Rabu, 05 September 2012

For Organization-sekuel PrOfOg_2(Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 01.55


***

Sudah kesekian kalinya Agni mendesah beberapa menit ini. Ia sendiri bingung harus melakukan apa. Hanya dengan memijat-mijat leher Cakka pelan, ia bisa membantu Cakka yang muntah-muntah gak jelas kali ini.

“Maaf Ag, jalan-jalannya jadi kacau gara-gara gue.” Lirih Cakka sambil membasuh mukanya. Mengamati wajahnya yang terpantul di cermin westafel WC umum Dunia Fantasi—Dufan—kali ini.

Agni memegang lengan Cakka yang memang terasa panas. “Gak apa-apa Kka. Salah gue juga sih nyuruh-nyuruh lo naik tornado. Sorry ya, pasti pusing.” Ia berjalan keluar WC masih memegang tangan Cakka.

Cakka tertawa pelan. “Kalau begitu, kita coba permainan lain yuk!” Ajak Cakka memandang Agni sambil menyunggingkan senyum terbaiknya.

“Hah? Nggak deh. Pulang aja yuk!” tolak Agni.

“Yah Ag, sekali lagi ya? Kita naik itu!” paksa Cakka menunjuk salah satu permainan.

“Halilintar?”

Cakka mengangguk semangat.

“Hm, kamu pucet banget Kka. Aku gak mau ambil resiko lo sakit tambah parah, gara-gara muntah lagi pasca tuh naik permainan. Mending sekarang kita pulang, buka buku, belajar, dan mempersiapkan diri buat UN!” cerocos Agni sambil menarik tangan Cakka.

“Ag, gue tuh mau jalan-jalan sama lo.” Desah Cakka kecewa.

“Waktunya gak tepat.” Tegas Agni masuk ke dalam vios hitam Cakka dan menunggu Cakka juga masuk ke dalam mobil.

Dengan terpaksa, Cakka membuka pintu mobilnya dan segera memacu sang vios menuju keluar area Dufan. Ia kecewa pada dirinya sendiri. Kenapa di saat seperti ini, tubuhnya tidak mengizinkannya untuk itu. Namun, tak habis akal, bukan pulang ke rumah, Cakka memutar mobilnya dan berhenti di sebuah pantai. Agni hanya menyeringai kesal ke arah Cakka.

***

Angin tak lagi membawanya berlari.
Embun tak lagi membawanya menari.
Jiwa yang selama ini kudengar sebagai melodi indahku,
Paras yang selama ini kulihat sebagai pemandanganku,
Tak bisa lagi hatiku menggambarnya dengan tinta warna apapun.
Saat merah tak lagi merah,
Saat indah tak lagi indah,
Aku sadar cintaku tlah membelenggumu.
Cintaku tak menjadi melodi indah di hatimu,
Dan tak menjadi bias cinta di jiwamu.

Sekiranya rangkaian puisi itu yang mampu mewakili perasaan shilla. Ia masih saja duduk termenung di DPR sore itu. Enggan beranjak meski sudah berubgkali Ify dan Alvin mengajaknya pulang. Perasaan sakit yang tiba-tiba merasuk ke dalam hatinya, membuat ia ingin duduk lama-lama di tempat itu. Sendiri dan hanya sendiri.

Ia menatap layar laptopnya dengan pandangan kosong. Adegan itu terus terekam tiada henti di dalam otaknya. Dan pembicaraan itu tidak cukup puas bolak-balik terngiang di telinganya.

Hatinya sakit bukan main.

[Flashback]

Shilla berlari-lari kecil menyusuri lorong-lorong sekolah. Ia bahagia karena berhasil mendapatkan yang ia maksud dari dialognya bersama Cakka tadi siang. Namun, tiba-tiba saja ada sesuatu yang membuat langkah Shilla terhenti di kesekretariatan mading. Rio duduk berdua dengan Sivia. Ya, Sivia.

Sayup-sayup ia mendengar percakapan itu.

“Maaf kalo selama ini puisi gue ganggu lo, Kak!” ujar Rio menatap Sivia serius.

“Jadi lo yang selama ini... hmm, kenapa baru ngakuin ini sekarang?”

“Sebenarnya gue nunggu lo balesin puisi gue. Bukan puisinya Kak Shilla.”

“Loh?”

“Kak Shilla kan yang balesin puisi gue? Sebenarnya bukan karena lo pernah minta Kak Shilla balesin puisi di hadapan gue. Tapi karena gue pengurus mading. Jadi gue tahu betul kalau tulisan Kak Shilla dan gaya bahasa puisi itu. Bukankah dia siswi paling eksis ya yang menuhi mading sekolah?”

Sivia menelan ludah. Malu.

Tanpa menyelesaikan aksi nguping pembicaraan itu, Shilla langsung berlari meninggalkan tempatnya. Ia benar-benar tidak habis fikir bahwa secret admire  Sivia adalah orang yang selama ini ia cintai.

[Flashback end]

Ashillazahrantiara.blogspot.com

Gue gak tahu apa yang gue rasa kali ini. Terlalu berat buat gue mengakui apa yang tak semestinya gue ketahui. Gue sadar, tak selamanya yang gue inginkan Tuhan gariskan untuk gue.
Ini menyakitkan. Dan ini nyata.

Belum sempat Shilla menyelesaikan postingannya, ia merasakan kehadiran seseorang di depannya. Dengan cepat ia menutup laptopnya dan memandang orang itu.

“Kenapa? kok lo sedih gitu sih?” tanya orang itu mendekat ke arah Shilla dan duduk di samping gadis itu.  “Apa ada yang nyakitin lo?” Ia memang selalu peka jika hal sekecil apapun yang menyakiti Shilla. Ia tidak suka Shilla di sakiti.

“Iyel,” lirih Shilla disusul dengan memeluk tubuh orang itu yang rupanya Iyel. Iyel bingung dengan tingkah Shilla, tapi tanpa banyak bertanya, akhirnya ia membalas pelukan itu lebih erat lagi. “Gue, gue benci hidup gue Yel! Gue benci kenapa gue tidak pernah mendapatkan apa yang gue mau? Kenapa Yel?” keluh Shilla terisak hebat.

Iyel tak merespon apapun. Ia semakin mengeratkan pelukan itu kala sadar baju seragamnya basah. Memberikan ketenangan pada gadis yang selama ini begitu dicintainya.

***

“Agni Loves Cakka”

Kata itulah yang terlukis manis di pasir pantai, yang kemudian hilang diterjang ombak yang mengalun lembut, menyentuh kaki mereka.

Agni memejamkan matanya. Menghirup perlaha-lahan udara pantai yang memang selalu memberikan ketenangan tersendiri. Belum pernah ia sebahagia saat ini. Bibirnya mengguratkan senyuman paling indah.

“I Love you,” bisik Cakka tepat di telinga Agni.

Agni menatap Cakka, “terimakasih udah buat gue bahagia hari ini.” Ujarnya sambil menarik Cakka menembus ombak-ombak jinak yang menyambutnya ceria. “Ayo kita bermain air!”

Dan mereka mulai menghabiskan waktu mereka dengan dipenuhi tawa bahagia. Saling berkejaran dengan pasir pantai sebagai pijakan terlembut. Berpegangan, merasakan udara pantai sebagai nafas paling menyejukkan yang terhembus kedalam jiwa. Mereka ciptakan adegan paling romantis dengan desiran ombak sebagai soundtrack tersyahdu.

Sungguh tak ada hari yang membahagiakan selain hari ini juga.

“Hati-hati!” Agni keluar dari mobil Cakka saat ia sudah sampai di depan rumahnya. Cakka mengangguk dan tersenyum. Menarik nafas lega ketika ia sadar, ia telah menciptakan kebahagiaan untuk orang yang dicintainya.

“Kalau udah sampai rumah, mandi, istirahat dan jangan lupa makan!” nasehat Agni.

Cakka mengangguk kembali, dan mulai menjalankan mobilnya.

-Skip-

Perlahan ia mengetuk pintu rumahnya begitu sampai di depan rumah. Kepalanya terasa berat. Ia benar-benar lelah. Ia sandarkan tubuhnya di dinding, guna menahan diri agar tidak jatuh. Menunggu siapapun membukakan pintu untuknya.

“Cakka? Dari mana aja?” Angel yang kebetulan membuka pintu, menatap Cakka cemas. Jelas saja, Cakka pulang dalam keadaan kusut. “Kok basah gitu bajunya? Pucet lagi lo.”

“Gue pusing Kak!” lapor Cakka melangkah masuk tanpa menjawab satupun pertanyaan Angel. Tapi, belum sempat ia sampai di tempat yang dituju, keadaan di sekitarnya terlihat begoyang dan berputar. Dengan cepat ia mencari sesuatu yang bisa ia pegang untuk menahan tubuhnya yang mulai terasa limbung. Sebelum akhirnya, dengan perlahan warna hitam memenuhi seluruh pandangannya. Ia tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri. Cakka pingsan.

***

“Aku mohon Pa, sekali saja! Alvin kangen.”

“Tidak bisa Alvin, kamu ngerti ya?”

“Pa,”

“Kamu boleh minta yang lain. Tapi tidak dengan itu. Kamu ingin apa Al? Ingin kuliah di luar negeri? Tinggal bersama kami di Den Haag? Hm, atau ingin Lintar disini?”

“Tidak Pa,”

Percakapan singkat antara Alvin dan Papanya itu sempat terdengar jelas oleh Lintar. Sedikit membuat Lintar iba dengan adiknya itu. Melihat ekspresi kecewa Alvin, membuatnya menyesal pernah membenci Alvin. Ternyata hidup adiknya jauh lebih memprihatinkan.

“Vin jalan yuk!” ajak Lintar sedikit mengalihkan perhatian Alvin dari Papanya.

Alvin tersenyum. “Sama Ify kan? Nggak deh, aku mau belajar dan nemui Shilla buat ngonsep kegiatan Osis.” Alvin beranjak dari duduknya. Sekilas memandang Ayahnya yang sudah tenggelam ke dalam korannya lagi. “Lo nikmati aja waktu lo dengan Ify-nya.” Ia berjalan menuju kamarnya.

Ini bahkan terlalu menyakitkan dari penolakan Ayahnya barusan. Ia tidak rela Ify dengan Lintar. Dan ia baru menyadari hal itu. Ternyata benar. Kita tidak akan sadar dengan apa yang kita miliki sebelum kita benar-benar kehilangannya.



Nb : Buat Fuji Apriani, aku pinjam puisinya ya!!!

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea