Minggu, 03 Juni 2012

Don't Over_prolog (cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 00.03
***
Jika hidup seumpama naskah skenario, maka kita adalah tokohnya, yang tidak bisa melakukan perlawanan dan hanya berperan sesuai dengan apa yang sudah tertulis. Guna menyelesaikan cerita kita dengan sempurna, tak perlu mengeluh. Hanya perlu menghadapinya dan menerima peran itu dengan lapang. Niscaya ada hal yang begitu baik, yang telah penulis skenario siapkan untuk kita.

*

[Alvin]

Suara denting-denting piano itu terdengar syahdu. Menyelimuti keheningan. Menebarkan ketenangan. Entah lagu apa yang dimainkan sang pianis. Yang pasti nada-nada pelan itu seolah menjadi sountrak melodrama yang begitu mengharukan. Menjadi musik pengiring untuk sore hari yang kian menyepi di lorong-lorong bangunan bernuansa biru muda itu. Menjadi satu-satunya suara yang menggema di ruangan dengan tulisan Kelas Musik, di balik pintunya. Menjadi teman untuk si pemain yang tetap asyik di depan piano putih itu. Dia―si pianis itu―masih terus saja menekan balok-balok hitam putih itu selama satu jam ini. Tak ada jeda hanya untuk sekedar menarik nafas. Tak ingin berhenti meski jari-jari tangannya mulai terasa begitu pegal dan sakit. Entah apa yang sedang difikirkannya.

"Berhentilah Al!"

Seorang gadis berjalan mendekatinya. Disusul oleh seorang pemuda hitam manis di belakangnya. Mereka duduk mengapit sang pianis yang masih bersikukuh tak ingin melepaskan jemarinya dari si piano putih yang sebenarnya tak mengerti apa-apa. Tangannya semakin lincah saja, hingga nada-nada itu terdengar lebih cepat dan tampak seperti soundtrack adegan di puncak klimaks.

"Gue mohon Al, berhenti! Ini gak akan merubah segalanya." Gadis itu memeluk tubuh itu erat. membuat dia―pianis itu―menghentikan aksinya.

"Cukup Al! Kita gak ingin lo kaya gini." Pemuda hitam manis itu mulai bersuara. Menatap iba orang yang masih bergeming dalam pelukan gadis itu. Nafasnya terengah. Tangannya terkulai lemah. Ia terlihat begitu lelah. Semuanya diam. Membiarkan keheningan kembali memeluk sore itu.

*

[Cakka]

Hanya ada diam. Tak ada yang ingin memulai pembicaraan. Kebisuan menjadi pilihan mereka. Keheningan di biarkan menguasai malam di lapangan basket taman kota itu. Mereka larut dalam fikiran masing-masing tanpa tahu harus dimulai darimana mereka mengeluarkannya. Tak ada narator untuk membacakan prolog untuk mereka.

Dug... dug... dug..

Suara itu menjadi pengusik. Mengalihkan seluruh perhatian. Membuat keheningan itu sedikit tersingkirkan. Seorang pemuda dengan gaya simplenya berdiri jauh di hadapan mereka. Memantulkan si orange bundar sambil tersenyum ke arah mereka.

"Ayolah Kka! Bermain sebentar tidak akan berakibat fatal kan?" Serunya agak keras. Masih terus memantul-mantulkan bola itu.

Mereka diam sejenak. Memikirkan ajakan pemuda tadi. Sampai akhirnya seorang gadis tomboi berdiri. "Ayo Kka!" ajaknya.

Pemuda berstyle harajuku yang sedari tadi duduk di samping gadis itu, hanya menunduk dalam-dalam.

Gadis itu mendesah kuat-kuat. Pemuda bergaya simple itu menghela nafas panjang.

"Gue harus bagaimana lagi Kka? Gue gak sanggup lihat lo gini." Gadis itu duduk kembali. Kali ini ia menghadap pemuda berstyle harajuku itu. Terlihat putus asa. Begitupun dengan dia―pemuda bergaya simple― yang secara repleks membiarkan si orange bundar menggelinding tanpa arah.

Malam sunyi menjadi sunyi sesunyi-sunyinya.

*

[Gabriel]

Ia menatap lekat-lekat beberapa lembar kertas yang saat ini sedang berada di genggamannya. Mata berkaca-kaca. Rasanya ingin saja ia mengeluarkan air mata itu jika status pria tidak melekat dalam dirinya. Ia merobek-robek kertas itu dan melemparnya sembarang, setelah sebelumnya ia remas-remas tanpa ampun.

Ia tenggelamkan wajahnya di balik telapak tangannya. Dadanya dipenuhi dengan sesak. Ia benar-benar tak mampu jika terus menerus hidup dalam keadaan yang menurutnya tak normal.

"Yel!" Seorang gadis dan pemuda yang sedari tadi berada di sampingnya segera merangkulnya. Mencoba memberi kekuatan untuknya yang saat ini begitu lemah.

"Lo harus kuat Yel! Seperti lo yang dulu." Pemuda itu mengguncang-guncangkan tubuhnya. Berharap bisa mengembalikan semangatnya yang dulu selalu ia tunjukan pada dunia. Semangat juang yang tak pernah sekalipun lepas dari hari-hari yang ia tapaki.

"Gue nyerah! Gue gak sanggup!" Lirihnya pelan.

"Jangan gitu Yel! Gue mohon!" Gadis itu menatapnya dengan tatapan memohon.

Dan air matanya benar-benar menderas. Tak kuasa dibendung. Meski dengan status pria sekalipun. Semuanya terasa sangat sulit. Begitu sulit dan rumit! Hingga membuat benteng-benteng kekuatan dalam hatinya itu roboh seketika. Ia rapuh dan lemah.

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea