Sabtu, 23 Juni 2012

Don't Over_part 6 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 03.31
*

Kita sering mendengar, roda itu berputar. Kadang diatas, kadang di bawah. Kita tidak tahu, sekarang kita tertawa, eh satu jam kemudian menangis. Sekarang kita sehat, besoknya sakit. Sekarang kita suka, besoknya duka. Sekarang kita cinta, esoknya benci. Sekarang kita bersama, esoknya berpisah. Ya, begitulah cara Tuhan menguji makhluknya. Dimana tidak ada negosiasi antar Dia dan Kita. Yang perlu kita lakukan hanya satu. Menerima. Ya, menerima apa yang Ia ingin catat di agenda kehidupan kita hari ini dan esok. Menerima, ketika Ia menempatkan posisi kita diatas atau di bawah. Karena dengan menerima, semuanya akan jauh lebih indah. Percayalah!

***


[Alvin]

Perlahan-lahan Rio memutar handle pintu kamarnya. Berjalan menuju tempat tidurnya, yang diikuti oleh Sivia dan Mbak Nova. Semalam Alvin tidak pulang dan memilih menginap di rumah Rio. Dan sudah sesiang ini, Alvin belum juga bangun. Padahal Sivia dan Rio sudah kembali dari sekolah. Sebenarnya tadi pagi Rio sempat membangunkan Alvin. Tapi susahnya minta ampun! Terpaksalah ia meninggalkan Alvin dan memberi keterangan sakit―seperti sebelumnya―pada absensi kelas.

"Al!" Mbak nova menggoyang-goyangkan tubuh Alvin. Rio memilih duduk di tepi tepat tidur. Menunggu reaksi Alvin. Sivia sendiri sudah meloncat ke atas tempat tidur Rio. Mengamati Alvin; hihi Alvin lucu kalau sedang tidur. fikir Sivia cekikikan.

Alvin menggeliat pelan. Terpaksa membuka matanya. Kemudian membangunkan tubuhnya. "Huaahhmm" ia menutup mulutnya. Menguap. Matanya yang masih setengah merem, ia kucek. Kemudian melihat orang-orang yang ada di sekelilingnya secara bergantian.

"Lo cakep-cakep kebo juga ya?" ledek Sivia tertawa sembari mengacak-ngacak rambut Alvin gemas. Mbak Nova hanya tersenyum melihat aksi Sivia. Rio sendiri masih saja mengamati Alvin yang masih banyak menguap.

"Kamar Rio gak seenak kamar gue! Gue gak bisa tidur semalam!" Alasan Alvin cuek. Rio hanya terkekeh pelan mendengarnya. Keadaan Rio memang tak seperti Alvin. Kehidupannya sederhana. Sangat sederhana! Jauh dari kata mewah. Tak salah kalau Alvin yang biasa tidur di tempat yang luas, merasa tidak nyaman harus tidur di kamarnya yang sempit

"Tapi gue suka tempatnya. Setidaknya tidak terlalu luas dan cukup hangat buat gue." Sambung Alvin lagi begitu melihat tatapan Mbak Nova dengan mimik menegur; Gak boleh gitu, Alvin!. Lagian sebenarnya bukan kamar Rio yang membuatnya tidak bisa tidur. Melainkan sakitnya yang tak kunjung berhenti, mengingat obat pereda sakit yang biasa ia minum saat sakit itu kembali, ia tinggalkan di rumahnya.

"Mama sama Papa pulang Mbak?" Tanya Alvin kemudian.

"Tadi pagi mereka kembali. Padahal semalam mereka nungguin kamu pulang ke rumah. Mereka mencemaskanmu." Jawab Mbak Nova sembari menarik tubuh Alvin agar turun dari tempat tidur. Tak memberi kesempatan untuk Alvin berkomentar masalah orang tuanya itu. "Ayo mandi! Kita ke rumah sakit sekarang!" Sambungnya kemudian mendorong-dorong tubuh Alvin menuju kamar mandi.

"Ke rumah sakit? Untuk apa?" Alvin menahan tubuhnya lebih kuat agar Mbak Nova tidak mendorongnya lagi.

"Kemoterapi?" Sivia menjawab pertanyaan Alvin. Ia beralih posisi di samping Rio.

Alvin melengos. Melipat tangan di dada. "Mbak, Alvin kan udah bilang, Alvin gak mau di kemo! Kita udah membicarakan ini beberapa kali. Alvin mau melakukan pengobatan apapun asal tidak itu!"

"Gak ada Alvin!" tegas Sivia. "Gak ada pengobatan lain! Kanker itu hanya..." ucapan Sivia terpotong.

"Ada! Pasti ada! Gue yakin." Alvin masuk ke dalam kamar mandi. Menguncinya dari dalam."Kalaupun gak ada, gue tetep gak mau!" Teriak Alvin kesal. Baik Rio, Sivia dan Mbak Nova sama-sama mendesah. Mereka tidak tahu harus membujuk Alvin dengan cara apa lagi. Tak mungkin Alvin terus mengandalkan obat pereda sakit yang bahkan tak bisa menyembuhkannya.

Rio berjalan menuju pintu kamar mandi yang tertutup itu. Ia berdiri di baliknya. "Al, apa salahnya lo coba dulu? sekali saja!" Bujuknya.

"Gue gak mau!" teriak Alvin lagi. Entah apa yang sedang dilakukannya di dalam. Mbak Nova dan teman-temannya jadi cemas.

"Gak sakit-sakit amat kok Al," Mbak Nova ikut berdiri di samping Rio. "Lagian kalau lo sembuh, rambut lo bisa tumbuh lagi kok!"

"GAK MAU! POKOKNYA ALVIN GAK MAU! GAK MAU! GAK MAUUUU!!" nada suara Alvin semakin tinggi. Melengking. Ia tidak ingat kalau saat ini ia sedang berada di rumah Rio. Beruntung, jam-jam segini Ayah sama Ibu Rio belum pulang kerja, sehingga tidak buat kepanikan.

Sivia berdiri dari duduknya. Rasa kesal memonopoli hatinya. Menuntun ia berjalan tergesa ke arah Rio dan Mbak Nova―ikut berdiri di balik pintu. "Terus lo maunya apa, Alvin Jonathan, pianis sipit yang keras kepalanya naudzubillah tingkat dewa?!" cerocos Sivia jengkel. Suaranya lebih keras dari suara Alvin. Mbak Nova dan Rio memandangnya dengan ekspresi ingin tertawa; ejekan Sivia lucu.

Keadaan hening. Alvin tak menyahut. Sivia, Rio dan Mbak Nova gelisah.

"Al," panggil Sivia pelan. Mengetuk pintu kamar mandi.

"Dasar penulis gendut yang nyebelinnya tingkat syurga dan neraka lo!" ejek Alvin membuat kegelisahan mereka pecah. Berubah menjadi tawa. Kecuali buat Sivia.

"Gue gak mau ke Rumah sakit. Gue maunya tuh ke pantai! Gue gak mau kemoterapi. Gue maunya tuh seneng-seneng!" sambung Alvin.

"Dasar gila!" cerca Sivia. "Ya udah, sekarang lo buka pintunya! Ngapain ngunci diri di kamar mandi orang? Kaya anak kecil aja lo!"

"Lah, lo tuh yang gila! Gue tuh mau mandi. Ngapain juga pintunya dibuka-buka? bukannya tadi gue disuruh mandi?"

Rio, Sivia dan Mbak Nova bertukar toleh. Kemudian tertawa geli. Membuat Alvin yang berada di dalam menaikan alisnya heran.

*

[Cakka]

"Kka! Boleh nanya gak gue?" Agni memainkan kamera digitalnya untuk mengambil gambar Cakka yang tetap asyik dengan si bundar orange-nya di tengah lapangan basket outdoor sekolah siang itu. Agni yang duduk di tepi lapangan, agak mengeraskan suaranya agar Cakka bisa mendengarnya.

"Nanya apa?" Cakka menghentikan aktifitasnya―mendrible bola―dan berjalan ke arah Agni. "Serasa seleb banget gue ditanya-tanya." Seperti biasa. Narsisnya tidak pernah hilang.

Agni diam. Membolak-balik kameranya. Keraguan menyelubungi fikirannya. "Hmm, sebenarnya lo itu sa..." Agni menggantungkan kalimatnya. Cakka mengernyit bingung.

"Apaan sih lo? Gak jelas banget!”

"Sebenarnya lo itu..." Agni mengulang kembali kalimatnya. "Sa..." Cakka menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia menatap Agni penasaran.

"Lo sa... hm...sa... sayang gak sama gue?" Ceplos Agni tertunduk. Cakka menaikan alisnya. Kemudian terkekeh geli

"Ya sayang lah Ag. Dari dulu juga gue sayang lo, sayang Debo, gue sayang sahabat-sahabat gue!" Cakka mengacak-ngacak rambut Agni gemas. Sungguh pertanyaan konyol, tapi berharga.

Agni semakin tertunduk. Biasanya ia marah kalau Cakka atau Debo mengacak-ngacak rambutnya. Ia merutuki dirinya sendiri; Bukan itu maksud gue Kka. Bukan itu yang ingin gue tanyakan. Tapi gue ingin nanya, sebenarnya lo itu sakit apa? Argh! Kenapa cuma mau nanya itu aja, rasanya susah amat!

"Kenapa sih lo Ag? Kayanya ada yang disembunyiin gitu." tawa Cakka berhenti. Ia mulai serius menatap Agni yang tiba-tiba saja memeluknya erat. "loh?"

"Pernah gak sih lo merasa takut kehilangan? Pernah gak sih lo merasa takut orang yang lo sayang pergi? Gue takut Kka! Takut banget!" Secara spontan kalimat-kalimat itu terucap dari lisan gadis tomboy itu. Ia semakin erat memeluk tubuh Cakka. Membuat Cakka merasa tiba-tiba saja suhu panas menjalar di tubuhnya. Ia merasa begitu hangat.

Entah kenapa, atmosfer di sekitar mereka yang biasanya penuh dengan aura-aura keceriaan, saat ini terasa begitu melow. Terlebih suasana itu diciptakan oleh seorang tomboi semacam Agni.

"Ehm, jadi gak makannya?" Debo berdiri di belakang mereka. Membuat Agni dengan cepat melepas pelukannya dan menjauh dari Cakka. Ia berdiri dan membalikan badannya.

"lo lama amat De! Ngapain aja di kelas seni?" tanya Agni saat Cakka membalikan badannya juga.

"Gue dari lab komputer sih sebenarnya. Kelas seni udah bubar setengah jam yang lalu. Hahaha.. sory ya? Jadi gimana? Jadi kan teraktirannya?" Debo memasasang wajah tanpa dosa. Agni dan Cakka menyeringai ke arah Debo.

"Ya udah ayo!" Cakka mengambil tasnya. Dan...

BRUK!

Belum sempat Cakka menggendong tasnya, tas itu sudah jatuh duluan. Baik Cakka, Agni maupun Debo, sama-sama diam mematung. Memandang tas Cakka yang tergeletak tak berdaya di hadapan mereka. Tangan Cakka bergetar hebat. Agak kaku.

"Lo kenapa Kka?" tanya Agni cemas.

Debo membisu. Ia berfikir keras.

"Tas gue berat! Hahaha..." tawa Cakka mencoba menggerakan tangannya untuk mengambil tasnya kembali. Sakit. Sangat sakit!

"Gak berat sama sekali!" kata Debo saat ia mendahului Cakka mengambil tas itu. Agni menatap Cakka lekat-lekat. Meminta penjelasan.

Cakka menarik nafas pendek. Lalu memamerkan cengirannya. "Hehe, siapa yang dulu sampai kantin, digendong sampai rumah!" Dengan satu gerakan, Cakka berlari meninggalkan Agni dan Debo yang masih memasang tampang bingung. Sebenarnya ia hanya tidak ingin ditanya lebih lanjut soal kejadian barusan.

"Gue gak mau gendong Cakka! Dia berat tahu..." Agni berlari lebih dulu.

"Gue juga gak mau!" Debo ikut berlari. Berusaha mengejar Agni.

Entah perasaan Agni saja atau apa, ia merasa lari Cakka tidak secepat biasanya. Buktinya, jaraknya dengan Cakka sekarang begitu dekat. Pergerakan Cakka jadi lamban.

BRUAK!

"Auw! Cakka ahh lo!" Agni meringis. Ia memandang Cakka yang saat ini ia tindih dengan keadaan telungkup. Tiba-tiba saja Cakka terjatuh. Dan Agni yang berlari di belakangnya. Menabrak Cakka dan ikut terjatuh. Sementara Debo yang masih jauh dari mereka, mempercepat larinya. Menjadikan kesempatan untuk menang. Satu kali saja!

"Hahaha, gue duluan ya?" Cibir Debo saat ia melewati Agni dan Cakka yang sudah duduk saling berhadapan. "Now, i am the winner!" teriaknya. Cakka dan Agni hanya melengos sebal.

"Aish! lo kalo mau jatuh, bilang-bilang dong!" protes Agni cemberut.

"Sory! tadi sepatu gue licin!" alasan Cakka bohong. Padahal Agni sudah tahu akhir-akhir ini Cakka memang sering terjatuh tiba-tiba karena penyakitnya itu.

"Ya udah! sini gue bantu lo jalan! Kaki lo pasti sakit kan? Makannya, kalo udah kerasa sakit itu, jangan dipaksain! Jatuh kan lo? Sepatu lo tuh keren, mana iya licin?" Nasehat Agni sambil memapah Cakka.

Cakka tertegun; gue emang gak bisa nyembunyiin sakit gue dari lo berdua!

"Gak apa-apalah! Kali-kali tuh anak menang" hibur Agni.

"Haha, iya. Kita ngalah aja untuk saat ini." Kata Cakka tertawa sumbang. Agni hanya tersenyum tipis mendengar tawa di balik rasa sakit itu.

*

[Gabriel]

Iyel merapikan seragam sekolahnya. Menatap lekat-lekat penampilannya di cermin. Rapi! Sangat rapi! Iyel nyaris rinci menata dirinya. Sebagai ketua osis yang merupakan tauladan siswa-siswa lain, ia memang mesti memberikan contoh yang baik. Dimulai dari cara berseragam yang rapi; Siapa bilang seragam rapi itu cupu? Keren tahu! fikirnya.

"Iyel! Berangkat bareng ayah?" suara di balik pintu terdengar canggung.

Iyel diam sejenak. Berhenti menatapi dirinya. Tak mau merespon ucapan ayahnya. ia terlanjur kecewa. Sudah beberapa hari ini memang, Iyel tak tegur sapa dengan ayahnya. aura permusuhan masih berkeliaran di sekitar mereka.

"Yel! kamu masih marah sama ayah?" Suara itu terdengar lagi. Iyel menghela nafas. Fikirannya berdebat keras dengan hatinya. Antara harus merespon atau tidak. Sebelum akhirnya, handphone-nya yang tergeletak sembarang di atas tempat tidurnya bergetar. Iyel meraihnya. Melupakan sejenak panggilan ayahnya.

"Yel, sekolah
kan lo? Bareng Kiki sama gue gak? Gue tunggu di depan ya? Buruan! Cuacanya cocok nih untuk memulai hal yang positif.”

Pesan dari Shilla sekiranya membuat Iyel tahu mana yang harus ia turuti. Tiba-tiba saja, hawa-hawa positif menyebar di dalam peredaran darahnya. Ia menarik nafas panjang. Kembali menatapi dirinya lagi; Perfect! Tak ama setelah itu ia menyambar tasnya dan membuka pintu kamarnya. Tersenyum tulus.

"Iyel bareng Shilla dan Kiki Yah!" Ujarnya saat melihat Pak Dayat yang masih berdiri di depan pintu kamar Iyel. "Iyel gak marah lagi sama ayah, kalau ayah membatalkan rencana pendonoran itu! Iyel hanya terlalu sayang Ayah!" Dengan lembut Iyel meraih tangan Pak Dayat dan menciumnya. "Iyel berangkat." Ia berlalu. Menuruni tangga sambil nyanyi-nyanyi; Membebaskan diri dari penjara kekecewaan itu benar-benar menyenangkan.

"Yel!" panggil Pak Dayat saat Iyel sudah berdiri di bawah dan hendak keluar rumah. Iyel membalikan badan dan kembali menatap ayahnya yang masih berdiri di lantai atas. Ia menghentikan nyanyiannya. Menunggu apa yang akan di ucapkan ayahnya.

"Semoga harimu menyenangkan! Jaga diri!"

Iyel tersenyum."OK!" katanya kemudian keluar dari dalam rumah. Menghampiri Shilla dan Kiki yang tampak sedang berdebat di depan gerbang rumahnya.

"Debatin apa sih? Rame amat." Tegur Iyel sambil berjalan diikuti oleh yang lainnya.

"Ini nih Yel, si Kiki udah kaya kakek-kakek aja mantengin berita." sewot Shilla yang sejak tadi―sebelum ia keluar―mendengar laporan kiki tentang berita-berita yang tadi pagi sempat di tontonnya.

"Emang ada berita apa Ki?" tanya Iyel yang langsung membuat ekspresi wajah Shilla berubah; Ye, ikutan lagi lo.

"Itu loh Yel, Malaysia cari gara-gara lagi sama Indonesia!"

"Emang ngapain Malaysia?"

"Masa tari Tor Tor-nya Indonesia dicuri. Lama-lama negara Indonesia juga di klaim tuh sama Malaysia. " Cerocos Kiki rame sendiri. Shilla pura-pura tidak mendengar.

Iyel tersenyum meremehkan."Wajarlah!"

"loh?" Baik kiki maupun Shilla sama-sama melirik Iyel.

"Haha.. Gini deh, barang berharga aja yang kita jaga baik-baik, terkadang bisa dengan mudah dicuri orang. Nah, apa lagi kalo tidak dijaga. Harusnya Indonesia itu lebih bisa menjaganya. Meskipun tidak menjamin bebas dari pencurian, setidaknya kita mampu membuat benteng untuk tidak memudahkan pencuri itu masuk dan mengambilnya. Lagian, kalo udah dicuri aja ribut maki-maki Malaysia! lah terus kemaren-kemaren pada kemana? sibuk ngurusian budayanya orang Korea ya? hahaha.." tawa Iyel membludak. Kiki dan Shilla cengo; Benar juga apa kata Iyel.

"Udah ah ngomongin itu gak ada asyik-asyiknya. Mending ini..." Seperti biasa. Shilla menghadapkan kamerannya ke arah Iyel.

"Cinta dan apalagi?" Kiki bersuara. Seolah bisa menebak apa yang akan Shilla tanyakan. Iyel hanya terkekeh pelan

"Shoot gue dong Shil, kali-kali! Gak bosen lo shoot Iyel mulu?" protes Kiki pura-pura kesal.

"Bukan apa-apa Ki, kalo gue shoot lo, gue takut kamera gue nasibnya kaya Sukhoi super jet 100 lagi." Shilla tertawa.

"Lo pilih kasih sama gue Shil!"

"Udah ahh, gue yang shoot lo berdua aja!" Iyel mengambil alih kamera Shilla dan mengarahkannya kepada Kiki dan Shilla. "Apa yang lo berdua fikirkan tentang cinta dan tari Tor Tor!"

Kiki dan Shilla saling pandang. Kemudian tertawa. Iyel mengernyit. pertanyaan gue lucu ya? batinnya.

"Udah ah, gue gak mau di shoot! entar kalo kamera Shilla nasibnya kaya Palestina yang di bom Israel gimana? gue gak mau ganti!" Kiki berlari masuk ke dalam gerbang sekolah.

Shilla menatap Iyel."Kiki marah beneran ya Yel?" tanya Shilla. Iyel mengangkat bahu pertanda tidak tahu.

Shilla berlari mengejar Kiki. "Ki, bukan kaya Palestina! Tapi kaya Sukhoi SuperJet 100. " Teriak Shilla. Iyel tertawa sambil menurunkan kameranya. Memutar ulang rekaman barusan. Dan ia tertawa sendiri, sampai akhirnya,

BRUKK!

"Auw! aduuh," secara kompak baik Iyel, maupun orang yang baru saja tertabrak, sama-sama merintih saat tubuh mereka sama-sama terjatuh. Beruntung Iyel masih bisa mengamankan kamera Shilla dengan mendekapnya di dada.

"Ya ampun maaf ya?" Iyel mengangkat kepalanya. Dan ia diam terpaku di tempatnya.

"Gak apa-apa." orang itu berdiri dari jatuhnya dan tersenyum bingung. Melihat tatapan aneh Iyel padanya.

Iyel benar-benar mematung; anak baru kah? Kok gue baru lihat?

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea