Sabtu, 16 Juni 2012

Don't Over_Part 4 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.06
*

[Alvin]

"Saatnya katakan hello pada dunia! Bukankah sudah lebih dari cukup lo bertapa di kamar lo itu? Gak kangen sekolah? Gak kangen Rio sama gue? Gak kangen si putih menawan? Ayolah! Gue fikir lo bukan tokoh Alvin dalam cerpen gue yang gue bikin mati. Hmm, gue rasa kalo lo kaya gini terus, daftar sad ending cerpen gue bakalan bertambah. Gak niat buat yang beda gitu Al? Cerita lo, gue dan Rio gak perlu sama ginilah sama cerpen-cerpen gue! Basi!"

Alvin tertegun membaca isi pesan dari Sivia yang tadi pagi ia dapatkan. Sudah lima hari ini, setelah ia tahu perihal sakit kankernya dan memutusukan untuk tidak bertemu siapapun selain Mbak Nova, baik Sivia maupun Rio tidak pernah lelah mengiriminya pesan. Setiap pagi dan malam, handphone-nya pasti bergetar menerima pesan berisi kata-kata sederhana namun memberi motivator yang begitu kuat. Atau paling tidak hanya ucapan selamat pagi, malam, dan hal-hal kecil lainnya. Seperti isi pesan yang tadi pagi Rio kirim untuknya bersamaan dengan pesan Sivia.

"Pagi Bro! Baik-baik aja kan lo? Sarapan ya! Gue tunggu di sekolah. Kalo misalkan lo masih mau ngerem aja dan gak niat sekolah lagi, gue dengan senang hati nyalin catatan buat lo, biar lo gak ketinggalan pelajaran. Take care!"

Alvin mendesah. Sesungguhnya sikap Rio dan Sivia ini membuat hatinya berkali-kali lipat lebih sakit. Bukan karena sms-sms itu. Tapi karena ketulusan mereka padanya. Kepedulian mereka akan dirinya yang bahkan tak mempedulikan perjuangan mereka. Perjuangan yang sebenarnya mereka lakukan untuk menumbuhkan kembali benih-benih semangat dalam hidupnya. Dan semua itu ia balas dengan tampikan kasar. Ia ingat saat ia mengusir Sivia ketika gadis itu menemuinya, saat ia membentak Rio yang sudah bersusah payah menyalin catatan dan mengisi PR Matematikanya, dan saat berkali-kali ia bertindak kasar menolak kehadiran mereka.

"Ahh, gue jahat banget!" desisnya pelan. Ia melempar ponselnya sembarang. Menatap langit-langit kamarnya yang selama beberapa hari ini paling sering ia amati. Dan entah kenapa ia merasa sangat sepi. Sepi sekali. Dalam dadanya hanya ada keheningan.

Tiba-tiba saja ia ingin ada yang menemaninya. Tak hanya Mbak Nova. Tapi juga Rio dan Sivia. Dan juga Ayah dan Ibunya. Ia ingin mereka ada di sampingnya, membantunya saat ia sakit. Menemaninya saat kesepian, menyemangatinya saat ia rapuh. Bukan ingin merepotkan, tapi ia ingin berbagi apa yang ia rasakan pada siapapun yang dengan tulus menerimanya. Dan ia tahu sikapnya Kemarin-kemarin adalah sebuah big mistake, kesalahan besar.

Lama Alvin terdiam dengan posisi memeluk guling; wajahnya sangat lucu saat itu. Masih dalam posisi yang sama, ia mencoba me-reply kata-kata Dr. Joe tempo hari. Tentang hanya ada satu pengobatan yang bisa dijalaninya. Kemoterapi. Ya, kemoterapi! Kata-kata yang juga pernah ia baca dalam tulisan Sivia. Dan mengingat cerita Sivia tentang pengobatan itu, membuat ia enggan menjalaninya. Bukan karena Sivia bilang―dalam cerpennya―kalau kemoterapi itu pengobatan yang amat sangat menyakitkan. Karena pada dasarnya kemo atau tidak ia tetap merasakan sakit. Hanya satu alasan yang membuatnya menolak. Ia tidak ingin rambutnya yang hitam tebal itu rontok karena efek samping kemo itu.

Alvin bangun dari tidurnya saat rasa tidak enak di perutnya kembali lagi. Ia mual. Sudah beberapa kali dalam sehari ini ia bolak balik ke kamar mandi hanya untuk muntah-muntah.

Dengan langkah cepat, Alvin berlari ke kamar mandi saat ia benar-benar ingin muntah. Perutnya sakit lagi. Tidak terlalu parah memang. Hanya karena pengaruh muntah-muntah saja. Meski ia cukup bisa mengontrol sakitnya, tetap saja ia terlihat begitu payah.

"Al!" Panggilan itu sesaat membuat seluruh perhatiannya teralihkan. Termasuk sakit itu. Ia keluar kamar mandi setelah sebelumnya mencuci mukanya agar terlihat lebih fresh. Meski tetap saja warna pucat melukis diri di wajah Alvin.

"Mama?" Alvin berhambur ke dalam pelukan Ibunya yang saat ini berdiri di ambang pintu kamarnya. Bu Uchi―mama Alvin―membalas pelukan Alvin. Meluapkan rasa rindu yang terpasung dalam sanubari masing-masing itu, dengan dekapan erat. Dan saat itu pula Bu Uchi merasa kalau tubuh Alvin benar-benar kurus. Atau memang sejak dulu Alvin kurus? Ahh, entahlah. Bahkan ia tidak menyangka anak laki-lakinya yang dulu ia tinggalkan dalam usia yang masih di bawah umur, kini menjadi pemuda yang begitu tampan.

Lama sekali Alvin memeluk wanita berparas oriental itu. Ia tidak ingin melepas pelukan itu. Rasa rindunya telah mengakar kuat dalam jiwanya. Membuat ia tidak ingin sosok itu pergi lagi dan meninggalkannya kembali. Sudah terlalu lama jarak memisahkan mereka. Dan untuk saat ini saja ia ingin merasakan kedekatan itu lebih lama.

"Al!"

Alvin baru mau melepaskan pelukannya saat suara kedua yang memanggil namanya menyergap indera pendengarannya. Senyumnya semakin melebar kala melihat seorang pria gagah berdiri di samping ibunya. Pria itu langsung merentangkan tangannya untuk menerima pelukan Alvin. Dan tanpa aba-aba lagi, Alvin langsung memeluk pria itu. "Papa..."

Mungkin terlalu kekanak-kanakan. Namun Alvin tidak peduli itu semua. Berapa tahunpun usianya, ia tetaplah jagoan kecilnya ayah dan ibu yang sampai saat ini tak henti berharap keluarganya utuh kembali.

"Alvin tahu kalau kalian itu memang berjodoh. Buktinya di waktu yang sama kalian menengok Alvin!" Girang Alvin sambil melepaskan pelukannya. Ia menatap ayah dan ibunya yang secara repleks saling pandang. Tentu saja dengan tatapan sinis seperti dulu. Rasa benci itu ternyata masih berkelebatan dalam jiwa mereka. Dan itu membuat Alvin mendesah kecewa.

Sebenarnya kedua orang tua Alvin tidak berniat datang secara bersamaan jika bukan Mbak Nova yang menentukan tanggal untuk menemui Alvin. Atau malah mereka tidak akan mau menemui Alvin dan tetap menuruti ego dan gengsi masing-masing, jika Mbak Nova tidak bilang kalau Alvin sakit parah dan ingin bertemu mereka.

Setelah tertegun cukup lama, Alvin merubah posisinya untuk duduk di meja belajarnya. Kakinya terasa lemas jika terus-terusan berdiri. Kepalanya juga sedikit pening. "Mama sama papa nginep disini kan?" Tanya Alvin memandang orang tuanya yang masih bertatapan sinis. Mereka mengalihkan pandangannya pada Alvin yang dengan sangat jelas tengah memasang wajah penuh harap ada kata 'ya' untuknya.

"Tidak Alvin, justru papa ingin mengajak kamu tinggal bersama papa dan keluarga papa yang baru di Semarang." Jelas Pak Rizki―papa Alvin―sambil merangkul Alvin. Alvin terdiam cukup lama. Ia merasa tiba-tiba saja tembok-tembok kebahagiaan yang hampir kokoh berdiri, ambruk dan menimpa dirinya. Ia merasakan sakit yang luar biasa. Ia menatap ayahnya tak percaya; Apa maksud papa? Keluarga baru yang mana? Apa papa sudah menikah lagi? Batin Alvin pilu. Ia hampir saja menangis.

"Apa maksudmu? Kau tak berhak membawa Alvin dan membiarkannya tinggal dengan isteri dan anak-anakmu itu. Al akan ikut bersamaku! Dia akan tinggal di Seoul, tempat kelahirannya dan melanjutkan pengobatannya disana." Pekik Bu Uchi tidak setuju. Ia menatap tajam Pak Rizki yang juga menyemburkan sorotan-sorotan lebih tajam dari matanya yang mulai menguning seiring usianya yang mulai menua; pertengkaran 4 tahun yang lalu kini terulang kembali di hadapan Alvin.

"Tidak bisa! Alvin harus ikut bersamaku! Lagi pula ia tidak akan mau meninggalkan Indonesia!" seru Pak Rizki semakin garang. Wajahnya kini hanya berjarak 5 centi dari wajah Bu Uchi. Alvin masih diam terpaku. Menatap keduanya sedih. Dadanya sesak menahan tangis.

"Tidak! Pokoknya Alvin akan ikut bersamaku! IA TIDAK AKAN LEBIH BAIK TINGGAL BERSAMAMU!" sembur Bu Uchi. Nada meninggi di akhir kalimatnya nyaris membuat Pak Rizki menamparnya. Namun berhasil ditahannya.

"Kamu fikir ia akan lebih baik disana?" Tangan Pak Rizki berkibar kesana kemari. Ia menggerbak meja belajar Alvin. Alvin terperangah dibuatnya. Sedikit kaget.

Alvin menarik nafas dalam-dalam. Tidak bisakah ia merasakan kebahagiaan itu lebih lama? Kenapa hanya sekejap saja? Ia selalu berfikir bahwa sakit yang ia rasakan bisa menjadi jalan untuk ayah dan ibunya kembali. Tapi ternyata tidak. Sakit itu tetaplah sakit yang menyiksa. Tidak bisa menjadi media untuk mendapat keluarga yang utuh kembali.

Alvin berdiri dari duduknya. Agak limbung. Tangannya memegang kuat punggung kursi. "Sudahlah!" lirihnya tenang. Ia tidak ingin memperkeruh suasana dengan ikut tenggelam dalam pertengkaran itu."Alvin tidak ikut kalian berdua. Kalau papa gak mau kembali ke rumah ini atau sekedar nginap satu malam disini, dan tetep mau pulang ke Semarang, silahkan saja!" Alvin menatap Ayahnya. Matanya berkaca-kaca. Sejurus kemudian ia memandang ibunya yang juga terpaku di tempatnya. " Mama juga. Alvin akan baik-baik saja disini! Kalau di Seoul bisa membuat mama nyaman dan tidak ingin menemani Alvin meski satu malam disini, Alvin tidak apa-apa." Alvin menarik nafas lebih dalam agar tangisnya tidak pecah. Jika ia tidak ingat kata-kata Sivia dulu, saat kedua orang tuanya resmi bercerai, agar ia jadi laki-laki yang tangguh dan tidak gampang menangis, mungkin sudah dari tadi ia menangis.

"Selama apa yang menurut kalian itu baik, Alvin gak akan berontak! Tapi, Alvin akan tetap tinggal disini!" Alvin keluar dari kamarnya. Menyembunyikan tangisannya. Ia pergi keluar rumah. Berlari dan terus berlari. Kemanapun asal ia bisa melupakan kejadian barusan. Ia memang menerima apa yang jadi keputusannya―keputusan yang sama seperti dulu untuk tidak ikut kedua orang tuanya. Ia tidak ingin lagi kembali mengeluh pada Tuhan seperti yang dilakukannya beberapa hari ini sejak ia tahu ia sakit parah. Tapi tetap saja hatinya terluka parah. Lebih parah dari penyakit yang menggerogoti sisa hidupnya. Air mata yang menetes di pipinya, dengan cepat ia hapus; Gue gak bisa Via! Gue gak bisa tangguh saat ini. Karena gak ada lo, gak ada Rio. Gue gak bias

Tuhan, bukankah Alvin anak yang baik? Kenapa bahkan Engkau tidak memberikan jeda yang panjang untuk ia merasakan kebahagiaan itu, setelah cukup lama Engkau turunkan keterpurukan padanya? Tuhan, tidakkah banyak orang-orang jahat di luar sana yang bisa kau siksa dengan cobaanmu itu? Bukan Alvin yang berusaha menjadi yang terbaik untuk Ayah dan Ibunya. Bukankah banyak ribuan juta anak di dunia ini yang durhaka pada orang tuanya, yang bisa kau hukum? Tidak Alvin yang bahkan tetap menerima dengan ikhlas saat orang tuanya berpisah. Tidak Alvin yang membuat keadilan dengan memilih hidup sendiri, sehingga tidak perlu ada yang cemburu atas siapa yang berhak akan hak asuhnya. Tidak Alvin yang tetap bahagia menerima kehadiran orang tuanya setelah lama ditinggalkan. Tidak Alvin yang bahkan tak menyimpan dendam karena tak sedikitpun ia mendapat perhatian dari orang tuanya selama empat tahun ini. Tidak Alvin Tuhan, tidak Alvin yang tetap bersyukur atas garis takdir yang telah Engkau guratkan.


Tuhan, Engkau maha mengetahui, Engkau tahu keinginan mulianya untuk membuat keluarganya utuh kembali. Bukankah hanya itu harapan terbesarnya selama ini? Tapi kenapa Engkau tak mengbulkannya? Bukankah itu perkara yang mudah bagimu?
Tuhan, apa kejadian barusan yang Alvin dapatkan juga hukuman dariMu karena ia telah mendustai nikmatmu saat ia memberontak keras, ketika Kau menurunkan penyakit untuknya? Bukankah itu hal yang wajar dilakukan remaja labil semacam Alvin yang semasa hidupnya dibebani banyak hal? Toh pada akhirnya ia menerimanya...
Tuhan, satu saja yang kupinta darimu. Izinkan dia bahagia bersama ayah dan ibunya. Izinkan ia merasakan keluarga yang utuh itu sebelum waktu singkat yang Engkau berikan padanya, Engkau ambil kembali.

*
[Cakka]

Mama Ira mengelus lembut kepala Cakka yang masih terpejam. Sudah sesiang ini Cakka belum juga terbangun. Semuanya terjadi karena hampir tiap malam Cakka kesulitan tidur. Ia mengeluh tubuhnya sakit dan tidak tahu posisi seperti apa yang bisa membuatnya bisa memejamkan mata. Baru menjelang subuh ia bisa benar-benar tertidur pulas. Itupun setelah Pak Duta memberikan beberapa pil padanya.

Kesedihan itu tengah merundung keluar Pak Duta. Mungkin kesedihan ini lebih pahit dari duka-duka yang pernah mereka alami. Terlebih melihat anak semata wayang mereka yang dulu begitu aktif dan ceria, kini menjadi diam. Tak mau bersuara. Ia habiskan waktunya dalam kebisuan. Menenggelamkan diri dalam keheningan. Dan itu membuat kesedihan menghujam keras batin mereka.

Cakka menggeliat pelan. Matanya hendak terbuka begitu dirasakan tangan seseorang mengelus lembut kepalanya. Tapi, Ahh, sakit itu, selalu saja menyiksanya setiap kali ia hendak tidur dan bangun tidur. Memaksa ia memejamkan matanya lebih lama. Bukan untuk tidur kembali. Tapi untuk menahan sakit.

"Sini mama bantu! Cakka mau bangun kan?" Tawar mama Ira begitu Cakka membuka mata dan hendak mengangkat tubuhnya untuk duduk. Dengan sangat hati-hati mama Ira menegakan tubuh Cakka untuk bersandar di kepala tempat tidur.

Cakka mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya ia menatap kosong keluar jendela. Seperti hari-hari yang telah lalu. Ia diam dan membisu. Larut dalam fikirannya sendiri. Menyelam dalam dunianya yang baru, yang lebih kelam dan gelap.

"Cakka ingin apa sayang?" Tanya Mama Ira berharap ada respon yang baik. Meski hanya gelengan atau anggukan kecil.

Cakka diam saja.

Mama Ira menghela nafas. Hatinya menangis. Selalu jawaban yang sama yang ia dapatkan. Jawaban yang nyaris membuatnya putus asa. Putus asa melihat puteranya yang dulu penuh senangat kini menjadi lemah dan amat sangat rapuh. Air matanya menetes. Dan Cakka tidak peduli dengan itu.

"Ayah mau kembali ke rumah sakit nih, Cakka mau titip apa? nanti ayah beliin." Pak Duta yang baru saja menghabiskan waktu istirahatnya di rumah, berjalan menghampiri Cakka. Mama Ira menghapus air matanya.

Cakka diam. Tetap tak mau merespon. Indifferent, tak acuh.

Pak Duta tersenyum miris. Ia mengelus―mengacak-ngacak―rambut Cakka sebelum akhirnya kembali keluar kamar; Percuma saja bicara panjang lebar. Cakka hanya akan meresponnya dengan diam.

"Biacaralah! Mama tidak kuat didiamkan seperti ini sama kamu!" Mama Ira melirih pelan.  Ia mengamati lekat-lekat wajah Cakka. Mata sayunya yang tampak sembab, hasil menangis dan kurang tidur. Bibir tipisnya yang tampak kering putih karena sulit makan dan minum, dan tubuhnya yang semakin kurus saja membuat siapapun iba melihat keadaannya.

Cakka mengalihkan pandangannya pada mama Ira yang sedang menangis sambil membenamkan wajahnya di telapak tangannya. Tatapannya tak lagi kosong. Ia merasa terlalu keterlaluan melakukan ini. Apa lagi kepada seorang ibu. Ia merasa menjadi satu-satunya anak paling durhaka karena berani membuat air mata ibunya menetes. Dengan satu gerakan ia memegang pergelangan tangan mama Ira. Memaksa mama Ira membukanya dan menatapnya kembali; jangan nangis! Maafkan Cakka Ma,!

"Bicaralah! Jangan diamkan mama kaya gini, Cakka!" Mama Ira memeluk Cakka erat. Cakka diam saja dalam pelukan itu. Ia menangis.

Dari dulu kehidupan Cakka begitu sempurna. Ia nyaris tidak pernah merasa terpuruk karena apa yang dimilikinya begitu memanjakannya. Dan di saat ia tahu kabar ada penyakit yang bersarang dalam tubuhnya, ia merasa Tuhan telah mengambil paksa kesempurnaan itu. Ia seperti dilempar ke dalam lembah kesengsaraan. Ia tidak berkutik. Terlebih ketika ia menyadari mimpi terbesarnya untuk menjadi seorang atlet Basket akan mati karena sakitnya. Ia tidak bisa membayangkan itu!

Tuhan, Kau boleh mengambil kesempurnaan yang Cakka miliki, karena itu memang milikmu seutuhnya. Tapi bolehkah aku meminta? Jangan ambil impiannya! Jangan kau biarkan mimpinya mati juga seperti kau mematikan syaraf-syaraf tubuhnya kelak saat sakitnya semakin parah.

Tuhan, bukankah banyak di luar sana orang yang hidup linglung tak arah tujuan? Orang yang bahkan tak memiliki tujuan hidup dan menjadi sampah dalam masyarakat, orang yang hanya bisa meresahkan banyak orang dan membuat onar, orang yang merusak nama bangsa dan agama dengan perilaku bejadnya, yang bisa kau pilih untuk dijadikan objek penderitaan itu?
Tuhan, apa yang Cakka perbuat? Ia seorang baik yang masih bersyukur dengan nikmat yang kau limpahkan padanya. Ia tidak pernah sombong dengan kesempurnaan itu. Ia tahu apa yang ia miliki adalah milikmu. Lalu kesilapan yang mana yang ia perbuat sehingga ia menderita seperti ini? Bukankan banyak orang-orang yang kau berikan kesempurnaan yang lupa akan diriMu yang bisa kau berikan sakit itu? Tuhan, aku hanya tak mengerti.

"Mm..mma.." Suara Cakka tercekat. Ia ingin bicara. Tapi tenggorokannya teramat kering karena lama ia terdiam dan asupan cairan yang kurang.

Mama ira yang menyadari itu, langsung melepaskan pelukannya dan mengambil air putih yang sejak tadi nganggur di meja kecil di samping ranjang Cakka. Dengan sangat hati-hati ia meminumkan air itu.

Cakka menarik nafas dalam-dalam. Tenggorokannya lebih enak. Mama Ira memandang Cakka serius. Menunggu apa yang ingin diucapkan putera terbaiknya itu.

"Cakka... ingin Debo dan Agni!" Ujar Cakka pelan. Mata mama Ira berbinar bahagia. Bahkan selama beberapa hari ini Cakka tidak mengindahkan kehadiran kedua sahabatnya yang selalu rutin mengunjunginya sepulang sekolah itu. Dan saat ini serta merta ia ingin mereka ada untuknya.

Mama Ira mengangguk semangat sambil menghapus sisa-sisa air matanya. "Mama akan menelepon mereka. Sekarang juga!" Katanya sambil beranjak dari duduknya.

Dengan sangat cepat, Cakka memegang pergelangan tangan mama Ira. "Jangan Ma! Cakka akan menemui mereka di taman kota."

Mama Ira memandang Cakka ragu. Pasalnya keadaan Cakka terlihat begitu lemah. Tak mungkin ia harus ke taman kota. "mama antar ya?" tawarnya memegang wajah Cakka lembut. Cakka menggeleng pelan.

"Tidak perlu, Cakka masih bisa!" tolaknya sambil tersenyum dan melepaskan pegangan tangan mama Ira dari wajahnya. Ia turun dari tempat tidurnya. Tertatih-tatih menuju kamar mandi. Mama Ira hendak membantu, namun Cakka menolaknya. Ia merasa masih mampu melakukan apapun yang ingin ia lakukan. Penyakit itu belum benar-benar membunuhnya.

*

[Gabriel]

Matanya yang sembab menerawang sudut kamarnya. Dimana ada tumpukan kertas yang membuat fikirannya berputar. Menelisik masa lalu yang kian merayap di dinding hatinya. Ia terpekur. Ditarik paksa melewati lorong maktu menuju masa itu. Masa yang merajai semua kenangan yang pernah tertoreh.

"Nah, Ayah pasti suka!" seorang gadis menepuk-nepuk tangannya. Memandang kue hasil ciptaannya dengan puas. Kemudian memandang orang yang saat ini berdiri di sampingnya.

"Mana mungkin Ayah suka? Warnanya ungu juga!" Cibir orang itu terkekeh pelan.

Acha―gadis itu―menatp orang itu, yang tak lain adalah Iyel, sambil memajukan bibirnya beberapa centi. "Bodo ahh, yang penting kuenya enak dan bisa jadi menu spesial buat temenin kita nonton harpot malam ini." seru Acha sambil membawa kue itu ke ruang nonton. Ia bernyanyi-nyanyi kecil. Iyel menatapnya bingung.

Ia tahu adiknya yang satu itu sedang berbahagia karena baru tadi pagi dibelikan kaset Harry Potter―film kesukaannya―oleh sang ayah. Dan baru malam ini ia mau nonton bareng-bareng bersama Iyel dan Ayahnya. Sebagai Harry Potter mania dan penggemar gila Daniel Radcliffe―tokoh Harry Potter― Acha tentu bahagia mendapat hadiah itu. Apa lagi hadiah itu hal yang paling diidam-idamkannya. Guna menambah koleksi; melengkapi Novel dan kaset-kaset Harry Potter sebelumnya.

"Banyak sinetron anak-anak remaja tuh di TV. Gak minat nonton ya Cha?" Iyel duduk di samping Acha yang sudah stanby di depan TV yang masih gelap. Menunggu ayahnya pulang kerja. "Sebelum nonton Harpot loh Cha!" Entah Iyel yang ngebet nonton atau apa.

"Sinetron anak-anak remaja? Tetep aja yang namanya sinetron itu tontonannya emak-emak. Acha gak suka. Banyak pelajaran jeleknya. Masa anak SMP udah cinta-cintaan? Terus suka musuh-musuhan. Udah gitu musuhannya gak elit lagi! Rebutan cowok atau cewek. Ah cape deh. Terus persahabatannya juga gak kokoh! Mudah dihasut! Mana yang mesti dicontohnya kalo gitu." Komentar Acha panjang lebar.

Iyel tekekeh; Komentator yang baik!

"Terus ya Kak! Jalan ceritanya itu basi! Gitu-gitu aja. Antagonisnya itu loh Kak, gak ada keren-kerennya. Gak kaya Draco Malfoy. Terus protagonisnya juga nyebelin. Lemah, ngalah terus, Kerjaannya mewek mulu! harusnya tangguh dong kaya Harry Potter."

"Hahaha, gaya lo Cha. Kaya komentator sepak bola yang tidak tahu adat berdebat loh!" Iyel mengacak-ngacak rambut Acha gemas. Acha menyeringai

Hening sejenak.

"Kak! Apa sih yang lo fikirkan tentang cinta dan sinteron?" tanya Acha tiba-tiba. Tanpa mengalihkan perhatiannya dari kue bolu yang masih duduk manis di atas meja. Gadis itu tak henti-hentinya mengagumi kue bolu ber-cream ungu-putih dengan beberapa buah ceri dan cokelat diatasnya. Sungguh lucu.

"Aih, kaya Shilla aja lo Cha!"

"Ya udah buruan jawab! Lo kan paling bisa kaya gituan. Gue pengen tahu nih."

Sedikit berfikir, Iyel menatapi layar televisi yang masih senyap. "Cinta dan sinetron. Hm, apa ya?" Ia merubah posisinya. Mensejajarkan pandangannya dengan mata Acha yang sudah memandangnya. "Sama-sama ribet! Bikin jengkel, bikin sebel, bikin nangis, tapi.. Banyak pemintanya. Hehe..." asal Iyel menyelipkan cengiran diakhir kalimatnya.

"Kalo cinta dan Harry Potter?" tanya Acha lagi. Kali ini sukses membuat Iyel tersedak. Batuk-batuk. Bukan karena pertanyaan itu. Tapi sakit di dadanya kembali lagi.

"Kak Iyel kenapa?" Jerit Acha panik. Ia berusaha merengkuh Iyel yang tengah mengaduh memegangi dadanya yang sakit tiada ampun. Dengan satu gerakan, Acha meraih ponsel yang terletak di samping kue bolunya. Creamnya sedikit tercoleh. Menodai punggung tangannya. Tapi ia tidak peduli. Ia butuh seseorang.

"Kak Iyel bertahan ya?!" Suara Acha bersahutan dengan erangan Iyel dan bunyi di telepon, yang menandakan hubungan belum juga tersambung.

Iyel menatap wajah cemas adiknya. Sudah kesekian kalinya ia membuat adik perempuannya itu menangis panik hanya karena penyakitnya itu. Bahkan di saat gadis itu sedang berbahagiapun, ia merebut kebahagiannya, ia menggantinya dengan keresahan, ia tega melakukan itu. Tapi bukan itu yang ia mau. Bukan itu! Sungguh bukan itu.

Nafas Iyel terengah. Sebenarnya ia ingin menatap wajah itu lebih lama. Namun jantungnya menggedor dadanya lebih keras. Membuatnya sesak dan serasa  dihimpit dinding-dinding berduri. Perlahan matanya meredup. Samar-samar suara terdengar di telinganya.

"Ayah! Kak Iyel, Ayah! Argh, kakak bertahanlah! Gue mohon! Ayah cepat!"

Hilang...
Suara itu hilang! Ia tidak merasakan apapun.

"Maafin gue Cha! Maafin gue udah rebut kebahagiaan dan hidup lo. Gue minta maaf!" Parau Iyel saat petualangannya di masa lalu terhenti begitu saja karena selebihnya ia tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Yang ia ingat, ketika matanya terbuka, ia berada di ruang pucat dengan berbagai alat medis yang menempel hampir di seluruh tubuhnya. Sama seperti saat dimana keadaannya kritis. Hanya saja saat itu ada perban yang melingkar di dadanya. Entah bekas apa.

Dan setelah itu pula ia tidak melihat Acha lagi. Ayah bilang Acha meninggal karena kecelakaan beruntun dalam perjalan menuju rumah sakit. Dan ternyata dalih itu bohong. Kebohongan besar yang membuat Iyel saat ini amat rangat rapuh. Larut dalam rasa bersalah. Dan tentu memusuhi Ayahnya. Jika ia diberi kesempatan saat itu, ia ingin mati saja. Kenapa hidupnya harus dipertahankan dengan membunuh orang yang disayanginya?

Iyel berjalan menuku tumpukan kertas itu. Mencari sesuatu.

*

TBC

*

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea