Rabu, 19 September 2012

For Organization-sekuel PrOfOg_5 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.05




***

Alvin menengadahkan kepalanya. Memandang langit-langit ruangan osis. Sudah setengah jam ini ia menunggu teman-temannya untuk mengerjakan tugas osis, tapi tak ada satu pun yang hadir. Membuatnya kesal sendiri. Padahal kegiatan tinggal beberapa minggu lagi.

“Shit! Pada ke mana sih ni orang pada?” umpatnya kesal. Ia menunduk, memperhatikan ujung sepatunya. Sebelum akhirnya getaran ponselnya berhasil mengalihkan perhatiannya.

“Hallo!” sapa Alvin saat ia mengangkat teleponnya.

“Mati lo, Al! Lihat saja, gue gak akan biarin lo sama sahabat-sahabat lo hidup! Hahaha...”

Alvin menaikan salah satu alisnya begitu pekikan keras itu menggaung di telinganya. “Hei, maksud lo apa?” tanya Alvin tak mengerti. Ia kaget sendiri.

“Gue bakal buat yang lebih menyakitkan dari apa yang pernah lo lakuin ke gue! Harusnya lo tahu, kalo baiknya gue sama lo itu pura-pura!”

“Lo siapa sih?”

Tut... tut.. tut...

Panggilan terputus. Alvin panik. Fikiran negatif berkelebatan dalam benaknya. “Jangan-jangan, gak hadirnya temen-temen gue,” Alvin berlari keluar ruang osis. Ia mencoba menghubungi nomor teman-temannya. Nihil. Tidak ada yang menyahut! Ini bahaya besar.

“Siapa dia? Siapa? Gue pernah buat salah sama siapa?” Alvin mencoba mengingat-ngingat. Setahunya, ia tak pernah membuat siapa pun terluka. Kecuali....

“Gak mungkin!” ia menepis fikiran buruk itu.

***

Iyel berlari terggesa-gesa menuju bagasi rumahnya. Terlihat akan pergi ke sebuah tempat. Dengan cepat ia mengeluarkan BMW-silvernya. Beberapa menit yang lalu Shilla meneleponnya dan memintanya untuk ke taman kota. Dari suara Shilla, Iyel tahu Shilla habis menangis. Dan entah karena apa itu. Yang pasti, Iyel tetaplah Iyel yang tidak akan pernah membiarkan Shilla terluka.

Masih dengan kecepatan normal, Iyel mengendari mobilnya hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Hal yang tidak lucu jika gara-gara kecerobohannya mengendarai mobilnya di atas kecepatan rata-rata, terjadi kecelakaan, sehingga ia harus melewatkan pengumuman kelulusan entar.

Namun nyatanya? Meskipun Iyel mengendarai mobilnya dengan sangat hati-hati, kecelakaan itu tetap terjadi saat sebuah Vios hitam menyelipnya dengan sangat cepat. Membuat mobil Iyel mau tidak mau terbanting ke pembatas jalan. Berguling-guling di aspal. Dan ironisnya si penabrak dan tetap melajukan mobilnya dengan cepat. Justru ada senyuman yang terpatri di balik bibir tipisnya.

***

Ify berlari sangat cepat. Melewati lorong-lorong sekolah. Perasaannya was-was. Kaget, cemas, takut tercampur aduk dalam hatinya. Dan ia belum menemukan Alvin, orang yang dicarinya selama sepuluh menit terakhir ini.

Ify berhenti saat ia melihat Alvin terduduk lemas di depan kesekretariatan mading. Ia terlihat mengamati sebuah foto. Dan Ify nyaris menangis melihat gambar itu.

Merasa ada seseorang di belakangnya, Alvin segera membalikan badannya. “I-Ify?” panik Alvin buru-buru menyembunyikan foto itu. Berharap Ify tidak melihatnya. Namun faktanya memang gadis itu sudah melihanya dengan sangat jelas.

“Alvin, Gabriel...” Dan Ify berlari meninggalkan Alvin.

Alvin mengejarnya. “Ify! Gue yakin foto ini editan doang. Gue gak pernah berfoto seperti ini. Ify! Iyel kenapa, Fy?” Alvin berusaha menjelaskan. Ia meraih tangan Ify dan langsung menariknya ke dalam dekapannya.

“Lo ciuman sama wanita lain, Vin?!” berontak Ify berusaha melepaskan diri dari dekapan Alvin.

“Percaya sama gue, Fy! Tolong! Gue juga gak tahu siapa wanita dalam foto itu.” Terang Alvin semakin mengeratkan pelukannya. Ify mulai tenang. Dan Alvin teringat Iyel. “Iyel kenapa, Fy?” tanya Alvin sekali lagi.

“Iyel kecelakaan, Vin!”

Dan jantung Alvin bekerja dua kali lipat lebih cepat lagi.

***

“SEMUA INI KARENA LO, VIN!” teriak Shilla keras, “Coba kalo elo gak punya masalah sama orang, kita semua gak akan kena. Iyel juga gak akan kritis kayak gini.”

“Gue gak pernah punya masalah sama siapapun, Shil. Gue juga gak tahu siapa yang neror gue!” jelas Alvin ikut emosi. Ia merasa bersalah atas peneroran itu. Tapi ia tidak ingin sepenuhnya disalahkan atas kecelakaan yang menimpa Iyel. “Masalah gue cuma sama osis doang! Gak sama siapapun juga!”

“Alah, bulshit lo, Vin! Emang lo niat banget, kan balas dendam sama Iyel gara-gara kasus kemaren?”

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi kiri Shilla. Bukan Alvin maupun Ify yang saat itu ada di dekatnya. Melainkan tangan Agni. Rupanya gadis yang sedari tadi diam saja itu, mulai emosi melihat temannya yang menurutnya agak aneh.

Shilla memegang pipinya yang sudah tersembur hawa panas. “Sialan lo, Ag!” seru Shilla mendorong tubuh Agni. Cakka yang sedari tadi berdiam diri di belakang Agni, mencoba menahannya agar tidak terbanting ke tembok.

“Shil, lo kenapa? Lo kok jadi childish gini, sih? Kenapa, Shil?” seru Agni keras.

“Sudahlah! Kalian ini kenapa? Ini rumah saki! Kenapa kalian jadi ribut begini?” Cakka berusaha menenangkan Agni yang benar-benar emosi. Alvin sendiri hanya mematung di tempatnya. Ify masih setia di samping Shilla yang masih bernafsu menyerang Agni.

Keadaan hening sejenak, sebelum akhirnya...

“Aaarrrgghh!” Cakka melepaskan genggamannya dari tangan Agni. Sejurus kemudian meremas kepalanya kuat. Denyutan keras itu nyaris membuatnya kehilangan kesadaran.

“Cakka, lo kenapa?” Agni menahan tubuh Cakka yang hendak terjatuh. Ia panik.

“Aaarrgghh! Kepala gue sakit banget, Ag!”

“Panggil dokter, Fy!” Alvin ikut menenangkan Cakka. Ify mencari dokter, dan Shilla membeku di tempatnya. Ada yang aneh dari ekspresinya.

*


0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea