Kamis, 20 September 2012

For Organitatin_6 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 00.07

Alvin benamkan wajahnya di balik bantal. Perasaannya kacau. Ketakutannya benar-benar menguasai dirinya. Bayangan Iyel yang terbaring dengan perban yang melilit hampir di seluruh tubuhnya, terus menempel di pelupuk matanya. Dan kata-kata dokter tentang penyakit kanker Cakka yang sudah mencapai stadium akhir, bak kaset rekaman yang tiada henti tereplay di telinganya. Semua itu membuat ia nyaris gila. Belum lagi...

Di jendela kamarnya menempel sebuah poster besar dengan tulisan bernuansa menyeramkan dengan kata-kata 'You'll Death!' membuat Alvin benar-benar merasa berdiri di jurang ketakutan.

"Alvin, gue Ify. Masuk, ya?" tanpa menunggu persetujuan dari si pemilik kamar, Ify segera memutar handle pintu dan mulai melangkah mendekati Alvin. "Vin, lo kenapa? Apa peneror itu ganggu lo lagi?"

Alvin mengangkat wajahnya. Menatap Ify sayu. "Iyel sama Cakka kayak gini karena gue, Fy." Repleks saja Alvin memeluk Ify.

Mata Ify membulat. Bukan karena tiba-tiba Alvin memeluknya, tapi karena baru saja matanya menangkap poster berukuran besar yang menempel di jendela kamar Alvin. "Nggak, Vin, ini bukan kesalahan lo. Semua yang terjadi sama Iyel dan Cakka itu murni kecelakaan." Ify melepaskan pelukan Alvin. Menatap Alvin lekat. Menguatkan.

Drrt... drrt... drrt...

Alvin mengalihkan titik fokus matanya pada ponselnya yang tergelatak sembarang di tempat tidurnya. Ify ikut memperhatikan ponsel itu. Dan Alvin dengan cepat meraihnya. Membaca pesan masuk itu.

"Argh! Sialan!" umpat Alvin frustasi. Ia melemparkan handphone itu ke dinding. Membiarkan benda mungil tak berdosa itu hancur berantakan.

Ify kaget melihat aksi itu. "Ken―"

"Cakka, Fy!" pekik Alvin sambil turun dari tempat tidurnya. Menarik tangan Ify keluar dari kamarnya. 

"Cakka dalam bahaya!"

Entah sudah berapa kali Ify dikagetkan di sepuluh menit ini. Jantungnya berpacu dengan cepat. Ia mulai yakin kalau kasus ini tidak main-main lagi.

*

Agni tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan dirinya. Yang ia tahu, sebelumnya ia sedang menunggu Cakka hingga ketiduran. Sebelumnya ia tidak merasakan ada sesuatu yang menghalangi indera penglihatannya, dan tidak ada yang mengikat tangannya seperti saat ini.

"Ah, lo manis juga ya, Cakka? Haha.."

Agni sedikit meronta begitu mendengar suara orang lain di sana. Dengan tertangkapnya nama Cakka oleh telinganya, meyakinkannya bahwa ia masih berada di ruangan Cakka. Tapi siapa pemilik suara itu? Ia kenal. Apa mungkin―

Dia...

Ah, itu tidak mungkin. Impossible, Agni.

"Tapi lo harus mati, Cakka! Karena kalo lo mati, Alvin akan jauh lebih menderita. Haha... gue seneng liat sahabat lo itu menderita!"

Agni terperanjat mendengar kata-kata itu. Ia meronta semakin hebat. Tapi ia tidak bisa melihat...

Apa yang sedang dilakukan orang itu terhadap Cakka?

Tuhan, selamatkanlah Cakka!

"Siapa lo? Jangan pernah sentuh Cakka! Jangan pernah sakiti dia!" teriak Agni panik. Ia ingin berdiri. Tapi posisinya terkunci. Ia diikat di kursi tempatnya duduk tadi.

"Diamlah gadis bodoh!" orang itu menarik kasar rambut Agni hingga kepala Agni mendongak. "Bukankah bagus matamu gue tutup seperti ini? Lo gak perlu ngerasain sakitnya gimana liat pacar lo sekarat. Hahaha..." Orang itu melepaskan tangannya dari rambut Agni.

Agni menangis. Siapa saja, tolonglah gadis malang itu. Ia tidak bisa berkutik karena baru saja mulutnya dibekap juga.

"Harusnya lo bersyukur karena gue bisa mempercepat kematian lo, cowok penyakitan!"

Cakka tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Ada yang mengusik tidur lelapnya. Rasa sakit. Sesak. Bola matanya repleks terbuka dan sosok itu―sosok yang dikenalnya― yang pertama memenuhi bola mata buramnya.

"Ah, bangun juga lo! Sesak ya?!"

Cakka menarik nafas yang justru membuat dadanya berkali-kali lipat lebih sakit. Orang itu dengan senyum sinis dan seringai penuh kemenangan itu mengacungkan masker oksigen di hadapan Cakka. Satu-satunya alat yang bisa membuat Cakka bertahan.

Agni terus meronta. Isakan tertahannya terdengar memilukan begitu desahan nafas berat dan menyakitkan kekasihnya itu menyapa telinganya.

"Aa-a..." Cakka berusaha menyebut nama itu. Sungguh tak ia percayai kalau orang itulah yang meneror Alvin selama beberapa hari ini.

"Tak perlu repot-repot bicara Cakka! Ambilah oksigen terakhir lo! Hahaha..." orang itu meraba permukaan dada Cakka. Sedikit menekan.

Cakka meringis. Apa yang orang itu lakukan menyakitinya.
 
"Ternyata, dalam posisi kesakitan seperti ini pun lo tetap manis ya? pantes saja cewek bodoh itu sangat mencintai lo!" orang itu melirik Agni yang memilih diam dalam tangisnya.

"Tapi, gue benci dengan hubungan lo berdua yang selalu damai. Gue benci lo dan Agni yang selalu saling menyayangi dan mencintai. Gue benci!"

Cakka merasa sakit di dadanya berkali-kali lipat lebih sakit lagi. Kenapa orang itu melampiaskan rasa marah itu kepadanya. Kenapa harus ia yang mendapat penekanan yang begitu menyakitkan seperti ini?

"Oh... Cakka ingin ini ya?" Orang itu kembali mengacunkan masker oksigen tepat di depan muka Cakka. Sementara tangan yang satunya lagi masih betah menekan dada Cakka.

Permainan apa ini?

Pandangan Cakka mulai tidak fokus. Buram. Dadanya sakit bukan main. Tak ada pasokan oksigen dalam paru-parunya. Dan hal terakhir yang didengarnya adalah tawa nyaring orang itu dan tangisan lirih kekasihnya, Agni.

*

Alvin berjalan tergesa menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Tangannya masih menempel erat di pergelangan tangan Ify. Membuat gadis itu melangkah agak terseret. Mereka berhenti tepat di ruang ICU. Sivia, Agni dan Shilla berada di depan sana.

"A-apa yang terjadi?" tanya Ify. Matanya mengamati ketiga gadis itu bergantian. Meminta jawaban.

"Cakka, Fy..." Agni menubruk tubuh Ify. Menenggelamkan wajah sembabnnya di leher sahabatnya itu. Ia menangis lagi. 

"Cakka kenapa?" tanya Ify.

"Cakka gak bisa―"

"Ya, Tuhan... Agni!" pekik Ify panik memotong ucapan Sivia. Ia berusaha menompang tubuh Agni yang sudah tidak sadarkan diri.

Beruntung seorang suster lewat. Membantu Ify membawa Agni ke salah satu ruangan rawat.

"Yang di ICu itu..." perasaan Alvin tidak karuan. Ia berharap nama Cakka yang disebut. Ia berharap Cakka sudah bisa ditangani dengan baik.

"Iyel, Vin. Iyel berhasil ditemukan Shilla saat dia nyaris―"

"Lo yang buat dia nyaris mati, Vin! Gue benci sama lo!" teriak Shilla, menatap Alvin tajam. Sejurus kemudian ia berlalu meninggalkan Alvin dan juga Sivia.

Alvin terduduk. Meremas kepalanya frustasi. Ia berfikir kalau semua ini memang salahnya. Ya, salahnya! Silahkan salahkan Alvin atas semua kejadian ini.

Sivia berjalan menghampiri Alvin. Sedikit berjongkok di hadapan Alvin. "Vin... Jangan dengerin Shilla, ya! Dia cuma lagi labil aja."

Untuk beberapa saat keadaan hening. Agak lama. Dan...

"Alvin! Rio sama Shilla dalam bahaya, Vin..."

Sontak Sivia menatap Ify yang sudah berdiri dengan wajah panik di hadapannya. Ekspresi Alvin tidak kalah panik dengan kedua gadis di dekatnya itu.

"Rio kenapa, Fy?" Sivia berdiri, diikuti oleh Alvin.

"Mereka di taman. Mereka di taman kota. Kita ke sana sekarang!" Kini giliran Ify yang menarik tangan Alvin. "Lo jaga Agni di sini!" titahnya pada Sivia yang tampaknya sudah dibanjiri air mata.

"Gue mau ikut, Fy!"

Langkah Ify maupun Alvin sama-sama terhenti. Mereka menoleh ke belakang, ke arah Sivia.
"Gue mau nyelamatin Rio juga..."

--TBC--

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea