Kamis, 28 Juli 2011

Sandal Jepit Ungu -Cerpen-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.55
Cerpen iseng.. denger pengalaman keponakan di pesantren bikin tangan gatal pengen buat cerpen ini.. hha
n_n


Dua jam sudah aku duduk di tempat ini. Di atas atap bidang datar masjid pesantren yang terletak tepat di samping asramaku. Tempat favorit yang biasa kudatangi dengan cara loncat dari balkon asrama lantai dua itu, adalah tempat yang sesuatu sekali untukku. Karena setiap kali aku dirundung masalah dan kepenatan yang kualami selama dua tahun aku diungsikan oleh orang tuaku di pondok pesantren ini.

"Huaahh!"

Aku menutup mulutku. Menguap.

Rasa kantuk sudah menyergap mata sipitku. Ditambah udara dingin yang mulai menjalar di tiap persendian tubuhku yang agak tidak fit. Dadaku sedikit sesak dihantam udara malam. Ahh, aku selalu lupa dengan penyakit bronkhitisku ketika duduk di tempat ini.

"Ke! Keke!"

Sepertinya aku mendengar suara seseorang memanggil namaku. Siapa? Aku tengok kanan kiri. Tak ada siapa-siapa.

Aku kembali menekuni aktifitasku. Menerawang malam. Tak peduli dengan rasa kantukku. Tak peduli dengan udara-udara dingin di sekitarku. Tak peduli dengan suara-suara aneh yang menyergap indera pendengaranku. Yang aku pedulikan hanya bagaimana aku bisa mendapatkan ide cemerlang untuk cerpen yang akan aku ikutkan sertakan dalam lomba yang satu minggu lagi menemui batas pengiriman.
"Rifki! Hei, Rifki Al-Aziz!"
Panggilan itu kembali terdengar. Kali ini sipemanggil menyebut nama lengkapku. Aku kembali tengok ke kanan dan ke kiri. Masih tak ada siapa-siapa. Argh, suara itu mengganggu ritual pencarian ideku. Aku menengadah. Siapa tahu suara panggilan itu berasal dari langit. Mungkin Allah akan memerintahkan Jibril untuk menurunkan ide yang spektakuler untukku. Sama seperti yang dilakukannya kepada nabi Muhammad SAW. dulu saat memberikan wahyu.

"Hahaha..." Aku tertawa pelan mengakui pemikiran gilaku.

"Gila kamu Ke! Banyak-banyak istighfar sana!"

Lagi-lagi secara repleks kepalaku bergerak. Menengok ke arah yang sama, ditambah ke belakang kubah yang kujadikan sandaranku.
Dan tetap saja tak ada siapa-siapa. Lagi pula siapa sih yang berani teriak-teriak memanggil namaku di malam-malam gini?. Bisa-bisa Pak Kyai marah dan tanpa ba bi bu, langsung menjatuhkan vonis tajir baca surat yasin tujuh kali di tengah lapangan, lantaran melanggar tata tertib kepesantrenan nomor tiga : membuat keributan dan mengganggu orang lain.

Lalu siapa yang sejak tadi memanggil namaku? Tak mungkin jika dia hantu berambut pirang yang jadi isu terhangat dibicarakan para santri. Kalaupun iya, kenapa tak kuajak dia mencari ide sekalian? Siapa tahu hantu itu lebih kreatif. Tapi, aku merinding juga memikirkannya.

 BRUK!

Aku kembali dari alam bawah sadarku. Menghentikan niat gilaku untuk mengajak si hantu rambut pirang menemaniku. Kulirik benda yang baru saja menimbulkan suara yang lumayan keras itu. Sebuah sandal jepit berwarna ungu, berhasil parkir diatas kertas yang sengaja kuletakkan di samping kananku.

Aku mengambil sandal itu tanpa ingin tahu siapa yang melemparnya. Dan aku terkikik geli mengamati sandal ungu bermotif bunga-bunga dengan kupu-kupu yang cukup besar diatasnya itu. Dan otakku flashback ke masa itu.

  ***

"Aduh Keke, kapan kamu berhenti minta sandal baru? Hampir tiap minggu tahu gak, kamu telfon mengeluh tentang sandal."

"Iya, tapi sandalnya Keke ilang mulu, Ma..."

"Ilang kemana Ke?"

"Ya, Keke gak tahu."

Percakapan itu. Percakapan via-telepon yang beberapa bulan lalu terjadi antara aku dan Ibuku. Percakapan tentang sandal-sandalku yang selama dua tahun tinggal di ponpes hanya mampu bertahan selama satu atau dua minggu menjadi hak milikku. Seterusnya, sandal-sandal itu hilang entah kemana.

Di pesantren, kehilangan sandal itu sudah menjadi budaya. Dan aku yang paling sering menjadi korban kebudayaan itu. Penyebabnya hanya ada dua, kalau bukan karena ghashab (meminjam tanpa izin) yang sudah dihalalkan, ya karena tuyul-tuyul sudah berubah profesi menjadi pencuri sandal.

"Kalau gini caranya, Keke harus lapor pada pihak yang berwajib!" Kesal Ibuku saat itu.

"Hah? Mana mungkin Ma? Entar malah Keke dikatain tak berprikemanusiaan dan berpriketuyulan. Masa kemalingan sandal saja lapor polisi. Hehe.." candaku sedikit meredakan rasa kesal dalam diri Ibuku.

"Tapi coba Keke hitung! Berapa kerugian yang mama dapatkan karena kehilangan sandal-sandal Keke itu?" Protes Ibuku tak bisa diajak bercanda. Suaranya terdengar serius.

Aku hanya tertawa pelan mendengar nada suara Ibuku. Ia jengkel."Iya Ma, entar Keke lapor ke pihak yang berwajib kalau kerugiannya sudah mencapai modal buat toko sandal."

Ibu mendengus kesal. Aku cekikikan sendiri.

"Keke sandalnya mau yang kaya gimana? Yang pasti mama gak mau lagi beliin Keke sandal indian dan sandal bermerk lainnya." Ujar Ibuku setelah beberapa saat terdiam.

"Terserah mama aja deh!" Kata-kata terakhirku sebelum salam yang memutuskan pembicaraanku bersama Ibu.

***

Esoknya, Kak Alvin―Kakak pertamaku, datang ke ponpes untuk menyerahkan sandal pemberian Ibu. Selain membawa sandal, ia juga membawa berbagaii perbekalan lainya.

"Mama bilang, kalau sandal ini hilang lagi, Mama tidak mau tahu. Pokoknya sandalnya Keke jaga baik-baik!" Kata Kak Alvin memandangku aneh. Ia seperti menahan tawa. "Tapi kaka yakin sandalnya gak akan hilang lagi." Sambungnya mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong keresek.

Mataku terbelalak. Menatap lekat-lekat sebuah sandal jepit ungu dengan motif bunga dan sebuah boneka kupu-kupu yang cukup besar diatasnya. Aku meraih sandal itu. Mana mungkin mama ngasih sandal anak perempuan padaku? Ini lebih cocok dipakai Kak Rifa, Kakak keduaku. Bukan aku. Ini sudah tidak wajar. Tanda-tanda akhir zaman.

"Sudahlah! Seperti apapun kamu melototi sandal itu, mata kamu tetap sipit. Dan gak ada tawar menawar! Suka atau tidak, kamu tetap harus pakai sandal itu!" Tegur Kak Alvin tertawa melihat ekspresiku. Sangat menyebalkan.

Aku menjatuhkan sandal itu. "Aku gak mau! Emang gak ada sandal lain gitu Kak? Kalaupun di Bogor sudah tidak ada sandal laki-laki lagi, Kakak kan bisa beli di daerah lain sebelum kesini!" Cerocosku cemberut. Bergidik ngeri. Bagaimana tanggapan anak-anak lain saat aku mengenakan sandal itu.

"Percaya deh! Sandalnya gak akan hilang lagi. Karena gak mungkin ada santri laki-laki yang mau mengenakan sandal ini selain kamu. Ya, kecuali ada tuyul yang suka sama warna ungu sama kupu-kupu." Ledek Kak Alvin mengesalkan. Ia tertawa.

Aku memajukan bibirku semakin ke depan. Ingin rasanya aku melempar wajah oriental Kak Alvin yang sok cool itu dengan sandal jepit ungu itu. Bagaimana bisa Ibu berfikir seperti itu? Sungguh kreatif! Sangat-sangat kreatif!

"Sudahlah!" Kak Alvin mengambil sandal itu dan meletakannya di telapak tanganku. Ada kertas di baliknya. "Pengumuman lomba. Deadlinenya masih ada dua bulan lagi. Kakak pulang ya?" Pamitnya mengulurkan tangannya.

Aku menerima uluran tangannya. Mencium punggung tangan kekar itu. Tanpa senyum sedikitpun, aku melepaskan kepergiannya.

"Jaga diri baik-baik! Jaga sandalnya baik-baik juga!"

Begitulah pesan terakhirnya. Aku sendiri masih memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya saat aku mengenakan sandal itu. Dan tampaknya sebuah sixth sense tiba-tiba menyergap otakku. Aku tahu apa yang akan terjadi.

***

Benar saja apa yang aku fikirkan sebelumnya. Aku menjadi topik hangat yang dibicarakan para santri. Semua mata menatapku layaknya bintang iklan. Ya, iklan sandal jepit mode baru untuk anak laki-laki. Kak Ali―muddabir (Rois), yang dikenal galak dan jarang tersenyum-pun, tertawa guling-guling melihatku mengenakan sandal jepit ungu itu. Aku menanggung malu tak alang kepalang gara-gasa sandal itu. Tega nian, wahai kau, Ibuku!

"Hahaha.. cocok Ke sandalnya. Serasi sama nama panggilan kamu. Hahaha.." Ejek Afnan saat kami keluar dari madrasah usai mengaji malam.

Aku hanya nyengir singkat menanggapi cibiran Afnan. Kesal. Kenapa ujung-ujungnya harus disangkut pautkan sama nama panggilanku? 'Keke'. Ya, namanya perempuan banget. Tapi bodo ah sama nama itu. Yang aku fikirkan hanya bagaimana caranya aku tidak mengenakan sandal itu lagi.Tunggu sampai satu minggu. Dan sandal itu akan hilang! Ya, sandal itu akan hilang minggu depan.

Tapi nyatanya? Setelah tiga minggu lebih lima hari, sandal ungu itu masih istiqomah menemani telapak kakiku. Benar saja. Tak ada santri laki-laki lain yang mau memakai sandal itu kecuali aku. Semuanya hanya karena tak ada sandal lain yang bisa kukenakan. Aku tak biasa melakukan ghashab seperti santri pada umummya.

"Aneh ya, sandal Keke yang ungu itu awet." Celutuk Gilang, temanku saat kami berkumpul bersama di aula pesantren, menunggu jadwal mengaji seba'da isya.

Aku menyeringai.

"Tuyulnya berhenti kali ngoleksi sandal Keke. Disangka Keke bukan laki-laki tulen. Hahaha.."

Tawa membahana di ruangan besar itu begitu Afnan nyeletuk seenaknya. Temanku yang satu itu paling bisa buat orang lain gondok

Aku menelan ludah sambil menunduk dalam-dalam. Memandang haraf-haraf gundul dalam kitabku. Rasanya aku ingin membuang sandal itu. Aku tidak mau lagi melihatnya. Masa bodoh dengan amanat Ibu dan Kak Alvin. Tak peduli jika kakiku tak mengenakan alas saat bepergian. Yang pasti aku benci sandal itu. Benci bukan main!

***

"Aduh... duh... aw! Pelan-pelan Nan! Perih tahu." Aku meringis begitu Afnan mengikat kakiku dengan kain yang sudah ditempeli jahe di baliknya.

Afnan hanya menyeringai gemas melihatku.

Aku tertegun sambil sesekali mengaduh menahan sakit. Bagaimana bisa sandal jepit ungu itu hilang sendiri tanpa aku capek-capek membuangnya? Ternyata apa yang aku ucapkan dalam hati tempo hari itu benar-benar menjadi do'a. Sandal itu sudah tidak ada di tempat saat aku keluar dari aula. Hatiku bersorak senang mengakui sandal itu hilang. Tanpa aku tahu apa yang akan terjadi setelahnya.

Awalnya aku biasa saja berjalan tidak menggunakan alas di lingkunan pesantren karena jalannya ber-pavingblock. Lagi pula, aku tidak bepergian kemana-mana selain ke madrasah masjid dan tempat-tempat lain yang berjarak dekat dari asrama. Dan di tempat-tempat itu tentu sudah disediakan kolam untuk cuci kaki.

Tapi, lama kelamaan telapak kakiku jadi kering, keras, pecah-pecah dan perih setiap kali terkena air. Dan itu lebih buruk dari ejekan teman-temanku. Aku menelepon Ibuku dan minta dibelikan sandal baru. Tapi rupanya Ibu tidak mau peduli, ia nyerocos panjang lebar. Memarahiku meski aku sudah bilang bahwa kakiku sakit-sakit gara-gara gak pake sandal. Ia tak iba sekalipun mendengar ceritaku.

Dan mau tidak mau, akhirnya aku berusaha mencari sandal jepit ungu itu di tiap pelosok pesantren bersama kedua temanku―Afnan dan Gilang. Aku juga rindu dengan sandal jepit ungu itu. Aku benar-benar merasa kehilangan. Dan yang paling penting aku membutuhkannya.

"Udah satu minggu lukanya gak kering-kering. Infeksi deh Ke kayanya." Kata Afnan menatapku serius.

Aku mendesah keras-keras. Entah bagaimana caranya telapak kakiku tertusuk paku saat mencari si sandal jepit ungu itu. Padahal sudah jelas aku mengenakan sandal Kak Ali saat itu. Tanpa izin memang. Dan Allah langsung menghukumku sementara santri-santri lain yang biasa melakukan ghashab tidak mendapatkan kecelakaan sekalipun. Aku tak mengerti.

"Istirahat aja dulu Ke! Kata Kak Ali, kalau lukanya gak sembuh-sembuh juga, dan demam kamu gak turun-turun, dia bakal hubungi Ibu kamu biar jemput kamu pulang." Tutur Afnan sebelum pergi ke madrasah untuk mengaji.
 

Aku terdiam cukup lama. Memikirkan sandal jepit ungu. Sandal itu sungguh-sungguh memberikan banyak pelajaran untukku. Saat ia mempermalukan diriku, saat aku tak ingin lagi melihatnya, saat aku bersusah payah mencarinya, hingga saat dia membuat aku demam lantaran infeksi yang terjadi di bagian kakiku karena tertusuk paku ketika mencarinya. Dan saat aku benar-benar merasa kehilangan.

"Argh!" Erangku pelan. Mengangkat tubuhku. Aku rasa tubuhku cukup baikan dibanding beberapa hari ke belakang. Aku mengedarkan pandanganku ke setiap jengkal ruangan bercat hijau itu. Sangat berantakan. Sampai akhirnya pandanganku terfokus pada kertas putih polos yang nangkring diatas kitab kuningku.

Informasi lomba yang hampir aku lupakan. Deadlinenya? Ahh, sandal jepit ungu itu membuat aku yang hobi menulis, lupa event penting itu! Masya Allah..

***

"Woi Ke! Turun! Ngapain disana?"

Aku terhenyak mendengar teriakan itu. Kututup ceritaku tentang si sandal jepit ungu dan segera menengok ke arah bawah. Sudah berdiri Afnan, Gilang, Kak Ali dan Abah jali―satpam pondok pesantren.

"Katanya sakit, kenapa diem disana?" Kak Ali menatapku bingung.

Aku cengengesan. "Ngomong-ngomong, siapa yang lempar sandal ini?" Tanyaku tak mempedulikan pertanyaan Kak Ali. Aku bahagia karena sandal yang aku cari-cari kini ada digenggamanku.

"Hantu rambut pirang kali Ke." Celetuk Afnan menakutiku. Aku sedikit merinding. Menyeringai ke arah Afnan.

"Afnan yang lempar Ke, Abah yang ngambil sandalnya Keke waktu itu. Abah kira itu sandalnya santri puteri yang hilang." Jelas Abah Jali. Aku cengo. Kak Ali menahan tawa. Dan Afnan serta Gilang tertawa geli. "Satu lagi masih di asrama puteri" Sambung Abah Jali.

***

Panas. Benar-benar panas. Hampir tiga jam aku, Afnan dan Gilang berdiri di tengah lapangan upacara. Menghadap ke arah timur. Ke arah dimana matahari menaik dan menyengat kulit kami. Keringat bermunculan dari tiap pori-pori tubuh. Membasahi baju koko yang kami kenakan. Dan kami masih harus mengulang tiga kali lagi qiroatul surah yasin untuk menghentikan aksi ini.

Aku menarik nafas dalam-dalam. Menghentikan bacaanku sejenak. Aku memandang kedua temanku bergantian. Mereka terlihat payah. Dan semuanya terjadi karena aku.

Kami harus menjalani hukuman membaca sepuluh kali surat yasin, karena telah melanggar tata tertib kepesantrenan nomor sepuluh : Masuk ke wilayah asrama puteri. Aku, Afnan dan Gilang yang berniat mengambil sandal ungu itu, justru disangka mengintip santri puteri. Mereka melaporkannya pada Pak Kyai. Dan alhasil? Disinilah kami sekarang, dengan di temani kitab majmu' masing-masing.

"Sandal kamu Ke, bener-bener deh ajaibnya!" Komentar Gilang menghentikan bacaannya. Ia memandangku yang juga memandangnya. Begitupun dengan Afnan.

Aku tertawa. Afnan dan Gilang ikut tertawa.

"Hahaha... awas loh hadiah lombanya jangan lupa! Itung-itung nemenin kamu disini." Sambung Afnan mengingatkanku pada hadiah lomba menulis cerpen yang kemarin kuterima.

Aku tersenyum simpul sembari mengangkat ibu jariku. Meski panas, kaki pegal dan dehidrasi serta rasa malu karena dilihatin santri-santri lain yang berlalu lalang, kami tetap memasang tampang bahagia. Bahagia karena si sandal jepit ungu-ku itu, meski cukup membuatku kesal, jengkel dan menyusahkan, dia mampu membuatku memenangkan lomba itu. Ia memberi ide yang wah. Lebih wah dari ide kreatif Ibuku.

Sandal jepit ungu itu membuatku mampu duduk dalam beberapa jam di lab komputer sekolah untuk menulis cerpen. Cerpen yang aku buat dengan tujuan mengingatkanku dan siapapun yang membacanya.

Tentang terkadang kita tidak sadar, bahwa apa yang kita benci adalah hal yang justru kita rindukan di saat dia tak lagi di sisi kita.
Kadang kita tidak sadar, bahwa apa yang menyebalkan untuk kita adalah hal yang justru menyakitkan di saat kita kehilangannya.
Kadang kita lupa, bahwa apa yang menurut kita buruk adalah hal yang justru paling baik dan paling kita butuhkan.
Ya, terkadang kita selalu melihat segala hal dalam satu sisi saja. Kita lupa masih banyak sisi yang harus kita perhatikan.

2 komentar:

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea