Jumat, 17 Februari 2012

Karena Aku Mencintaimu, Alvin!_Last Part (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 21.01
Tempat ini, berbackground putih yang cerah. Tanpa seulaspun seni yang biasa kulihat di kelas seni. Kelas yang kutinggalkan beberapa bulan yang lalu. Kelas yang kurindukan dan tidak mungkin bisa lagi kujamah setelah ini. Dan tempat ini bukan main polosnya. Tak ada desain-desain grafity, tak ada corak-corak keindahan. Sungguh polos. Tapi menenangkan.

Dan di tempat ini, tempat yang sebelumnya pernah kupijaki. Berdiri kami berdua, Aku dan Alvin. Berdua dan hanya berdua. Tak ada gadis itu. Aku diam menatap Alvin, Alvin melakukan hal yang sama. Aku tersenyum, Alvin memandangku bingung. Ia tidak mengenalku dan tidak pernah mengenalku. Aku mendekatinya dan memeluknya erat. Dan ia tetap bergeming.

"Maafkan aku Alvin!" lirihku semakin menguatkan pelukanku.

Alvin hanya memasang wajah bingung. Tanpa bisa melepaskan pelukanku. Dan aku menarik nafas panjang sebelum bercerita.

"Maaf untuk 7 hari yang membuatmu tertarik paksa menuju lembah kematian. Maaf untuk 7 har yang membuat luka dan rasa sakit di sekitar tubuhmu. Maafkan aku!"

Alvin masih diam. Mengingat kejadian-kejadian sebelumnya.

Baiklah, pertanyaan apa saja yang pernah kutanyakan selama ini? Kenapa aku selalu diam tak berkutik saat Alvin berada dalam bahaya? Kenapa Alvin selalu terlihat berfikir keras saat memandangku? Apa alasan aku ingin Alvin tahu perasaanku secepatnya? Dan pertanyaan-pertanyaan lain.

Aku, gadis penderita leukimia yang meninggal satu minggu yang lalu. Gadis yang suka mencuri-curi pandang kepada most wanted SMA 1225, Alvin Jonathan. Gadis tak popular yang mencintai Alvin lebih dari aku mencintai pelajaran dan dunia seni yang selama ini aku geluti. Dan Alvin tidak tahu itu. Ia tidak tahu siapa aku, karena anak-anak IPA 1225 pada umumnya angkuh dan tidak mau bersosialisasi dengan anak-anak jurusan lain di SMA 1225. Mereka terlalu sibuk dengan pratikum-pratikum dan zat-zat ajaib mereka dan tidak ada waktu untuk mengenal lingkungan di sekitar mereka.

Dan aku? Tentu gadis paling bodoh yang mati penasaran hanya karena mencintai laki-laki itu. Menghabiskan waktu 7 hari untuk membuat Alvin tahu aku mencintainya dengan cara mencoba membunuh Alvin dengan kekuatan yang aku miliki untuk membuatnya bersamaku disini. Di kehidupan baru ini.

Lalu siapa aku? Aku hanya arwah gentayangan yang mati dalam keadaan menyimpan urusan dunia yang tidak penting. Ya! Karena aku mencintaimu, Alvin, aku menjadi arwah paling sadis yang mencoba membunuhmu, orang yang aku cintai.

Entah kenapa, selama 7 hari ini aku bisa mengendalikan orang yang ingin aku kendalikan. Kata-kataku menjadi bisikan hati kecil mereka. Perintahku seperti keinginan mereka. Itu alasan kenapa aku tidak berkutik melihat Alvin dalan bahaya, karena aku yang membuatnya. Mereka merasakan kehadiranku, tapi mereka tidak melihatku. Itu juga alasan kenapa Alvin selalu tampak berfikir keras saat melihatku. Aku bisa menyentuh merek dan mereka merasa sentuhanku bagai buaian angin saja. Dan mungkin hanya Alvin saja yang pernah merasakan sentuhan itu.

"Bukan 7 hari. 4 hari lebih tepatnya." kata Alvin melepaskan pelukanku. Mengamatiku. Bukan pengamatan seperti biasanya. Tampaknya ia sedang mengingat sesuatu yang penting. "Karena selama 4 hari itu aku merasa ada yang mengikutiku dan kamu, orang yang selama ini hadir dalam mimpi burukku. Hanya saja kamu lebih cantik."

Aku tersenyum dan memeluk Alvin lagi. "Maafkan aku! Aku membuatmu menderita di 7 hari ini."

"Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau menyuruh seseorang mendorongku dari lantai 3? Memaksa Aren membunuhku? Memerintahkan sopir mobil jeep itu mengganggu konsentrasiku? Dan terakhir, menyuruh Kak Angel mempercepat kecepatan mobilnya dan membuatku berada di tempat asing ini?"

"Karena aku mencintaimu, Alvin!" lirihku dan aku menangis. Menangis untuk satu hal yang sejak dulu ingin kupaparkan kepada Alvin. Dan perjuanganku ternyata tidak sia-sia. Perjuanganku membuat Alvin bersamaku dalam kehidupan abadi yang sesungguhnya. Aku mencintainya dan tidak ingin melepaskannya. Tapi, aku tahu ini egois. Bukan cara ini yang harus kulakukan untuk membuat ia dan aku bersatu. Bukan cara ini! Ada cara Tuhan yang lebih bijak untuk ini.

"Kamu, anak kelas seni?" tanya Alvin menatapku.

Aku mengangguk.

"Aku mendengarmu bermain piano di kelas seni. Waktu itu aku berfikir aku hanya berilusi."

"Saat itu, aku begitu menyerah. Aku tidak tahu harus melakukan apalagi di sisa waktu dua hari itu untuk mengatakan Aku mencintaimu, Alvin. Karena usahaku untuk membuatmu mati atau paling tidak koma, selalu digagalkan gadis itu!"

"Siapa?"

"Entahlah, aku gak tahu namanya. Dia itu menyebalkan. Karena selalu menyelamatkanmu. Dan yang paling penting karena dia orang yang kamu cintai."

"Tapi dia tidak mencintaiku." Kata Alvin pelan. "Dan kenapa aku tidak sadar ada gadis yang begitu cantik yang mencintaiku?"

"Dan aku sudah mati, Alvin. Aku tidak bisa memilikimu layaknya manusia biasa setelah ini."

"Bukankah aku juga sudah mati?"

Aku memeluknya kembali. Menangis. Alvin mengusap rambutku lembut. "Pulanglah Al! Kau punya kesempatan untuk hidup. Kamu belum sepenuhnya mati. Kamu punya kakak yang bahkan tidak ingin kamu disini!" lirihku. Air mataku sudah beranak sungai. Tak kuasa kuhentikan.

"Aku tidak mau! Tempat ini bahkan lebih baik dari tempatku sebelumnya."

"Setidaknya pamitlah dulu sama kakakmu! Jangan buat dia cemas karena kamu tanpa izin meninggalkannya. Kamu tidak tahu seberapa sayangnya dia padamu. Berilah salam perpisahan dan setelah itu kau boleh menemuiku disini. Tentunya setelah takdir Tuhan menggariskannya untukku dan untukmu, untuk kita. "

Alvin melepaskan pelukanku dan menatapku datar.

"Berlarilah ke arah sana!" tunjukku pada satu titik dimana cahaya keemasan bersinar membentuk lingkaran kecil.

Pandangan Alvin mengikuti arah telunjukku.

"Berlarilah! Sampai kau merasa ringan dan sakit. Itulah rumahmu!" Aku menatapnya lebih dalam sehingga mampu menjamah hatinya. Mengikhlaskannya pergi dari hidupku. Membebaskannya dari keegoisanku. Dan aku sadar, tak sepantasnya aku melewati batas takdir Tuhan untuk merampas nyawanya. Semoga Alvin bahagia dan aku akan benar-benar melepaskannya.

Alvin menatapku. "Nama gadis itu, Agni.." kata Alvin dan kemudian mundur beberapa langkah.

"Kau tak menanyakan siapa namaku?"

Alvin tersenyum. "Siapa?"

"SIVIA AZIZAH !! ingatlah!" jawabku tersenyum juga.

Dan untuk terakhir kalinya aku melihat senyuman Alvin sebelum ia berbalik dan berlari, terus berlari hingga tubuhnya terasa ringan dan sakit disana sini. Kepalanya, tangangannya, perutnya, dadanya dan organ-organ penting dalam tubuhnya terasa menyakitkan bukan buatan.

Perlahan ia membuka mata. Banyak wajah yang memenuhi titik fokus matanya. Dan ia mulai menyadari diamana posisinya sekarang.

"Sivia!!" panggilnya menyebut namaku dengan sangat pelan. "Kenapa rasanya sangat menyakitkan seperti ini?" keluhan Alvin yang mirip desahan itu, membuat orang-orang di sekelilingnya bingung. Tidak mengerti apa yang Alvin bicarakan karena hampir seluruh wajahnya terhalang masker oksigen. Mungkin hanya aku yang mengerti apa yang terucap dari bibir tipis merah yang tampak memutih itu. Dan satu hal yang kurasakan saat ini. Aku tak kuasa melihat orang yang aku sayangi, Alvinku kesakitan seperti itu. Dan aku yang membuatnya seperti itu. Hanya Karena aku mencintaimu, Alvin.

"Kak Angel!" desah Alvin begitu melihat Angel yang masih dibalut dengan perban di sekitar kepalanya, berdiri di samping ranjangnya.

"Alvin! Maafkan kakak!" lirih Angel memeluk Alving.

Alvin meringis. Ia menatap wajah orang-orang di sekitarnya dengan sudut matanya karena kepalanya terasa sakit untuk digerakan. Ada teman-teman Angel, Aren dan teman-temannya yang lain, dan gadis itu. Gadis yang sudah kutahu namanya, Agni.

"Biar kupanggilkan dokter!" tanpa diminta, Aren menawarkan diri dan keluar ruangan.

"Alvin!" panggil gadis itu--Agni.

Alvin menatapnya. Tanpa kata. Tatapan sayunya memberi isyarat pada Agni melanjutkan apa yang ingin diungkapkan. Tapi, gadis itu diam dan meraih tangan Alvin. Secara spontan Alvin meringis karena tangannya yang sudah dikuasai selang infus itu terasa sakit. Dan Agni tidak mempedulikan itu, ia melanjutkan aksinya, mencium punggung orang yang aku cintai. Tapi, aku merasa lebih ikhlas. Aku rela gadis itu memiliki Alvin sekalipun.

"Maafkan aku Alvin. Aku sangat menyayangimu!"

Alvin tak bereaksi. Ada bisikan kecil yang kudengar dalam hati laki-laki itu.

"Sivia, ini lebih sakit dari yang kuduga. Kenapa kau tak membiarkanku disana bersamamu?"

Aku tersenyum. Bersamaan saat penguasa rumah sakit yang selalu rendah hati dan gagah dengan seragam putih serta stetoskop ciri khasnya masuk dan memeriksa keadaan Alvin.

"Alvin! Apa kamu masih ingat kejadian sebelumnya?" tanya dokter itu.

Alvin mengedipkan mata dan sedikit mengangguk.

"Kita akan melaksanakan pemeriksaan lebih lanjut." ujar dokter itu pada Angel sebelum meninggalkan ruangan.

*

Angel menatap Alvin yang saat ini terbaring di tempat yang sama. Hanya saja tidak menyeramkan seperti kemarin. Setidaknya tidak ada tulisan ICU yang menggantung di balik pintu. Memberi tanda bahwa keadaan Alvin sudah berangsur pulih meski tidak cukup banyak perubahan.

"Al!" panggil Angel. Agni yang saat itu duduk di tepi ranjang menatap keduanya.

Alvin menoleh. Kepalanya sudah tidak terlalu sakit untuk bergerak-gerak kecil. "Apa?" tanya Alvin pelan.

Angel menangis. Agni memeluknya erat.

"Apa ada satu hal yang ingin kau sampaikan pada kami Al?" Agni mewakili Angel yang sudah memberitahunya tentang kondisi Alvin yang sebenarnya pasca pemeriksaan kemarin.

"Apa yang dokter bilangtentang kondisiku?"

"Sebenarnya keadaanmu jauh lebih buruk dari saat koma kemarin. Semua organ tubuhmu sudah tidak berfungsi dengan baik. Apa kamu, menunggu kami melepaskanmu? Katakan sesuatu Al!"

"Tidak Ag!" Angel melepaskan rangkulan Agni. Menatap Alvin serius. "Jangan katakan apapun Al! Jangan pernah! Sampai kapanpun kakak tidak akan pernah mengikhlaskanmu pergi!" seru Angel.

Alvin diam. 'Sivia, apa inginmu? Apa maumu dariku? Sakitku karena luka-luka ini kah? Atau penderitaanku karena ketulusan Kak Angel? Sivia, apa karena aku tidak menyadari kau mencintaiku, kau menghukumku seperti ini? Apa hanya untuk mengucapkan, Aku mencintaimu, Alvin. Kamu membuat semua organ tubuhku seperti menyiksaku sendiri? Sivia Azizah, apa maumu akan kuturuti. Tapi, tolong hentikan permainan konyolmu ini!' batin Alvin lirih.

Aku hanya bisa menangis. Menangisi satu hal yang bukan jadi kuasaku. Andai ini permainanku, akan kuhentikan sejak 3 hari yang lalu. Karena aku tidak bisa melihatnya sakit seperti itu. Tapi, permainanku hanya 7 hari terhitung dari tanggal 7 sampai 13 yang lalu. Setelah itu, aku tak bisa mempermainkannya! Ini semua kehendak Tuhan.

"Kak Angel! Alvin sudah tidak ingin lagi tinggal di dunia ini. Tolong Kak, Alvin akan semakin menderita dengan sikap kakak ini. Ikhlasin dia Kak. Biarkan dia sampaikan maksudnya!"

Angel menyerah. Duduk tertunduk. Agni memandang Alvin dengan seksama.

"Tersenyumlah untukku! Kemudian tinggalkan aku sendiri disini." pinta Alvin tersenyum di balik masker oksigennya.

Baik Agni maupun Angel sama-sama mensejajarkan matanya pada Alvin. Seulas senyum mereka lontarkan untuk laki-laki itu.

Dengan sangat hati-hati Alvin melepaskan masker oksigennya dan tersenyum tulus. "Aku hanya ingin membalas senyuman kalian tanpa harus terhalangi benda ini." Alvin menunjukan benda yang saat ini berada digenggamannya. "Bukankah tanpa ini, aku lebih tampan?" narsis Alvin di tengah-tengah nafasnya yang mulai sesak.

"Kau tampan dalam keadaan bagaimanapun." puji Agni disusul anggukan setuju dari Angel.

"Tapi kenapa kamu menolakku?"

"Karena kamu terlalu berharga untuk kujadikan pacar." alasan Agni sambil mengelus-ngelus lengan Alvin. "Status tidak menghalangi kita untuk saling menyayangi. Bahkan tanpa status itu, kita bisa saling sayang tanpa harus ada tuntutan karena kita pacar. Bukankah itu satu ketulusan yang luar biasa.?"

Alvin tersenyum kembali. "Terimakasih untuk pemikiran dewasamu!" katanya memberi isyarat agar Agni dan Angel segera meninggalkan ruangan.

Dan Alvin tertegun setelah mereka tak terlihat lagi.

*

Dengan sangat jelas aku melihat benda kecil panjang berwarna hitam yang sedang Alvin genggam, jatuh. Menimbulkan bunyi kecil di lantai rumah sakit. Ingin rasanya aku memungutnya dan memberikannya pada Alvin. Namun apa daya, aku tak bisa.

"AAARRRGGHH.." erang Alvin menjatuhkan secarik kertas putih. Ia memegang dadanya kuat-kuat. Aku menangis menyaksikan itu. Aku tahu, apa yang Alvin rasakan karena akupun pernah mengalaminya. Dan itu sangat-sangat menyakitkan.

Sesaat saja waktu terasa berhenti seiring detakan jantungnya yang perlahan-lahan menghilan. Ia merasa kakinya mulai terasa dingin dan kaku, dan perlahan maju hingga setengah badannya mulai susah digerakan. Ia tahu darahnya membeku.

Ia merasa bagai sebuah Virus secara tiba-tiba menguasai seluruh organ tubuhnya. Paru-parunya seperti baru saja menghirup karbondioksida dengan jumlah tak terhingga. Nafasnya timbul tenggelam. Jantungnya, serasa ditindih oleh ribuan benda-benda berat. Tangan kanannya masih nangkring di dadanya, seolah berusaha menghilangkan benda-benda berat itu. Alvin sekarat.

"Sivia! Bilang padanya hentikan ini semua!" Batin Alvin.

Aku tertegun di balik tangisanku. Dan aku tak punya kuasa. Yang aku tahu, orang baik manapun pasti merasakan sakitnya sakaratul maut.

Perlahan kulihat mata Alvin terpejam. Wajahnya yang tadi dipenuhi rona-rona merah karena menahan sakit sesaat memutih. Pucat. Ada segores senyum di bibir tipisnya yang sudah menyesuaikan warna dengan kulitnya. Pancaran sinar-sinar tipis di wajahnya memberitanda Alvin adalah salah satu dari jutaan umat manusia yang berhati baik.

Aku menghapus air mataku. Dan terhenyak menyadari siapa yang tiba-tiba berdiri di sampingku.

"Ia akan dirindukan banyak orang."

Aku menatapnya. Wajah itu tengah tersenyum menatapi raganya yang sudah ia tinggalkan. Dan setelah itu, aku memeluknya erat sekali.

"Sivia Azizah! I Comeback for you.."

"Apa yang kau tulis?"

"Salam perpisahan untuk Kak Angel dan Agni."

Aku tersenyum dalam dekapan Alvin. Satu hal yang kusadari. Ada akhir yang lebih bijak yang akan kita terima meski akhir itu pahit sekalipun.










TAMAT

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea