Rabu, 29 Agustus 2012

Dont't Over_semi last part (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 02.28



*

Sering kali kita ingin Tuhan tidak menghentikan kebahagiaan yang tengah kita rasakan. Sering kali kita memohon padaNya agar semuanya jangan berakhir begitu saja. Dan sering kali kita mengeluh jika Ia tidak memenuhi permintaan kita. Bukan Tuhan egois, karena egois atau pun tidak, itu terserah mauNya. Toh, ia yang berkuasa atas diri kita. Tapi percayalah padaku, bahwa Tuhan tahu yang terbaik untuk kita. Untuk hidup makhluknya.
Dari sekarang, usahlah meminta jangan berakhir atas kebahagiaan yang kita dapatkan! Karena sungguh kebahagiaan itu belum benar-benar berakhir!

*

[Alvin]

Sivia menghentikan kursi roda Alvin tepat di depan ruang kelas musik. Alvin mengamati sejenak sekolahnya yang sudah lebih dari beberapa bulan ini tak ia kunjungi. Tak ada yang berubah dan selalu sama. Dulu ia selalu berkejaran bersama Rio dan Sivia saat bel pulang berbunyi di lorong sekolah ini, hanya karena tak sabar ingin pergi ke pantai. Dan betapa ia merindukan semua yang ada di sekolah ini. Termasuk piano putih yang biasa digunakannya setiap kali ia dilanda kegundahan. Ia rindu bermain piano.

“Rio sama Ify kemana dulu, ya?” Bisik Sivia pelan. Ia membuka pintu kelas musik yang memang tak dikunci karena belum waktunya, dan segera mendorong kursi roda Alvin kembali menuju si piano putih yang dari dulu tidak pernah bergeser posisi sedikit pun. Sebelumnya ia menengok ke belakang untuk memastikan Rio dan Alyssa sudah terlihat. Belum ada.

Setelah meminta izin orang tua Alvin, Dr. Joe dan Mbak Nova untuk keluar rumah sakit, Rio sama Alyssa memang meminta Sivia berangkat bersama Alvin duluan; ada urusan bentar! Begitulah alasannya. Tapi sampai sekarang bahkan mereka belum kelihatan juga. Membuat Sivia resah sendiri. Masa iya sih mereka tega kerjain gue sama Alvin? Masa iya juga mereka kencan dulu? Argh, apa sih rencana mereka sebenarnya? Batin Sivia nyerocos gak jelas. Ia duduk di samping kursi yang sudah sengaja ia sejajarkan dengan kursi roda Alvin.

“Al!” panggil Sivia menatap Alvin lekat-lekat.

Alvin membalas tatapan Sivia. Pancaran keteduhan di balik manik mata Sivia, menyorotkan ketenangan sampai hatinya. “Ada apa?” suara parau Alvin bertanya.

Sivia menarik nafas panjang. Ada yang ingin disampaikannya. Beruntung juga Rio dan Alyssa belum sampai, sehingga ia bisa berbicara mengenai hatinya pada Alvin dengan bebas. Ternyata rencana Tuhan memang indah. “Gue, hm... gue mau ngomong sesuatu, Al.” Sivia gugup. Ia mengetuk-ngetuk jarinya di atas piano.

Alvin diam. Menunggu.

“Gue, sebenarnya...” Sivia menggantungkan kalimatnya. Keraguan menyebar di dalam kepalanya, membuat sistem syaraf suaranya kaku. Ia kembali menarik nafas dalam. Alvin menatapnya heran. “Gue tuh sebenarnya, hm... malu, Al.”

“Malu kenapa, Vi?” tanya Alvin tak mengerti.

“Malu sama Rio karena gue gak bisa ngasih kado spesial buat lo, seperti yang dia kasih ke lo.” Tak sesuai dengan hatinya. Sungguh sebenarnya bukan itu yang ingin Sivia katakan. Tapi sudahlah, sepertinya Alvin belum saatnya tahu perihal rasa yang sedang bersemayam dalam hatinya.

Alvin terkekeh. “Gak apa-apa.” Dengan satu jurus, Alvin langsung merengkuh Sivia ke dalam dekapannya. Ia tersenyum tulus. “Gue bangga punya Rio bukan karena Rio ngasih banyak hal sama gue. Tapi karena gue lihat ketulusan dia, Vi. Sama seperti ketulusan yang lo berikan, saat lo buat cerpen tentang gue sama lo.” Terang Alvin mau tidak mau membuat Sivia melepaskan rengkuhannya dan beralih menatapnya serius, penuh dengan tanda tanya.

“Cerpen gue? Lo?”

Alvin tersenyum. “Genggam jemariku! Hingga aku bisa merasakan ada namaku yang mengalir di peredaran darahmu. Peluk hangat tubuhku! Hingga aku bisa merasakan ada namaku yang berdetak di jantungmu. Rapatkan tubuhmu hingga tanpa jarak  aku bisa membisikkan sesuatu ke dalam hatimu, bahwa aku begitu mencintaimu.” Alvin menggenggam lembut tangan Sivia. Sivia membatu.

 Baru beberapa jam yang lalu Mbak Nova menyuruh Alvin membaca cerpen karya Sivia, yang sengaja Sivia post di blog-nya. Itu alasan Mbak Nova selalu tampak sibuk dengan note book-nya saat itu. Rupanya ia sedang asyik membaca tulisan Sivia. Dan baru tadi pagi ia memperlihatkannya pada Alvin yang langsung senyum-senyum sendiri membacanya. Pasalnya dari semua cerpen yang dibuat Sivia, tidak pernah ada nama Sivia di dalamnya. Terlebih disandingkan dengan nama Alvin.

“Kata-kata itu buat gue, kan, Vi?” tanya Alvin memastikan.

Sivia menundukan kepala sembari mengangguk pelan. Pelan sekali. Tapi Alvin melihat anggukan kecil itu, dan memaksa ia untuk segera memeluk Sivia erat. Sivia diam saja dalam dekapan Alvin. Tanpa susah-susah bicara, akhirnya Alvin tahu juga perasaannya.

“Ehm...”

Segera Alvin melepaskan pelukannya begitu suara itu sampai ke telinganya. Ia mengalihkan titik fokus matanya ke ambang pintu. Begitu pun dengan Sivia yang langsung menyeringai ke arah Rio; ih Rio ganggu  aja ahh!. Batinnya kesal.

Baik Rio mau pun Alyssa sama-sama berjalan mengahampiri Sivia dan Alvin. “Sekarang, Al?” tanya Alyssa memastikan. Alvin tersenyum dan mengangguk. Bersiap memainkan si putih yang sudah tidak sabar ingin segera disentuh oleh Alvin, pun Alyssa si pianis hebat yang rupanya akrab dipanggil Ify itu.

“Lagu yang kemarin?” tanya Alyssa lagi sembari duduk di samping Alvin. Dan lagi-lagi hanya direspon anggukan kecil oleh Alvin. Bukan apa-apa, hanya saja dari pertama kali melihat Alyssa, Alvin merasa ia berada di dunia mimpi. Ia tak mempercayai keberadaan bintang di sampingnya itu. Ia selalu gugup berhadapan dengan Alyssa.

Alyssa menatap Alvin sepintas. Rasa iba membelit kuat jiwanya. Seperti ini kah kehidupan seorang bintang? Bahkan ia tidak tahu ada fans-nya yang sakit seperti Alvin. Ia bangga dikagumi banyak orang. Tapi ia bangga pernah dikagumi oleh sosok Alvin. Jujur baru kali ini ia merasa begitu dekat dengan seorang fans.

Alvin menarik nafas dalam sebelum menekan tuts hitam putihnya. Sekilas ia memandang Alyssa, memberitahu kalau ia sudah siap. Alyssa hanya mengangguk saja. berdo’a semoga lagu yang semalam ia hafalkan bisa dimainkan sempurna olehnya. Karena sungguh ia tidak ingin lagu yang akan Alvin persembahkan untuk kedua sahabatnya, berantakan hanya karena ia belum mengenal jelas lagu itu.

Alvin memejamkan matanya. Sebenarnya ia pun baru tahu lagu itu kemarin, saat ia membuka kado berwarna biru muda—kado pemberian orang misterius. Isinya sebuah kaset rekaman dan sebuah surat. Dan Alvin merasa lagu yang diberikan oleh orang itu—orang yang sebenarnya sudah dikenalnya—cocok untuk ia persembahkan pada kedua sahabatnya.

Alvin menekan tuts hitam putihnya. Alyssa masih tampak diam, menunggu bagiannya. Sivia dan Rio menyimak dari samping. Nada-nada itu terdengar lembut menyapa telinga. Dan saat itu pula Alvin mengingat isi surat si pengirim hadiah.

Kak Alvin. Benerkan nama Kakak, Alvin? Ini aku, Ray. Itu loh, anak manis yang Kakak temui di taman rumah sakit. Inget, kan? Semoga kanker Kakak gak bikin lupa sama aku deh! Hehe...
Jujur aku baru tahu loh, kalau ternyata Kakak penderita kanker juga. Pantesan aja pas pertama kali ketemu Kakak, aku ngerasa udah deket banget sama Kakak. Sama-sama korban kanker juga sih. Hehe...

Tahu gak Kak? Waktu Kakak koma, aku iri banget lihat Kakak punya sahabat-sahabat yang begitu sayang sama Kakak. Hehe, maaf ya, diam-diam aku suka intipin kamar Kakak. Tapi gak ada maksud apa-apa kok. Aku hanya seneng lihat kemesraan yang sahabat-sahabat Kakak berikan untuk Kakak. Seandainya aku punya sahabat kayak mereka, mungkin syukurku pada Tuhan gak akan ada henti-hentinya. Tapi sepertinya Tuhan belum berkehendak aku memiliki sahabat seperti mereka, hingga saatnya aku pergi dari dunia ini pun.

Oiia Kak. Dokter bilang, hidup aku gak lama lagi. Benerkan kalo ternyata kemoterapi itu, hanya secuil usaha yang bahkan tak bisa menghalangi takdir Tuhan. Tapi, waktu dokter bilang gitu, aku sama sekali gak takut. Sekiranya aku pernah berusaha untuk mengobati sakit ini. Aku bangga pernah menjadi seorang penderita kanker. Karena dengan begitu, berarti Tuhan tahu kalau aku ini hambaNya yang begitu kuat. Semoga Kakak juga bangga pernah berteman dengan kanker yang Kakak alami.

Nah, sebagai hadiah karena aku gak punya sahabat untuk diberi hadiah sebelum aku pergi, aku kasih Kakak lagu. Lagunya gak tahu lagu siapa. Yang pasti, suara penyanyinya gak jelek kayak suara aku. Terus, ada beberapa lirik yang aku ubah. Hehe, biar sesuai dengan apa yang kita alami  gitu...

“Al!”

Sesaat Alvin terhenyak begitu suara seseorang; entah Alyssa atau Sivia, yang pasti suara perempuan, menyadarkannya dari lamunannya. Ia memandang teman-temannya bergantian. Tak disadari kalau dari tadi ia larut dalam lamunan panjangnya tentang isi surat Ray.

“Kenapa?” tanya Sivia cemas. “kalau sakit, kita balik ke rumah sakit aja yuk! Main pianonya bisa nanti aja lagi,” sambungnya menatap Alvin serius. Rio dan Alyssa mengangguk setuju.

“Hah? Nggak ah, gue gak apa-apa kok. Ayo mulai, Fy!” Alvin mulai menekan pianonya lagi. Desahan nafas lega Rio, Alyssa dan Sivia terdengar kompak.

Berjanjilah, wahai sahabatku
Bila kutinggalkan kamu, tetaplah tersenyum
Meski hati sedih dan menangis,
Kuingin kau tetap tabah, menghadapinya...”

Semuanya bisu. Hanya alunan melodi yang lembut serta suara serak Alvin yang memenuhi ruangan musik itu. Entah kenapa, rasanya suara Alvin seperti sengatan musim dingin yang mampu membekukan hati dan jiwa orang-orang yang mendengarnya. Sivia nyaris menangis mendengar lirik lagu itu. Rio merangkulnya kuat. Dan Alyssa mulai menekan pianonya. Nada-nada itu semakin indah terasa. Menyentuh halus batin si pendengar.

“Bila kuharus pergi, meninggalkan dirimu
Jangan lupakan aku
Semoga dirimu di sini, kan baik-baik saja,
 untuk selamanya
Di sana aku kan selalu, rindukan dirimu
Wahai sahabatku...”

Alvin memejamkan mata. Berharap suaranya tidak hanya sampai ke telinga Sivia dan Rio. Tapi bertepi juga ke dalam hati keduanya. Meski suaranya tak indah, ia tetap ingin menampilkan yang terbaik untuk sahabat-sahabatnya. Tak peduli dengan rasa sakit yang sebenarnya sejak keluar dari rumah sakit, terasa menusuk organ-organ tubuhnya. Alvin memang belum cukup kuat untuk berkatifitas, terlebih tanpa ala-alat medis.

“Berjanjilah, wahai sahabatku
Bila kau tinggalkan aku, tetaplah tersenyum
Meski hati, sedih dan menangis,
Kuingin kau tetap tabah, menghadapinya...

Giliran Alyssa yang menyanyi. Suaranya sungguh kontras dengan suara Alvin. Lembut, indah dan merdu. Saat itulah Alvin merasa benar-benar bahagia. Duduk berdua bersama sosok Alyssa Saufika Umari, idolanya itu adalah hal yang pernah diimpikannya. Dan kali ini mimpi itu terwujud juga. Semuanya tak lepas dari pengorbanan sahabatnya, Rio. Ia patut mengucapkan ribuan terimakasih kepada Rio.

Rio mengamati Alyssa. Jujur, baru pertama kalinya ia melihat sosok itu bernyanyi di hadapan piano. Dan ia terpana. Hatinya berdesis melafalkan kalimat-kalimat pujian pada gadis itu. Pantas saja Alvin mengagumi lo, Fy. Lo keren! Baik, pula. Batin Rio kagum.

Bila kau harus pergi, meninggalkan diriku..
Jangan lupakan aku
Semoga dirimu di sana, kan baik-baik saja,
Untuk selamanya
Di sini aku kan selalu, rindukan dirimu,
Wahai sahabatku...

Mungkin karena Alyssa pemain piano handal, ia merasa Alvin mulai kehilangan konsentrasinya. Permainannya jadi tampak berantakan. Dan ia kesulitan sendiri menyesuaikan lagunya. Sepintas ia memandang wajah Alvin yang sudah dipenuhi keringat dingin; ini tidak beres!.

Sivia yang juga menyadari hal itu, dengan cepat melepaskan rangkulan Rio dan beralih memeluk Alvin dari belakang. Alvin menghentikan permainannya, bukan karena pelukan Sivia. Tapi karena perlahan sakit itu merenggut sedikit demi sedikit kesadarannya. Dan saat itu pula, lengkingan panjang terdengar memekakan indera pendengaran. Lengan Alvin menekan balok hitam putih itu secara bersamaan.

“ALVIN!” kompakan semuanya  memekik dengan keras, sembari menahan tubuh Alvin. Menjauhkannya dari si piano putih yang masih mengaung panjang. Kepanikan itu kembali.

*

[Cakka]

Sudah lebih dari empat jam ini Cakka terus berkutat di atas tempat tidurnya. Bertemankan tumpukan kertas yang hampir sempurna ditempeli foto-foto yang kemarin dicetaknya. Bagaimanapun juga ia ingin pekerjaannya cepat usai. Tak boleh ada waktu yang terbuang percuma, meski pada akhirnya kekuatan tubuh yang mestinya beristirahat panjang itu, semakin terkuras saja. Ia tetap saja bersemangat untuk menyelesaikannya, seolah tak ada hari esok untuk dirinya.

“Sekarang,” Cakka mengambil spidol warna-warninya setelah sempurna menempelkan foto-fotonya. Berniat menghias sisi-sisi kertas yang sengaja dikosongkannya dengan grafity-grafity yang indah. Sebenarnya ia tidak begitu ahli dalam seni gambar-menggambar. Tapi, untuk membuat grafity saja sekiranya ia bisa, meski tidak sehandal Debo yang memang mengajarkannya membuat grafity itu.

Dengan penuh penjiwaan, layaknya seniman sejati, Cakka mengguratkan spidolnya dengan penuh hati-hati. Membuat huruf-huruf dengan berbagai bentuk dan gaya. Dan itu membutuhkan waktu yang sebenarnya lebih panjang dari menempelkan foto-foto saja.  Tapi dengan sabar, Cakka terus mengerjakannya, tak mempedulikan sakit apapun. Ia merasa bahagia membuat karyanya itu.

Sebelum akhirnya, aktifitasnya terhenti begitu saja saat ponselnya berbunyi. Ia mendesah; ganggu aja!. Dengan segera ia meraih ponselnya dan mengangkat panggilan itu.

“Kka! Besok nonton teater, ya? Kita berangkat bareng-bareng ke sekolah. Nebeng mobilnya Kak Obiet. Mau, ya?” Suara di balik telepon terdengar semangat. Nyaring nyaris strereo. Cakka sedikit menjauhkan handphone-nya dari telinganya.

“Ahh, lo, Ag. Gak tahu adab bertelepon, apa? Salam dulu, kek. Say hallo, gitu. Main nyerocos aja. Kenceng pula!” protes Cakka pura-pura kesal.

Agni terkekeh pelan. “Hehe, maaf, maaf! Ya udah, hallo, assalamu’alaikum, Cakka. Besok nonton teater bareng gue, ya?”

Cakka tertawa pelan. “Wa’alaikum salam, Agni. Insya Allah, ya. Gak janji deh gue, Ag. Takutnya ntar malah pas gue tidur, gak bangun lagi deh esoknya.” Ujar Cakka asal. Membuat cerocosan panjang si lawan bicara.

“Dih, lo tuh ngomong apa, sih? Gak suka, gue! Awas aja kalo sekali lagi gue denger lo ngomong kayak gitu! Gue bunuh diri, juga. Tapi, ajak-ajak Debo, sih. Hehe...”

“Bunuh diri aja, sana! Gue masuk syurga, lo masuk neraka, mau?” Cakka tertawa. Sejak kapan Agni jadi suka becanda seperti itu? Aneh. “Udah, ah! Gue banyak pekerjaan, nih! Wassalam.”

Dengan satu gerakan, pasca mengucapkan salam, Cakka langsung memutuskan pembicaraan. Kalau sudah bicara via-telepon bersama kedua temannya, sebelum pulsa habis pun tidak  akan ada garis finish-nya.

Setelah itu ia mulai larut kembali dengan pekerjaannya.

“Bunuh diri aja sendiri! Gue gak mau masuk neraka!” komentar Debo memetik gitarnya.

Agni yang duduk di samping Debo—di taman belakang rumahnya—memperhatikan layar ponselnya nanar; si Cakka main putusin pembicaraan aja, ahh. Lagi apa, sih dia? Batinya kesal.
“Gue becanda tahu, De! Habisan tuh anak ngomongnya ngelantur. Ya udah, gue ngelantur juga.”

Debo diam. Tak merespon apa-apa. Sungguh ucapan Cakka yang memang sempat didengarnya, karena Agni me-loudspeaker pembicaraan, bukan hanya sekedar gurauan semata. Bagi Cakka yang memang lebih tahu kondisinya, itu sebagai firasat kuat. Hidupnya tak hanya diawasi Tuhan dan kedua malaikat pencatat amal saja saat ini. Tapi juga malaikat pencabut nyawa tengah asyik mengawasinya. Menunggu waktu yang tepat.

“Ya Tuhan! Gue takut.” Desah Debo mengusap-ngusap wajahnya. Agni menoleh, bingung.

“Kenapa, De?” tanya Agni.

Debo memandang Agni. Nyengir lebar. “Hehe, nggak, Ag! Ngeri aja bayangin lo gantung diri di pohon sana.” Tunjuk Debo pada pohon mangga yang berdiri agak jauh di hadapan mereka. Setelah itu ia berlari masuk rumah. Sebenarnya hanya ingin menghilangkan pikiran-pikiran buruk tentang keadaan Cakka.

“Ish, si Debo sakral amat, sih!” Agni ikut masuk ke dalam. Merinding juga membayangkannya.

Cakka menatap beberapa grafity yang sudah dibuatnya dengan puas. Meski tak sebagus buatan Debo, tapi cukup membuat album kenangan itu lebih berwarna dan hidup. “Dikit lagi,” katanya pelan hendak mengambil spidol dengan warna yang berbeda. Namun, niatnya terhenti begitu saja saat rasa sakit menjalar di sendi-sendi tangannya. “Please, Tuhan! Jangan sekarang! Izinkan aku menyelesaikan album ini dulu!” lirih Cakka tetap berusaha. Namun tidak bisa. Semakin dipaksa semakin sakit saja.

“Mamaaaaaaaaa!!!!” teriak Cakka repleks saat sakit itu tidak tertahankan lagi. Ia menggigit bibir bawahnya menahan sakit. Tangannya bergetar hebat diiringi sakit yang menusuk. Perlahan ia merasa tangannya tak ada. Lemas. Kaku. Cakka menangis hingga dadanya sesak dan sakit. Denyutan di kepalanya beraksi anarkis, membuat penglihatannya mengabur. Dan cairan merah itu selalu ikut serta menyiksa setiap kali kepalanya sakit.

Mama Ira dengan wajah panik membuka pintu. Dan ia menjerit histeris menghampiri Cakka.

“Sekian, lama bersama
Dalam tawa cengkrama
Kini duka berlinang di dada
Semoga kelak berjumpa...

“AUW!”

Sontak Debo yang baru saja menghempaskan tubuhnya di atas sofa sembari memainkan gitarnya, terlonjak kaget. Bukan hanya karena pekikan keras yang baru saja terdengar, tapi karena tiba-tiba saja senar gitarnya putus. Ia meringis; tangannya sakit.

“Gue yakin ini sesuatu yang buruk!” desis Agni juga meringis. Ia terpeleset begitu saja. Kamera digital yang dibawanya terlempar jauh; pasti rusak!

Debo menyimpan gitarnya dan segera menghampiri Agni yang memang terjatuh tidak jauh dari tempatnya sekarang. Membantunya untuk duduk di sofa yang ditempatinya tadi setelah sebelumnya mengambil kamera Agni. “Lo gak apa-apa, kan? Kok perasaan gue gak enak gini, ya?” Debo mengelus dada. Menepis segala fikiran-fikiran buruk.

“Sama, De.” Agni menarik nafas dalam. Memastikan kameranya baik-baik saja. Dan saat itu pula, ponsel salah satu dari mereka berbunyi.

*

[Gabriel]

“Coba kalo Mr. Ci gue ada,” Shilla mengamati keadaan di sekitarnya. Lapangan hijau yang terbentang menjadi satu-satunya latar yang mengusik nurani siapapun untuk tetap berada di dalamnya. Sejuk, tenang dan mendamaikan.

Setelah menghabiskan setengah hari untuk mengelilingi taman hijau yang dipenuhi dengan berbagai macam tumbuhan dan bunga-bunga, mereka memilih untuk duduk sebentar diantara rumput-rumput pendek itu. Merasakan belaian angin sejuk. Entah kenapa mereka memilih tempat ini. Yang pasti, ia ingin merasakan kesejukan setelah beberapa minggu ini jiwa dan raganya dipenuhi sesak. Dan di tempat seindah inilah mereka bisa merasakannya.

Melihat pemandangan indah yang tertangkap oleh matanya, Iyel merasa tempat itu hampir sama dengan tempat yang pernah dikunjungnya. Tempat ia bertemu dengan Acha dan Ibu. Kerinduannya pada kedua sosok itu semakin mengakar kuat saja dalam sanubarinya.

“Gue rekam pake kamera ponsel aja, ya?” Kiki menghadapkan lensa kamera ponselnya ke arah Shilla yang langsung menoleh. “Apa yang lo fikirkan tentang cinta dan Mr. Ci?” tanya Kiki. Iyel hanya tersenyum mendengar pertanyaan Kiki. Lama sekali tak ada pertanyaan seperti itu lagi.

Shilla menoleh ke arah Iyel yang masih memamerkan senyumannya. Biasanya Iyel yang paling bisa mendeskripsikan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. “Apa, Yel?” tanya Shilla.

Iyel menggeleng, tidak tahu.

Shilla cemberut. “Ah, Iyel! Masa gak tahu, sih?” komentar Shilla. Ia mengambil alih ponsel Kiki dan mengarahkannya pada Iyel. “Kalo gue sama Mr. Ci, gimana?” Shilla mengganti pertanyaannya.

Iyel terkekeh pelan. Berfikir cukup lama. Dan meski wajah Iyel semakin pucat saja, ia tetap selalu terihat  lebih keren  ketika sedang berfikir. “Yang pasti, kenangan tentang lo jauh lebih banyak terekam dalam hati gue ketimbang Mr. Ci.” Iyel merangkul Shilla. Kiki hanya mengacak-ngacak poni Shilla gemas. Dan Shilla tersipu.

Sungguh kebahagiaannya selama ini, karena ia berada diantara kedua pemuda di sampingnya ini. Dan ia ingin selalu seperti itu. Didekap hangat keduanya. Baru disadari, tempat yang paling menenangkan dan mendamaikan, bukan latarnya saat ini melainkan berada dalam dekapan kedua sahabatnya. Andai semua ini kekal dan tak perlu ada perpisahan.

“Ki!” panggil Iyel. Kiki mengalihkan pandangannya yang semula fokus pada pemandangan di hadapannya kepada Iyel.

“Kalo nanti gue pergi,”

“Apaan deh lo, Yel? Lo gak boleh pergi!” potong Shilla cepat. Ia melepaskan rangkulan Iyel dan memandang Iyel tajam.

“Lo jaga Shilla baik-baik buat gue, ya?!” tanpa mempedulikan gertakan Shilla, Iyel melanjutkan kalimatnya yang langsung diberi anggukan setuju oleh Kiki. Bukan apa-apa, hanya saja percuma Kiki memprotes ucapan Iyel yang sebenarnya akhir-akhir ini lebih penuh dengan amanat-amanat penting untuknya. “Lo juga Shil. Kalo gue pergi, lo jaga Kiki biar bisa lindungi lo terus!.”

Shilla menangis dan langsung memeluk Iyel erat. Kiki menunduk. Pura-pura sibuk dengan handphone-nya. Jujur ia ingin menangis seperti Shilla.

“Lo gak niat peluk gue juga, Ki?” tanya Iyel. Kiki menengok ke arahnya dengan mata berkaca-kaca. Sejurus kemudian tersenyum dan memeluk Iyel erat. “Gue hanya titip bokap gue sama lo berdua. Anggap dia sebagai bokap kalian juga! kalian tahu, kan selama ini gue lebih banyak habisin waktu sama kalian. Gue sering lupa sama dia. Tolong beri dia waktu untuk bisa memberikan dan merasakan kasih sayang lo berdua, ya?”

Kompakan Shilla dan Kiki mengangguk. Semua yang Iyel paparkan nyaris menumbuhkan sesak yang luar biasa banyak dalam dada. Dan itu membuat mulut mereka tersulam rapat. Tak ada yang bisa bersuara, dan hanya membiarkan gesekan daun-daun dan rumput yang bicara banyak hal tentang kesunyian yang tiba-tiba akan terasa membelenggu jiwa. Mungkin esok, atau saat ini juga.

“Gue mau balik, Shil, Ki. Gue cape. Gue udah puas jalan-jalan sama lo berdua. Balik ke rumah sakit, yuk! Ayah pasti cemas nungguin gue.” Iyel memegang dadanya. Jantungnya serasa dililit kuat oleh tali. Sakit sekali. Dan ia harus menyembunyikan sakit itu, setidaknya sampai ia tiba di rumah sakit.

“Ya udah, ayo!” Kiki membantu Iyel berdiri dan memapahnya keluar area taman. Berjalan menuju Avanza silver—mobil Om Dave—yang terparkir tidak jauh dari gerbang masuk.

“Pulang, Pak!” Kata Shilla sembari membantu Iyel masuk mobil. Pak Firman, sopir pribadi Om Dave, mengangguk dan segera menstarter mobilnya setelah yakin posisi Iyel dan kedua sahabatnya nyaman.

“Den Iyel gak apa-apa?” tanya Pak Firman cemas.

Mata Iyel yang semula tertutup, sesaat terbuka dan memandang Pak Firman yang tetap fokus pada kemudinya. Shilla dan Kiki menatapnya khawatir. “Gak apa-apa, Pak. Iyel Cuma pengen cepet nyampe. Iyel cape banget.” Jawab Iyel menarik nafas cukup dalam. Ia butuh oksigen untuk bernafas.

“Lo istirahat, ya!” Shilla merengkuh Iyel dalam dekapan hangatnya.

Perlahan Iyel memejamkan matanya. Wangi tubuh Shilla seperti obat bius yang perlahan merenggut kesadarannya. Ia pingsan dalam dekapan gadis itu. Tapi, meski kesadaran itu sudah tidak ada, sakit itu enggan beranjak dan masih tetap tinggal. Lebih sakit.

“Yel!” panggil Shilla. Ia panik. Nafas Iyel terengah cepat. Tubuh kurus itu mengejang. “Gimana ini, Ki?” pekik Shilla menguatkan pelukannya. Berusaha menenangkan Iyel.

“Kebut, Pak! Cepet!” perintah Kiki tak kalah panik. Begitupun dengan Pak Firman yang langsung menaikan tingkat kecepatannya.

Jangan sekarang, Tuhan!

Entah permintaan penguluran waktu yang ke berapa, yang Shilla ajukan pada Tuhan. Yang pasti yang ia inginkan, kapan saja asal tidak sekarang. Setidaknya Iyel bisa menatap Ayahnya terlebih dahulu pun itu sudah cukup.

“Lo bertahan dulu, ya, Yel! Gue mohon! Lo pulangnya ke rumah sakit dulu! Jangan pulang ke rumah yang lain. Ayah lo, kan masih nunggu lo di sana!” racau Shilla. Ia kalap. Keadaan Iyel semakin mengenaskan saja.

Air mata itu menggenang. Dan perlahan mengalir. Tumpah deras di pipi putih gadis itu saat Iyel mulai tenang. Entah masih ada atau tidak, hanya Shilla yang merasakannya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea