Rabu, 05 September 2012

For Organization-sekuel PrOfOg_1(Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 01.54
 Lanjutan Problem Of Organitation.

***

“Jadi bagaimana? Kita akan melakukan aksi kita setelah Ujian Nasional nanti. Lo siapkan bahannya yang benar-benar wah ya Shil?” Alvin memperhatikan Shilla dan teman-temannya yang lain saat mereka melakukan rapat osis sepulang pemantapan.

Shilla mengangguk pasti.

“Dan setelah itu, kita lihat apa saja yang harus kita persiapkan setelah Shilla menyelesaikan bahannya.” Kata Alvin lagi.

Keenam teman Alvin plus Rio yang duduk di hadapan Alvin, hanya manggut-manggut sok ngerti.

***

Rupanya ini sudah menjadi rutinitasnya setiap malam sebelum tidur. Membaca setumpuk buku yang kadang membuat kepalanya terasa mau pecah. Terlalu banyak teori  para ahli yang berkumpul dalam otaknya. Dan ia harus berusaha menyimpannya, paling tidak sampai UN berakhir.

Ia melirik jam dinding kamarnya. Kedua jam sama-sama berhenti di angka sembilan. Membuat ia kembali memfokuskan pandangannya pada bukunya lagi.

“PH normal air adalah 5,6. Pencemaran udara SO2 dan NO2 yang mengasilkan asam dapat....”

Ia berhenti membaca begitu mendengar pintu kamarnya terbuka. Dengan sedikit senyum, ia menyambut kedatangan orang yang kini berjalan ke arahnya.

“Cie, adik gue rajin banget deh...” puji orang itu sambil duduk di tempat tidurnya. “Belum istirahat Vin?” tanya orang itu yang tak lain adalah Lintar.

Alvin tersenyum lagi. “Masih ada seperempat jam lagi. Lo belum tidur?” Alvin menutup bukunya dan berjalan mendekat ke arah Lintar.

“Minta nomor hape Ify dong Vin!”

Alvin menyipitkan matanya sehingga tampak seperti orang terpejam.

“Eh? Ify bukan pacar lo kan? Kalo pacar lo mending gak usah deh!” kata Lintar cepat begitu melihat perubahan di wajah Alvin.

“Haha... bukan, bukan! Ify sahabat gue tahu,” Alvin tertawa kecil begitu mendengar kata pacar disimpan diantara namanya dan nama Ify. Lintar menaikan alisnya pertanda heran dengan sikap Alvin.

Alvin mengambil ponselnya yang tergeletak sembarang di atas tempat tidurnya. Kemudian mulai mengotak-ngatik benda mungil berwarna hitam polos itu—mencari nomor Ify—di phonebook-nya. Namun belum juga Alvin menemukan nama Ify, tiba-tiba saja terdengar sayup-sayup suara perbincangan Ayah dan Ibunya di bawah. Membuat Alvin maupun Lintar sama-sama saling pandang.

“Papa itu gak adil! Selama ini Mama memperlakukan Alvin sama seperti kepada anak kandung Mama. Tapi Papa tidak memperlakukan Lintar seperti Mama kepada Alvin. Padahal sudah jelas Lintar itu anak kita!”

“Bukan begitu Ma, bukan Papa gak nurutin kemauan Lintar. Tapi nanggung!”

Alvin menatap Lintar, lalu tersenyum aneh. “Haha... udah pukul sembilan, gue mesti istirahat.” Kata Alvin melirik jam hitam polos di kamarnya sambil memberikan ponselnya kepada Lintar. “Lo cari nomor Ify di PB gue sendiri deh!” sambungnya sambil mengambil posisi untuk tidur.

“Vin sorry,” Lintar menatap Alvin penuh dengan rasa bersalah.

Alvin menarik selimutnya hingga dada. Memandang Lintar sekilas. “Kenapa? Udah, gue gak apa-apa. Orang Ify bukan pacar gue kok.” Jelasnya mengalihkan pembicaraan.

Lintar memperhatikan Alvin yang sudah terpejam. “It’s OK. Gue ambil  hape lo dulu ya?” Ia berjalan keluar kamar Alvin. Sekilas ia memandang Alvin yang sudah tertidur, atau lebih tepatnya pura-pura tidur, sebelum benar-benar meninggalkan kamar itu.

Alvin membuka mata setelah yakin Lintar sudah tidak ada di kamarnya. Sedikit memikirkan ucapan Mamanya yang sempat terdengar jelas di telinganya. Tidak terlalu ambil pusing, Alvin segera menutup matanya kembali.

***

Masih ada dua jam sebelum kelas pemantapan dimulai. Dan Shilla memanfaatkan waktu itu untuk mendengarkan musik lewat headphone yang sengaja ia ambil dari rumah, sambil nge-date sama latihan soal-soal geografi, di tempat favoritnya; DPR.

Menurutnya, itu cara yang paling tepat untuk refreshing, belajar, menenangkan diri dan mencari ide dengan tidak membubadzirkan waktunya yang memang hari-hari ini agak sibuk. Ya, bukan hal yang sulit untuk Shilla yang memang multyprossesing  otaknya cukup ahli.

“Shil!” Cakka duduk di samping Shilla yang masih duduk bersandar di batang pohon.

“Eh, Kka.” Shilla melepaskan headphone-nya begitu menyadari ke hadiran Cakka di sampingnya. “Ada apa?” tanyanya.

“Sedimen hasil pengendapan oleh angin apa sih?” bukan menjawab pertanyaan Shilla, Cakka justru memberi pertanyaan baru. Dan pertanyaan itu membuat Shilla tertawa heran.

“Kok malah ketawa?”

“Hehe, nggak! Jawabannya sedimen aeolis.”

“Oh,”

Sekilas Shilla memandang Cakka aneh plus bingung; sejak kapan nih anak peduli sama pelajaran? batinnya.

“Tumben dengerin musik. Dengerin apa sih?” Cakka bertanya kembali begitu melihat headphone menggantung di leher Shilla.

“Gak niat-niat amat sih gue dengerin musik kalo gak nyari inspirasi.” Jawab Shilla mengamati Cakka serius. “Eh, lo sama Agni gimana?” pertanyaannya berlanjut.


Cakka menarik nafas panjang sebelum bicara. Ia mengambil alih buku yang ada di pangkuan Shilla. “Nggak gimana-gimana. Rencananya kita mau jalan-jalan besok.”

Shilla tersenyum tipis melihat hal itu. “Kka!” Panggilnya.

“Hmm...” respon Cakka tanpa mengubah titik fokus matanya.

“Lo sakit ya? Pucet banget.”

Sontak Cakka meraba-raba wajahnya yang memang terasa dingin. “Beberapa bulan ini gue emang ngerasa ada yang aneh Shill sama tubuh gue. Suka ngedadak pusing. 3L deh pokoknya, lemah, letih,lesu. Hehe...” Ujarnya diakhiri dengan cengirannya.

“Nggak check-up ke dokter Kka?”

“Hah? Check-up? Nggak deh,”

Shilla hanya geleng-geleng kepala melihat Cakka bergidik ngeri mendengar kata dokter. Sahabatnya yang satu itu paling ogah berurusan dengan dokter.

“Lo siap buat kanker otak sungguhan kan Kka?”

Cakka cengo. Kaget dengan pertanyaan Shilla. “Hah? Maksud lo apaan Shill?”

“Ya, lo harus siap dan bisa ngerasain kanker otak itu gimana!”

“Haha, ngaco deh lo Shil! Ngarep banget ya gue mati?” Cakka menatap Shilla bingung.

Shilla tersenyum geli. “Emang lo mau? Kalo lo siap sih emang gue niat bunuh lo. Haha,” tanya Shilla menatap Cakka yang menyeringai ngeri melihat tingkahnya.

“Becanda Kka! Lo anggep banget sih omongan gue. Besok lo check-up ke dokter ya? Takutnya lo sakit lagi pas UN.” Saran Shilla.

Cakka mengangkat alisnya tak mengerti. “Besok gue mau full time ngabisin waktu dengan Agni.” Katanya sambil kembali menekuni bukunya.

Shilla tersenyum penuh arti. Kemudian mulai memasang headphone-nya kembali. Ada satu hal yang ia temukan dari percakapan singkatnya dengan Cakka.

***

Alvin menatap lekat-lekat buku biologinya. Tapi, setelah berulang kali ia mencoba memahaminya, tetap saja pelajaran itu tidak ter-save sempurna di memory otaknya. Seolah ribuan virus yang tidak terdeteksi menghambatnya. Ia benamkan wajahnya di bukunya. Menyerah.

Banyak hal yang ia fikirkan. Banyak juga yang ia rasakan. Kerinduan diantaranya. Rindu yang entah terbalas atau tidak. Rindu yang sering kali terlupa. Dan saat ini ia merasa kerinduan itu menyerangnya kembali setelah sekian lama menghilang dan tak mampir kembali ke dalam hidupnya.

“Hei Vin!” Ify menepuk pundak Alvin.

Alvin mengangkat kepalanya. Memperhatikan Ify yang terlihat lebih ceria. Pasti karena semalam ia asyik SMSan bersama Lintar.

“Bengong aja lo. Kalo udah mumet, udah dong jangan diterusin! Entar jadinya pusing lagi.”

Alvin menidurkan kepalanya di atas tangannya yang terlipat. Tak merespon ucapan Ify dengan baik. Ia merasa, dengan mengoceh perasaannya tidak akan jauh lebih baik.

“Hei Alvin Jonathan! Lo kenapa sih?” Ify tak menyerah. Ia mengguncang-guncangkan tubuh Alvin pelan.

“Gimana SMSan sama Lintar-nya?” Tanya Alvin tetap pada posisinya.

Ify mengerutkan kening bingung. Tapi ia mulai tahu kemana arah pembicaraan Alvin. “Lo yang kasih nomor gue ke Lintar?”

“Lintar yang minta.”

“Hmm... Lintar asyik juga ya? Dia ngajakin gue jalan malam ini. Haha, pasti seru!” Kata Ify senyum-senyum gak jelas, masih tetap mengamati Alvin yang masih tertunduk. Ia mendesah kecewa dengan respon Alvin yang biasa saja. Lo gak cemburu Vin? Berarti lo benar-benar gak ada rasa sama gue ya?. Batin Ify lesu.

“Baguslah, semoga menyenangkan.” Alvin berbicara sebaik mungkin sehingga tidak nampak ada nada cemburu dari suaranya. Entahlah, ia merasa tidak rela dengan ini semua.

Ify tersenyum pahit.

Hening sejenak.

“Vin!” panggil Ify lagi. Memecahkan keheningan.

Alvin diam saja.

Ify menarik nafas panjang. Bingung dengan perubahan Alvin. Kenapa Alvin jadi diam? “lo lupa caranya ngomong ya Vin?”

Alvin mengangkat kepalanya, kemudian memandang Ify yang sudah memasang wajah BT. Sejurus kemudian ia nyengir gak jelas. “Hehe, sorry  Fy, gue lagi kepikiran seseorang.” Jelas Alvin.

Refleks fikiran Ify jauh menembus banyak pertanyaan yang tak bisa ia jawab sendiri. Seseorang siapa? Apa Alvin mencintai seseorang? Seberapa hebat orang itu hingga mampu membuat Alvin beda sama gue?

Fy, lo baik kan?

Ify tersenyum. “Ik hou van je, apa sih artinya Vin?”

Alvin menatap Ify serius. “Lintar mengatakan itu Fy? Lalu lo jawab apa?” tanya Alvin antusias seolah pertanyaan itu begitu penting untuknya.

Ify tersenyum tipis. Aneh sekali sifat Alvin hari ini. Moody-an banget. Tadi diam, sekarang malah semangat gak jelas. “Emang apa artinya Vin? Gue jawab iya aja. Gak ngerti sih.. hhe...”

“Oh,” respon Alvin kembali lesu. “Gue gak ngerti apa artinya. Tanyain sama Lintar aja deh!”

“Kenapa sih Vin? Hari ini lo aneh tahu!”

“Haha, sudahlah! Ayo belajar!” Alvin merangkul Ify dan membuka buku biologinya kembali.

Ify menghela nafas pasrah ketika tanpa izin Alvin merangkulnya kencang, dan memaksa ia membaca buku yang tergeletak di atas meja. Alvin menatap Ify lekat-lekat, lalu tersenyum.

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea