Kamis, 30 Agustus 2012

Don't Over_last part (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 01.58


*
[Alvin]
Semilir angin lembut menerpa segala objek di sekitarnya. Tak terlihat, tapi terasa. Seperti cinta. Tidak kasat, namun mampu dirasakan. Dan cinta itu yang menuntun mereka duduk bersama di beranda rumah sakit sore itu. saling berangkulan, saling bertcerita tentang masa-masa indah yang pernah terpijaki, saling berbagi tawa ceria. Meski ada gundah dalam dada, tak ada yang mampu merubah indahnya sang senja.

Lo tuh, tetep aja penulis amatiran, tak bermutu. Tapi untuk saat ini gak ada embel-embel gendut, Vi. Lo jadi lebih kurus, ya?

Alvin yang baru saja sadar dari pingsannya dan meminta keluar ruangan untuk duduk bertiga di beranda Rumah sakit itu, nyeletuk tanpa perasaan. Padahal tadi ia membuat orang-orang cemas, sekarang justru ia membuat orang yang duduk di samping kirinya kesal.

Sivia menyeringai ke arah Alvin yang masih dengan raut wajah polosnya. Ikh, mentang-mentang udah duet bareng sama Alyssa, mojokin gue-nya makin asyik aja, lo! cemberut Sivia tidak terima.

Rio yang duduk di samping kanan Alvin, tersenyum simpul melihatnya. Selama beberapa bulan ini, tidak ada adegan Tom And Jerry yang bisa ditontonnya.

Alvin tertawa puas. Angin lembut itu menyibakan rambut dan pakaian mereka dengan halus. Sungguh menyejukan!

Tapi gak apa-apa deh, gue disebut penulis gak bermutu juga. Emang iya. Haha, dibilang penulis sama lo, meski gak bermutu juga, gue seneng banget! Sivia tersenyum tulus. Ia melemparkan pandangannya ke arah Alvin yang sudah berhenti tertawa. Kedua mata itu saling bertemu.

Tapi gue lebih suka penulisnya gue yang dulu. Yang tembem, gak kurus gini! Alvin menatap mata Sivia lebih dalam lagi. Cekung dan lingkaran hitam di mata gadis itu, ialah yang telah mengguratkannya. Betapa teganya ia membuat Sivia yang semula cantik, bisa jadi sejelek ini hanya karena terlalu lelah menjaganya. Mungkin kalau gue udah pergi nanti, beban lo akan berkurang dan berat badan lo naik lagi, lanjutnya mengalihkan tatapannya. Terlalu memilukan jika ia harus menatap mata sayu Sivia.

Sivia terpaku. Senang bercampur sedih terkoyak dalam hatinya. Rio menarik nafas dalam-dalam, tidak suka ada percakapan serius lagi. terlebih untuk urusan pergi-kepergian. Ia hanya ingin, barang sesaat saja ada tawa ceria di detik-detik terakhir ini. Dan ia tidak bisa berbuat banyak. Waktu ini, ia khususkan untuk Alvin seorang.

Keadaan hening. Sivia tidak ingin banyak bicara saat ini. Begitu pun dengan Rio. Alvin menyandarkan kepalanya di bahu Sivia yang langsung dengan lapang menerimanya.

Kalian tahu, kan? Di bumi ini ada banyak hal yang gue fikir gak pernah mampu gue raih. Bintang yang terang, laut yang luas, ombak yang gaduh, angin yang lembut, semuanya benar-benar hal yang mustahil buat gue miliki. Karena itu semua mutlak milik Tuhan. Tapi gue tetap bersyukur. Bersyukur karena bisa menikmati dan merasakannya. Lo berdua tahu, kan? Betapa Tuhan sayang sama gue?

Baik Sivia maupun Rio sama-sama diam. Tangan kiri Sivia mengelus lembut kepala Alvin. Memainkan rambut hitam yang dulu hampir terebut paksa oleh kejamnya kemoterapi. Alvin sendiri memilih untuk memainkan jari-jemari kedua sahabatnya itu. Sungguh posisi yang membuat siapa pun haru dan iba melihatnya. Tapi terlihat begitu romantis.

Gue bahagia pernah merasakan kasih sayang yang tulus dari lo berdua. Percaya atau nggak, itu hal pertama yang patut gue syukuri.

Suara Alvin memberat. Gerakan tangannya melambat. Tapi bibir tipisnya masih bergerak-gerak kecil. Sayup-sayup Sivia dan Rio mendengar Alvin bernyanyi. Pelan sekali!

Berjanjilah, wahai sahabatku
Bila kutinggalkan kamu, tetaplah tersenyum
Meski hati, sedih dan menangis
Kuingin kau tetap tabah menghadapinya...

Nyanyian yang lebih mirip desahan parau itu, bagai senjata paling tajam yang menusuk sanubari paling dalam. Menyesakan.

Bila, kuharus pergi, meninggalkan dirimu
Jangan lupakan aku!

Suara itu menghilang. Seiring berhentinya gerakan tangan Alvin yang semula mengelus-ngelus tangan Rio dan Sivia. Suhu tubuh Alvin mendingin. Dan Sivia menangis, begitu pun dengan Rio. Tapi mereka tetap kokoh dalam posisi mereka.  Meneruskan lagu yang belum sempat Alvin selesaikan.

Semoga, dirimu di sana, kan baik-baik saja
Di sini kami kan selalu, rindukan dirimu,
Wahai sahabatku...

Semula hanya Sivia yang menyanyikan lagu itu. tersenggal-senggal karena isakan yang menyumbat pita suaranya. Tak lama setelah itu, Rio ikut menyenandungkan lagu perpisahan itu. Ia menitikan air mata juga. Ia tidak ingin menuruti gengsinya untuk tidak menangis melepas kepergian sahabat terbaiknya.

Gue tahu, Al. Gue tahu kalau akhirnya bakal gini! Gue tahu, lo bakal kasih gue akhir sad ending. Gue tahu, Al! Sivia melirih panjang sembari memindahkan kepala Alvin untuk tertidur di pahanya. Ia mencium lembut kening Alvin. Lama sekali.

Rio menekuk lututnya. Membenamkan wajah di baliknya. Ada tangis paling memilukan di sana. Dan ada seseorang yang tiba-tiba menariknya. Meminjamkan dadanya untuk dijadikan sandaran. Alyssa.

Kita harus ikhlas, Vi! Mbak Nova memeluk Sivia. Ia juga berurai air mata.

Sivia ikhlas, kok, Mbak! Sivia ikhlas banget kehilangan Alvin. Karena Sivia tahu, sayang Tuhan sama Alvin jauh lebih besar dari sayangnya Sivia sama dia! Sivia mengeratkan pelukannya pada Mbak Nova. Tangan kananya masih menggenngam jemari Alvin yang terasa begitu dingin.

Sungguh bukan kehilangannya yang perlu ditangisi. Tapi kenangan indah yang sesaat terputar kembali, yang membuat sesak itu mengendap dalam dada. Kenangan bersamanya yang mungkin takkan lagi tercipta di esok hari. Karena tak akan ada lagi Alvin yang begitu mereka sayangi. Alvin yang selalu tersenyum meski beban dalam hidupnya memeluknya kuat. Alvin jagoan nomor satu yang pernah mereka miliki.

*           
Kalian seperti bintang yang menerangi hidup gue yang kelam selama ini. kalian lautan paling luas yang selalu setia jadi tempat kegundahan hati gue. Kalian juga ombak yang selalu buat gue tidak merasakan ada kesunyian. Dan kalian angin buat gue, memberi kesejukan hingga saatnya gue pergi. Gue bersyukur pernah merasakan semua hal yang kalian berikan sama gue!

“Gak ada yang usil lagi sama gue, Yo! Gak ada yang bilang gue penulis gendut tak bermutu lagi. Gak ada lagi yang suka ngaku-ngaku jadi pacarnya Alyssa Saufika Umari. Gak ada lagi yang iri sama gue kalau lo kasih jaket lo ke gue. Gak ada lagi, Yo! Gak ada yang seperti Alvin, kan, Yo? Rio...”

Rio langsung saja membungkam Sivia dengan menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Mendengar pemaparan Sivia, air mata yang selama dua hari, setelah kepergian Alvin, disumbatnya, mendobrak minta keluar kembali. Jujur ia sudah lelah untuk menangis.

“Gue belum berikan yang terbaik buat dia, Yo! Dia belum melihat nama gue berjajar rapi di toko buku. Gue belum sempat bikin dia bangga karena ada namanya yang tercantum di novel pertama gue. Gue...”

“Via, kehadiran lo selama ini sudah menjadi yang terbaik untuk Alvin. Katanya lo ikhlas. Lo harus kuat!” Rio melepaskan pelukannya. Menatap Sivia lekat-lekat. Matanya yang sembab karena tak mau berhenti menangis, menatap balik bola mata Rio. “Lo boleh menangis sesuka hati lo untuk nangisi Alvin, karena kepergiannya pantas untuk ditangisi. Tapi gue mohon lo jangan selemah ini!”

Sivia diam. Ia melempar pandang ke arah lain. Ombak-ombak jinak menyentuh telapak kakinya. Ikut menguatkannya.

“Masih ada gue, kan, Vi! Meski gue gak bisa kayak Alvin, sekiranya gue masih bisa jagain lo untuk dia.”

Sivia kembali menoleh ke arah Rio. Pemuda pendiam di hadapannya ini sudah banyak bicara hanya untuk menguatkannya. Rio merengkuhnya. Menikmati semilir angin pantai yang halus, yang memeluk erat tubuh dan jiwa yang tengah rapuh. Sivia melakukan hal yang sama. Dengan cara itu mereka merasa begitu dekat dengan Alvin.

*

[Cakka]

Perlahan Pak Duta dengan dibantu Debo, mengangkat tubuh Cakka ke atas tempat tidur. Setelah membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mempertimbangkan keinginan Cakka; ngotot untuk mendapat perawatan di rumah, akhirnya Dr. Irsyad menyetujui hal itu. Lagipula kondisi Cakka sudah tidak menerima reaksi apa pun dari alat-alat medis itu. Tim dokter sudah angkat tangan menghadapi penyakit Cakka yang semakin memburuk itu.

Agni duduk di atas tempat tidur Cakka saat Mama Ira dan Pak Duta meninggalkan mereka bertiga. Ia mengelus-ngelus rambut Cakka lembut sambil sesekali tersenyum. Karena hanya itu jurus satu-satunya yang bisa membuat Cakka merasa masih ada keindahan yang patut dirasakannya. Senyuman seorang sahabat.

Katanya mau nonton teater. Acaranya udah setengah jalan, loh, ujar Cakka melirik jam dinding di kamarnya. Kemudian melirik kedua sahabatnya yang tampak lusuh. Semalaman mereka menunggunya di rumah sakit. Dan sampai pagi ini mereka masih setia di sampingnya.

Ada yang lebih penting di sini, Debo duduk di tepi ranjang. Mengelus lengan Cakka yang bahkan sudah kehilangan kepekaannya terhadap sentuhan sekecil apa pun.

Cakka menarik nafas pendek. Ia tahu kondisinya semakin memburuk saja. bahkan, kata-kata Dr. Irsyad yang sempat sampai ke telinganya perihal kankernya yang sudah menyerang daerah jantungnya, membuat ia ingin teman-temannya tetap berada di sisinya. Usah pergi sampai ia menutup mata untuk selamanya.

Banyak hal, ya, yang udah kita lakuin bareng-bareng,Cakka bersuara lagi. Ada desahan berat di balik suaranya. Agni menghentikan aktifitasnya, begitu pun dengan Debo. Mereka beralih menatap Cakka serius.

Mulai dari main basket bareng, lomba lari-larian, taruhan, naik sepeda sama-sama, Cakka menggantungkan kalimatnya, berfikir.

Traktir-traktiran, foto-foto dengan pose aneh, sambung Agni menggenggam erat tangan Cakka. Menempelkannya di pipinya yang selama ini lebih sering dialiri air mata. Sayang, Cakka tidak bisa merasakan betapa lembutnya pipi gadis yang selama ini begitu mencintainya itu.

Rebutan tokoh Kaede Rukawa, dimarahi sama Bu Winda gara-gara rebutan buku, Lanjut Debo tersenyum. Masa-masa itu amat sangat sederhana, tapi sungguh tidak bisa dilupakan begitu saja.

Berantem sama anak-anak seni.

Melas-melas sama Pak Ed.

Bolak-balik ke rumah sakit.

Kompakan nangis.

Cemas.

Takut.

Sakit.

Fikiran mereka jauh melintasi saat yang pernah mereka ciptakan di masa silam. Secara bergantian mereka menyebutkan daftar kenangan itu. Dan merasa sudah tidak ada lagi, atau malah terlalu banyak untuk disebutkan, mereka saling pandang dan melempar senyum satu sama lain. Tertawa pelan.

Semakin lama tawa mereka memelan dan hilang. Keheningan tercipta. Entah kenapa suasana menjadi begitu dingin. Terlebih ketika Cakka merasa matanya memberat. Ia begitu lelah dan ngantuk. Tapi ia masih bisa melihat teman-temannya meski samar.

Lo berdua bahagia kan, pernah hidup dan nyiptain banyak kenangan sama gue? tanya Cakka. Suaranya pelan sekali, nyaris tidak terdengar. Tapi Debo dan Agni yang memang lebih fokus, mendengar jelas pertanyaan itu. Dan kompakan mereka mengangguk, mengiyakan.

“Gue juga bahagia. Gue bahagia banget ...,” suara Cakka semakin memelan saja. Ia tampak seperti orang mengigau. Matanya perlahan menutup. Tapi bibir pucatnya masih bergerak-gerak kecil. Ia mengatakan hal yang sama sekali tidak difahami oleh Agni dan Debo. Memaksa Agni dan Debo untuk membaca kalimat itu dari gerakan bibir Cakka yang perlahan berhenti melafalkannya. Dan kalimat itu  sudah tersampaikan ke dalam hati kedua sahabatnya.

“Gue juga sayang lo, Kka ...,” Agni memeluk tubuh Cakka yang sudah kaku tanpa desahan nafas. Kali ini bukan hanya tubuhnya saja yang tidak bergerak, tapi juga organ-organ tubuh itu pun sudah tidak mau lagi bekerja untuknya. Semuanya berhenti. Air mata itu menetes dalam diam.

Tubuh Debo merosot. Ia terduduk lesu di bawah tempat tidur Cakka. Dalam kebisuan ia membiarkan air matanya berbicara banyak hal. Seperti hatinya yang terus-terusan berujar lirih meminta Cakka kembali. Meminta Cakka untuk mendengarkan sejenak saja, ceritanya tentang acara paling spektakuler yang sudah ia siapkan di sekolah sana. Harusnya Cakka tidak pergi dulu sebelum ia menujukan seberapa hebatnya kejutan yang Agni dan ia buat. Harusnya Cakka ....,

Ah, semua itu hanya asa yang tidak mungkin terwujud kembali. Meski ribuan proposal ia ajukan kepada Tuhan pun, tak akan pernah permohonan itu dipenuhi. Cakka sudah menemui batas waktu untuk pergi tanpa  tahu dan melihat kejutan itu dengan nyata.

Biarkan saja orang yang kita cintai pergi. Yang terpenting seberapa kuat kita menjaga namanya dan menyimpan aman kenangan bersamanya. Karena percaya atau tidak, itulah yang membuat kita bahagia. Selama kita menganggapnya seperti itu.

*

Pelan-pelan, Debo mengguratkan pensil mekaniknya. Hati-hati sekali. Dalam posisi seperti itu ia tampak seperti seniman sungguhan. Gayanya sungguh memikat. Agni hanya bisa duduk di hadapan Debo, memperhatikannya. Ada tatapan pilu di sana. Tak terbayangkan olehnya seberapa hebat perjuangan Cakka membuat album yang tidak terselesaikan itu.

Di mata sahabatnya, album itu, meski belum sempurna, terlihat begitu indah. Hanya tinggal menyelesaikan saja. Dan baru hari ini, setelah kepergian Cakka, Debo mau menyentuh album itu. Padahal Mama Ira sudah memberikan album itu di hari terakhir Cakka dimakakan. Hanya saja baru saat ini perasaan mereka cukup kuat untuk menyentuhnya, dan ternyata album itu masih perlu diselesaikan.

“Buatkan aku grafity di sini, De!” tunjuk Agni buru-buru begitu ia menemukan sesuatu di lembaran lain. Matanya berkaca-kaca melihat foto-foto dirinya dalam ukuran yang begitu kecil, disusun membentuk hati. Lucu sekali! “Buatkan aku grafity di sini!” pinta Agni sekali lagi. Debo menoleh dengan cepat dan memperhatikan lembaran itu. Ada kalimat ‘ I Love You’ di bawah foto-foto itu.

“Tuliskan kalimat I love you too, De!”Dalam satu jurus, Agni mendekap lembaran itu di dadanya. Debo memperhatikan Agni yang sudah menangis dalam sedu sedan yang memilukan. Ia menyimpan pensilnya dan memeluk Agni erat.

“Ternyata Cakka mencintai gue juga, De! Selama ini cinta gue sama dia gak bertepuk sebelah tangan ...,” Agni memeluk lengan Debo yang melingkar di tubuhnya dengan erat. Debo ikut menitikan mata yang langsung buru-buru dihapusnya. Air matanya sudah hampir habis menangis beberapa hari ini. Matanya pun sudah cukup bengkak jika harus menangis lagi.

“Ya udah, sini gue buatin grafity paling indah di sini! Tulisannya I love you too, kan?” Debo melepaskan pelukannya dan segera mengambil alih lembaran itu. Kemudian mulai mengguratkan lagi garis-garis yang penuh lekukan lembut itu, membentuk huruf-huruf yang indah. Agni masih saja menangis. Menangis mengakui orang yang ternyata mencintainya, sudah pergi dan tidak ada lagi. Menangis mengakui bahwa ia masih mempunyai Debo yang peduli dan selalu peduli pada sahabat-sahabatnya.

“De ...,” lirih Agni. Kali ini ia yang memeluk Debo. Debo menghentikan aktivitasnya. Air matanya benar-benar tumpah kembali kali ini. “Biar gue yang buat grafity itu! Biar gue aja!”

Debo menggenggam tangan Agni, lalu membiarkan Agni memegang pensilnya. “Buat dengan setulus mungkin!”

Agni mengangguk dan mulai membiarkan tangannya menari di atas kertas itu. Air matanya masih saja menetes. Debo mengelus punggung Agni lembut. Ia merasa, ada seseorang di samping Agni yang juga melakukan hal yang sama seperti dirinya. Begitu pun dengan Agni, ia merasa tubuhnya diapit oleh dua jagoannya. Seperti dulu. Ketika Cakka masih ada.

*

[Gabriel]

*

Shilla menangis histeris sembari menerobos masuk pintu ruang ICU. Gelengan kepala Om Dave membuat Shilla dapat menebak apa yang sudah terjadi dengan Iyel di dalam sana. Dengan segera ia memeluk tubuh Iyel erat. Memaksa Iyel untuk bangun kembali. Air matanya berceceran di mana-mana. Bahkan Tuhan tidak membiarkan Iyel bertahan barang sepersekian detik untuk menatapnya.

“Iyeeeeel! bangun, Yel! Bangun! Gue mohon lo bangun! Lo belum tahu perasaan gue ke lo gimana. Gue mohon sebentar saja! Iyel ...,” Shilla terus mengguncang-guncangkan tubuh itu. Namun tak kunjung ada reaksi dari Iyel. Ia tetap bergeming dalam tidur panjangnya.

“Udah, Shil! Percuma lo bangunin juga! Iyel bukan tidur biasa tahu, gak?”  Kiki menarik Shilla. Menjauhkan gadis itu dari Iyel.

Shilla menatap Kiki tajam. Ia memukul-mukul dada Kiki dengan keras. “Lo gak ngerti perasaan gue, Ki! Lo jahat tahu, gak? Emang lo gak sedih apa lihat Iyel diam terus? Lo mau biarin dia pergi gitu aja? Tega ya, lo!”

“Shilla! Bukan lo aja! Bukan lo aja yang kehilangan Iyel. Kita semua sedih, kita semua gak pernah ingin Iyel pergi.” Sekuat tenaga Kiki berusaha menahan air matanya, akhirnya tumpah juga. Ia memegang bahu Shilla kuat-kuat. “Shil, Iyel udah banyak mengabiskan waktu dengan kita selama ini. berkali-kali ia bertahan untuk kita. Dan biarkan dia istirahat! Biarkan dia pergi, Shil! Kasihan iyel. Dia udah terlalu lelah untuk tetap berada di sisi kita.”

Shilla diam. Isak tangisnya ramai terdengar di ruangan putih yang dingin itu.

“Om minta maaf sekaligus berterimakasih kepada kalian,” Pak Dayat berdiri di samping Kiki dan Shilla. Ia menatap jasad Iyel sejenak kemudian menatap kedua sahabat puteranya itu bergantian. “Om minta maaf karena putera Om udah buat kalian sedih. Dan Om juga berterimakasih karena kalian udah mau nemenin Iyel selama hidupnya,” mata laki-laki paruh baya itu berkaca-kaca. Ia berusaha menahan air matanya untuk tidak jatuh.

Shilla tiba-tiba memeluk tubuh itu. Merasakan jiwa Iyel yang mungkin terdapat di dalamya. Rasanya hangat sekali. “Iyel minta kita untuk jagain Om terus,” lirih Shilla. Dan saat itu pula air mata Pak Dayat mengalir deras. Ia bangga mendengar hal itu. Ia bangga bahwa ternyata ia menjadi sosok Ayah yang dicintai oleh puteranya.

“Sungguh iyel bilang begitu?” Entah bertanya kepada Siapa. Yang pasti, tatapannya tertuju pada jasad Iyel yang sudah ditutupi kain putih.

Kiki mengangguk dan ikut memeluk Pak dayat.

Dalam hening itu ada tangis. Dalam pelukan hangat itu ada kekuatan ekstra besar yang melingkup jiwa-jiwa yang tengah rapuh itu.

Hal yang paling membahgiakan dalam hidup adalah kenangan. Kenangan bersama tentang persahabatan. Hal yang paling membanggakan dalam hidup adalah membuat sahabat tertawa. Dan hal yang paling menenangkan dalam hidup adalah senyum tulus seorang sahabat. Jadi buatlah hal semacam itu, niscaya kau akan merasakannya juga.

*

Hello, Mr. Ci! Sorry, nih gue curi lo dari Shilla dulu. Haha, pasti dia panik lo gak ada. Secara, rahasia perasaan dia sama gue ada di lo. Iya, kan? Iya aja deh!

Iyel bergerak-gerak kecil di balik telivisi yang baru saja Shilla sambungkan dengan handycame-nya, yang baru saja Pak Dayat serahkan padanya. Ia sama sekali tidak menduga kalau Iyel yang sudah membawa Mr.Ci-nya. Jika Iyel masih ada, mungkin Shilla tidak akan berhenti misuh-misuh, menggerutu pada sahabatnya itu lantaran sudah membuatnya panik.

Ehm, langsung aja, ya? Serius! Hehe...
Shilla ... tahu, gak apa yang gue fikirkan tentang cinta dan kematian? Lo pasti jawabnya gak tahu. Lo, kan payah! Hehe...

Bagi gue, cinta dan kematian itu sesuatu yang amat sangat dekat. Dekaaaatt sekali! Seperti dekatnya gue sama lo. Cinta itu seperti kematian, kan? Kita tidak tahu kapan dia datang kepada kita. Yang pasti keduanya hanya beberapa senti saja dari gue.

Shil... maafin gue, ya? Selama ini gue selalu pura-pura gak peka sama perasaan lo. Padahal gue sadar banget akan hal itu. Gue tahu tentang perasaan lo tanpa gue lihat rekaman lo di si Mr. Ci ini. Gue tahu lo cemburu waktu gue bilang gue suka Angel, gue tahu dan gue sadar banget dengan semua itu.Maafin gue, ya, Shil! Tapi perlu lo tahu, Shil, kalau gue juga punya perasaan yang sama kayak lo. Hanya saja lo gak peka dengan semuanya. Semua analogi cinta yang gue berikan semata-mata untuk lo, Shil... gue cinta sama lo! Cinta lebih dari yang lo tahu.

Shilla menggigit bibir menahan tangis. Ia selalu mengeluh kenapa Iyel tidak peka dengan perasaanya. Ternyata ia juga tidak pernah peka dengan perasaan Iyel. “Argh! Bodoh! Dasar bodoh!” entah kepada siapa Shilla melontarkan makian itu. Ia menangis lebih keras.

Shilla... gue cinta lo... i love you ....

Itu kalimat terakhir yang Iyel ucapkan sebelum kamera benar-benar mati. Bersamaan saat Kiki masuk membuka pintu.

“Kiki ...,” Shilla langsung saja bangkit dari duduknya dan segera memeluk tubuh itu. Kiki yang bingung dengan aksi tiba-tiba Shilla sudah tahu ada apa dengan gadis itu.  Perlahan ia membalas pelukan Shilla, mengelus lembut kepala Shilla.

“Kalau Iyel cinta sama gue, kenapa dia tega ninggalin gue, Ki?” rengek Shilla. Air matanya membasahi kaus biru Kiki.

Kiki hanya bisa menghela nafas. Shilla belum sepenuhnya ikhlas kehilangan Iyel. Dan ia tidak tahu harus dengan jurus seperti apa agar Shilla mau merelakan kepergian Iyel. Kata-kata bijaknya sama sekali tidak membuat Shilla mengerti.

“Terus lo maunya apa, Shil? Lo mau Iyel ada di sini? Lo mau ia balik ke sini? Nanggung semua sakit? Dan lo tega biarin dia menderita, gitu? Kalau begitu siapa yang tega di sini? Lo apa Iyel?” ujar Kiki mengeratkan pelukannya. Biasanya Shilla akan memberontak setiap kali ia berbicara mengenai hal semacam itu. Tapi untuk saat ini Shilla diam saja.

Hening. Lama sekali.

Kiki melepaskan pelukan Shilla. Mengambil Mr. Ci dan mengarahkannya kepada Shilla. “Katakan apa yang mau lo katakan sama Iyel!”

Shilla mengangkat wajahnya. Menarik nafas dalam-dalam dan menatap lensa kamera baik-baik. Kiki menganggukan kepala memaksa Shilla untuk bicara.

Lama Shilla terdiam. Berfikir. Dan Kiki setia menunggu dengan si Mr. Ci-nya

“Kematian boleh memisahkan kita, Yel! Apa pun boleh membentangkan hijab untuk menghalangi kebersamaan kita. Malaikat boleh membawamu pergi jauh dariku. Dan Tuhan boleh memintamu kembali. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, cintaku tidak akan pernah pergi, tidak akn pernah beranjak sejengkal pun. Karena seperti yang kamu bilang, cinta itu dekat,  dekaaaat sekali. Sedekat jarakku denganmu. Di sini ..., “ Shilla meletakkan tangannya di dada. Sesak itu masih menjajah bagian itu.  membuat air matanya tak urung berhenti. Ia tersenggal hebat.

Kiki buru-buru menyimpan kamera setelah memastikan rekamannya ter-save aman. Perlahan jari-jari tangannya menghapus air mata Shilla. “Jangan nangis lagi! melihat air mata lo itu lebih menyakitkan ketimbang kehilangan Iyel, Shil ...,” ujarnya pelan.

Langsung saja Shilla merapatkan tubuhnya dengan tubuh Kiki. mencari ketenangan di balik dada itu. “Gue gak akan nangis lagi kalau lo tetep di samping gue, Ki!”

Dengan cepat Kiki mengangguk. “Seperti yang Iyel minta, Shil. Gue akan selalu jagain lo. Sampai kapan pun.”

Mendengar hal itu, Shilla merasa begitu tenang. Dalam dekapan itu, Shilla memejamkan matanya. Membayangkan sosok Iyel. Tunggu gue, Yel! Saatnya nanti kita pasti berkumpul di angkasa sana. Menjadi bintang paling terang. Membentuk rasi paling indah.

TAMAT

3 komentar:

  1. Keren bgt!!!
    Aku sampe nangis pas baca :'
    Jempol 2 buat kakak deh + jempol kaki sekalian jd 4 (Y)

    BalasHapus
  2. terimakasih banyak, Livia Tridjojo.

    BalasHapus
  3. Kak, ini aku seleseiin malem malem loh. Tau kan kalo orang nangis malem2 itu bisa bikin langsung flu mendadak? Hidung aku tersumbat huaaa!! Ahahahah udahlah. Abaikan aksi marah2 gajelas aku yah kak, cuma becanda kok hehe. Yang jelas ini keren banget! Duh, kisah sad ending emang selalu ngena yah. Apalagi yang punya kakak ini *ngelap idung yg lagi meler* . Banyak banget pesan moralnya dari part 1 lagi, huhuhu-,- tau aku mau ngomong apa lagi-_- yang jelas, aku mau lanjut baca yang lainnya. Tunggu komenan aku selanjutnya yah kaka! Lopyu! Hihiw^^

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea