Rabu, 05 September 2012

For Organization-sekuel PrOfOg_3(Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 01.56
***

Bunyi gesekan besi dari ayunan di taman belakang rumahnya kini menemani setiap detik-detik kesunyian. Sudah dua kali ia mencoba menghubungi seseorang. Namun panggilannya tak juga mendapat jawaban. Ia mendesah kecewa dan membuka kembali phone book-nya. Mencoba menghubungi nomor lain.

“Hallo Vi,” suara di sebrang terdengar parau.

“Shil, Ify sama Agni kemana ya? Kok hapenya pada gak aktif sih?” tanya Sivia.

“Nggak tahu Vi, Agni cape kali. Habisan tadi siang Cakka udah ngajak dia jalan. Kalau Ify, gue gak tahu. Emang ada apa Vi?”

“Hm, gak ada apa-apa sih. Cuma mau kasih tahu mereka aja kalau tebakan mereka tentang secret admire  gue itu seratus persen tepat.

Shilla diam sejenak. Menarik nafas dalam-dalam. Sedikit mencari celah untuk membiarkan udara masuk ke dalam paru-parunya yang terasa sesak. “Siapa memang Vi? Pasti orangnya baik, pinter, ganteng, perfect  deh.”

“Ah, lo segitunya Shil. Orang Rio kok orangnya?”

“Wah? Rio Vi orangnya? Hebat deh lo, pantesan aja Rio gak mau jadi ketos dan milih jadi ketua mading pas pemilihan osis dulu. Nerusin lo tuh Vi...” papar Shilla berusaha menguatkan dirinya sendiri untuk tidak menangis. Meskipun pada akhirnya air mata itu tetap menderas di pipinya.

Sivia yang menyadari ada perubahan dari suara Shilla segera bertanya. “Shil, lo nangis ya? Kenapa?”

“Hah? Nggak Vi, gu-gue gak nangis kok.” Elak Shilla bohong.

“Jangan bohong!”

“Iya, iya gue nangis.”

“Kenapa? Apa ada hubungannya dengan Rio?” tanya Sivia curiga.

“Haha, bukanlah Vi, gue tuh nangis karena gue gak siap berpisah sama lo semua. Ya, karena itu.”

Meski tidak yakin jawaban Shilla benar, Sivia sedikit lega mendengar jawaban itu. “Tahu gak Shil? Dari novel yang gue baca, ketika cinta berpaut, maka perpisahan adalah menyakitkan. Perpisahan membuat luka dan menyesakkan dada. Berarti kalau begitu, lo benar-benar sudah jatuh cinta sama semua yang ada di sekitar lo.”

“Iya Vi, gue emang udah jatuh cinta. Jatuh cinta yang menyakitkan. Gue tutup ya Vi? Mau lanjutin bahan buat osis. Alvin udah nyuruh menyelesaikannya dalam waktu deket ini.”

“Ya udah....”

Tut... tut... tut...

***

Ify mengamati Lintar lekat-lekat. Membuat Lintar heran dengan sikap Ify. Entahlah, Ify hanya merasa ada sesuatu yang beda dari Lintar. Apa itu dan kenapa bisa begitu sebenarnya tak ingin Ify ambil pusing. Tapi sungguh ia penasaran dengan itu semua.

“Ehm...”

Ify tersadar dan segera mengalihkan tatapannya kembali pada makanannya yang sedikit ia acuhkan karena terlalu sibuk pada pengamatannya.

“Ada yang aneh Fy?” tanya Lintar.

Ify tersenyum gugup. “Ah, nggak. Hehe, hanya saja, hm...”

“Apa?”

“Kok lo beda ya sama Alvin? Haha, maaf! Maaf! Lo beneran kakaknya Alvin kan?” Ify mengocek-ngocek minumannya hanya untuk menyembunyikan rasa gugup dan salting karena dipandang serius oleh Lintar.

Lintar menyimpan sendoknya, kemudian meminum teh manisnya. Setelah itu ia berdiri, “udah makannya? Pulang yuk!” ajaknya sambil menarik tangan Ify.

“Hei! Apa ucapan gue nyinggung lo? Gue minta maaf deh,” kata Ify merasa tidak enak.

Lintar menghentikan langkahnya saat sampai di pintu keluar cafe. Ia tersenyum lebar, membuat Ify mengerutkan keningnya tak mengerti dengan maksud senyuman itu. “Duduk dulu yuk!” ia berjalan menuju kursi di depan cafe itu. Ify mengikuti.

Lintar menarik nafas panjang. Pandangannya lurus ke depan. Mata itu merantau jauh ke masa yang sebelumnya pernah ia pijaki. “Alvin adik gue Fy. ” Tukasnya pelan. “Adik tiri gue.” Sambungnya.

Ify menatap Lintar tidak percaya. Benar-benar tidak percaya. Bahkan Ify tidak pernah tahu kisah Alvin yang satu itu. Ia diam. Ingin tahu cerita itu lebih jauh.

“Alvin anak dari selingkuhan bokap gue di Jepang Fy. Lo lihat sendirilah wajah Alvin ada muka-muka Jepang gitu.”

Ify mengedipkan matanya beberapa kali. Kali ini ketidak percayaan itu sudah menggunung di dalam otaknya. Tapi ia tetap memilih diam.

“Dan itu alasan gue benci Alvin. Karena dia, nyokap gue hampir mati konyol gara-gara mencoba bunuh diri. Ya, sakit hati memang bisa membuat kita melakukan tindakan-tindakan aneh yang melukai diri sendiri bahkan orang lain. Tapi yang membuat gue  begitu bangga sama nyokap, dia bisa nerima Alvin. Ia menyayangi Alvin seperti anakn ya sendiri. Tidak seperti gue yang membenci Alvin. Lo gak tahu Fy, seberapa besar rasa benci gue sama Alvin, sampai-sampai gue sering....” Lintar menggantungkan kalimatnya. Ia terlihat ragu mengucapkan apa yang ingin ia sampaikan.

“Sering apa Lin?”

“Gue sering manggil Alvin dengan embel-embel anak haram. Ya, keterlaluan banget kan gue. Alvin terlalu baik Fy, sangat baik malah. Dan kebaikan itu menorehkan penyesalan dalam diri gue.”

Ify menghela nafas cukup keras. Lintar menoleh dengan cepat. “Gue, hm... bangga punya Alvin!” Tuturnya tersenyum simpul sembari bangkit dari duduknya. “Nonton bioskop yuk!” Ajaknya berlanjut. Sebenarnya hanya untuk membuat Lintar tidak perlu lagi mengingat-ngingat hal itu; ia menyesal telah menanyakan apa yang membuatnya penasaran.

Lintar tersenyum dan mulai mengikuti Ify. “Nonton apa?”

“Apa aja deh. Hm, rasanya hampa banget denger film harpot udah selesai.”

“Ish, lo suka Harpot juga Fy?”

“Haha, iya. Dan gue bahagia bisa menyelesaikan petualangan terakhir gue dengan Harry Potter bersama Alvin.”

Lintar hanya tersenyum mengingat sejak tadi yang jadi topik pembicaraan Ify tak keluar dari nama Avin.

***

[Satu Minggu Sebelum UN]

Cakka tersenyum melihat orang yang duduk di tepi tempat tidurnya kali ini. Ia merasa, segala sakit yang menguasai seluruh tubuhnya itu hilang saat manik matanya yang tampak sayu sejajar dengan bola mata gadis itu.

“Cepet sembuh deh lo! Mau UN nih, lo malah sakit.” Kata Agni sambil mengambil mangkuk bubur di meja samping tempat tidur Cakka. “Makan ya?”

Cakka menggeleng.

Agni mendesah menyikapi sikap Cakka yang seperti ini. Sudah beberapa hari Cakka sakit dan ia tidak mau makan, tidak mau menjalani perawatan di rumah sakit pula. Menurut cerita Angel, Cakka memang seperti itu kalau sedang sakit.

“Kalau gak makan, kapan sembuhnya?”

“Gue udah sehat kok. Lagian dokter bilang gue Cuma kelelahan doang. Tidak perlu khawatir lah!” Jelas Cakka menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur. Pusing.

“kelelahan apanya? Kalau Cuma itu, kenapa dokter nganjurin lo diopname segala coba? Itu tandanya sakit lo parah.”

Cakka diam tak merespon.

Hening.

“Kka, cepet sembuh ya? Gue takut kalo lo sakit gak jelas kaya gini.” Tiba-tiba saja Agni merapatkan tubuhnya dengan tubuh Cakka. Pikirannya jauh melintasi banyak kejadian yang pernah terlewati. Tentunya fikiran negatif yang pada akhirnya berhenti di satu titik. Kanker Otak.

***

Tak ada yang terucap. Mereka larut dalam kebisuan masing-masing. Mengacuhkan tujuan awal mereka untuk menyelesaikan bahan untuk kegiatan osis sebelum ujian. Hanya suara yang ditimbulkan oleh kegiatan masing-masing yang sedikit mengusik keheningan diantara mereka.

‘”Cakka sakit apa Vin? Bukan sakit parah kan?”

Alvin yang sejak tadi fokus pada handycame-nya, segera memandang Shilla yang masih berkutat dengan laptop dan blognya. “Entahlah, dia tidak bilang sakit apa.” Jawab Alvin kembali menekuni kameranya.

Keadaan kembali hening untuk beberapa saat sampai desahan nafas Alvin yang terdengar cukup keras, mampu membuat Shilla menghentikan aktifitasnya dan segera memandang Alvin cemas.

“Kenapa Vin?” tanya Shilla.

“Nggak kenapa-napa, hanya saja gue ngerasa, dada gue sesek banget.” Jawab Alvin tetap menatapi layar kameranya. Entah vidio apa yang ditontonnya.

Shilla menyipitkan matanya. Apa Alvin punya penyakit gangguan paru-paru? Tapi sepertinya ia baik-baik saja. “maksud lo?”

“Sesek saat gue tahu orang yang gue cintai suka sama orang lain.”

Sesaat saja Shilla diam. Ucapan Alvin tepat mengenai hatinya. Dengan segera ia mengangguk setuju. “Iya, apalagi orang itu orang yang deket banget sama kita. Tapi jauh lebih baik kalau kita belajar ikhlas dengan itu. Mungkin ada yang lebih baik dari kita.” Ujar Shilla sambil duduk merapat ke arah alvin.

“Lo ngerasainnya juga Shil?”

“Hu,uh,” Shilla menengok ke arah kamera. “Liatin apaan sih? Serius banget.” Alvin tersenyum.

“Oh, rupanya lo lagi jatuh cinta sama sahabat gue ya?” goda Shilla sambil mengambil alih kamera Alvin dan mengamati seorang Ify yang bergerak-gerak manis di kamera itu. “Lo shoot  ini saat kita ngerjain tugas untuk MOS kan? Yang di depan ruang osis itu kan?”Shilla memastikan. Nadanya sungguh ceria

Alvin memandang Shilla. Pintar sekali nih cewek nyembunyiin perasaan sedihnya.

“Ify cantik ya Vin? Hah, seandainya gue kayak dia.....”

“Lo juga cantik kali Shill, kalo gak cantik mana ia Iyel ngejar-ngejar lo terus.” Potong Alvin cepat.

“Tapi kalau gue cantik, pasti dia bakal suka gue!”

“hei! Lo cantik Shilla, lagian cinta kan gak semuanya mandang itu. Kalau soal Rio,” Alvin menggantungkan kalimatnya. Berfikir sejenak.

Shilla menatap Alvin serius. “Dari mana lo tahu?” tanyanya bingung. Setahu dia, tak ada satupun orang yang tahu soal rasa ia pada Rio.

“Blog lo dibaca ribuan orang Shil, termasuk gue. Tapi sudahlah, sepertinya nasib kita sama saat ini. Tapi bukan alasan untuk kita berkeluh kesah. Masih ada banyak hal yang harus kita selesaikan. Termasuk bahan kegiatan akhir tahun.” Kata Alvin tersenyum simpul.

Shilla membalas senyuman Alvin. “Lo bener, dan gue punya banyak inspirasi dari masalh ini.”

“Apa?”

“Ntar juga lo tahu,”

***

Berkali-kali Sivia menunduk dan menengadahkan wajahnya. Memandang ujung-ujung rumput dan kemudian mengamati lekukan awan-awan kumulus yang bergerak-gerak lambat hanya untuk menahan air matanya agar tidak tumpah.

Ia menatap nanar ponselnya. Berfikir untuk mencari siapa yang bisa dijadikan sandaran untuk menenangkannya, mengingat sahabat-sahabatnya begitu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sebenarnya mereka bisa saja menyempatkan waktu untuknya, tapi Sivia bukanlah seorang yang egois. Ia ingin masalah ini tidak terlalu didramatisir, sehingga tidak melibatkan banyak orang yang juga mempunyai prolem masing-masing.

Drrt.. drrtt.. drrt..

Ponselnya bergetar. Dan tanpa ba bi bu lagi Sivia mengangkat panggilan itu; ia butuh seseorang.

“Hallo Yel?” panggil Sivia lesu.

“Lo dimana?” tanya Iyel. “Tadi gue ke rumah lo. Lo nya gak ada. Ada yang mau gue omongin.”

“Apa? Soal Shilla ya? Hahh, rasanya gue antagonis banget disini.” Desah Sivia sedih. Ia menarik nafas panjang, memberi ventilasi ruang sumpek dalam hatinya.

“Maksud lo apa Vi? Shilla? Antagonis? Gue gak ngerti tahu gak?”
 Oceh Iyel bingung. “Sekarang lo dimana?”

“DPR.”

“Tunggu gue!”

Hubungan terputus.

Tidak sampai sepuluh menit, Iyel datang ke sekolah dan menemui Sivia yang masih duduk bersandar di bawah pohon. Sivia tampak berantakan. Berkali-kali ia mendesah, menahan tangis.

“Vi, lo baik kan? Sebenarnya ada apa? Antara lo dan Shilla?” tanya Iyel duduk di samping Shilla.

Sivia memejamkan matanya sambil menghirup udara di sekitarnya. Mencari ketenangan sebelum bicara pada Iyel. “Lo tahu kan Shilla suka Rio?”

“Pasti. Gue gak pernah absen ngunjungi blog dia.”

“Kenapa sih gue jadi satu-satunya orang paling malas nge-net? Sampai-sampai gue gak tahu isi blog temen gue.” Keluh Sivia membenamkan wajahnya di telapak tangannya.

“Maksud lo apa Vi? Lo suka Rio?” tebak Iyel masih tidak mengerti dengan arah pembicaraan Sivia.

“Rio suka gue Yel! Dan bodohnya kemarin dengan bangganya gue curhat sama Shilla kalo Rio suka sama gue. Bodoh bukan gue Yel? Shilla pasti sakit hati banget. Iyel, gue mesti ngapain? Gue jahat banget...” cerocos Sivia kali ini dengan air mata yang sudah beranak sungai di pipinya.

Iyel mengamati Sivia sekilas. Sejurus kemudian ia memeluk Via. “Lo gak salah Vi, gue yakin Shilla tidak se-childish yang lo fikirkan. Lambat laun, dia pasti bakal ngerti.”

“Gue....”

“Kadang cinta itu membuat kita merasa berpijak pada peran antagonis, karena lo tahu? Cinta itu tidak mempunyai alur yang jelas. Ia bisa memilih yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Cinta tidak bisa ditebak.” Sela Iyel cepat sebelum Sivia melanjutkan kalimatnya dan menyalahkan diri sendiri.

“Maafin gue Yel!”

“:kenapa?”

“Karena gue udah buat orang yang lo cintai sakit hati.”

“Segitunya lo sama gue.” Protes Iyel sambil melepaskan pelukannya. Ia menatap Sivia serius. “Shilla sakit atu nggak bukan alasan gue buat benci dan marah sama lo kali ini. Gak kayak dulu sama Alvin dan Cakka.”

Sivia tersenyum lega. “Lo lebih dewasa sekarang.”

“Lo yang ngajarin gue banyak hal sehingga gue bisa seperti ini.” Iyel membalas senyuman Sivia dengan tulus. “Keep smile!” titahnya.

Dan Sivia dengan cepat menghapus air matanya. Kemudian tersenyum lebar. Perasaannya jauh lebih baik. Gue bakal ngomongin ini baik-baik dengan Shilla. Tuh anak kan bukan tipe pemarah juga. batinnya

2 komentar:

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea