Kamis, 12 Juli 2012

Don't Over_part 10 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 05.36

Percayalah! Setelah kesulitan, pasti ada kemudahan. Dimana kemudahan itu Tuhan jadikan media agar kita mempersiapkan diri untuk menghadapi medan kesulitan yang lebih hebat.

*

[Alvin]

"Eonni, jebal jom (Kakak, please deh)!" Mbak Nova membuka gerbang rumah Alvin. Ia tampak sedang berbicara dengan seseorang via-telepon. "Kau masih peduli kan sama Alvin?" dengan tumpukan buku di tangannya, ia berusaha membuka pintu dan menyalakan lampu rumah yang masih gelap. Tak disangka ia akan pulang selarut ini.

"Keurom (tentu saja)." Suara di balik telepon.

"Geuraeseo (lalu)? kapan kau akan kesini? Perlu kau tahu, Alvin sangat membutuhkan kalian berdua."

"Nova, arasseo (aku mengerti). Tapi, sepertinya aku tidak bisa kesana jika harus bersamaan dengan laki-laki itu."

"Aishi, Wae-yo Eonni (kenapa Kakak)? Bagaimana bisa kau lebih mementingkan hal itu? Kedaan Alvin sangat buruk. Eonni,"

"Keurae (baiklah)! Jangan bicara lagi Nova! Kau membuatku merasa begitu jahat."

Mbak Nova tersenyum saat ia mengakhiri panggilannya. Ia berjalan pelan menuju kamar Alvin. Hendak memberitahukan kabar baik itu. Tapi sebelumnya ia mampir ke kamar mandi terlebih dahulu.

Dan tanpa sepengetahuan Mbak Nova, Alvin dan siapapun, dua orang itu, sahabat baik Alvin―Sivia dan Rio―tengah berjuang melawan setan bringas jalanan yang bernafsu membunuh mereka.

"Rio! Udah Rio! Biarkan aja! Kita bisa membelinya lagi." Sivia menarik tangan Rio yang bersusah payah mengambil selembar kertas berwarna hijau berpolet kuning yang saat itu masuk ke dalam got. Ia sama sekali tak mempedulikan orang-orang bringas itu yang semakin dekat saja.

"Gak bisa Via, ini itu satu-satunya lagi!" Keukeuh Rio masih terus berusaha menggapai-gapai kertas itu. Berhasil. Tapi,

Oh shit!

Sebuah pisau menggores lengan Rio cukup dalam. Membuat darahnya berebutan keluar. Tapi Rio tak mempedulikan itu. Ia mencengkram kuat kertas yang baru saja berhasil didapatkannya. Sivia menariknya keras. "Ayo kita lari Yo!" pekik Sivia panik.

Mereka terus berlari. Dan orang-orang itu tetap mengejar. Entah apa yang sebenarnya telah terjadi antara kedua sahabat Alvin dan orang-orang itu. Tak ada yang tahu dimana start sesungguhnya aksi kejar mengejar itu.

"RIIOOO!" Alvin membuka matannya sekaligus mengangkat tubuhnya, barengan saat Mbak Nova membuka pintu kamarnya. Nafasnya terengah. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya; mimpi buruk kah?

Melihat hal itu Mbak Nova segera mendekat ke arah Alvin. Ia khawatir. "Kenapa Al?" tanyanya merangkul Alvin. Sedikit memegang kening Alvin. Panas sekali.

Alvin tak menjawab. Ia masih mencoba mengatur nafas dan menetralisir detak jantungnya.

"Ish, lo bau amis!" Mbak Nova memegang pundak Alvin dan memutar tubuh itu agar berhadapan dengannya. Ia mengamti Alvin baik-baik. Sisa darah yang sudah mengering di tangan dan baju Alvin menjadi objek titik fokus matanya. "Lo muntah darah lagi?" tanya Mbak Nova.

Alih-alih menjawab pertanyaan Mbak Nova, Alvin malah sibuk mencari ponselnya. Ia mencoba menghubungi seseorang begitu ponselnya ia temukan di bawah tempat tidurnya.

"Hh... hh... gue cape Yo!" Sivia terengah-engah. Ia membungkukan tubuhnya dan meletakan tangannya di lutut. Dadanya bergemuruh. kakiknya lecet; sakit. Bayang-bayang menyeramkan berkelebatan dalam kepalanya. Dan orang-orang itu, lima meter di belakangnya.

"Gue gendong lo Vi! Kita harus bersembunyi." Tanpa menunggu persetujuan Sivia, Rio langsung menggendong gadis itu. Tak mempedulikan rasa perih yang menusuk-nusuk otot tangannya. Sivia tidak mampu lagi berlari. Kepalanya terkulai di bahu Rio.

"Yo, gue takut..." lirih Sivia lemas. Rio terpogoh-pogoh masuk ke dalam sebuah pemakaman yang sangat kebetulan ia lewati. Ia yakin orang-orang jahat itu tidak akan mengejarnya sampai kesana.

Dengan sangat hati-hati, ia membiarkan Sivia duduk di samping pohon yang lumayan agak tinggi. Ia melepas jaketnya dan mengenakannya pada Sivia yang benar-benar ketakutan.

"Rio!" Panggil Sivia memeluk Rio erat. "Gue takut!" ia mengulang kalimat itu lagi. Membuat Rio semakin mengeratkan pelukannya.

"Akh, shit! Gak aktif lagi!" kesal Alvin membanting BB-nya hingga berantakan; sepertinya langsung rusak.

"Alvin! Lo kenapa?" bentak Mbak Nova menyadarkan Alvin. Ia memegang pundak Alvin kuat. Cemas.

"Sivia, Mbak!" Alvin menatap Mbak Nova lesu.

Mbak Nova menarik Alvin ke dalam dekapannya. Tak mempedulikan bau amis di tubuh Alvin. Tadi, yang lo sebut Rio. kok jadi Sivia?. Batin Mbak Nova bingung.

"Darah lo Yo!" Sivia melepaskan pelukannya yang memang cukup lama. Rupanya pelukan itu membuat hatinya lebih tenang. Ia mencari sesuatu di dalam tasnya. Sesuatu yang mungkin bisa menghentikan laju darah itu. Tidak ada.

"Gak apa-apa Vi." Ringis Rio memegang lengan kanannya―bagian yang terluka―dengan kuat. "Kita harus segera pulang." Lanjutnya mengamati latarnya saat ini. Begitupun dengan Sivia. Sejauh mata memandang, hanya gundukan tanah bernisan yang menyambut dingin indera penglihatan mereka. Cukup membuat mereka merinding.

Sivia berdiri. Rio mengikuti. Jujur mereka lebih takut sama orang-orang jahat tadi ketimbang makhluk halus. Toh mereka belum pernah mendengar ada hantu pegang pisau lalu bunuh orang. Kecuali dalam film. Pecis penyusup, mereka keluar area pemakaman itu, memastikan orang-orang itu sudah tidak ada.

"Lo udah tenang kan? Sekarang mandi gih! Mbak mau membicarakan sesuatu."

Alvin mengangguk. Lalu turun dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju kamar mandi dengan sempoyongan. Mbak Nova mendesah. Ia mengeluarkan BB-nya. Mencoba menghubungi Sivia dan Rio. Tidak aktif.

*

[Cakka]

"Gue search di Mr. Google Ag. Makanya gue tahu kalau osteosarcoma itu penyakit kanker tulang. Penyakit yang memang menyerang anak-anak usia remaja." Jelas Debo saat mereka berjalan menuju kantin rumah sakit.

"Oh, niat amat lo nyari tentang tuh penyakit."

"Habisan gue penasaran tuh bocah sakit apa. Jatuh mulu sih. Hehe..." Debo merogoh saku kemejanya saat ia merasakan ponselnya bergetar. "Bentar ya!" Ia berjalan meninggalkan Agni menuju halaman dekat kantin. Agni sendiri memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju kantin.

Debo menatap layar ponselnya lirih saat ia menyelesaikan pembicaraan, lalu memasukannya ke dalam saku kemejanya. Berjalan menghampiri Agni yang sudah berdiri di ujung kantin rumah sakit.

"Ada apa De?" tanya Agni saat melihat wajah kusut Debo. "Siapa yang telepon?"

Debo mendesah. Lalu tersenyum. Senyuman kecut. "Kak Patton telepon gue. Dia bilang, gue di-out dari kepanitiaan teater, gara-gara gak hadir tiga hari ini Ag." Lapor Debo penuh dengan raut wajah kecewa.

Agni menatap Debo iba. "Sudahlah! Gak jadi panitia teater gak buat lo sakit kanker kan? Hehe..." cengir Agni. Mereka berjalan menuju ruang rawat Cakka.

Debo terkekeh pelan. Kekecewaan memang masih membelenggu hatinya. Tapi, sesaat saja rasa kecewa itu pudar saat ia melihat Cakka tengah tersenyum ke arahnya dan Agni, ketika mereka membuka pintu ruang rawat itu.

"Udah sadar lo Kka?" tanya Agni menyimpan makanan yang baru saja di belinya di atas meja. Lalu duduk di kursi, di samping ranjang Cakka. "Nyokap lo mana?" pertanyaannya berlanjut tanpa menunggu Cakka menjawab pertanyaan sebelumnya.

"Keluar." Jawab Cakka singkat. Efek samping kemoterapi itu masih tersisa di tubuhnya. Membuat ia tak mau berbicara lebih banyak.

Debo yang saat ini duduk di tepi ranjang, mengamati Cakka lebih rinci. Lebih tepatnya mengamati beberapa helai rambut Cakka yang mulai berguguran di bantal; Sekejam itukah kemoterapi? Rasanya tiap helai rambut yang jatuh itu adalah pedang paling tajam yang menusuk-nusuk batin gue.

Agni mengikuti arah pandangan Debo. Begitupun dengan Cakka. Kemudian saling pandang. Sorot mata mereka benar-benar memancarkan kesedihan yang mendalam.

"Lo bohong De! Katanya kemoterapi itu terapi biasa. Tapi nyatanya? Itu tuh sangat menyakitkan. Dan lihatlah! Rambut gue jadi rontok. Belum lagi dari tadi perut gue..." Cakka menutup mulutnya. Agni yang sepertinya tahu apa yang sedang Cakka rasakan, segera mengambil baskom kecil di bawah ranjang dan menghadapkannya ke arah Cakka.

"Gue mual dan muntah-muntah terus!" kata Cakka melanjutkan kalimatnya saat ia yakin tak akan muntah-muntah lagi. Ia merintih pelan. "Dan mungkin esok gue gak mau lagi menjalani pengobatan ini! Cukup sekali saja." Sambungnya sambil meminum air hangat yang baru saja Agni sodorkan.

Debo mendesah parau. Kemudian mendekap Cakka hangat. “Maaf Kka! Nyatanya gue emang gak bisa ngambil alih sakit lo. Tapi percayalah! Perasaan gue ikut sakit lihat lo kaya gini." Ujar Debo membuat gadis tomboi di sampingnya mau tidak mau ikut memeluk Cakka.

"Tapi," Cakka bersuara. Agni dan Debo meldpaskan pelukannya. Menatap Cakka dengan seksama. "Lo berdua obat paling mujarab buat gue!" ujarnya, kali ini ia yang memeluk kedua sahabatnya. Cakka tersenyum haru. Pakaian rumah sakitnya tiba-tiba basah. Agni menangis dalam dekapannya. Membuat cewek tomboi itu menangis adalah hal yang amat sangat luar biasa.

Drrt... drrtt.. drrtt..

Handphone Cakka bergetar. Ia melepaskan pelukannya dan segera meraih ponselnya yang sedari tadi berdiam diri di samping bantalnya. Ia membuka pesan itu dan raut wajahnya seketika berubah. Agni yang sedang sibuk menghapus air matanya memperhatikan Cakka baik-baik. Begitupun dengan Debo.

"Gue..." Cakka menyimpan kembali ponselnya. Ia memandang teman-temannya lirih. "Gue, di-out dari tim basket sekolah." Ujarnya pelan. Ia tertunduk.

Debo menarik nafas dalam-dalam; kok bisa barengan sih sama gue?. Batin Debo pilu. Agni memandang kedua sahabatnya. Mencari kata-kata yang bisa menyemangati keduanya yang sama-sama dapat kasus serupa. Tak mungkin ia bilang hal yang sama seperti pada Debo tadi.
"Meraih mimpi tidak hanya bergantung dengan sekolah formal loh, Kan banyak jalan menuju Roma," Agni berkata saat Cakka mengangkat kepalanya dan menatapnya serius. Tak lama setelah itu ia tertawa. Debo juga.

Agni memang bukan filsafat hebat. Bahkan kata-kata bijaknya saja kuno.

Hening sejenak.

"Kalau menuju hati lo, ada berapa jalan Ag?" goda Cakka tiba-tiba menatap Agni lebih dekat. Debo cengo; ish, si Cakka ngegombal lagi.

"Hahaha, apaan sih lo? Eh, ini gue bawa makanan nih!" Agni mengambil makanan yang tadi di simpannya. Dan menghadapkannya pada Debo dan Cakka yang sudah saling pandang; salting dia!.

*

[Gabriel]

Lelaki paruh baya itu menatap anak laki-lakinya putus asa. Kebimbangan menyelimuti tiap jengkal ruang hatinya. Sudah puluhan kali ia menolak, dan sudah lebih dari puluhan kali puteranya itu meminta.

"Ayah, jangan banyak berfikir! Kasih Iyel izin ya? Ayolah! Sekali ini saja."

"Tidak Yel!"

Entah permintaan yang ke berapa dan penolakan yang ke berapa dialog itu. Tapi yang pasti Iyel tidak akan menyerah. Terlebih saat ia mendapat sms dari Shilla yang memberitahu kalau tim voli SMA-nya sudah kalah.

"Ayah," Iyel memelas. Pak Dayat tak tega melihat raut wajah itu. Ia mengalihkan tatapannya keluar jendela.

Iyel mendesah. Meraih buku kimianya. Kali ini bukan untuk menarik perhatian suster-suster cantik agar memujinya. Melainkan untuk mengalihkan rasa kesal yang sudah merambat membelenggu perasaannya. Jujur, otaknya terlalu sumpek untuk mencari ide lain. Tiga jam tak sadarkan diri membuatnya lupa ide-ide yang sempat ia simpan sebagai rencana cadangan.

Keheningan menyergap. Merayapi tiap senti dinding pucat itu. Keduanya sama-sama membisu. Terendap dalam fikiran masing-masing.

Sebelum akhirnya, ponsel Iyel dengan ringtone jadulnya―meski ponselnya cukup bermerk―berbunyi. Membuat dua pasang mata itu sama-sama menoleh ke arah benda mungil berwarna silver polos itu. Dengan cepat Iyel mengambilnya dan mendekatkannya ke telinga setelah memastikan tombol hijaunya sudah ia tekan.

"Hallo Yel! Gue kesel nih lihat anak-anak futsal kayak gak punya harapan hidup. Cape! gue teriak kasih yel-yel, Eh mereka mainnya asal-asalan banget! Belum lagi nih cewek-cewek SMA 97 pada nanyain lo! Lebar deh telinga gue. Aktor bukan, kok lo sepopular itu sih disini?"

Iyel sedikit menjauhkan ponsel itu begitu mendengar cerocosan panjang Shilla yang nyaring dengan samar sorak-sorai penonton.

"Lo mau kesini gak sih Yel?" tanya Shilla berlanjut.

"Gue kesana kalau udah nemuin bahan kimia yang bisa mendobrak kekerasan hati seseorang." Jawab Iyel nyeletuk. Sedikit melihat sang Ayah dengan sudut matanya. "Eh, Angel nanyain gue gak?"

"Apaan sih lo? Nanya-nanya Angel mulu! Gue racun juga lo pake bahan kimia anorganik. Mulai dari borax nih ya, terus formalin, barium, arsen, raksa ditambak kadmium sama kromium dan yang lainya dengan melebihi batas maksimum. Mati, mati deh lo!" Kesal Shilla memutuskan pembicaraan sebelah pihak. Iyel hanya mengernyit bingung sambil menatap layar ponselnya; kenapa sih dia?. Seperti biasa. Ia tidak bisa peka.

"Ya udah Yel! Iyel boleh pergi. Tapi dengan syarat, perginya ditemani suster disini ya?"

Entah bahan kimia apa yang baru saja meracuni Ayahnya, kalimat itu meluncur begitu saja dari lisan Pak Dayat. Iyel menatap Ayahnya tak percaya.

"Ya udah kalo gak mau pergi!"

"I, iya Yah. Iyel pergi sekarang!" ucap Iyel semangat. "Tapi, kan disana udah ada Shilla sama Kiki. Kenapa harus ngajak-ngajak suster?" komentar Iyel setelah sadar ada syarat di akhir kalimat Ayahnya.

"Kamu fikir, Shilla sama Kiki tahu hal-hal medis apa?"

Iyel mendengus. Tapi akhirnya ia pasrah saja. Dari pada tidak sama sekali.

*

"Yah, telat lo Yel! Sekolah kita udah kalah tahu."

"Jelas kalah lah Shil, mainnya aja kaya personil boyband latihan koreo."

"Ye, apa hubungannya? Udah tahu tim futsal sekolah kita tuh ngalah."

Iyel menarik nafas panjang mendengar komentar tanpa adab dari kedua orang yang saat ini duduk mengapitnya. Ia memandang mereka silih ganti. Bingung sendiri. Entahlah, ia tidak tahu apa yang telah terjadi. Karena baru saja ia sampai di SMA 97. Semuanya gara-gara suster suruhan Ayahnya yang ngotot minta nemenin Iyel sampai masuk area sekolah, padahal Iyel sudah meminta agar ia tunggu di mobil saja. Baru setelah Iyel bekerjasama dengan Pak Sopir, untuk segera melajukan mobil setelah ia turun, ia baru benar-benar bisa masuk ke area sekolah. Itupun disambut tatapan spektakuler dari cewek-cewek SMA 97; gila aja. Kayak orok aja gue di kawal sama suster. Begitulah kira-kira argumennya.

"Hei! Baru kesini ya?"

Baik Iyel, Shilla dan Kiki sama-sama menoleh ke arah kiri saat suara lembut menyapa gendang telinga mereka. Dilihatnya Angel dengan seorang pemuda gagah yang Shilla dan Kiki kenal sebagai kapten tim futsal SMA 97, tengah tersenyum ramah ke arah mereka bertiga. Kiki dan Shilla membalas senyuman itu. Iyel menatapnya cukup lama.Setelah itu ia mengedarkan pandangannya pada tiap penjuru kantin. Ia baru sadar semua mata―anak-anak perempuan yang ada disana―tengah memandangnya. Pandangan heran dan kagum tertuju padanya.

"Yel, Angel nanya sama lo!" bisik Kiki menyenggol lengan Iyel yang bersedekap di atas meja. Iyel kembali menarik pandangannya dari orang-orang yang tidak dikenalnya itu dan kembali menatap Angel yang sudah duduk di hadapannya. Ia gugup. Entah kenapa.

"I, iya Ngel, gue baru datang. Ada problem. Oya, selamat ya atas kemenangannya! Sayang gue gak sempet lihat pertandingan hebat tim kalian." Kata Iyel berlapang dada. Kalah menang hal biasa. Toh, tanpa disadari, sebenarnya yang kalahpun tetap menang. Karena tak ada yang menang jika tak ada yang kalah. Keduanya saling melengkapi. Sejajar.

"Oh, tidak apa-apa. Tim kalian juga hebat. Lain kali kalau ada kesempatan bertanding lagi, bilang sama tim futsal sekolah lo, mereka tak perlu mengalah! Tim kami cukup tangguh untuk melawan mereka." Pemuda itu berujar. Sedikit merendah.

Iyel, Kiki dan Shilla hanya tersenyum tipis; benerkan tim futsal kita ngalah?. Batin Shilla.

"Eh iya, kenalin ini Bastian!" Angel menepuk pundak cowok itu yang langsung menghadapkan tangannya. Iyel menjabat hangat tangan itu. "Dia cowok gue." Sambung Angel yang langsung membuat atmosfer di kantin berubah. Jadi dingin. Tapi juga panas. Bola mata Shilla dan Kiki beralih menatap Iyel yang diam mematung, tak percaya. Bahkan ia lupa tidak bertanya apa Angel sudah punya pacar atau belum.

"Lo dari rumah sakit langsung kesini Yel?" Angel kembali bertanya saat melihat Iyel yang masih menggunakan pakaian rumah sakit. Hanya saja pakaian itu dibalut oleh jaket merah bercorak hijaunya.

Iyel mengangguk pelan.

"Katanya lo sakit parah ya? Sakit apa?" cowok itu, cowok bernama Bastian itu bertanya serius.

"Sakit hati." Jawab Iyel singkat. Angel dan Bastian menatapnya tak percaya. Kiki dan Shilla saling pandang dan tertawa geli; sakit hati apanya?

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea