Sabtu, 14 Juli 2012

Don't Over_part 12 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.55

*

Bukan tanpa alasan Tuhan memberikan kita kesedihan dan kekecewaan. Justru di balik semua itu ada kebahagiaan yang tersirat. Hanya saja kita yang terlalu picik dan tidak ada kemauan untuk menelisik
lebih jauh semua itu.

Mulai sekarang, jadilah manusia yang berfikir. Berfikir akan segala hikmah yang tersembunyi di balik perkara sekecil apapun yang Tuhan, raja dari segala raja berikan kepada kita.

*

[Alvin]

Rio berjalan menjauhi keramaian yang sedang terjadi di gedung Konferensi Asia Afrika-Bandung, yang jadi latarnya saat ini. Menghindar dari Bu Oki dan guru-guru lain serta beberapa temannya yang sedang menunggu acara yang diselengarakan dekat dengan tempat itu dimulai. Sejenak saja Rio ingin menyepi. Menghilangkan sedikit ketegangan dalam dirinya. Menyendiri di samping patung Ir. Soekarno.

Sebentar ia memandang sang pahlawan; presiden pertama Indonesia yang gagah itu. Kemudian menunduk. Membaca sesuatu yang baru saja diambilnya dari dalam saku seragam yayasan sekolahnya.

Good luck ya shob! Sorry gue gak bisa nemenin lo Ke Bandung. Pokoknya gue yakin lo bisa, dan harus bisa!

Oya, Via ikut kan? Jaga dia baik-baik Yo!
Setidaknya, meski agak menyebalkan, gue gak ingin dia kenapa-napa.
Udah deh segitu aja! Ini juga buatnya dadakan banget. Habisan gue lupa sih kalo kompakan ponsel kita gak ada.
Ingat ini baik-baik Yo!
Menyelesaikan perhitungan tidak harus dengan satu rumus.

Gue bantu do'a dari sini.
Salam semangat.

Alvin.

Sebenarnya, sudah lebih dari sepuluh kali Rio membaca surat dari Alvin itu. Tapi tak juga membuat penyesalan dalam dirinya terkikis. Rasa tidak enak karena tidak bisa menemani Alvin kemoterapi membuat perasaannya begitu tegang. Bukan tegang lantaran sebentar lagi ia akan bertempur bersama para jagoan matematika di seluruh Indonesia. Tapi tegang karena perasaan cemas, lantaran meninggalkan Alvin sendiri lagi. Ia tidak ingin kejadiannya sama seperti dua hari yang lalu. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk dengan Alvin.

Rio mendesah keras-keras. Kembali menatap Ir. Soekarno yang tetap sibuk dengan teks proklamasinya dan tidak mau peduli dengannya. Hatinya berbisik penasaran, bertanya sesuatu : bagaimana keadaan Alvin sekarang? Apa Kau tahu? Merasa Ir. Soekarno tidak akan menjawab pertanyaan konyolnya, Rio kembali menatap surat itu.

Tulisan bersambung Alvin yang cenderung tegak lurus; menandakan Alvin termasuk orang yang berfikir sebelum bertindak, berfikir sebelum mengiyakan pendapat orang lain dan menyimpan pendapatnya sendiri, membuatnya semakin merasa bersalah saja. Mengingat tidak mudah membujuk Alvin untuk melakukan kemoterapi. Dan di saat ia bersedia, justru tidak ada diantara mereka―Sivia dan Rio―yang menemaninya.

"Menyelesaikan perhitungan tidak harus dengan satu rumus, maksudnya apa Yo?" Sivia duduk di samping Rio. Mengambil alih surat Alvin yang juga sudah berulang kali dibacanya dari tangan Rio.

Sebenarnya Sivia juga enggan menemani Rio ke Bandung. Ia kecewa saat Alvin memaksanya untuk menemani Rio; Rio butuh dukungan lo. Gue akan menjalankan kemoterapi gue dengan baik kok. Lo tenang aja! Ada orang tua gue ini. Begitulah kata-kata Alvin yang nyaris membuat Sivia tidak bisa terus kukuh untuk tetap menemani Alvin. Tapi dengan membaca pesan itu, terutama kalimat Alvin yang jadi kalimat favoritnya; jaga dia baik-baik Yo! Setidaknya meski agak menyebalkan, gue gak ingin dia kenapa-napa; membuat Sivia merasa tidak perlu kecewa lagi.

"Maksudnya, banyak jalan untuk menyelesaikan persoalan." jawab Rio tanpa mengubah posisinya.

Sivia mengamati Rio sepintas. "Lo gugup Yo?" tanyanya melihat wajah kusut Rio.

"Sedikit." Jawab Rio singkat.

Sivia menghela nafas. Tentu saja Rio gugup. Bohong jika ia bilang tidak, sementara lawannya bukan hanya satu lingkup saja. "Kalo lo gugup," Sivia memutar tubuhnya, menghadap Rio. Rio menyimak saja."Lo tarik nafas dalam-dalam, lalu..." ia menggantungkan kalimatnya. Menatap Rio lebih serius. "Lalu, sebut deh nama gue tiga kali! Hahaha..." canda Sivia tertawa nyaring.

Rio yang sedari tadi menyimak penasaran, mengacak-ngacak rambut Sivia gemas. Melihat tawa Sivia, rasanya beban yang tadi berkembang biak dalam hatinya punah begitu saja. "Lo bisa aja!" pujinya ikut tertawa.

"Haha, pokoknya, gugup atau nggak, lo mesti bisa. Kita bawa kemenangan lo untuk hadiah kemoterapi Alvin. Lo mau kan?" tanya Sivia lagi saat mereka berhenti tertawa.

Rio mengangguk pasti. Ia merangkul Sivia; gue akan memenangkannya Vi!

*

Alvin bersenandung kecil. Mengusir kesunyian yang menyergap lorong-lorong rumah sakit yang saat ini ia lewati. Setelah melakukan pemeriksaan, Dr. Joe memintanya menunggu di luar; Dr. Spesialis kanker itu hanya ingin bicara dengan Ayah dan Ibunya saja. Dan tentu saja Alvin tidak ingin menghabiskan waktu hanya dengan duduk sendiri menunggu mereka berdiskusi. Ia memilih berjalan-jalan, menghilangkan segenap rasa jenuh. Entah kenapa ia merasa begitu sunyi, padahal jelas orang tuanya yang selalu ia harapkan kehadirannya berada di sisinya saat ini. Apa karena ketidakhadiran Mbak Nova dan kedua sahabatnya? Entahlah...

Tepat di taman rumah sakit, langkah kakinya terhenti begitu saja. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun yang tengah asyik memainkan gitar, menuntun langkah kaki Alvin untuk mendekatinya dan duduk di bangku taman, di samping kursi roda anak laki-laki itu.

"Hai!" sapa Alvin ramah. Ia tersenyum hangat.

Anak laki-laki itu menoleh, membalas senyuman hangat Alvin. "Hai!" sapanya balik.

"Suka bermain gitar?" tanya Alvin mengamati anak laki-laki itu dengan rinci. Dari kondisinya, Alvin dapat menebak ia penderita kanker juga.

Kepalanya yang botak, kulitnya yang kering pucat dan bibirnya yang terlihat pecah-pecah, membuat Alvin tahu dia pasien kemoterapi.

"Kakak bisa bermain gitar?" bukan menjawab pertanyaan Alvin, anak laki-laki itu justru memberi pertanyaan baru.

Alvin menggeleng. "Tidak bisa." Jawab Alvin tersenyum miris, menatap anak laki-laki itu. Seganas itukah penyakit bernama kanker itu? Bahkan ia tega menyerang anak sekecil itu. Dan bagaimana anak itu bisa bertahan, sementara ia yang jelas lebih tua dari anak itupun menderita tiada banding saat penyakit itu kembali mendemonya keras.

"Kenapa Kak?" anak laki-laki itu kembali bertanya saat melihat Alvin tak henti menatapnya. "Aneh ya lihat aku?"

Alvin terhenyak. Lalu tertawa pelan. "Haha, nggak kok..."

"Dulu rambut aku juga tebel banget, agak gondrong malah. Kulit aku juga putih kaya Kakak, badan aku berisi, pokoknya aku ganteng deh. Hehe," cerita anak itu dengan menyisipkan cengiran narsis di akhir kalimatnya. Alvin tertawa kecil; menggemaskan.
"Tapi itu dulu sebelum aku divonis kanker dan menjalani kemoterapi." sambungnya sedih.

Alvin menghela nafas. Ia merangkul anak itu, menguatkan. "Kemoterapi sakit gak?" tanya Alvin kemudian.

Anak laki-laki itu mengangguk. "Sakit sekali!"

Alvin menarik nafas berat. Bukan ia takut menghadapi hal serupa yang akan ia jalani. Tapi ia malu mengakui dirinya yang bahkan tak seberani anak itu; ternyata, selain gue lemah, gue juga pengecut.

"Hanya ada dua pilihan. Sakit dengan segala efek buruk yang didapat, tapi berakhir dengan kesembuhan, atau sakit tanpa efek buruk, tapi berakhir dengan kematian. Dan tentu saja aku memilih yang pertama. Aku ingin sembuh. Karena aku masih ingin tersenyum. Aku masih ingin berbuat baik untuk semua orang. Meskipun tetap saja, keputusan akhir ada di palu hakim yang maha luhur."

Alvin tertegun cukup lama. Kata-kata anak itu terproses cepat dalam benaknya. Menjadi pionir yang menuntun keyakinannya menjadi lebih kuat untuk melakukan kemoterapi itu. Ia pun memilih pilihan pertama. Ia ingin sembuh, ia masih ingin tersenyum di tengah-tengah dunia. Dan ia ingin tetap berada di sisi Rio dan Sivia.

*

[Cakka]

"Lo kalo mau main basket, main aja lagi Kka! Tuh lapangan kan bukan hanya milik tim basket." Ujar Debo saat melihat Cakka menatap penuh kerinduan, lapangan basket di hadapannya.

Mereka―Agni, Debo dan Cakka―yang masih dalam proses hukuman Bu Winda, memilih berdiam diri di kantin sembari menghadap ke arah lapangan basket yang masih dilanda kesunyian karena jadwal latihan yang masih beberapa jam lagi.

Cakka tersenyum. Kemudian terkekeh pelan. "Nggak ah, udah gak minat lagi." Elaknya penuh kebohongan. Padahal betapa tidak, hatinya kecewa saat ia membaca pesan bahwa ia di-out dari tim. Bagaimana bisa, Cakka si pemilik gelar mvp bisa dikeluarkan secara tidak hormat seperti itu? Sekiranya mereka―pelatih dan anak-anak basket―mengizinkannya mengucapkan salam perpisahan dan basa-basi lainnya, sehingga ia tidak merasa dicampakan seperti saat ini. Atau paling tidak, beri ia alasan yang jelas kenapa ia di-out. Meski ia sendiri sudah tahu alasan itu.

"Lo lupa ya kalo lo itu gak bisa bohong sama kita? Orang tatapan lo tuh menyorotkan kerinduan yang mendalam gitu sama basket." Goda Debo melirik Agni yang tengah mengamati Cakka dengan serius; tatapannya aneh sekali.

"Masa bodoh ah gue sama basket. Dari pada ngangenin basket yang jelas gak mungkin gue genggam lagi, lebih baik gue ngangenin cewek. Ngangenin lo, iya gak Ag?" Cakka menoleh ke arah Agni. Pandangan mereka sejajar. Dan sontak Agni mengubah arah pandangannya ke arah lain. Debo tekikik geli melihat tingkah Agni; perasaan, akhir-akhir ini si Cakka sering banget buat si Agni salting. Hahaha

"Apan sih lo Kka?" semburat warna merah tanpa permisi langsung parkir di pipi Agni. Ia tertunduk guna menyembunyikan warna merah itu. Cakka dan Debo hanya tertawa melihat hal itu.

"Oya, katanya lo di-out ya dari kepanitiaan teater. Kenapa?" tanya Cakka saat mereka berhenti tertawa. Ia memandang Debo, menunggu jawaban.

Lama sekali Debo terdiam. Ia menoleh ke arah Agni yang juga tengah memandangnya bingung. Tak mungkin mereka bilang karena Debo sering absen gara-gara menemaninya.

Melihat kedua temannya bisu, Cakka segera angkat bicara. Ia melempar pandangannya ke arah lain. "Gue ngerti kok kenapa lo diam." Cakka manggut-manggut, seolah benar-benar mafhum akan sikap Debo yang tetap diam. "Sebagaimana yang Pak Ilham bilang, faqul khoiron au liyashmut, berkata baik atau diam!" lanjutnya mengcopy paste kata-kata Pak Ilham―guru mata pelajaran PAI―yang beberapa bulan didengarkannya. Kalimat sederhana tapi mempunyai arti dan maksud yang begitu dalam. Dan ia suka kalimat itu. Kalimat yang katanya diambil dari Hadist Rasulullah Saw.

"Bukan gitu Kka," sela Debo. Agni menatap Cakka kagum. Aih, daya ingat orang pintar emang tajam banget! Gue aja lupa sama kata-kata itu. fikir Agni kagum.

"Yah, lo gak mau bohong kan kalo lo di-out gara-gara gue? Emang lebih baik lo diam dari pada lo bohongin gue! Toh bohong atau tidak juga, gue tetep tahu itu alasannya. "Kata Cakka membuat Debo tak bisa mengelak lagi. Kata-kata Cakka percis anak panah yang melesat cepat dan tertancap pada sasaran yang tepat.

Hening beberapa saat. Mereka sama-sama diam, mencari kata-kata yang pas lagi baik untuk melanjutkan obrolan tanpa tema yang jelas itu.

"Sudahlah! Ngapain sih bahas hal itu? Lagian kepanitian teater tidak lebih penting dari sahabat-sahabat gue." CeletuK Debo santai. Memecahkan keheningan. Meruntuhkan tembok-tembok ketegangan yang baru saja terbangun sempurna oleh kalimat-kalimat menusuk Cakka, yang berhasil membuatnya tak berkutik, tertancap anak panah yang meluncur begitu saja dari busurnya.

Cakka menghela nafas. Agni juga. Ucapan Debo spele, tapi bahkan lebih ampuh dari anak panahnya. Kata-kata Debo bak sinar laser yang dengan begitu cepat menembak hatinya. Ia tak mampu berucap; mati kata.

Debo tertegun. Sebenarnya ia juga sempat kecewa dengan keputusan sebelah pihak itu. Jelas karena ia bukan malaikat yang tak diberi nafsu untuk merasakan perihnya kekecewaan. Tapi tentu hanya sesaat saja. Setelah itu, bahkan ia lupa pernah merasa kecewa. Debo memang tidak suka larut dalam kekecewaan.

"Eh, nanti lo berdua pulang duluan aja deh! Gue ada urusan." Kata Cakka kemudian. Membuat suasana lebih mencair.

Debo dan Agni hanya mengangguk saja; mereka juga punya urusan yang tak perlu Cakka ketahui.

*

"Jadi maksud Bapak, ini atas perintah Pak Duta?" tanya Debo memastikan.

Setelah menjalani perdebatan yang agak lama mengenai kasus di-outnya Cakka dari tim basket, Debo dan Agni yang memang sejak bubar sekolah menemui Pak Ed―pelatih basket―akhirnya tahu alasan sebenarnya kenapa Cakka dikeluarkan secara tidak hormat seperti itu.

"Iya, Pak Duta sudah memberitahu perihal penyakit Cakka kepada pihak sekolah. Guru-guru pun sudah tahu. Jadi melihat hal itu, Bapak pun tidak bisa berbuat banyak." Jelas Pak Ed lagi. Guru muda berparas setampan Kenichi Matsuyama itu memandang guru-guru yang tampak sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Menjelang akhir semester ruang guru memang tampak lebih sibuk.

"Setidaknya Bapak bisa kan buat peresmian gitu? Lagian gitu-gitu juga Cakka pernah jadi mvp kan Pak? Dia pernah mengharumkan nama baik sekolah. Bukan dari basket saja lagi. Hargai dia Pak!" Pinta Agni tenang tapi penuh emosi dan penekanan. Agak menusuk.

Garis mata Pak Ed yang tipis itu sedikit melebar mendengar kata-kata Agni yang katakan saja, sangat-tidak-sopan. Guru-guru yang sejak tadi sibuk dengan aktifitasnya sendiri-sendiri pun sontak memandang mereka sembari menggeleng-gelengkan kepala pelan.

Debo menyenggol lengan Agni dengan sikutnya; apaan deh si Agni? Buat kerusuhan aja.

"Baiklah, Bapak akan mempertimbangkan ini bersama anak-anak basket yang lainnya." Keputusan Pak Ed akhirnya keluar juga. Dan itu membuat Agni tidak puas. Emosinya semakin meningkat saja. Kenapa untuk menghargai jasa seseorang yang jelas-jelas nyata terlihat, harus melakukan perundingan segala? Kenapa tidak langsung katakan ya saja? Perasaan itu bukan hal yang sulit.

"Loh Pak, gak bisa gitu dong! Masa..." Ucapan Agni terpotong.

"Ya sudah Pak, terimakasih sebelumnya. Kami permisi Bu, Pak!" pamit Debo yang langsung menarik tangan Agni keluar ruangan guru. Ia tahu itu tidak sopan. Tapi akan jauh tidak sopan jika mereka tetap di dalam dengan kondisi Agni yang sedang emosi. Bahaya besar jika gadis tomboi itu sedang marah.

Guru-guru hanya berdecak heran melihat tingkah kedua muridnya. Dan sesaat saja mereka tertegun saat samar-samar mendengar percakapan Debo dan Agni yang belum jauh dari ruang guru itu, sampai ke telinga mereka.

"Lo gak sopan tahu Ag. Bagaimana kalau kelakuan kita dapat nilai E di rapor nanti?"

"Bodo ah De. Kesel gue! Orang pintar macam Cakka aja gak dihargai gitu. Emang udah watak bangsa Indonesia kali ya, tidak menghargai orang-orang pintar? Pantas saja Pak Habibie pindah kewarganegaraan. Yang pinter korupsi doang sih yang dihargainya!" cerocos Agni. Langkahnya sangat cepat, sehingga Debo lelah sendiri mengikutinya.

"Udah deh Ag! Terserah mereka sajalah. Tak perlu ambil pusing masalah ini! Lagian kepintaran Tuhan berikan, bukan untuk dapat penghargaan kan? Tapi untuk menjadikan kita manusia berfikir yang mampu menegakkan kebenaran. Untuk apa pintar dan dapat penghargaan dari orang banyak, tapi itu menjadikan kita sombong dan pongah, seolah kepintaran itu miliknya?" jelar Debo panjang lebar. Ia berhenti melangkah. Begitupun dengan Agni.

Kata-kata Debo bukan lagi anak panah. Bukan juga sinar laser. Entah apa! Yang pasti itu membuatnya tak mampu berprotes apa-apa lagi.

"Tuhan memang meninggikan derajat orang-orang yang pintar dan berilmu, tapi bukan berarti tingginya derajat itu hanya dengan penghargaan dari manusia. Melainkan penghargaan Tuhan jauh lebih berharga dari miliaran medali emas sekalipun. Selama ilmu dan kepintaran itu ia gunakan dalam jalan yang benar!"

*

[Gabriel]

"Lo cepet sembuh ya Yel!" Shilla menatap Iyel yang saat ini tertidur pulas di ranjang rumah sakit; di ruangan biasa tempat Iyel dirawat.

"Gue takut Yel. Gue takut dipaksa jauhi lo." Ia membenamkan wajahnya di telapak tangannya. Ingin rasanya ia menangis saat ini.

Ia tiba-tiba merasa, ada lorong waktu yang menariknya menuju kejadian beberapa jam yang lalu. Pecakapan menyebalkan yang bahkan tak bisa ia tutup rapat-rapat hingga tak terngiang lagi di telinganya. Ia sungguh membenci hal itu.

[Flashback]

"Om minta kalian jauhi Iyel untuk sementara waktu! Biar Iyel bisa fokus sama pengobatannya. Kalau kalian terus-terusan dekat dengan Iyel, dia lebih mementingkan kalian ketimbang kesehatannya." Pak Dayat memulai percakapan saat itu.

Shilla dan Kiki yang diminta menemui mereka―Om Dave dan Om Dayat―pasca Iyel tenang dan tertidur, hanya saling toleh tak mengerti.

"Ih, Om Dave sama Om Dayat ini lucu tahu gak? Kita tuh sama Iyel udah sahabatan lama, Om. Om juga kan tahu sendiri. Kita udah saling sayang. Mana bisa dipaksa menjauh gini?" protes Kiki tak setuju. Shilla mengangguk sepakat.

Bola mata Om Dave dan Om Dayat sama-sama menatap kedua sahabat Iyel; memohon pengertian. "Justru karena persahabatan kalian terlalu erat, sampai-sampai Iyel lebih mementingkan kalian. Nah, Om minta pershabatan kalian itu agak direnggangin dikit. Ya, caranya dengan kalian jauhi Iyel." Timpal Om Dave.

Shilla dan Kiki yang semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran kedua orang di hadapannya, kembali saling pandang. Mencari argumen dan pembelaan yang tepat. Mereka hanya merasa alasan itu tidak berlogika. Bukankah selama ini Iyel cukup tahu aturan, untuk tidak bolos chek-up dan minum obat? Lagi pula mereka tidak pernah mendengar Iyel malas berobat hanya karena mereka. Tak masuk akal! Sungguh!

"Shil! Ki! Kalian mau mengerti kan?" giliran Om Dayat yang memelas.

"Mau ngerti gimana coba Om? Alasannya aja gak jelas gini. Lagi pula ini tuh bukan direnggangin dikit. Tapi diputuskan secara paksa. Gak bisa! Pokoknya Shilla sama Kiki gak akan pernah jauhin Iyel. Begitupun dengan Iyel. Dia gak boleh jauh-jauh dari kita!" Seru Shilla nyerocos kesal; sinetron macam apa ini? Enak saja main suruh jauh menjauhi gini!

"Kalau gitu kalian egois dong?" Om Dave geram.

Kiki menarik nafas panjang. Ia jengkel mendengar kata egois yang tersisip tanpa etika di kalimat Om Dave barusan. "Siapa yang egois? Om apa kita? Om fikir, kalau Iyel jauh dari kita, itu akan lebih baik? Lagian kita gak ngerti tahu gak maksud semua ini. Kalau cuma mau mendramatisir semua ini, mending Om buat novel deh! Lagian sejak kapan sih dokter suka sok dramatis gini?" Seru Kiki menatap tajam Om Dave dan Pak Dayat secara bergantian.

"Ki,"

Shilla berdiri dari duduknya. Membuat Pak Dayat yang hendak berkomentar kembali, terpotong begitu saja. "Sudahlah! Apapun alasan kalian, berlogika ataupun tidak, kita tidak akan pernah jauhi Iyel. TIDAK AKAN PERNAH! Hanya Tuhan yang boleh menjauhkan kita! Gak Om, gak siapapun!" Shilla beranjak dari tempat itu setelah sebelumnya menarik tangan Kiki.

Pak Dayat dan Om Dave hanya bisa menghela nafas pasrah, melepas kepergian Shilla dan Kiki dengan kecewa. Persahabatan mereka memang sudah terikat sempurna. Sangat sempurna!

[Flashback end]

"Shil!"

Shilla membuka telapak tangannya begitu suara serak itu menyapa gendang telinganya. Lorong waktu itu menariknya kembali. Membuyarkan kejadian tadi yang baru saja ia jamah kembali. Ia menatap bola mata Iyel yang tampak sayu di balik bulir-bulir air mata yang baru saja terbendung tanpa izin.

"Lo nangis?" Air mata Shilla menetes. Iyel mengangkat tangannya yang ditemani selang infus itu guna menghapus air mata Shilla yang baru saja meleleh di pipinya.

Shilla menggeleng. Ia memegang tangan Iyel yang masih menempel di kulit wajahnya. "Gue sayang lo," ujarnya lirih. "Jangan pernah jauh-jauh dari gue!" pintanya semakin menguatkan cengkramanya, seolah tak boleh selangkah pun Iyel pergi dari sisinya.

"Gak akan. Gue akan tetap di sisi lo Shil, di deket Kiki juga. Gue sayang lo berdua." Iyel meraih kepalan tangan Shilla yang masih menggenggam kuat tangan kanannya, dengan tangan kirinya. Semakin kokohlah genggaman itu.

Shilla tersenyum. Meskipun Iyel tidak paham maksud sayangnya, meski Iyel hanya menjabarkan sayangnya masih di batas area persahabatan, ia tetap bahagia. Iyel tidak perlu tahu deskripsi sayang yang sesungguhnya yang saat ini masih terantai kuat dalam sanubarinya.

"Jangan nangis!" Iyel membangunkan tubuhnya. Dengan cekatan Shilla membantunya. "Simpan air mata itu! Ini bukan waktu yang tepat buat lo membiarkannya tumpah."

Dengan langkah cepat, Shilla menghapus air matanya. Tersenyum simpul. "Boleh gue peluk lo Yel?" pinta Shilla. Iyel menaikan alisnya heran. Kemudian tertawa pelan melihat sikap Shilla; sejak kapan mau peluk aja minta izin? Biasanya juga main peluk aja. fikirnya.

"Ya udah kalo gak boleh!" ketus Shilla saat melihat Iyel diam saja, tak merespon permintaannya. Ia memalingkan muka sebal. Iyel terkekeh geli.

"Peluk gue aja Shil!" Kiki berjalan menghampiri Iyel dan Shilla dengan berbagai macam makanan ringan di tangannya. Shilla menoleh dan tersenyum tipis melihat Kiki yang kerepotan sendiri membawa makanan-makanan itu.

Iyel menyeringai. "Enak aja. Orang Shilla maunya peluk gue." Komentarnya disusul dengan memeluk Shilla erat. Dan sontak gadis itu kaget dengan aksinya.

Giliran Kiki yang menyeringai; Ye, si Iyel! Angel gak dapat, Shilla deh jadi sasaran. fikirnya menaruh makanan itu di meja di samping ranjang Iyel.

Shilla hanya bisa tersenyum mendapat pelukan spotan dari Iyel. Rasanya begitu hangat. Pelan-pelan ia meletakan telapak tangannya di dada Iyel. Memejamkan matanya. Merasakan detakan itu. Hatinya berbisik, berdo'a; jangan berhenti! Teruslah berdetak! Hingga ia tahu, ada gue yang begitu mencintainya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea