Selasa, 05 Juni 2012

Don't Over_part 2 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 06.46
[Alvin]

Alvin duduk bersila di atas batu karang yang berdiri kokoh di tepi pantai. Menikmati panorama laut yang indah, yang membuat ia berfikir, bahwa masih ada atau malah banyak hal-hal terindah yang bisa ia nikmati di sela pahitnya kehidupan yang selama ini Tuhan gariskan untuknya.

Alvin seorang anak broken home yang tidak memilih hidup diantara kedua orang tuanya selama empat tahun ini. Meski kedua orang tuanya masih memfasilitasi kehidupannya dengan begitu cukup atau lebih, tetaplah ia merasa kehidupannya jauh lebih buruk dari kaum minoritas di seluruh dunia.

Namun bagi Alvin, larut dalam air mata yang bahkan tidak akan mengubah cerita Tuhan, adalah perkara yang sia-sia. Ia yakin, masih banyak hal yang patut ia syukuri di dunia ini. Bukankah hidupnya selama ini bahagia dengan kata syukur itu?

"Ngelamun aja lo!" Sivia duduk di hadapan Alvin, disusul oleh Rio yang memilih duduk membelakangi Alvin; Melihat hamparan laut.

Alvin mengamati Sivia yang sudah tidak mengenakan seragam melainkan jaket hitam bercorak putih milik Rio. Sementara Alvin masih saja mengenakan pakain basah sehabis bermain air bersama Sivia beberapa menit yang lalu.

"Ahh lo yo, gak adil. Kali-kali jaket lo kasih ke gue dong!" Protes Alvin mendelik sebal. Ia pura-pura kesal.

"Ye, sirik aja deh lo! Rio kan lebih sayang gue dari pada lo." Bangga Sivia sambil menjulurkan lidahnya. Alvin menyeringai.

Selalu saja seperti ini. Rio akan di hadapkan pada pilihan yang dilematis setiap kali Alvin dan Sivia basah-basahan. Ia yang memang paling rajin bawa jaket ke sekolah, selalu bingung menentukan kepada siapa jaketnya diberikan. Dan anehnya, selalu saja Sivia yang pertama kali dihangatkannya. Bukan apa-apa. Bukan karena Rio lebih sayang pada Via, karena pada dasarnya, sayangnya pada Alvin dan Sivia itu sama. Sayang sebagai sahabat. Tapi, mungkin Karena Rio lebih menghargai seorang perempuan, membuat ia menomor satukan sivia untuk ia lindungi.

"Besok-besok gue kasih ke lo deh Al!" Rio membalikan badannya untuk memandang Alvin. Ia tersenyum simpul.

Giliran Sivia yang mendelik sebal. Membayangkan jika esok-esok, ketika bajunya basah lantaran bermain-main air bersama Alvin, tak ada lagi jaket Rio yang menghangatkan tubuhnya.

Alvin tersenyum penuh kemenangan sambil mengacak-ngacak rambut Sivia yang masih basah dan masih dipenuhi sisa-sisa pasir pantai. Rio yang memang paling dewasa diantara kedua sahabatnya itu, hanya tersenyum tipis.

"Kalian itu matematika buat gue Penuh perhitungan yang membingungkan, tapi hal yang mengasyikan, yang membuat gue betah duduk berlama-lama untuk menyelesaikannya"

"Kalian itu inspirasi paling hebat yang gue punya di dunia ini!"

"Kalian nada paling indah yang selalu buat hidup gue rame! Penuh warna dan kebahagiaan."

Ikrar itulah yang mereka ucapkan beberapa tahun lalu saat mereka duduk di kelas 2 SMP. Ikrar yang membuat mereka sampai saat ini bersatu, saling melengkapi, saling peduli dan saling menyayangi. Layaknya mimpi yang sejak dulu mereka genggam erat. Persahabatan itu-pun mereka pegang. Tak perlu dilepas.

"Lo mah gitu Al! Bujuk-bujuk Rio. Gue jadiin antagonis di cerpen gue, tahu rasa lo!" Ancam Sivia.

Alvin hanya tertawa pelan mendengar ancaman Sivia. "Biarin aja. Suka deh gue jadi antagonis. Dari pada jadi protagonis, lo siksa mulu, lo bunuh mulu. Dasar sad ending lovers." Cerocos Alvin sambil menarik nafas dalam-dalam. Ada rasa tidak enak di tubuhnya.

Sivia memandang Rio yang sudah kembali pada pengamatannya. Ia duduk merapat ke dekat Rio. "Yo! Alvin gak usah dipeduliin! Gue aja! Kan gue sahabat lo yang paling cantik, paling imut, paling pinter dan paling hiwaw!" Narsisnya menarik-narik lengan Rio. Manja.

Rio menoleh dan mengangguk pelan. Mengiyakan.

"Oh... Shitt!" Alvin mengumpat pelan. Menutup mulutnya. Secara tiba-tiba perutnya mual dan ingin muntah.

Rio dan Sivia sontak memandang Alvin cemas. "Kenapa Al?" Tanya mereka kompak. Tanpa komando, secara bersamaan mereka pindah posisi dan duduk lebih dekat.

Alvin menggeleng pelan. "Gue gak apa-apa. Kayanya masuk angin deh!" Alasan Alvin menggosok-gosok lengannya. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa dingin. Ditambah angin pantai yang berhembus lebih kencang dari sebelumnya, membuat hawa dingin itu dua kali lipat lebih hebat memeluk tubuhnya.

Rio memegang kening Alvin. Panas. Tubuh Alvin panas. "Lo sakit Al!" Ujar Rio memberitahu.

"Gue gak apa-apa Yo. Tapi perut gue kok sakit gini ya? Mual lagi!" Keluh Alvin memegang perutnya.

"Kalo gini bukan gak apa-apa! Maag lo kumat. Dasar sipit lo! Pasti gak sarapan lagi kan lo?" Tebak Sivia yang sudah tahu kebiasaan Alvin yang benar-benar tidak bisa mengatur pola makannya dengan baik. Ketidakhadiran sosok orang tua dalam kehidupannya, membuat Alvin cenderung cuek terhadap hal-hal spele seperti itu.

Dulu saat Alvin duduk di bangku SMP, masih ada mbak nova―keponakan mama Alvin―yang mengurusi keperluan Alvin. Namun, saat Alvin menginjak SMA, Mbak Nova berhenti mengurus Alvin untuk meneruskan kuliahnya yang sempat tertunda. Alvin memilih hidup mandiri tanpa menerima tawaran mamanya untuk dicarikan pembantu baru, yang justru membuatnya kerepotan sendiri untuk mengatur keperluannya.

"Ya udah! Kita pulang sekarang." Rio membantu Alvin berdiri.

"Tunggu!" Sivia melepas jaket Rio dan memakaikannya di tubuh Alvin. Padahal tadi ia masih ngomong agar Rio tidak mempedulikan Alvin. Tapi justru ia sendiri begitu peduli dengan kondisi sahabatnya itu.

"Argh!" Erang Alvin kembali berjongkok setelah sebelumnya ia sudah berdiri dengan sempurna. "Perut gue sakit banget nih!" Keluh Alvin masih memegang perutnya. Berharap dengan itu sakitnya sedikit hilang.

Sivia dan Rio saling pandang. Raut wajah mereka berbicara; bagaimana ini? Sivia mengangkat bahu pertanda tidak tahu harus bagaimana. Rio berfikir sejenak sebelum akhirnya kembali berjongkok. Memandang Alvin serius.

"Lo masih kuat jalan kan Al? Kalo ngga, gue gendong nih!" Kata Rio yang membuat mata sipit Alvin secara repleks melotot; Gila aja! Mana kuat Rio gendong gue yang jelas lebih gede dari dia.

Alvin menggeleng cepat. "Ngga perlu deh! Gue masih bisa jalan kok!" Tolaknya sambil membungkuk. Tangannya masih standby di atas perutnya. Menahan sakit.

"Ya udah, sini gue bantu!" Sivia menarik tangan Alvin agar melingkar di lehernya. Rio melakukan hal yang sama.

Dengan susah payah, mereka memapah Alvin yang memang cukup berat itu untuk pulang. Agak susah memang. Apalagi Alvin yang berkali-kali berjongkok hanya untuk menahan sakit.

"Hhh..," Alvin mendesah keras-keras. Ia kembali berjongkok padahal baru beberapa langkah ia jalan. Kepalanya terasa amat pusing. Perutnya dua kali lipat lebih sakit dari sebelumnya. Seperti ada ombak yang mengamuk dalam perutnya, ia mual dan muntah. Hanya cairan bening yang pahit memang. Mengingat tak ada asupan makanan sejak tadi pagi.

Rio panik. Sivia lebih panik. Sebelumnya mereka belum pernah melihat maag Alvin kumat separah ini. "Al," Panggil Sivia cemas.

"Sakit banget Vi. Kenapa ya?" Tanya Alvin yang juga tidak mengerti dengan kondisinya. Ia kembali berdiri. Namun naas. Seperti baru saja seluruh penerangan dipadamkan, ia tidak bisa melihat. Gelap! Alvin pingsan.



*

[Cakka]

"Hahaha... gue bebas nyatet! Yes, yes, yes!" Cakka jingkrak-jingkrak kegirangan begitu ia berhasil memasukan bola ke dalam ring. Debo dan Agni terengah di pinggir lapangan. Melihat Cakka yang menyeringai penuh kemenangan ke arah mereka berdua.

"Seneng amat lo!" desis Debo sebal. Agni hanya tertawa pelan melihat ekspresi Debo.

"Iya dong, gue seneng!" Kata Cakka melempar bola ke arah Debo yang dengan sigap langsung menangkapnya. "Ayo! dua lawan satu!" tantangnya. Agni dan debo saling pandang; mentang-mentang jago basket! "Yang kalah traktir!"

"Aiish, yang mvp! Gayanya," Agni mengambil bola di tangan Debo dan segera mendriblenya menuju tengah lapangan. Debo mengikuti.

Cakka tersenyum. Ia bahagia. Dan memang faktanya hidup Cakka tidak pernah lepas dari kata bahagia. Bagaimana tidak? Kesempurnaan benar-benar memeluk kehidupannya. Keluarga yang lengkap, kehidupan yang mewah, prestasi cemerlang yang diraihnya, mulai dari juara kelas, juara olimpiade, hingga gelar mvp yang melekat dalam dirinya. dan tentu saja yang membuat hidupnya lebih sempurna, adalah kehadiran Agni dan Debo yang menghiasi hari-harinya.

"Cakka kalo maen basket keren ya Ag?" Puji Debo melakukan Chest pass ke arah Agni yang langsung menangkapnya dan mendrible-nya.

Cakka tersenyum PD sambil menghadang Agni dan siap merebut bola di tangan Agni. Berhasil. Dengan mudah bola beralih ke tangan Cakka. "Gak lagi maen basket juga gue tetep keren!" Seru Cakka narsis.

"Makin cinta deh gue sama lo!" Celetuk Debo berhasil membuat mata Cakka meliriknya tak percaya. Dalam situasi lengah itu, Agni merebut bola lagi dan segera melakukan shooting. Dan...

"Masuk! Ye..." teriak Agni dan Debo barengan. Mereka tertawa puas.

Cakka cengo; Gue dikerjain!

"Hahaha... amit-amit jabang orok raksasa deh gue cinta sama lo!" kata Debo di sisa-sisa tawanya. "Seorang mvp terkecoh taktik gue!"

"Curang ahh lo berdua!" Gerutu Cakka kesal. "Mana ada taktik kaya gitu!"

Agni dan Debo saling pandang. Tersenyum penuh kemenangan. "Sik, asik! Traktir, traktir!" Mereka bertos-ria. Menatap Cakka yang langsung membuang muka.

"Gak asyik! Ulangi lagi!" Protes Cakka mengambil bola. Tidak terima harus kalah tanding sama Debo dan Agni yang biasanya K.O olehnya. Toh mereka bisa basket diajari Cakka.

"Gak mau Ahh!" tegas Agni. "Kita kan udah menang!"

Cakka menyeringai. "Gak mau tahu. Pokoknya lawan gue lagi!" Katanya berlari mendrible bola. Agni dan Debo menghela nafas. Masih pada posisinya.

BRUKK!
Cakka terjatuh!

Agni dan Debo bertukar-toleh. Sejurus kemudian menggemakan tawa sejadi-jadinya. Aksi jatuh Cakka sungguh lucu.

"Hahaha.. masa jagoannya lari sama basket jatuh sih?" cibir Agni berjalan mendekati Cakka yang tidak merespon cibirannya. Debo mengikuti. Masih tertawa.

"Auw! Argh, aduh, duh!" Cakka meringis tak mempedulikan tawa sahabat-sahabatnya. Kakinya terasa begitu sakit.

Agni dan Debo yang melihat Cakka seperti itu, sontak menghentikan tawanya dan memandang Cakka khawatir.

"Lo ngga apa-apa kan Kka? " tanya Debo mengamati Debo lebih rinci.

"Apa ada yang luka?" sambung Agni lebih memfokuskan pandangannya pada kaki Cakka.
Cakka memandang teman-temannya bergantian. Ia menggigit bibir bawahnya. Menahan sakit. "Kayanya kaki gue terkilir Ag, De!" Jelas Cakka sambil mencoba berdiri. Namun jauh dari tegak sempurna, ia sudah hampir terjatuh lagi, jika tidak dengan sigap Agni dan Debo menahannya.

"Argh! Sumpah sakit banget nih!" Ringis Cakka saat Debo dan Agni mencoba memapahnya ke tepi lapangan. "Kita langsung pulang aja ya? Gak apa-apa kan bantu gue jalan?" saran Cakka. Menurutnya pulang lebih cepat, itu lebih baik.

Secara kompakan Agni dan Debo mengangguk. Mengiyakan. Mereka khawatir juga melihat Cakka.

*

[Gabriel]

Mungkin Iyel bukanlah seorang remaja normal seperti teman-temannya. Ia seorang penderita Congetinal Heart Disease―penyakit Jantung Bawaan―yang selama ini menyiksanya. Namun, apapun penyakitnya, bukan alasan untuk ia berkeluh kesah. Justru karena adanya kelemahan yang bersarang dalam tubuhnya itu, yang membuat ia selalu berusah untuk tetap menunjukan kekuatannya. Biarlah kelemahan itu tertutupi asa keyakinan kepada Tuhan yang telah memberikan kekuatan untuk melawan kelemahan itu.

Dan Iyel telah menunjukan hal itu selama bertahun-tahun. Ia hidup layaknya remaja normal. Ia bisa menjadi seorang pintar padahal ia selalu bolos sekolah hampir satu bulan full, ia bisa mendapat gelar ketua osis yang baik meski tubuhnya tidak mengizinkan ia untuk memikirkan orang lain―para anggota osis―sementara ia harus fokus memikirkan kesehatannya sendiri. Ia bisa jadi kebanggaan orang tua, guru, teman-teman, dan orang-orang yang mengenalnya di sela kerapuhannya.

"Bentar! Bentar!" Iyel menghentikan langkah Shilla dan Kiki saat mereka melewati tokoh caset. Di perjalan menuju tempat dimana Om Iyel berada.

Shilla dan Kiki berhenti sejenak. Menunggu Iyel.

"Gue beli kaset harpot dulu ya?" Pamitnya sambil masuk ke dalam toko.

Kiki memandang Shilla yang masih asyik―terus asyik―dengan Handycamenya. Gadis cantik itu memang tidak pernah bosan ngotak ngatik cameranya selama beberapa bulan setelah ia bercita-cita menjadi seorang movie maker.

"Kita udah nonton film itu lebih dari berpuluh-puluh kali Yel!" Shilla mengalihkan tatapannya pada Iyel yang sudah keluar dari toko kaset dengan tiga kaset di tangannya. Semuanya kaset Harry Potter. Kiki mengangguk menyetujui.

"Kaset gue udah rusak!" Iyel kembali berjalan. Shilla dan Kiki mengikuti.

"Itu karena keseringan lo puter Yel!" Ujar Kiki.

Iyel hanya nyengir. Menatap Shilla dan Kiki bergantian.

Dan selanjutnya mereka lewati perjalanan mereka dengan obrolan-obrolan sederhana sampai mereka masuk ke dalan sebuah gedung bercat putih, yang di dalamnya dihuni oleh orang-orang berpakaian putih pula. Bau obat-obatan dan bau amis menjadi ciri khas gedung itu; Rumah sakit.

"Lo berdua tunggu disini!" Titah Iyel menyuruh Shilla dan Kiki duduk di kursi tunggu, yang jauh dari ruangan dokter Dave―om Iyel. Iyel berjalan ke arah kiri dan menghilang di balik tembok menjorok sebelah kanan.

Shilla maupun Kiki hanya pasrah saja menuruti perintah Iyel. Menunggu selama 30 atau 20 menit sampai Iyel keluar dari balik tembok menjorok itu dengan raut wajah ceria yang dibuat-buat, guna menyembunyikan sakitnya yang terus memburuk dari kedua sahabat baiknya itu.

Namun saat ini, baru 5 menit menunggu, Iyel sudah muncul. Tidak dengan raut wajah ceria yang dibuat-buat. Tapi dengan raut wajah tak jelas. Karena dengan cepat ia berlari meninggalkan Rumah Sakit itu, tanpa memberi kesempatan pada Kiki dan Shilla melihat wajahnya dan tahu apa yang sedang terjadi.

"Yel, lo kenapa?" teriak Shilla memasukan kameranya ke dalam tas dan berlari mengejar Iyel. Kiki sudah lebih dulu mengejar Iyel.

Iyel terus berlari. Tak mempedulikan Kiki dan Shilla. Yang ia tahu, rasa kecewa telah menghantamnya dengan keras. Membuat jantungnya serasa berhenti begitu saja. Ketidakpercayaan membelenggu perasaannya.

"Yel!" Kiki menarik tangan Iyel. Ia tahu kondisi Iyel tidak memungkinkan berlari lebih cepat darinya. Juga Shilla.

Iyel berhenti, menagatur nafas. Dadanya sakit. Sakit sekali.

"Ada apa Yel? Cerita ke kita!" pinta Shilla memohon.

Iyel diam saja. Menahan sakit. Tak ia duga sebelumnya, aksi berlarinya membuat dadanya seperti ditindih ribuan kilo beban. Terhimpit dan sulit bernafas. Dan mau tidak mau, sakit itu membuat kesadarannya secara perlahan terenggut dan hilang.

"IYEL!" pekik Shilla dan Kiki kompak.

***

TBC

1 komentar:

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea