Minggu, 08 Juli 2012

Don't Over_part 9 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 02.31


*

Tak ada bahagia jika Tuhan tidak menciptakan sakit dan air mata untuk kita. Sesungguhnya, ia terlampau sempurna tuk dimengerti oleh manusia pendosa seperti kita.

*

[Alvin]

Alvin mendesah keras-keras. Rasanya kakinya sudah kehilangan sendi sehingga memaksa ia terduduk lemas di kamar mandi. Jangankan untuk pindah posisi ke tempat yang lebih nyaman. Untuk melakukan satu gerakanpun rasanya organ-organ tubuhnya seperti di hantam palu raksasa dari dalam. Begitu sakit.

Kali ini bukan hanya lambungnya saja yang jadi sasaran amukan kanker itu. Tapi beberapa organ tubuh lainnya juga tak bisa terelakan. Perutnya perih dan mual. Tapi dadanya juga sesak dan sakit. Ditambah kepalanya yang serasa dipenuhi dengan dinamit yang siap meledak kapan saja. Ia sangat mengenaskan saat ini.

"Argh!" erangnya pelan. Ia merasa ada sesuatu yang mencekiknya. Membuat ia tidak bisa berteriak minta tolong.

Dalam situasi seperti ini, ia ingin siapapun masuk ke rumah. Siapapun! Entah itu Sivia, Rio, Mbak Nova, tetangga, tukang pos, polisi, pengantar koran atau siapapun. Siapa saja yang terpenting bisa menolongnya dari amukan kanker itu. Tapi, nyatanya tidak. Tidak ada sama sekali. Bahkan Sivia dan Rio yang biasanya rutin mengunjunginya sebelum berangkat sekolah, pasca ia pingsan dua hari yang lalu-pun tidak ada. Entah kemana. Padahal jelas ini hari libur.

"hh... hh... hh..."

Nafas Alvin tersenggal. Paru-parunya serasa dipompa dengan gas-gas racun berbahaya. Ia tak bisa bernafas. Ditambah rasa mual itu, rasa mual yang mendorong seluruh cairan dalam perutnya keluar dari mulutnya. Tak ada kesempatan untuk ia berdiri dan memuntahkan isi perutnya di westafel. Ia terpaksa muntah dalam posisinya sekarang. Kaus biru gelap yang sedang ia kenakan, kini basah. Berpadu dengan warna merah gelap.

"Ya Tuhan!" lirih Alvin. Hanya itu yang bisa ia lafalkan. Hanya nama itu yang bisa menyelamatkannya dari pemberontakan anarkis kanker itu. Tak ada yang lain.

Dengan sisa tenaga yang ada, yang bahkan tidak sampai seperempat, Alvin sedikit-sedikit menggeser tubuhnya keluar kamar mandi. Setidaknya ia bisa mengambil handphone-nya untuk menghubungi seseorang, atau paling tidak ia bisa meminum obat pereda sakitnya.

Sampai di ambang pintu, Alvin mencoba berdiri. Terseok-seok menuju tempat tidurnya sembari menggapai-gapai apapun yang bisa di jadikan pegangan untuk menompang tubuhnya. Dengan usaha keras, akhirnya Alvin berhasil menghempaskan tubuhnya yang serasa remuk itu di tempat tidurnya. Meraih ponselnya yang kebetulan tergeletak di sampingnya.

"Alvin, gue ada keperluan hari ini. Gue gak bisa ke rumah lo. Take care!" SMS dari Sivia dua jam yang lalu.

"Al, gue dipanggil mendadak sama Bu Oki. Lo baik-baik disana!" SMS dari Rio di waktu yang bersamaan dengan Sivia.

"Al, Mbak dituntut menyelesaikan skripsi Mbak hari ini sama pembimbing. Mbak Sore baru ke rumah . Kalau ada apa-apa, telepon Via atau Rio aja!" SMS Mbak Nova satu jam yang lalu.

Alvin melempar ponselnya sembarang; kenapa harus secara bersamaan?. Bukan ia marah sama Rio dan Sivia serta Mbak Nova. Tapi ia marah pada dirinya yang lemah, yang bahkan sedikitpun tak mampu melawan sakit itu. Tak punya kekuatan untuk melawan kanker itu.

"AAAARRGGH!" erang Alvin kali ini disertai dengan aksi guling-gulingnya di atas tempat tidur. Bergulung dengan selimut, memeluk guling, meremas bantal, menggigit bibir, atau apapun asal ia mampu menahan sakitnya yang tak mau berhenti menyiksanya.

Ia mulai mau menghentikan aksinya saat indera penglihatnya menangkap sebuah botol obat. Dengan susah payah, ia meraih botol obat yang berdiri di meja kecil di samping tempat tidurnya. Mencoba menelan pil kuning ajaib itu meski tidak dengan air. Rasanya sulit dan pahit.

Tak salah jika Alvin menyebutnya pil ajaib. Karena sesaat saja, sakit yang tadinya benar-benar mengamuk, mulai tenang dan mereda saat pil itu berhasil ia telan. Perlahan, ia merasa begitu ngantuk dan tertidur.

*

[Cakka]


"Kalian gak sekolah lagi? Udah tiga hari ini lo berdua bolos cuma buat nemenin gue." Cakka memulai pembicaraan setelah sebelumnya mereka habiskan waktu dalam diam di lorong rumah sakit pagi itu. Mencairkan ketegangan yang sedari tadi membius semuanya.

"Hari ini kan kita mau nemenin kemoterapi pertama lo." Agni tersenyum manis. Baik Cakka maupun Debo sama-sama membalas senyuman itu. Tak pernah disadari kalau mereka memiliki sahabat yang punya senyuman begitu indah.

"Haaahh, gue gugup!" desah Debo menyandarkan kepalanya di dinding. Menatap pintu ruangan Dr. Irsyad yang tertutup rapat. Apa sih yang dibicarakan kedua dokter itu di dalam sana? Betah amat!

"Cakka yang mau di-kemo, kok lo yang gugup?" tanya Agni disertai lirikannya ke arah Debo. Cakka hanya tersenyum mendengarnya.

Debo nyengir sambil mengubah titik fokus matanya pada Agni. "Hehe, kan seperempat hati gue ada di Cakka. Kalo lo sakit juga, perasaan gue gak enak. Karena apa? Karena seperempatnya lagi ada di lo. Jadi intinya, Separuh hati gue ada di lo berdua." Canda Debo menggombal. Agni dan Cakka berdecak mendengar pemaparan Debo; bisa aja tuh anak.

Kembali hening.

"Kka! Entar di dalam lo yang kuat ya? Anggap aja apa yang lo rasa dibagi dua sama kita." Kali ini Debo yang menjadi pemecah keheningan itu.

Hanya senyuman bingung yang Cakka tampilkan saat mendengar ucapan Debo. Pasalnya ia tidak tahu seluk beluk kemoterapi. Memang ia sering mendengar kata itu. Tapi ia tidak tahu dan tidak pernah ingin tahu apa dan seperti apa pengobatan kemoterapi yang saat ini akan ia jalani. Sehingga saat Ayahnya menganjurkannya untuk melakukan pengobatan itu, ia hanya mengangguk saja.

"Kemoterapi itu terapi biasa kan De?" tanya Cakka penuh selidik.

Debo dan Agni saling tatap. Cakka hanya diam menunggu jawaban.

"Haha... hm, i, iya..." jawab Debo ragu.

Cakka yang melihat gurat-gurat kebohongan di wajah Debo, hendak memprotes. Tapi terlambat. Dr. Irsyad dan pasukannya sudah berdiri di hadapan ketiga sahabat itu.

"Sudah siap Kka?!" tanya Dr. Irsyad tersenyum hangat. Cakka mengangguk saja sambil melirik Ayahnya yang berdiri di belakang suster berjilbab waktu itu―Suster Rahmi. Suster muda itu selalu terlihat paling baik dan ramah.

Cakka berdiri dari duduknya. Meninggalkan Ayah dan sahabat-sahabatnya yang menatapnya lirih. Seolah ia akan pergi ke medan perang.

"Gak sakit kan sus?" tanya Cakka memastikan saat ia berbaring di atas ranjang rumah sakit. Suster Rahmi hanya tersenyum di balik masker yang digunakannya. Tapi Cakka masih bisa melihat senyuman itu dari garis matanya yang menyipit.

"Ada kalanya, sakit itu hilang saat fikiran kita hanya difokuskan pada hal yang paling membahagiakan yang pernah kita dapatkan." Suster Rahmi berkata sambil memasang selang infus di tangan Cakka. Dr. Irsyad tersenyum mendengar penuturan Suster Rahmi. Dan suster-suster yang lain juga ikut tersenyum. Ketegangan dalam hati Cakka menyurut.

Perlahan tak ada lagi senyuman dari bibir tipis Dr. Irsyad dan suster-suster itu, termasuk Suster Rahmi. Raut wajah mereka kini berganti dengan goresan rasa iba, saat melihat tubuh Cakka menggigil pasca Dr. Irsyad menyuntikan obat-obatan kimia yang tadi disiapkan para suster, pada selang infus yang Suster Rahmi pasang di tangannya tadi.

"Aaaarrgghh!" Cakka mengerang keras. Tubuhnya sangat dingin. Tapi juga panas. Iblis obat-obat kimia itu ikut mengalir dalam peredaran darahnya. Membakar seluruh syaraf dalam tubuhnya. Ia merasa begitu sakit.

Agni meremas lengan Debo kuat-kuat saat melihat adegan itu di balik kaca pintu. Mereka seperti merasakan apa yang Cakka rasakan. Karena memang tanpa orang tahu, perasaan mereka sudah menyatu.

"Hentikan Dok! Sakit! Hh... hh..." lirih Cakka menyilangkan tangannya di dada. Menahan dingin; semuanya bohong! Kemoterapi ini sangat menyakitkan!.

Cakka terus menggigil. Dan tubuhnya mengejang; Bayangkan sesuatu yang indah! Bayangkan sesuatu yang paling menyenangkan!

Sesaat, masa-masa indah itu, bayang-bayang kebersamaan yang pernah ia torehkan bersama kedua sahabatnya bermunculan dalam benaknya. Menjadi cerita kelu yang menuntunnya untuk tertidur. Sakit itu hilang.

*

[Gabriel]

Iyel mengetuk-ngetuk jari jemarinya di atas buku kimia yang sedang ada di pangkuannya. Rasa bosan menjadi sahabat paling mengesalkan untuknya saat ini. Ia celingukan sendiri. Terlihat berfikir.

"Izin gak ya?" desisnya pelan. Ia menghentikan titik fokus matanya yang sejak tadi kesana kemari, pada lengan kirinya yang sudah ditemani selang infus selama tiga hari ini. "Kalo izin, pasti gak diperbolehkan. Yah, gimana nih? Masa iya sih gue melewatkan moment berharga ini? Hah, padahal ngarep banget deh hari ini ketemu Angel." Cerocos Iyel bicara sendiri.

Klek!

Pintu ruang rawatnya terbuka. Om Dave berjalan ke arahnya. "Cie, keponakannya Om hebat ya? Lagi sakit juga masih aja belajar." Puji Om Dave sambil mengambil Alih buku Iyel dan menyimpannya di atas meja.

Iyel tersenyum tipis. "Iyel udah pinter! Gak perlu baca buku. Tadi tuh cuma gaya aja biar dapat pujian Om sama suster-suster cantik disini. Hehe..." cengir Iyel PD.

Om Dave hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan Iyel. Ia meletakan punggung tangannya di leher Iyel. Iyel diam saja.

"Masih panas. Dadanya masih kerasa sakit gak?" tanya Om Dave melakukan pemeriksaan lainnya.

Iyel tertegun; agak sakit sih. Batinnya sambil melirik Om Dave dan tersenyum licik.

"Dadanya sih gak sakit. Tapi punggunnya nih pegel. Kayanya Iyel perlu jalan-jalan Om. Perlu refreshing dan lihat yang rame-rame gitu. Kan tidur mulu juga pegal Om." Alasan Iyel. Sebenarnya ia hanya ingin datang ke SMA 97 dan memberi support kepada tim futsal dan voli sekolahnya. Dan yang terpenting ingin melihat ketua osis SMA 97.

"Ya, Om?! Please! Iyel mau keluar nih." Lanjut Iyel memelas.

"Emang kamu mau kemana?" tanya Om Dave menatap Iyel serius.

"Ke SMA 97 Om. Nonton temen-temen Iyel bertanding. Ya, Om!"

Om Dave berfikir sejenak. Lalu menggeleng tegas. "Keadaan kamu belum pulih!"

"Yaelah Om, lihat deh! Iyel tuh sehat-sehat aja." Paksa Iyel mulai jengkel; kalau gini caranya, kabur deh gue! Tapi, kabur dari rumah sakit itu cara kuno. Ayo Iyel! Cari cara! Cari cara!

"Auw!" Rintih Iyel. Tiba-tiba saja dadanya sakit. Ia menatap Om Dave kesal.

"Sakit kan? Itu tandanya kamu gak sehat-sehat aja. Jadi, istirahatlah!" Om Dave meninggalkan Iyel.

Iyel mendengus sebal. Menatap punggung Om Dave yang kemudian menghilang di balik pintu; apa sih yang dia lakukan ke gue? Tahu aja dada gue masih sakit. Rutuknya dalam hati. "Iiikhh..." Iyel membaringkan tubuhnya. Berfikir. Apapun caranya, ia harus bisa keluar rumah sakit.

Berfikir!
Berfikir!
Berfikir!

Asal tahu aja! Gaya orang pintar semacam Iyel, kalau sedang cari ide sangat keren!

"Yeah!" Iyel bangkit dari tidurnya. Matanya berbinar. Setelah menghabiskan waktu lama, akhirnya ia menemukan juga ide itu. Perlahan ia turun dari ranjang rumah sakit. Berjalan menuju ruangan Om Dave.

"Om!" panggil Iyel membuka pintu. Dilihatnya Om Dave yang sedang berbicang dengan Ayahnya; kebetulan banget.

"Iyel?" kompak Kakak beradik itu. Iyel duduk di samping Ayahnya. Memasang wajah serius.

"Penyakit Iyel tambah parah ya? Iyel merasa waktu Iyel tuh udah deket. Malaikat kematian itu sepertinya sudah ada di samping Iyel." Iyel mulai mengeluarkan bisa-bisa politikusnya.

Baik Om Dave dan Pak Dayat sama-sama tercengang.

"Boleh gak Iyel melakukan banyak hal, atau minimalnya satu hal di saat terakhir-terakhir Iyel?!" Iyel memegang dadanya kuat. Sakitnya dua kali lipat lebih sakit dari biasanya. Belum juga ia sempurna menjalankan rencananya, penyakit itu sudah terlebih dulu menggagalkannya; ahh, Tuhan hukum gue nih namanya. Desahnya semakin kuat meremas dadanya. Iyel terbatuk-batuk dan...

"Iyel!" Pak Dayat menahan tubuh Iyel yang hampir terjatuh.

*

TBC

*

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea