Jumat, 20 Mei 2011

I Remember It (Cerpen Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 02.06
***


"Alvin!"

"Al! Bangun sayang!"

"Bangun jagoan!"

"Alvin! Buka matamu!"

Aku terhenyak. Suara itu. Suara lembut itu menyapa indera pendengaranku dari tiap sudut. Menuntun syaraf otakku untuk bekerja lebih keras. Aku ingin membuka mataku. Namun sulit. Entah kenapa.

*

Aku mengedarkan pandanganku. Asing. Benar-benar asing. Sebuah tembok polos dengan warna abu menjadi satu-satunya yang melingkup ruangan ini. Tekstur keadaan ruangan itu tampak seperti kastil zaman kuno di negara Skotlandia. Semuanya dingin. Sepi dan lenggang.

Jendela dengan besi kotak-kotak di sekitarnya menjadi satu-satunya jalan masuk penerangan ke dalam ruangan yang hanya dihuni oleh beberapa benda. Tempat tidur bersprai putih dengan polet kuning emas di sisinya dan sebuah meja kecil yang berdiam diri di sampingnya. Menjadi ciri, kamar ini sangat sederhana.

Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela. Embun-embun tipis melekat di balik jendela, membuat pandanganku buram dan tidak dapat melihat jelas keadaan di luar sana. Perlahan aku menuruni tempat tidur. Berjalan menuju pintu keluar. Semuanya terasa ringan.

Klek!

Belum sempat kumemegang handle pintu, pintu sudah terbuka. Kulihat seseorang di baliknya. Gadis berparas cantik dengan gaun putih selutut tengah berdiri di hadapanku. dan aku kenal gadis itu. Sivia―kekasihku yang beberapa tahun tak kutemui.

"Mau pergi kemana?" tanya Sivia.

"Aku dimana?" tanyaku balik.

Sivia tersenyum mendengar pertanyaanku. "Di rumahmu.." jawabnya tak melepaskan senyumannya.

Aku menaikan satu alisku bingung. Rumahku? Sejak kapan? bahkan aku tak kenal ruangan ini.

"Sudahlah! Masuklah dulu! Aku ing├Čn bercerita panjang lebar kepadamu." Sivia mendorongku ke dalam ruangan tadi dengan pelan.

Aku duduk di atas tempat tidur. Sivia duduk di sampingku. Aku berfikir keras. Menatap Sivia lekat-lekat. Tak ada yang kuingat. Yang kuingat hanya, sudah lama tak kulihat gadis itu. Dan di saat kami bertemu disini. Gadis itu tak main-main cantikny. "Sivia! apa yang terjadi? aku tak ingat apapun!" tanyaku tak mengerti. mencoba memutar kembali ingatanku. namun tak bisa.

"Jangan terlalu berfikir keras. Nanti juga kau ingat dengan sendirinya" kata Sivia tiba-tiba memelukku. "Aku rindu padamu, Alvin! Jangan coba beranjak dari sisiku. " pintanya menguatkan pelukannya.
Aku terdiam. Tak mengerti. Namun betapa tidak secara spontan kurasakan ketenangan dalam dekapan Sivia. Ketentraman itu menelusup lewat pori-pori tubuh dan stuck tepat di dasar jiwa. Aku tak ingin mengingat apapun. Ini terlalu menenangkan. Mungkinkah sekarang amnesia sedang menyerangku? Entahlah...

*

Tempat ini. Bukan buatan indahnya, rumput hijau pendek terbentang mengelilingi bangunan yang Sivia bilang, rumahku. Pagar besi putih menjulang, bercengkrama dengan kabut-kabut tipis yang menyapa bumi. Menara-menara rumah yang tinggi, berdiri tegak menggapai awan-awan putih. Aku tertegun. Bahkan aku lupa punya rumah semegah ini.

"Alvin! Kejar aku!" teriak Sivia berlari menjauhiku.

Aku terhenyak. Menatap Sivia yang sudah jauh dari jarakku sekarang. Gaun putih Sivia bergerak-gerak seirama dengan gerakan rambut hitamnya yang tergerai. Aku berlari mengejarnya. Berusaha meraih tangannya. Berhasil. Kami berlari berdua. Saling menggenggam erat jari jemari. Menyusuri anak-anak tangga. Melewati para pelayan-pelayang bercostum putih cerah yang tentunya selalu terlihat ramah yang ceria. Mereka tetap sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dan aku tak ingat punya pelayan yang begitu banyak.

Aku dan Sivia berhenti di taman belakang. Tertawa. Berputar-putar. Menikmati angin lembut menerpa tiap inci indera peraba. Suara gemericik air amancur menjadi melodi terindah yang mengiringi aksi kami. Belum pernah aku sebahagia ini.

"Aku merindukanmu, Sivia!" Bisikku tepat di telinga Sivia sambil menghempaskan tubuh itu di atas rumput hijau.

Sivia tersenyum. Dan aku tidak pernah bosan menatap wajahnya. Gadis itu―Siviaku, kembali ke dalam pelukanku setelah bertahun-tahun hilang dalam hidupku. Dan aku tak ingat, siapa yang meninggalkan dan ditinggalkan. Aku tak ingat sama sekali.

"Sivia, aku bahagia bisa bersamamu kembali."

Sivia hanya merespon ucapanku dengan senyuman.

Aku memeluk tubuh itu erat. Meluapkan rasa rindu yang meletup di dasar jiwa. Sivia membalas pelukanku lebih erat.

"Alvin! Tetap bersamaku disini! Jangan tinggalkan aku apapun yang terjadi." Pinta Sivia. Aku mengangguk mengiyakan.

*

Kubenamkan wajahku di kedua telapak tanganku. Mencoba mengingat apa yang sebelumnya terjadi. Kecelakaan apa yang membuatku amnesia? Kenapa tak ada diantara mereka―para pelayan yang mengenakan costum putih cerah itu, yang mau memberitahuku? Lalu kemana ayah dan ibuku? Kenapa tak kulihat mereka selama aku disini? Bukankan ini rumahku? Argh! Kepalaku sakit! Sangat sakit! Aku menghentikan aktivitasku. beralih mengamati keadaan disekitarku.

Rumah ini terlalu besar dan terlalu megah. Desain kunonya terlalu cantik. Kepolosannya terlalu menenangkan. Dan aku tidak tahu apa-apa tentang rumah ini. Sama sekali tidak tahu.

"Alvin!"

Seseorang melingkarkan tangannya di leherku. Membuat semua fikiran aneh yang bersemayam dalam otakku buyar dan hilang. Aku tersenyum begitu menyadari pemilik tangan lembut itu Sivia. Gadis itu selalu bisa membuat fikiranku tenang.

"Ayo kita jalan! Kan kuajak kau keluar dari istana ini!" Sivia melepaskan pelukannya. Beralih menggenggam erat jemariku. Berjalan menuju pintu rumah.

Aku mengamati Sivia lebih rinci. Gaunnya lebih panjang, namun warnanya tetap sama. Apa Sivia suka warna putih? entahlah! aku tak ingat.

"Kita akan pergi kemana?" tanyaku penasaran.

"Kemana saja asal berdua bersamamu!" jawab Sivia enteng sembari berlari menarik tanganku keluar dari gerbang putih yang tinggi itu. Dan kami terus berlari hingga berhenti di sebuah danau hijau yang luas dengan dikelilingi pohon-pohon berdiameter besar yang tak aku ketahui pohon apa.

Aku duduk di pinggir danau itu. Sivia melakukan hal yang sama. Ia bersandar di bahuku. Merasakan tiap jengkal dari kehangatan ini. Perlahan kurengkuh Sivia dalam dekapanku. Menuntun kepalanya tersandar di dadaku. Membiarkan ia dengan jelas merasakan detakan jantungku. Dan ia akan taht tiap detakan itu adalah irama pengiring yang akan menyampaikan betapa aku takut kehilangannya lagi.

"Begitu lemah!" desis Sivia pelan. Aku diam tak mengerti. "Pelan sekali!" sambungnya dan aku tak peduli dengan apa yang diucapkannya. Dengan lembut kubelai rambutnya. Dan setiap kali tanganku menyentuhnya, jiwa ini terhempas ke dalam lautan ketenangan yang begitu dalam. Aku memejamkan mata. Menikmati detik-detik ketenangan itu.

"Berhentilah!" bisik Sivia lagi. "Aku mohon berhenti!" lanjutnya masih dengan intonasi rendah.

"Kenapa Via?" tanyaku penasaran dengan kata-kata Via.

"Jangan pergi dariku, Alvin! Jangan pernah tinggalkan aku! Jangan biarkan aku sendirian lagi!" Lirih Sivia membuatku semakin berpijak digaris ketidakfahaman.

"Tidak akan, Via! Aku tidak akan meninggalkanmu." Terangku semakin menguatkan dekapanku.

Dan kami larut dalam diam. Tak ada sepatah katapun yang terucap. Kebisuan menyelimuti kami berdua. Sebelum akhirnya...

Aku merasa seseorang menarik tubuhku menjauh dari Sivia. Sepintas kutatap Sivia yang juga ditarik paksa oleh 2 orang berpakaian hitam-hitam. Sementara tubuhku diseret paksa oleh 5 orang lainnya.

"Alviiiinnn!" teriak Sivia keras saat jarak kami benar-benar jauh.

Aku meronta. Mencoba melepaskan diri dari 5 orang bertubuh kekar yang tak kukenali siapa karena seluruh wajah mereka terhalangi kedok hitam. "Lepaskan aku!!" teriakku memaksa. " Siviiiiaaa!"

Salah satu dari mereka membekap mulutku agar diam. Aku terus diseret paksa hingga tak kulihat lagi sosok gadisku―Sivia. Bekapan orang itu sangat kencang. Belum lagi tangan kekarnya menghalangi hidungku sehingg aku kesulitan bernafas. Semakin kumeronta semakin kuat cengkraman 2 orang lainnya yang memegang tanganku. Dan rasanya sangat sakit.

"Hmmpptt... hmmpptt" aku meronta semakin hebat saat kelima orang itu menyeretku menuju jurang, hendak menjatuhkanku.

Tanpa kata. Tanpa tanya dan tanpa kompromi mereka melemparku. Mendorong tubuhku hingga terjun bebas ke jurang yang dalam. Semak belukar menggores tubuhku. Aku tak mengerti. Siapa mereka? Apa mau mereka? Aku sungguh-sungguh tidak ingat apa-apa tentang mereka.

Kupejamkan mataku. Masih terasa goresan-goresan di sekitar tubuhku. Tangan, wajah, kaki, dada, pinggang dan perutku menjadi mangsa ranting-ranting tajam semak-semak itu. Darah mengalari di sekujur tubuhku hingga akhirnya aku terhempas di dasar jurang. Mataku tak ingin kubuka. Sakit disana-sini. Dadaku yang paling sakit. Aku kesulitan bernafas. Detakan jantungku berpacu dengan cepat. Dan itu menyakitkan. Nafasku timbul tenggelam.

"Alvin! Kamu kenapa sayang?"

Suara itu. Suara lembut itu, terdengar jelas di telingaku. Tapi sakit ini sama sekali tak bisa diajak kompromi. Suara lembut itu tak bisa mengobati sakit ini.

"Alvin bertahanlah!"

Aku tak sanggup lagi. Dadaku sakit sekali. Paru-paruku sudah tak sanggu bekerja lagi. Terlalu sakit. Sangat sakit jika harus dipaksakan. Wajahku perih. Kepalaku seperti dihantam berkali-kali. Dan secara pelan-pelan detakkan jantungku menghilang. Hilang. Benar-benar hilang.

Sampai akhirnya aku merasakan sentuhan. Sentuhan yang cukup kuat di dadaku. Sentuhan yang sesaat saja mengembalikan detakan jantungku. Meski pelan. Pelan sekali! Ada setitik celah yang membuatku bisa bernafas. Dan itu hanya sedikit. Sedikit sekali! Kurasakan juga beberapa benda kecil menembus kulitku. Membuat sakit ditubuhku perlahan-lahan menghilang.

*

Aku masih terdampar entah berapa jam dan berapa hari lamanya. Dan aku masih tak sanggup membuka mataku meski sebenarnya aku merasakan kehadiran seseorang di sampingku. Aku merasakan seseorang mengelus lembut tanganku. Menyentuh halus wajahku dan membelai manja kepalaku. Aku ingin membuka mata. Aku ingin tahu siapa orang di sampingku ini. Tuhan tolong! Berikan aku kekuatan untuk ini.

"Alvin! Buka matamu sayang...!"

Aku menarik nafas dalam-dalam. Otakku bekerja keras mengintruksikan syaraf mataku agar terbuka. Sangat sulit.

"Alvin.."

Suara itu kembali terdengar. Kali ini aku merasa si pemilik suara itu mengecup keningku. Siapa? Siapa dia? Izinkan aku membuka mata, Tuhan! Aku ingin tahu siapa dia. Siviakah?

Dengan kekuatan ekstra, aku memaksa mataku terbuka. dalam satu sentakkan kubuka mataku. Dan sukses membuat syaraf dalam otakku menegang dan sakit. Kepalaku sakit. Sungguh sakit.

"Aaaarrgghhh!" aku mengerang.

"Alvin! Ya Tuhan kamu kenapa?"

Orang itu. Aku dapat melihat orang itu. Wanita paruh baya yang saat ini memasang wajah panik dan cemas. Orang itu―ibuku. Dan ruangan ini. Aku kenal jelas. Ruangan yang seminggu yang lalu kumasuki sampai akhirnya aku tak ingat apapun.

"Alvin!" panggil ibu, memencet tombol hijau beberapa kali hingga tim dokter masuk ke dalam ruangan. Memeriksa keadaanku. Sempat terenyuh ketika jarum suntik menembus kulit lenganku. Sakit namun cukup ampuh menghilangkan sakit di kepalaku. Dan semuanya kembali gelap.

*
"Setelah kondisinya yang down beberapa hari kebelakang, ini merupakan kemajuan besar. Keajaiban juga Alvin bisa sadar kembali. Mengingat jarang sekali hal ini terjadi. Setidaknya ia sudah melewati masa kritisnya."

"Lalu bagaiman dengan penyakitnya dok?"

"Alvin bisa melanjutkan pengobatannya setelah keadaannya berangsur pulih."

Percakapan itu. Percakapan antara dokter dan ibuku berhasil membangunkanku yang entah berapa jam tertidur setelah dokter menyuntikan sesuatu padaku.

"Saya permisi.." dokter meninggalkan ruangan. Ibu menghampiriku.

"Alvin!" panggilnya memelukku.

"Apa yang terjadi denganku?" desahku parau.

Ibu melepaskan pelukannya. Menatapku dan mengelus kepalaku lembut. "Kamu koma 2 minggu ini, sayang. Penyakitmu sudah terlalu parah."

"Ibu, Sivia mana?" tanyaku.

Ibu mengerutkan kening bingung. Ia memelukku kembali. "Sudah ya Al! jangan ingat-ingat Sivia lagi. Dia sudah tiada beberapa tahun lalu. Kecelakan sudah merenggut nyawanya. Kamu ingatkan Al? Ibu mohon jangan memperparah penyakitmu dengan terus-terusan mengingatnya!"

Aku tertegun. dan Aku mulai mengerti. Tentang Sivia yang kemarin-kemarin menemaniku. Tentang kenapa aku seperti orang amnesia. Aku ingat dan aku tahu semuanya.

1 komentar:

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea