Sabtu, 25 Agustus 2012

Don't Over_part 14 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 00.27

Setiap cerita tentu ada prolog, dimana harus ditutup dengan epilog. Tak sempurna jika cerita tak ada akhir. Bahagia maupun sedih, sebuah kisah tentulah harus memilih salah satunya. Dan kembali ke awal. Dimana semua ini hanyalah skenario Tuhan, tak ada negosiasi untuk kita merombak alur cerita itu. Kita hanya pemeran dan kita hanya ikut maunya sang penulis. Tak perlu katakan jangan berakhir! Karena sungguh ini tak benar-benar berakhir.

*

[Alvin]

Sivia menggenggam erat tangan itu. Mengelusnya, menempelkannya di wajahnya yang selama beberapa hari ini selalu tampak basah. Kadang kala ia menciumnya lembut. Berharap kecupan itu menjadi mantra pemanggil yang jitu, untuk membuat si pemilik tangan meninggalkan bunga tidurnya. Ia begitu sedih melihat pemandangan di hadapannya ini.

Tubuh kurus itu hanya bisa diam selama beberapa hari setelah insiden pingsannya itu. Bergeming, indifferent, acuh tak acuh dan tak peduli dengan apapun. Meski dengan jarum-jarum yang menembus kulitnya sekalipun. Ia sakit, tapi tak merasakan sakit itu.

"Alvin," suara serak nan parau itu melirih. Bibir tipis merahnya kembali mencium punggung tangan itu. "Bangun dong! Katanya lo mau lihat Alyssa Saufika Umari. Hari ini dia kan konser Al," kristal-kristal bening itu menetes. Membasahi luka-luka baret di punggung tangan itu. Luka-luka baret yang tergores akibat tancapan si selang infus. Tanpa kompromi, tangan kurus itu dijadikan korban oleh sang dokter untuk memasukan cairan ke dalam tubuh yang semakin melemah saja itu.

"Alvin," Sivia kembali melirih

Gemericik hujan meneteskan kepiluan. Semakin menderas. Mecipratkan titik-titik kecil di jendela ruang pucat itu. Semakin lama, semakin banyak dan basah.

"If you see that rain." Sivia menenggelamkan wajahnya di balik lengan Alvin yang masih digenggam erat tangan kirinya. Sementara tangan kanannya ia biarkan memeluk tubuh itu.

You have to know about love,
because the rain is love.
It fall everytime and everywhere.


Tanpa nada yang jelas, Sivia menyenandungkan larik-larik lagu itu. Hanya gemuruh suara hujan yang berkolaborasi dengan suara di balik monitor―pendeteksi detak jantung Alvin―yang menjadi musik pengiring lagu itu. Membuat jiwa si gadis bergetar. Tangisnya pecah semakin hebat.

It's about love.
Together for love.
Don't ask to me.
But ask to that rain.


Suaranya tercekat isak tangis. Ia berhenti sejenak. Larut sebentar dalam air mata itu. Dadanya terasa begitu perih.

Sementara itu di luar sana, Rio berlari kencang menembus hujan. Ia bukan juaranya lari. Ia hanya juara olimpiade matematika yang mempunyai ketulusan hati yang mampu membuat kakinya berlari secepat itu. Tanpa memperhitungkan apa yang akan terjadi setelahnya.

Ketulusan itu membuat ia tak perlu hitung menghitung. Ketulusan itu membuat ia lupa rumus apa saja yang bisa dijadikan perhitungan. Ia tak memerlukan angka matematika. Yang ia perlukan hanya energi tambahan untuk membantunya yang mulai lelah dan melemah, untuk mengejar sebuah innova silver yang tengah membawa kado istimewanya, kado yang harus ia persembahkan untuk si sahabat yang saat ini berada di gerbang antara ada dan tiada.

"Alyssaaaaaa!" suaranya menguap di balik hujan. Jaraknya hampir dekat dengan innova itu. "Berhenti! Gue mohon berhenti! Alyssa..." teriaknya lagi saat ujung jarinya menyentuh bagian belakang mobil itu. Namun nihil! Mobil itu justru semakin cepat. Meninggalkannya.

Bukan Rio menyerah. Tapi memang tubuhnya sudah tidak mengizinkannya berlari cepat lagi. Akan fatal jadinya jika ia harus memaksa kakinya yang sudah mulai lemas untuk terus berlari. Ia terduduk di trotoar jalan raya. Kali ini tak hanya air hujan yang memeluk dingin tubuhnya. Tapi juga air mata kesedihan perlahan membelenggu jiwanya.

Life is blind without love.
And love is blind.
Only heart can change it.
Our heart and our love.

Sivia menyelesaikan nyanyiannya saat seseorang masuk ke dalam ruangan. Ia mengangkat kepalanya untuk memastikan siapa yang datang.

Mbak Nova, dengan sekeranjang buah-buahan dan beberapa pack makanan, berjalan mendekatinya. Sivia selalu berfikir, kenapa Mbak Nova rajin sekali membawa makanan sementara Alvin bahkan tak menyentuh sedikitpun makanan itu. Hingga akhirnya makanan itu terpaksa dibagikan kepada pasien lain atau kembali dibawa pulang.

"Al! Mbak bawa makanan nih. Lo bangun dong! Katanya lo mau makanan yang enak-enak. Giliran Mbak bawain, malah lo cuekin." Mbak Nova berbisik di telinga Alvin. Tapi cukup sampai juga ke telinga Sivia.

"Alvinnya masih mau tidur, katanya Mbak," ujar Sivia membuat Mbak Nova beralih menatap Sivia. Sedikit menyunggingkan senyuman. Senyuman pahit dan getir.

Sivia membalas senyuman itu. Ia tahu kalau Mbak Nova jauh lebih terpukul saat tahu Alvin pingsan dan dikabarkan kritis. Ia hanya bisa menatap kosong tumpukan makanan yang jadi pesanan Alvin saat itu. Ketakutan dan kepanikan menjadi tombak yang dengan sukses menancap di dadanya. Membuatnya sesak dan memaksa air matanya saling dorong minta keluar.

"Iya Vi," desah Mbak Nova lebih merapat lagi ke arah Sivia. Menatap wajah Sivia yang sama kusutnya dengan wajahnya; sama-sama memiliki mata sembab dengan warna hitam yang melingkar sempurna di sekitarnya. Alvin belum benar-benar pergi. Tapi kesedihan sudah merengkuh orang-orang yang mencintainya.

"Aaaarrghh!"

Rio berteriak kencang. Bersahutan dengan suara hujan yang semakin deras menghantam aspal jalan raya yang perlahan di selimuti gelap malam. Tubuhnya menggigil, bibirnya membiru, matanya memerah, kepalanya pening. Dan yang terpenting perasaannya berantakan.

Berjam-jam ia menunggu konser Alyssa Saufika Umari usai di depan gerbang gedung tempat konser itu berlangsung. Ia tidak diperbolehkan masuk hanya karena tiket yang ia miliki―tiket yan terpaksa ia ambil kembali dari Alvin―agak rusak dan kotor. Namun itu tak membuat pemuda pendiam itu menyerah untuk bertemu dengan Alyssa. Ia rela panas-panasan hingga akhirnya kehujanan hanya untuk itu; berbincang sebentar dan meminta Alyssa mewujudkan keinginannya. Sekali saja! Setelah itu terserah.

Tapi ternyata semua yang ia lakukan sia-sia saja. Sedikitpun ia tidak bisa melangkah mendekati sang pianis cantik itu. Selain hujan yang tiba-tiba turun tanpa izinnya, kumpulan fans Alyssa dan para bodyguard yang tubuhnya berkali-kali lipat lebih besar dari Rio, membuat tubuh kurus pemuda berhati baik itu terbuntang-banting saat mencoba mendekati sang bintang. Dan tentu saja ia tidak menyerah sampai sana. Ia mengejar mobil yang membawa Alyssa meski harus mendapat serangan bertubi-tubi air hujan.

Tekadnya hanya satu. Membuat Alvin tak hanya duduk di kursi penonton. Tapi duduk di kursi istimewa bersama idolanya itu. Tak terbilang bahagianya jika itu benar-benar terjadi.

Rio menangis dalam senyum membayangkan hal itu. Tapi apa lagi yang harus ia lakukan untuk membuat apa yang jadi angan-angannya terwujud, sementara innova itu sudah membawa kado istimewa itu jauh darinya.

"Via gak akan menghadirinya Mbak." Sivia kembali menatap Alvin. Ia hampir menangis lagi kala melihat kabel-kabel dan alat-alat medis yang saat ini menguasai tubuh Alvin. Tak bisa terbayangkan jika pada akhirnya alat-alat itu harus dilepas. Hanya karena alat-alat yang bahkan tak Sivia ketahui berfungsi untuk apa, yang mampu membuat Alvin bertahan.

"Percuma juga Via hadir Mbak. Tulisan Via gak akan jadi juara. Lagi pula Via gak mau ninggalin Alvin. Via gak peduli lagi sama lomba itu. Mau menang atau ngga, Via gak peduli."

Mbak Nova menghela nafas. Kemudian memeluk tubuh Sivia. Tampaknya, lemahnya sang panglima membuat pasukannya begitu rapuh. Termasuk ia yang juga berbaris diantara pasukan itu.

Tidak semestinya itu terjadi. Alvin belum benar-benar kalah. Justru ia sedang berjuang dua kali lipat lebih keras. Dan mereka tak seharusnya menjadi rapuh. Mereka harus menjadi kekuatan yang mampu membantu Alvin melawan musuhnya itu.

"Dengarkan Mbak Vi! Lo harus tetep hadir. Lo harus pastikan tulisan lo jadi juara. Berikan kemenangan lo untuk Alvin seperti Rio yang mempersembahkan kemenangannya untuk Alvin."

Dan Sivia tertegun. Lama sekali. Mencerna kata-kata Mbak Nova.

"Hei!"

Sesaat saja Rio mengangkat wajahnya begitu sapaan keras menyapa gendang telinganya. Ia baru sadar sebuah innova silver―mobil yang dikejarnya tadi―berada di hadapannya. Ia menatap gadis cantik yang saat ini melongok di balik kaca mobil itu.

"A, Alyssa?" gugup Rio tak percaya. Ia berdiri. Membiarkan mata merahnya sejajar dengan mata indah bintang itu.

"Kamu bisa menghubungi nomor ini jika benar-benar ada perlu denganku!" seru Alyssa lebih keras agar kalimatnya sampai ke telinga Rio dan tidak kalah oleh suara derasnya air hujan. Ia menghadapkan sebuah kertas yang langsung kuyup ke hadapan Rio.

Dengan tangan bergetar, Rio mengambil kertas itu. Air matanya tumpah semakin hebat. Haru, kecewa, bahagia bersatu dalam air mata itu. Beruntung Alyssa tak melihat air matanya karena air hujan yang juga turut membasahi seluruh wajahnya.

"Maaf dengan kejadian barusan. Hujannya terlalu besar. Aku tidak mendengar teriakanmu. Sekali lagi maaf!" Sesal Alyssa mengambil sesuatu di dalam ranselnya. "Tak baik hujan-hujanan. Aku mau saja mengajakmu numpang di mobilku. Tapi saat ini kondisinya tidak memungkinkan. Pakailah payung ini!" Ia menghadapkan payung putih polos kepada Rio yang langsung menerimanya.

"Terimakasih." Ujar Rio. Bibir pucatnya melemparkan senyum.

Alyssa membalas senyuman itu. Sangat manis. "Aku duluan. Sekali lagi mohon maaf."

Rio mengangguk. innova itu kembali melaju cepat.

"Jangan buat aku terlihat kejam sama fans-ku, Mama! Ify hanya memberikan nomor ponsel Ify!"

"Tapi orang itu akan besar kepala. Lihat saja! Beberapa jam lagi dia akan mengganggumu dengan sms-sms tidak penting. Kau harusnya jaga image!."

"Masa bodoh dengan image! Jaim tidak membuat Ify banyak teman."

"Ify,"

"Sudahlah! Masih beruntung Ify tak mengajaknya numpang."

Perdebatan itu terjadi pasca mobil itu melaju meninggalkan Rio.

*

"Via!"

Gadis itu membuka mata begitu suara seseorang memanggil namanya. Tak ada wajah siapapun yang memenuhi bola matanya sebelum ia menengok ke arah kiri dan…

Cup!

Kecupan lembut mendarat di pipi chubby-nya. Dan repleks membuat tangannya memegang objek yang baru saja jadi sasaran bibir tipis itu.

"Aish,
Alvin! Kau ini..." pipi gadis itu memerah. Ia menunduk malu-malu. Dan Alvin tersenyum melihat gadis itu salting dibuatnya.

"I love you!" Bisik Alvin tepat di telinga gadis bernama Via itu. Sejurus kemudian ia kembali mendaratkan kecupannya. Kali ini tepat di kening Via.

Via hanya tersenyum sembari menjatuhkan diri ke dalam pelukan
Alvin. "I love you too." Desisnya mencium hangat aroma tubuh itu. Sungguh menenangkan.


*

[Cakka]

Debo terduduk lemas di samping pintu ruang ICU. Wajahnya ia biarkan terbenam di balik lututnya yang ia tekuk. Agni yang berjongkok di hadapannya, sudah tahu kalau pemuda bijak ini sedang menangis. Hatinya yang bersih dan tulus menyayangi sahabat-sahabatnya, membuat ia tak mampu melangkah lebih jauh lagi. Nalurinya yang putih menuntun kakinya kembali begitu teriakan Agni sampai ke telinganya. Dan yang terpenting rasa sakit Cakka yang tersampaikan ke dalam batinnya.

"Gue yang salah kan Ag! Gue yang buat Cakka kaya ini. Gue udah nyakitin sahabat gue sendiri. Gue hanya berani bilang sayang sama dia. Tapi bahkan gue gak mau berhenti saat dia manggil gue. Gue bener-bener munafik kan Ag? Sayang gue di lisan doang. Faktanya, gue tetap nyakitin dia!" Debo menjambak rambutnya sendiri. Ia kalut. Perasaannya porak poranda. Rasa bersalah dan menyesal menampar keras hatinya.

"Ngga De!" Agni menggeleng tegas. "Lo sayang beneran sama Cakka. Lo gak munafik.Gue lihat itu sendiri, gue lihat ketulusan lo itu."

Apa yang Debo katakan? Hanya orang bodoh yang bilang dia munafik, setelah apa yang diberikannya kepada Cakka. Orang buta pun tahu kalau ia manusia paling baik untuk Cakka. Semuanya tahu ia pancarkan cahaya. Ketulusan, pengorbanan, keikhlasan dan kerendahan hatinya sudah tergambar jelas dan tidak ada yang berani memungkiri itu.

"Gue manusia paling jahat Ag! Gue buat sakit dalam dirinya saat dia bener-bener lemah. Harusnya gue kembali pas dia manggil nama gue. Harusnya gue tahu kalau apa yang dia lakukan tak lebih karena ingin buat gue bahagia."

"Udah De! Gak ada yang salah. Gak boleh ada penyesalan. Udah cukup! Gue gak mau lo ikutan lemah kaya gini." Dengan satu jurus, Agni memeluk tubuh Debo. Mencoba menenangkannya di saat ia sendiri tidak tahu tenang itu seperti apa.

"Cakka akan baik-baik aja kan Ag?" lirih Debo pelan.

"Tentu saja! Lo kan tahu Cakka kuat. Dia juaranya basket, dia jagoannya lari. Jadi mana mungkin ia kalah sama sakitnya?" tangis Agni pecah kala sadar bahwa saat ini Cakka bukan lagi anak basket. Ia bahkan lupa kalau Cakka sudah tak mampu berlari cepat seperti dulu lagi. Jangankan untuk berlari, memegang pena pun masalah serius untuknya.

"Agni? Debo?" Dr. Irsyad bersama beberapa suster lainnya membuka pintu ruang ICU. Pandangan mereka sontak menangkap sosok Agni dan Debo yang sudah melepaskan pelukannya.

Baik Agni maupun Debo sama-sama menengadah. Memandang Dr. Irsyad. Wajah mereka tak menyampaikan kalimat apapun selain keiingintahuan mereka tentang kondisi Cakka.

Dr. Irsyad berjongkok di hadapan kedua orang hebat itu; mensejajarkan diri. "Jangan khawatir! Cakka baik-baik saja. Kalian bisa menemuinya nanti setelah ia dipindahkan ke ruang rawat. Jangan coba-coba terlihat lemah di hadapannya. Cipratkan semangat dan keceriaan untuk dia!"

Dan kalimat Dr. Irsyad menjadi salam penutup untuk kegundahan hati Agni dan Debo.

*

Senyuman itu ia tawarkan kepada dua orang yang baru saja masuk ke dalam ruang rawatnya. Sakit yang tersimpan sesaat meredup kala melihat wajah-wajah tak asing itu. Mata sembab mereka memancarkan ketenangan. Wajah mereka bak air wudlu yang membasuh setiap resah dalam sanubari. Mendamaikan.

"Maaf!"

Kalimat pembuka yang ampuh layaknya pusaka yang mampu membuat kekuatan jahat manapun melepuh. Percayalah! Tak ada kata paling indah, tak ada mantra paling ajaib selain maaf-memaafkan.

"Kok jadi lo yang minta maaf?" Cakka mencoba membangunkan tubuhnya. Agni membantu dan saat itu pula pandangan mereka beradu. Menciptakan getaran aneh di dada mereka. Setelah yakin posisi Cakka nyaman, Agni langsung menjauhkan diri dari Cakka. Takut-takut kalau Cakka mendengar detakan jantungnya yang tak karuan.

Cakka memegang dadanya. Aneh. Getaran itu sungguh lain dari getaran biasanya. Tidak sakit. Tidak juga membuanya nyaman; efek karena terlalu sering menggoda dan membuat Agni salting.

"Kenapa Kka? Sakit?" tanya Debo cemas.

Cakka menggeleng pelan sembari menurunkan tangannya. Agni sendiri masih diam mematung. Pandangannya tertuju ke sembarang arah. Dan Debo hanya menatapnya bingung.

Hening sejenak.

"Gue yang harusnya minta maaf sama lo De! Maaf dengan segala kesalahan yang gue perbuat hari ini. Termasuk kejadian ini." Ujar Cakka saat irama jantungnya sudah kembali normal.

Debo tersenyum. Tapi tak bisa memberi jawaban apapun atas kalimat Cakka. Lidahnya kelu oleh rasa bersalah.

”Peran lo terlalu sempurna buat minta maaf." Sambung Cakka. Raut wajahnya berubah seketika. Kesedihan terbit tiba-tiba di wajah pucatnya.

Debo tak merespon kembali. Keheningan kembali menyergap. Entah kenapa sepi lebih sering memihak saat-saat ini. Seolah tak ada kata-kata yang tepat. Seolah bahasa mereka telah dimusnahkan. Tak ada yang bisa bicara.

"Kata Dr. Irsyad, tangan sama kaki gue udah kehilangan fungsi. Kankernya udah bermetastasis hingga otak gue. Syaraf-syaraf dalam tubuh gue udah banyak yang rusak. Gue," tiba-tiba saja Cakka bersuara di tengah keheningan. Kalimat menggantungnya mau tidak mau membuat Agni dan Debo menatapnya lebih serius. Tanpa menunggu pun mereka sudah tahu kelanjutan cerita itu. Dan mereka sepertinya tak perlu lagi memaksa Cakka untuk meneruskan kalimatnya.

"Jangankan kaki sama tangan. Kalo jantung lo kehilangan fungsi pun gue rela jantung gue jadi gantinya. Hahaha..." tawa renyah Debo menyelubungi ruangan. Terdengar seperti candaan belaka. Tapi sisipan makna di baliknya, tepat mengenai objek sasaran. Tertancap tepat di relung Cakka.

Agni tersenyum mendengarnya. "Lo tak perlu khawatir Kka! Kalo kaki lo bener-bener gak bisa melangkah, masih ada kaki gue yang bisa membawa lo ke arah tujuan yang lo maksud." Tutur Agni penuh keceriaan. Ia mengelus lembut lengan Cakka.

Cakka menatap teman-temannya bergantian. Air mata membendung di pelupuk matanya. Dan dalam satu kedipan saja, kristal bening itu menetes. Ia menangis tapi juga tersenyum. Senyumannya mengguratkan rasa bangga. Bangga pada dirinya akan sahabat-sahabatnya yang Tuhan berikan padanya. Dan air matanya, tak ubahnya benih-benih kebahagiaan yang tumbuh dalam jiwanya. Kebahagiaan atas nama Agni dan Debo yang akan terus tersimpan hingga saatnya nanti Azrail mengibarkan bendera kuning untuknya.

"Jangan nangis! Lo gak tahu apa, kalo gue udah lelah banget buat nangis." Protes Agni tidak suka melihat air mata Cakka menetes. Ia menghapus air mata itu. Tapi air matanya sendiri menyeruak keluar lebih deras.

"Lo juga jangan ikutan nangis dong Ag!" Debo yang kali ini berhasil menahan air matanya untuk tidak tumpah, menghapus air mata Agni.

Dan sebaris senyuman. Senyuman yang telah dikata sebagai senyuman pertanda bangga, terukir indah di bibir mereka. Percaya ataupun tidak, tak akan ada diantara mereka yang mau menggadaikan senyuman itu dengan permata sekalipun. Karena tak ada yang membuat mereka bangga selain mempunyai sahabat yang lebih berharga dari batu intan semahal apapun.

*

[Gabriel]

Jangan pernah pergi saat sahabatmu memintamu pergi. Karena dengan begitu, ia akan merasa sangat diperhatikan. Jangan pernah biarkan sahabatmu pergi, saat ia bilang ingin pergi menjauh darimu; paksa ia tetap di sisimu; karena dengan begitu ia merasa sangat dipedulikan. Tapi, jangan biarkan ia tetap tinggal di sisimu saat ia harus pergi darimu―demi kebaikannya. Paksa ia pergi meski ia tak ingin beranjak. Karena dengan begitu ia akan merasa sangat di sayangi.

"Gue mohon Yel!" Shilla memegang tangan Iyel yang untuk kesekian kalinya dipaksa menjadi kawan selang infus. Sorotan matanya yang sempat memancarkan kegelisahan, kini berubah dengan sorotan tajam penuh harap.

"Iya Yel. Demi kebaikan lo." Kiki yang juga tak kalah panik saat mengetahui tragedi pingsannya ketua osis yang entah untuk keberapa kalinya semasa Iyel menjabat, berdiri di samping Shilla. Wajahnya mengguratkan harapan ada anggukan kecil dari Iyel.

Iyel hanya diam. Tak merespon pertanda ia tak bisa memenuhi permintaan kedua sahabatnya.

Shilla dan Kiki mendesah. Tak tahu cara apa lagi untuk membujuk Iyel agar mau pergi ke Aussie. Melakukan pengobatan disana, yang katanya jauh lebih baik ketimbang di Indonesia.

Terbongkarlah sudah alasan Om Dave dan Pak Dayat memerintahkan Shilla dan Kiki untuk menjauhi Iyel. Semua itu dilakukan semata-mata karena Iyel yang tak menyetujui Ayahnya lantaran tak ingin berpisah dari Shilla dan Kiki, serta enggan meninggalkan tanggungjawabnya sebagai ketua osis yang bahkan sudah menunda berbagai kegiatan―termasuk baksos kemarin―hanya karena kesehatannya kerap kali memburuk. Dan kalau ia pergi ke Aussie, intinya ia cuti lama dan akan terjadi vacum of power di osis SMA-nya.

"Yel! Gue sama Kiki gak apa-apa kok lo tinggal, asal lo sembuh. Terus, osis kan masih ada Kiki selaku wakil lo. Gue jamin, kalo nanti lo balik, Osis kita sukses besar. Tak hanya diundang sama SMA 97. Tapi juga sama menteri pendidikan." Rayu Shilla.

Iyel mendelik. "Mending kalo gue balik. Lah, kalau gue mati disana? Gak ada lo berdua gimana? Tega lo berdua sama gue! Masa pas gue sekarat, lo berdua gak ada di sisi gue." Ketus Iyel. Dadanya yang masih terasa nyeri, kali ini dipenuhi sesak. Ia melempar pandangan ke luar jendela.

Kiki diam saja. Kata-kata Iyel membuatnya menciut dan takut. Ia tidak mau berkata-kata lagi. Kecuali harus mengundang perdebatan dan membuat kondisi Iyel yang kata Om Dave sangat buruk, lebih buruk lagi.

Shilla sendiri hanya bisa menghela nafas. Lelah ji
ka harus terus memaksa. Iyel hanya akan melontarkan kalimat-kalimat yang sama buruknya dengan monster-monster yang menakutinya.

Iyel menarik nafas dalam-dalam. Dan itu membuat jantungnya serasa dihimpit tulangnya sendiri. Rasanya sakit sekali Tapi ia tak perlu membesarkan sakit itu sepertinya. "Bukannya gue gak punya harapan hidup, tapi gue punya firasat yang kuat. Percuma gue ke Aussie juga. Mungkin banyak dokter yang bisa ngobatin sakit jantung gue. Tapi gue jamin, dokter hebat manapun tidak ada yang bisa memprediksi gue bisa kembali dalam keadaan hidup. Mereka tidak akan bisa ngobatin firasat kuat gue!" jelas Iyel menggigit bibir bawahnya. Bebicara panjang serasa membuat jantungnya remuk.

Baik Shilla maupun Kiki sama-sama mengernyit bingung. Tak mengerti dengan ucapan Iyel.

"Gue cuma ingin menghabiskan waktu gue sama lo berdua. Tidak dokter. Tidak juga alat-alat medis. Jadi, peluk gue! Peluk gue Shil, Ki!" nafas Iyel tiba-tiba memburu cepat. Tak beraturan. Repleks tangannya meremas dadanya. Ia mengerang.

Layaknya perintah raja, tanpa banyak berfikir, ia langsung memeluk Iyel. Entah untuk ke berapa kalinya tubuh itu menempel, dan entah untuk ke berapa kalinya juga rasa takut mendidih dalam dada gadis itu. Membuat air matanya meleleh di pipinya. Iyel terlalu sering membuatnya takut.

Bukan Kiki tak patuh pada perintah raja. Tapi ia tidak ingin rajanya gugur begitu saja. Ia berlari keluar ruangan. Mencari Dokter.

"Aaargh!!!" Iyel meremas lengan Shilla, hingga membuat gadis itu meringis. Tapi apa peduli gadis itu? Bahkan jika bisa, bukan hanya sakit itu yang ia mau. Tapi juga sakit di tubuh pemuda yang masih merintih dalam dekapannya itu.

Siapapun engkau, baik malaikat yang akan menjemput Iyel, atau Dewa kematian yang akan merampas Iyel, siapapun engkau, bolehkah gadis lemah ini meminta, jangan sekarang! Aku mohon.
Shilla melirih. Air matanya membasahi sedikit wajah Iyel yang sudah memucat dan dingin.

Gak bisa! Gak boleh berhenti Yel! Gak boleh!. Tangan Shilla yang sejak tadi parkir di dada Iyel, tak merasakan getaran itu. Jantung Iyel berhenti. Dan sesaat saja, tanpa jeda Shilla menangis histeris.

"Shil!" Kiki menarik Shilla menjauh dari tubuh Iyel dan membiarkan Om Dave melakukan cara apapun untuk menyelamatkan Iyel.

"Ngga Ki, Iyel udah pergi. Gue, gue gak merasakannya. Gue," Shilla terisak hebat saat Kiki membawanya keluar ruangan. Dengan satu gerakan, Kiki menarik Shilla dalam dekapannya. Memaksa gadis itu untuk tidak bicara lagi. Karna ia pun takut. Sungguh-sungguh takut.

TBC

2 komentar:

  1. Kerennn :')
    lagu yg dinyanyiin sama sivia lgunya siapa ka?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan lagu siapa-siapa.. puisi dari seseorang... hhehee

      Hapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea