Jumat, 13 Juli 2012

Don't Over_part 11 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.12
*
Tak ada satupun kebaikan yang tidak tercatat. Tidak ada satupun keburukan yang tidak tertulis. Sekecil apapun! Tak ada yang terlepas dari pandangan Tuhan yang menembus tanpa batas. Maka, penuhilah lembaran sirohmu dengan tinta-tinta kebaikan yang timbul dari lautan hati yang paling dalam. Dimulai dari keluarga, sahabat dan tentunya diri sendiri.

*

[Alvin]

Berkali-kali Rio meringis, berkali-kali juga Sivia menggigit bibir bawahnya; seperti merasakan sakit di tangan Rio. Bukan hanya sekedar rasa empati. Tapi memang karena jiwa mereka sama-sama telah menyatu. Mengisi ruang kosong diantara lingkaran kata bernama persahabatan. Persahabatan indah yang telah dibina hingga berdiri kokoh dan mencengkram kuat jiwa-jiwa itu dalam satu rekatan erat. Persahabatan yang terlalu kuat untuk dibobrokan dengan senjata apapun.

"Hukuman tuh buat lo berdua! Ninggalin gue yang hampir mati sih. Dikejar preman 'kan lo? Lagian ngapain juga ponsel lo berdua dimatiin? Takut gue ganggu ya? Kalau mau kencan, bilang aja! Gue juga bakal ngerti kok. Gak usahlah ada alasan sana sini!" protes Alvin ketus. Ia memandang Rio dan Sivia sinis.

Bukan ia marah karena kedua sahabatnya tidak ada saat penyakitnya kambuh. Tapi ia tidak suka cara mereka yang mematikan ponsel begitu saja. Membuatnya khawatir. Terlebih melihat Rio yang pulang dalam keadaan terluka.

Sivia mendesah. Ia memandang Alvin sedih. Semarah itukah Alvin padanya dan Rio? Kenapa Alvin tega mengatakan hal seperti itu? Bahkan Sivia tidak tahu kalau secara bersamaan Rio juga tidak menengok Alvin. Lagipula ia tidak berkencan bersama Rio. Toh, ia bertemu Rio saat Rio mencoba menyelamatkannya dari aksi pemalakan orang-orang bringas itu.

"Gue gak kencan sama Rio Al!" jelas Sivia lembut, tapi tegas. Ia menunduk dalam-dalam.

"Bener Al!" Desah Rio pelan saat Mbak Nova menyelesaikan tahap pengobatan terakhir lukanya; membalutkan perban. Sivia mengangkat kepalanya, menatap Alvin.

"Gue tadi tuh habis dari Gramedia Al, ngambil folmulir pendaftaran lomba menulis. Masalah ponsel, ponsel gue udah jatuh di tangan preman-preman itu. Gara-gara BB juga gue dipalakin tuh sama orang-orang gila!" jelas Sivia berlanjut. Alvin melemparkan pandangannya pada Rio yang masih mengerang-ngerang kecil. Lukanya cukup parah. Tampaknya ia kehilangan banyak darah. Wajahnya pucat sekali.

"Gue ketemu Bu Oki, Al, Swear! Gak lama memang. Yang lama itu waktu gue ngantri di studio R-FM. Masalah ponsel, gue jual ponsel gue Al. Buat ini," Rio merogoh saku kemejanya. Mengeluarkan kertas berwarna hijau dengan polet kuning―kertas yang bersusah payah ia ambil dari got tadi―hanya saja kali ini dipadu dengan sedikit warna merah; darah Rio.

"Buat lo Al. Tiket nonton konser Alyssa Saufika Umari minggu depan," jelasnya berlanjut. Menyimpan tiket itu diatas meja. Bibir merahnya yang tampak pucat tersenyum simpul.

Baik Sivia, Mbak Nova dan Alvin sama-sama menoleh ke arah tiket itu. mereka terdiam cukup lama. Rasa haru dan salut membelit rongga hati. Mereka tak mengerti dengan jalan pemikiran pemuda pendiam itu.

"Stok handphone, apalagi made in Cina gak akan habis di Indonesia, gue bisa membelinya kapan aja. Tapi untuk tiket itu, itupun yang terakhir. Sekiranya gue bisa memberi di sela kecukupan gue, buat sahabat baik gue." Jelas Rio menutup matanya. Menahan sakit.

Hening sejenak. Mbak Nova membereskan kotak P3K yang baru digunakannya. Sekedar menyembunyikan air matanya yang kian menetes. Haru biru menyelubungi dadanya yang perlahan dipenuhi sesak.

Adakah sahabat seperti Rio yang bisa ia temukan di luar sana? Adakah persahabatan yang lebih indah dari persahabatan keponakannya di dunia ini? Entahlah, yang pasti apa yang terjadi di hadapannya sekarang, memaksa ia bisu menahan tangis.

Perjuangan, pengorbanan, cinta dan kasih sayang itu tak ubahnya crayon warna-warni yang tergurat rapi dalam persahabatan itu. Dan Alvin adalah satu dari jutaan lembar buku gambar yang mendapat warna indah itu.

"Tiketnya agak rusak. Sorry ya?" kata Rio lagi, masih dalam posisi yang sama. Mbak Nova mengangkat kepalanya setelah memastikan tak ada air mata di pipinya.

Sivia mengamati Rio yang duduk diantara Mbak Nova dan Alvin, sambil sesekali melirik tiket itu. Sungguh tak ia duga sebelumnya kalau tiket itu, tiket konser Alyssa Saufika Umari―idola Alvin―yang berusaha Rio dapatkan meski harus menjual handphonenya dan mendapatkan luka yang cukup parah, untuk ia berikan pada Alvin, sahabatnya yang jelas lebih mampu dari dirinya.

"Jangan lakukan hal ini untuk yang kedua kalinya Yo!" Alvin mengambil tiket itu. Mengamatinya dengan Rinci.

Rio yang sudah membuka matanya memandang adegan itu.
Tak ada kata yang bisa ia ucapkan. Ia hanya ingin melihat seulas senyum bahagia dari bibir sahabatnya itu. Ia ingin membuat Alvin merasa bahagia setelah sekian lama tersiksa dengan jalur hidup yang Tuhan berikan padanya. Setidaknya, melihat langsung pianis hebat idolanya itu, adalah satu dari sekian banyak harapan Alvin yang bisa Rio berikan. Sungguh! Rio hanya ingin menjadi sahabat yang bisa membuat Alvin merasa bahagia. Meski hanya sekali. Sekali saja!

"Gak boleh ada yang terluka lagi karena gue setelah ini. Ini sudah cukup Yo! Gue udah terlalu banyak nyusahin kalian selama ini. Dan tiket ini biar jadi yang terakhir, yang boleh lo berikan sama gue." Kata Alvin tanpa mengubah arah pandangannya. Ia mengelus lembut tiket itu.

Rasanya terlalu menyesakkan. Terlebih setelah ia tahu perjuangan temannya yang hampir mati konyol hanya untuk mencipratkan kebahagiaan untuknya. Ia merasa menjadi sahabat paling jahat yang tega menuduh kedua sahabatnya yang jelas sudah berkorban banyak hal untuk dirinya. Alvin tertegun lama; hukum aku Tuhan, jika aku termasuk manusia tak bersyukur akan segala nikmatMu. Berapa kali kudustakan apa-apa yang Kau beri? Termasuk kedua sahabatku yang sengaja Kau kirim dengan segala kesempurnaanya. Jerit Alvin pilu. Sungguh, kejadian ini telah mendobrak keras pintu hatinya untuk tahu ada sahabat yang teramat berharga untuknya. "Maaf! tapi setelah ini kalian perhatikan diri kalian sendiri, jangan terlalu sibuk ngurusin gue. Kalian punya mimpi yang tinggi dari sekedar mencemaskan gue,"

"Tapi Al, lo itu..." ucapan Sivia terpotong.

"Gak lagi, Via. Kalian sebaiknya fokus sama mimpi kalian. Karena gue juga mau fokus sama kemoterapi gue."

Secara repleks Rio dan Sivia menatap Alvin tak percaya. Mbak Nova hanya tersenyum mendengar kalimat itu. Setelah membutuhkan waktu panjang untuk berdebat dengan Alvin, akhirnya hati Alvin luluh juga saat ia bilang, kalau orang tuanya akan menemaninya setiap kali kemoterapi itu berlangsung. Bagi Alvin, apapun itu, asal ia bisa melihat kedua orang tuanya bersamaan, ia akan dengan senang hati melakukan apapun. Termasuk kemoterapi yang menjadi syndrom untuknya selama ini.

"Lo yakin mau dikemo Al?" tanya Sivia antusias. Nada suaranya ceria. Ia beralih posisi, duduk lebih dekat dengan Alvin. Matanya yang berbinar, menatap Alvin bahagia. Rio dengan sabar menunggu jawaban Alvin.

"Iya. Senang amat lo!" tegas Alvin aneh melihat tatapan Sivia padanya.

"Huaahh, akhirnya pianisnya gue mau kemo juga." Girang Sivia tanpa sadar ia langsung memeluk Alvin erat. Mbak Nova dan Rio hanya tertawa geli melihat tindakan spontan Sivia. Suasana melow itu tiba-tiba berubah dengan kalimat 'kemoterapi' yang Alvin ucapkan.

Alvin menautkan alisnya bingung. Ada kalimat yang ia garis bawahi;
pianisnya gue? Apa maksudnya?
Belum sempat Alvin memikirkan maksud kalimat itu, rasa mual di daerah perutnya mulai terasa lagi. Disertai sakit di bagian perut atasnya. Membuat rasa penasaran dengan maksud Sivia, sesaat buyar dalam fikirannya. Akhir-akhir ini sakit itu suka datang dan pergi seenaknya. Kenapa sakitnya jadi sering gini sih? Alvin membatin. Ia melepaskan pelukan Sivia. Sedikit menyunggingkan senyum agar tak ada yang curiga ada sakit di tubuhnya.

"Gue ngantuk nih. Tidur duluan ya? Oya, tiketnya gue ambil Yo. Thanks ya?!" Alvin berdiri, dan tanpa ba bi bu lagi, ia berlari menuju kamarnya. Mencoba menyembunyikan sakitnya.

Tak boleh lagi ada kecemasan. Tak perlu ada lagi kekhawatiran akan dirinya. Biar ia yang saat ini mengkhawatirkan mimpi-mimpi mereka yang akan terbengkalai jika ia terus memperlihatkan sakitnya di hadapan mereka. Ia harus lebih kuat. Ia yakin mampu. Setidaknya di hadapan kedua sahabatnya.

"Lo berdua tidur disini aja ya? Udah malem." Mbak Nova membantu Rio berdiri dan memapahnya menuju kamar tamu. Sivia mengikuti. Keadaan Rio sungguh payah saat ini. Sepertinya jika saat itu Rio memilih pulang ke rumahnya yang memang cukup jauh dari tempat kejadian, selain akan kehabisan banyak darah, orang tuanya-pun akan panik dan cemas. Terlebih lusa nanti Rio akan pergi ke Bandung untuk mengikuti olimpiade. Sebisa mungkin luka di tangan kanannya itu harus sembuh sebelum lusa.

"Hah," Alvin menelungkupkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Berbagai posisi sudah ia tempati. Tapi tak juga membuat sakitnya reda. Padahal ia sudah meminum obat pereda sakit.

Pil kuning ajaib itu sepertinya sudah kehilangan khasiatnya. Tak memberikan efek seperti biasanya. Sakit itu tetap tinggal di tubuhnya, tak bisa diusir hanya dengan obat itu.

"Alvin!" suara Mbak Nova diiringi ketukan pintu. Alvin mengangkat tubuhnya, masih dengan kedua tangannya yang standby di atas perutnya.

"Alvinnya udah tidur Mbak," canda Alvin hanya untuk meyakinkan Mbak Nova kalau dia baik-baik saja.

Mbak Nova terkekeh, "oh ya udah," ia meninggalkan tempatnya. Masih menyimpan kekehan pelan; seiring perkembangan Zaman, orang tidur tuh sekarang bisa nyahut ya?

"Aduuh, kok sakitnya banget ya?" selepas perginya Mbak Nova, Alvin kembali menghempaskan tubuhnya. Meraih bantal dan meletakannya di atas perutnya, sedikit menekannya. Berharap sakit itu bisa hilang sedikit saja.

"Kenapa sih lo gak bosen buat gue menderita hari ini? Bukannya tadi pagi lo udah hampir buat gue mati ya? perasaan lo tambah demen aja nyiksa gue!" racau Alvin asal. Ia menatap langit-langit kamarnya. Merasakan tiap jengkal rasa sakit yang secara perlahan menjalar ke setiap sendi tubuhnya. Sakit yang sama seperti tadi pagi itu kembali. Tapi tak cukup lama, karena obat yang tadi diminumnya mulai--
Baru—bereaksi. Ia merasa begitu ngantuk; seperti biasa setiap kali ia minum obat itu.

*

[Cakka]

Keadaan ruangan itu senyap. Hanya gesekan pena dan kertas yang tampaknya sedang asyik bercengkrama; keadaan yang biasa terjadi setiap kali pelajaran Bu Winda―guru mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup―berlangsung.

Semuanya terlihat fokus pada bukunya sambil sesekali menoleh ke depan. Menyalin apa yang ditulis sekretaris kelas di papan tulis, di atas buku bergarisnya. Tradisi yang biasa dilakukan oleh Bu Winda; sistem manual; mencatat dan tidak ada istilah mem-photo copy. Karena dalam buku dikatakan: tulisan tangan merupakan sikap kita terhadap kehidupan, sebuah jalan berliku menuju tempat tersembunyi dalam diri, dan sebuah diagram dari alam bawah sadar. Jadi, tak ada alasan untuk murid-murid itu untuk tidak mencatat.

Ahh, sudahlah! Tak ada yang ingin membahas hal itu, karena tentunya sulit dimengerti apa maksud itu semua. Lagipula masih ada yang lebih menarik selain membicarakan hal itu.

Gadis itu, gadis tomboi yang tak lain Agni, yang sedari tadi sibuk mengamati sahabatnya―Cakka― yang saat ini duduk di hadapannya. Entah apa yang ada difikirannya, sehingga mampu mengalihkan perhatiannya dari buku dan penanya. Ia tampak tersenyum sendiri; tapi itu tadi sebelum Cakka menghentikan aktifitasnya dan terlihat menatap gelisah bukunya.

Sebentar saja Agni mengamati hal itu, sampai akhirnya ia menggerakan penanya untuk mencolek punggung Debo yang saat itu duduk di samping Cakka.

"De!" panggilnya berbisik.

Debo membalikan badannya guna menatap Agni. Ia tak bersuara. Tapi Agni bisa membaca maksud raut wajah itu; ada apa?. Begitulah maksudnya.

"Cakka. Dia kenapa?" tanyanya kembali mengamati Cakka yang masih dengan posisi yang sama. Debo membalikan badannya lagi, dan memandang Cakka serius.

Saking fokusnya menulis, Debo tidak sadar dengan kondisi temannya yang jelas duduk di sampingnya. "Kka!" panggil Debo berbisik juga. Ia menepuk pundak Cakka cemas.

Cakka tetap bergeming. Ia menatap bukunya. Tangannya yang sedang memegang pena, bergetar. Keringat dingin bermunculan di sekitar wajahnya. "Gu, gue, gak... bisa,"

Seperti mengerti apa yang sedang terjadi, Debo segera menarik buku itu. "Sini! Biar gue aja yang nyatet." Ia menutup bukunya dan mulai menulis di buku Cakka.

Cakka menarik nafas panjang. Menenangkan hatinya. Dan Agni tidak bisa tenang melihat hal itu. "Udah lebih dari satu bulan De," Cakka kembali menarik bukunya.

"Biarin. Anggap aja ini tabungan amal baik gue, lantaran menolong orang yang kesusahan." Debo menarik buku itu lagi.

Cakka mendesah. "Gak perlu. Sebulan udah cukup buat gue menambah amal keburukan gue, karena udah nyuruh-nyuruh, lo menulis di buku gue." Ia hendak merebut bukunya lagi. Tapi terlambat. Agni sudah lebih dulu merebut buku itu.

"Gue aja yang nyatet. Ribet amat sih lo berdua. Ngomongin nyatet aja disangkut pautkan dengan kebaikan dan keburukan. So religius!" komentar Agni jengkel. Tapi ia bangga melihat itu semua. Bukankah secara tidak sadar, kepedulian itu selalu menjadi perekat yang kuat dalam persahabatannya?

"Sudahlah! Gue gak suka lo berdua kayak gini." Teriak Cakka sambil merebut kasar bukunya dari tangan Agni. Ia kesal melihat sikap kedua sahabatnya yang selalu menganggapnya begitu lemah.

"Apa yang kalian lakukan?! Bukannya Ibu sudah bilang, tidak ada aktifitas tambahan selain mencatat?" Bu Winda berdiri dari duduknya. Memandang Cakka, Agni dan Debo bergantian.

Kompak ketiga sahabat itu mengamati keadaan kelasnya. Semua mata anak-anak tengah terfokus ke arah mereka.

"Cakka," Bu Winda menyebut nama Cakka. Sepertinya ingin menanyakan apa yang sedang diributkan. Tapi dengan cepat Cakka memotong perkataan itu. Ia berdiri dari duduknya.

"Baik Bu, saya keluar!" Tanpa menunggu kalimat Bu Winda selanjutnya, Cakka segera melangkah keluar ruangan; Bu Winda biasa mengeluarkan siswa yang melakukan keributan di jam pelajarannya.

"Saya juga keluar Bu!"

"Saya juga,"

Debo dan Agni berjalan tergesa keluar kelas, menyusul Cakka. Bu Winda hanya menghela nafas pendek. Tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Yang ia tahu, ia tidak bermaksud mengeluarkan Cakka, Agni dan Debo.

"Cakka! Lo marah sama kita?" Agni berusaha menyamakan langkah kakinya dengang langkah Cakka yang lumayan cepat.

"IYA, GUE MARAH SAMA LO BERDUA!" Cakka menghentikan langkahnya. Agni dan Debo melakukan hal yang sama. "GUE MARAH KARENA KALIAN SELALU ANGGAP GUE MANUSIA PALING LEMAH DI DUNIA INI." Pekik Cakka. Nada suaranya meninggi. Ia membalikan badannya dan menatap tajam kedua sahabatnya.

"Tapi Kka, kita..." Agni mencoba menjelaskan.

"Gue gak suka, tahu gak? Gue benci dianggap lemah. Dan kalian selalu gitu sama gue. OK, gue sakit kanker, dan hidup gue gak lama lagi. Tapi bukan berarti lo bisa seenaknya memperlakukan gue kayak orang lumpuh yang gak bisa apa-apa. GUE BENCI LO BERDUA!" Cakka membalikan badannya lagi. Melangkah meninggalkan Agni dan Debo yang masih diam mematung.

Sebelum akhirnya; sebelum jarak mereka benar-benar jauh; tiga meter yang memisahkan.

BRUKK!

"Ergh,"

Repleks kedua pasang kaki itu, berlari tergesa, memburu tubuh yang baru saja terjatuh di atas pualam lantai sekolah.

"Lo gak apa-apa 'kan?" tanya Debo cemas. Ia berjongkok di samping Cakka. Begitupun dengan Agni.

Cakka meringis."Sakit," ia tidak suka dianggap lemah. Tapi, ia juga tidak ingin berbohong. Bukankah bilang iya ataupun tidak, sahabat-sahabatnya tetap tahu ia sakit?

"Ya udah, sini gue bantu lo berdiri!" Agni membantu Cakka berdiri dan duduk lebih menepi―bersandar di dinding kelas.

Cakka menghela nafas. Bagian kaki dan tangannya masih terasa sangat sakit. Tapi ia jauh lebih sakit melihat teman-temannya yang tetap peduli padanya, padahal sumpah serapah sudah terlontar jelas dari lisannya, untuk kedua sahabatnya itu.

Tak salah jika Tuhan secara langsung menghukumnya dengan sakit itu, karena dengan berani ia melukai orang- orang baik yang jelas-jelas Tuhan ciptakan untuk selalu menjaganya.

"Cakka, lo emang gak lemah. Tapi kita yang lemah disini. Kita selalu merasa lebih lemah dari lo setiap kali lo sakit." Debo menunduk dalam-dalam. Agni menarik nafas pendek lalu mengangguk, mufakat dengan ucapan Debo.

"Sorry," dengan hati-hati Cakka menggerakan tangannya untuk merengkuh kedua sahabatnya itu. Dan hatinya yang keras, sesaat melemah mendengar pemaparan Debo.

 *

[Gabriel]

"Hello Mr. Ci! Lo tahu kan kalo hari ini tuh gue bahagia. Bahagiaaa, banget! Sumpah gue pengen ngakak pas tadi lihat si Iyel patah hati. Tapi, kasihan juga sih tuh anak. Udah berharap banyak sama tuh Angel Pieters, ketos SMA 97 itu. Tapi, bodo ah, salah sendiri jadi orang gak peka! Haha..."

Shilla tampak asyik bercengkrama sendiri. Lebih tepatnya dengan Mr. Ci―camera kesayangannya―yang saat ini standby di atas meja kantin rumah sakit. Menyala dan mengambil sendiri gambar Shilla.

"Lagian, mana mau si Angel sama dia. Orang pacarnya aja keren gila!" sambung Shilla tertawa-tawa sendiri.

"Eh, tapi tadi Iyel polos banget loh Mr. Ci. Masa iya sih dia bilang sakit hati pas Bastian nanya dia sakit apa. Untungnya, Bastian sama Angel berfikir lain. Kalo enggak, turun deh repurtasi gue sebagai sekretaris osis SMA Pemuda. Hah, gak kebayang orang-orang tahu kalo ketua osis SMA Pemuda, Gabriel Steven dibuat broken heart sama ketos SMA 97, Angel Pieters" cerocos Shilla panjang lebar. Mr. Ci diam saja. Percakapan di SMA 97 tadi ter-replay kembali di benak Shilla.

"Eh, katanya lo sakit parah ya? Sakit apa?"

"Sakit hati."
"Maksud lo, liver?"
"Bukan."
"Hepatitis?"

"Hahaha," tawa Shilla semakin keras. Beberapa pasang mata memandangnya heran. Shilla langsung bungkam sambil sesekali mengangguk, mohon pengertian akan tingkah anehnya.

"Kenapa lo?"

Repleks Shilla mematikan handycamenya begitu Kiki berdiri di hadapannya. "Gak kenapa-napa." Jawab Shilla memasukan kameranya ke dalam tas. Lalu menatap Kiki yang tampak lesu. "Kenapa lo?" giliran Shilla yang melontarkan pertanyaan itu.

"Ayo ikut gue!" Kiki menarik tangan Shilla. Berjalan cepat hingga Shilla terseret paksa, dan meronta minta dilepaskan. "Kelakuan aneh temen lo kumat!" kata Kiki memberitahu.

"Iya, tapi lepasin dulu dong! Sakit nih tangan gue." Protes Shilla. Kiki melepaskan cengkramannya. "Iyel kenapa?" tanya Shilla kemudian.

"Ngamuk." Jawab Kiki singkat.

"Hah, kenapa? Gara-gara Angel?"

"Bukan. Tadi tuh dia dimarahi sama Om Dave dan Om Dayat, gara-gara ngerjain suster. Tapi, gak tahu gimana ceritanya, Iyel malah balik marah-marah sama mereka." Jelas Kiki.

Tanpa fikir panjang, Shilla langsung berlari menuju ruang rawat Iyel. Meski ini di rumah sakit dan bisa bertindak cepat jika terjadi sesuatu dengan Iyel, Shilla tetap tidak ingin sesuatu yang fatal terjadi jika Iyel terus ngamuk dan marah-marah. Pasalanya, tak ada yang bisa menghentikan Iyel jika kobaran api kemarahan sudah merambat ke dalam jiwanya.

"Ayah egois! Om Dave juga! Kalian sama-sama gak ngertiin perasaan Iyel!!!" Iyel berdiri di pojok ruangan rawat. Nafasnya terengah Ia menatap tajam kedua orang yang saat ini berdiri tak jauh dari hadapannya. "Pergi kalian! PERGI!" usir Iyel. Tubuhnya merosot ke bawah.

"Iyel!" Shilla yang baru saja membuka pintu ruangan, segera berlari menghampiri Iyel. Kiki menyusul.

"Lo kenapa?" tanya Shilla lembut. Ia menarik Iyel ke dalam dekapannya. "Jangan kayak gini Yel! Gue takut." Lirihnya pelan. Semakin kuat memeluk Iyel.

Kiki mengelus lembut punggung Iyel. "Tenang Yel!"

Om Dave dan Pak Dayat menarik nafas lega. Tak disangka, kedua sahabatnya ituh lebih ampuh dari obat bius, untuk menenangkan Iyel. Dan kedua orang itu, adalah orang yang mereka paksa Iyel jauhi.

Tanpa sepengetahun Kiki dan Shilla, Om Dave dan Pak Dayat meminta Iyel untuk menjauhi Shilla dan Kiki. Termasuk berhenti mengurusi hal-hal lain―dunia osis―selain fokus pada pengobatannya. Mereka berfikir, bahwa Iyel terlalu mementingkan kedua sahabatnya dan osis yang dipimpinnya, ketimbang kesehatannya.

"Jangan pergi!" lirih Iyel. Aroma tubuh Shilla tercium hangat. Menenangkannya. Ia merasa begitu nyaman dalam dekapan itu. Paduan antara kasih dan cinta itu terasa dan tepat mengenai jiwanya. Hanya saja, ia tidak tahu kasih dan cinta yang mana yang ia rasakan itu.

"Gue gak pergi kemana-mana Yel! Gue sama Kiki selalu ada buat lo!"

Dan keadaan hening. Sungguh-sungguh hening.


*

TBC

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea