? Lo tahu sendiri Shilla kan? Seumur-umur Shilla tidak pernah dibentak siapapun. Dan saat gue tahu Alvin bentak-bentak dia, gue marah Ag! Dan gue berusaha nenangin Shilla. Tapi bukan berarti gue ada hati sama Shilla. Cinta gue sama lo doang Ag!"

Bukan merespon ucapan Cakka, Agni malah asyik natapi ujung-ujung sepatunya. Sebenarnya bukan itu yang ia inginkan. Hanya saja ia ingin memberi sedikit pelajaran untuk Cakka.

Cakka mendesah kembali. "Gue bingung Ag harus jelasin apa lagi. Gue gak bisa pake cara kuno gue seperti dulu, dengan pura-pura kanker buat dapatin maaf lo. Tapi, setidaknya lo mau peduliin gue yang udah babak belur gini Ag!"

Agni berdiri dari duduknya, meninggalkan Cakka. Bukan ia tidak peduli dengan keadaan Cakka. Karena sebenarnya ia lebih terluka melihat luka-luka itu. Hanya saja, semakin lama ia mendengar penuturan Cakka, semakin nyata luka yang ia rasa.

Dan Cakka terpaku di tempatnya. Tak ingin mengejar gadis di hadapannya yang semakin menjauh. *

Ia duduk sendiri di sebuah ruangan yang didominasi warna kuning hijau itu. Sepi. Itulah yang ia rasa. Hatinya bertanya-tanya kemana penghuni rumah itu?

"Den Rio!"

Tiba-tiba panggiln seseorang mengibaskan sedikit rasa sepi di sekitarnya. Ia memandang Bi Irna, pembantu rumah itu yang kini ada di sampingnya. "Ya Bi? Gimana Kak Shilla?" Tanya Rio yang rupanya saat itu sedang berada di rumah Shilla.

"Non Shilla masih belum sadarkan diri. Itu Den, jangan dulu pulang ya? bibi mau ke super market dulu. Sebentar saja! Takutnya..."

Belum juga bi Irna melanjutkan maksudnya, Rio sudah memotongnya. "Ya udah bi, gak apa-apa. Rio tunggu disini sampai Kak Shilla sadar." Kata Rio mengingat tadi dapat SMS dari Ify dan Sivia untuk nungguiN Shilla yang memang hidup sendiri, ditemani pembantu setianya, Bi Irna karena orang tuanya sibuk bekerja.

Merasa bosan di ruang tamu, rio beranjak menaiki undakan tangga. Bermaksud menengok Shilla di kamarnya. Perlahan tangannya memegang handel pintu dan membuka pintunya. Terlihat Shilla yang masih tertidur. Ia masuk dan berjalan beberapa langkah dengan membiarkan pintu terbuka. Kemudian duduk di meja belajar Shilla dan sedikit mengamati kamar dengan warna ungu cerah itu.

Pandangannya terhenti pada laptop yang kini ada di dekatnya. Laptop itu terbuka dengan layar yang gelap. Iseng-iseng, Rio memencet salah satu tombol di keyboard yang membuat layar laptop itu menyala.

"Loh? Ko hidup?" Bisik Rio pelan sambil mengamati tulisan apa di baliknya. Mirip sebuah blog. Sekilas ia melirikg ke arah address bar. Ia tersenyum dan mulai tertarik membaca itu.

Ashillazahrantiara.blogspot.com

Dari Kata Untuk Mencintainya.


Ini tentang dia.

Dia yang selalu membuatku tertawa.
setiap kali kudekat dengannya. Dia yang selalu membuatku larut dalam ketidakpercayaan dan keterpaan. Dan itu membuatku semakin menggìlainya.
Aku mencintainya seperti aku mencintai kata. Kata hatiku yang selama dua tahun ini tertulis di lembaran hatiku.

Dia, Mario S.A.H.


Rio terenyuh saat menemukan namanya tertantum di akhir postingan blog Shilla. Benarkah Shilla menyukainya? Atau ini hanya main-main saja? tidak! Tidak mungkin ini hanya permainan. Sudah jelas namanya tertulis sebagai orang yang Shilla cintai. Dan karena Shilla termasuk orang yang banyak diam dan lebih suka menuangkan rasanya dalam tulisan, sehingga ia tidak menyadari ada kakak kelas yang mencintainya.

Err...

Rio segera menutup laptop itu dan beralih menatap Shilla yang mencoba bangkit dari tidurnya.

"Kak?" Rio beranjak dari duduknya. Membantu menegakkan tubuh Shilla.

Shilla mengerjap beberapa kali. Memastikan siapa yang ada di hadapannya. "Rio?" tebaknya.

"Iya Kak?"

"Alvin bagaimana? Apa dia baik?"

Rio mengamati Shilla yang masih mencoba memulihkan kesadarannya. Rupanya ia masih ingat kejadian beberapa jam yang lalu. Yang membuat Rio heran, kenpa justru Alvin yang sudah membuatnya menangis yang ia tanyakan? Kenapa bukan Iyel yang berusaha membelanya?

"Eng? Kak Alvin.. mm.. entahlah!"

Shilla yang merasa tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Rio, sepera mengambil ponse5nya yang terletak di atas meja kecil di samping tempat tidurnya dan menghubungi seseorang. Namun beberapa kali mencoba, hanya miss. Veronica yang memberi tahu nomor yang sedang dituju berada di luar jangkauan, yang ia dengar.

"Ehm!"

Shilla mengalihkan pandangannya pada Rio yang sedikit ia acuhkan. "Maaf! Aku hanya khawatir pada Alvin. Pada Cakka juga." Ujar Shilla pelan. Ia menunduk dalam-dalam. "Mereka terluka karena aku!" Tiba-tiba saja dua bulir air mata jatuh di pipi Shilla. Disusul dengan buliran-buliran lain yang menghasilkan linangan air mata.

Seolah merasakan apa yang Shilla rasakan, Rio memeluk kakak kelasnya itu. Entahlah kenapa ia memilih cara itu. "Bukan Kak! Ini bukan salah Kakak. Osislah yang memulai segalanya."

Shilla berhenti berbicara. Ia diam dalam dekapan Rio. Hangat dan tenang! Itulah yang ia rasakan.

*

Ify mengamati luka-luka di wajah Alvin. Mengompresnya. Sesekali Alvin meringis saat Ify menekan di tiap titik luka-luka lebam itu.

"Ehm Vin! Sakit ya?" tanya Ify memaksa tubuh Alvin tersandar di punggung sofa.

Alvin tersenyum kecil. "Lo fikir ini acting apa? Ya sakitlah Fy," celetuk Alvin agak tidak jelas karena masih kesusahan untuk membuka mulutnya.

"Iyel keterlaluan banget sih!" Ify membereskan alat-alat P3K yang baru ia gunakan.

"Hahaha... lupakan saja! semuanya salah gue kok."

"Loh?" Respon Ify heran.

(flashback)

"lo bilang lo sayang sama Shilla. Tapi lo gak sedikitpun bantu dia!" Suara Alvin terdengar nyaring di ruang osis siang itu.

Iyel yang menjadi lawan bicara Alvin, menatap Alvin tajam. "Shilla lebih butuh lo daripada gue." ujarnya kembali menekuni pekerjaannya.

"Ya, setidaknya lo bantu dia! Atau lebih tepatnya bantu gue karena lo waketos! Bukan karena Shilla butuh lo atau nggak." Komentar Alvin bijak.

"Iya! Dan setelah itu, semua orang nganggep semua kegiatan osis ini sukses karena hasil kerja keras lo?!"

"Yel! Osis itu organisasi. Yang artinya kerja tim! Punya tugas masing-masing. Sukses atau ngganya ya ditanggung bersama. Lo kenapa sih?"

"Gue gak suka lo recokin gue kaya gini Vin! Gue gak suka lo gak hargain gue kaya gini. Lo bilang gue gak ada kerjanya sebagai waketos. Lah, terus apa yang gue lakukan selama ini?" Kata Iyel dengan nada cukup tinggi.

"Kerja apa Yel? Selama ini lo banyak diem tahu gak?" Seru Alvin mulai emosi. "So, sory! Maksud gue..." sambungnya cepat begitu merasa ada kata-kata yang tak enak terucap.

"Sudahlah! Gue muak sama lo Vin!" Iyel keluar ruang osis sambil membanting pintu.

Alvin menghela nafas. Rasa menyesal tiba-tiba menyeruak masuk dalam fikirannya. Mungkin beberapa masalah antara ia dan pembina osis serta kesiswaan membuat ia lebih sensitif saat itu.

(Flashbackend)

"Ya, tapi gak usah segitunya kali Si Iyel! Masalahnya spele juga. Kok jadinya malah maen pukul segala sih?" Protes Ify sambil mengamati rumah Alvin yang terlihat sepi. Sangat sepi tepatnya.

"Sudahlah! Salah gue juga sih ngomong kaya gitu. Sepertinya gue harus belajar menghargai orang lain deh" Kata Alvin dengan mata terpejam. Merasakan setiap inci rasa sakit yang menjalar di tubuhnya. Terutama di bagian perutnya yang sempat jadi objek pukulan Iyel. "Lagian osis kita ribet banget sih!"

"Kalau gue punya ilmu sihir, gue bejek-bejek tuh si Iyel pake mantra expecto partonum." cerocos Ify kesal sendiri.

"Lo fikir Iyel dementor apa?" Komen Alvin tetap pada posisinya.

"Haha.. Voldemort Vin! Abisan jahat banget. Eh, ini, ini siapa ya Vin?"Tunjuk Ify pada foto seorang anak kecil yang sedang berdiri di samping Alvin-kecìl, pada bingkai foto yang kini digenggamnya.

"Sepupu gue. Lintar namanya. Dia dapat beasiswa di Den Haag tahun kemaren. Kerenkan?" Jelas Alvin terpaksa membuka matanya dan melihat Ify yang begitu asyik mengamati foto itu.

"Kedip Neng! Kelilipan tahu rasa lo!" Alvin menyenggol Ify dengan sikutnya. Dan gerakan kecil itu membuat perutnya semakin sakit.

Ify tersenyum." Kenalin ke gue ya entar?"

Alvin mengangkat satu Alisnya. Bingung. "Siip! Entar gu... Argh!" belum selesai Alvin bicara, ia mengerang kesakitan. Memegang pinggang atasnya dengan kuat.

Ify yang menyadari itu, langsung menyimpan foto di tangannya dengan asal dan segera merengkuh Alvin. "Vin! Sakit ya? Kita ke rumah sakit aja yuk! Gue takut lo kenapa-napa. Gue taku ada luka dalam akibat pukulan Iyel itu. Mau ya? Gue.. gue.. yakin lo kenapa-napa!"

"Hei! Lo kok hh... jadi.. panik gitu sih? Hah.. hah.. gue, hanya butuh.. hh.. istirahat Fy!" Ujar Alvin terengah-engah.

Ify menarik Alvin dalam pelukannya. Alvin masih menahan sakit dalam dekapan Ify. Hingga akhirnya, ia merasa tubuhnya ringan, ringan dan ringan. Perlahan kesadarannya menipis dan hilang.

Ify diam. Masih mendekap Alvin. Sesungguhnya ia terlalu takut untuk ini.

TBC

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea