Kamis, 05 Juli 2012

Don't Over_part 8 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 00.44
*

Tidakkah kita tahu, bahwa dari keterpurukan yang kita dapatkan, ada satu hal yang patut disyukuri? Apapun itu, tanpa kita sadari ada hal luar biasa yang terselip di baliknya.

*

[Alvin]

Mbak Nova hanya bisa tersenyum melihat Alvin, Sivia dan Rio yang saat ini berada di dalam mobilnya. Mereka tampak asyik dengan aktifitas masing-masing. Rio yang saat ini duduk di depan bersamanya, terlihat begitu sibuk dengan puluhan rumus matematika yang berjajar di kertas polio yang sedang digenggamnya; olimpiade di depan mata. Sementara Sivia tak lepas dari layar BB-nya. Ia tak bisa bergerak bebas lantaran Alvin yang sengaja menjadikan pahanya sebagai bantal.

"Lo berdua sayang banget ya sama Alvin?" tanya Mbak Nova sembari menyalakan radio mobil.

Tanpa mengalihkan perhatian, secara kompak Sivia dan Rio mengangguk.

Radio menyala. Penyiar berceloteh-ria.

Mbak Nova hanya geleng-geleng kepala melihat teman-teman Alvin yang pada serius.

"Hahh, nyesel gue!" Sivia mendesah sembari melemparkan pandangannya ke samping setelah sebelumnya menatap wajah Alvin sejenak. Keadaan sudah mulai menggelap.

Rio melipat kertasnya. Membalikan badannya untuk melihat Sivia yang tampak kusut―sama seperti tiap kali ia basah-basahan. Mbak Nova memilih melihat Sivia dari balik kaca spion. Dan penyiar radio tidak peduli.

"Nyesel kenapa Vi?" tanya Rio.

"Baca cerpen!" jawab Sivia singkat.

Tanpa mengubah titik fokus matanya, Rio dan Mbak Nova mengernyit bingung.

"Cerpen fulgar yang dibuat sama anak yang jelas masih di bawah umur! Dan begonya, ngapain juga gue baca? huaah... repurtasi penulis baik gue rusak!" Rutuk Sivia kesal. Rio hanya mendesah. Ia mengerti Sivia yang anti dengan cerpen-cerpen seperti itu. Apa lagi kalau ia tahu si penulis masih di bawah umur. "Gue aja yang udah tujuh belas tahun gak ngeh buat cerpen gituan." Lanjutnya.

"Iyalah, nama tokoh cerpen lo aja nama gue sama Alvin. Mana tega lo rusak nama kita dengan cerpen fulgar gitu? Cerpen sad end, baru deh lo demen!" Rio terkekeh. Ia terlihat begitu berantakan saat ini.

Sivia menyeringai!

Ergh!

Alvin mengerang pelan. Sivia menatapnya cemas begitupun dengan Rio. Mbak Nova tetap fokus pada kemudinya. Dan si penyiar masih tak peduli.

"Al, Lo baikan?" tanya Sivia.

Tak ada reaksi. Alvin tetap terpejam. Tapi nafasanya terdengar cepat. Tubuhnya juga panas.

"Alvin demam lagi Yo!" lapor Sivia memegang kening Alvin. Rio berbalik dan memandang Mbak Nova yang sudah mempercepat laju mobilnya.

keheningan menyergap. Membuat kecemasan itu terasa lebih nyata. Dan di sela kecemasan itu, samar-samar suara penyiar radio yang tadi acuh dan diacuhkan, sampai di telinga mereka. Sesuatu yang penting.

"Baiklah para sahabat setia R-FM, buat kamu-kamu yang ngefans gila sama pianis remaja, Alyssa Saufika Umari yang sedang hebohnya diperbincangkan di seluruh media karena bakat spektakulernya, dapatkan segera tiket nonton konser perdananya di Jakarta bersama beberapa musisi hebat lainnya. Segera sebelum akhir pekan!"

Baik Rio dan Sivia maupun Mbak Nova, saling bertukar toleh; hadiah istimewa untuk Alvin.

"Aaarggh... hh... hh..." Alvin mengerang lebih keras. Ia terpaksa membuka mata dan mengangkat tubuhnya untuk duduk. Perutnya sakit sekali. Nafasnya sesak. Dan kepalanya pusing. Sesaat senyuman ketiga orang itu pudar di telan suara erangan Alvin.

"Sakit lagi ya Al?" tanya Sivia merangkul Alvin yang tidak peduli dengan pertanyaan Sivia. Sakit itu kembali mengalihkan perhatiannya.

Beruntung saat itu pula mobil Mbak Nova berhenti. Mereka sudah berada di depan rumah. Dengan hati-hati Sivia membantu Alvin turun dari mobil. Agak susah. Rio yang sudah berdiri di luar mobil, segera merangkul Alvin. Memapahnya ke dalam.

Alvin tertatih. Kesadarannya datang pergi. Ia nyaris tidak bisa merespon aktifitas di sekitarnya. Semuanya samar, berputar, sakit dan gelap. Sesaat tanpa komando, kedua sahabatnnya memanggil namanya dengan kompak.

*

[Cakka]

"Ayah jahat sama Cakka! Ayah jahat! Cakka benci Ayah!" raung Cakka histeris. Ia membanting pintu kamarnya. Menguncinya dari dalam. Lalu terduduk di baliknya sembari memeluk lututnya. Air matanya tumpah.

Kenyataan pahit yang baru saja diterimannya, memang terlampau menyakitkan. Tapi, tak ada yang lebih menyakitkan selain kebohongan orang tuanya akan penyakitnya yang sebenarnya.

"Cakka, Ayah minta maaf! Bukan Ayah tak mau jujur sama kamu, tapi..." Pak Duta menggantungkan kalimatnya. Ia menarik nafas panjang. Penjelasan itu menjadi kata-kata kelu yang membuatnya sesak.

"Tapi kenapa? Kenapa Ayah tidak bilang Cakka sakit kanker? Kenapa Yah?" Cakka masih meraung. Kecewa mengisi seluruh bagian hatinya.

Hening.

"Kenapa Yah?" Suara Cakka memelan.

"Karena kami takut Cakka seperti ini!" Mama Ira menjawab pertanyaan Cakka saat melihat suaminya benar-benar tak berkutik. Air matanya hendak tumpah.

Cakka diam. Terisak.

Senyap. Semuanya membisu. Lama sekali.

Sebelum akhirnya...

"Kka! Ini gue, Debo sama Agni. Buka dong pintunya! Bicara sama kita yuk!" Debo yang baru saja datang, berdiri di balik pintu sambil mengetuk pelan pintu itu. Agni sendiri masih mencoba menenangkan Mama Ira yang sudah menangis sambil bersandar di dinding, di samping Pak Duta. Keadaan mereka sama sekali tak bisa dideskripsikan. Antara takut dan merasa bersalah terlukis di wajah mereka.

Cakka menghela nafas. Ia kesulitan bernafas. Terlebih saat cairan merah itu kembali keluar dari rongga hidungnya. Merah menyala membasahi kaus seragamnya yang belum sempat ia ganti. Darahnya begitu banyak.

"Cakka! Lo baik-baik aja kan?"

"Cakka buka pintunya! Gue mohon!"

"Cakka!"

Suara Agni dan Debo bersahutan. Kali ini disertai gedoran pintu yang cukup keras. Ia ingin saja merespon. Tapi tak bisa. Suaranya tercekat.

Debo menggedor pintu itu lebih keras lagi. Ia panik. "Om! Tante! Jangan kaya gini terus! Kita harus melakukan sesuatu!" histeris Debo mencoba menyadarkan orang tua Cakka yang terlihat putus asa; ada apa dengan mereka? Kenapa ini? Ya Tuhan... Ia kalut. Batinnya berteriak-teriak. Mama Ira menangis semakin keras.

"Debo!" Agni memegang pundak Debo. "Tenang!"

Debo menarik nafas dalam. Ia hanya takut sesuatu yang fatal terjadi. Ia ingat beberapa artikel yang tempo hari dibacanya di lab komputer sekolah mengenai penyakit Cakka. Ia sudah menduga ada yang disembunyikan dari Cakka saat ia tahu Cakka tak tahu menahu soal penyakitnya. Intinya ia tahu lebih dulu tentang penyakit itu sebelum Cakka.

"Cakka! Gue mohon buka!" lirih Debo memelas.

Cakka mencoba membuka pintu. Tangannya yang lemas mencoba memutar kunci. Tidak bisa. Ia terlanjur jatuh tak sadarkan diri. Dan Debo serta Agni ikut terduduk di balik pintu itu. Bersama Pak Duta dan Mama Ira.

*

[Gabriel]

Seperti biasa. Mereka selalu tampak seperti tokoh Harry Potter, Hermione Ganger dan Ron Weasley yang JK. Rowling ciptakan untuk selalu bersama. Menghadapi berbagai rupa-rupa masalah. Tak ada yang bisa tersenyum jika salah satu dari mereka berduka. Itulah persahabatan mereka.

"Eh, lo berdua belum jawab tuh pertanyaan gue tempo hari." Iyel memulai pembicaraan. Saat ini mereka sedang asyik membuat grafity diatas karton besar untuk menyemangati tim futsal dan voli sekolah mereka yang tiga hari lagi akan bertanding dengan tim futsal dan voli SMA 97―sekolah Angel.

Shilla yang saat itu sedang asyik dengan spidolnya, memandang Iyel sepintas. Kemudian kembali mewarnai grafity-nya. "Apa?" tanyanya singkat.

Iyel mendesah. Sikap teman-temannya jadi beda. Terkesan cuek dan masa bodoh dengannya. Entah apa yang sebenarnya terjadi.

"Gue ada salah ya sama lo berdua?" tanya Iyel melupakan topik awal.

Kiki yang sedari tadi mantengin aksi Harry Potter yang sengaja Iyel putar, mengubah posisinya untuk menatap Iyel. Shilla mengangkat spidolnya dan melakukan hal yang sama.

"Kalo misalkan gue ada salah, gue minta maaf ya? Maaf untuk kesalahan gue, dan maaf untuk ketidak pekaan gue." Maaf Iyel tulus. Menatap teman-temannya bergantian. Rasa tidak mengerti bertumpuk-tumpuk dalam hatinya.

Shilla menarik nafas panjang. Rasanya ia terlalu kelewatan mengacuhkan Iyel selama beberapa hari ini. Tapi mau bagaimana lagi? Ia terlanjur kesal. Terlebih setelah pembina osis menyetujui undangan dari SMA 97 itu, Iyel jadi lebih sibuk dengan Angel. Apa-apa Angel, tiap hari SMS-an sama Angel, telponan sama Angel. Kehadiran Angel dalam hari-hari Iyel, membuat posisi Kiki dan Shilla terancam tergeser.

"Jujur gue lebih baik sakit dari pada lihat lo berdua kaya gini. Setidaknya bilang apa salah gue? Gue gak sepeka kalian." Lirih Iyel tertunduk.

Melihat Iyel seperti itu, rasanya mereka―Kiki dan Shilla—menjadi orang paling jahat di dunia ini. Meski sebenarnya mereka jauh lebih sakit melihat Iyel mementingkan Angel selama beberapa minggu ini.

"Ngga Yel. Lo gak ada salah. Gue sama Kiki hanya terlalu takut kehilangan lo." Kata Shilla sedikit melirik Kiki. Kiki mengangguk saja.

Iyel tak bereaksi.

"Oya, pertanyaan lo tempo hari itu apa Yel?" tanya Kiki.

Iyel tersenyum. "Apa yang lo Berdua fikirkan tentang cinta dan tari Tor Tor?"

Shilla dan Kiki tertegun. Berfikir. Bagaimanpun juga mereka tak seperti Iyel yang ahli masalah begituan. Hingga akhirnya Shilla nyeletuk: "Gak ada yang bisa gue fikirukan tentang cinta dan tari Tor Tor. Yang gue fikirkan itu, tentang Iyel dan tari Tor Tor."

Iyel mengernyit bingung. Begitupun dengan Kiki.

Shilla tertawa. "Iyel itu seperti tari Tor Tor yang mesti dijaga biar gak di klaim orang lain. Biar dia tetap jadi milik kita dan tidak dicuri siapapun" Shilla menjawab kebingungan Iyel dan Kiki. Termasuk Angel. Batinnya meneruskan.

"Hahahaha.." Iyel tertawa mendengar penuturan Shilla yang langsung memajukan bibirnya cemberut; nih orang emang gak bisa peka kali ya?

Kiki ikut tertawa. Tapi bukan menertawakan hal yang sama seperti Iyel. Melainkan menertawakan raut wajah Shilla yang begitu menggemaskan.

Uhuk!

Iyel terbatuk.

Shilla dan Kiki saling pandang. Lebih merapat pada Iyel. Wajah-wajah mereka melukiskan kecemasan.

"Gue gak apa-apa." Masih dengan batuk-batuknya, Iyel mencoba menenangkan sahabat-sahabatnya. "Argh!" Iyel memegang dadanya kuat-kuat. Sakit itu... Ahh...

Shilla dan Kiki panik; ini sih bukan tidak apa-apa namanya.

Iyel menarik nafas. Dan itu membuat dadanya semakin sakit. Nafasnya terengah, ia merasa ada penyumbatan luar biasa dalam dadanya. Ia tidak bisa bernafas. Detak jantungnya bergemuruh tak beraturan. Memaksa ia untuk meninggalkan kesadarannya.

"Yel!"

*TBC

1 komentar:

  1. Kak nae... gimana sih caranya ngehias blog? punya link fitur-fitur yang ada di blog kakak ini gak? ajarin dong *puppy eye* - Nur Fadilah Syawal

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea