Jumat, 17 Februari 2012

Karena Aku Mencintaimu, Alvin!_part 1 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 20.19


*


Seperti biasa. Aku akan selalu ada di sampingnya. Menatapnya. Tersenyum padanya. Dan menyentuh kulit putihnya yang lembut. Seperti biasa, di tujuh hari ini.

*

7 Desember 2009

Suara derap kaki terdengar menggema di lorong-lorong sekolah yang masih belum dipenuhi oleh para penghuninya. Ia begitu asyik dengan buku fisikanya. Tipe murid teladan. Itu yang aku fikirkan. Karena memang faktanya.

Dalam diam. Kami menyusuri lorong-lorong sekolah yang perlahan-lahan dipenuhi suara-suara yang berasal dari arah kelas seni. Ruangan itu selalu tampak hidup, seru dan penuh dengan keceriaan. Aku memperhatikan keadaan di kelas itu. Dan aku ingin menangis. Baik, tak selebay itu.

Aku alihkan perhatianku pada orang yang saat ini berjalan di sampingku. Si dia yang begitu kuinginkan. Laki-laki berparas oriental yang jadi teladannya SMA 1225. Si keren dengan perawakannya yang tinggi dan putih. Dingin tapi tidak acuh. Tidak berlebihan jika aku mengatakan penampilan dia tidak jauh keren dari personil boyband-boyband Korea seperti Super Junior dan 2PM yang sedang digilai hampir 80% para remaja Indonesia.

Dia pangerannya 1225 yang dikagumi banyak kaum hawa termasuk aku. Dia ilmuannya, Isac Newton-nya 1225 yang dibanggakan guru-guru, termasuk aku. Dan dia juga mavianya 1225 yang dinicar kaum adam 1225. Termasuk aku.

"Alvin!" panggilku memanggil namanya.

Alvin menoleh ke arahku datar. Aku balas menatapnya dan tersenyum. Ia tak membalas senyumanku tapi ia mengamatiku dengan raut wajah bingung. Sepertinya ia baru menemukan rumus fisika baru di sekitar wajahku sehingga ia menatapku seperti sedang berfikir keras. Tapi aku tak peduli dan masih tersenyum padanya, sampai ia kembali pada aktifitasnya.

"ALVIN ! AARRGGH LO BENER-BENER BR***EK!!!"

Secara tiba-tiba seorang anak laki-laki mendorong tubuh Alvin dengan kasar. Membuatku tersentak kaget. Alvin masih mencoba bersikap tenang meski tubuhnya sudah bersandar di pagar besi lantai 3. Buku fisika yang tadi ia pegang terpental jauh dari tempatnya sekarang.

"Apa maksud lo?" tanya Alvin bingung.

"Lo apain cewek gue? Dia nangis-nangis karena lo!" seru laki-laki itu semakin bernafsu mendorong tubuh Alvin yang jika tidak ada pagar besi itu, mungkin sudah terjun bebas dari lantai 3-1225.

Aku hanya terdiam, membatu di tempatku. Tak mampu melakukan apapun. Tapi ada bisikan kecil yang terpapar dari hatiku. Terkoneksi langsung pada anak laki-laki itu. Dan mungkin hanya aku yang tahu apa itu.

"Hentikan!!!"

Seorang gadis cantik menarik tubuh laki-laki itu. Membuat aku terhenyak dan memandang gadis itu tidak suka. Entah kenapa.

*

"Alvin, harusnya tadi kamu melawan!" komentar gadis si super hero yang sudah menyelamatkan Alvin dari sang antagonis gak jelas yang aku sendiri gak tahu, saat kami duduk di taman belakang 1225.

Alvin memandang gadis yang saat ini duduk di sampingnya. "Untuk apa?" tanya Alvin polos

"lo mau jatuh ke bawah? lo bisa mati, Al!" protes gadis itu jengkel. Dan aku lebih jengkel melihat kedekatan mereka. Apalagi menyadari gadis itu menyelamatkan Alvin. Kenapa bukan aku? Bukan. Bukan itu yang ingin aku pertanyakan.

Alvin tersenyum tipis. "tidak akan mati. Mungkin koma saja!" enteng Alvin mencubit pipi gadis itu gemas. Aku muak.

Gadis itu cemberut. "lo itu! Gampang sekali berprediksi seperti itu!"

"Sederhana saja. Aku sudah menghitungnya. Jarak dari lantai 3 mungkin sekitar 25 meter. Beratku tidak lebih dari 40 kilo. Maka percepatan gravitasi...."

"Cukup ok! Perlu lo tahu, kematian itu bahkan tidak bisa diukur oleh rumus fisika, Al."

Alvin mendesah. Menyerah menghadapi gadis itu. Aku sendiri masih tidak berkutik di bawah americana indica. Menjadi obat nyamuk dan penonton setia adegan mereka. Gadis itu acuh padaku, dan Alvin tak peduli.

"Lagian apa sih masalah lo sama tuh anak?" tanya gadis itu lagi.

"Pacarnya nembak gue. Gue tolak. Dia nangis. Bilang cowoknya. Cowoknya ngambek. Aneh bukan?"

Aku tertawa pelan mendengar pemaparan Alvin. Sifatnya benar-benar membuatku gemas. Kadang polos, kadang pula dewasa. Pinter, penuh perhitungan, calm dan tidak ambil pusing. Dia memang pangeranku yang selalu sukses menyusuri kapas-kapas kebahagiaan. Terendap dalam zat-zat yang orang bilang cinta. Dan ia membuatku mati penasaran untuk mendapatkannya.

*

08 Desember 2009.

Pelan-pelan kudekatkan jari jemariku pada wajah Alvin. Mengusap keringat-keringat dingin yang membasahi sekitar kening dan wajahnya. Dan itu menenangkan. Hatiku seperti air danau yang tak tersentuh saat menempelkan indera perabaku pada kulitnya.

"Alvin! Bangun!" bisikku mendekatkan wajahku pada wajah Alvin. Terlihat bulir-bulir keringat itu semakin banyak terproduksi dari pori-pori tubuhnya. Tidak hanya wajahnya. Tapi juga tubuhnya. Piama biru polosnya terlihat basah.

Sontak garis mata Alvin yang tipis itu terbuka. Nafasnya terengah-engah. Tampaknya ia bermimpi buruk. Ia menatapku dengan tatapan biasanya. Kali ini tatapannya seperti menangkap dua rumas fisika asing dalam wajahku. Kenapa ia selalu terlihat berfikir keras saat melihatku?

"Cepat mandi! Hari ini kamu ada praktikum biologi. Kamu harus datang lebih pagi."

Tanpa kata sedikitpun, Alvin segera melirik jam dinding persegi berwarna hitam dengan corak putih yang menempel di dinding kamarnya. Kedua jarum itu sudah membentuk sudut siku-siku. Pukul 06 : 45. Sedang praktikum biologi dilaksanakan pukul 06:00. Artinya hanya tersisa 15 menit untuk Alvin mempersiapkan diri. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Alvin bergegas ke kamar mandi. Dan tak sampai 10 menit ia keluar lagi. Lengkap dengan seragamnya.

"Kak Angel! Gue berangkat duluan ya?" teriak Alvin berlari menyusuri anak-anak tangga. Aku mengikutinya dari belakang. Sementara Angel, kakak kandung Alvin memandang kami masa bodoh.

Aku terus mengikuti Alvin yang tetap tak peduli denganku yang sudah mulai lelah. "Alvin! Pelanlah sedikit!" teriakku.

Dan sepertinya perintahku cukup ampuh. Ia memperlambat langkah kakinya sampai aku kembali berjalan di sampingnya. Tanpa kata, Alvin menengok ke arahku. Masih dengan tatapan Alvin biasanya.

[Lab IPA-SMA 1225]

Aku menatap Alvin yang tetap sibuk dengan pekerjaannya. Berbagai alat dan bahan untuk mengerjakan praktikum biologi, mengamati dan membandingkan berbagai macam sel makhluk hidup itu menjadi temannya saat ini. Mulai dari mikrosof lengkap, pisau, pinset, jarum, kertas isap, alat tulis, dan yang lainnya.

Dan aku tidak terlalu peduli dengan tugas praktikum itu. Aku lebih asyik mengamati keadaan di sekitar lab. Anak-anak yang lainpun tampaknya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.

Sekali lagi aku memandang Alvin yang sedang meneteskan metyl biru pada samping kaca penutup, benda yang aku tak tahu apa. Sampai akhirnya entah siapa, tiba-tiba menyenggol tangan Alvin dan membuat air di atas meja tumpah. Sehingga tidak hanya alat dan bahan serta penelitian Alvin yang berantakan. Tapi juga penelitian gadis yang saat itu satu meja dengan Alvin.

"Aarggh! Alvin! Gue udah susah payah dari tadi. Lo malah hancurin semuanya!" protes gadis itu. Aren.

"So..sory..!" Alvin celingukan mencari siapa yang menyenggol tangannya. Tidak ada.

"Gampang banget lo bilang sory! Lo sih enak bisa ngerjain ini dalam waktu 10 menit juga. Lah gue? Gue udah dari setengah enam disini! Dan saat gue hampir selesai, lo hancurin semuanya!" cerocos gadis itu benar-benar marah. Ia sudah seperti ingin membunuh Alvin.

"Gue kan udah minta maaf! Gue juga gak sengaja! Lo kenapa sih?"

Aren menatap Alvin tajam. Ia meraih pisau lipat yang tergeletak sembarang di meja. "Dengar ya?! Gue gak mau tahu, lo harus buat laporan penelitian gue. Sampai tuntas!" Aren mengarahkan pisau itu ke arah Alvin. Alvin mundur beberapa langkah. Dan aku selalu saja merasa ada yang memaku tubuhku di saat seperti ini.

"Aren! Sudahlah!" salah satu siswa laki-laki mencoba menenangkan Aren.

Tapi, rupanya rasa marah dalam diri Aren membuat hantu-hantu lab IPA SMA 1225 itu menyuport Aren untuk membunuh Alvin dan menjadikan Alvin teman mereka.

"It's Ok, Aren! Gue akan buat laporan penelitian lo. Tapi, hentikan aksi main-main lo sama pisau itu." Pinta Alvin masih terus mundur karena Aren semakin bernafsu mendekati Alvin.

Entah apa yang terjadi pada Aren. Padahal sebelumnya Aren termasuk gadis penyabar yang tak gampang marah. Dan apa yang terjadi denganku? Tatapanku tetap terfokus pada Aren.Apa yang aku lakukan? Kenapa aku tidak berkutik? Well, biar aku jawab nanti.

Alvin masih saja mundur dan mencoba menghindar dari Aren. Sebelum akhirnya...

"Alviiiiiiinnn awaaaass!!!"

Sesaat koor para siswa menggema di Lab IPA itu.. dan….

[apa yang terjadi pada Alvin?]







BERSAMBUNG


wait in part 2….


0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea