Sabtu, 16 Juni 2012

Don't Over_part 5 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.08

*

[Alvin]

Alvin terengah-engah di depan pintu kelas musik sekolahnya. Ia membungkukan badannya. Meletakan tangannya di lutut. Terlihat begitu lelah. Sekolah yang begitu sepi, membuat nafasnya yang cepat terdengar keras. Sesaat ia tidak mempedulikan rasa sakit di bagian perutnya, karena rasa pedih di hatinya jauh lebih menyakitkan.

Perlahan-lahan ia membuka pintu ruangan itu. Biasanya sekolah belum dikunci sebelum pukul setengah 6 sore. Sehingga Alvin bisa dengan bebas masuk ke kelas itu. Ia berjalan terseok-seok menuju sebuah piano putih yang berdiri anggun di tengah-tengah ruangan itu. Ruangan yang tidak pernah berubah dari sejak ia masuk sekolah itu.

Ia duduk di hadapan piano itu. Menarik nafas dalam-dalam. Berharap piano itu bisa menenangkannya seperti biasanya kala ia dirundung duka. Pelan-pelan ia meletakan jari jemarinya di atas balok hitam putih itu. Mulai menekannya dari nada satu ke nada lain. Membentuk lagu yang indah.

Dan di ujung ruangan sana―jauh dari kelas musik. Di ruangan dengan tulisan XI IPA-1. Di ruangan yang hanya ada bangku dan meja-meja kosong, Sivia dan Rio terlihat sibuk bedua mengerjakan sesuatu. 100 soal matematika yang ditugaskan oleh Bu Oki―guru Matematika―sebagai uji coba bagi siswa yang diikut sertakan olimpiade Matematika tahun ini. Dan Rio menjadi salah satu calon peserta.

"Dua jam lagi ya Vi? Di rumah gue pasti sulit mengerjakan ini!" Rio mencoba memberi pengertian. Via hanya mengangguk mengiyakan. Sebenarnya ia sudah kesal menunggu Rio yang terus berkutat dengan angka-angka yang membuatnya serasa menaiki kincir-kincir dengan kecepatan diatas rata-rata. Pusing. Tapi, apapun yang Rio lakukan, asal itu positif, Via akan dengan senang hati mendukungnya meski harus menunggu berapa jam-pun. Toh ia bìsa sambil menulis. Meneruskan cerpennya yang sempat tertunda selama bebera hari ini, karena fikirannya masih terfokus pada Alvin.

Alvin memejamkan matanya. Menghayati permainannya. Dua pasang wajah itu berkelebatan dalam fikirannya. Wajah ayah dan ibunya seakan menjadi sembilu yang menusuk-nusuk batinnya. Bukan mereka! Tapi sikap mereka yang bahkan tak sedikitpun mengerti ia yang begitu mengerti mereka.

Semakin lama, semakin lama, emosinya semakin memuncak. Membuat tangannya bergerak lebih cepat. Lagunya lebih menegang! Menjelma menjadi amarah yang berkobar-kobar. Ia menangis; Gue pengen lo berdua disini Vi, Yo! Gue sadar gue butuh lo berdua! Salah besar jika gue minta lo berdua yang gue rasakan sebagai kekuatan terbesar buat gue, gue suruh pergi di saat gue rapuh dan lemah seperti saat ini.

Rio menatap rumus di hadapannya. Logaritma mendelik sebal kepadanya. Seolah ia tidak akan bisa menyelesaikannya. Ia tidak akan mampu mengerjakan bagian itu. Rio mendesah keras-keras. Hampir semua soal ia bereskan dalam 3 jam ini. Hanya tinggal beberapa soal lagi yang sulit ia temukan jawabanya. "haahh.." Rio mendesah. Meletakan pensil mekaniknya. Menatap Via yang sedang larut dalam fikirannya.

"Pulang yuk Vi!" ajak Rio membereskan barang-barangnya lalu menarik tangan Sivia. Perasaannya tiba-tiba tidak enak. Sivia pasrah saja saat tubuhnya diseret paksa seperti itu. Ia menatap Rio bingung; ada apa sih Yo?

Rio sedikit memperlambat langkah kakinya begitu sadar Sivia kesulitan menyamakan langkahnya. "Sory!" ujarnya pelan. Sivia mengangguk dan tersenyum. "Oya, tadi pagi lo sms apa lagi sama Alvin?" tanya Rio kemudian.

"Biasalah. Tapi sedikit nyindir-nyindir gitu." Jawab Sivia. Ia berhenti melangkah. Telinganya menangkap suara piano. "Tunggu gue rasa ada yang main piano." Katanya memberitahu.

Rio menajamkan indera pendengarannya. Lalu mengangguk mengiyakan. Beberapa jurus kemudian ia berlari sambil menarik tangan Sivia lagì menuju kelas musik. Ia tahu si pemain piano itu Alvin. Ia tahu hanya Alvìn yang bisa bermain piano secepat itu. Ia tahu Alvin ada disana. Perasaannya mengatakan itu sejak tadi. Begitupun dengan Sivia.

Mereka mengamati Alvin dari balik kaca ruang musik itu. Tak ingin masuk. Rasa ragu sedikit menyelimuti batin keduanya. Bukan mereka kapok atas apa yang Alvin lakukan pada mereka. Bukan takut Alvin akan menolak kehadiran mereka lagi. Tapi mereka takut Alvin drop saat mencoba mengusir mereka seperti hari-hari yang lalu. Mereka tidak siap melihat tubuh itu merintih kesakitan lagi.

Namun lama-lama Sivia tidak bisa menahan diri lagi. Ia jauh tidak tega melihat Alvin yang sudah kelelahan memainkan piano itu. Ia tidak tega melihat keringat dingin bercucuran di kening Alvin. Ia tidak tega melihat jari jemari Alvinyang lancip itu dipaksa terus untuk menekan si putih menawan. Ia berlari ke arah Alvin dan memeluk pemuda itu dari samping. Air matanya tumpah.

Rio-pun berjalan mendekat. Ia duduk di sebelah kiri Alvin. Memegang tangan Alvin yang masih memainkan piano itu. Tangannya dingin. Basah. Alvin menghentikan permainannya karena tangan hangat Rio cukup membuat jari-jarinya meluluh.

Hening sebentar.

"Maafin gue! Gue mohon jangan benci sama gue! Jangan beranjak dari sisi gue! Gue mohon!" lirih Alvin. Kepalanya memberat. Rasa sakit dan mual yang sejak tadi ditahannya, sudah memberontak keras. Memaksa ia kembali muntah. Membuat Rio dan Sivia tidak bisa merespon ucapan Alvin.

Rio terpaku. Sivia melepaskan pelukannya. Pandangn mereka sama-sama tertuju pada si piano putih, lengan Rio dan lengan seragam Sivia yang kini terciprati noda-noda merah.

"Da... darah?" Desis Sivia tak percaya.

Alvin menghela nafas. Ia melepas jaketnya―sebenarnya jaket Rio yang waktu itu belum dikembalikan."Maaf! Maafin gue!" Dengan sangat hati-hati Alvin mengelap darah di tangan Rio dan baju Sivia dengan jaket itu. Ia terlihat begitu menyesal. "Maafin gue... Gue gak sengaja buat tangan dan baju kalian kotor!"

Rio menghentikan aktivitas Alvin. Ia memandang Alvin serius. "gak apa-apa Al! Darah lo sama sekali bukan noda buat gue dan Via. Darah lo, darah kita juga." Rio memeluk Alvin setelah sebelumnya mengelap sisa-sisa darah di mulut Alvin dengan jarinya. Sesungguhnya yang ia takutkan adalah bayang-bayang semakin buruknya penyakit yang Alvin derita. Apa lagi jika Alvin sudah muntah darah seperti itu.

"Gue sayang lo Al! Gue sayang lo berdua!" Sivia memeluk keduanya. Tangisannya pecah. Tercampur antara tangis kekhawatiran dan kebahagiaan.

Tuhan, Jangan biarkan penyakit yang merusak tubuh Alvin, ikut merusak persahabatan mereka! Biar mereka bersama-sama melewatinya.

*

[Cakka]

Agni masih saja sibuk ngotak-ngatik camera digitalnya di depan kelas seni. Sesekali ia memotret asal. Sekedar menghilangkan rasa jenuh karena sudah tiga jam ini ia duduk bersandar di kelas itu hanya untuk menunggu Debo yang belum juga keluar dari kelas seni itu. Entah apa yang dilakukannya bersama para member jurusan seni . Ia tahu, beberapa hari ini kelas seni memang sedang sibuk-sibunya mempersiapkan acara teater yang akan digelar akhir semester awal nanti. Dan Debo yang juga termasuk anggota, turut larut dalam kesibukan itu.

Jika tidak ada camera digital, kamera pemberian dari Kak Obiet―kakak kandungnya―beberapa bulan yang lalu, mungkin ia sudah marah-marah gak jelas karena harus menunggu Debo dengan begitu lama. Dan jika bukan karena rencana mereka untuk pergi ke taman kota dan mengunjungi rumah Cakka, mungkin ia sudah pulang duluan.

Tapi untuk apa Agni membawa Camera yang jelas tidak menarik perhatiannya, jika bukan karena ingin segera ke taman kota dan berfoto-foto. Mengabadikan tempat itu dalam album fotonya. Terpaksalah ia menunggu Debo. Meski waktu benar-benar hampir malam; Lama amat lo De! Kalo gini gak perlu deh ke taman kota. Batin Agni kesal. Tapi tetap saja ia menunggu sampai akhirnya kelas seni bubar, dan Debo berdiri di sampingnya.

"Sory ya?" Maafnya mengulurkan tangannya. Membantu Agni berdiri.

Agni menerima uluran tangan itu. Tubuhnya langsung terangkat karena Debo menariknya. Ia memandang Debo masih dengan wajah kesalanya. "Jadi gimana rencena kita?" protesnya cemberut. Wajahnya sangat lucu. "Udah mau malam lagi. Besok aja deh kita ke taman kotanya. Kita ke rumah Cakka aja! Itu juga bentar doang."

"Yah Ag, jangan gitu dong! Kita ke taman kota ya? Sebentar saja! Gue lagi pengen kesana." Mereka berjalan melalui lorong-lorong sekolah yang sudah benar-benar sepi. Entah kenapa batin Debo benar-benar ingin mengunjungi tempat yang selama beberapa hari ini tak mereka jamah. Ia sungguh merindukan tempat itu.

Agni termenung. Berfikir sejenak.

"Ayolah!" Debo memelas.

Agni tersenyum nakal. Mata liciknya berkilat-kilat memandang Debo. "Yang paling dulu sampai di taman kota, gratis jajan di kantin selama seminggu!" tanpa ba bi bu lagi Agni langsung berlari meninggalkan Debo. Tawanya menggema. Debo diam di tempat sampai ia benar-benar menyadari apa yang diucapkan Agni; Ahh, ngga si Cakka, lo Ag yang ngerjain gue! Ia berlari. Berusaha menyusul Agni yang memang sudah jauh.

"Hahaha.. uang jajan gue awet deh," Agni tersenyum penuh kemenangan begitu taman kota sudah ada di depan matanya. Sedikit melirik Debo yang berusaha mengatur nafas. Jauh dari tempatnya sekarang.

Secara repleks langkahnya yang saat itu mendekati lapang basket, terhenti begitu saja saat dengan jelas sosok Cakka duduk membelakanginya di tepi lapangan. Ia mendekati sosok itu dan duduk di sampingnya. "Ca... Cakka?" panggilnya memastikan bahwa orang itu benar-benar Cakka. "Sejak kapan lo disini?" tanyanya berlanjut. Sedikit mengamati Cakka yang agak lusuh, meski tidak seberantakan sebelumnya.

Cakka menarik nafas panjang. Tanpa mengalihkan tatapannya, ia tahu itu Agni. "Dari tadi," jawabnya pelan. "Nunggu lo dan Debo."

Agni membatu. Tak percaya. Ini adalah mu'jizat untuknya. Mendengar suara itu adalah hal paling indah yang pernah ia rasakan. Cakka mau meresponnya setelah beberapa hari absen berbicara. Setelah beberapa hari ia dan Debo dianggap tidak ada. Ini adalah kebahagiaan. Sungguh-sungguh kebahagiaan!

"Bagaimanapun juga gue gak mau ja... Cakka?" Debo yang baru saja sampai sambil menggerutu sebal, langsung berlari dan duduk di samping Cakka.

Lama terdiam. Agni dan Debo enggan memulai pembicaraan. Setelah sekian lama tak ada percakapan antar mereka, rasa canggung memeluk ketiganya. Bukan tak ada topik. Justru terlalu banyak topik yang ingin di bahas. Tapi sungguh tidak ada prolog yang pas untuk memulai semuanya.

"Gue minta maaf!" Suara itu memecahkan kerak-kerak keheningan. Memaksa dua pasang mata yang duduk mengapitnya memandangnya serius."Gue banyak salah sama lo berdua." sambungnya tertunduk.

"Cakka, harusnya kita yang minta maaf udah biarin lo nunggu lama disini. Gak ada yang salah kok dari lo!" Agni merangkul Cakka. Wajahnya yang masih menyimpan rona-rona merah karena habis lari-larian menggoreskan senyuman terbaiknya. Debo hanya mengangguk. Sefaham dengan ucapan Agni.

Cakka memandang teman-temannya bergantian. Lalu tersenyum. Senyuman yang sempat ia kunci rapat-rapat di balik rasa sakitnya. Ternyata bisa keluar bebas lagi dan ia lontarkan pada kedua sahabatnya.

"Lo jangan kaya kemarin lagi ya Kka! Gue dan Debo selalu ada kok buat lo, meski lo anggap kita hanya bayangan sekalipun. Kita ingin lo tetep kaya gini, bisa senyum sama kita!" Agni merapatkan tubuhnya pada Cakka. Memeluknya kuat. Debo ikut memeluknya.

Lama mereka larut dalam dekapan itu hingga Cakka kembali bersuara.

"Pulang yuk! Nyokap gue pasti cemas." Cakka berdiri dari duduknya. Mengambil sepedanya yang ia letakan tidak jauh dari tempatnya sekarang. Debo dan Agni ikut berdiri. Memperhatikan Cakka; Sejak kapan tuh anak bawa sepeda? "Kita naik ini bareng-bareng!" Ujarnya membuat Debo maupun Agni sontak cengo. hati mereka sama-sama berbicara; Bertiga? mana bisa?

"Udah, ayo! bisa kok!" melihat tatapan ragu dari teman-temannya, Cakka segera mendekat sembari menutun sepedanya.

"Oya, besok gue traktir lo berdua makan ya? Lupa gue punya utang sama lo, lo pada." Ingat Cakka sambil mengayuh sepedanya. Berat! Jelas saja bebannya bertambah dengan Agni yang duduk di depan; Agni terlihat Anggun dalam posisi itu. Dan Debo yang berdiri di belakang sambil memegang pundak Cakka. Takut jatuh.

"hukuman gue gak jadi ya Kka? Cape tahu nulis di dua buku sekaligus. Sebulan lagi." timpal Debo masih memasang wajah takut jatuh.

"Enak aja! Gak bisa!" Cakka berusaha menyeimbangkan sepedanya.

"Hahaha nasib lo jelek mulu De! oya, jajanin gue ya selama seminggu!"

"Hahaha.."

Agni tertawa. Cakka tertawa juga. Debo hanya mendumel sebal. Tapi tak lama setelah itu ia tersenyum meski tipis; Tak apalah gue nulis di buku lo juga. Asal gue bisa lihat lo tertawa Kka. Gue bahagia!

Tuhan, Jangan biarkan tawa itu padam lagi. Biarkanlah mereka tebarkan senyum dan tawa bahagia dalam persahabatan mereka. Hingga nanti wakunya tibapun biarlah tawa itu tetap ada.

*

[Gabriel]

Shilla mendesah berat. Kiki tersenyum lega. Setelah dua jam yang menyiksa dengan hantu-hantu ruang osis; Proposal dan tugas-tugas keorganisasian, akhirnya mereka bisa bebas juga. Rasanya memang berat mengurus rencana kegiatan Osis tanpa Iyel. Ahh, kenapa Iyel yang sakit terlihat begitu mudah mengurusi osis ini. Kenapa mereka yang begitu sehat sangat sulit menanggungjawabi semuanya? Iyel memang hebat.

"Ke rumah Iyel gak Ki?" tanya Shilla mengamati agenda Osis. Selama Iyel absen, Shilla sering bersama-sama agenda osis itu ketimbang dengan kamera kesayangannya.

"Kemarin kita gak kesana kan gara-gara rapat dadakan? Sekarang kesana deh!" jawab Kiki asyik dengan koran pembina Osis yang sempat dibawanya dari ruangan sebelum keluar tadi. "Uish gila! tiga supporter persija tewas gara-gara disangka supporter persib!" cerocos Kiki semakin serius membaca koran itu sambil jalan.

Shilla acuh saja. Masa bodoh dengan berita-berita negara yang nyaris membuatnya jengkel. Ia tidak suka mendengar kabar-kabar buruk tentang Indonesia; Bisa jadi orang yang tidak bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan. Karena secara spontan ia akan menggerutu sebal mendengar absurdnya negara ini, tanpa tahu masih banyak hal-hal positif yang Tuhan beri yang patut indonesia syukuri.
Kan siapa tahu bencana di Indonesi ini terjadi karena rakyatnya―si pendengar berita―lupa dengan kebaikan-kebaikan yang Tuhan beri untuk Indonesia. Selalu melihat apa-apa dari sisi negatif saja.

"Shil, satu bulan ini korban kekerasan geng motor mencapai sepuluh orang.!"

"Hm.." respon Shilla pendek.

"Ini ituh gak bisa dibiarkan! Kalau gini terus, nyawa orang-orang baik-pun jadi taruhannya. Wah, keamanan dan keselamatan gue terancam nih. Belum lagi perampokan, pembunuhan, penganiayaan, pencurian organ tubuh, penyiksaan TKI..."

"Lo kaya reporter berita aja nyerocos gitu!" Shilla memotong ucapan Kiki. Berjalan memasuki gerbang rumah Iyel yang tidak dikunci. Saking asyiknya baca koran sambil jalan, Kiki tidak sadar kalau ia sudah sampai di rumah Iyel.

"Lah. udah sampai ya?" bingungnya sambil melipat korannya dan melemparnya sembarang. Entah kemana. Ia berjalan menyusul Shilla yang sudah masuk rumah.

"Yel!" Shilla membuka pintu kamar Iyel. Mengedarkan pandangannya. "Lo kenapa?" repleks pertanyaan itu keluar begitu matanya menangkap sosok Iyel yang tengah duduk di pojok ruangan sambil mengamati beberapa lembar kertas di tangannya. Surat pendonoran jantung Acha satu tahun yang lalu. Kiki yang juga baru datang, berjalan mendekat ke arah Iyel. Wajahnya sama-sama cemas.

Iyel menggeleng pelan. Menatap teman-temannya bergantian.

"Jangan kaya ginilah Yel! Acha melakukan itu semua karen ingin lo merasakan nikmatnya hidup ini tanpa rasa sakit itu. Dia sayang lo Yel!" Papar Shilla mengelus lembut punggung Iyel. Dari keterangan di balik kertas itu, ia sudah tahu penyebab Iyel seperti ini.

"Tapi kenapa Acha yang harus meninggal Shil? Kenapa gak gue aja?! Bahkan dia belum sempat mengakhiri petualangannya bersama Harry Potter-nya. Ia belum menyelesaikan film favoritnya yang hanya tinggal satu seri. Gue benci hidup gue! Gue udah merusak kebahagiaan adik gue sendiri!"

"Ngga Yel! Justru bagi Acha lo itu lebih penting dari apapun. Film faforitnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lo! Dia sayang lo!" sambung Shilla lagi. Kiki hanya menyimak.

"Tapi pada akhirnya gue tetep sakit kan Shil? Kalau gini caranya, untuk apa Acha donorin jantungnya?" Emosi Iyel.

Kiki menarik nafas pendek. Agak kesal mendengar penuturan Iyel. "Setidaknya lo masih bisa merasakan hidup ini Yel. Tuhan masih memberi kesempatan lo untuk merasakan nikmaNya. Tuhan masih memberi kesempatan untuk lo berbuat baik! Bersyukur Yel! Tuhan tuh sayang lo. Dan Tuhan sayang Acha juga. Tidak semata-mata Ia mengambil Acha jika Dia tidak sayang pada adik lo itu!" Nada suara kiki naik satu tingkat. Belum pernah ia seperti ini sebelumnya. Apalagi untuk berbicara kasar pada Iyel. Ia hanya tidak habis fikir Iyel yang bijak bisa sepicik itu.

"Kiki, sudahlah!" Shilla berusaha menenangkan Kiki. Iyel sendiri masih tertunduk, mencerna kata-kata Kiki.

"Yel! Kalo gue boleh milih, gue lebih milih posisi lo Yel. Gue lebih baik sakit kaya lo tapi dibutuhin banyak orang, baik sama orang, dan ta'at sama Tuhan, ketimbang jadi orang sehat yang jauh dari Tuhan mencorat coret nama baik negara dan agama dengan kelakuan mereka." Suara Kiki kembali melunak. Ia ingat beberapa berita yang tadi dibacanya.

Faktanya, banyak orang-orang yang Tuhan berikan kesehatan tapi justru kesehatan mereka dipergunakan untuk menyakiti orang lain yang tak berdosa. (ex: anak-anak geng motor)

"Sory Yel! Gue gak maksud." Kiki memeluk Iyel. Perasaan tak enak karena sudah membentak Iyel menjalar di syaraf-syaraf otaknya.

"Makasih Ki, Shil! Lo berdua udah buka mata hati gue!" Lirih Iyel pelan. Shilla tersenyum. Ikut memeluk Iyel. Berharap tak ada lagi Iyel yang lemah untuk esok dan seterusnya.

TBC

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea