Selasa, 28 Agustus 2012

Don't Over_part Iyel (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 22.03


 NOT COPAS BEFORE ASKING PERMISSION. OK!!

*

Shilla menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Menangis. Kiki masih setia merangkulnya kuat. Dan Pak Dayat berjalan mondar-mandir di depan ruang rawat Iyel, cemas, pun takut. Keadaan menjadi lebih menegangkan. Lebih dari sekedar menonton film action, detak jantung mereka dua kali lipat lebih cepat. Andai detakan itu bisa dibagi dengan Iyel, mereka rela.

Sementara di dalam ruangan itu, Om Dave berusaha sekuat tenaga menyelamatkan keponakannya. Berkali-kali ia menempelkan alat pemacu detak jantung di dada Iyel. Meski tetap saja tidak ada tanda-tanda jantung Iyel kembali bekerja, Om Dave tetap berusaha. Para suster yang menemani Om Dave, turut serta larut dalam ketegangan.

“Sumpah demi Tuhan, gue belum siap Ki,” lirih Shilla melingkarkan tangannya di pinggang Kiki.

Kiki mengelus kepala Shilla lembut. “Kita berdo’a aja ya Shil! Percaya sama gue, Tuhan akan mengabulkan do’a kita kalo kita yakin Dia akan mengabulkannya!”

Shilla tak merespon, tapi ia mencerna dengan baik kata-kata Kiki. Mendengar ucapan Kiki, hatinya tak berhenti melafalkan do’a. Tuhan, jangan ambil Iyel sekarang! Bukan aku egois, tapi aku belum siap kehilangannya. Bahkan aku belum sempat memberinya kebahagiaan. Jadi tolong biarkan ia kembali ke sisi kami, Tuhan! Aku mohon. Untuk kali ini saja! Aku yakin Kau mendengar do’aku, dan aku yakin Kau akan mengabulkan do’a ini.

Do’a batin Shilla ditutup dengan amiin panjang, bersamaan saat pintu ruangan Iyel terbuka lebar. Om Dave dan pasukannya keluar dengan wajah-wajah yang sulit sekali dibaca. Entah kalimat apa yang tersirat di baliknya. Mungkin pertanda baik, atau bahkan buruk.

Shilla dan Kiki bangkit dari duduknya. Ia berjalan menghampiri Om Dave yang tampak sedang memeluk Pak Dayat. Cukup lama. Shilla dan Kiki menunggu tak sabar, ingin tahu kondisi Iyel.

“Iyel,” Om Dave melepaskan pelukannya. Ketiga orang di hadapannya menatapnya serius, tidak sabar. “Iyel selamat, tapi keadaanya kritis. Kerja jantungnya jauh di bawah normal.” Setidaknya lebih baik. Shilla memejamkan mata, lega. Kalam-kalam syukur ia panjatkan. Dan sejurus kemudian ia berlari memasuki ruangan. Kiki serta Pak Dayat mengikuti dari belakang.

“Iyel! Gue sayang lo. Lo mau bertahan buat gue kan? Gue gak akan paksa lo ke Aussie lagi, tapi gue mohon lo harus bertahan!” pinta Shilla memegang erat jari jemari Iyel. Air matanya tak kunjung menemui titik henti. Kiki dan Pak Dayat yang sebenarnya sama-sama cemas dan takut, hanya memandang adegan itu iba.

Sementara itu, orang yang saat ini begitu ditakuti kepergiannya, melangkah semakin jauh saja. Menyusuri lorong-lorong putih hingga ia terhenti di suatu tempat. Ia merasa tempat itu tak ubahnya negeri dongeng. Indah dan menyejukan.

“Surga, kah?” desisnya menatap sekelilingnya yang hanya dilingkupi tumbuhan-tumbuhan hijau yang indah dan air-air yang mengalir, menimbulkan suara merdu yang membuat siapapun terdiam mendengarkannya.

“Kakak!”

Iyel membalikan badan dan sudah menemukan dua orang yang selama ini begitu dicintai dan dirinduinya berdiri di hadapannya. Senyuman simpul mereka lontarkan untuknya. Sejurus kemudian ia memeluk kedua orang itu secara bergantian. “Ibu, Acha, Iyel kangen!”

Orang yang Iyel panggil Ibu, mengelus lembut kepala Iyel. Mereka duduk di atas rumput-rumput hijau setinggi satu senti. Iyel menidurkan kepalanya di atas paha sang Ibu. Menatap lekat-lekat wajah putih bercahaya itu. Acha mengelus-ngelus pipi Iyel dengan lembut.

“Kakak, ngapain nyusul kita ke sini? Mau ikut tinggal sama kita di sini ya?” tanya Acha mendekatkan wajahnya dengan wajah Iyel. Bola mata mereka yang tak jauh beda, saling sapa. Menyorot rindu yang terpendam lama. Iyel mengangguk semangat, mengiyakan.

Ibu hanya tersenyum, masih mengelus-ngelus kepala Iyel.

“Tinggal sama Ayah, sakit Bu.” Ujar Iyel begitu Acha menjauhkan wajahnya. Ia kembali menatap Ibu, mengadu tentang apa yang selama ini dialaminya. “Iyel mau tinggal sama Ibu, sama Acha aja. Gak ada sesak dan sakit.” Sambungnya dengan nada memohon agar mereka mau mengizinkannya tetap bersama mereka. Acha mengangguk setuju.

“Tapi Ayah masih butuh Iyel,” tutur sang Ibu lembut. Raut wajah Acha berubah seketika; ia ingin Iyel tinggal bersamanya. Sungguh tak ada yang tega melihat Iyel menderita di dunia sana. “Iyel belum pamit sama Ayah. Harusnya kalau Iyel mau tinggal sama Ibu di sini, Iyel pamit dulu sama Ayah! Kasihan Ayah.”

Iyel diam sejenak. Membenarkan ucapan Ibunya. Bagaimana pun juga tidak sopan jika ia pergi tanpa pamit, apa lagi pada orang tuanya yang selama ini tidak pernah lelah menyayanginya. Iyel jadi rindu sama Ayah. Selama ini ia belum pernah terfikir untuk membalas jasa Ayahnya, ia belum meminta maaf karena terlampau sering merepotkan Ayah. Ia harus kembali, setidaknya untuk pamit.
Dan kedua sahabatnya. Ia juga tidak mungkin meninggalkan mereka begitu saja. ada banyak hal yang harus ia sampaikan pada mereka.

“Iyel nanti pamit sama Ayah, Bu. Tapi Iyel mau istirahat dulu di sini. Boleh ya? Iyel cape banget!” lapor Iyel memejamkan matanya, masih dalam pangkuan sang Ibu. Tertidur begitu saja. Acha ikut mengelus lembut kepala Iyel. Betapa ia merindukan sosok di hadapannya itu.

*

Kelelahan menyergap seluruh sendi tubuh yang selama beberapa hari ini dipaksa untuk tetap terjaga. Dan kali ini, tidak ada mata yang bisa terus terbuka. Lelah itu sudah membuat syaraf mata mereka diperintah untuk ditutup. Mereka—Pak Dayat, Kiki dan Shilla—tertidur dalam posisi berbeda, dan jelas bukan posisi yang nyaman yang mereka tempati.

Pak Dayat tidur di kursi di samping ranjang Iyel dengan membenamkan wajahnya di balik tangannya yang terlipat di atas meja. Shilla tertidur di atas satu-satunya sofa, dengan menjadikan paha Kiki yang duduk di sampingnya sebagai bantal. Dalam posisi seperti itu, romantisme persahabatan mereka terasa lebih nyata.

Dan saat itu pula, tangan Iyel bergerak-gerak kecil. Matanya mengerjap-ngerjap. Dalam mimpinya, ia dibangunkan oleh sang Ibu. Tapi entah mengapa bukan wajah Acha dan Ibu yang dilihatnya ketika matanya sempurna terbuka. Melainkan atap-atap putih yang menyergap indera penglihatannya, disertai rasa sakit di bagian dadanya. Padahal ia merasa baru saja sejenak sakit itu hilang, tapi kembali lagi.

Pandangannya menyapu seluruh ruangan. Meski agak tidak jelas, ia tahu bahwa Ayah dan kedua sahabatnya tengah berada di sisinya. Mereka dengan setia menjaganya. Dan semua itu membuat ia merasa ada borgol yang mengikatnya untuk tetap di sini, tidak meninggalkan mereka dan memilih untuk tinggal bersama Acha dan Ibunya. Tapi sungguh ia tidak tahan dengan sakitnya! Ia berada dalam pilihan dilematis.

“Argh!” rintihan pelan terlontar dari mulut Iyel, saat ia berusaha membangunkan tubunya yang terasa kaku dan pegal. Untuk beberapa saat ia terdiam. Tak enak jika harus membangunkan Ayahnya, Shilla dan Kiki. Mereka pasti sangat lelah menjaganya.

Merasa kejenuhan mulai menyergapnya, ia kembali mengedarkan penglihatannya untuk mencari sesuatu yang menarik. Sampai akhirnya, tangannya yang—seperti biasa—ditemani selang infus meraih handycame Shilla yang kebetulan disimpan di atas meja.  Iseng membuka apa saja yang terekam di sana.

Hampir sepuluh menit Iyel asyik sendiri dengan kamera itu. Entah apa yang dilihatnya, yang pasti saat itu ia terlihat sering menyunggingkan senyuman tipis.

“I-Iyel?”

Iyel mengalihkan perhatiannya saat itu juga ke arah pintu ruang rawatnya. Om Dave dengan raut wajah sumigrah berjalan menghampirinya. Buru-buru Iyel mematikan kameranya dan menyimpannya di tempat semula.

“Kamu udah sadar? Ya Tuhan, sebegitu lelahnya, kah orang-orang ini sampai mereka gak tahu kalau kamu udah sadar?” dengan satu gerakan Om Dave mengeluarkan stetoskop di saku jas putihnya. Segera memeriksa keadaan Iyel. “Harusnya kamu diperiksa sejak sadar tadi,” sambungnya. Iyel diam saja, membiarkan Om Dave memeriksanya.

“Sebaiknya kamu berbaring dulu!” Om Dave membaringkan tubuh Iyel kembali. Ia hendak membangunkan Pak Dayat. Iyel menggeleng pelan; mencegahnya.

“Ayah pasti lelah, gak usah dibangunin Om! Lagian ini masih malam. Mereka perlu istirahat untuk lihat Iyel besok pagi,” senyum Iyel mengembang. Om Dave membalas senyuman itu. Senyuman ketir. Ia tahu kalau kondisi iyel sebenarnya tidak jauh lebih baik. “Om tugas malam Ya?” tanya Iyel kemudian.

Om Dave menggeleng. “Om kerja siang malam selama kamu koma.” Jawabnya mengacak-ngacak rambut Iyel gemas. Iyel diam lagi. Berfikir; gue ngerepotin banyak orang selama ini. “Shilla yang paling setia di samping kamu Yel! Ya udah, kamu istirahat ya?” Om Dave berjalan keluar ruangan. Membiarkan Iyel beristirahat.

Iyel mengangguk tapi tidak memandang Om Dave. Pandangannya terfokus pada gadis cantik yang terlihat kusut, yang saat ini tertidur jauh di hadapannya. Andai Shilla berada di dekatnya, ingin rasanya ia merengkuh Shilla saat itu juga. Begitu juga dengan Kiki, sahabatnya itu terlihat tak serapi biasanya. Ia sungguh berantakan. Dan itu karenanya.

Tuhan, kasih aku jalan terbaik. Aku tahu mereka begitu menyayangiku, tapi aku tidak ingin rasa sayang mereka padaku membuat mereka tampak lemah seperti itu. Persingkat waktuku, Tuhan! Agar aku bisa membuat mereka tenang dan tak mencemaskaku lagi.

*

Meski gurat-gurat lelah itu masih tampak, sekiranya terbukanya mata itu, mampu menjadi kebahagiaan yang menghijab guratan lelah itu. Senyuman yang sempat mereka lupakan kini tergores kembali di bibir kering mereka. Kembalinya Iyel menorehkan kuas keceriaan dalam hari mereka yang sempat suram.

“Mr. Ci gue hilang!” keluh Shilla saat mereka—Shilla, Kiki dan Iyel—duduk di beranda rumah sakit. Iyel meminta kedua sahabatnya untuk membawanya keluar. Wajar saja, sudah lebih dari sepuluh jam, setelah sadarnya ia dari koma, ia terkurung di dalam ruangan pucat itu. Ia ingin menghirup udara segar, meski tetap saja hanya bau obat-obatan kimia yang menyengat indera penciumannya.

“Semalam gue lihat ada di meja.” Kata Iyel memberitahu tanpa menoleh ke arah Shilla sedikit pun.

“Nggak ada Yel!” Shilla cemberut. Mr. Ci sesuatu yang berharga untuk Shilla. Mungkin, tak seberharga Iyel dan Kiki. Tapi ia tidak pernah ingin kehilangannya. Banyak kenangan indah yang terekam, yang masih tersimpan di sana, dan belum sempat diabadikannya.

“Mungkin disimpan sama Om Dave atau Om Dayat, Shill! Lo tanya aja!” Kiki menenangkan. Kehilangan kamera saja Shilla kotar-katir gak jelas. Apalagi jika harus kehilangan Iyel.

Iyel merangkul Shilla. Membuat gadis itu kaget dibuatnya. “Percaya deh sama gue! Sesuatu yang hilang, akan kembali sama kita meski tidak dengan cara yang kita duga. Ngutip dari novel Harry Potter And Order Of The Phoniex, karya JK. Rowling,” Iyel memasang cengirannya.

Shilla diam. Matanya ia sejajarkan dengan mata Iyel. Kiki memperhatikan saja. jelas ia tahu, pandangan mereka memancarkan arti lain. Entah apa!

“Gue sayang lo, Yel!” dengan satu jurus, Shilla langsung menempelkan bibirnya di pipi Iyel yang langsung memerah. Terlalu repleks rona merah itu menyebar, dan terlalu mendadak juga detakan jantungnya berpacu cepat.

Iyel memegang dadanya. “Hah, jantung gue Shill!” desis Iyel. Shilla memandangnya cemas, begitu pun dengan Kiki.

“Lo....”

“Mana ada cowok yang gak repleks sakit jantung, tiba-tiba dicium cewek cantik kayak lo!” goda Iyel tertawa pelan. Kiki menghela nafas lega. Shilla mencubit lengan Iyel gemas; kena lagi kan gue, sama gombalannya si Iyel? Gerutunya dalam hati. Ia sebal bukan bohong.

Keadaan hening untuk beberapa saat. Mereka larut dalam fikiran masing-masing.

“Beri gue satu hari, Shiil, Ki!” ujar Iyel tiba-tiba. Membuat keheningan pecah seketika.

Baik Kiki maupun Shilla sama-sama mengangkat alis bingung. Mereka memandang Iyel lekat-lekat, meminta penjelasan yang lebih rinci.

Melihat ekspresi tak mengerti kedua sahabatnya, sontak Iyel menarik nafas dalam. Sebenarnya ia belum cukup kuat untuk bernafas tanpa alat bantu pernafasan, tapi sekali lagi saja ia ingin merdeka dari penjajahan alat-alat medis itu. Meski pada akhirnya ia akan mendapatkan akibat fatal atas keinginannya itu, ia tidak peduli.  “Gue mau, besok kita jalan-jalan, bertiga.” Kata Iyel menatap Shilla dan Kiki bergantian.

Hanya anggukan kecil yang Shilla dan Kiki lontarkan untuk merespon ajakan Iyel.


*

Iyel memandang Ayahnya yang tampak sedang sibuk mengkupas apel untuknya. Lelahya terlihat, tergurat penuh di wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis keriput. Betapa banyak hal yang sudah diberikan pria gagah itu untuknya. Termasuk seluruh waktunya selama ini. Kondisi Iyel yang buruk, telah menyita semua yang dimilikinya. Mulai dari waktu, harta dan seluruh perhatiannya hingga ia tak memperhatikan dirinya sendiri. Sungguh, semua Ayah akan melakukan hal itu untuk anaknya, meski kondisi anaknya tak seperti Iyel sekalipun.

“Ayah!” panggil Iyel. Pak Dayat menoleh. “Ayah cape ya ngurusin Iyel terus?”

Pak Dayat hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Iyel. Membuat Iyel mengerutkan kening heran, tak mengerti dengan maksud sang Ayah. “Nih, makan apelnya!” Titahnya sembari menghadapkan apel hasil kupasannya.

“Emang Iyel boleh makan apel?” tanya Iyel lagi.

“Gak ada yang bilang, apel haram buat dimakan, kan?” jawab Pak Dayat tersenyum kembali. Ia mengacak-ngacak rambut Iyel.

Iyel menggigit apelnya. Rasanya tidak enak. Tapi memang semua makanan yang masuk dalam mulutnya bercap tidak enak. Lidahnya sudah tidak bisa merasakan seperti apa makanan enak itu. “Besok Iyel mau jalan-jalan sama Shilla, sama Kiki. Boleh kan Yah?”

Tanpa banyak pertanyaan, Pak Dayat mengangguk mengiyakan. Dan lagi-lagi Iyel dibuat bingung oleh respon Ayahnya, yang tidak biasa. “Tapi Iyel habiskan waktu Iyel hari ini bersama Ayah, ya?” pinta Pak Dayat lebih ke nada memohon.

Bukan ia egois, tapi ia ingin sehari saja puteranya membagi waktu untuknya. Mengingat Iyel terlampau sering menghabiskan seluruh waktunya bersama kedua sahabatnya. Ia ingin ada, meski satu detik, kenangan yang akan ia ingat saat Iyel sudah tidak lagi ada di sisinya.

Iyel memeluk tubuh kokoh, yang tampak menyusut itu. Jujur ia ingin menangis mendengar permintaan Ayahnya. Kenapa tak ia sadari bahwa selama ini, Ayah butuh waktunya untuk mendekapnya. Kenapa bahkan ia tidak tahu kalau Ayah ingin ia selalu ada untuknya. “Kalau umur Iyel panjang, Yah. Iyel ingin menghabiskan  waktu lebih lama lagi dengan Ayah. Maafin Iyel, karena terlalu banyak waktu yang Iyel buang bukan untuk Ayah!” lirih Iyel menangis.

Pak Dayat mengelus punggung Iyel. “Satu detik seperti ini pun cukup untuk Ayah, Yel!” tuturnya. Iyel menangis semakin hebat.

Begitulah Ayahnya, mungkin Ayah yang lainnya juga. Mereka tidak pernah meminta perhatian anaknya, meski mereka menginginkannya. Bukan karena mereka harus terlihat kuat dan gagah untuk sang anak, tapi karena mereka tak mengharapkan imbalan sedikit pun dari perhatian yang selama ini diberikannya. Mereka tidak pernah meminta pelukan hangat sang anak, meski sebenarnya rasa iri membelenggunya ketika hanya Ibu yang anaknya peluk. Dan itulah Ayahnya, mungkin Ayah yang lainnya juga.

*

-GABRIEL-

Apa yang Engkau ingin dariku, aku ikhlas...
Karena sesungguhnya aku milikMu seutuhnya...
Aku tak akan meminta apa-apa lagi,
Karena hidupku sudah cukup meminta banyak padaMu...

Tapi, adakah satu kesempatan lagi untukku?
Untukku merasakan hangatnya pelukan mereka,
Untukku mencium lembutnya sayang mereka...
Sekali di detik terakhir nafasku...

Tuhan, Kau boleh menghentikan detakan jantungku,
Kau boleh mengambil desahan nafasku...
Kau boleh putuskan urat nadiku...
Tapi aku mohon jangan biarkan ini berakhir!
Izinkan aku tetap berada di sisi mereka,
Izinkan aku tetap tersimpan dalam memory ingatan mereka..
Izinkan aku mengapus air mata kehilangan mereka..
Meski hanya sebagai kenangan...

Kenang aku sebagai kebahagiaan!
Bukan kesedihan....

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea