Minggu, 12 Agustus 2012

Don't Over_part 13 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 00.27
Tebarkanlah senyuman, sejukan nuansa insan.
Redamkan kemarahan, maafkan segala kesalahan.
Hadapilah cobaan, yakinnya satu jalan.
Percayakan pertolongan, tuk insan yang lurus di jalanNya.

Hidup kan terasa indah dengan segala rahmatNya.
Hidup kan terasa mudah dengan segala pertolonganNya.

Lihatlah masa depan, wujudkan satu impian.
Raihlah kemenangan, yang telah lama dinantikan.

[Missile-Menebar Senyuman]

*

[Alvin]

"Kita pulang Ma?" tanya Alvin bingung saat Mamanya mengajaknya pulang tanpa memberitahu sedikitpun perihal hasil pemeriksaannya.

"Iya sayang. Ayo pulang! Ayah udah nunggu di mobil." Ajak Bu Uchi lembut. Ia tersenyum ke arah Alvin. Juga ke arah anak laki-laki yang sejak tadi menjadi teman ngobrol Alvin. Anak itu tersenyum manis; membalas senyuman Bu Uchi.

Melihat senyuman itu, repleks hati wanita paruh baya murni keturunan Korea itu terenyuh. Melirih. Tak terbayangkan akan sederas apa air matanya saat melihat putera tunggalnya yang begitu tampan, akan mengalami hal yang sama seperti anak itu. Tak terbayangkan. Sungguh!

"Lalu kemoterapinya gimana Ma?" pertanyaan Alvin berlanjut.

"Kita bicarakan itu nanti saja di rumah!" jawab Bu Uchi mengalihkan perhatiannya pada Alvin.

Alvin hanya mengangguk saja. Ia berjongkok di hadapan kursi roda anak itu. "Nanti, kita bertemu lagi ya?!" Alvin menatap sendu anak itu, seolah mereka adalah panglima perang yang sama-sama akan memerangi musuh paling kuat di medan juang.

Anak laki-laki itu mengangguk. Ia menyentuh wajah Alvin. "Wajah Kakak tampan. Aku ingin wajah tampanku kembali lagi." Ujar anak itu lirih. Tangannya yang hanya tinggal tulang berlapis kulit itu menempel di wajah Alvin.

Alvin menarik nafas dalam. Menahan tangis. Sungguh kalimat anak itu seperti dinamit yang meluluh lantahkan perasaannya. Bahkan anak itu tidak tahu, kalau sebentar lagi wajah tampannya pun akan berpaling darinya.

"Kalau gitu, kamu harus berjuang lebih kuat lagi!" Alvin memegang tangan anak itu. "Semangat!" supportnya yang juga ditujukan untuk dirinya sendiri.

Bu Uchi yang sedari tadi berdiam diri di belakang kursi roda anak itu, perlahan mengangkat tangannya. Membiarkan jari-jemarinya yang dihiasi kuku-kuku cantik itu menghapus air matanya yang tiba-tiba saja mendarat di pipinya.

Anak itu tersenyum. "Aku tidak akan menyerah sebelum Tuhan memerintahkan aku untuk Menyerahkan diriku padaNya."

Alvin tertegun kembali. Ia sadar, kalau ia benar-benar kalah oleh panglima perang di hadapannya itu.

"Terimakasih"

Kalimat terakhir Alvin sebelum ia benar-benar meninggalkan anak itu; meninggalkan rumah sakit. Ia sungguh-sungguh berterimakasih kepada anak itu.

*

Alvin menatap Ayah dan Ibunya penasaran. Sudah hampir lima belas menit berlalu, tapi tak juga ada kalimat yang terucap dari lisan kedua orang yang saat ini duduk di hadapannya. Dan Alvin tetap setia menunggu. Seolah kabar yang akan orang tuanya berikan adalah kado paling istimewa untuknya.

"Alvin benar-benar ingin dikemo?" akhirnya suara Bu Uchi keluar juga. Nadanya sungguh lirih.

Alvin menyipitkan matanya. Raut wajah bingungnya melukiskan kalimat meyakinkan; tentu saja.

Baik Pak Rizki maupun Bu Uchi sama-sama mendesah. Mereka saling toleh. Dan Alvin tidak melihat ada sorotan-sorotan tajam seperti waktu itu saat ini. Bola mata mereka lebih menggambarkan rasa cemas dan pasrah.

"Kenapa Ma? Pa? Kalian ragu Alvin bisa melakukannya? Orang anak tadi aja kuat. Kenapa Alvin tidak?" tutur Alvin semangat. Ia gusar melihat orang tuanya. Takut kalau mereka melarangnya melakukan kemoterapi hanya karena tidak ingin melihatnya menderita dengan segala efek buruk kemoterapi itu.

"Bukan gitu Al," suara bass Pak Rizki terdengar putus asa. Bu Uchi beralih duduk
di samping Alvin, merangkul Alvin erat. Alvin sendiri hanya diam menunggu penjelasan Ayahnya lebih lanjut.

"Papa sama Mama tahu kok Alvin kuat. Jangankan untuk melakukan kemoterapi. Untuk menghadapi segala hal pun, anak Papa itu kuat. Alvin lebih kuat dari super hero dan jagoan-jagoan manapun. Jadi, Papa minta Alvin juga harus kuat menerima kenyataan kalau Alvin tidak diperbolehkan melakukan kemoterapi." Pak Rizki menundukan kepala begitu menyelesaikan penjelasannya. Rasanya ia menjadi Ayah paling kejam begitu penjelasan itu keluar dari mulutnya.

Bu Uchi lebih menguatkan rangkulannya; menguatkan puteranya di saat ia sendiri sudah lemah. Linangan air mata di wajahnya menandakan bahwa ia benar-benar lebih lemah dari Alvin.

Indera pendengaran gue tidak sedang error kan? Benarkan barusan Papa bilang kalo gue, Alvin membenamkan wajahnya di telapak tangannya. Menahan laju air mata yang dengan sangat kasar mendobrak kelopak matanya, minta keluar.

"Dr. Joe bilang, dari hasil pemeriksaan, kanker Alvin sudah menginjak stadium akhir. Kalaupun kemoterapi itu tetap dijalankan, tidak akan berdampak besar pada kesembuhan Alvin. Tapi hanya akan berdampak lebih buruk karena penolakan yang terjadi dalam tubuh Alvin.”

Tubuh Alvin yang semula tegak, kini melemah tersandar di punggung sofa, begitu penjelasan Ayahnya berlanjut. Telapak tangannya masih saja menutupi wajahnya. Ia menangis. Air mata itu terlalu kuat untuk ditahannya. Dadanya tak terbilang sesaknya mengakui kenyataan pahit itu. Semuanya terasa tak adil untuknya. Kenapa di saat ia bersemangat membasmi penyakit itu, Tuhan justru tidak memberikannya izin. Tuhan tidak memberikan kesempatan padanya; bukan! Justru ia yang telah menyia-nyiakan kesempatan itu. Kenapa tak sejak dulu? Kenapa tak dari awal saat Dr. Joe menawarkannya pengobatan itu? Kenapa ia sebegitu bodohnya?

"Alvin," suara pilu Bu Uchi membuat air mata Alvin tak kunjung berhenti. "Katanya Alvin lebih kuat dari anak tadi. Tapi kenapa Alvin nangis? Mama rasa, kalau anak itu ada di posisi kamu saat ini, ia tidak akan menangis. Justru ia akan menjadi orang paling bersyukur karena ia tidak akan kehilangan wajah tampannya," Bu Uchi menarik Alvin ke dalam dekapannya.

Alvin menarik nafas panjang dan menghapus air matanya. Benar apa kata Mamanya. Harusnya sekali saja ia menang dari anak itu. Ia tidak boleh terlihat selemah itu. Panglima perang harus tetap kokoh berdiri meski sayatan pedang sudah mencabik seluruh tubuhnya. Hingga di saat ia tumbang pun, kegagahan itu tetap terpatri rapi di wajahnya.

"Sepahit apapun cobaan yang Tuhan berikan, kita harus tetap tersenyum. Karena tanpa kita ketahui, ada rasa manis yang telah Tuhan sediakan untuk kita. Jika tidak di dunia ini, masih ada di akhirat kelak." Pak Rizki yang juga sudah duduk di sebelah Alvin, mengelus lembut rambut Alvin. Jika ia tidak ingat posisinya sebagai pria dan seorang Ayah, mungkin air matanya pun sudah mengalir deras di pipinya.

Alvin diam. Lama sekali. Sudah lama ia tidak mendengar kata-kata bijak Ayahnya. Dan saat ini, ia bisa mendengarnya kembali hanya karena masalah yang sedang ia hadapi. Ia bisa duduk diapit kedua orang tuanya pun karena masalah itu. Sekarang ia tahu, masalah itu indah. Dan cobaan itu nikmat. Dan hanya orang yang berfikir semacam Alvin yang bisa mengerti arti itu semua.

"Alvin ngerti Ma, Pa," lirih Alvin melepaskan dekapan Mamanya. "Alvin akan lebih tegar lagi untuk ini." Sorot matanya kembali memancarkan sinar-sinar semangat yang begitu tenang. Ia tidak boleh nangis. Ia tidak perlu takut. Karena ada orang-orang yang sayang padanya, yang dengan setia berada di dekatanya. Yang terpenting ada Tuhan yang tidak pernah meninggalkannya barang sejengkalpun.

*

"Mbak mau kesini kan?" Alvin menatap sendu langit malam di balkon kamarnya. Tampaknya ia sedang berbincang dengan Mbak Nova, via-telepon.

"Iya,"

"Bawa makanan yang banyak ya Mbak! Yang enak-enak. Pokoknya, Alvin pengen makanan favorit Alvin jadi menu makan malam, malam ini." Pinta Alvin manja. pandangannya beralih menatap ujung kakinya yang sengaja ia selanjarkan.

"Tapi Al,"

"Ayolah Mbak! Alvin ingin makan enak bareng Mama, Papa sama Mbak malam ini. Alvin bosan makan sayur terus." Keluh Alvin mendesah keras. Rasa tidak enak di bagian perutnya memaksa tangannya untuk memegang kuat-kuat bagian yang sakit itu. Sepertinya kanker itu sedang bersiap-siap memulai aksinya. Dan ia sedang mencoba membuat pertahan yang kokoh agar kanker itu tidak dengan mudah mendemonya anarkis. Ia harus melawannya.

"Ya udah, tunggu Mbak sepuluh menit lagi!"

Alvin tersenyum menang. Di dalam benaknya sudah terbayang makanan-makanan favoritnya yang selama beberapa bulan ini diberi label haram oleh dokter untuknya."Jangan lama-lama Mbak!"

"Oke!"

Alvin memutuskan pembicaraan. Ia menatap ponsel unik berbahasa Korea milik Mamanya itu. Menatapi pantulan wajahnya dari layar ponsel itu. Kemudian kembali menatap langit. Sebelum akhirnya...

Kegelapan tiba-tiba menyergap matanya. Ia merasa tiba-tiba hawa hangat menjalar di punggungnya. Entah jari-jemari siapa yang menempel di matanya. Perlahan ia memegang tangan itu. Lembut.

"Siapa sih? Iseng deh," protes Alvin mencoba menghindarkan tangan itu. Sulit.

"Tara," akhirnya tangan itu menjauh juga.

Dengan cepat Alvin membuka matanya untuk memastikan siapa pemilik tangan itu. Tapi, belum sempat ia membalikan badan untuk melihatnya, sesuatu berbentuk bundar, berwarna kuning emas dan berpita merah putih menyapa indera penglihatannya. diam sejenak. Tanpa membalikan badan pun ia sudah tahu siapa yang ada di belakangnya saat ini.

"Lo menang Yo?" tanya Alvin tanpa sedikitpun mengubah titik fokus matanya. Ia menatap kagum medali emas itu. Rio yang masih berdiri di belakang Alvin mengangguk mengiyakan. Kemudian duduk bersila di samping Alvin. Sivia melakukan hal yang sama.

"Hadiah ini, kemenangan ini, gue persembahkan buat lo." Giliran Rio yang tertarik menatapi hamparan langit yang memang indah.

"Buat sahabat juara satu yang selalu kita sayangi." Sambung Sivia tersenyum manis.

Dan mereka larut dalam diam. Sivia dan Rio tetap memilih untuk tidak melepaskan pandangannya dari si pongah yang selalu ingin di atas; langit. Alvin sendiri lebih menyibukkan diri dengan medali emas itu; sebenarnya hanya untuk mengalihkan rasa sakit yang hampir meruntuhkan pertahanan kokohnya.

"Al, gue punya puisi nih buat lo, " Sivia memecahkan keheningan. Alvin dan Rio sontak menatapnya serius.

"Bacain!" perintah Alvin.

Sivia menarik nafas dalam-dalam. Dan mulutnya mulai melafalkan kalimat-kalimat ├Čndahnya. Tatapannya tetap sama.

Ia egois. Tak pernah mau mengalah.
Berputar, berputar dan berputar.
Tak mempedulikan aku yang menjerit memintanya berhenti.
Tak menghiraukan aku yang berdiri di lembah ketakutan.

Ia egois. Sungguh-sungguh egois.
Tak mau mendengarkan kataku.
Sejenak saja ingin aku menghentikannya.
Namun tak kuasa,
ia memang diciptakan seperti itu.

Berputar. Dan perlahan membawamu jauh. Meninggalkanku.

Melangkah. Selangkah demi selangkah, menuntunmu hilang,
dari pelukku,

dari hidupku.

Tak ada intonasi. Datar layaknya membaca artikel. Tapi penghayatan Sivia mampu membuat Alvin dan Rio yang mengerti maksud puisi itu, merasa begitu tersentuh. Sejenak mereka larut dalam kebisuan. Kabut-kabut makna puisi itu masih menyebar di dalam jiwa mereka. Menjadi lebih dingin dan sunyi.

"Puisinya jelek ya?" tanya Sivia begitu sadar tak ada yang meresponnya. Ia menatap Rio dan Alvin bergantian.

Alvin mengengok ke arah Sivia. "Ish, Ibu Sastrawan kece deh!" dengan polosnya Alvin mengacak-ngacak rambut Sivia gemas. Perutnya sakit sekali hingga dadanya cukup sesak. Dan ia masih mencoba menjaga benteng pertahanan itu agar tidak benar-benar ambruk.

"Ih, sejak kapan lo kasih gue pujian?" Sivia balas mengacak-ngacak rambut Alvin. Dua kali lebih hebat. Rio hanya tertawa kecil melihat hal itu.

"Udah dong Vi! Berantakan nih rambut gue!" protes Alvin pura-pura kesal.

Repleks Sivia menhentikan aksinya. Bukan atas permintaan Alvin. Tapi ia baru sadar ada yang aneh; kok rambut Alvin gak rontok ya? Biasanya kan kalo udah dikemo rambut pasien suka rontok. Fikir Sivia heran.

"Sebenarnya lo kemo gak sih? Kok rambut lo gak ada satupun yang jatuh?"

Sesaat Alvin memandang Sivia saat pertanyaan itu dengan sangat jelas menancap di telinganya. "Lo ngarep banget gue botak ya? Lagian bagus dong. Masa iya sih gue ketemu sama Alyssa Saufika Umari dalam keadaan botak." Kilah Alvin. Mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin lagi membahas hal itu. Perasaannya sakit mengingat itu semua. Bukan sakit karena itu artinya tak ada kesempatan untuk ia memperpanjang hidupnya. Tapi sakit karena akan ada kekecewaan yang dengan tiba-tiba menyebar memberi polusi kebahagiaan―atas menangnya Rio―jika ia mengatakan kalau ia tidak bisa dikemoterapi.

Sivia menatap Alvin lebih rinci lagi. Mencari kebenaran yang sesungguhnya. Rio sendiri tak melepaskan pandangannya dari tangan Alvin yang sedari tadi tampak sibuk menekan-nekan perutnya. "Ada yang sakit Al?" tanya Rio. Membuat Sivia melupakan kecurigaannya dan beralih menatap Alvin cemas.

Alvin berbalik. Memandang Rio. Ia tersenyum; senyuman getir. "Hh, nggak..." desahnya. Pertahanannya benar-benar ambruk. Perutnya sakit dan mual. Dadanya juga sesak. Kepalanya pusing. Dan untuk kedua kalinya, bercak merah itu membasahi tangan Rio. Kali ini lebih banyak, hingga medali emas yang sedang berada di pangkuannya pun ikut terciprati.

"Hh, maaf, a-argh sakit Yo!"

"Alvin!" jerit Sivia dan Rio barengan saat Alvin kehilangan kesadarannya. Dengan sigap Sivia menahan tubuh Alvin. Dadanya bergemuruh, cemas. Air matanya hampir tumpah

Rio menepuk-nepuk pipi Alvin pelan. "Al, bangun Al!" titahnya berharap Alvin masih menyimpan kesadarannya. Nihil! Alvin benar-benar sudah tidak bisa merespon apapun.

"Alvin," lirih Sivia sembari memeluk tubuh itu. Ia menangis.

Air mata itu akhir-akhir ini memang selalu dengan repleks tumpah, apa lagi untuk melihat kejadian serupa yang sering terjadi belakangan ini. Ia takut. Sungguh-sungguh takut. Takut kalau dia-yang-egois membawa Alvin jauh darinya.

*

[Cakka]

Ketegangan itu terjadi di dalam ruangan luas bernuansa warna-warni yang di-desain dengan seni yang teramat menawan. Seniman-seniman remaja yang hebat itu benar-benar menyulap ruangan berlabel kelas seni itu, tampak begitu indah, cantik dan menarik.

Tapi bagi Cakka, tak ada ada secuilpun keindahan yang terpatri di dalam kelas itu. Semuanya hanya menimbulkan sensasi panas dan menyebalkan.

Ternyata, bukan hanya di ruang guru saja yang menjadi perdebatan sengit itu. Tapi di kelas seni pun menjadi lokasi yang lebih sengit lagi. Semua itu karena Cakka memprotes para member seni yang dengan seenaknya mengeluarkan Debo sebelah pihak. Awalnya memang Cakka datang dengan baik-baik. Tapi entah apa yang terjadi hingga kata-kata kasar pun ikut menyisip dalam kalimat-kalimat mereka.

"Gue sih maunya Debo itu profesional. Gak mementingkan apapun selain keberhasilan acara!" cukup egois memang. Tapi itulah yang membuat anak-anak seni mendapat banyak penghargaan. Tentunya setelah anak-anak basket.

Cakka mendengus kesal. Ia menatap Kak Patton―Ketua Kelas Seni―dengan tajam.

"Lagian lo tuh anak basket, ko berani-beraninya sih ngatur keputusan kelas seni? Emang kelas seni pernah gitu ikut campur urusan anak-anak basket? Nggak kan?"

"Eh, ini gak ada hubungannya sama basket, ya? Lagian gue kesini bukan atas nama basket. Gue kesini tuh," ucapan Cakka terpotong.

"Atas nama Cakka Nuraga si pemilik gelar mvp yang jadi kebanggaan guru-guru?" Kak Patton nyolot. Ia menatap Cakka jengkel. Tak terfikir akan ada adik kelas yang berani mendebatnya yang memang dikenal tegas tanpa kompromi.

"Loh, kok lo jadi nyebelin gini sih? Gue bahas Debo ya disini?! Gak basket, gak juga gue!" Cakka berdiri dari duduknya. Menggebrak meja dengan kasar. Dan repleks itu membuat tangannya yang memang sejak tadi sakit, terasa patah. Tapi ia mencoba menyembunyikan sakit itu.

"Eh, lo jangan buat keributan dong!" salah satu member seni berwajah manis, berdiri dari duduknya dan menatap Cakka tidak suka.

Cakka mengalihkan tatapannya pada orang itu. Gadis cantik yang dikenalnya bernama Oik itu, tampak begitu kesal padanya. Tapi Cakka tidak peduli. Ia kembali menatap Kak Patton yang tetap tenang. "Gue gak buat keributan ya? Tapi ketua lo ini yang cari ribut!" Cakka menunjuk wajah Kak Patton. Sungguh tidak sopan. Dan itu membuat member-member yang lain marah. Tidak akan ada yang suka, pemimpin yang kita hormati, diperlakukan tidak baik seperti itu.

"Eh, lo gak sopan banget sih jadi adik kelas!" Seseorang yang tidak Cakka kenal, menepis tangan Cakka dengan kasar. Cakka meringis. Dan tanpa disadari orang itu mendorong dada Cakka. Tidak terlalu kasar memang, tapi itu cukup menyakitkan untuk Cakka. Dadanya sesak.

"Gue akan bertindak sopan selama orang itu bisa sopan sama gue!" seru Cakka memegang dadanya kuat-kuat. Sakit.

Kak Patton berdiri dari duduknya. Ia mencoba menjauhkan orang itu dari Cakka. "Sorry Kka! Lo memang datang kesini baik-baik. Lo juga ngomong baik-baik. Dan emang gue yang mulai keributan ini. Tapi gue gak suka cara lo yang sok ngatur-ngatur urusan anak-anak seni. Lo minta Debo direkrut kembali dengan alasan gak jelas. Debo di-out itu sudah kesepakatan anak-anak seni." Bijak Kak Patton. Ia ikut cemas melihat wajah Cakka yang tiba-tiba memucat. "Dan lo," ia beralih menatap orang itu. "Lo gak perlu sekasar itu. Bagaimanpun juga, Cakka adik kelas gue. Anak seni bukan anak karate yang menggunakan pukulan untuk nyelesain masalah. Menyelesaikan masalah juga ada seni-nya bro!"

Cakka menarik nafas pendek. Ia salut dengan kebijakan Kak Patton. Dan melihat itu, membuatnya tak bisa memaksa Kak Patton untuk memasukan Debo lagi. Ia kembali gagal membalas kebaikan sahabatnya itu.

"Gue minta maaf," lirih Cakka barengan saat dengan kasar seseorang menarik tangannya. Ia terseret ke luar ruangan dan menjauh dari tempat itu.

"Lo apa-apaan sih Kka? Ini gak lucu tahu gak?" Debo menghentikan langkanya saat yakin jaraknya sudah jauh dari kelas seni. Ia menatap Cakka marah. Cakka sendiri masih mencoba mengatur nafas. Agni memilih berdiri di samping Cakka. Menghindari kemungkinan terburuk.

"Gue gak suka lo sok jadi pahlawan buat gue! Bukannya gue udah bilang, kalo buat gue kepanitiaan teater itu gak lebih penting dari lo. Dan lo yang jelas lebih agung buat gue dengan begitu rendahnya meminta Kak Patton merekrut gue kembali! Dasar bodoh!"

Belum pernah sekalipun. Sekali saja! Debo menaikan nada suaranya, membentak siapapun apa lagi Cakka dan Agni. Dan ini untuk yang pertama kalinya ia begitu marah. Intonasi suaranya menginjak level tertinggi. Dan itu terlontar untu Cakka yang selama ini selalu dibelanya.

"Lo egois De! Kenapa lo larang-larang gue jadi pahlawan buat lo sementara lo banyak berkorban buat gue? Kenapa lo gak izinin gue jadi pembela buat lo sementara lo tak henti-hentinya membela gue? LO EGOIS! Lo gak mikir apa perasaan gue yang menyimpan banyak beban lantaran hutang budi sama lo!" teriak Cakka. Wajahnya yang memang sejk tadi pucat, kini ditemani keringat dingin. Ia menahan sakit yang mulai mengambil alih sebagian tubuhnya. Nafasnya terengah.

"Bukannya gue udah bilang, gue bukan orang pamrih yang mengharapkan balasan sedikitpun! Demi Tuhan gue ikhlas! Dan lo gak ngerti itu. Shit lo!" Debo balik kanan meninggalkan Cakka dan Agni.

Agni menangis. Tak kuasa menghentikan pertengkaran itu. Tak kuasa menghentikan Debo.

Cakka berlari mengejar Debo. Tak peduli dengan kanker yang dengan semangatnya membelit tulang-tulangnya. Ia tetap berlari. Agni mengikutinya dari belakang. Cemas menghantuinya. "DE! GUE MINTA MAAF," teriak Cakka. Langkahnya semakin pelan. Punggung Debo semakin jauh. Kakinya sakit. Dadanya sesak. Benar-benar sesak. Tak ada udara yang bisa masuk ke dalam paru-parunya. Dan ia masih melangkah meski tak mungkin langkah Debo tersusul.

Sayup-sayup Debo mendengar suara Cakka. Tapi tak sedikitpun niat dalam hatinya untuk berbalik atau sekedar berhenti. Air matanya terbendung sempurna. Hampir menetes. Hatinya sakit.

Sakit karena tak habis fikir dengan jalan fikiran sahabanya itu. Kenapa di saat ia memposisikan tahta paling tinggi untuk Cakka, sahabatnya itu justru merendahkan tahta itu menjadi paling bawah hanya untuk membalas kebaikannya, yang sama sekali tak pernah ia harapkan. Ia juga sakit karena amarah dalam dirinya yang selalu bisa ia kendalikan, saat ini benar-benar buas dan memaksa ia bersikap kasar pada Cakka. Menyakiti orang yang disayangi memang sama halnya dengan menyakiti diri sendiri.

"Cakka! Berhenti!" lirih Agni memegang tangan Cakka.

Cakka menurut. Kakinya lemas. Kepalanya juga terasa berat. Sampai ia menyadari darah segar mengalir dari lubang hidungnya. Kali ini tak ada sedikitpun persediaan oksigen dalam tubuhnya. Detak jantung yang semula bekerja cepat, perlahan melemah, nyaris berhenti. Ia meremas dadanya kuat. Tak main-main sakitnya. Kanker itu kali ini menghantam keras pemompa darahnya. Perlahan tangannya melemas. Hingga tubuhnya pun dirasakan tak ada. Ia jatuh tak sadarkan diri.

"Deboooo!!" repleks Agni menjerit panik. Ia menahan tubuh itu. Serempak air matanya turun tanpa komanda. Ia takut.

*

[Gabriel]

Tawa bahagia itu menggema ceria di setiap pelosok SMA Pemuda. Tak terkecuali. Semuanya tampak begitu menikmati acara baksos yang baru bisa diselenggarakan, setelah beberapa kali mendapat berbagai macam halangan. Selain karena undangan dari SMA 97, juga karena kondisi si Ketua Osis yang akhir-akhir ini lebih rentan dan sering kambuh.

"Lo jangan panas-panasan dong Yel!" Shilla berdiri di samping Iyel yang tampak asyik dengan sapu dan alat-alat kebersihan lainnya di lapangan upacara.

"Gak apa-apa dong. Masa iya sih gue cuma diem aja dan gak mau ikut membantu cuma gara-gara cuacanya terik. Pemimpin yang baikkan harus bisa berbaur dengan yang dipimpin, dalam kondisi bagaimanapun. Mau panas, mau hujan, pemimpin itu harus bisa merasakannya juga. Jangan bisanya cuma duduk di kursi kehormatan sambil tunjuk sana tunjuk sini!" jelas Iyel tanpa menghentikan aktifitasnya; menyapu rumput-rumput yang baru saja dicabut oleh siswa-siswa yang lainnya.

"Ya, tapi kondisi lo kan beda." Kata Shilla pelan. Ia yang memang sejak tadi sibuk dengan si Mr. Ci, segera mematikan kameranya dan turut membantu Iyel.

"Kiki mana Shil?" tanya Iyel kemudian.

Shilla berjongkok dan segera mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh di sisi paving block. "Kenapa lo tanya-tanya si Kiki? Cinta lo sama dia?" canda Shilla terkekeh pelan.

"Ye, orang gue cinta sama lo Shil!" goda Iyel ikut berjongkok. Melupakan sapu yang sedari tadi dipegangnya.

Entah karena cuaca panas, dan kulit wajah Shilla sensitif jika terkena sengatan matahari, warna merah dan panas, sesaat merayap di pipi gadis cantik itu. Ditambah dadanya yang tiba-tiba digedor keras, membuat mulut Shilla tersulam. Tak mampu bicara.

"Haha, digombalin dikit juga merah banget tuh pipi. Apa lagi kalo gue nembak lo beneran." Melihat raut wajah Shilla, Iyel nyeletuk seenaknya tanpa tahu perasaan Shilla yang tiba-tiba mencelos; dikira lo cinta beneran sama gue.

"Ish, lo mah ah, tega sama gue!" protes Shilla pura-pura kesal. Iyel hanya tertawa kecil melihat wajah lucu Shilla.

"Yel!"

"Ya?"

"Tahu gak bedanya rumput sama lo apa?" tanya Shilla menatap Iyel yang juga menatapnya. Pandangan mereka beradu. Dan Shilla merasa begitu tenang dengan mata teduh Iyel.

"Apa memang?"

"Kalau rumput itu, tumbuh seenaknya di sekitar tanaman lain, kalo lo itu tumbuh seenaknya di hati gue."

Iyel tersedak. Ia batuk-batuk.

"Lo gak apa-apa kan?" tanya Shilla cemas. "Baru digombalin sama gue juga kaya kumat deh tuh penyakit. Apa lagi kalo digombalin sama Angel. Berhenti juga tuh jantung lo." Dengan santainya ia membalas ucapan Iyel tadi sambil mengusap-ngusap punggung Iyel.

"Gombalan lo basi!" ejek Iyel masih dengan batuk-batuknya.

Shilla menyeringai; gemas; tapi itu tulus dalam hati gue Yel! Lo jadi cowok gak peka banget. Sebel gue sama lo.

"Bengong lagi lo! Ambilin gue minum dong!" Iyel masih saja batuk-batuk. Ia menepi ke sisi kapangan. Gombalan Shilla basi. Tapi cukup ampuh membuat jantung Iyel kehilangan kendali.

Shilla yang baru sadar dari lamunannya segera berlari meninggalkan Iyel dan kembali dengan satu botol air mineral. Tanpa babibu lagi, ia segera menyerahkan air mineral itu kepada Iyel.

"Lo gak apa-apa kan Yel? Sakit gak?" Shilla menatap Iyel khawatir.

Iyel menggeleng pelan sambil meneguk air yang baru saja Shilla berikan. "Gombalan lo senjata mematikan banget buat gue." Ujarnya setelah memastikan batuknya berhenti.

"Ye, itu penyakit lo-nya aja yang rese. Bikin gue panik mulu." Shilla duduk di samping Iyel. Kembali mengoperasikan si Mr. Ci. Iyel memilih memperhatikan anak-anak yang tetap sibuk dengan tugasnya masing-masing sembari merasakan tiap denyutan rasa sakit di bagian dadanya. Mencoba mengendalikan sakit itu.

Hening. Lama sekali.

"Yel, apa yang lo fikirkan tentang cinta dan Harry Potter?" Shilla mengusik keheningan. Ia mengarahkan kameranya ke hadapan Iyel yang masih asyik dengan aktifitasnya, sehingga hanya wajah bagian sampingnya saja yang tampak di layar Mr. Ci.

"Cinta dan Harry Potter?" Iyel memastikan. Sudah lama Shilla tak menyuruhnya mendeskripsikan hal-hal seperti itu. Dan pertanyaan Shilla saat ini membuat ia berfikir dua kali lipat lebih keras.

Shilla mengangguk semangat.

"Apa ya?" fikir Iyel. Seperti biasa, wajah Iyel saat sedang berfikir, selalu tampak lebih keren dan berkarisma. Dan itu membuat perasaan Shilla seperti ditaburi kasturi paling wangi di dunia ini. Ia benar-benar jatuh cinta pada sosok yang saat ini memenuhi layar kamera kesayangannya.

"Cinta itu, seperti mantra-mantra Harry Potter. Mampu membuat kita tertawa sendiri layaknya mantra rictusempra. Cinta juga kadang-kadang menjelma jadi mantra confundus yang bikin kita bingung. Dan yang paling parah, bisa juga loh cinta membunuh kita seperti mantra avadra kedavra-nya. Hehe, cinta itu, Acio! Menyakitkan."

Dramatis!

Shilla tertegun. Dan Iyel tetap pada posisinya. Tak sadar kalau ucapannya tengah membuat gadis cantik di dekatnya mabuk kepayang.

"Shilla..." panggil Iyel.

Shilla masih diam. Efek memabukan dari kata-kata Iyel belum sepenuhnya hilang.

"Lo jangan suruh gue pergi ya kalo lo sama Kiki udah tahu alasan sebenarnya, kenapa Om Dave sama bokap gue nyuruh gue jauh-jauh dari lo berdua!" tanpa menunggu Shilla meresponnya, Iyel tetap melanjutkan kalimatnya. Kali ini ia menghadap ke arah kamera.

Shilla terhenyak begitu wajah itu sempurna tertangkap lensa Mr. Ci. "Eh, apa Yel?" tanyanya.

Iyel mendesah; dasar! Gue ngomong panjang-panjang juga. Fikirnya kesal. "Pokoknya, apapun yang terjadi, lo sama Kiki jangan jauh-jauh dari gue!" ringkasnya sambil memaksa Mr. Ci. Menjauh dari hadapannya, sehingga tatapan mereka bisa sejajar rapi. Saling mentransfer keyakinan bahwa memang tak boleh ada yang menjauh.

Shilla mengangguk pasti. Sebaris senyum terlihat. Tercoret penuh. Menjadi perhiasan paling indah di wajah gadis itu.

Iyel membalas senyuman itu. Sejurus kemudian memeluk Shilla erat.

Shilla terperangah. Dengan sudut matanya ia mengamati keadaan sekitar; Iyel memeluknya di tempat umum. "Yel," panggil Shilla. "Gak baik pemimpin kayak gini. Ini terlalu terbuka."

Iyel tidak merespon. Dan Shilla merasa pelukan Iyel seperti cengkaraman kuat. Ia nyaris tak bisa bernafas dengan pelukan itu. "Yel,"

Iyel tetap diam. Dan Shilla baru menyadari kalau Iyel tengah kesakitan saat pelukan itu merenggang. Beban di tubuhnya memberat. Iyel melemah. Terkulai dalam dekapan Shilla.

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea