Senin, 02 Juli 2012

Don't Over_part 7 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 07.17

Bukankah setiap saat Tuhan mengajarkan kita tentang sabar dan syukur? Dimana tak hanya kesedihan yang jadi ujian untuk kita. Dan tidak hanya kebahaiaan yang jadi nikmat untuk kita.

Keduanya saling terikat kuat. Dimana sebenarnya, ada syukur dalam ujian yang kita dapatkan. Dan ada sabar dalam nikmat yang Tuhan limpahkan.

*

[Alvin]

"Bukan lembutnya pasir pantai, bukan sejuknya sang angin, bukan pula syahdunya deburan ombak, yang membuat aku mencintai tempat ini. Tapi mereka! Mereka yang mampu menyulap tempat seindah ini menjadi ribuan atau mungkin miliaran kali lipat lebih indah.

Ya, sebenarnya tak ada yang paling indah istimewa selain kehadiran mereka disini. Dalam hidup ini."

"Via! Ayo sini!" teriak Mbak Nova yang saat itu sedang asyik bermain―membuat istana pasir―di tepi pantai bersama Rio dan Alvin.

Sivia mengangkat penanya yang sejak tadi beradu dengan kertas polos berwarna cream―sobekan dari buku hariannya. Memandang Mbak Nova sejenak dan tersenyum. "Bentar lagi Mbak!" ujarnya kemudian kembali menekuni tulisannya. Ia tertawa kecil saat samar-samar mendengar ucapan Rio.

"Biarin aja Mbak! Penulisnya kita sedang asyik dengan teman kencannya. Penulis itu gak suka diganggu kalo sedang banyak ide."

Mbak Nova tersenyum. Alvin masih sibuk dengan pasir-pasirnya. Dan pena Sivia kembali bergerak.

"Tuhan, jaga mereka untukku! Buang kesedihan mereka, usir jauh-jauh perkara apapun yang bisa membuat mereka luka dan hapus rasa sakit apapun yang ada dalam diri mereka. Buat mereka bahagia! Untukku, untuk semua, dan untuk kehidupan ini."

Sivia melipat kertasnya. Kemudian memasukannya ke dalam botol bekas air mineral milik Alvin; Tak elit memang. Tapi cuma itu yang ada. Seperti di sinetron, novel dan film-film indonesia yang pernah ia tonton, ia akan melemparnya ke laut. Membiarkan ombak-ombak itu menyeretnya ke pulau manapun.

Untuk Tuhan. Sebuah harapan sederhana yang tanpa ia tulispun sudah terbaca olehNya. Sebuah do'a sederhana yang tanpa ia lempar ke hamparan laut-pun, sudah sampai di tanganNya.

"HUAAHH, GUE ORANG PALING BAHAGIA DI DUNIA INI!" lantang Sivia meneriakan kalimat itu setelah melempar kertas dalam botol. Mengundang perhatian Alvin dan Rio serta Mbak Nova untuk melihat aksinya.

"Dasar gila!" gumam Alvin pelan. Tapi cukup tertangkap oleh telinga Sivia. Ia tetap asyik membangun istana pasirnya tanpa mempedulikan raut wajah Sivia yang sudah cemberut mendengar ejekannya.

"lo yang lebih gila karena mau temenan sama orang
gila!" Sivia berjongkok di samping Alvin. Mbak Nova dan Rio memperhatikan.

"Tom and Jerry-nya siap dimulai Mbak!" bisik Rio. Mbak Nova tertawa.
"Lo jadi orang nyebelin banget Al!" Dumel Sivia kesal.

Alvin terkekeh. "Lo itu lebih nyebelin! Wleekk..." Alvin menjulurkan lidahnya.

Sivia menatap Alvin tajam. "Ya, karena udah terlanjur dikatain nyebelin, ya udah deh..."dengan beberapa gerakan Sivia menghancurkan istana pasir Alvin. "Nyebelin kan gue?"

"Sangat, sangat, sangat bin very, very, very menyebalkan!"

Sivia berdiri dan berlari lebih menepi lagi ke pinggir pantai. "Nah, ini lebih menyebalkan!" dengan cepat Sivia mencipratkan air ke arah Alvin. Mbak Nova dan Rio memilih untuk menghindar. Sementara Alvin lebih memilih untuk mendekat. Membalas gadis itu; basah-basahan lagi kan mereka?

"Sayang Mbak gak bawa kamera Yo!" sesal Mbak Nova.

"Pake kamera HP aja Mbak!" usul Rio yang langsung mengeluarkan ponselnya. Mbak Nova mengeluarkan BB-nya dan Rio tersenyum kecut; haha, orang udah pakd BB, gue masih aja pake ponsel made in china. Tapi emang masalah gitu? fikirnya tertawa sendiri, mengingat hanya dia diantara Alvin dan Sivia yang masih menggunakan ponsel biasa.

"Pake BB dong Yo! Biar bisa BBM-an sama gue." Suara Sivia waktu itu.

"Gue gak ngerti!" suara Rio.

"Hah? Seorang pintar macam Rio, masa iya sih gak ngerti?" giliran Alvin yang bersuara.

"Gak ngerti apa gunanya. Kalo cuma gitu-gitu aja, gue lebih ngarepin punya kantong ajaibnya doraemon."

"Hahahaha"

"Alvin!"

Sesaat lamunan Rio buyar begitu teriakan panik Mbak Nova memenuhi gendang telinganya. Ia ikut berlari saat Mbak Nova juga berlari menghampiri Alvin dan Sivia.

"Gue ngga apa-apa. Cuman pengen kalian ikut basah-basahan." Alvin memandang Sivia. Sivia juga memandangnya. Kemudian tertawa sambil menarik tangan Rio dan Mbak Nova.

"Lo jago akting juga ya? Dikira pingsan beneran!" protes Mbak Nova menciprati Alvin. Rio melakukan hal yang sama. Dan Sivia juga.

"Hahaha, curang ahh. Tiga lawan satu Mana bisa?" Alvin menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Dan berjongkok melindungi diri dari serangan bertubi-tubi Mbak Nova dan teman-temannya.

Mereka tertawa. Tertawa bahagia.
 
*

[Cakka]


"Sory ya De! Harusnya lo yang gue gendong." Sesal Cakka yang saat ini berada digendongan Debo.

Dengan nafas terengah, Debo tersenyum tulus; tubuh Cakka sungguh berat! "gak apa-apa Kka. Lagian lo mau gendong gue gimana caranya coba? Kaki lo aja gak bisa jalan." Selalu penuh dengan pengertian, Debo berbicara dengan tawa cerianya.  Seolah tak ada beban apapun.

"Kakinya sakit banget ya Kka?" tanya Agni sesekali mengambil gambar Debo dan Cakka.

Cakka mengangguk. Percuma juga jika ia menggeleng. Toh teman-temannya tetap tahu ia sakit. "Thanks banget ya? Gue gak tahu harus balas kebaikan lo berdua dengan apa!" kata Cakka pelan. Merasa begitu menyesal melihat posisinya saat ini. Harusnya Debo yang ia gendong. Tapi ternyata, rasa sakit di bagian kakinya ketika ia hendak pulang sehabis makan-makan di kantin tadi, membuat Debo tidak bisa mendapatkan hadiahnya. ini sungguh tidak adil! Kenapa gue jadi repotin gini sih? Batinya sedih.

"Kka, yang memberi pembalasan itu bukan manusia. Lagian siapa yang berharap dapat balasan? Kalo pamrih terus, bekal mati gue apa?" Debo berhenti sejenak. Menarik nafas.

Agni ikut berhenti. Memotret Cakka dan Debo sekali lagi. "Bener loh Kka, kebaikan kan untuk bekal di akhirat. Kalo di dunia udah habis duluan karena pamrih, entar di akhirat kita gigit jari dong?" sambungnya. Dan ia langsung diam begitu melihat ada yang aneh di bawah hidung Cakka. "Lo, lo mimisan Kka!" panik Agni saat yakin yang ia lihat itu darah.

Tanpa banyak bicara, dengan segera Debo menepi dan membiarkan Cakka duduk dipinggir jalan. Cakka sibuk sendiri mengelap darah itu dengan telapak tangannya. Sementara Agni sibuk ngobrak-ngabrik ranselnya. Mencari sapu tangan.

"Lo baik-baik aja kan Kka? Gak pusing kan? atau... ada yang sakit? Apa?" Agni melemparkan pertanyaan itu bertubi-tubi. Ia mencoba menghentikan mimisan Cakka dengan sapu tangannya.
Debo sendiri mencoba membersihkan telapak tangan Cakka yang tadi dipenuhi darah.

"Gue gak tahu harus jawab apa." Jawab Cakka bingung. Bilang sakit ataupun tidak, tetap saja teman-temannya cemas.

"Kenapa lo gak kemo Kka?" tanya Debo berlanjut saat mimisan Cakka berhenti.

Cakka menaikan alisnya tak faham. "Kemo? Emang gue penderita kanker apa?" komentar Cakka.

"Loh?" giliran Debo yang kali ini memasang wajah tak mengerti. "Emang lo sakit apa?"

"Iya Kka, lo sakit apa?" timpal Agni yang sejak tadi ingin menanyakan hal itu. Akhirnya, pertanyaannya diwakili juga.

Cakka berfikir sejenak. Lalu menggeleng pelan. "gak tahu." Jawabnya singkat.

"Hah? Terus waktu itu, kenapa lo..." Agni menggantungkan kalimatnya.

"Karena gue tahu kalo penyakit yang gue derita itu, berhubungan sama tulang. Yang artinya, akan menghancurkan mimpi gue sebagai atlet basket. Bokap gue juga gak nyaranin gue berobat apapun. Ia hanya menyuruh gue minum obat aja." Jelas Cakka tertunduk. Menahan pusing. Agni dan Debo tertegun; ada yang tidak beres.

*

[Gabriel]

"Aku Angel Pieters. Ketua osis SMA 97. Kamu Gabriel Steven, ketua osis SMA Pemuda ini kan?"

Iyel mengangguk. Mengiyakan. Mengamati gadis cantik bernama Angel yang tadi ditabraknya. Tak disangka, ternyata gadis itu seorang ketua osis yang ingin berjumpa dengannya; dikira siswa baru.

"Jadi gini, aku kesini mau nyerahin surat undangan buat osis SMA Pemuda ini. Kami dari osis SMA 97, berniat mengundang SMA Pemuda untuk melakukan pertandingan persahabatan olahraga Volley dan futsal. Setahuku, tahun kemarin sekolah ini menjuarai turnamen futsal antar sekolah di Jakarta. Bukan begitu?"

Iyel mengangguk lagi. Tersenyum kecut. Bukan apa-apa. Tapi, rasanya pembicaraan yang terjadi di ruang osis ini terasa begitu resmi. Formal.

"Jadi bagaimana? Aku lihat kau tidak begitu faham." Angel menatap Iyel bingung; katanya Gabriel itu keren, pinter, kebanggaan guru-guru. Lah, baru diajak ngobrol kaya gini kok kaya orang bego? Batinnya heran. Pasalnya apa yang ia lihat dari diri Iyel tidak sama dengan apa yang temen-temennya bicarakan.

"Haha, gue ngerti kok Ngel. Hanya saja, gue ngerasa lo itu tertalu formal. Makanya gue cengo gini." Jelas Iyel terkekeh Angel mengangkat satu alisnya. "Gue terima ya surat undangannya. Tapi, untuk keputusan ikut atau ngga-nya, gue mesti tanya pembina dulu." Iyel meraih kertas di hadapannya.

"Kurasa, posisiku disini sebagai tamu." Komentar Angel, "emang di sekolah ini, gue-lo itu biasa digunakan ya? Meski untuk bicara dengan orang yang resmi sekalipun?"

Iyel tersenyum tipis. Agak tertohok juga. "Tidak juga. Gue hanya merasa, sikap lo terlalu dibuat-buat. Ya, gue hanya ingin tamu gue merasa nyaman."

Giliran Angel yang diam. Membenarkan perkataan Iyel. Ia memang merasa tidak nyaman jika berbicara formal dengan orang yang sebaya dengannya.

"Ya, kalo lo gak suka, gue bisa kok pakai bahasa formal. Tapi kesannya gue kaya interview lo deh."

Angel tertawa pelan. Iyel tersenyum. "lo lebih nyamankan? Lagian bicarain urusan gini aja kaya bicara sama Bapak Presiden. Sekiranya, saat ini gue bukan kepala sekolah yang lo hadapi."

"Hahaha, ya udah Yel, gue pamit dulu ya! Kenapa gue jadi bahas kaya ginian ya?" Angel berdiri dari duduknya. Ia terkekeh mengingat pembicaraannya dengan Iyel barusan.

Iyel ikut berdiri. Mengambil kamera Shilla. Keluar ruangan dan berjalan menuju gerbang sekolah. Mengantar Angel.

"Oya! Disini tidak dilarang ya bawa kamera?" tanya Angel lagi saat ia melihat kamera di tangan Iyel.

"Tidak. Selama itu tidak mengganggu proses belajar mengajar, kenapa mesti dilarang? Bagi gue selaku ketua osis, sekolah ini bukan penjara anak bangsa yang membatasi mereka dengan aturan-aturan yang terlalu ketat. Yang terpenting itu, buat mereka nyaman tinggal di sekolah! Tak usah batasi mereka dengan sejuta larangan. Karena dengan semakin banyak aturan, semakin banyak juga pelanggaran yang dibuat. Aturan itu cukup dengan menempatkan sesuatu pada tempatnya aja. Waktunya belajar ya belajar. Waktunya istirahat ya istirahat." Jelas Iyel panjang lebar. Tak sadar mereka sudah sampai di gerbang sekolah.

Fantastis!

Angel dibuat takjub oleh orang yang saat ini berdiri di hadapannya. Dan baru saat ini ia berani mengakui bahwa apa yang diungkapkan teman-temannya tentang ketua osis SMA Pemuda ini benar-benar nyata; so simple and so perfect!

"Tak salah kalo nama lo popular sampai ke sekolah gue. You're amazing!Angel menghadapkan tangannya untuk bersalaman. "Thanks udah buat gue nyaman dengan cara lo. Gue pamit ya?" katanya saat genggaman tangan mereka terlepas. "Oya, buat keputusannya, lo telepon sekolah aja ya?" Ia berlalu meninggalkan Iyel.

Iyel melepaskan kepergian Angel dengan senyuman terbaiknya. Lalu tertegun cukup lama; popular? di sekolahnya? Apa sih maksudnya?

"Yel! Lo dicariin juga dari tadi. Ternyata masih disini? Siapa cewek tadi?" Shilla nyerocos gak jelas sambil memperhatikan punggung Angel yang sudah menjauh.

Iyel d
iam saja. Masih sibuk dengan fikirannya.

"IYEEELL!" teriak Shilla keras dan berhasil membuat Iyel terlonjak kaget.

"Apaan sih lo Shil? Kaget tahu!" Iyel memegang dadanya. Shilla nyengir.

"Maaf Yel! Lo..."

"Udah gak apa-apa!" potong Iyel cepat sambil merangkul Shilla dan berjalan meninggalkan tempat. "Shil, ada Malaysia dalam hidupku!"

"Maksud?"

"Ada yang berhasil mengklaim hatiku!"

Shilla diam. ada yang aneh dalam dadanya.

TBC

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea