Minggu, 26 Agustus 2012

Don't Over_part Alvin (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 01.50


*
[Alvin]

“Alvin! Haha, berhenti Al! Geli. Haha... Alvin!” Gadis itu menggeliat menahan geli saat  jari- jemari Alvin dengan sangat lincahnya menggerayami pinggangnya. “Haha, ampun Al! Aku nyerah. Ampun!” Gadis itu megap-megap. Dadanya naik turun, mengatur nafas saat Alvin berhenti melakukan aksinya.

“Haha... Via.. Via... lucu sekai kamu!” Alvin mengacak-ngacak rambut Via—gadis itu—sembari memamerkan deretan gigi putihnya.

Via menyeringai; mendelik kesal. “Kamu fikir, pinggangku piano apa? Ish, tangannya lincah banget.” Cemberutnya masih mengatur nafas.

Alvin hanya terkekeh geli melihat ekspresi wajah Via. Gadis itu selalu membuatnya begitu bahagia. Duduk berdua dengan Via membuat aktifitas sekecil apapun terasa begitu istimewa.

Via diam. Alvin diam. Keheningan membelit tiap jengkal taman kota yang jadi latar mereka saat itu.

“Genggam jemariku! Hingga aku bisa merasakan ada namaku yang mengalir di peredaran darahmu.”

Alvin menoleh begitu saja ke samping kiri saat menangkap suara Via yang saat ini asyik menatapi tiap rintikan lembut air mancur di hadapan mereka; penulis sedang beraksi.

“Peluk hangat tubuhku! Hingga aku bisa merasakan ada namaku yang berdetak di jantungmu.”

Alvin tetap diam. Menyimak dengan serius. Ia sangat suka saat Via mulai menyuguhkannya kata-kata indah. Terlebih kata-kata itu tercipta untuk dirinya.

“Rapatkan tubuhmu hingga tanpa jarak  aku bisa membisikkan sesuatu ke dalam hatimu, bahwa aku begitu mencintaimu.”

Alvin tersenyum dan sejurus kemudian memeluk gadis itu. Ia sungguh-sungguh bahagia.

*

Ini tentang aku, kamu dan dia. Kita yang telah terdaftar dalam skenario Tuhan. Bukan sebagai protagonis, antagonis dan figuran. Karena ini sungguh sebuah kisah sederhana yang Tuhan tulis untuk kita perankan.

Dimana aku berperan sebagai serorang gadis beruntung yang bisa berdiri diantara dua pria gagah yang begitu istimewa. Bukan untuk memilih dan memiliki salah satu dari kalian, tapi untuk melindungi kalian yang juga diperintah untuk melindungiku. Karena ini hanya kisah sederhana. Bukan kisah cinta segitiga.

Sivia berdiri di atas podium. Di hadapan para peserta lomba yang bukan main banyaknya. Di hadapan para juri dan sastrawan serta penulis-penulis hebat. Tangannya begetar; gugup luar biasa.

Bukan sebagai pemenang ia berdiri di podium kehormatan itu. Tapi sebagai Sivia yang meminta pihak penyelenggara lomba agar mengizinkannya berdiri disana. Membacakan kisah kelu yang pernah ia catat dengan tinta air mata.

Dan saat ini, tentu bukan aku yang mesti diceritakan. Bukan pula kamu. Tapi dia. Dia yang selalu diam tapi hatinya selalu bicara banyak hal. Berbicara bagaimana cara melindungiku, cara membahagiakanmu dan cara agar senantiasa menjaga kita.

Rio berdiri di samping Ibunya yang tampak sibuk mempersiapkan sarapan di minggu pagi ini. Bagi Rio, minggu adalah hari istimewa,  karena hanya di hari minggu sang Ibu bisa membuatkannya sarapan. Hari-hari lain Rio cukup mandiri untuk membuat sarapan sendiri.

Maklumlah, kedua orang tuanya hanya seorang buruh pabrik yang seluruh tenaganya terampas paksa untuk kemajuan perusahaan orang lain. Jadi Rio tidak begitu menuntut dilayani penuh oleh orang tuanya.

“Mau sarapan apa Yo?” tanya sang Ibu tetap fokus pada masakannya. Nasi goreng sederhana menjadi menu spesial pagi ini.

“Ya itu aja Bu. Tapi Rio gak makan di rumah ya Bu? Rio bekal nasi gorengnya buat dimakan di rumah sakit. Hari ini Via gak bisa kesana.” Jelas Rio agak serak. Tenggorokannya terasa sakit.

“Alvin belum sadar juga ya? Entar kalau Ayah sama Ibu gak sibuk, kita tengok dia deh.” Kali ini Ibu menoleh ke arah Rio setelah sebelumnya menghidangkan nasi goreng itu ke atas piring. Dan sontak pandangannya terhenti. Mengamati Rio lebih rinci.

“Kamu sakit Yo? Kok pucet?” tanyanya kemudian yang langsung diberi gelengan pelan oleh Rio.

“Oya Bu, Rio boleh pinjem ponsel Ibu gak?” setelah semalaman memikirkan bagaimana cara menghubungi Alyssa, hingga kepalanya yang penat akibat jadi sasaran air hujan, berdenyut sakit, akhirnya ia memutuskan untuk meminjam ponsel Ibunya.

Ibu hanya mengangguk mengiyakan tanpa menanyakan  alasan Rio.

Bagiku, dia itu daun. Memberi keteduhan pada orang lain di saat ia sendiri tersengat sinar matahari. Ia memberi di saat ia tidak punya. Ia ingin membuat kita bahagia padahal ia sendiri belum pernah merasakan kebahagiaan hakiki itu seperti apa. Kita lebih mampu darinya, tapi kita kalah telak oleh kesederhanaannya.

Tak samar ingatanku tentang ia yang senantisa memberikan jaketnya setiap kali aku dan kamu bermain air di pantai. Ia yang jadi tempat pengaduanku setiap kali kau berlaku usil padaku. Ia yang begitu peduli padaku. Juga dirimu.

“Ergh...”

Sesaat saja Mbak Nova menoleh ke arah samping begitu mendengar erangan kecil itu. Ditatapnya wajah Alvin yang sejak kemarin tidak menggoreskan ekspresi apapun.

Hanya wajahnya yang semakin pucat dan bibirnya yang kering, serta tulang pipinya yang semakin menonjolkan diri yang memberi tanda bahwa kondisiya semakin melemah saja.

“Al...” Mbak Nova menyebut nama itu lirih. Ia meninggalkan sejenak aktifitasnya—entah apa—yang pasti sudah seharian ini ia begitu sibuk dengan note book-nya.

“Hh... hh... hh...”

Nafas Alvin terdengar tak beraturan. Dengan sangat jelas Mbak Nova melihat keringat dingin bermunculan di wajah Alvin. Garis zigzag di layar monitor yang semula pelan, kini begerak cepat dengan irama melengking.

Mbak Nova panik.

Tangan Alvin yang semula lemas, meremas seprai ranjang rumah sakit dengan kuat. Dan mata cekungnya yang selama beberapa hari yang lalu tertutup rapat, sesaat terbuka lebar. Pandangannya kosong menatap langit-langit ruangan.

Ini sesuatu yang buruk!

Dengan satu gerakan, Mbak Nova menekan tombol darurat berkali-kali; memanggil dokter.

Entahlah, apa alasan yang jelas kenapa dia yang kupilih tuk kuceritakan. Yang pasti, aku iri padanya. Aku cemburu padanya yang berkorban banyak hal untukmu.

Kau tentu ingat kan ketika ia rela menjual ponselnya hanya untuk memberimu tiket nonton konser idolamu itu? Saat itu jujur hatiku terenyuh. Kenapa aku tidak bisa seperti dia. Kau-pun tentu ingat kan saat medali emasnya ia pesembahkan untukmu? Saat itu aku begitu marah. Sangat marah pada diriku sendiri. Kenapa bahkan aku tidak mampu membuatmu bangga padaku. Aku sedih tak bisa seperti dia.

Dengan perasaan kecewa, Alyssa menekan piano hitamnya dengan asal. Melampiaskan rasa kesal yang sejak kemarin malam menjarah seluruh jiwanya. Belum pernah ia seperti saat ini sebelumnya. Kecuali setelah pertemuannya dengan pemuda hitam manis kemarin sore.

Jujur ia telah tertarik pada pemuda yang ia sendiri tidak tahu namanya siapa; dan ia menyesal tak menanyakan hal spele itu. Ia suka atau malah jatuh hati pada pemuda biasa itu. Ia jatuh cinta. Cinta pada pandangan pertama lebih tepatnya. Dan rasa itu yang membuat rasa kecewa merambati  kamar hatinya yang selama ini hampa.

Tanpa ada yang mengetahui kecuali ia dan Tuhan, ia telah menunggu pesan dari pemuda itu sejak kemarin—saat ia pertama kali memberikan nomor ponselnya—hingga saat ini.

Ternyata dugaan sang Mama bahwa akan ada ribuan SMS tidak penting memenuhi inbox-nya, melenceng seratus persen. Bahkan sampai saat ini tidak ada satu pun pesan masuk dari nomor baru yang mengaku sebagai pemuda kemarin sore. Dan itu membuat sang bintang terlampau kecewa.

Tak disangka ada fans yang secara terang-terangan diberi nomor handphone oleh idolanya langsung, mengulur waktu untuk menghubunginya.
Alyssa tahu, fans-nya yang satu itu unik.  Dan keunikannya membuat ia larut dalam nestapa.

Drrtt... drrtt.. drrtt..

Tangan Alyssa yang masih ayik bermain-main dengan tuts-tuts hitam putihnya, terhenti begitu saja saat ponsel yang sedari tadi berdiam diri di sampingnya bergetar.

Privat number calling...

Dengan ogah-ogahan, ia mengangkat telepon itu. Ia dapat menduga bahwa orang yang menggunakan privat number untuk menghubungi seseorang adalah orang iseng, kurang kerjaan, yang akan mengganggunya dengan berbagai pertanyaan tidak penting.

“Hallo! Ini Alyssa?” suara di balik telepon.

“Iya.” Jawab Alyssa singkat.

“Ini aku Rio. Orang yang kemarin mengejar mobilmu. Jika tidak sedang sibuk, boleh kita bertemu? Sejenak saja!”

Dan tiba-tiba saja Alyssa menahan nafas. Jantungnya berdegup kencang, nyaris loncat dari rongga dadanya.

Sungguh unik. Baru kali ini ia menemukan pemuda se-to the poin  Rio. Tanpa basa basi, langsung mengajaknya- yang-bernotaben sebagai-public figure, bertemu. Dan anehnya ia tak kuasa menolak.

Dan tentu saja kau tidak tahu satu hal ini, karena kau tertidur begitu lama. Kau tak menyaksikan ia yang berlari berkilo-kilo meter hanya untuk kembali memberimu hadiah istimewa. Andai kau tahu, aku jamin beratus-ratus persen bahwa kau akan menangis saat itu juga. Karena aku pun begitu. Air mataku mengalir mendengar cerita gilanya. Ya, dia memang gila. Gila hanya untuk buatmu—buat kita—bahagia.

Jadi aku mohon bangunlah! Dan lihatlah ia yang begitu peduli padamu. Ia yang begitu sayang padamu.

“Tidak apa-apa Nov, Jangan panik seperti itu!” Pak Rizki yang baru keluar dari ruangan Dr. Joe, menepuk pundak Mbak Nova yang duduk di tepi ranjang Alvin, yang sudah mulai tenang pasca ditangani oleh tim dokter beberapa saat yang lalu.

“Alvin tadi kenapa Om? Nova takut sekali!” Mbak Nova memandang Pak Rizki sepintas, kemudian kembali menatap Alvin yang terlihat lebih baik dari tadi.

“Alvin sudah bisa merespon keadaan di sekitarnya Nov. Tak lama lagi dia pasti bangun. Saat ini ia masih berada di bawah pengaruh obat bius.” Jelas Pak Rizki membuat Mbak Nova tersenyum penuh harap. Ia mengelus rambut Alvin dengan lembut. Sungguh tak ada yang paling mengkhawatirkan Alvin selain dia.

Bangun Al! Mbak rindu sama lo. Sivia dan Rio juga. lo punya banyak hadiah istimewa pas lo bangun nanti. Batin Mbak Nova sembari melirik sebuah kotak berbungkus biru tua yang saat ini berdiam diri di atas meja kecil, di samping ranjang Alvin.

Pak Rizki hanya terenyuh melihat Mbak Nova. Bahkan selama ini ia tidak peduli dengan keadaan Alvin. Ia terlalu menganggap Alvin dewasa dan kuat. Padahal justru Alvin begitu membutuhkan sosok Papa untuk menguatkannya yang ternyata begitu rapuh. Sungguh ia merasa tak ada Papa paling jahat di muka bumi ini selain dia.

Aku hanya berharap, ketika aku pulang nanti, kau sudah bangun dari tidur panjangmu. Maaf bila ternyata aku tak bisa seperti dia. Aku tak bisa memberikan hadiah untukmu. Aku tak bisa mempersembahkan kemenanganku padamu. Maaf.

“Terimakasih...”

Sesaat gemuruh tepuk tangan membahana di ruangan itu. Sivia tersenyum sambil menunduk menyembunyikan mata merahnya. Ia tidak tahu apa yang telah dilakukannya. Sungguh-sungguh tidak tahu! Tapi ia sadar bahwa tepuk tangan itu begitu panjang untuknya.

“Maaf jika aku sudah mengganggu acara ini. Aku tahu aku bukan pemenang. Aku membacakan ini pun tak bermaksud apa-apa.” Sivia mulai berani mengangkat kepalanya setelah tepuk tangan itu berhenti. Dilihatnya beberapa orang menangis haru mendengar ceritanya.

“Aku hanya penulis pemula yang mesti belajar banyak lagi dari kalian. Dan aku tak mengharapkan kemenangan di lomba kali ini. Aku hanya mengharapkan kalian bersedia menengadahkan tangan kalian untuk membantuku berdo’a. Berdo’a untuknya yang sampai saat ini belum juga mau membuka matanya.” Sivia menarik nafas panjang. Jeda cukup lama.

Semua orang memandangnya iba.

“karena aku sadar. Aku tak bisa memberinya sesuatu yang indah di sisa-sisa hidupnya. Tapi aku yakin, do’a kalian adalah kado paling istimewa untuknya.”

Tanpa dikomando, semua orang menundukan kepala. Berdo’a dengan khidmat. Berharap do’a itu benar-benar sampai kepada sang pengkabul do’a.

“Satu hal yang ingin aku sampaikan. Bahagiakanlah sahabatmu! Bukan berharap sahabat membahagiakanmu. Karena ketika ia pergi darimu, tak ada yang paling membahagiakan selain kebahagiaan yang pernah kita berikan padanya.”

*

Perlahan ia merasa sesuatu terhenyak ke dalam tubuhnya. Membuat raga yang selama ini mematung kaku, bergerak kecil. Dimulai dari jemarinya yang terasa begitu  beku. Dan perlahan menjalar hingga syaraf dalam otaknya  memerintah bola mata dengan garis tipis itu terbuka. Buram.

“Alvin!”

Berangsur menuju gendang telinganya yang juga mulai mendapat perintah untuk bisa mendengar suara setelah beberapa hari tuli, tak mampu mendengar apapun. Ia mengedipkan matanya berkali-kali. Menghilangkan kabut-kabut bunga tidur yang menyamarkan pandangannya. Mama, Papa dan Mbak Nova, pemandangan pertama yang dilihatnya.

“Mam... mm...” ingin rasanya ia berbicara. Namun entah benda sebesar apa yang menyumbat di tenggorokannya. Ia merasa seolah kemarau telah menghabiskan seluruh cairan dalam tubuhnya. Tenggorokannya kering.

“Iya sayang, Mama disini.” Ibu Uchi mengelus lembut rambut Alvin. Pak Rizki tersenyum bahagia; jagoannya telah kembali.

Mbak Nova yang sejak tadi diliputi kegundahan, mulai bisa menampakan senyum bahagianya. Ia menatap Alvin yang juga menatapnya. Dan melihat tatapan Alvin yang terfokus pada Mbak Nova, membuat Bu Uchi dan Pak Rizki mengalah untuk memberikan kesempatan pada Mbak Nova yang selama ini berjasa banyak pada mereka dan Alvin, untuk menyapa panglimanya yang ternyata tidak bisa dengan mudah dikalahkan.

“Siv-sivia, sa-ma Rio,” Tak bisa diajak kompromi. Rasa kering di tenggorokannya benar-benar  membuat ia tidak bisa bersuara.

Mbak Nova menarik nafas pendek. Berfikir sejenak sebelum akhirnya mencoba membangunkan tubuh Alvin dan membiarkannya bersandar di balik bantal yang sengaja ditumpuk. Alvin meringis; dadanya sakit.

“Minum Al!” Mbak Nova mengambil segelas air minum yang sudah tersedia di atas meja, kemudian melepas masker oksigen yang masih menghalangi sebagian wajah keponakannya itu.

Alvin meneguk setengah air itu. Dan ia merasa lebih baik. “Terimakasih Mbak.” Meski agak serak, ia bisa bersuara dengan jelas. Mbak Nova tersenyum dan tanpa kata langsung mencium lembut kening Alvin. Pak Rizki dan Bu Uchi menatap adegan itu lirih. Tak dapat dipungkiri, bahwa sayangnya Mbak Nova pada puteranya itu telah mengalahkan rasa sayang mereka. Mereka benar-benar malu melihat hal itu. Dan mereka cemburu melihat kedekatan itu.

“Sivia sama Rio mana Mbak?” tanya Alvin sambil memegang tangan Mbak Nova yang hendak memasang kembali masker oksigen; tidak perlu dipasang lagi.

Mbak Nova tersenyum sambil meletakan masker oksigen itu di samping Alvin. “Sivia sama Rio bentar lagi pasti kesini. Mereka akan membawa hadiah paling istimewa buat lo. Seperti hadiah ini.” Ia meraih kotak berwarna biru tua yang kemarin malam diberikan oleh suster; untuk Alvin dari orang misterius.

Alvin menerima kado itu dengan senyuman tipis. “Dari siapa Mbak?” tanyanya memandang Mbak Nova, Mama dan Papanya bergantian. Barang kali kado itu dari salah satu diantara mereka.

Mbak Nova menggeleng pelan. Begitupun dengan Pak Rizki dan Bu Uchi.

Alvin mengangkat salah satu Alisnya, tak mengerti. Tapi tak ambil pusing, ia segera membuka kado itu untuk menemukan jawabannya. Tangannya yang masih terasa lemas, membuat ia kesulitan membuka bungkus kado itu. Belum lagi selang infus yang masih setia menancap di tangannya yang kali ini terlihat begitu kurus, membuat tangannya terasa begitu sakit.

“Sini Mama bantu Al!” Bu Uchi yang melihat Alvin kesulitan, menawarkan diri.

“Gak perlu Ma,” Alvin tersenyum ke arah Bu Uchi yang langsung mengangguk mengerti.

“ALVIN!!!”

Sontak pandangan semua orang beralih begitu pekikan keras itu sampai di telinga mereka. Sivia dengan wajah ceria berlari menghampiri Alvin. Tanpa komando dan aba-aba,  gadis itu langsung memeluk Alvin. Alvin meringis karena pelukan Sivia cukup keras mengahantam tubuhnya. Sivia terlalu bersemangat.

“Lo udah sadar Al? Akhirnya Tuhan ngabulin do’a gue. Terimakasih Tuhan.” Semangat Sivia masih terus memeluk Alvin tanpa mempedulikan keadaan di sekitarnya. Kebahagiaanya bukan main menggunungnya.

Alvin tersenyum meski pelukan Sivia membuat tubuhnya ngilu. Yang pasti ia begitu nyaman dengan pelukan itu. Pelukan yang membuat ia lupa ada satu kotak hadiah yang tak sabar minta dibuka. “Do’a lo sampai ke dalam jiwa gue Vi. Terimakasih.” Ujarnya.

Sivia melepaskan pelukannya dan memandang Alvin. Sorot mata Alvin yang masih redup, membuatnya begitu tenang. Dan tanpa diundang, dengan seenaknya air mata itu hadir kembali membasahi pipinya. Tapi kali ini ia hadir sebagai air mata kebahagiaan bukan lagi air mata kepiluan.

“Jangan nangis!” pinta Alvin mengangkat tangannya untuk menghapus cairan bening itu. Sudah cukup air mata gadis itu ia tumpahkan hanya untuk menangisinya.

“Rio? A, Alyssa?”

Semua mata, tak terkecuali dengan repleks terbelalak begitu seruan keras Mbak Nova membahana di ruangan itu. Mereka merasa tiba-tiba saja ditarik ke dunia mimpi, semuanya tak masuk akal. Rio yang hanya seorang pemuda biasa, berjalan berdampingan dengan seorang bintang yang jelas sedang bersinar terang.  Sepertinya terlalu picik jika Rio disebut pemuda biasa. Justru ia adalah orang paling hebat dengan apa yang telah dikorbankannya selama ini.

-ALVIN-

***

Buat aku faham...
Buat aku mengerti...
Bagaimana cara mencintaiMu...
Hingga saatnya nanti aku memenuhi seruanMu,
Tak ada satu hal pun yang aku takutkan.

Izinkan aku tersenyum...
Izinkan aku tersenyum...
Hingga saatnya nanti aku menghadapmu,
Hanya sebaris senyumanku yang mereka kenang,
Hanya nada sumbang tawaku yang mereka ingat.

Biarkan mereka menangis saat aku sakit...
Biarkan air mata mereka tumpah saat aku merintih...
Tapi aku mohon jangan biarkan air mata itu ada saat aku pulang padaMu nanti...
Karena aku hidup tuk memberikan senyuman...
Maka buatlah aku mati tuk meninggalkan senyuman pula...

Usahlah tangisi kepergianku....
Usahlah ada kesedihan...
Karena sungguh aku tidak benar-benar hilang..

Kenanglah aku dalam sepucuk do’a tulus...!

*

TBC

2 komentar:

  1. part alvin lanjutannya tak tunggu... yag ketemu ify + ada pangeran kece rio...

    BalasHapus
  2. Heii followback blog aku dong^^ makasiiih http://asriredityanistory.blogspot.com/

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea