Jumat, 20 Mei 2011

Berhenti Untuk Berakhir_sekuel2 I Remember It (cerpen Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 02.08
***

Perlahan kubuka pintu berwarna putih gelap itu. Dan aku dapat melihat dengan jelas gadis itu. Ia menangis pilu sembari memanggil-manggil namaku. Ruangan yang tempo hari pernah kukunjungi itu tampak penuh dengan kabut-kabut kesedihan. Gadis itu tersedu sedan.

"Sivia!" panggilku memanggil gadis itu. Sivia menoleh.

"Alvin!" panggilnya.

*

Sesaat aku membuka mata. Mengamati keadaan di sekitarku. Mencari dimana arah suara itu. Hanya ada Ibu, Iyel dan Cakka di sekitarku. Lalu dimana Sivia? Dimana dia?

"Sivia mana bu?" tanyaku lemah. Menatap Ibuku yang sepertinya sudah menangis. Matanya sembab dan merah.

"Jangan mencoba keluar dari ruangan ini lagi Al! Apa lagi atap rumah sakit menjadi tujuan kamu. Kau hampir mati disana!" cerocos Cakka memperingatiku.

"Kau tak boleh kemana-mana tanpa kami!" sambung Iyel lebih halus. Ia menatapku prihatin.

Aku menarik nafas kecewa. Rupanya Sivia hanya mimpi saja. Aku ingat beberapa jam yang lalu aku pingsan di atap rumah sakit pasca melihat-lihat foto dalam kameraku. "Rio?" tanyaku begitu sadar temanku yang satu itu tak ada disisiku.

"Dia pergi sebentar. Benerin kamera kamu!" Ibu menjawab pertanyaanku sembari mengelus-ngelus rambutku.

Aku mengangguk mafhum. Menatap mereka bergantian. Tatapan mereka, kebaikan mereka, dan keberadaan mereka lah yang selama ini membuatku bertahan di dalam kondisiku yang semakin memburuk. Merekalah yang membuatku enggan masuk ke dalam ruangan itu lebih dalam. Merekalah yang membuatku tak mampu memeluk Sivia. Merekalah orang-orang hebat yang berusaha menarikku untuk tetap disinig

"Izinkan aku pergi ya Bu, aku ingin menemui Sivia. Dia menangis memintaku untuk ada di sisinya."

Ibu dan kedua temanku sontak terenyuh.

"Alvin! harusnya kau bilang pada Sivia kalau Alvin masih mau bersama Ibu!" Kata Ibu terkesan meminta.

"Tapi Bu, disana jauh lebih tenang. Tak ada rasa sakit seperti disini. Alvin ingin saja disamping Ibu dan juga Cakka, Iyel serta rio. Tapi, Alvin gak bisa bu. Bukan Alvin memilih Sivia karena pada dasarnya Ibu lebih berharga dari apapun. Alvin hanya ingin merasakan ketenangan. Alvin sudah menyerah hidup dengan alat-alat medis ini" jelasku menundukan kepala. menahan tangis karena bagiku mengatakan itu begitu memilukan.

Ibu memelukku erat. Sepintas kulihat Iyel dan Cakka. Mata mereka berkaca-kaca. Mereka selalu tampak lemah beberapa bulan ini. Lemah karena aku yang mengambil separuh kekuatan mereka. Maaf!

*

Setelah berbagai cara telah kulakukan untuk membujuk dokter dan Ibu serta ketiga temanku agar mengizinkanku untuk keluar dari rumah sakit dan pergi menuju tempat ini―tempat favoritku bersama Sivia, akhirnya akupun mendapat izin.

Meski Iyel, Cakka dan Rio bersikukuh menemaniku. Tak jadi masalah. Bagiku berada di tempat inipun satu hal yang patut kusyukuri. Hal istimewa yang aku dapatkan. Bisa menginjakan kaki disini setelah bertahun-tahun tak pernah lagi kumenjamahnya.

Kincir-kincir bambu itu masih berdiri tegak meski sebagian ada yang tumbang dimakan usia. Gerakan perputaran mereka sangat pelan. Entah karena angin yang enggan menyentuhnya lagi. Atau karena mereka sudah terlalu rapuh untuk berputar cepat.

Kuedarkan pandanganku ke setiap penjuru. Tak ada apa-apa selain rumput-rumput yang berdiri lebih tinggi dari terakhir kali aku menengoknya.

"Al, pulang yu! Udah cukupkan lihat-lihatnya?" tanya Iyel menepuk pundakku.

"Bentar lagi Yel. Aku masih ingin merasakan perputarannya." Ujarku pelan. Aku hanya ingin meraskan ini sebelum kehidupan ini kutinggalkan. Menikmati perputaran waktu yang cukup pelan.

"Sampai kapan Al? Disini itu gak ada apa-apa tahu gak? Aku heran deh sama kamu!" Kesalanya. aku tahu itu bentuk rasa takut Cakka akan kondisiku.

"Udahlah Kka! Gak usah emosi gitu!" tegur Rio menenangkan."Al, kamu nunggu apa?" tanya Rio pelan.

"Nunggu kincir-kincir itu berhenti" jawabku enteng.

Ketiga temanku menarik nafas panjang tak mengerti dengan jalan fikiranku.

Keadaan hening..

Hening..

Dan hening..

Sesaat, aku merasa sesuatu menghantam kepalaku dari dalam. Sakit. Aku menjatuhkan tubuhku diantara rumput-rumput hijau yang sudah dihiasi warna kuning.

"Argh!" erangku pelan. Kali ini secara tiba-tiba dadaku sesak. Detak jantungku berlomba dengan hembusan nafasku. Semuanya berbayang, samar dan akhirnya gelap.

Sepintas kudengar sayup-sayup suara cemas ketiga temanku memenuhi gendang telingaku, mengiringi langkahku menuju gerbang putih itu. Hingga akhirnya hilang, seiring berhentinya perputaran kincir-kincir bambu itu. Seiring tak ada lagi detakan jantung itu. Seiring menetesnya kristal-kristal bening dari ketiga pasang mata itu.

dan kuberjalan menyusuri taman-taman hijau itu. Hingga kumenemukannya dan mendekap hangat tubuhnya, Sivia.

END

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea