Minggu, 03 Juni 2012

Don't Over_part 1 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 00.05
*

Hanya tentang persahabatan, yang esok akan jadi sejarah terindah yang tercatat dalam buku harian itu.

*

Sebenarnya tak ada yang istimewa dari tempat itu, selain lembutnya pasir-pasir hitam yang terasa di telapak kaki, dan riak-riak ombaknya yang saling berkejaran. Tapi, tempat itu, seolah menjadi tempat yang wajib mereka kunjungi seba'da pulang sekolah. Meski sekedar untuk duduk diatas pasir hitamnya dan berbincang selama beberapa menit.

"Gue gak ngerti-ngerti nih Yo deret aritmatikanya!" keluh Sivia memandang buku matematikanya kesal. Rio terkekeh melihat ekspresi sahabat perempuannya itu.

"Kalau gak ngerti, ya udah! Ribet amat sih Vi. Lo kan emang lemot ngadepin tuh angka-angka." Cibir Alvin merebut buku bersampul cokelat polos milik Sivia. "Urusan matematika, nih serahin sama pakarnya. Mario Stevano!" Alvin menepuk bahu Rio yang hanya bisa tersenyum tipis mendengar pujian Alvin.

Sivia cemberut mendengar cibiran Alvin. Ia mengepal butiran-butiran pasir, lalu menaburkannya di atas kepala Alvin. Membuat Alvin secara repleks menghindar. Namun tetap saja, ia kalah cepat dengan Sivia.

"Ish lo Vi! Gue udah keramas tadi pagi!" Protes Alvin mengacak-ngacak rambutnya untuk menghilangkan pasir-pasir itu. Sivia tertawa puas.

"Abisan lo ngejek gue mulu sih! Dasar pianis sipit amatiran!" ledek Sivia berdiri dari duduknya. Ia merebut bukunya yang masih nangkring di tangan Alvin.

Alvin ikut berdiri. Begitupun dengan Rio. "Lo tuh, penulis gendut tak bermutu!" ejek Alvin balik.

Sivia jengkel. Ia berjongkok untuk mengambil pasir lagi dan siap-siap untuk menyerang Alvin. Dengan sigap, Alvin menyiapkan aba-aba untuk berlari sebelum Sivia benar-benar menyerangnya.

"Kejar Vi!" Rio menyemangati Sivia. Laki-laki pendiam itu memang paling suka menjadi penonton setia kedua sahabatnya itu. Baginya, tak ada tontonan paling seru selain adegan-adegan Sivia dan Alvin, yang selalu tampak seperti tokoh Tom dan Jerry. Tidak pernah akur. Tapi terlihat begitu dekat dan saling sayang.

Sivia mengangguk ke arah Rio. Sejurus kemudian berlari mengejar Alvin yang sudah berdiri di tepi pantai. Kalau sudah begini, mereka harus siap pulang dalam keadaan basah.

*

[Cakka]

Terik matahari tak jadi penghalang untuk mereka tetap berlarian menyusuri jalan-jalan raya yang sesak oleh lalu lalang kendaraan. Mereka tidak akan bosan melakukan rutinitas itu sepulang sekolah. Saling kejar sembari berceloteh-ria, atau sambil berebut bola basket sebagai bentuk latihan.

"Ayo! Yang paling dulu sampai di taman kota dan masukin bola ke dalam ring dapat hadiah bebas nyatet pelajaran selama satu bulan dari yang kalah!" Cakka berlari paling cepat. Agni dan Debo―sahabatnya―tak mau kalah. Dengan susah payah, berusaha mengejar Cakka yang memang juaranya lari.

"Uaaahh, lo curang Kka! Mana ada lomba lari tanpa start terlebih dahulu?!" Protes Agni berusaha mengejar Debo yang saat ini berlari di depannya.

"Yah Ag! Jangan susul gue dong! Gue gak mau nih nyatet pelajaran buat Cakka selama satu bulan." Debo nyerocos gak jelas saat Agni mulai menyusulnya. Ia membayangkan jika esok dan satu bulan penuh harus mencatat di dua buku sekaligus.

Agni membalikan badan untuk melihat Debo sejenak. "Bukan di bukunya Cakka De, tapi di buku gue!" Ujarnya yang kemudian mempercepat langkahnya untuk menyusul Cakka yang memang sudah jauh dari hadapannya.

"Dasar cicak-cicak di dinding!" Umpat Debo berhenti. Ia mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan. Percuma harus terus berlari. Toh pada akhirnya ia akan kalah. "Mentang-mentang juara lari, maen nantang aja tuh orang." Dumelnya sebal. Kembali berjalan menuju taman kota yang hanya tinggal beberap meter lagi. Dan ia sudah siap menerima kekalahannya.

*

[Gabriel]

Iyel masih saja sibuk di dalam ruangan dengan berbagai map, piala, dan alat-alat keorganisasian itu. Sebagai ketua osis yang bertanggungjawab, ia tak ingin meninggalkan tugasnya untuk merevisi proposal yang tadi pagi diserahkan oleh Shilla, sekretaris osis sekaligus sahabatnya. Meski ini sudah jam pulang, ia tetap saja bersikeras tak ingin menunda pekerjaannya. Apalagi kegiatan itu sebulan lagi akan segera dilaksanakan.

"Iyel!" Shilla berdiri di hadapan Iyel sambil menyorotkan handycame-nya ke arah Iyel.

Iyel mengangkat kepalanya. Tersenyum ke arah Shilla. Tak lupa kepada Kiki―sahabatnya juga―yang tengah tersenyum melihatnya.

"Apa yang lo fikirkan tentang cinta dan proposal?" Shilla melontarkan pertanyaan yang membuat Iyel mengernyit bingung. Sahabatnya yang satu itu, selalu saja memaksanya mendefinisikan sesuatu secara spontan.

"Hmm... cinta itu murni ada dalam pribadi setiap orang. Yang artinya, tidak memerlukan proposal untuk mengajukan persetujuan untuk memilikinya!" deskripsi Iyel ngasal. Ia tertawa pelan. Shilla ikut tertawa. Begitupun dengan Kiki.

"Lo paling bisa deh Yel!" Puji Kiki merebut kamera Shilla dan menyorotkannya ke arah Shilla. "Apa yang lo fikirkan tentang cinta dan gue?"

Shilla menatap kamera. Pura-pura berfikir. Sejurus kemudian dia tersenyum jahil. "Cinta itu indah, dan lo itu jelek!" ejek Shilla tertawa keras. Kiki cemberut tidak terima.

"Eh, kalian kenapa belum pada pulang?" tanya Iyel berhasil menghentikan aksi kedua sahabatnya, yang langsung memandangnya serius.

"Tadi pagi lo kan minta kita temenin lo menemui Om lo Yel! Pikun deh lo!" Protes Shilla gemas Iyel menepuk jidatnya pelan.

"OMG, gue lupa! kenapa lo gak bilang dari tadi? " sibuk Iyel berdiri dari duduknya dan segera meraih tasnya yang sedari tadi berdiam diri di atas CPU, kemudian berlari meninggalkan ruang osis. "Tolong kunciin Ki!" Seru Iyel.

"Yaelah Yel! lo gak perlu lari-lari kaya gitu kali!" Shilla ikut berlari mengejar Iyel. Meninggalkan Kiki yang masih sibuk nyari-nyari kunci yang pas di pintu ruang osis.

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea