Sabtu, 21 Januari 2012

Problem Of Organization part 7 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 02.46
 ***

Overboard-Justin Bieber mengalun lembut di balik headseatnya. Membuat langkah beratnya terasa ringan. Entahlah, lagu-lagu itu selalu bisa menghilangkan sedikit rasa gelisah dan perasaan-perasaan tak enak lainnya yang terendap dalam hatinya.

"Agni!"

Seseorang berlari mengejar Agni. Agni menghentikan langkahnya dan membalikan badan. Memandang siapa yang sedang berlari ke arahnya.

"Hah... hah... gue gue... min..minta maaf!" ujar Shilla berdiri di hadapan Agni sambil mengatur nafas. Ia meletakan telapak tangannya di lututnya. Membungkuk seolah habis berlari dalam jarak ratusan kilo. Ia terlihat begitu lelah.

Agni tersenyum. Lalu melepas headseatnya dan mengajak Shilla duduk di tangga sekolah yang baru saja Shilla naiki. "Gak apa-apa Shil. Gue udah tahu penjelasannya dari Cakka."

"Lo udah baikan sama Cakka Ag?" Tanya Shilla antusias.

"Belum Shil. Tapi lo gak perlu khawatir! Gue gak maafin Cakka bukan karena lo kok. Gue hanya ingin memberikan sedikit pelajaran buat sahabat lo itu. Gak apa-apa kan?"

Shilla mengangguk dan ikut tertawa. Agni tertawa juga. Ia tidak menyangka akan semudah itu kembali dekat dengan Shilla. Entahlah, kenapa ia tidak bisa benci sama gadis satu itu.

"Ag, Shil, lo berdua disini?" Ify berjalan menaiki tangga. Bersama Rio di sampingnya.

Shilla berdiri dari duduknya. "Fy, Alvin bagaimana? Dia baik kan? Semalam gue coba hubungi dia. Tapi gak bisa. Gue minta maaf bange ya?" Ujar Shilla tulus.

Ify tersenyum heran. Pasalnya belum pernah ia melihat Shilla yang biasanya tenang jadi nyerocos seperti ini. "Lo gak salah sama gue kali Shil." Ia memandang Shilla yang langsung memasang wajah lega. "Cakka, Iyel gak masuk ya? Alvin di rumah sakit."

"Hah? Rumah sakit? Kenapa Fy?" tanya semuanya hampir kompak.

"Eits, kompak banget lo pada! Apa sebegitu berharganya seorang Alvin jonathan sampai dia dikhawatirin banyak orang termasuk gue? haha.." Ify mengingat-ngingat bahwa kemarin ia orang paling cemas terhadap keadaan Alvin.

"Ehm, kata siapa gue di rumah sakit?" Alvin dengan santainya berdiri di bawah tangga. Memandang teman-temannya yang terbengong-bengong melihat kehadirannya, terutama Ify.

Ify turun ke bawah. Diikuti oleh yang lainnya. "Ngapain lo ke sekolah? Muka udah kaya mayat hidup juga. Masih aja berkeliaran di sekolah. Udah bagus diam di rumah sakit!" Cerocos Ify pura-pura kesal.

Alvin hanya terkekeh mendengar cerocosan Ify yang menurutnya terlalu berlebihan. "Yaelah Fy, gue baik kali. Kalo urusan pucet, ini tubh bukan pucet, tapi kulit gue kan udah putih dari sononya."

"Lagian mau apa sih lo kesini?"

"Sekolah lah fy! sekalian mau nyelesain urusan gue sama P.O dan kesiswaan, juga anak-anak Osis, tak lupa Ashilla Zahrantiara." Alvin memandang Shilla yang kali ini berdiri dì samping Rio dengan raut wajah yang tidak menggambarkan kalimat.

"Shilla!" panggil Sivia berdiri di samping Alvin. "Gue nyariin lo dari tadi."

"Untuk apa?" "Ini aku mau ini!" Sivia menunjukan kertas biru muda yang langsung mendapat tatapan aneh dari Alvin, Rio dan Agni serta Ify. Tentunya tatapan aneh yang berbeda beda. "Tolong balesin puisi ini ya?"

"Ye, urusan itu entar dulu, sekarang Shilla mau nyelesain urusannya sama gue!" Tanpa izin, Alvin langsung narik tangan Shilla. Menjauh dari semuanya.

Shilla sedikit menengok ke arah Ify dan mendapat anggukan kecil yang artinya tak perlu khawatir.

***

Cakka memandang tiang ring basket yang jauh dari hadapannya, sambil mendrible bola. Keringat bercucuran membasahi kaus hitam bercorak biru yang saat ini ia kenakan. Sudah dua jam ini ia berdiri di lapangan basket berukuran kecil di belakang rumahnya, tanpa mempedulikan rasa lelah yang hampir menguasai sebagian anggota tubuhnya.

"Lo kenapa sih Kka? Udah bolos sekolah, di panggil ngga nyahut, ditanya gak jawab, disuruh sarapan gak mau, maunya apa sih? Udah dua jam lo gitu-gitu terus." Cerocos seorang cewek yang kini berdiri di ambang pintu belakang rumah yang tak lain adalah Angel, Kakak kandung Cakka.

Cakka tidak merespon ucapan Angel dan malah sibuk melempar bola yang tak juga masuk ke dalam ring. Dan itu berlangsung selama beberapa kali.

Angel yang merasa dicuekin dan benar-benar di cuekin, kembali masuk ke dalam rumah. Menyerah membujuk adiknya yang dari kemarin badmood tanpa ampun kepada semua penghuni rumah. Belum lagi luka-luka memar di wajahnya membuat semua orang di dalam rumah heran dan khawatir.

"AARRGGHH...!"

Angel buru-buru keluar kembali begitu mendengar teriakan Cakka. Di lihatnya Cakka duduk di tengah lapang sambil mengacak-ngacak rambutnya. Terlihat seperti orang frustasi stadium gawat.

"Cewek nyusahin! Bikin gue keki aja!" maki Cakka sambil melempar bola dengan keras tanpa arah. Dan . ...

BRAAKK!

Sebuah pot bunga di teras rumah pecah. dan dengan dinginnya Cakka acuh dan tidak peduli.

Angel berjalan menghampiri Cakka dan berjongkok di depannya. Mengamati Cakka serius. " lo kenapa sih dek? gak berminat cerita sama gue? Cerita dong! Darip ada marah-marah gaje, rusakin bunga mama, bikin gue panik dan cemas. Selama ada orang yang ia percaya, masaslah itu bukan buat disimpan sendiri! tapi untuk di bagi dan di selesaikan bersama."

Cakka memandang Angel. Memperhatikan kakak tunggalnya yang baru beberapa hari ini ada di rumah setelah seminggu yang lalu menyelesaikan ujian smptn. "Itu terlalu berlebihan. Gue bisa nyelesain masalah gue sendiri!" Cakka berlalu meninggalkan Angel .

"Huft! Dasar anak laki-laki. Selalu begitu." Desah Angel pelan dan berjalan ke arah pot bunga yang pecah. Untuk di bereskan.

*

Keadaan ruangan ini sungguh sulit untuk digambarkan. Berbai gulungan kertas HVS berserakan dimana-mana. Bermacam-macam spidol dengan berbagai warna tergeletak asal-asalan. Dan Iyel yang membuat kamarnya tampak seperti kapal pecah itu duduk di meja belarnya sambil nyorat-nyoret buku gak jelas. Ia menidurkan kepalanya di tangan kirinya dan menghadap ke kanan.

Sebelumnya ia masih bisa membuat grafity yang indah untuk Shilla. Tapi saat ini, jangankan menggerakan tangannya untuk itu. Ia merasa semuanya terasa kaku. Perasaan bersalahnya terus mengambil alih seluruh rasa dalam hatinya.
Percakapan terakhirnya dengan Sivia terus berputar tiada henti di separuh ruang dalam otaknya.

[Flashback]

Sudah kedua kalinya mereka duduk di UKS yang sama dan dalam keadaan juga posisi yang sama. Tak ada suara, hanya erangan-erangan kecil Iyel ketika Sivia mengobati luka-lukanya.

Iyel mengamati Sivia yang masih diam. Heran sendiri kenapa Sivia tidak seperti biasanya. Ia memegang tangan Sivia dan menghentikan aktivitas Sivia. "Vi, lo marah sama gue? Soal dorongan gue tadi..."

Via melepaskan genggaman tangan Iyel dan kembali menekuni aktifitasnya. Setelah semua merasa selesai, dengan segera membereskan kotak P3K di hadapannya.

"Via!" Iyel berdiri dari duduknya dan memegang tangan Sivia kuat.

Via memandang Iyel serius."Jangan ngomong apapun Yel sebelum rasa keki gue sama lo hilang!" Serunya kembali menampik tangan Iyel.

"Kenapa sih lo Vi?"

"lo masih tanya kenapa? Udah tahu gue gak suka cara lo! Lo lukai Cakka. Lo hampir melumpuhkan Alvin! gue gak suka Yel! Gue gak bisa lihat sahabat-sahabat gue apalagi Alvin lo buat tepar karena emosi lo!"

"Cukup Vi! Lo jangan pernah sebut-sebut nama Alvin di hadapan gue' Kenapa sih semua orang begitu peduli sama dia? Sementara sama gue? Kalian selalu menspesialkan Alvin. Kenapa kalian semua selalu khawatirin Alvin seperti mengkhawatirkan penderita kanker yang sebentar lagi akan mati sih?"

"Lo ngomong apa sih Yel? Pantesan Alvin gak hargain lo. Lo aja gak pernah hargain gue yang selama ini peduli sama lo. Lo fikir siapa yang mau ngobatin lo hah? Siapa yang gak khawatir lihat lo kaya gini? Kalo gue gak peduli, gue gak akan ada disini tuk yang kedua kalinya. Tahu gini gue lebih milih ikut Ify atau Rio untuk peduliin Alvin atau Shilla." Sivia keluar UKS dan berlari menjauhinya. Tangisnya sudah pecah di hadapan Iyel tadi.

[Flashback end]

Iyel terhenyak begitu mendengar ponselnya berbunyi.

"Al calling"

Iyel menekan tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinganya.

"Hallo Yel! Gue mau bicara sama lo." Suara di balik telepon.

"Gue sibuk Vin!"

Tut..tut..tut..

Dengan cepat Iyel menutup ponselnya dan menghentikan pembicaraan sebelah pihak. Sebenarnya ia ingin saja mendengar pembicaraan Alvin. Tapi ia adalah Iyel dan Iyel yang egois dan gengsian.

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea