Jumat, 17 Februari 2012

Karena Aku Mencintaimu, Alvin!_Part 2 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 20.57
Sesaat Alvin merasakan seseorang menarik tubuhnya dan memeluknya erat bersamaan saat suara pecahan tabung-tabung cairan kimia yang Alvin tabrak terdengar seperti paduan suara. Kompak..

Gadis itu lagi! Aku mendelik sebal. Dia selalu menyelamatkan Alvin. Kenapa selalu gadis itu?

Baik Alvin maupun Aren secara kompakan. Tanpa komando dan aba-aba, tiba-tiba kehilangan kesadaran. Gadis itu masih bersusah payah menahan tubuh Alvin agar tidak jatuh. Sementara sebagian siswa-siswa lain menahan tubuh Aren dan membawanya ke UKS. Aku yang sudah terbebas dari kekakuan yang tiba-tiba menyergap tubuhku, segera menghampiri Alvin yang juga dibawa ke UKS.

[UKS-SMA 1225]

Untuk kedua kalinya aku berada diantara Alvin dan gadis itu. Gadis cantik yang aku sendiri tidak tahu siapanya Alvin. Pacarnya, mungkin.

Aku duduk di tepi ranjang UKS. Gadis itu duduk di kursi di samping ranjang, berhadapan denganku. Ia tidak mempedulikan kehadiranku Karena terlalu sibuk mengurus luka-luka di tangan Alvin yang tadi sempat terkena goresan pisau dan cairan kimia berbahaya. Aku sendiri lagi-lagi hanya berperan sebagai penonton setia. Karena aku tidak tahu harus ngapain.

"Alasan ilmiah apa lagi yang akan kamu paparkan saat aku bertanya kenapa kamu tak melawan?" lirih gadis itu saat Alvin mulai membuka mata.

"Dia itu hanya perempuan!" kata Alvin tersenyum. Aku terenyuh. Senyuman di balik rasa sakit itu, terlihat begitu tulus. "Luka di bagian tangan tidak akan membuatku mati." lanjutnya sambil mengamati tangannya yang sudah terlilit perban dengan sempurna.

"Tapi pisau itu hampir saja menembus perutmu!" seru gadis itu penuh penekanan.

Alvin tersenyum lagi. "Itupun tidak akan membuatku mati! Satu hal yang perlu kamu ingat! Jika kamu ingin membunuhku! Letakanlah pisau itu di bagian leher! Dan...." Alvin meraih tangan gadis itu sebelum melanjutkan penjelasannya. Aku cemberut. Gadis itu menatap Alvin bingung. "Disini..." sambung Alvin meletakkan tangan gadis itu di dadanya. "Disini organ penting manusia. Jika detak jantung tak ada, maka kehidupanpun tak ada."

Gadis itu melepaskan cengkraman tangan Alvin. Ia tertunduk. Aku berniat meninggalkan ruangan.

"Al.. Ilmu biologi tak selamanya menentukan kematian!"

"Ini bukan dari biologi. Toh aku tahu dari drama Korea yang sepintas kutonton!" Alvin tertawa kecil sambil mengacak-ngacak poni si gadis yang langsung cemberut. Aku benar-benar minggat dari UKS.

*

11 Desember 2009

Sudah tiga hari, aku tidak ingin menemui dan mengikuti Alvin. Rasanya percuma saja. Apa lagi kehadiran gadis itu, gadis yang selalu menyelamatkan Alvin. Membuat semuanya sungguh terasa sia-sia. Dan aku benci ini semua! Itu alasan pertama kenapa 3 hari ini juga aku menyerah untuk membuat Alvin tahu bahwa aku begitu mencintainya.

Aku mengamati keadaan di sekitarku. Kelas seni yang biasanya ramai dengan alunan melodi-melodi itu, tampaknya begitu sepi di jam pulang ini. Dan selama 3 hari ini pula aku lebih memilih menyendiri disini. Rasanya begitu menenangkan. Meski kerap kali aku ingin menangis memperhatikan tiap jengkal dari ruangan yang penuh dengan hiasan-hiasan khas anak-anak seni yang super kreatif itu.

Perlahan kuusap tembok-tembok yang sudah dipenuhi grafity-grafity bertuliskan moto-moto kelas seni. "Life is Art" moto terampuh yang di-desain dengan warna biru tua bercampur kuning dan hitam berukuran besar itu terlukis di dinding sebelah barat. Sehingga saat orang-orang melongokan kepala di balik jendela, grafity itu seperti menyapa mereka. Dan mereka akan takjub! Mengagumi karya-karya seni anak-anak 1225 yang kadang dikucilkan dan dibandingkan dengan anak-anak IPA.

Tak lama setelah itu, tanganku mulai meraba piano cokelat yang mengkilat. Rasanya aku bangga bisa menyentuhnya. Dan ia, si anggun yang mewah, selalu bahagia saat orang-orang menyentunya. Menekan tuts-tuts hitam putih yang begitu lembut yang ia miliki.

Aku duduk di hadapannya. Memainkan sedikit lagu untuk memecahkan kaca-kaca keheningan di sekitarku. Dan piano itu tersenyum.

"Malam sunyi kuimpikanmu.
Kulukiskan kita bersama
namun slalu aku bertanya adakah aku di mimpimu

di hatiku terukir namamu
cinta rindu berarus satu.
Namun slalu aku bertanya
adakah aku di hatimu.

Tlah ku nyanyikan alunan-alunan senduku.
Tlah kubisikan cerita-cerita gelapku.
tlah ku abaikan mimpi-mimpi dan ambisiku.
Tapi mengapa kutakan bisa, sentuh hatimu."

Belum sempat aku menyelesaikan laguku. Permainan pianoku terhenti saat sadar Alvin berdiri di luar kelas. Mengamati ruangan ini dan mengamatiku. Kali ini tatapannya padaku, bukan lagi saat melihat 2 rumus fisika asing. Tapi, ribuan rumus fisika dan kimia. Ia benar-benar terlihat bingung melihatku.

"Alvin!" panggilku berjalan mendekati Alvin. Alvin berlari meninggalkanku. Dan aku kembali duduk lemas di tempat Alvin tadi. Tak tahu apa yang Alvin fikirkan tentangku saat ini.

*

12 Desember 2009

Aku gak boleh menyerah. Alvin harus tahu aku begitu mencintainya sebelum waktu benar-benar habis. Dan cukup 3 hari kuabaikan dengan keputus asaanku. Selanjutnya aku akan mulai menjalankan rencanaku seperti semula.

Seperti saat ini. Aku sudah berdiri tegak di ambang pintu kamar Alvin. Untuk sepersekian detik aku melihat Alvin berdiri di depan cermin. Tak lama setelah itu, ia berlari ke arahku.

"Stop!" perintahku. Alvin berdiri di hadapanku. Memandangku tentunya dengan pandangan Alvin biasanya terhadapku. "Kau sudah begitu tampan, bawalah motormu sendiri!" perintahku mengamati Alvin yang memang tampak sempurna dengan kemeja kotak-kotak lengan pendek yang menempel di tubuhnya.

Alvin mengangguk. Bukan anggukan setuju. Tapi, ia segera berbalik dan meraih kunci motornya yang ia simpan di meja belajarnya.

"Kak!" panggil Alvin berdiri di samping Angel yang tampak sibuk dengan berkas-berkas skripsinya.

Angel menoleh."Ya, Al?!"

"aku mau bertemu seseorang dan bawa motor sendiri!" jelas Alvin.

Angel melotot. "Hah? Tapi, kamu udah lama gak menggunakan motor. Apa tidak akan terjadi sesuatu?" tanya Angel cemas.

"Hanya sedikit kaku. Tenang saja!" jawab Alvin santai.

Aku mengangguk menyetujui. "tenang aja Kak. Alvin kan tipe orang yang berhati-hati dalam segala hal. Ia punya perhitungan yang waahh….” Pujiku tertawa pelan.

Angel tersenyum. “Ya sudah asal kamu berjanji gak akan kenapa-napa.!”

“Siipp!” Alvin mengacungkan jempolnya menyetujui. Kemudian berlalu meninggalkan Angel. Aku mengikutinya dari belakang.

“Siapa yang akan kamu temui?” tanyaku begitu cagiva merah itu melaju dengan kecepatan normal. Aku tahu ia akan sangat berhati-hati. Apalagi setelah ia vakum menggunakan kendaraan beroda dua itu.

Alvin tidak menjawab. Ia tersenyum dan aku melihat senyuman itu di balik kaca spion. Ia sangat tampan. Rasa ingin memilikipun benar-benar menyeruak dalam hatiku.

Perlahan kulingkarkan tanganku di pinggang Alvin. Alvin terhenyak. Kaget dengan aksiku. Tapi, ia tetap focus pada kemudinya. Sampai saat pandanganku tertuju pada sebuah jeep hitam yang mepet-mepet ke arah motor Alvin. Aku tidak peduli dan tetap pada posisiku.

Alvin sedikit kehilangan konsentrasi. Hingga mau tidak mau motornya menabrak pembatas jalan. Tidak terlalu parah memang, karena saat itu motor Alvin berjalan tidak terlalu cepat. Tapi, cukup membuat tangan Alvin dan kepalanya berdarah.

Aku menata diriku sendiri. Tak ada luka sekecil apapun. Aneh. Dengan segera aku menghampiri Alvin yang duduk lemas di saming motornya.

“Alvin!” panggilku. “Ada yang sakit?” entah bodoh atau apa, aku bertanya demikian padahal sudah jelas Alvin terluka.

“Aargghh!” erang Alvin pelan, meletakkan tangannya di dadanya. Aku sempat melihat stank motor membentur bagian dada laki-laki itu.

Aku diam terpaku.

“Ya Tuhan, Alvin! kamu tidak apa-apa kan?” pekik seorang gadis menghampiri Alvin. Gadis itu lagi. Aku mundur beberapa langkah.

“aku sudah menduga terjadi sesuatu yang buruk sama kamu! Perasaan aku gak enak banget tadi.” Ujar si gadis sambil mencoba memapah Alvin untuk lebih menepi.

“aku tidak apa-apa.” Lirih Alvin memfokuskan pandangannya ke arahku. Ia menatapku kesal. Dan aku memilih berlari, meninggalkan tempatku. Aku benar-benar hilang arah dan tidak tahu harus melakukan apa lagi. Tapi, aku tidak ingin menyerah. Apapun caranya, Alvin harus tahu.






BERSAMBUNG

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea