Senin, 27 Agustus 2012

Don't Over_part Cakka (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 02.28

***
Perlahan-lahan Cakka membuka matanya saat cahaya matahari menembus masuk lewat kaca ruang rawatnya. Menyorot sebagian wajahnya. Ia mengerjap beberapa kali sebelum mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ruangan. Kosong, tak ada siapa-siapa.

Titik fokus matanya terhenti pada jam berwarna merah polos yang menggantung di dinding ruangan itu. Pukul 11:35. Waktu yang menunjukan kalau ia tertidur begitu lama. Entahlah, setahunya semalam tubuhnya  mendapat protes kembali dari penyakitnya. Penyakit itu sepertinya sudah tak mau lagi bersekutu dengannya. Ia tak bisa mengendalikan sakit itu lagi. Kadang kala ia harus kehilangan kesadarannya setiap kali ia melawan penyakit itu. Si kanker sudah terlalu kuat untuk diajak berteman dengannya yang memang semakin melemah saja itu.

Cakka mengalihkan tatapannya ke sembarang arah. Dan saat itu pula bola matanya yang tampak sayu, menangkap sebuah kertas  polos tergeletak di meja, di samping ranjangnya. Dengan segera ia meraih kertas itu; membuka dan membacanya setelah sebelumnya mengangkat tubuhnya.

Kita  terpaksa sekolah dulu Kka. Ada urusan. Tadi kita ke rumah sakit lo nya masih tidur. Nanti sepulang sekolah gue ke sana lagi. Lo mau apa? Sms aja! Entar gue beliin. Baik-baik lo!

Bukan hal yang sulit bagi Cakka mengenal tulisan itu, sudah jelas tulisan yang tidak bagus, tapi cukup rapi itu adalah tulisan yang sering ia lihat di buku tulisnya. Si pemilik tulisan tangan itu sudah hampir dua bulan ini mencoretkan tulisannya di buku pelajarannya. Tulisan tangan siapa lagi kalau bukan tulisannya Debo.

Cakka mendesah. Ia menyimpan kembali kertas itu di tempat semula. Berniat untuk turun dari tempat tidurnya. Ia bosan bila harus menunggu Debo dan Agni datang dengan berdiam diri di ruangan itu. Ia ingin menghirup udara yang lebih segar. Oksigen alami akan lebih menenangkan sepertinya.

Namun belum sempat Cakka turun dari tempat tidurnya, ia merasakan sesuatu yang aneh. Kakinya sulit sekali digerakkan.

“loh? Kok kaki gue,” Cakka meraba-raba kakinya yang benar-benar kaku. Sekali lagi ia mencoba menggerakkannya. Tidak bisa. Justru jika dipaksakan, ada rasa sakit yang menjalar hingga tulang punggungnya.

Cakka panik. Ia terus mencoba menggerakkan kakinya meski itu membuat punggungnya ngilu. “Nggak, gue gak mau lumpuh! Gue yakin gue masih bisa jalan.” Ia mencoba turun dari tempat tidurnya. Kakinya bergetar saat menyentuh lantai. Perlahan ia bangkit. Namun, belum sempurna ia berdiri, tubuhnya sudah menghantam lantai dengan keras. Sakit.

“Argh!” Ringis Cakka. Seluruh tubuhnya sakit kali ini. Kepalanya tiba-tiba pusing dan nafasnya ikutan sesak.  Ia mencoba berdiri lagi. Tangannya ia tumpu pada ranjang. Namun, bukan membantu, justru tangan itu terasa sakit dan ikut menyiksanya, membuat ia kembali jatuh. Kali ini dengan sempurna dadanya menghantam lantai.

“Aaaarrrggggghhh!” Ia mengerang. Sakitnya tidak tertahankan lagi. Dengan kuat ia memegang dadanya yang terasa begitu nyeri. Nafasnya tercekat. Dan saat itu juga darah kembali meluncur dari lubang hidungnya diiringi denyutan keras di kepalanya.

“hh... Hh... Hh...” Cakka terengah. Ia nyaris tidak bisa menghirup udara sedikitpun. Ada yang menyumbat di papu-parunya dan tak membiarkan oksigen masuk. Dengan susah payah ia mencoba meraih masker oksigen yang tergeletak di samping ranjangnya. Berharap ada oksigen yang bisa ia hirup. Tapi tidak bisa. Sakit di tubuhnya menyayat bukan main, aksi mimisannya semakin hebat saja, merah menyala mewarnai pakaian rumah sakitnya.

“Ya Tuhan!” Desah Cakka. Ia sudah tidak kuat lagi. Tak ada yang bisa dimintai pertolongan kecuali ada suster atau siapa saja yang masuk ke dalam ruangannya. Dan ia pasrah saja meski nafasnya sudah hampir tidak terdengar lagi.

“Ya Tuhan Cakka!” Seseorang memekik keras. Suara Mama Ira.

Tapi Cakka sudah kehilangan kesadarannya, atau mungkin ia sudah tidak bernafas lagi. Pak Duta yang kebetulan ikut masuk bersama Mama Ira, segera memburu tubuh Cakka. Membaringkannya di tempat semula. Sejurus kemudian memasangkan masker oksigen dan tak mempedulikan bekas-bekas darah di sekitar hidung Cakka. Yang terpenting Cakka bisa mendapat oksigen secepatnya.

“Bertahan Cakka! Tarik nafas dalam-dalam! Ayo hirup oksigennya, sayang!” Panik Pak Duta.

Perlahan desahan nafas Cakka terdengar kembali meski cepat. Mama Ira menggigit bibir memperhatikan itu. Ia menangis takut.

“Gak apa-apa Ma,” Pak Duta merangkul Mama Ira saat nafas Cakka sudah kembali normal. Ia memasangkan kembali selang infus yang sepertinya sempat lepas. Jika ia dan Mama Ira tidak segera kembali ke ruang rawat setelah membicarakan kondisi Cakka dengan Dr. Irsyad, mungkin Cakka benar-benar tidak bisa diselamatkan.

“Mama tidak akan meninggalkanmu sendiri lagi sayang,” lirih Mama Ira mengelus kepala Cakka. Ia mencium kening Cakka lembut.

*

“Ya Kak ya, please seribu kali deh!” Debo mengatupkan telapak tangannya di hadapan Kak Patton . Entah apa yang dilakukannya. Yang pasti sudah lebih dari 15 menit ia menguntiti ketuanya itu. “Gue rela deh melakukan apapun asal Kakak mau. Ya Kak...” Ia memelas.

Agni yang sedari tadi mengikuti Debo, mendengus jengkel. Entah apa yang difikirkan sahabatnya yang satu itu.

“Tapi acara anak-anak seni pun sudah padat. Apalagi ditambah acara yang lain.” Tolak Kak Patton tegas.

“Tapi gue  juga masih anak seni Kak!” Debo tidak menyerah. Agni kesal tak alang kepalang.

“Tapi Cakka bukan!”

“Yaelah Kak. Ini bukan masalah anak seni atau nggak-nya. Tolonglah Kak! Acara ini memang untuk Cakka yang bukan anggota kita, tapi yang minta gue. Please ya Kak! Sekali saja, gue mohon!” Debo benar-benar memelas. Perasaannya kacau luar biasa jika Kak Patton tidak memberikannya izin  menyisipkan rencananya untuk Cakka di akhir pertunjukan teater besok lusa.

Kak Patton diam. Berfikir sejenak.

“Hidup Cakka gak lama lagi Kak.” Celetuk Agni tiba-tiba, membuat mata Kak Patton membulat tak percaya. Agni bahkan tak menoleh sedikitpun ke arah Kakak kelasnya itu; kesal. Kak Patton terlalu banyak berfikir. “Dan kita mau memberi sesuatu di sisa-sisa hidupnya.” Sambungnya masih terdengar ketus. Debo menatap Agni tak percaya; kenapa tuh bocah ngasih tahu Kak Patton kalau hidup Cakka gak lama lagi?

“Seriusan lo Ag?” Tanya Kak Patton ragu. Pasalnya terakhir kali ia bertemu dengan Cakka, adik kelasnya itu masih terlihat baik-baik saja. Ia memang sempat mendengar kabar kalau Cakka di-out dari tim basket. Ia juga sering tak melihat Cakka berkeliaran di sekolah. Tapi, ia tak menduga kalau semua itu karena Cakka sakit.

“Iya Kak,” Debo yang menjawab. “Dia terserang osteosarcoma.” Terangnya berlanjut. Ia sudah hafal luar kepala nama penyakit itu.

Kak Patton membisu. Ketidakpercayaan menghantam keras hatinya. “Baiklah...” Keputusan yang baik.

Debo tersenyum sembari melirik Agni yang langsung menyeringai; coba kalau bilang sejak tadi. Gak rugi juga orang-orang tahu Cakka sakit.

*

Cakka mendesah keras-keras. Ia menatap teman-temannya yang sudah datang satu jam yang lalu setelah ia sadar dari pingsannya. Debo yang sudah tahu kondisi kaki Cakka yang sudah kehilangan fungsi hanya tersenyum dalam renyuhan panjang. Agni yang juga sudah tahu hal itu ikut tersenyum ke arah Cakka. Senyuman yang mengisyaratkan bahwa Cakka tak perlu cemas dengan apa yang dialaminya. Karena sungguh mereka akan selalu setia di sampingnya.

Cakka membalas senyuman itu dankembali memandang lurus ke depan. Mengamati orang-orang yang berlalu lalang di taman rumah sakit itu.

“lo minta ini kan?” Agni menghadapkan sebuah flashdisk ke hadapan Cakka yang langsung menerimanya. “Foto-fotonya udah gue simpan di flashdisk itu. Emang buat apa sih Kka?” Tanyanya tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Cakka yang selama beberapa hari ini selalu membuatnya tampak begitu lemah.

“Buat gue print, terus di simpen deh di album kenangan. Kalau di simpan di flashdisk kaya gini gak aman. Bisa ke-format, atau flashdisk-nya kena virus ,kan sayang.” Jelas Cakka tanpa mengubah titik fokus matanya. Pandangannya jauh menembus masa silam yang pernah ia langkahi bersama kedua sahabatnya itu.

Cakka menatap flashdisk berwarna hitam polos milik Agni itu. Ada banyak gambar ia dan kedua sahabatnya yang pernah Agni ambil dengan kamera digitalnya, yang mesti ia abadikan. Kemudian ia persembahkan kepada Agni dan Debo sebagai kenangan terakhir yang ia berikan pada mereka. Dan ia harus segera membuatnya sebelum tangannya bernasib sama seperti kakinya.

“Lo bawa kamera gak Ag?” Tanya Debo memecahkan keheningan yang baru saja tercipta.

Agni mengangguk dan segera mengobrak-ngabrik tas sekolahnya; mereka belum sempat pulang ke rumah. Ia mengeluarkan kameranya.Ia sering membawanya tapi semenjak sakit Cakka semakin parah, kamera itu jarang digunakannya. “Gue kangen foto-foto juga nih.” Tanpa izin, Agni langsung mengambil gambar Cakka setelah sebelumnya menghidupkan kameranya.

Cakka menyeringai; gue belum berpose tahu!

Dan mereka mulai menghabiskan waktu dengan ceria di taman rumah sakit itu. Seolah tidak ada beban apapun, mereka tertawa bahagia. Tak mempedulikan apa yang akan terjadi esok. Yang terpenting buatlah hari ini bahagia sebelum esok hari ada kesedihan yang menggurita. Buatlah keceriaan di hari ini karena esok belum tentu Tuhan mememberikannya lagi.

*

Agni melempar tasnya sembarang. Baru jam tujuh malam ini ia sampai di rumahnya setelah sebelumnya ia mengantar Cakka pulang terlebih dahulu. Temannya itu meminta orang tuanya agar ia menjalani perawatan di rumah saja. Rumah sakit itu membosankan! Gak ada TV, gak ada musik, gak ada laptop, gak ada makanan enak pula. Agni hanya tertawa kecil mengingat gerutuan Cakka tadi sore, sebelum pulang.  Ia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur ber- bedcover  cokelat itu. Membayangkan wajah Cakka sembari tersenyum-senyum sendiri.

Setelah itu ia beranjak begitu ingat sesuatu. Segera menghampiri meja belajarnya dan menyalakan komputernya. Beberapa saat kemudian  ia langsung larut dalam pekerjaannya. Ada tugas dari Debo yang mesti diselesaikannya. Entahlah, membuat tugas itu sama sekali tak membuatnya lelah, padahal ia belum istirahat dari sejak tadi pagi.

Sementara itu, Debo yang juga baru nyampai di rumahnya, tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu, langsung meraih gitar cokelat keksayangannya yang ia simpan di pojok kamarnya bersama beberapa alat musik lainnya. Sebagai anak seni, Debo cukup mengusai beberapa alat musik. Hanya saja ia tidak terlalu mengasah bakatnya lebih dalam. Ia  suka seni tapi tidak berminat untuk menjadi seorang seniman.

“Sekian lama bersama....” Debo memetik gitarnya. Kemudian diam, berfikir. Tampaknya ia sedang membuat sebuah lagu. “Sekian lama bersama...” Ulangnya.  Jari jemarinya bergerak-gerak di atas senar gitar itu guna mencari nada yang pas. Setelah merasa nadanya tepat, ia mengambil penanya dan menuliskan sesuatu di atas kertas yang baru saja ia sobek dari buku tulisnya.

Dan Cakka yang belum terbiasa menggunakan kursi roda, dengan susah payah mengambil beberapa alat-alat yang diperlukannya; gunting, lem, spidol, pena, tumpukan kertas dan bahan-bahan lainnya yang akan digunakannya.

Ia berusaha turun dari kursi rodanya dan berpindah posisi ke atas tempat tidurnya. Agak susah juga. Tapi akhirnya dengan usaha keras, ia bisa juga. “Yeah, akhirnya!” Desahnya senang begitu tubuhnya sudah duduk manis di atas kasurnya. Ia segera mengambil foto-foto yang sudah dicetaknya dengan ukuran minim, setelah itu dengan hati-hati ia mengguntingnya.

“huft, gue gak bisa! Gue kan bukan anak sastra. Mana iya gue bisa rangkai kata-kata?” Agni menggerutu gak jelas. Ia menatap layar komputernya nanar. Program Window Movie Maker yang hendak diaplikasikannya masih tampak polos. Hanya beberapa photo yang baru di-import-nya.

Setelah beberapa saat terbuang percuma, akhirnya tangan Agni mulai menari di atas keyboard-nya. Masa bodoh apa yang akan Debo kata soal kalimat-kalimatnya yang jauh dari kata puitis; bayangkan saja! Gadis tomboy macam Agni, mana tahu kata-kata puitis itu serperti apa.

Debo tersenyum bangga. Ia menatap tulisnnya yang jauh dari kata rapi itu sembari mengetuk-ngetuk telunjuknya di atas body gitarnya. Tidak membutuhkan waktu  banyak untuknya menyelesaikan lagu yang selama satu minggu ini ia buat. Meski kata-katanya sederhana, karena ia pun tidak telalu berbakat dalam dunia sastra,tapi cukup membuat perasaannya puas menyelesaikan karyanya itu.

“Ini akan menjadi sesuatu yang hebat buat lo Kka,” desis Debo pelan. Ia kembali memangku gitarnya dan mulai menyanyikan lagu itu.

Seluruh foto  sudah berhasil diguntingya dengan berbagai bentuk. Selama beberapa saat ia menatapi gambar-gambar dirinya dan kedua sahabatnya itu. Pose-pose mereka menggelitik hatinya untuk tertawa pelan. Agni memang cocok menjadi seorang photographer , gambar yang berhasil ditangkapnya terlihat hidup meski pose itu—menurut Cakka—amat sangat menyebalkan.

Setelah puas menatapi satu persatu gambar, Cakka memulai tahap kedua pembuatan album itu; menempelkan foto-foto itu di atas kertas HVS dengan berbagai posisi. Tahap kedua ini membutuhkan waktu yang cukup lama dari tahap pertama. Dan Cakka tak mungkin menyelesaikannya malam ini juga. Terlebih saat sadar ada darah yang menetes, mewarnai kertas putih polos itu.

“Yah?” Keluh Cakka sembari mengelap hidungnya dengan telapak tangannya. Kepalanya terasa pusing. Untuk tidak membuat kepanikan, Cakka mencoba membersihkan darah itu dengan apa saja yang ada; sweater merah bercorak biru yang saat ini tersampai di atas kepala tempat tidurnya, menjadi satu-satunya kain yang bisa ia gunakan.

Setelah merasa darah itu tidak akan keluar lagi, Cakka membaringkan tubuhnya setelah sebelumnya membereskan secara asal alat-alat pembuatan album itu. Ia meraih ponselnya dan mengetik pesan pendek. Dan ia mulai mengistirahatkan tubuhnya guna menghilangkan udara penat yang mencemari ruang dalam kepalanya.

“Huaahhm...” Agni menutup mulutnya. Menguap menahan kantuk. Matanya yang memang sudah tidak bisa diajak kompromi untuk tetap melek, berair lantaran terkena cahaya dari layar komputernya. Ia mengusapnya. Tidak akan mendapatkan hasil yang baik jika ia tetap memaksa menyelesaikan pekerajaannya malam ini juga. Sebaiknya ia tidur karena masih ada waktu satu hari lagi untuk menyelesaikannya.


Agni meng-close aplikasi yang digunakannya. Kemudian mematikan komputernya . Baru beberapa langkah ia meninggalkan komputernya, ia mendengar ponselnya berbunyi. Dengan segera ia mengambil ponselnya yang memang sedari tadi  berdiam diri di meja belajarnya.

1 new message from Kka.

“Besok ke taman kota ya! Gak perlu dibales, gue udah tidur! Gak mau diganggu.”

Kening Agni berkerut. Bingung. Tapi tak ambil pusing, ia segera mengempaskan diri di tempat tidurnya. Rasa kantuk sudah memerintahkan penglihatannya untuk segera terpejam. Meski masih menggunakan seragam sekolah, ia tidak peduli.

Sama halnya dengan Agni.  Debo mengernyit bingung saat ada pesan yang serupa  masuk dalam inbox­-nya. Tapi mau apa lagi, Cakka tidak ingin ia membalasnya dan menanyakan lebih lanjut maksud pesan itu. Sehingga ia memilih untuk menyimpan gitarnya di tempat semula dan segera tertidur. Berbeda dengan Agni. Ia mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum menjelajah ke alam mimpi. Lagian apa enaknya tidur menggunakan seragam sekolah.

*

“Gue mau duduk disana. Bantuin gue dong!” Pinta Cakka menunjuk bangku taman yang jadi tempat duduk Agni saat ini. Agni tersenyum dan mengangguk. Dengan segera ia membantu tubuh Cakka untuk berdiri dan berpindah posisi di tempatnya tadi.

Dan perasaan itu. Perasaan aneh itu datang lagi saat tubuh mereka merapat. Membuat getaran yang sama seperti waktu itu bergemuruh di dada mereka. Keduanya sama-sama salting. Mereka tiba-tiba saja membiarkan keheningan menjarah keadaan di sekitar mereka. Tak ada yang mau berbicara sebelum irama detakan jantung mereka kembali ke nada minor seperti semula.

Ya Tuhan, ini gak boleh terjadi! Aku gak boleh rasain ini semua. Aku gak boleh jatuh cinta sama gadis di sampingku ini. Biarkan hanya Engkau yang aku cintai sebelum aku memenuhi panggilanmu. Batin Cakka kalut. Perasaannya bimbang luar biasa.

“Kenapa Kka? Kalo ada yang sakit bilang gue aja!” Agni membuyarkan lamunan Cakka. Ia tersenyum manis. Dan perasaan Cakka terseret lebih jauh begitu senyuman itu tertangkap oleh penglihatannya.

Cakka membalas senyuman Agni dan menggeleng pelan. “Kalo deket lo sakit gue hilang.” Goda Cakka tertawa pelan.

Pipi Agni merona merah. Ia tertunduk.

“Debo kemana sih? Pesan gue nyampe gak ya sama dia?” Kalimat tanya Cakka yang menjurus ke kalimat tanya retoris itu sesaat membuat kepala Agni terangkat kembali. Pandangannya menyapu keadaan taman kota. Tak ada tanda-tanda Debo akan segera sampai disana.

Tadi pagi Agni memang sempat mendapat pesan pendek dari Debo. Sahabatnya itu bilang akan menemui Kak Patton terlebih dahulu sebelum datang ke taman kota. Entah rencana apa lagi yang akan Debo lakukan.

“Gue telpon dia dulu ya?” Kata Agni sembari mengeluarkan ponselnya. Cakka menggeleng; gak usah Ag! Dan Agni kembali memasukan ponselnya ke dalam tasnya. Ia memandang lurus ke depan.

Hening. Lama sekali.

“Hh, so, hh so-ry gue telat!” Debo terengah. Ia tiba-tiba duduk di samping Cakka yang langsung menoleh ke arahnya.

“Habis lari-larian lo De?” Tanya Agni memastikan.

Debo mengangguk mengiyakan. Masih dengan desahan nafas yang cepat ia memandang Agni dan Cakka bergantian. Lalu senyuman manis khas Debo terlempar sempurna ke arah kedua orang itu. “Ada apa sih Kka? Kangen tempat ini ya? Gue juga kangen.”

“Gue kangen basket...” Lirih Cakka menatap tiang ring yang masih berdiri kokoh di sisi lapangan. Rasanya beberapa bulan tak memasukan bola ke dalamnya, membekaskan rindu yang mendalam. Betapa dulu ia mencintai basket. Mungkin sampai sekarang pun rasa cinta itu masih ada. Dan ia dengan terpaksa harus meninggalkan hal yang paling dicintainya. Kanker itu tak merestui rasa cintanya terhadap basket.

“Ya udah, kita main aja! Apa susahnya coba? Tangan lo masih bisa gerak ini juga kan?” Semangat Debo yang sebenarnya jauh lebih terluka melihat tatapan lirih Cakka.  Kenangan yang sempat tercipta di tempat itu berbayang, menari-nari dengan indah di pelupuk matanya. Tentang pertama kali Cakka, si juara basket mengajarinya dan Agni seperti apa basket itu. Kenangan saat mereka saling berebut bola,meski tetap saja kemenangan selalu diraih oleh Cakka. Kenangan saat mereka saling mengejar, berlari, melompat, tertawa, dan hal-hal sederhana yang sesungguhnya terlampau indah yang pernah mereka jalin bersama.

“Sini gue bantu lo!” Debo berusaha membantu Cakka duduk di kursi rodanya lagi. Setelah itu ia mendorongnya ke tengah lapangan.

Agni menyerahkan si budar orange yang memang sengaja Debo ambil, setelah yakin posisi Cakka tepat.“Gak bisa lebih deket apa De? Ini tuh terlalu jauh!” Komentarnya ragu.

“Lupa ya lo? Cakka kan jagoannya basket. Mana ia jarak segini jauh buat dia!” Debo menatap Cakka yakin. “Gue yakin lo masih bisa kalo untuk mencetak angka.” Sambung Debo menepuk pundak Cakka. “Sekarang lempar bolanya!” titanhnya.

Cakka memfokuskan titik matanya tepat pada tiang ring. Tangannya yang memang sudah agak kaku memutar-mutar bola basket itu. Agni menatapnya cemas. Debo sendiri tak sabar menunggu bola itu terlempar jauh masuk ke dalam ring. Maka dari itu tak dapat dipungkiri kalau Cakka benar-benar juara sejati.

Cakka menarik nafas dalam-dalam dan tatapannya penuh dengan konsentrasi. Perlahan tangannya bergerak, melempar si orange yang langsung meluncur masuk ke dalam ring.

Debo tersenyum. Begitu pun dengan Agni.

“Gue bilang apa? Kaede Rukawa  kalah hebat sama lo!” Puji Debo bangga. Bangga memiliki sahabat seperti Cakka.

Cakka diam saja. Tangannya sakit sekali. Tapi rupanya rasa bahagia karena melihat senyum kedua sahabatnya membuat sakit itu bisa terbenteng dan tak membuatnya ambruk. Ia ikut tersenyum. Kedua sahabatnya selalu membuatnya merasa begitu hebat. Dan ia mengakui bahwa sebenarnya sahabat-sahabatnya lah yang justru lebih hebat dari siapapun termasuk dirinya. Dan ia hebat karena ia memiliki orang-orang hebat seperti mereka.

-CAKKA-

Tuhan, jika saatnya nanti Kau sudah ingin aku kembali,
bolehkah aku meminta satu hal lagi?
Sederhana saja,Tuhan. Sederhana sekali....

Aku hanya ingin menggenggam erat tangan mereka...
Aku hanya ingin memeluk hangat tubuh mereka...
Dan saat itu pula aku bisikan ke dalam jiwa mereka...
Bahwa anugerah nyata yang kurasa...
Adalah pernah berada di sisi mereka...

Tuhan, jangan larang aku menangis saat aku harus pergi!
Karena sungguh air mata ini bukan tanda aku berat melepas kehidupan ini.
Justru air mata ini, pertanda aku bahagia pernah merasakan hidup.
Aku bahagia pernah hidup bersama orang-orang yang Kau pilih untukku.

Tuhan, jika saatnya nanti malaikat kau utus untuk menjemputku...
Izinkan kusimpan satu dari sekian kenangan yang pernah kuciptakan bersama mereka.
Kenangan biasa yang harus mereka ingat...
Sebaris senyumanku yang mampu membuat mereka tersenyum manis melepasku...

Terimakasih Tuhan...
Kuhaturkan puji yang agung atas segala hal yang kau beri untukku.
Terlebih mereka yang amat sangat kucintai....

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea