Senin, 20 Februari 2012

Alvin! (Cerpen Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 18.12
***

Seperti biasa, gadis dengan nametag, Ashilla Zahrantiara di dada kanannya. Dengan antusias menyorotkan handycame ke arah laki-laki yang saat ini sedang duduk di hadapannya. Ia tersenyum, tersenyum lebar. Melihat beberapa kali laki-laki itu menghindar dari sorotannya.

"Hentikan Shilla! Kenapa kau hobi sekali menyorotku?" protes laki-laki itu sembari mengocek-ngocek jus jeruknya.

Shilla tertawa pelan. Gabriel steven, teman baiknya yang membuat ia tidak mau melepaskan camera hitam polosnya itu untuk mengambil gambar wajah tampan laki-laki itu. Baginya gambar dan gaya-gaya iyel dalam cameranya itu selalu tampak lucu dan keren dalam segi manapun. Dan ia mengagumi laki-laki itu.

"Alvin, Via lama banget ya?" Shilla mulai menyerah dan segera mematikan handycamenya. Ia meraih es crime cokelatnya yang sedari tadi diacuhkan.

Iyel celingukan mengamati keadaan café Alvz yang menjadi latarnya saat ini. Sudah hampir setengah jam ia duduk berdua bersama Shilla di café itu. Menunggu Alvin dan Sivia yang merupakan teman baiknya untuk mendiskusikan sesuatu.

"Sory telat nih!" Via duduk di samping Shilla. Diikuti oleh Alvin yang memilih duduk di samping Iyel. Berhadapan dengan Shilla.

"Lama banget sih kalian. Molor waktu berapa jam coba?" protes Iyel pura-pura kesal.

Alvin hanya nyengir mendengar protesan Iyel. "Itu tuh Via! Laptopnya ngadat, jadi kita terpaksa mampir dulu ke warnet buat copas bahannya." Jelas Alvin sambil mengambil alih camera yang sudah kembali Shilla operasikan.

Shilla cemberut. "Ish, kebiasaan deh.." gerutunya sebal.

Alvin tertawa sembari mengarahkan camera itu kepada Shilla. Shilla cuek aja sambil membaca tumpukan kertas yang baru saja sivia berikan. Sivia memandang Alvin tidak suka. Ia selalu merasa tiba-tiba api neraka menghantamnya. Membuat hatinya terbakar. Cemburu!

"Jadi gimana nih Yel konsepnya??" tanya Alvin masih fokus pada pekerjaan gak jelasnya.

"Ya, tergantung bahan yang dibuat Via, Al.." jawab Iyel heran sendiri melihat Alvin nyorot-nyorot Shilla seperti itu. Mungkin ia merasa tidak suka dengan aksi itu.

Shilla memandang Alvin dan Iyel juga Sivia bergantian. "Vi, keren nih bahannya.." puji Shilla setelah memandang Iyel dan Alvin lagi.

Sivia tidak merespon ucapan Shilla. Mendelik melihat Alvin. "Yang ini konsepnya pasaran. Aku akan membuat yang lebih wah. Siapkan aja semuanya..." Sivia berdiri dari duduknya. Meninggalkan cafe setelah sebelumnya melirik ke arah Alvin yang masih sok sibuk dengan kameranya. Ralat! Camera Shilla.

Baik Iyel maupun Shilla menatap Via yang sudah menghilang dengan bingung.

***

Surya tenggelam menuju tempat peristirahatannya. Memaksa para penjaga malam untuk segera menjalankan tugas mereka. Menerangi kegelapan. Angin cukup bersahabat. Membelai-belai. Mengusap-ngusap dan bersilir-silir. Menyibakkan semua yang disentuhnya.

Dan dalam keindahan sang malam. Kenyamanan si atmosfer, tampak anak laki-laki berwajah oriental, menatapi dirinya di cermin kamarnya yang cukup besar. Tatapannya tertuju pada satu titik. Titik dimana ia merasa berada di ruang gelap. Lebih gelap dari malam yang pekat sekalipun. Bulir-bulir keringat dingin memaksa keluar dari pori tubuhnya. Ia mundur beberapa langkah. Takut menguasai dirinya.

"Let me kill you!"

Setidaknya tulisan itu tergambar jelas di balik cermin itu. Warna merah darah yang mencolok memberi nilai tambah untuk membuatnya merasa takut. Ia sandarkan tubuhnya di ujung kamar. Memeluk lututnya sembari terus menatapi cermin itu. Sebelum akhirnya...

"Al...!"

Seseorang membuka pintu kamarnya. Dan ia tetap bergeming. Sampai dua orang gadis menghampirinya dengan memasang wajah cemas.

"Kenapa Al? Ada apa?" tanya salah satu gadis. Shilla.

Alvin diam tak menjawab. Shilla menyamakan pandangannya pada arah pandangan Alvin. "Ya Tuhan!" desisnya kaget. Sivia menoleh. Dan ekspresinya sama.

Laki-laki berwajah oriental bernama Alvin itu, mengalihkan pandangannya pada Shilla. Kemudian memeluk Shilla erat. Sesungguhnya, ini bukan teror pertama yang Alvin dapatkan. Sebelumnya ia mendapatkan teror lewat sms dan telepon gak jelas. Bukan takut akan ancaman pembunuhan itu. Namun teror itu cukup ampuh membuat jiwanya terguncang.

"Alvin!" lirih Shilla empati. Sivia cemberut dan berlari meninggalkan keduanya.

Air mata Sivia berjatuhan di pipinya. Ia tidak suka. Tidak suka Alvin menyukai Shilla. Kenapa bukan ia? Harusnya, alvin mencintainya. Harusnya ia yang Alvin peluk. Harusnya ia yang menenangkan Alvin. Karena ia begitu mencintainya, Alvin.

***

Riuh teduh kapas-kapas putih itu menyaring cahaya mentari yang cukup terik menjadi lebih hangat. Sehangat hatinya yang cukup lebih baik dari tadi malam. Meski terlihat agak pucat, karena hampir satu malam tak tidur, ia terlihat agak fresh.

"Alvin!" sapa Sivia yang kebetulan berpapasan di koridor sekolah. "Sakit ya? Pucet banget tuh wajah kamu!"

Alvin hanya tersenyum. Via menghela nafas. Temannya itu, selalu tampak beda padanya. Lain lagi pada shilla, ia terlihat akrab. Tapi, padanya seperti canggung atau malah tidak suka.

"Hm, duluan ya?" tanpa minta persetujuan Sivia langsung lari meninggalkan Alvin. Hatinya terlampau perih kala melihat sikap Alvin yang beda padanya.

Alvin tidak peduli. Ia terus berjalan hingga kakinya berhenti tepat di depan mading. Dan garis mata tipisnya melebar melihat poster berukuran besar tertempel dengan gambar dirinya. Dan tulisan itu, tulisan yang sama dengan grafity hitam pekat bercampur merah darah menyeringai ke arahnya.

"Aaarrrggghhh!" tanpa fikir panjang, Alvin menonjok kaca mading dan melihat poster itu. Membelahnya menjadi beberapa bagian. Darah keluar dari punggung tangannya. Hatinya kalut.

"Alvin cukup Al! Cukup ok!" Shilla datang menenangkan. Ia merengkuh Alvin yang terlihat frustasi. Sivia menatap adegan itu dari jauh. Dan ia menangis.

***

Tiga hari berlalu. Setelah kejadian mading itu, tak ada lagi teror yang menimpa laki-laki sipit itu. Dan baru hari ini, Alvin bisa bangun lantaran ditimpa demam yang cukup tinggi. Ia berfikir si peneror itu masih punya hati tidak mengganggunya dalam keadaan sakit tiga hari kemarin.

"Alvin! Via, Alvin! Via! Via!" Shilla yang sejak 3 hari yang lalu berada di rumah Alvin, membuka pintu kamar Alvin tanpa ketuk pintu. Ia terlihat panik.

Alvin yang sedang dalam keadaan terbaring di tempat tidurnya, segera bangun dan menatap Shilla bingung. "Via kenapa?"

"Via telepon aku, Al! Dia dalam bahaya. Aku akan ke sekolah! Kamu baik-baik disini. Aku yakin orang yang menyandra Via adalah orang yang neror kamu!" Shilla beranjak keluar kamar.

"Aku ikut!" Alvin berdiri dan berlari mengejar Shilla.

***

"Via!!!" Shilla memeluk tubuh sahabatnya itu dengan erat. Alvin menyaksikan itu dan tersenyum lega melihat Via baik-baik saja. Matanya bergerak-gerak mencari sesosok makhluk yang menerornya selama ini. Tapi, ternyata tidak ada orang lain disana. Di atap lantai 4 sekolah mereka selain Alvin, Shilla dan Via.

"Jangan sentuh aku!" Via mendorong tubuh Shilla dengan sangat keras. Membuat gadis itu terhuyung dan hampir terjatuh. Beruntung Alvin segera menahannya.

"Via!" lirih Shilla air matanya sudah menderas. "Kamu kenapa Vi? Aku salah apa sama kamu?"

"Aku benci kamu Shil! Aku benci banget. Benci, benci!!" teriak Via semakin keras.

Air mata Shilla semakin membludah mendengar penuturan Via.

"Kenapa Vi?" Alvin berusaha berbicara selembut mungkin. Berharap dengan itu Via bisa lebih tenang.

Via mendelik sebal. Ia menatap Alvin tajam namun teduh. Dari matanya tersorot rasa yang begitu dalam. Namun, dalam otaknya tertancap nafsu amarah yang teramat maha. Cemburu merubahnya menjadi antagonis.

"Kamu fikir, siapa yang neror kamu selama ini? Aku yang neror kamu Al, aku!" tegas Sivia memberi tahu. Air matanya bercucuran.

Baik Shilla maupun Alvin sama-sama tercengang. Tidak percaya. Selama ini Via termasuk anak yang baik. Kenapa ia melakukan tindakan seperti itu. Apalagi terhadap Alvin yang merupakan rekannya.

"Tapi kenapa Vi?" tanya Alvin. Masih memasang raut wajah tak faham.

"Karena aku cinta kamu, Alvin! AKU CINTA KAMU! Aku gak ingin orang lain mencintaimu, aku gak ingin orang lain memilikimu. Termasuk Shilla!"

Shilla yang sudah berdiri di belakang Alvin hanya menangis. Menangis untuk hal yang tak ia mengerti. Sivia sahabatnya, dan ia tidak tahu, Via mencintai Alvin. Tapi, ia pun tidak tahu, apa maksud Sivia. Bahkan sedikitpun tak ada rasa cinta di hatinya untuk Alvin. Baginya Alvin hanya sahabat.

Sivia mendekat, entah sejak kapan gadis itu membawa pisau. Alvin dan Shilla mundur. Via semakin dekat. Alvin diam. Menunggu aksi Via.

"Alvin! Izinkan aku membunuhmu!" desis Via menatap Alvin. "Hingga tak ada satupun orang yang memilikimu"

Shilla membatu. Tubuhnya lemas. Alvin menatap Via yang hanya berjarak beberapa senti. Tak banyak kata. Ia hanya merasa, tatapan Sivia padanya begitu meneduhkan. Sendu. dan Via tidak tahu, ada satu hal yang membuat Alvin bergeming. Bahwa sesungguhnya ia, Alvin pun menyukainya. Ia selalu menampakan kesan tidak akrab pada Via karena itu. Ia tidak ingin Via tahu, ia mencintainya.

"Via!" panggil Alvin saat tubuhnya dan Via merapat. Hangat namun sakit.

Pelukan Via tiba-tiba membuat dadanya sesak. Secara repleks tangannya memegang pisau yang dengan sempurna tertancap di perutnya. Nafasnya terengah. Sakit menjalar ke tiap sendi tubuhnya. Darah segar sudah membanjiri telapak tangannya. Menetes memberi warna di tempat yang mereka pijaki.

"Alvin!" secara tiba-tiba Shilla merasa pandangannya buyar. Ia ambruk dan tak sadarkan diri.

Alvin sedikit menoleh ke arah Shilla. Kemudian kembali menatap Via. "Via, aku mencintaimu..." ujarnya pelan. Pelan sekali.

Via mundur. Rasa tak percaya membebaninya. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Mundur, mundur dan mundur, menjauhi Alvin.

"Sivia!!!"

Dengan sisa tenaga yang ada. Alvin mencabut pisau yang masih tertancap di tubuhnya. Dan sejurus kemudian berlari. Meraih tangan Sivia yang sudah tergantung di atas lantai 4 itu.

"Lepasin Alvin!" Teriak Via. "Kamu bisa ikut jatuh! Lepasin aku Alvin! Lepasin!" raung Sivia histeris sambil berusaha melepaskan tangan Alvin.

"Tidak!" Alvin semakin menguatkan genggamannya meski licin karena darah di tangannya.

"Lepasin aku Alvin! Kamu bisa mati!"

"Bukankah itu yang kamu mau?"

Via menangis.

Alvin menatap mata Sivia dalam. Sehingga ia menemukan satu hal dalam bola mata yang sudah basah oleh kristal-keristal bening itu. Satu hal yang mungkin hanya ia yang tahu. Ketulusan yang tersembunyi dalam keegoisan itu perlahan muncul, menyembul, menenangkan.

"Aaarrrgghh!" Erang Alvin. Perutnya terasa sangat sakit. Sivia mencoba melepaskan tangan Alvin. Alvin tetap bersikukuh mencengkram tangan itu sambil menahan sakit. Wajahnya sudah memucat pertanda darahnya sudah berkurang. Perlahan tubuhnya melemas, namun cengkraman tangan itu tetap kuat. Sekuat rasa sayang yang enggan tampak dalam sanubari masing-masing. Hingga mau tidak mau, Alvin ikut terdorong. Terjun dari lantai 4 atap sekolah yang tinggi bukan bohong.

"Alvin!! Maaf..."

Sesaat mereka menyadari bahwa tubuh mereka sudah menghantam pavingblock paling bawah. Tulang mereka seperti kaca yang dilempar batu. Pecah. Berantakan. Darah mengalir dari tubuh mereka tanpa ampun. Sakit lebih sakit dari yang paling sakit. Dan semuanya gelap, tak ada rasa apapun setelah beberapa kali darah keluar dari mulut mereka.

Prok...prok..prokk!

Suara tepuk tangan menggema di aula sekolah saat kata The End tertulis di layar lebar.

Sivia menatap Alvin, Shilla serta Iyel bergantian. Ketiganya membalas tatapan Sivia dan tersenyum lebar. Jelas! Apa yang mereka tonton adalah film yang mereka buat seminggu yang lalu sebagai tugas seni budaya yang ditugaskan. Dan film itu sukses besar.

Keempat pasang itu kembali menatap layar dan tertulis..

Cast :

Alvin Jonathan as Alvin
Sivia Azizah as Via
Ashilla Zahrantiara as Shilla

Film maker/Produser by :

Gabriel Steven

Writen by :

Sivia Azizah

Cameramen by :

Gabriel Steven

Soundtrack :

Wali-Egokah Aku.

Ide cerita:

Nia Sumiati.

Special Thanks :

YOU ALL

***

"Hei! Skenariomu sadis amat Vi.." Alvin tiba-tiba berdiri di samping Via yang sedang asyik duduk di lantai 4. Salah satu lokasi yang pernah mereka jadikan tempat shooting.

Via yang sedang asyik menikmati kegelapan dan keheningan malam, kaget dengan kehadiran Alvin. Beberapa jurus kemudian ia melempar senyum ke arah Alvin.

"Vi.. Aku selalu berharap satu hal setelah membaca skenariomu itu." kata Alvin sambil duduk di samping Via.

"harapan apa?"

"Rasa cinta di dalam hatimu untukku bukan hanya skenario."

"Hah?"

"Aku mencintaimu Via.."

Via bergeming. Dalam keheningan hatinya, ia tersenyum. Senyum bahagia. Hatinya melanglangbuana melintasi jutaan moment paling bahagia. Dan moment ini lebih bahagia dari yang paling bahagia. Sampai akhirnya sesuatu membuatnya terhenyak. Ponselnya bergetar. 1 new message from Shilla.

"Iyel nembak aku Vi." sekiranya itu kata yang terdapat di layar ponselnya. Dan ia kembali menatap Alvin yang masih mengamati langit yang gelap dengan hiasan-hiasan ciri khasnya.

"Aku juga mencintaimu, Alvin!"









END

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea