Minggu, 10 Juni 2012

Don't Over_part 3 (Cerbung Icil)

*

[Alvin]

Mereka duduk berjajar di beranda rumah sakit. Menunggu. Tak ada yang bersuara. Semuanya larut dalam fikiran masing-masing. Dengan kecemasan masing-masing. Sesekali mereka bertukar-toleh, kemudian kembali larut dalam kebisuan. Tidak ada yang ingin memulai pembicaraan. Entah kenapa.

Sementara itu di ruangan dokter Joe―salah satu dokter di rumah sakit itu―seorang wanita berusia sekitar 23 tahun, dengan sabar menunggu penjelasan Dr. Joe mengenai hasil pemeriksaan sepupunya yang beberapa jam lalu dilakukan.

"Kalian terlalu berlebihan." celetuk Alvin yang saat ini duduk di samping kiri Sivia. Ia mengamati Sivia yang tampak begitu berantakan. Jelas sudah, rambut dan pakaiannya yang sempat basah oleh air laut itu sudah mengering. Dan itu membuatnya begitu kusut.

"Kita khawatir. Lo sih pingsannya lama. Ya udah, gue telepon aja tuh mbak Nova." Alasan Sivia. Ia memandang Alvin. Keadaannya jauh lebih baik dari beberapa jam yang lalu, sebelum ia sadarkan diri dan dipaksa control ke rumah sakit oleh mbak Nova.

Alvin menatap Sivia tajam. "Mbak Nova tuh lagi sibuk-sibuknya buat skripsi Vi." tegasnya.

"Habisan, masa gue telepon nyokap lo? Bisa-bisa lo mati duluan sebelum nyokap lo sampai di Jakarta." Cerocos Sivia kesal. "Lagian ribet amat sih lo Al! Toh mbak Nova aja gak apa-apa."

"Ya, tapi gara-gara lo telepon mbak Nova, gue mesti control ke rumah sakit kan?"

Sivia mendesah. Rio yang duduk di sebelah kanan Sivia hanya geleng kepala.

Dan mbak Nova masih melihat Dr. Joe yang terlihat konsentrasi memperhatikan copy scene hasil ronsen yang dilakukan Alvin. Ia dengan sabar menunggu hal apapun yang akan dikatakan Dr. Joe.

"Yaelah Al! cuman di ronsen doang juga." Komentar Sivia jengkel. Ia menjitak kepala Alvin pelan. Alvin hanya meringis; Sakit tahu!

"Gak apa-apa Al, kali-kali lo control juga kesehatan lo. Siapa yang tahu maag lo itu butuh pengobatan serius." Saran Rio mengingat beberapa bulan terakhir, penyakit maag Alvin sering sekali kambuh meskipun Alvin tidak telat makan atau apa.

Dr. Joe mengalihkan perhatiannya pada mbak Nova. Ia menghela nafas sebelum memulai pembicaraan.

"Jadi Mbak Nova ini, keponakannya orang tua Alvin?" Tanyanya memastikan.

Mbak Nova mengangguk kecil.

"Apa orang tuanya bisa dihubungi? Sepertinya ini hal yang begitu serius!"

Mbak Nova menarik nafas dalam-dalam. Mendengar kata serius, ia yakin ada sesuatu yang buruk menimpa Alvin. "Ibunya Alvin di Seoul Dok. Sementara ayahnya, sampai saat ini belum bisa saya hubungi. Tapi, dokter bisa membicarakan hal ini pada saya. Saya yang merawat Alvin selama ini!" pinta Mbak Nova. Hatinya terus-terusan berbisik. Berfikir positif bahwa Alvin baik-baik saja.

Sivia mengangguk semangat. Ucapan Rio sedikit membelanya. "Bener tuh Al yang Rio katakan. Maag juga kalo dibiarin bisa jadi kanker loh Al,"

"Yeh, penyakit kanker tuh hanya ada di cerpennya penulis amatir bernama Sivia Azizah!" Celetuk Alvin ngasal.

Sivia cemberut. Tidak terima disebut penulis amatir. Rio sendiri masih mengamati keduanya
; nonton Tom And Jerry lagi deh gue!
Dr. Joe dan mbak Nova sama-sama memperhatikan hasil copy scene bagian perut Alvin. Mbak Nova sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ia perhatikan. Memaksa ia kembali menatap Dr. Joe, penuh dengan tanda tanya.

"Jadi bagaimana diagnosa copy scene-nya Dok?" tanya mbak Nova tak sabar.

Dr. Joe kembali mendesah. Ia menarik nafas dalam-dalam. "Hasil diagnosa saya menunjukan kalau Alvin...," laki-laki berkacamata persegi itu menggantungkan kalimatnya. Mbak Nova semakin serius saja.

"Ih, lo ngejek gue mulu. Lo juga kan bukan pianis handal!" gerutu Sivia. "Baru jadi juara antar sekolah, gayanya udah kaya pianis mendunia aja lo!"

"Lo juga tuh! Baru post cerpen lo di facebook dan blog aja, gayanya udah kaya penulis yang karyanya direbutin para penerbit."

"Tapi gue punya banyak fans yang suka baca cerpen gue di facebook."

"Setidaknya gue juga pernah duet bareng sama Alyssa Saufika Umari, si pianis terkenal itu."

"Kapan?"

"Beberapa tahun lagi! hahaha"

Sivia mendengus; Dasar gila! Ngayal aja lo duet sama pianis terkenal itu. Ketemu aja belum. Sivia nyerocos gak jelas dalam hati. Rio sendiri hanya garuk-garuk kepala. Tak mengerti.

"Kalau Alvin kenapa dok?" tanya mbak Nova setelah sekian lama melihat Dr. Joe sibuk memperhatikan copy scene itu lagi.

"Maag yang Alvin derita, sudah menjadi kanker!" Ujar Dr. Joe akhirnya. "Stadium 3!" sambungnya lagi.
Mbak Nova terpaku. Rasa tak percaya meporak-porandakan hatinya. Bagaimanpun juga, bertahun-tahun ia hidup dengan Alvin. Mengenal Alvin jauh dari mengenal adik dan kakak kandungnya sendiri. Mungkin rasa sayangnya pada Alvin jauh lebih besar dari rasa sayang tantenya―mama Alvin. Dan saat ini, ia menjadi orang pertama yang harus mendengar orang yang ia sayangi menderita penyakit yang bisa kapan saja mengambilnya dari sisinya. Ia larut dalam ketidakpercayaan.

"Yo, Yo, lihat deh! wajah Via kalo cemberut makin jelek ya? "seru Alvin tertawa sembari mengamati wajah Sivia yang masih cemberut. Rio ikut menatap wajah Sivia. Ia tertawa lebih pelan dari Alvin.

"Apaan sih? Ngga tahu. Dalam ekspresi bagaimanapun gue tetep cantik." Dumel Sivia sebal. Ia memandang Rio. "Yo, Alvinnya tuh! Gue kan cantik dibandingin sama lo berdua." adu Sivia manja. Rio terkekeh mendengar kalimat terakhir Sivia.

Sivia berdiri dari duduknya. Ia memandang Alvin serius. "Tahu gak Al? Dilihat-lihat wajah oriental lo yang sok cool itu mirip cewek loh. Lo cantik tahu! Tapi tetep cantikan gue sih. hahaha" Sivia tertawa membalas Alvin. Alvin mendelik.

Klek!

Pintu ruangan Dr. Joe terbuka. Mbak Nova muncul dari balik pintu. Wajahnya tak menggambarkan kalimat. Terlebih saat melihat Alvin dan kedua sahabatnya sedang tertawa bahagia. Rasanya ia tidak ingin merusak kebahagiaan itu. Dengan sekuat tenaga ia menahan tangis dan berusaha menampakan wajah seceria mungkin. Ia berjalan mendekati tiga sahabat itu.

"Ehm... ikutan dong ketawa!" Mbak Nova berdiri di samping mereka yang langsung menoleh ke arahnya. "Mbak tuh seneng loh lihat kalian. Bisa tertawa ceria meski di rumah sakit sekalipun!" Sambung Mbak Nova sedikit melirik Alvin yang memang terlihat lebih kurus dari sebelumnya, dan ia ingin menangis melihatnya. Ia melemparkan pandangannya pada Rio. Anak laki-laki pendiam itu sedang menatapnya aneh. Mungkinkah Rio tahu kalau wajah cerianya hanya buatan saja?

"Apa kata dokter mbak?" tanya Alvin antusias. Ia berdiri begitupun dengan Rio.

Mbak Nova terdiam. Air matanya hampir saja membludak melihat tatapan penasaran ketiga pasang mata itu. Dan wajah polos mereka yang masih menyemburatkan rona-rona bahagia, seolah kabar yang akan mereka terima adalah kabar yang paling membahagiakan, membuat ia tak berkutik sama sekali. Ahh, mereka tidak tahu kalau kenyataan ini tidak seindah yang mereka kira. Bahwa kenyataan ini teramat sulit untuk diucapkan. Lebih sulit dari seribu soal matematika sekalipun.

"Hahaha..." secara tiba-tiba Mbak Nova tertawa. Membuat Alvin, Rio dan Sivia mengernyit bingung. Kelakuan Mbak Nova sangat aneh. Dan tanpa mereka tahu, kalau tawa itu media yang ia gunakan untuk menyembunyikan air matanya. "Lihat wajah kalian, mbak jadi ingin tertawa. Pada lucu sih mukanya kalo pasang tampang penasaran gitu,"

Alvin dan Sivia yang memang dasarnya tidak peka, saling pandang dan ikut tertawa. Sebenarnya mereka tertawa karena geli melihat Mbak Nova yang tertawa sampai nangis-nangis segala. Sementara Rio hanya menatap bingung ketiganya. Ia tahu ada yang aneh dari tawa Mbak Nova.

"Udah ahh, ayo kita bicarakan masalah ini di rumah. Kasian Sivia kusutnya minta ampun!" ajak Mbak Nova menghentikan tawanya dan segera merangkul Sivia. Berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan pos satpam rumah sakit. Rio dan Alvin mengikuti dari belakang.

"Tapi Via tetep cantik kan Mbak?"

"Cantik apa? Gak mandi juga lo dari tadi."

"Ish, nyambung mulu deh lo Al,"

*

Setelah hampir 20 menit mereka habiskan waktu di perjalanan, Rio dan Sivia mampir dulu ke rumah Alvin. Mereka sempat berpamitan untuk pulang, tapi entah kenapa Mbak Nova meminta mereka tinggal sejenak. Padahal Sivia sudah kegerahan ingin mandi. Rio sendiri masih punya banyak PR matematika yang perlu diselesaikan. Tapi akhirnya mereka menyutujui ajakan Mbak Nova.

"Alvin tidur duluan deh!" Kata Alvin beranjak dari tempat duduk begitu melihat Mbak Nova menghidangkan menu makanan yang tadi sempat dibelinya di restauran. Melihat makanan itu saja, ia sudah mual duluan.

"Lah Al, gak makan dulu?" Tanya Mbak Nova.

"Ngga nafsu!" Alvin menghilang di balik pintu kamarnya.

"Perutnya sakit lagi, nyaho deh lo!" Teriak Sivia membuat Alvin dengan jelas mendengarnya dan menyahut. "Biarin aja! Gue ini yang sakit. Bukan lo!"

Sivia mendumel. Mbak Nova tersenyum tipis. Rio masih menatapi Mbak Nova.

"Ada yang mbak sembunyikan dari kita. Apa mbak?" tanya Rio berusaha menghapus rasa penasaran yang sejak tadi bersarang di kepalanya.

Sivia melirik Rio. Kemudian menatap Mbak Nova yang secara tiba-tiba memelukny. Air mata yang sedari tadi tersumbat akhirnya membludak juga.

Dan di ruangan bernuansa biru putih itu, Alvin mencoba menahan sakit sambil guling-guling diatas bedcovernya. Sebenarnya sudah sejak tadi sakit itu kembali. Dan baru kali ini, setelah memastikan teman-temannya dan Mbak Nova tak melihat, ia baru mau bereaksi.

"Alvin terkena kanker Vi, yo!" Lirih mbak Nova. Air matanya membasahi seragam kumal Sivia.

Baik Sivia maupun Rio sama-sama tercengang. Baru saja tadi mereka membicarakn perihal penyakit itu, hanya praduga semata. Dan saat ini dengan jelas, sungguh dengan jelas! Nama penyakit yang biasa Sivia gunakan untuk menyiksa tokoh-tokoh cerpenya benar-benar terucap dari lisan Mbak Nova. Tak ada nada becanda. Hanya ada nada lirih. Dan nada lirih itu memaksa air mata Sivia berebutan keluar. Memaksa Rio menundukan kepala dalam-dalam. Mencoba untuk tidak menangis. Hatinya menjerit pilu; tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Alvin masih baik-baik saja. Dan tak ada tanda-tanda kanker dalam tubuhnya.

"Argh!" Alvin mengerang pelan. Berbagai posisi sudah ditempatinya. Namun tak juga membuat sakitnya hilang. Nafasnya terengah-engah. Ia turun dari tempat tidurnya. Mencari sesuatu. Obat yang tadi diberikan dokter. Mungkin obat itu bisa menghilangkan sakit itu.

"Sial!" desisnya begitu sadar obatnya ia tinggalkan di mobil Mbak Nova. Dengan susah payah ia mencoba berdiri tegak. Menarik nafas dalam-dalam.

"Stadium berapa?" Entah dialog dari cerpen yang mana yang Sivia kutip. Yang pasti pertanyaan itu secara spontan ditanyakannya. Pertanyaan-pertanyaan yang ada hampir di dalam cerpen-cerpennya.

Jujur ia tidak pernah sekalipun menangis saat membuat cerpen-cerpen sad ending. Ia tidak pernah merasakan sesak yang luar biasa saat ia membuat Alvin atau Rio―nama yang sering ia gunakan dalam cerita-ceritanya itu―menderita sakit kanker. Tapi kini ia tahu betul sakit itu. Ia merasa cerpennya sudah sengaja Tuhan angkat menjadi sebuah film. Dan dia, Alvin serta Rio tokoh itu.

"Stadium 3 Vi! Yang artinya kanker itu sudah menyebar!" jawab Mbak Nova melepaskan pelukannya. Sivia membisu. Ia berhambur ke dalam pelukan Rio. Berharap sosok itu bisa menenangkannya seperti saat-saat Alvin membuatnya sebal. Namun rupanya sosok itu-pun sedang berada di Zona kepiluan―sama seperti Sivia. Ia tidak bisa menenangkan Sivia. Hatinya sedang memberontak keras. Menolak kenyataan pahit itu.

"A..apanya yang stadium 3?" Suara serak itu sesaat mengalihkan seluruh perhatian. Alvin dengan tampang kusut bersandar di balik dinding. Guna menahan tubuhnya untuk tidak jatuh.

Rio, Sivia dan Mbak Nova sama-sama diam. Tak berani mengatakan satu hal pun pada Alvin.

"Baiklah, hh.. gue ngerti!" Melihat ketiga orang itu bungkam, Alvin sudah menduga bahwa kata stadium 3 itu tertuju padanya. Tubuhnya merosot ke bawah. Niat membawa obat-pun terlupa begitu saja. Sesak kini berpadu dengan rasa sakit yang terus meronta di bagian perutnya, membuat ia merasa tak ada kata bahagia di dunia ini. Semuanya dipenuhi dengan satu kata. Sakit!

Sivia berjalan mendekati Alvin. Berjongkok di hadapan pemuda itu. "Alvin!" panggilnya. Suaranya bergetar.

"Pergi! Pergi Vi! Jangan pernah temui gue lagi!" Desah Alvin parau. Kepalanya ia biarkan tertunduk. Rio yang juga sudah berjongkok di hadapan Alvin, menatap Alvin iba. Mbak Nova sendiri masih tetap pada posisinya.

"Al, kita gak akan ninggalin lo barang seincipun!" Rio beralih posisi merangkul Alvin kuat. Sivia menganggku tegas.

Alvin mendongak. Menatap dalam-dalam wajah Sivia dan Rio ; Dan selanjutnya gue akan merepotkan lo brdua kalo kalian tetap di dekat gue. "Gue mohon! Pergi jauh-jauh dari hidup gue!" pinta Alvin. Nada suaranya lebih mirip dengan rintihan kali ini. Ia meremas-remas perutnya. Sakitnya tak bisa ia tahan lagi. "Pergi lo berdua! Aaaaarrggh, sakit!" Erang Alvin. Tubuhnya mengejang.

Bukan menuruti perintah Alvin, Rio dan Sivia justru semakin merapat ke arah Alvin. Semakin kuat merangkulnya. Seolah merekapun berhak merasakan sakit itu. Mereka harus tahu bagaimana sakit itu!
Mereka faham, bahwa inilah persahabatan mereka! Dimana mereka akan tetap tinggal di saat ia meminta mereka pergi. Mereka tetap memeluknya erat di saat ia meminta mereka menjauh.

*

[Cakka]

Perlahan-lahan matanya terbuka saat dengan memaksa, sorotan cahaya kekuning-kuningan itu menesobos masuk celah-celah jendela kamarnya, dan parkir tepat di wajahnya. Menyilaukan dan menghangatkan permukaan kulit wajahnya.

"Ye, udah bangun ternyata. Baru mau dibangunin!" seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu. Tersenyum simpul sambil berjalan kearah tempat tidurnya. "Gimana kakinya? Masih terasa sakit?" tanyanya duduk di tepi tempat tidur berbed cover hijau itu.

Anak laki-laki yang rupanya Cakka itu, hanya menjawab pertanyaan wanita paruh baya itu dengan senyuman. Ia pun tidak tahu harus bilang apa. Pasalnya, kali ini bukan hanya kakinya saja yang sakit. Tapi beberapa bagian tubuhnya-pun terasa nyeri. Mulai dari pundak, punggung, leher, tangan dan bagian tulang rusuknya.

"Ngga tahu nih Ma, kok tubuh Cakka malah jadi sakit semua ya?" lapor Cakka pada wanita paruh baya yang rupanya ibunya. Ia mengangkat tubuhnya dan bersandar di kepala tempat tidur. Erangan-erangan kecil terucap dari bibir tipisnya.

Mama Ira―Ibunya Cakka―mengamati Cakka lebih rinci. "Mama panggil ayah dulu ya?" pamitnya sambil meninggalkan kamar Cakka.

Cakka pejamkan matanya. Ia menguap lebar; terlihat masih ngantuk. Jika bukan karena sakit yang mengganggu tubuhnya, tidak mungkin ia kalah sama cahaya matahari. Mungkin ia masih terlelap dan tidak peduli dengan panasnya sinar itu.

"Cakka kenapa?"

Sontak matanya terbuka. Ia melihat ayahnya berjalan ke arahnya dengan beberapa alat kedokteran di tangannya. Pak Duta―ayah Cakka―memang seorang dokter, tak heran jika saat ini ia membawa peralatan khas dokter untuk memeriksa Cakka.

"Ahh, Ayah! Cakka kan cuma pegal aja. Kenapa harus bawa stetoskop segala!" Komentar Cakka saat melihat alat itu siap ditempelkan di dadanya. Meskipun ayahnya seorang dokter, seumur-umur Cakka tidak pernah merasakan sentuhan alat-alat medis itu. Kondisi fisiknya kuat dan jarang sakit.

Pak Duta tersenyum mendengar komentar anaknya.

"Udah ah, ayah gak perlu berlebihan!" Cakka mengubah posisinya. Siap-siap untuk mandi dan berangkat sekolah.

"Kayanya badan kamu lagi gak sehat. Gak perlu sekolah saja!" saran Pak Duta menatap Cakka yang masih mengerang kecil setiap kali tubuhnya digerakan.

Cakka berdiri dari duduknya. "Gak apa-apa yah, Cakka
sehat-sehat aja kok. hanya sedikit pegal-pegal!" Ia berjalan beberapa langkah menuju kamar mandi dan...

BRUUUKK!

"Argh! Auw! Ih sakit banget!" Secara spontan Cakka mengaduh saat tubuhnya terjatuh. Entah bagian tubuh yang mana yang harus ia sentuh, karena seluruh tubuhnya termasuk tangannya juga sakit.

Pak Duta dengan cemas memburu tubuh Cakka yang sudah telungkup di lantai. Wajahnya mengguratkan tinta-tinta kecemasan dan kepanikan. Dengan pelan-pelan ia mendudukan Cakka di tempat tidurnya kembali.

"Kita periksa ke rumah sakit ya?" Sebagai seorang dokter ia tahu ada yang tidak beres dengan keadaan Cakka.

Kali ini Cakka tidak bisa menolak. Bagaimanapun juga, ia tidak kuat dengan sakit yang secara tiba-tiba menyerang dan hampir melumpuhkan persendian tubuhnya itu. Mungkin hanya dengan menuruti sang ayah, sakit itu akan hilang. Ia mengangguk pasrah saja.

*
Cakka hanya berdecak melihat dua orang yang saat ini duduk di samping kanan dan kirinya. Bagaimana tidak? Mereka memaksa ikut ketika tahu dia gak sekolah dan akan control ke rumah sakit. Dan dia tidak bisa menolak permintaan itu. Toh baru hari ini mereka bolos.

"Kalo lo sakit, kita gak bisa main basket dong hari ini!" Agni menatap Cakka. Kemudian menatap Debo yang langsung memberikan anggukan setuju.

"Kata siapa gue sakit?" Cakka membenarkan posisi duduknya. Agak sulit juga ia bergerak. Kedua temannya sama-sama ngotot tidak mau duduk di jok depan bersama ayahnya dan malah minta duduk di sampingnya; Gue tahu gue keren. Tapi gak perlu segitunya kali. Nempel amat lo berdua sama gue!

"Lah ini, kalo gak sakit ngapain ke rumah sakit?" Tanya Debo bingung. "Huuuaaahh Cakka, lo jangan gini dong! Masa gara-gara terkilir doang lo berhenti main basket dan pindah minat jadi seorang dokter?!"

Cakka mengernyit. Agni tertawa pelan. "Alay lo ah De! Ngga lah, basket hidup gue tahu. Lagian gue gak mungkin ninggalin lo berdua. Sakau deh kalian tanpa gue!" Cakka tertawa. Debo dan Agni saling pandang; Narsis kumat!

"Cakka hanya control aja De!" Pak Duta yang sedari tadi diam saja, tertawa pelan mendengar dialog Cakka dan teman-temannya. Debo mengangguk mafhum.

Sesaat Cakka merasa sakit di tubuhnya hilang karena kehadiran teman-temannya. Lelucon Debo dan Agni mampu membuatnya tertawa dan sedikit mengalihkan seluruh syaraf dalam tubuhnya untuk melupakan sakit itu.

Perjalanan yang biasanya ditempuh satu jam itu terasa begitu mengasyikan. Mereka membicarakan banyak hal. Mulai dari ngomongin club-club basket favorit mereka, ngomongin taktik-taktik aneh dan lucu dalam basket. Sampai berebut posisi Kaede Rukawa―tokoh dalam komik Jepang, Slam Dunk―yang dari dulu memang tidak pernah usai.

"Iya deh iya, gue ngalah! orang akhirnya Kaede Rukawa kalah keren sama Hanamichi." cemberut Debo tidak rela. Cakka tidak pernah mau mengalah dalam persoalan yang menurut Agni, sangatlah tidak penting ini.

"Ya udah turun!" suruh Cakka.

Debo cengo. "Hah? Yah, Kka jangan turunin gue di tengah jalan dong! Jahat banget lo ma gue." Debo memelas. Agni dan Pak Duta hanya tertawa melihat tampang polos Debo. Sungguh menggemaskan.

"Ih dasar lemot lo De! Ini tuh udah sampe. Ayo cepet turun!" titah Agni. Ia turun lebih dulu dari Debo dan Cakka lewat pintu sebelah kanan. Debo hanya memamerkan deretan gigi putihnya pada Cakka yang menatapnya heran; kok bisa ya gue yang keren ini punya temen lemot kaya lo?

*

Cakka mulai menampakan ekspresi tak mengerti begitu ayahnya, meminta dokter lain untuk memeriksanya. Dr. Irsyad, nama dokter itu. Entah dokter spesialis apa. Yang pasti ayahnya lebih tahu apa yang mesti dilakukannya sehingga ia mengikuti saja kehendak itu. Cakka dibawa ke sebuah ruangan yang dipenuhi dengan alat-alat canggih kedokteran itu.

Seorang suster berjilbab tersenyum ramah saat Cakka memasuki ruangan itu dengan raut wajah bingung, sehingga ia hanya membalas senyuman itu dengan senyuman tipis. ”Gak apa-apa pemeriksaannya tidak akan sakit kok.”

Cakka menoleh. Menatap suster dengan name tag Rahmi itu. Air mukanya berbicara; Sungguh tidak akan sakit?

Suster Rahmi tersenyum lagi. Lalu mengangguk pasti. "mari!"

Cakka menurut. Selama pemeriksaan berlangsung, hatinya bertanya-tanya. Kenapa gara-gara terkilir, ia harus menjalani pemeriksaan yang begitu rumit? Ahh, ayah selalu berlebihan! Bukankah yang ia alami hanya hal biasa setiap kali ia latihan basket secara berlebihan?

"Jangan suruh Cakka keluar Yah! Cakka ingin dengar apa yang terjadi sama Cakka langsung dari Dr. Irsyad." Tegas Cakka begitu melihat ayahnya yang sudah bersiap-siap melontarkan kalimat untuk menyuruhnya keluar ruangan dan menunggu di luar, saat mereka selesai melakukan pemeriksaan.

Pak Duta mendesah. Kalau Cakka sudah meminta seperti itu. maka tak ada siapapun yang bisa melarangnya. Dokter Irsyad sekalipun. Terpaksalah mereka membicarakan kemungkinan terbaik atau terburuk itu di hadapan Cakka secara terang-terangan.

"Bagaimana Dok?" tanya Pak Duta serius.

Dr. Irsyad tertegun sejenak. Kemudian memandang Cakka dan Pak Duta yang terlihat penasaran secara bergantian. Garis-garis ketidaksabaran tercoret di wajah ayah dan anak itu. "Baiklah," Dr. Irsyad menarik nafas dalam-dalam. "Sebelumnya saya minta maaf Dr. Duta. Tapi, apa sungguh Cakka tidak harus menunggu di luar? Saya rasa ini pembicaraan serius yang tak seharusnya Cakka dengarkan."

"Gak apa-apa dok. Cakka pasti ngerti kok. Cakka kan anak pintar." Bangga Cakka masih sempat-sempatnya narsis di sela ketegangan yang menyelimuti hati ayahnya. Tapi cukup ampuh membuat suasana mencair. Meskipun Dr. Irsyad tetap ragu mengatakan hal ini di hadapan Cakka.

Dr. Irsyad kembali menarik nafas. Ia melipat tangannya diatas meja. "Dari hasil ronsen menunjukan bahwa Cakka positif terserang penyakit osteosarcoma."

Diam. Semuanya tertegun. Lama sekali.

Cakka bangkit dari duduknya dan berlari meninggalkan ruangan. membuka pintu sekeras-kerasnya sehingga membuat Debo dan Agni yang sejak tadi berusaha menguping pembicaran di dalam terdorong dan hampir terjatuh. Mereka sempat mendengar samar-samar nama penyakit itu. Tapi mereka tidak ingat lagi; namanya sulit diingat.

"Cakka!" Dengan kompak Agni dan Debo menyebut nama sahabatnya itu sembari mengejar Cakka. Biasa, Debo paling akhir dalam urusan berlari diantara kedua sahabatnya.

"Lo...hh..ke..napa?" Dengan nafas memburu, Agni melongok di balik kaca mobil. Mengamati Cakka yang sudah duduk di jok―tempat duduknya tadi―dengan muka ditekuk. Sepertinya ia menahan tangis.

Jika Agni memilih keadaan Cakka di balik kaca, Debo yang baru sampai memilih masuk mobil dan duduk disaming Cakka. Memastikan sahabatnya baik-baik saja. "Kka!" Panggil Debo lirih. "Emang lo tahu, os..sa.. ma.. apalah namanya itu, penyakit apa?" Ia memegang pundak Cakka. Menenangkan. Agni duduk di samping Cakka. Posisi mereka sama seperti sebelumnya.

Cakka masih diam saja. Tak ingin mengeluarkan suara apapun meski sebenarnya ia ingin berteriak untuk menenangkan hatinya.

"Sudah ya Kka! Apapun penyakit itu, gue dan Debo akan tetap ada di samping lo!" Agni merengkuh Cakka. Hatinya diliputi rasa takut. Ia tidak tahu penyakit seperti apa yang diderita Cakka. Debo ikut merangkul sahabatnya itu. Barengan saat pak Duta masuk mobil dengan wajah yang sama kusutnya seperti Cakka.

"Kita pulang langsung ya?" katanya sambil menstarter mobil. Melaju dan mulai meninggalkan rumah sakit. Agni dan Debo serta Cakka yang masih pada posisinya.

"Tuhan menurunkan penyakit sudah lengkap dengan obatnya. Yang terpenting seberapa kuat keyakinan kita pada Tuhan untuk sembuh." Pak Duta melihat keadaan di jok belakang dari balik spion. Dadanya sesak. Bukan sesak karena penyakit yang bersarang dalam tubuh anaknya, karena ia yakin bahwa ada cara untuk menyembuhkannya. Tapi dadanya sesak melihat rangkulan itu. Rangkulan dan rengkuhan teman-teman Cakka yang begitu kuat. Betapa tidak, sebagai seorang ayah, ia bangga bisa memiliki putera yang hebat, yang memiliki sahabat-sahabat yang hebat pula. Dan puteranya yang hebat kini terlihat amat sangat rapuh.

*

[Gabriel]

"Iyel!" Shilla mengetuk-ngetuk ujung telunjuknya ke atas lantai keramik yang sedang ia duduki. Kepalanya ia biarkan tertunduk. Menatapi lekukan-lekukan yang di-desain dengan seni ukir yang sangat indah di tempat tidur Iyel. "Bangun dong!" sambungnya mengangkat kepalanya. Menatap Iyel yang tetap terpejam selama satu jam ini. Kemudiam tertunduk lagi.

"Iyel!" Ia kembali menyebut nama itu. Kali ini telunjuknya dibiarkan menyentuh kulit wajah Iyel yang sejak tadi dipenuhi keringat dingin. "Lo mau bangun gak sih? Jangan mati sekarang dong! Entar yang jadi atasan gue siapa?" Shilla mengusap kening Iyel. Membiarkan telapak tangannya basah oleh keringat yang terproduksi di tubuh itu.

Sudah satu jam setelah insiden pingsannya Iyel, Shilla duduk di samping ranjang Iyel. Kiki baru saja keluar kamar bersama Pak Dayat―Ayah Iyel―untuk membicarakan kondisi Iyel bersama Dr. Dave yang juga sudah datang memeriksa Iyel beberapa menit yang lalu.

"Oya Yel!" Shilla bersedekap. Lalu menidurkan kepalanya di tangannya. Menghadap ke arah wajah Iyel. "Kok gue kaya menghadapi orang koma sih? Bangun dong! Lama amat lo pingsan." Tangan kirinya menyentuh lengan Iyel lembut.

Keadaan hening. Lama.

"Ergh!"

Erangan kecil itu berhasil membuat Shilla yang baru saja hendak terpejam, kembali membuka mata dan memandang Iyel yang tengah mengerjap-ngerjap. Shilla tersenyum lega; Bangun juga lo!

"Shilla?" panggil Iyel begitu wajah Shilla memenuhi bola matanya.

Shilla mengangguk kecil. "Gimana? Apa masih ada yang sakit?" tanyanya membantu menegakan tubuh Iyel untuk bersandar di kepala tempat tidur.

Gelengan pelan kepala Iyel menandakan kalau ia baik-baik saja. Sekedar menenangkan Shilla. Meski sebenarnya dadanya masih terasa sakit.

"Apa yang terjadi? Ceritain sama gue!" Sebenarnya Shilla tidak ingin menanyakan hal itu pada Iyel saat ini. Tapi mengingat Iyel yang suka pura-pura lupa dengan kejadian penting plus aneh yang pernah terjadi seperti tadi, membuat Shilla menanyakan hal itu lebih cepat sehingga tak ada alasan Iyel bilang lupa.

"Terjadi apanya Shil? terus cerita apa?"

Tuh kan? Iyel selalu bersikap seperti itu. Pura-pura lupa dan tidak ingat; Dasar menyebalkan.

"Gue fikir kepala lo gak kebentur aspal deh pas pingsan tadi. Jadi tak ada alasan lo amnesia. Dan emangnya, sakit jantung bisa bikin pikun ya?" Gerutu Shilla cemberut. Sedikit menyindir.

Iyel tertawa pelan. "Haha, lo cantik banget Shill.." puji Iyel yang langsung membuat Shilla tertunduk. Menyembunyikan rona-rona merah di wajahnya; Ngalihin pembicaraan aja lo yel! fikir Shilla.

"Tetep aja gue kalah cantik sama Emma Watson, idola lo itu."

"ya, gue yang real aja Shil! Emma Watson, cantik juga gak bisa deket sama gue seperti deketnya lo sama gue."

"Udah ahh, jadi tadi lo kenapa? Cerita dong!" Shilla memelas. Kembali ke topik awal.

Iyel mendesah keras-keras. Ia memfokuskan tatapnnya pada Shilla, "Jantung gue udah benar-benar rusak Shil. Dan bokap gue mutusin buat donorin jantungnya buat gue. Tadi sebelum gue masuk ruang Om Dave, gue mendengar obrolan mereka. Jelaslah gue terpukul banget. Ini masih untung kalog gue yang mati saat operasi. Lah, kalo bokap gue yang meninggal? gue gak siap kehilangan lagi Shil! Cukup nyokap dan adik gue yang ninggalin gue." Cerita iyel panjang lebar. Shilla tertegun mendengarkannya.

Tiga tahun yang lalu, Iyel memang ditinggal pergi oleh ibunya karena penyakit yang sama telah merenggutnya. Dan baru tahun kemarin, Acha, adik perempuan yang berselisih dua tahun dengannya meninggal pula. Jelas saat Iyel mendengar kabar itu, perasaannya kacau. Ia takut kehilangan lagi. Terlebih operasi itu kemungkinan berhasil tidak mencapi angka tiga puluh persen.

"Ahh, sudahlah! Keluar yu?! Bosen gue di kamar mulu." Iyel membuyarkan lamunan Shilla. "Oya, Kiki mana?" Tanyanya sambil berjalan menuju pintu kamarnya.

"Di ruang tamu sama Om Dave dan bokap lo!" Shilla berdiri dan berjalan mengikuti. Ia sibuk kasak-kusuk. Mencari sesuatu di dalam tasnya. "Bentar-bentar!" Shilla menghadang Iyel di balik pintu.

Iyel menghela nafas. Seperti biasa, gadis itu menyorotkan kameranya ke arah Iyel. "Iyel ngomong sesuatu dulu dong!" Pintanya.

Iyel mengernyit. Salah satu alisnya menaik. Bingung; Ngomong apa?

"Ya udah! Apa yang lo fikirkan tentang cinta dan hmm…," Shilla mengamati kamar Iyel. Mencari sesuatu yang bisa dijadikan objek pertanyaannya. "Novel! ya Novel.." sambungnya begitu melihat novel Harry Potter yang sebenarnya milik Acha berjajar di meja belajar Iyel.

Iyel menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Berfikir. "Cinta itu tidak seperti novel-novel yang punya jalan cerita atau alur yang jelas! Cinta juga tidak mempunyai epilog yang pasti!" Kata Iyel sedikit ragu dengan kalimatnya.

"Ye.. keren!" Shilla menunjukan ibu jarinya. Iyel tersenyum sembari merangkul Shilla. Berjalan keluar kamar.

*

"Jantung yang Acha donorin ternyata tidak bertahan lama di tubuh Iyel. Saya takut kasus yang sama terulang  kembali. Saya takut abang meninggal tapi tetap saja jantung yang abang donorin tidak membuat Iyel seratus persen sembuh. Sama seperti kasus Acha tahun kemaren."

Iyel terpaku di tempatnya ―di ambang pintu ruang tamu―saat mendengar penjelasan Om Dave. Tanpa mereka sadari, sejak tadi Iyel dan Shilla mendengarkan obrolan mereka. Hanya bagian itu saja memang. Tapi bagian itulah yang membuat perasaan Iyel secara repleks luluh lantah, berantakan.

"Ja..jadi.. Acha.. Acha.. meninggal bukan karena kecelakaan? Jadi…," Iyel tak kuasa meneruskan kalimatnya. Shilla memegang pundak Iyel yang langsung menepisya.

Semua mata kini memandangnya. Penuh dengan rasa bersalah.

"Iyel…" lirih Pak Dayat. Ia berjalan mendekati Iyel. Iyel mundur dan terus mundur hingga tubuhnya tersandar di lemari.

"Gue benci lo semua! Kenapa kalian tega bohongin gue? Apa lagi untuk urusan kematian Acha? Kenapa? ARGH!"

Shilla berlari menghampiri Iyel. Begitupun dengan yang lainnya. "Iyel udah! lo tenang ya? Kita bisa jelasin semuanya." Ujar Shilla memegang pundak Iyel. Matanya berkaca-kaca. Kiki mengangguk. Mengamini ucapan Shilla.

Om Dave dan Pak Dayat sama-sama terpaku di tempatnya. Rasa bersalah memaksa mereka bungkam dengan air mata yang tertahan di pelupuk mata.

"Gak bisa! Gue gak bisa tenang. Gue benci lo semua." Iyel mendorong tubuh Shilla kasar. Shilla hampir saja terjatuh jika tidak dengan sigap kiki menahannya. Air mata gadis itu tumpah ruah. Iyel berlari menjauhi mereka. Masuk ke dalam sebuah kamar yang mereka kenal, kamar Acha.

"Yel! Maafin Ayah. Ayah bisa jelasin semuanya." Pak Dayat mengetuk-ngetuk pintu yang sengaja Iyel kunci dari dalam.

"Iyel benci Ayah! Iyel gak butuh penjelasan Ayah! Pokoknya sekali bohong tetap saja bohon. gak ada penjelasan apapun." teriak Iyel dari dalam.

"Iyel!" Panggil Shilla. "Lo boleh marah ke kita! Lo boleh lakuin apapun sama kita karena kita memang salah disini! Tapi plis, lo jangan ngunci diri gini dong!" Pinta Shilla dengan isak pelan. Kiki merangkulnya kuat. Om Dave masih berusaha menggedor-gedor pintu. Pak Dayat sendiri tertuduk lemas di balik dinding.

"AAAARRGG!" suara Iyel..

*

TBC

4 komentar:

affanibnu mengatakan...

weit cerbungnya panjang banget.. :)

Nia Sumiati mengatakan...

Hihi.. iya.. 3 tokoh 3 cerita sih.. he

Ila Rizky Nidiana mengatakan...

waww, mau dibuat buku aja? keren kayaknya kalo jadi buku, hehe
oya, di blogku ada banyak info lomba, cek aja :D

di http://ilarizky.blogspot.com

Nia Sumiati mengatakan...

iia kak.. aku sering kok kunjungi blog kakak.. hhe,, cari info..

Poskan Komentar