Jumat, 17 Februari 2012

Ketika Akhir Itu Menghampiri (Cerpen Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 21.06
***

Awan kumulus dengan bentuknya yang khas terlukis rapi di atas kaki-kaki langit dengan warna biru cerahnya yang menenangkan. berpadu dengan serat-serat kuning emas yang terpancar dari si penguasa siang yang selalu pongah. keangkuhannya menembus tiap kaca-kaca bening bangunan bernuansa cream-cokelat yang perlahan-lahan dipenuh oleh anak-anak berseragam putih-abu. SMA Albider menunjukan kemewahannya.

Dan di ruangan paling timur, ruangan yang masih kosong. Tepat di bangku paling pojok, seorang siswi berkacamata begitu asyik menikmati suasana sepi di ruangan itu. serat-serat cahaya matahri menyorot sebuah buku bergaris dengan tulisan tangan yang rapi yang menjadi tema si gadis saat itu. ia begitu sibuk dengan buku dan penanya. tak peduli seberapa sunyi ruangan itu. Acuh tak acuh dengan sayup-sayup suara siswa-siswa lain di luar ruangan yang masih asyik membicarakan calon ketua osis baru. Yang ia pedulikan hanya apa yang sedang ditulisnya.

"Lemparkan sini Al!"

Sontak perhatiannya teralihkan begitu mendengar suara yang cukup keras mengusiknya. dengan segera ia memfokuskan titik fokus matanya pada lapangan basket di samping kelasnya karena suara itu berasal dari arah sana.

Dua orang anak laki-laki yang merupakan teman sekelasnya, kali ini menjadi penghuni lapangan basket itu. mereka selalu berhasil mengganggu euoforianya bersama tokoh-tokoh cerpennya. dan ia tidak terlalu suka itu.

"Yaelah.. malah bengong lagi."

Cepat-cepat ia menunduk begitu menyadari salah satu dari anak laki-laki itu tengah memandangnya dan melontarkan senyuman kepadanya.

Merasa tidak mendapatkan balasan dari gadis itu., anak laki-laki itu kembali mendrible bola dan mulai fokus kembali pada permainannya. Gadis itu selalu begitu, terkesan dingin dan masa bodoh.

"Berapa kalipun kau tersenyum padanya, kau tidak akan mendapatkan respon yang baik darinya. Kau lupa? Satu-satunya siswa yang lupa caranya tersenyum di Albider ini hanya dia, gadis berkacamata yang punya gelar sastrawannya SMA Albider bernama Via?."

Anak laki-laki bernama Alvin itu terkekeh pelan mendengar komentar temannya yang selalu protes besar-besaran saat ia kepergok tersenyum ke arah gadis bernama Via yang saat ini duduk sendiri di dalam kelas.

"Ih, ketawa lagi. asal kamu tahu ya! setinggi apapun jabatan keramahanmu itu, kamu tidak akan pernah bisa membuat dia tersenyum."

Lagi-lagi, Alvin hanya tertawa pelan sambil melempar bola ke arah tiang ring. Kemudian tersenyum lebar kearah temannya saat bola meluncur dari ring. "Yang aku tahu, semua orang bisa tersenyum." katanya sambil mengambil bola yang sudah menggelinding tanpa arah dan berjalan meninggalkan lapangan. temannya mengikuti.

"Hmm.. baiklah. Aku setuju dengan ucapanmu.”

Gadis itu hanya bisa tersenyum tipis mendengar sama-samar percakapan singkat anak laki-laki bernama Alvin dengan temannya, Cakka. Seperti itukah ia di mata tema-temannya? Bahkan ia sendiri tidak tahu kenapa ia seperti orang yang hidup di satu tempat yang tidak tahu apa itu cahaya matahari sehingga ia tumbuh menjadi seorang yang dingin dan tidak tahu apa itu kehangatan.

***

Pandangannya terfokus pada barisan kata dalam novel yang sedang dibacanya. Ia selalu betah duduk berlama-lama di taman belakang sambil ngedate sama novel-novelnya seusai jam pelajaran berakhir.

Bau rumputnya yang khas, gesekan daun yang menyimpan irama tersendiri. Angin sejuk yang mendamaikan. Semuanya selalu sukses membuainya manja.

"Alvin menolak tawaran anak-anak untuk menjadi calon ketua osis."

Sontak ia menghentikan bacaannya begitu melihat segelintir kakak-kakak kelasnya berjalan jauh di hadapannya. Belum pernah ia sepeka ini mendengarkan pembicaraan orang lain. Hanya nama Alvin-lah yang selalu membuatnya  repleks melepaskan segala aktivitasnya.

"Iyalah! Baru juga satu minggu yang lalu dia dapat jabatan kapten tim basket. Mana mau dia jadi ketua osis juga. Bayangin aja! Baru jadi kapten tim basket aja namanya sudah melanglangbuana. Apalagi ditambah dengan gelar ketua osis?"

"Baik, pinter, ramah, famous, kebanggaan para guru, kapten tim basket, tampan pula!"

"Mr. Perfect."

Perlahan obrolan anak-anak itu menghilang seiring jarak yang semakin jauh memisahkan. Ia menutup novelnya. Sedikit membayangkan wajah itu. Sesungguhnya ia selalu merasa bahagia saat mengingat nama Alvin.

"Vi! Lihat anak-anak basket latihan yuk!" seseorang menepuk pundak Via. Membuat ia kaget dan repleks berbalik, memastikan siapa orang yang mengagetkannya. Agni, temannya dengan cengirannya memandang Via.

"Hm.. Nggak ah! Kamu aja!" Via berdiri dari duduknya dan berlalu meninggalkan Agni.

Agni menarik nafas panjang melihat tingkah temannya yang satu itu. Ia heran kenapa Via bersikap acuh dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya selain buku dan pulpen.

Via berjalan sendiri di koridor sekolah. Suara derap kakinya begitu jelas menggema gendang telinganya. Karena rupanya sekolah yang sudah sepi membuat indera pendengarannya peka terhadap suara sekecil apapun.

Sebenarnya ia ingin melihat anak-anak basket latihan. Namun ada satu hal yang membuatnya selalu menolak ajakan temannya untuk itu. Ia hanya tidak ingin membiarkan hatinya terjun bebas untuk merasakan itu lebih dalam.

'Kenapa Via? Tidakkah engkau ingin melihatnya sebentar saja?' pikir Via masih terus berjalan dan tak memberikan kesempatan untuk kakinya balik kanan dan pergi ke lapangan basket.

Namun, belum sempat Via memikirkan itu baik-baik ia sudah melihat sesosok Alvin berdiri di hadapannya lengkap dengan kostum basketnya.

Via melangkah ke samping kiri. Tapi, entah kenapa Alvin merasa ada sesuatu yang menariknya ke samping kanan, seolah-olah tak memberi jalan untuk Via. Ia segera melangkahkan kakinya ke samping kiri. Naumun bukan melangkah maju, Via malah mengikuti langkah Alvin. Membuat mereka tampak seperti kedua kutub magnet yang saling berlawanan.

"Maaf," ujar Alvin akhirnya, berdiri di hadapan Via.

Via ikut diam. Dengan sangat rinci ia menatap wajah Alvin yang masih belum melepaskan senyumannya. Tiba-tiba saja ia merasa nada-nada mayor beraksi dalam dadanya. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat.

"Gak ke lapangan basket?" tanya Alvin lebih ramah.

Via menggeleng dan kembali berjalan tanpa mempedulikan Alvin yang masih heran melihat gadis antisosial yang membuatnya selalu merasa berada di ruangan yang penuh dengan udara-udara keingintahuan. Dengan sedikit senyuman, Alvin segera berlari menuju lapangan basket.

Setelah memastikan Alvin sudah tidak terlihat lagi. Via duduk di beranda kelas, meletakan tangannya di dadanya yang masih belum menemukan nada minor. Ia tersenyum menyadari satu hal yang tiba-tiba bergejolak dalam hatinya.

***

"Hh..hh..hh.."

Alvin berusaha mengatur nafasnya yang timbul tenggelam satu persatu. Ia sandarkan tubuhnya di tiang ring. Menyaksikan satu persatu para penonton yang didominasi kaum hawa itu meninggalkan area lapangan. Ia tahu latihannya kali ini sungguh berantakan. Berkali-kali ia melakukan kesalahan dan ditegur oleh pelatih.

"Apa sih yang kamu fikirkan Al?" tanya Cakka menyerahkan satu botol air mineral.

Alvin menerimanya. Nafasnya masih tak beraturan. "Gak tahu." jawabnya sambil berdiri, membereskan barang-barangnya dan bergegas meninggalkan lapangan.

Cakka hanya bisa menatap punggung Alvin bingung. Ada yang aneh dari gerak- gerik sahabatnya itu. "Al! Cerita dong kalau punya masalah itu." Setelah cukup lama tertegun, akhirnya Cakka berlari menyusul Alvin yang sudah agak jauh darinya.

"Aku hanya berfikir. Aku belum bisa menjadi orang baik." kata Alvin saat Cakka sudah berjalan di sampingnya.

"Maksud?" tanya Cakka tak mengerti.

"Kamu kan nanya, apa yang sedang aku fikirkan. Ya, yang aku fikirkan itu." jawab Alvin gemas.

Cakka menaikan satu alisnya. "Selama ini orang-orang bilang kamu manusia berhati malaikat yang bahkan tidak tahu caranya marah. Kenapa masih mikir kamu orang jahat?"

Alvin tersenyum mendengar pujian Cakka. "Yang aku fikirkan adalah kebaikan di mata Tuhan, bukan kebaikan di mata manusia. Pandangan Tuhan tidak sepicik pandangan manusia. Baik menurut Tuhan pasti baik menurut manusia. Tapi, baik menurut manusia belum tentu baik menurut Tuhan." cerocos Alvin, kali ini sambil berjalan mundur dan memandang Cakka serius.

"Alvin! Awas!" teriak Cakka begitu sadar seseorang tengah berdiri di samping mading sekolah.

Kurang beruntung. Alvin berhasil menabrak seorang gadis yang sedang asyik membaca mading dan memaksa tubuh gadis itu menempel di kaca mading.

"Maaf!" ujar Alvin repleks.

Gadis yang rupanya Via itu, memandang Alvin datar. Dan tanpa banyak kata, ia langsung pergi meninggalkan Alvin dan Cakka.

"Satu hal yang harus kamu ingat Al! Seberapa perfect-nya kamu, gadis manapun gak akan suka sama laki-laki yang jalannya mundur."

Alvin tak merespon ucapan Cakka. Ia lebih sibuk menatap mading sekolah. Cakka mengikuti arah pandangan Alvin.

"Uiiih.. Kapten tim basket Albider, calon ketos juga nih.."

"Ini apa-apaan?" protes Alvin menatapi foto berserta namanya terpampang di balik kaca mading bersama puluhan calon ketua osis lainnya.

"Sabar sob! Orang baik pasti bisa menerima kenyataan. Lagian ini bira dijadikan media untuk meningkatkan jabatan kebaikanmu di mata Tuhan." Kata Cakka bijak melihat ekspreri Alvin yang sudah kusut. Ia tahu temannya yang satu itu tidak terlalu respek terhadap osis.

Alvin tertegun. "Hm.. Baiklah, aku setuju dengan ucapanmu." kata Alvin copy-paste perkataan Cakka tempo hari.

"Gak kreatif!" komentar Cakka.

Alvin hanya nyengir mendengarnya.

***


Entah apa yang membawa mereka duduk berdua di ruangan para pejabat sekolah dengan tugas-tugas dan tanggung jawab yang sebenarnya tak mereka inginkan.

Keadaan sunyi. Karena tidak mungkin ada percakapan jika di ruangan itu hanya ada Alvin dan Via. Mereka larut dalam pekerjaan masing-masing. Alvin yang merasa kurang nyaman dengan kebisuan itu, sesekali memandang Via yang masih asyik dengan laptopnya

"Apa kau akan terus mengacuhkanku, Via?"tanya Alvin memecahkan keheningan.

Via memandang Alvin sekilas, kemudian kembali fokus pada laptopnya. Tanpa bicara sedikipun, tanpa senyum segorespun.

Alvin menghela nafas. Menatap Via. Ada banyak pertanyaan yang bersarang dalam otaknya. Yang ia tahu, Via bukan gadis bisu yang tidak bisa bicara. "Baiklah, tak seharusnya aku bicara dengan orang sepertimu." kata Alvin dengan nada pura-pura kersal.

"Alvin!" panggil Via lembut begitu Alvin beranjak dari duduknya. Hendak meninggalkan ruang osis. "Bantu aku menyelesaikan ini!" pintanya.

Alvin tersenyum dan berjalan mendekati Via. Mengamati layar laptop. "Apa yang harus aku bantu?" tanyanya.

Via memegang mouse dengan maksud memperlihatkan bagian mana yang belum ia selesaikan. Tapi, sebelum tangan itu bergerak, ia sudah merasakan sebuah sentuhan di atas punggung tangannya. Membuat tatapan keduanya berhenti pada satu titik. Tiba-tiba saja mereka merasa nada detakan jantung mereka berpacu dengan sangat cepat.

"Maaf!" Alvin cepat-cepat menarik tangannya.

Via tertunduk.

Alvin tertegun. Tidakkah Via mampu mengucapkan sedikit kata untuk menerima maafnya? Bukankah setiap kali ia mengucapkan kata maaf, tak ada satupun yang Via respon?

"Kenapa kau menjadikanku sekretaris?" tanya Via sama sekali tidak sesuai dengan arah pembicaraan mereka.

Alvin tersenyum. "Karena aku ingin mengenalmu lebih dekat, nona sastrawan!" godanya masih tak melepaskan senyumannya yang membuat Via semakin terpesona dibuatnya. "Aku bisa saja menjadikanmu pengurus mading sesuai keinginanmu. Tapi, sepertinya ketua osis SMA Albider ini membutuhkanmu."

"Kenapa kau ingin mengenalku lebih dekat?" tanya Via kemudian.

Alvin diam sejenak. Mengamati Via dengan seksama, membuat Via salah tingkah dipandang dengan pandangan aneh oleh Alvin. "Kamu minus Vi?" Alvin mengalihkan pembicaraan.

Via membenarkan kacamatanya, lalu menggeleng.

"Hm.. Silindris?"

Via menggeleng kembali.

Alvin semakin serius mengamati gadis itu. Ia tidak mengerti. Sungguh tak mengerti.

Keadaan hening.

"Tahu gak Vi? Sepertinya kau lebih cantik jika kacamata itu tidak menghalangi mata beningmu. Hm.. Dan oleskan sedikit senyuman di wajahmu.!"

Dan seperti keajaiban yang turun memenuhi sudut-sudut ruang osis saat sebuah senyuman tersungging di bibir tipis Via. Untuk pertama kalinya senyuman itu Alvin lihat setelah sekian lama ia tunggu.

Tanpa kata. Alvin membalas senyuman itu. Senyuman tulus yang selalu Alvin berikan kepada siapapun. Dan ruangan itu terlihat begitu hidup. Meski mereka tidak tahu, bahwa senyuman itu mewakili satu rasa dalam hati masing-masing.

***

Apa yang membawanya duduk disana bersama anak-anak lain dan berusaha menutup telinga hanya untuk menghindari kerusakan gendang telinga karena teriakan dan yel-yel untuk para jagoan kedua tim itu begitu keras memenuhi lapangan basket.

Pandangannya tak lepas dari sesosok kapten tim yang saat ini begitu sibuk merebut bola dari lawannya. Ia tersenyum melihatnya. Dan belum pernah ia sebahagia saat ini.

"Vi!" panggil Agni memandang Via yang duduk di sampingnya.

Via tak merespon ucapan Agni. Ia lebih asyik memandang Alvin yang saat ini berdiri di tengah lapang. Nafasnya terengah-engah. Membiarkan lawan mainnya melewatinya tanpa permisi. Dan ia sepertinya tidak peduli dengan itu.

"Al! are you ok?" Cakka menepuk pundak Alvin.

Alvin menoleh. "Ya! I'm fine Kka." Ucapnya masih mengatur nafasnya dan kembali mengejar bola di tangan lawannya setelah memastikan nafasnya cukup stabil.

Agni yang mengikuti arah pandangan Via, tersenyum sendiri begitu menyadari satu hal yang membuat temannya itu mengalami revolution changed. "Ehm.. Sepertinya Alvin bikin kamu cuek sama aku nih.." komentar Agni dengan nada menggoda.

Via mengalihkan pandangannya pada temannya itu. "Alvin lagi sakit ya Ag?" tanya Via lagi-lagi keluar dari alur pembicaraan.

"Hadeuh.. Bu Sekretaris mulai khawatir nih sama atasannya.." goda Agni lagi. Via tertuduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.

"Apaan sih Ag?"

***

Lihatlah! Sejauh mata memandang, terlihat ladang ilalang tumbuh subur, meliuk-liuk setinggi lutut. Bergerak-gerak tertepa angin. Mengajak Alvin dan Via bergabung bersama mereka.

Via berlari mengarungi lautan ilalang itu. Merasakan arah angin sore yang menyibakan rambut dan baju putihnya. Ia berputar dan berputar. Menari bersama sang ilalang.

"Kau suka tempatnya?" tanya Alvin begitu sampai di dekat Via.

Via menghentikan aksinya dan tersenyum menatap Alvin. Kemudian menghempaskan tubuhnya diantara para ilalang itu. Mengeluarkan sesuatu dalam tasnya. "Aku suka tempatnya, dan tokoh dalam cerpenku harus merasakan, betapa indahnya tempat ini." ujarnya mulai fokus menatap layar laptopnya.

Alvin duduk di samping Via. Tersenyum simpul mendengar perkataan gadis itu.

"Via! Izinkan aku menyayangimu!" papar Alvin membuat Via secara tiba-tiba merasa seperti baru saja kutukan malin kundang berpindah posisi padanya. Ia membatu dan tak mampu mengatakan apapun. Sejujurnya ia ingin Alvin me-reply kembali ucapannya.

"Vi!" panggil Alvin lagi.

Via menatap Alvin lebih serius. Tatapannya menyembulkan rasa gugup dan tak percaya. "Kamu sakit ya Al? Kok pucet?" Via bertanya saat melihat wajah Alvin yang sudah tampak pucat. Walaupun sebenarnya untuk mengalihkan pembicaraan.

"Oh ya Vi! Kalau kamu baca sebuah kisah. Kamu suka akhir yang mana? Sad or Happy?"

"Kalau kamu?"

"Ya Happy-lah Vi."

"Aku lebih suka sad."

"Lho?"

"Karena dengan sad ending kita akan belajar satu hal. Bahwa tak selamanya yang kita miliki akan jadi milik kita!"

Alvin mengangguk mengerti.

Dan setelah itu mereka mulai larut dalam diam. Memilih menikmati suasana di sekeliling mereka.

"Vi, pulang yuk!" ajak Alvin tiba-tiba.

Via menoleh dengan cepat. Mengamati wajah pucat Alvin yang sudah dihiasi rona-rona merah padam dan keringat dingin. Ia terlihat menahan sakit.

"Kamu kenapa Al?" tanya Via cemas.

Alvin menarik nafas sebelum bicara. "Pusing."

"Ya udah kita pulang!" Via membantu Alvin berdiri. Sedikit kaget begitu merasakan hawa dingin di tubuh Alvin.

Entah kenapa tiba-tiba saja seluruh objek yang ada di sekitarnya berbayang. Berputar-putar dengan sangat cepat. Membuat kepalanya berdenyut sakit. Perutnya terasa mual dan ingin muntah. Sebelum akhirnya sebuah cairan berwarna merah kecokelatan keluar dari lubang hidungnya seiring kegelapan yang menyerang sudut matanya.

"Alvin!"

***

Katakanlah ia tak suka berada di tempat ini bersama bau obat-obat kimia yang menyengat indera penciumannya. Dengan orang-orang berseragam putih yang berlalu lalang di hadapannya. Namun, melihat orang yang kini ada di dalam ruang pucat itu membuat semua fikiran buruk tentang tempat itupun hilang begitu saja.

Seperti malam ini. Entah kenapa ia berani duduk sendiri di beranda rumah sakit. Mencoba mencari hawa-hawa positif. Karena rupanya beberapa hari ini, segenap hatinya dipenuhi aura negatif. Dan ia tidak menemukan itu sama sekali.

"Vi!" Alvin duduk di samping Via.

"Hei! Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Via kaget dengan kehadiran Alvin di sampingnya. "Ayo masuk! Udara malam gak baik untukmu. Apalagi kamu hanya mengenakan pakaian rumah sakit yang tipis itu." komentarnya.

Alvin tersenyum dan itu selalu sukses membuat Via diam.

"gak apa-apa."

"Gak apa-apa gimana? Kamu udah kaya mayat hidup tahu."

"Hm.. Sejak kapan kamu bawel seperti ini?"

Via tertunduk. Ia pun tidak tahu apa jawaban yang tepat. Ia menatap mata Alvin yang tampak sayu. Mencoba mencari celah untuk membaca apa yang ia rasakan kali ini. Meski pada akhirnya tak bisa ia baca.

"Kenapa Vi? Apa karena aku penting untukmu? Atau karena..." ucapan Alvin terpotong.

"Karena aku sayang kamu! Tak ada alasan lain." Via tertunduk. "Jadi, jangan tinggalkan aku! Jangan pernah mencoba menjauh dariku!" pintanya lirih.

Alvin menarik nafas panjang. Ucapan gadis itu sungguh-sungguh menyesakkan dadanya. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Lidahnya tiba-tiba kelu. Bahkan ia tidak tahu apa yang akan terjadi di detik selanjutnya setelah ini. "Vi! Jika waktuku memang tidak bisa di perlambat untuk pergi, aku minta maaf Vi! Maaf karena aku memaksamu masuk ke dalam kehidupanmu. Memberikan harapan kosong padamu. Dan tolong respon maafku kali ini." jelas Alvin mengingat sejak dulu Via tidak pernah merespon maafnya.

Via meluruskan pandangannya. Tak berani menatap Alvin lebih dalam. Karena semakin lama tatapan itu beradu, semakin dalam jurang ketakutan yang ia pijaki. "Kamu tidak pernah melakukan kesalahan padaku. Kamu terlalu baik untuk meminta maaf padaku, Dan kalaupun kamu memang tidak bisa menemaniku. Aku tidak akan menyalahkanmu."


"Jangan bilang kau akan menyalahkan Tuhan! Karena yang seharusnya disalahkan adalah kenapa kamu memilih sad ending? Hehe.." canda Alvin.

"Ih Alvin.. Aku kan milih sad end bukan untuk kisa kita!"

"Hehe, entar cerpennya dibuat happy ya? Lagi pula, aku yakin kamu udah belajar banyak dari kisah-kisah sad end itu! Kalau tak selamanya yang kita miliki tidak akan menjadi milik kita."

Via tertegun. Lalu mengangguk.

Keadaan mulai hening selama beberapa saat. Sebelum akhirnya, Alvin beranjak dari duduknya. Menjauhi Via.

Dan Via tetap bergeming. Tak mampu melakukan apapun. Tubuhnya seperti ditimbun suhu dingin dengan minus beberapa derajat. Tak mampu bergerak sama sekali. Ia menatapi punggung Alvin yang semakin menjauh. Dadanya begitu sesak. Bahkan cairan bening itu mengalir tanpa ia undang saat bayangan sosok itu semakin lama semakin buyar ditelan satu titik cahaya. Dan ia mulai sadar, bahwa jiwa itu telah pergi, jauh meninggalkan raganya yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan berbagai kabel yang melilit tubuhnya. Dan garis lurus di layar komputer itu memberitanda bahwa Alvin benar-benar sudah kehilangan detak jantungnya.

Via terkulai lemah. Ia sandarkan tubuhnya di dinding. Ternyata ini tak semudah kisah sad ending yang selama ini dibuatnya. "Aku benci sad ending! Kenapa akhir itu harus menghampiriku?"

Via tekuk mukanya pada kedua lututnya. Membiarkan bajunya menyerap cairan bening yang tak kuasa ia hentikan. Ia sadar bahwa tak ada lagi orang yang bisa ia lihat di ruangan Osis, lapangan basket, maupun Albider. Tak akan ada lagi orang yang selalu sukses membuat kaum hawa tergila-gila padanya. Tak ada lagi dia yang mereka bilang perfect padahal di balik kesempurnaan itu terdapat satu raga yang begitu rapuh. Dan orang itu Alvin, laki-laki yang ada di hatinya selama ini. Meskipun baru beberapa minggu hatinya didekap hangat oleh sosok itu.



END

4 komentar:

  1. kristian sibarani3 Mei 2013 08.19

    awal cerita alvin sesosok cowok ganteng, baik, tangguh,, bisa basket..

    di akhir tiba'' sekarat dan mati karna gk jelas ntah apa penyakitnya..

    ntah cerpen apaan...

    zzzzz

    BalasHapus
  2. Walau cerpen udah lama, tpi tetep suka:D. Kak bikin cerpen tentang alvin lagi donk. Aku suka cerpen2 kakak. Oh ya separationnya dilanjut ya..

    BalasHapus
  3. Aduhh endingnya terlalu terburu buru...
    Udah cape ya kak

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea