Jumat, 21 September 2012

For Organization_7 (Cerbung Icil)

Diposkan oleh Nia Sumiati di 00.13


 *
Tak ada hati yang berada dalam kondisi baik-baik saja. Semuanya resah. Semuanya kalut. Semuanya tidak bisa berfikir dengan baik. Kejadian yang menimpa persahabatan ini, hingga membunuh banyak korban, membuat tak ada satu hal pun yang bisa difikirkan dengan baik-baik.

Yang mereka tahu, hanya perlu tetap bersama-sama untuk menghadapi semuanya.

"Gue mohon jangan, Kak!" Rio berusaha melepaskan senjata berapi yang saat ini berada digenggaman Shilla. Entah dari mana gadis itu bisa mendapatkan senjata itu.

Rio yang berniat untuk pergi ke Rumah Sakit, terhenti saat melihat Shilla berada di taman ini dan sedang melakukan sesuatu. Gadis itu terlihat akan―

bunuh diri.

"Lepasin gue, Yo! Biarkan gue mati! Lo gak tahu betapa gue benci hidup gue! Gue benci keadaan ini. Lepasin, Yo!" jerit Shilla meronta dalam pelukan Rio.

"Gue akan lepasin lo, Kak. Asal lo juga lepasin senjata itu!"

Hening. Shilla berhenti meronta.

"Baiklah..." Shilla menjatuhkan pistol itu, dan Rio melepaskan pelukan Shilla.

"Berhenti bersikap bodoh, Kak. Jangan bikin keadaan tambah kacau cuman karena lo bunuh diri kayak gini. Jangan buat Al―"

Kesalahan besar! Harusnya Rio buru-buru mengambil pistol itu sebelum Shilla kembali mengambilnya. Dan kali ini Rio tidak bisa berkutik.

Shilla berjalan mundur dengan pelan-pelan. Berusaha menjauhi Rio. Gadis itu mengarahkan pistol itu tepat ke arah Rio sambil berdesis tajam, "jangan mendekat atau aku tarik pelatuk ini!" ancamnya.

It's big mistake! Really big mistake!

"Diam! Dan jangan mendekat, Yo!" jerit Shilla saat satu kali saja Rio melangkahkan kakinya. Berusaha mendekat. Pemuda itu akhirnya diam juga.

Shilla terus mundur. Memastikan kalau Rio berhenti di tempatnya. Entah apa yang ada di otak gadis itu. Dia kini berada tepat di tengan jalan raya yang kosong, mengingat keadaan sudah malam. Jaraknya dengan Rio terpisah beberapa meter.

Mata Rio membulat begitu melihat sebuah cahaya menyilaukan terarah ke jalan di mana Shilla berdiri. "Kak Shilla!!" pekiknya.

Apa maksud gadis itu? Tidak berhasil bunuh diri dengan pistol, sekarang malah mencoba bunuh diri dengan cara lain?

"Jangan mendekat!" teriak Shilla begitu Rio berlari mendekat ke arahnya.

Alvin, Sivia dan Ify yang entah sejak kapan berdiri di sebrang yang berbeda dengan Rio, mulai kalut.

"Gue bilang jangan mendekat, Rio!"

Mobil berbadan besar itu semakin dekat. Dan Rio mulai tidak peduli. Ia harus menyelamatkan Shilla. Dan...

Tiiiiiiiinnnnn..

"ALVIN!"

DORR!!

Hening... Benar-benar hening...

Ify terpaku. Nafas Sivia tercekat. Mereka sama-sama berdiri di atas ketidaksadaran, sampai akhirnya jam kesadaran itu kembali berdetak dalam otak mereka dan keduanya sama-sama menjerit. Berlari ke arah yang dikehendaki langkah mereka masing-masing.

Posisi Alvin masih dalam keadaan memeluk erat tubuh Shilla yang dilumuri banyak darah. Tidak hanya darahnya tapi darah Alvin juga. Darah mereka bercampur kali ini. Tubuh mereka sama-sama terbentur keras badan mobil dan terlempar jauh, bergesekan dengan aspal dan berakhir dengan benturan keras pada trotoar jalan raya.

Ify menangis. Tangannya ia ulurkan, berharap bisa memeluk kedua sahabatnya. Shilla terlalu bodoh! Dan Alvin lebih bodoh lagi! Laki-laki itu terlalu berani, dan perempuan ini terlalu nekat. 

Ify terus menangis. Tetap memeluk jasad tak bernyawa itu. Tak mempedulikan darah yang mulai mengotori pakaiannya. Ia tidak peduli...

Sama dengan tidak pedulinya Sivia pada darah yang mulai menodai telapak tangannya. Ia menggenggam erat tangan Rio yang masih mencengkram kuat dada kirinya yang jadi tempat bersarangnya peluru yang Shilla tembakan.

"Bertahan, Yo!" lirih Sivia. Penuh dengan pengharapan.

Rio tidak merespon. Tapi ia masih bisa melihat wajah Sivia yang basah oleh air mata meski kabur dan tidak fokus.

"Bertahan, Yo! Gue mohon!"

Tapi peluru itu sudah menembus susunan tulang rusuk Rio dan bersarang di jantungnya, wahai gadis manis!
Rio tidak mungkin bertahan.

"Kertas ini..." Dalam sisa jatah oksigen yang teramat sedikit, Rio mengarahkan sebuah kertas kepada Sivia dengan tangannya yang bersih dari noda darah. "Punya Shil―"

Gelap!

Sivia menangis hebat. Cukup bersahutan dengan tangis Ify yang berada dalam jarak yang cukup jauh darinya.

Dan di tempat lain, gadis itu menangis juga. Kenyataan pahit untuk kedua kalinya ia dapatkan setelah kenyataan bahwa Cakkanya meninggal. Iyel tidak bisa diselamatkan.

*

Teman-temanku, maafkan aku. Aku memang gadis bodoh yang tidak pantas mendapatkan teman sebaik kalian. Maafkan aku... Aku mohon...
Jujur akulah yang meneror Alvin selama ini. Aku yang menabrak Iyel. Aku juga yang membunuhnya, membunuh Cakka juga.

Semua itu kulakukan karena aku iri pada kalian. Pada kalian yang punya hubungan yang begitu baik dengan pasangan masing-masing. Kalian selalu bisa dapat apa yang kalian mau. Sementara Aku, selalu berfikir kenapa tak ada satu hal pun yang aku inginkan bisa aku dapatkan.

Contohnya Rio. Kalian tahu betapa aku mencintainya. Tapi, kenapa dia malah mencintai Sivia. Dan aku tidak tahu kenapa aku harus mencintai Alvin untuk melupakan Rio. Padahal sudah jelas Alvin milik Ify.
Aku benci Cakka karena dia selalu tampak mesra dengan Agni. Aku benci Rio karena ia lebih memilih Sivia daripada aku. Aku benci Alvin karena kenapa harus Ify yang dia cintai, bukan aku. Dan aku lebih benci Iyel, kenapa harus dia yang mencintaiku.

Maafkan aku.. Maafkan aku jika pada akhirnya aku harus memisahkan kalian dengan orang-orang yang kalian sayangi.

Maafkan aku...

Ashilla

Ketiga gadis itu hanya bisa berangkulan saat menyelesaikan bacaan surat itu. Menangis di bawah DPR yang pernah menyimpan banyak kenangan. Tidak ada yang percaya bahwa Shilla, sahabat mereka yang paling baik, paling berjiwa besar, tega melakukan hal sekejam ini pada mereka.
Dan kali ini, hanya tinggal mereka bertiga di sana. Bersama kenangan, berjanji untuk saling menjaga...

*

Ciiee...

Keren badai !

Ah, gue terharu!

Tissue dong tissue, gue masih pengen nangis nih...

Kalimat-kalimat bernada pujian itu terdengar di telinga Alvin, Iyel, Cakka, Agni, Ify, Shilla, Sivia, pun Rio saat layar mati dengan menyisakan kata THE END di aula sekolah saat itu.

Tepuk tangan bergemuruh, menyoraki konsep acara yang dibuat anak-anak osis demisioner. Film yang mereka buat selama satu bulan ini berhasil menarik perhatian anak-anak sesekolahan.

Dan para pembuat film itu hanya saling pandang. Tersenyum penuh keberhasilan.

Sukses!

Baru saja mereka menyelesaikan misi paling berat. Tugas yang sudah membuat mereka mengalami banyak hal. Bersama organisasi sekolah mereka, yang telah banyak menciptakan tawa, tangis, sakit, lelah, kebersamaan, pertengkaran dan pelajaran-pelajaran berharga lainnya.

Kini tugas mereka untuk sekolah ini, untuk pembina osis dan kesiswaan, dan untuk osis sudah selesai. Saatnya menapaki dunia yang baru.

---TBC---

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea