Kamis, 28 Juli 2011

Surat Terakhir Untuk Kakak Terbaik (Cerpen)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.53

Yeah, cerpen ini terinspirasi dari cerbung aku yang Harkat-Harkat Kecil..

0_0

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
Sejenak kumenghentikan bacaanku begitu makna dari surat Al-Baqarah ayat 216 itu kubaca. Arti ayat itu tidak asing bagiku, aku pernah mendengarnya dari seseorang. Dan kini aku tahu dari sinilah orang itu mengutip kata-kata itu. Kata-kata yang kudengar saat aku menangis pilu mengakui satu hal yang menurutku sangatlah tak adil. Sesuatu yang membuatku benci dengan semua keadaan yang kuterima. Keadaan yang bahkan seharusnya dibenci oleh orang itu. Bukan aku.

Aku menutup Al-Qur'anku tanpa menyelesaikan bacanku sampai maqra. Tanpa mengucapkan shadaqallah untuk mengakhiri kalam Allah itu. Semuanya terlalu menyesakkan hingga rasanya lidahku tak bisa lagi membaca ayat-ayat itu dengan benar. Semuanya terasa percuma. Percuma karena tak ada lagi teguran yang kudapatkan saat aku salah dalam tajwid maupun makraj. Semuanya tak lagi kudapatkan semenjak orang itu menjadi diam dan tak mau bergerak sama sekali.

Katanya aku terlalu dini untuk mengerti semua ini. Usia 12 tahun terlalu kecil untuk faham dengan apa yang sedang terjadi. Namun orang dewasa mana yang bisa mengerti perasaanku? Orang berusia berapa tahun yang faham dengan apa yang kufikirkan? Siapa yang tahu bahwa aku takut dengan semua ini?

"Mifa! Ngajinya udah?"

Aku menengadah setelah beberapa saat membenamkan wajahku di samping tubuh orang yang saat ini masih tetap istiqomah dalam tidur panjangnya. Pandanganku beralih menatap wanita paruh baya yang saat ini berdiri di samping tempat dudukku. Kemudian kembali memandang wajah orang itu. Hampir seluruh wajahnya terhalangi masker oksigen. Padahal jika tak ada alat itu, wajah itu terlihat begitu tampan.

"Makan dulu ya? Tuh Ayah udah nunggu di kantin. Biar Kakaknya Ibu yang jaga." Bujuk Ibuku mengelus lembut kepalaku yang masih terhalangi kerudung biru tua, warna favorit orang itu. Orang yang Ibu bilang Kakakku.

Perlahan aku mengangguk pelan. Lalu berjalan gontai ke arah pintu keluar setelah sebelumnya mengamankan Al-Qur'anku di meja kecil di samping ranjang Kakakku. Kakiku berat melangkah pergi dari ruangan itu. Ruangan pucat yang sudah seminggu ini mejadi rumah kedua Ayah, Ibu dan aku. Sesungguhnya aku ingin selalu di sampingnya.

***

Azam. begitulah orang memanggilnya, termasuk aku. Azam kependekan dari Ahmad Zamzam. Sebenarnya aku lebih suka ia dipanggil Zamzam. Karena jika aku menggunakan nama Azam untuk memanggilnya, ia akan protes besar-besaran lantaran yang aku sebut bukan Azam tapi Kazam. Kak Azam, itulah maksudku.

Jika orang bercerita tentang pacarnya, temannya, Ayah atau Ibunya, maka yang ingin aku ceritakan tentang Kakakku. Kakak juara satu yang pernah kumiliki di dunia ini. Kakak terhebat yang kuteriakan namanya hingga semua orang tahu, tak ada yang kubanggakan selain dia.

"Kehidupan ini seperti ikhfa, samar. Namun nikmat yang Allah berikan seperti idzhar, jelas."

"Jadi hukum nun mati menghadapi fa itu apa? Idzhar atau ikhfa?"

"Huruf ikhfa ada berapa?"

"Lima belas. Dan Kazam belum kasih tahu sebelumnya."

"Kalau idzhar? Kakak udah kasih tahu kan?"

"Udah. Hurufnya ada enam."

"Apa fa termasuk di dalamnya?"

"Tidak."

"Dan sekarang tentu kau tahu jawabannya. Oya, satu hal yg perlu kamu biasakan. Panggil Kakak aja gak perlu pake nama. Gak sopan."

Baru setahun yang lalu Kak Azam mengajarkanku pelajaran itu padaku yang saat itu baru menamatkan iqra enamku, dan mulai membuka halaman pertama Al-Qur'an. Saat itu ia masih terlihat baik-baik saja meski tubuhnya terlihat lebih kurus. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Yang aku tahu, Kak Azam pulang dari Pondok Pesantren dengan alasan sudah menamatkan sekolah tsanawiyyahnya dan akan melanjutkan Aliyyahnya di pesantren yang berbeda.

Awalnya aku mengiyakan alasan itu karena cukup berlogika. Namun, setelah hampir setengah bulan pasca tahun ajaran baru, Kak Azam belum juga mengurusi pendaftaran ke aliyyah atau pesantren manapun. Dia tetap tinggal di rumah dan tidak ada tanda-tanda akan pergi ke ponpes. Aku tidak mengerti dengan semuanya dan aku mulai curiga. Hingga akhirnya aku mulai tahu semuanya. Semua yang disembunyikan semenjak Kak Azam pulang dari ponpesnya.

"Emang Mifa gak ingin ya Kakak tetap di rumah?" Tanya Kak Azam saat aku menanyakan kenapa ia tidak juga pergi ke pesantren.

"Idih, tidak Kak! Malahan Mifa tuh seneng Kakak di rumah. Kan bisa ngajarin Mifa sampai khatam." Jawabku cengengesan sambil menatap Kak Azam yang masih menyibukan diri dengan laptopnya.

"Mifa tahu gak siapa yang menghidupkan kita?" Kak Azam bertanya kembali tanpa mengalihkan perhatiannya.

"Allah." Jawabku enteng. Lagian siapa lagi kalau bukan Dia, sang penguasa seluruh alam yang kusembah lima kali dalam sehari.

"Kalau begitu yang mematikan kita, Allah juga. Nah, kalau urusan mati, mau Mifa dulu atau Kakak dulu?"
Secara repleks alisku bertaut.Bingung dengan pertanyaan Kak Azam yang satu itu. "Yang tua duluan dong Kak. Haha.." candaku tertawa.

Kak Azam ikut tertawa, tapi lebih pelan dariku. "Entar kalau Allah benar-benar mengambil Kakak lebih dulu, Mifa jangan nangisin Kakak loh! Kan Mifa sendiri yang minta Kakak mati duluan. Hehe.."

"Ye, PD! Sayang tahu air mata Mifa kalau keluar hanya untuk nangisin Kakak." Celetukku ngasal padahal hatiku takut ia pergi lagi dari sisiku. Jangankan untuk kata mati, waktu ia pergi ke Pesantren saja, tanpa sepengetahuan orang lain aku suka nangis-nangis ngangenin dia.

Tidak adakah kata yang lebih kreatif untuk mengganti nama penyakit kanker sehingga musibah yang aku dan keluargaku alami ini tidak tampak seperti kisah-kisah novel atau cerita sinetron? Tidakkah ada kata lain yang lebih sederhana untuk mendeskripsikan penyakit itu, hingga tak membuatku berdiri di puncak ketakutan yang maha tinggi? Tidak adakah pilihan yang lebih baik untukku, Ya Allah?

Bagiku Kak Azam adalah sesuatu yang istimewa. Sangat istimewa, sehingga Engkau memerintahkan sel-sel kanker itu berkembang di sekitar paru-parunya hingga menyebar pada organ tubuhnya yang lain. Dan pada akhirnya dengan sangat mudah Engkau mengambilnya dari sisi kami. Namun, tidakkah ada cara lain? Tidak adakah cara yang lebih halus untuk ia memenuhi seruanMu, ya Allah?!

Aku tidak suka melihat Kakakku berjuang melawan kanker itu. Aku tidak suka ia menitikan air matanya karena menahan sakit yang membabi buta dalam tubuhnya. Aku tidak suka wajah tampannya terenggut lantaran pembengkakan yang terjadi di sekitar lehernya hingga merambat pada wajahnya. Dan yang paling tidak bisa kuterima bagaimana mungkin suara indahnya harus terebut paksa juga? Suara indah yang hanya dia yang punya. Suara indah yang mengantarnya menjadi qori internasional, lima tahun yang lalu. Suara indah yang selalu kudengar seba'da magrib dan subuh di balik pintu itu.

Lalu bagaimana bisa, ya Allah? Bagaimana bisa kau membuat orang sebaik Kak Azam menderita seperti itu. Orang yang bahkan masih bisa tersenyum dan mengatakan bahwa apa yang ia terima adalah sesuatu yang baik? Aku tak mengerti.

"Bagi orang-orang beriman, segala keadaan termasuk musibah tetap akan menjadi kebaikan baginya. Rasulullah bersabda: Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu menjadi baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur. Dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar. Dan itu baik baginya." Ujar Kak Azam saat aku menangis tersedu-sedan di sampingnya yang tengah terbaring di tempat tidur karena sakit. Suaranya saat itu terdengar serak dan parau, membuat tangisku semakin hebat.

"Katanya Allah itu maha adil. Tapi kenapa ia memberikan penyakit kepada Kakak? Kakak kan baik. Kakak rajin shalat, rajin puasa sunnat, rajin baca Qur'an juga. Dan saking rajinnya Kakak hampir hafal semua isi Al-Qur'an. Terus kenapa Allah memberikan penyakit itu gak sama orang-orang jahat di luar sana?"

"Kakak juga rajin marahi kamu." Kak Azam tertawa pelan sambil mengangkat tubuhnya. Ia mengelus lembut rambutku yang saat itu tergerai. Mata cekungnya yang mulai mengabur dan tidak bisa melihat jelas, menatapku dengan begitu hangat.

"Mifa tuh rela dimarahi Kakak terus. Asal Kakak tetap di samping Mifa."

Kak Azam kembali tersenyum. Ia merengkuhku ke dalam dekapannya. Hangat, sangat hangat padahal tubuhnya saat itu begitu dingin. "Allah adil, Mifa! Ia sayang Kakak, Ia sayang Mifa dan Ayah serta Ibu. Ia rahmatallil'alamin. Sayang seluruh makhluk. Ia juga berkuasa atas semua hidup kita termasuk Kakak. Dan terserah Dia ingin melakukan apapun pada kita. Kita hanya tinggal menerimanya dengan ikhlas."

Dewasa. Ia sungguh dewasa.

Mungkin 3 tahun jauh dari Ayah dan Ibu membuat Kak Azam tumbuh menjadi pribadi yang mengerti. Mengerti dengan kehidupan ini, usianya 15 tahun. Tapi cara berfikirnya lebih dari anak-anak diatasnya. Entah cara apa yang dilakukan ustadz-ustadz di pesantren Kak Azam sehingga mampu menyulap dia menjadi sebijak itu.

"Mifa! Makanannya kenapa dibiarkan gitu?"

Aku terhenyak. Menatap ayah yang sepuluh menit yang lalu meninggalkanku untuk shalat isya. Wajah Ayah mirip sekali dengan Kak Azam, hanya saja Kak Azam lebih tampan.

Ayah duduk di dekatku. Ia mengelus lembut punggungku. Aku tahu bahkan laki-laki tua ini lebih takut kehilangan Kak Azam. Tapi, setidaknya beliau sudah menghabiskan banyak waktu bersama Kak Azam. Beliau sudah melakukan banyak hal untuk Kak Azam. Sementara aku? Bahkan baru satu tahun ini kami bisa dekat. Dulu, sebelum Kak Azam pergi ke pesantren, Kami tak seakur saat ini. Dan di saat aku mulai bisa dekat dan merasakan kasih sayang seorang Kakak, kejadiannya seperti ini. Ahh, setidaknya Allah memberikan kesempatan meski hanya satu tahun. 'Bersyukurlah, Mifa!'

"Ayah tahu gak? Kenapa Mifa gak ingin pergi ke pesantren seperti Kak Azam?" Tanyaku pelan.

Ayah diam saja menunggu aku yang menjawab kembali pertanyaanku.

"Karena Mifa ingin selalu di samping Ayah dan Ibu. Tapi Kak Azam mengajarkan satu hal pada Mifa. Semakin jauh jarak antar anak dan orang tua, justru semakin mendekatkan batin keduanya. Lulus SD nanti Mifa akan pergi ke pesantren, Yah. Mifa ingin lebih dekat dengan Ayah dan Ibu."

Ayah mencium puncak kepalaku. Aku menangis dalam dekapan Ayah. "Bahkan kalaupun Ayah mampu mendidik kamu dan Kakakmu dengan tangan ayah sendiri, Ayah tetap akan menyerahkan kalian pada ahli-ahli pendidik itu."


***
Aku, Ayah dan Ibu berdiri di samping ranjang Kak Azam yang sudah membuka mata sejak sepuluh menit yang lalu. Betapa bahagia bukan buatan saat aku mendapat telepon dari Ibu seusai shalat isya tadi, pasca menghabiskan makananku di kantin. Kak Azam sudah sadar dari komanya, dan saat ini ia tengah tersenyum kepadaku. Kepada kami.

"Kakak, tadi Mifa berdo'a agar Kakak kembali membuka mata. Dan Allah mengabulkan do'anya Mifa Kak." Laporku yang hanya dibalas dengan senyuman lemah dari bibir tipis itu.

Aku tahu bahkan Kak Azam sudah tidak bisa bicara lagi. Penyakit itu sudah merusak pita suaranya yang indah. Suara yang dulu selalu dibanggakan semua orang. Aku, Ibu, Ayah, guru-gurunya, teman-temannya dan siapapun yang mendengarnya ketika melafalkan kalam-kalam Allah.

"Kok aneh ya, kenapa suara Kazam indah?" Aku menatap Kak Azam yang tengah menyelesaikan tadarusnya. Saat itu kami belum sedekat saat ini.

"Karena nama Kakak Zamzam, makanya suara Kakak sejernih air Zamzam. Jadi, jangan panggil Kakak dengan nama jelek itu lagi!" Bangga Kak Azam sambil melempar bantal ke arahku.

Aku cemberut karena bantal itu mendarat tepat di mukaku. "Lagaknya, mentang-mentang udah jadi orang terkenal! Aku do'ain suarnya jadi jelek kayak bebek!"

Saat itu aku hanya bercanda. Hanya sekedar meledeknya. Tapi ternyata Allah menganggap apa yang aku ucapkan itu do'a. Dan do'aku benar-benar dikabulkan. Dan faktanya? Justru aku yang lebih sakit dengan semua ini. Aku lebih sedih kehilangan suara itu. Aku menyesal. Seharusnya aku tidak main-main dengal lisanku.

"Apa Zamzam? Zamzam ingin bicara apa?" Tanya Ibu saat melihat mulut Kak Azam bergerak-gerak kecil.

Kak Zamzam menatapku. Kemudian menatap Al-Qur'anku. Aku tahu apa maksudnya. Ia ingin aku mengaji untuknya. Dengan segera aku meraih Al-Qur'an itu dan duduk di kursi. Ayah dan Ibu memperhatikanku. Mereka tersenyum hangat.

"Apa Kakak ingin aku mengaji?" Tanyaku memastikan.

Kak Azam mengangguk pelan.

Dengan sangat hati-hati aku membuka Al-Qur'anku. Surat Al-mulk, surat favorit Kak Azam. Surat yang selama satu minggu ini aku coba hafalkan. Aku ingin seperti Kak Azam yang hafal surat-surat selain juz'amma di usianya yang masih kecil.

"Bismillahirrahmanirrahim..."

Aku memulai. Ayah diam menyimak bacaanku. Ibu memilih memperhatikan Kak Azam yang masih menatapku serius. Keadaan menjadi lebih sunyi. Sangat sunyi. Hanya suaraku saja yang menjadi musik pengiring malam ini. Mengundang seseorang masuk ke dalam ruangan ini. Entah siapa.

Tapi tunggu! Tampaknya bukan seorang. Tapi begitu banyak, dan semuanya kasatmata. Aku tak tahu siapa. Yang aku tahu kehadiran mereka membuat ruangan ini lebih hangat dan menenangkan.

"Ma...hh..a..sih.." Ujar Kak Azam pelan begitu aku menyelesaikan bacaanku. Aku mengangguk memperhatikan wajahnya yang sudah dipenuhi keringat dingin. Dan tanpa diundang air mataku meluncur bebas begitu dengan jelas mata sayunya secara perlahan-lahan menutup. Tubuhnya melemas dan dingin. Ia kembali tertidur, namun bukan untuk bangun kembali.

Ibu menangis histeris begitu Ayah melafalkan kalimat innalillahi wainnailaihi roji'un. Begitupun dengan aku. Kata itu menjadi sengatan yang paling menyakitkan dalam hati kami. Membuat air mata ini terus mengalir dan tak kuasa dibendung. Namun, bisakah air mata ini mengubah ceritaMu, ya Allah? Yang kutahu, aku pernah bilang, tidak akan menangis jika Engkau mengambilnya. Dan nyatanya? Sama sekali tidak bisa. Aku tak bisa melakukan itu.

"Tahukah engkau, Mifa? Saat kau membaca kalam Allah, malaikat-malaikat itu berjalan di belakang Azrail. Membacakan do'a untuk Kakakmu. Mereka menjemputnya menuju medan juang yang sebenar-benarnya. Dan sungguh orang yang menganggap cobaan berat yang menimpanya itu sesuatu yang baik, maka ia adalah sungguh-sungguh manusia terbaik."

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea